• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

4.3 Informan Penelitian

Pemilihan informan dalam penelitian ini menggunakan teknik purposive sampling, yang didasarkan pada suatu pertimbangan tertentu yang dibuat oleh peneliti berdasarkan ciri-ciri atau sifat-sifat informan yang sudah diketahui sebelumnya (Baum, 1998).Infoman dalam penelitian ini dikelompokan menjadi dua, yaitu:

4.3.1Informan Utama

Informan utama adalah objek utama dalam penelitian, yaitu tenaga yang berperan mengawasi program Pos Gizi secara aktif di Desa Pondok

44

Jaya selama 6 bulan. Informan utama dalam penelitian ini adalah tenaga pelaksana gizi Puksesmas. Jumlah tenaga pelaksana gizi puskesmas yang dapat diwawancarai dan menjawab pertanyaan dengan baik berjumlah 1 orang.

4.3.2Informan Pendukung

Informan pendukung adalah informan yang terlibat dalam pelaksanaan kegiatan teknis dalam program Pos Gizi di Desa Pondok Jaya. Informan pendukung terdiri dari:

1. Ibu balita peserta Pos Gizi yang mengikuti program Pos Gizi selama 6 bulan yang dapat diwawancarai dan menjawab pertanyaan dengan baik berjumlah 2 orang.

2. Kader Kesehatan yang aktif bekerja di program Pos Gizi, dapat diwawancarai dan menjawab pertanyaan dengan baik berjumlah 2 orang.

4.4Instrumen Penelitian

Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini berupa:

1. Pedoman wawancara yang berisi daftar pertanyaan yang berkaitan dengan penelitian yang dilakukan,

2. Pedoman observasi

3. Pedoman telaah dokumen 4. Perekam suara

45

6. Alat pencatat untuk kejelasan dan keakuratan instrumentasi. 4.5Sumber Data

Sumber data terdiri dari dua data, yaitu:

4.5.1Data Primer, yaitu data yang langsung dikumpulkan oleh peneliti dari informan. Sumber data primer dalam penelitian ini adalah hasil wawancara langsung dengan informan, pengamatan terhadap pelaksanaan program dan hasil kuesioner.

4.5.2Data Sekunder, yaitu data yang tidak langsung diperoleh peneliti dari informan. Akan tetapi diperoleh dengan cara menelaah dokumen seperti laporan, buku, artikel, jurnal kesehatan, media massa, internet dan lain- lain.

4.6Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan beberapa teknik yaitu:

4.6.1Wawancara mendalam

Wawancara mendalam dilakukan dengan cara tatap muka terhadap informan. Proses wawancara mendalam menggunakan pedoman wawancara berupa daftar pertanyaan yang telah disiapkan sesuai dengan topik penelitian. Wawancara mendalam dilakukan kepada semua informan, yaitu informan utama dan pendukung.

46

Observasi langsung dilakukan dengan cara mengamati dan mencatat situasi yang terkait dengan penelitian.

4.6.3Telaah Dokumen

Metode ini dilaksanakan untuk memperoleh data yang berkaitan dengan permasalahan penelitian melalui laporan, buku, artikel, internet, dan dokumen lain yang berhubungan dengan program Pos Gizi di Desa Pondok Jaya (Baum, 1998).

4.6.4Kuesioner

Kuesioner dalam penelitian ini untuk menilai perubahan perilaku (pemberian makan, pengasuhan balita, perilaku kebersihan, pencarian dan pemberian perawatan kesehatan) dan form recall 24 jam untuk menilai asupan makan balita. Pada saat penelitian, kuesioner dibagikan langsung oleh peneliti kepada para ibu balita yang mengikuti Pos Gizi untuk di lengkapi.

Pada kuesioner terlebih dahulu dilakukan uji coba. Dari hasil uji coba kuesioner tersebut diadakan perbaikan. Pertanyaan-pertanyaan setiap variabel dalam kuesioner yang telah diisi dilakukan uji validitas dan uji reabilitas. Pada saat penelitian, kuesioner dibagikan langsung oleh peneliti dan tim kepada para ibu balita yang mengikuti Pos Gizi, sedangkan untuk

form recall 24 jam peneliti langsung mewancarai para ibu balita yang mengikuti Pos Gizi.

47

Secara rinci dapat di lihat pada table 4.1 di bawah ini: Tabel 4.1

Tabel Pengumpulan Data

No. Variabel Penelitian Metode Informan dan sumber data Efektivitas

1. Penilaian Status Gizi Wawancara mendalam telaah dokumen

a. TPG Puskesmas b. Ibu balita c. Kader

d. Laporan kegiatan Pos Gizi Wawancaramendalam a. TPG Puskesmas

b. Kader 2. Asupan Zat Gizi

Form recall 24 jam c. Ibu balita Wawancara mendalam

dan observasi

a. TPG Puskesmas b. Kader

3. Pemberian Makan

Kuesioner c. Ibu balita Wawancara mendalam

dan observasi

a. TPG Puskesmas b. Kader

4. Pengasuhan Balita

Kuesioner c. Ibu balita Wawancara mendalam

dan observasi

a. TPG Puskesmas b. Kader

5. Kebersihan Balita

Kuesioner c. Ibu balita Wawancara mendalam

dan observasi

a. Petugas gizi/kader b. TPG Puskesmas 6. Pelayanan Kesehatan

Kuesioner c. Ibu balita 7. Kehadiran Wawancara mendalam,

telaah dokumen dan observasi

a. TPG Puskesmas b. Kader

c. Absensi balita Efisiensi

8. Dana Telaah dokumen dan observasi

a. Data sekunder 9. SDM Telaah dokumen dan

observasi

48

10. Waktu Telaah dokumen dan observasi

a. Data sekunder 12. Sarana Wawancara mendalam

dan observasi

a. TPG Puskesmas b. Ibu balita c. Kader Kecukupan

13 Pelaksanaan Wawancara mendalam dan observasi

a. TPG Puskesmas b. Ibu balita c. Kader Kesesuaian

14. Misi Wawancara mendalam dan telaah dokumen

a. TPG Puskesmas b. Kader

4.7Pengolahan Data

Data yang diperolah dalam penelitian kualitatif merupakan kumpulan kata, bukan angka-angka. Data-data yang terkumpul kemudian diolah dengan tahapan sebagai berikut:

1. Membuat data mentah, baik yang diperoleh dari wawancara mendalam, telaah dokumen, maupun hasil pengamatan.

2. Membuat transkip data hasil wawancara berdasarkan data mentah.

3. Transkip tersebut selanjutnya dilanjutkan dalam bentuk matriks yang dapat dilihat pada lampiran VIII.

4. Data dikategorikan berdasarkan karakter dan pola jawaban yang sama. 5. Hasil penelitian kemudian dianalisis dengan menggunakan metode analisa. 4.8Analisa Data

Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu dengan menggunakan analisis domain. Analisis domain biasanya dilakukan untuk memperoleh gambaran atau pengertian yang bersifat umum dan relatif

49

menyeluruh tentang apa yang tercakup di suatu focus atau pokok permasalahan yang tengah diteliti (Sanapiah, 1990).

Dukungan data kuantitatif sederhana melalui penelusuran data sekunder dan kuesioner akan dibandingkan dengan perolehan data kualitatif sebagai data primer. Setelah itu, hasil transkip data primer dan penelusuran data sekunder akan diinterpretasikan dalam penulusuran hasil dan pembahasan.

4.9Validasi Data

Dalam penelitian ini dalam rangka mendapatkan data yang valid maka dilakukan triangulasi sumber dan triangulasi metode.

1. Triangulasi sumber dilakukan dengan mencari sumber data dari dua jenis informan yaitu informan utama dan informan pendukung.

2. Triangulasi metode dilakukan dengan menggunakan metode pengumpulan data, yaitu dengan metode wawancara, telaah dokumen dan observasi.

Berikut dijelaskan validasi data berdasarkan variabel pada penelitian ini.

Tabel 4.2

Triangulasi Metode

No. Variabel Wawancara

Mendalam

Telaah

Dokumen Observasi

1. Penilaiaan Status Gizi X X -

2. Asupan Zat Gizi X - X

3. Pemberian Makan X - X

4. Pengasuhan Balita X - X

Kebersihan Balita X - X

5. Pencarian dan Pemberian Perawatan Kesehatan

X - X

6. Kehadiran X X X

50

8. SDM - X X

9. Waktu - X X

10. Kebutuhan Sasaan X - X

11. Sarana X - X

No. Variabel Wawancara

Mendalam Telaah Dokumen Observasi 12. Pelaksanaan X - X 13. Misi X X - Tabel 4.3 Triangulasi Sumber

No. Variabel TPG Ibu Kader

1. Penilaiaan Status Gizi X - X

2. Asupan Zat Gizi X - X

3. Pemberian Makan X - X

4. Pengasuhan Balita X - X

5. Kebersihan Balita X - X

6. Pencarian dan Pemberian Perawatan Kesehatan X - X 7. Kehadiran X - X 11. Kebutuhan Sasaan X X - 12. Sarana X X X 13. Pelaksanaan X X X 14. Misi X - X 4.10 Penyajian Data

Hasil penelitian disajikan dalam bentuk narasi dan matriks berdasarkan unsur-unsur yang diteliti.

51 BAB V

HASIL PENELITIAN

5.1Gambaran Umum Wilayah Penelitian

Penelitian dilakukan di Desa Pondok Jaya Kecamatan Sepatan Kabupaten Tangerang. Pos Gizi Pergizi Pondok Jaya berada di naungan Puskesmas Sepatan. Puskesmas Sepatan merupakan pusat pengembangan, pembina dan pelayanan kesehatan masyarakat yang memegang peranan sangat penting dalam pelayanan tahap pertama. UPT Puskesmas Sepatan yang terletak di wilayah kecamatan Sepatan Kabupaten Tangerang Banten mengemban tugas tersebut dengan wilayah yang terdiri 7 desa dan 1 kelurahan kecamatan Sepatan.

Pemilihan lokasi didasarkan pada banyaknya proporsi balita gizi kurang (Hasil BPB, 2009) serta kesediaan dan kemampuan masing-masing wilayah (RW).

5.2Karakeristik Informan

Dalam penelitian ini, informan yang digunakan peneliti terbagi menjadi dua yaitu informan utama dan informan pendukung, yaitu :

52

Dalam penelitian ini, informan utama adalah tenaga pelaksana gizi Puskesmas Sepatan yang aktif mengawasi selama 6 bulan kegiatan Pos Gizi berlangsung, dapat diwawancarai dan menjawab pertanyaan dengan baik.

5.2.2 Informan Pendukung

Informan pendukung merupakan informan yang terlibat dalam pelaksanaan kegiatan teknis pada program Pos Gizi di Desa Pondok Jaya. Informan pendukung terdiri dari:

1. Ibu balita peserta Pos Gizi yang mengikuti program Pos Gizi selama 6 bulan.

2. Kader Kesehatan yang aktif bekerja di program Pos Gizi, dapat diwawancarai dan menjawab pertanyaan dengan baik.

5.3Penilaian Program

Penilaian terhadap efektivitas, efisiensi, kecukupan dan kesesuaian program dapat di lihat di bawah ini:

5.3.1 Gambaran Efektivitas

Gambaran efektivitas program Pos Gizi Pergizi Pondok Jaya ini bertujuan untuk melihat tingkat peraihan, sejauh mana keluaran suatu program meraih tujuan program tersebut.

Adapun gambaran efektivitas program Pos Gizi Pergizi Pondok Jaya ini meliputi gambaran status gizi balita, asupan zat gizi, gambaran pemberian makan, gambaran pengasuhan balita, gambaran kebersihan

53

balita, gambaran pencarian dan pemberian perawatan kesehatan dan gambaran kehadiran.

5.3.1.1Gambaran Status Gizi Balita

Dalam melihat status gizi balita digunakan indeks antropometri yaitu berat badan menurut umur (BB/U). Berat badan menurut umur ini efektif dalam melihat keadaan gizi balita sekarang.

Berdasarkan hasil wawancara mendalam, sebagian besar informan mengungkapkan penilaian terhadap program dalam merehabilitasi gizi anak tergolong efektif. Dari hasil pemantauan informan terlihat perkembangan anak dari berat badan yang semakin hari meningkat. Berikut kutipan informan utama di bawah ini tentang perpindahan status gizi yang membaik:

“Efektif dalam merubah status gizi balita malnutrisi, terlihat hasil akhir program selama 6 bulan, sebagian besar balita terehabilitasi dan berpindah status gizinya”(Informan Utama A)

Pernyataan tersebut diperkuat oleh kader kesehatan sebagai tenaga Pos Gizi bahwa program Pos Gizi cukup efektif dalam merehabilitasi gizi balita. berikut kutipannya:

“Sebagian besar anak bertambah berat badannya, hal ini bagus untuk perkembangan status gizi anak, Program ini efektif.”(Informan Pendukung Kader C2).

54

Pernyataan diatas sesuai dengan hasil observasi. Melalui observasi, peneliti melihat keadaan gizi balita peserta Pos Gizi sebagian besar membaik dan terjadi pengurangan balita malnutrisi.

Untuk melihat persentase perubahan yang terjadi berikut distribusi status gizi berdasarkan BB/U sebelum dan sesudah Pos Gizi Pergizi Pondok Jaya. Distribusi status gizi berdasarkan BB/U sebelum Pos Gizi Pergizi Pondok Jaya dapat di lihat pada table 5.1 di bawah ini.

Tabel 5.1

Distribusi Status Gizi Balita Berdasarkan BB/U sebelum Pos Gizi Pergizi Desa Pondok Jaya Tahun 2010

Status Gizi Jumlah (n) Persen (%)

Buruk 19 79%

Kurang 5 21%

Normal 0 0%

Ideal 0 0%

Total 24 100 %

(Sumber: Puskesmas Sepatan)

Dari table 5.1 diatas terlihat bahwa sebanyak 19 balita (79%) dari 24 balita yang ada dengan status gizi buruk, 5 orang (21%) berstatus gizi kurang dan tidak ada balita yang berstatus

55

gizi normal dan ideal (0%) sebelum pelaksanaan program Pos Gizi Pergizi.

Sedangkan distribusi status gizi berdasarkan indeks BB/U setelah Pos Gizi Pergizi di Desa Pondok Jaya tahun 2010 dilaksanakan dapat di lihat pada gambar 5.2 di bawah ini.

Tabel 5.2

Distribusi Status Gizi Balita Berdasarkan BB/U setelah Pos Gizi Pergizi Desa Pondok Jaya Tahun 2010

Status Gizi Jumlah (n) Persen (%)

Buruk 5 21%

Kurang 10 42%

Normal 8 33%

Ideal 1 4%

Total 24 100 %

(Sumber: Puskesmas Sepatan)

Berdasarkan table 5.2 diatas diketahui bahwa dari 19 balita yang memiliki status gizi buruk mengalami perpindahan menjadi 9 balita dengan status gizi kurang, 5 balita dengan status gizi normal, dan sisanya sebanyak 5 balita tetap berstatus gizi buruk. Sedangkan dari gizi kurang mengalami perpindahan menjadi 3 balita dengan status gizi normal, 1 balita dengan status gizi ideal dan sisanya sebanyak 1 balita tetap berstatus gizi kurang.

56

Jadi, berdasarkan data diatas jumlah balita yang mengalami rehabilitasi gizi sebanyak 18 balita (75%). Berdasarkan target program Pos Gizi yang menetapkan bahwa balita yang terehabilitasi sebesar 70%, maka efektivitas program Pos Gizi di lihat dari jumlah balita yang terehabilitasi sudah mencapai target.

5.3.1.2Gambaran Asupan Zat Gizi

Efektivitas program dalam merubah asupan zat gizi tergolong efektif. Sebagaian besar informan mengungkapkan efektivitas dapat di lihat pada program Pos Gizi dimana di dalamnya terdapat kegiatan pemberian micronutirient dan pemberian PMT yang mementingkan zat gizi balita sehingga balita peserta Pos Gizi dapat terehabilitasi dengan baik. Berikut kutipan informan utama dan kader mengenai hal tersebut:

“Kegiatan PMT bersama tergolong efektif dalam Dalam memperbaiki asupan zat gizi balita, peningkatan zat gizi anak salah satunya”(Informan Utama A).

“Program ini efektif dalam meningkatkan asupan zat gizi karena di program ini diberi pengetahuan makanan apa saja yang bergizi”(Informan Pendukung Kader C1).

Efektivitas program di atas di perkuat dengan hasil observasi dan wawancara dengan ibu balita sehingga di dapatkan gambaran asupan zat gizi balita. Hasil observasi menunjukan asupan zat gizi balita sudah membaik terlihat dari jenis makanan

57

yang disajikan ibu ketika menyuapi balitanya. Asupan zat gizi (energi dan protein) di lihat gambarannya sebelum dan sesudah program Pos Gizi. Gambaran asupan energi dan protein sebelumnya dikategorikan menjadi buruk dan baik. Dikatakan buruk jika asupan energi dan protein < 80% dari Angka Kecukupan Gizi dan kategori baik jika asupan energi dan protein > 80% dari Angka Kecukupan Gizi.

1. Energi

Gambaran asupan energi balita peserta Pos Gizi yang dikategorikan menjadi buruk dan baik dapat di lihat pada tabel 5.3 seperti di bawah ini.

Tabel 5.3

Distribusi Asupan Energi Balita sebelum Pos Gizi Pergizi Desa Pondok Jaya Tahun 2010

Asupan Energi Jumlah (n) Persen (%)

Buruk 22 91.7%

Baik 2 8.3%

Total 24 100 %

(Sumber: Data Puskesmas Sepatan)

Berdasarkan tabel 5.3 diatas yang menunjukkan balita yang memiliki asupan energi yang buruk sebelum pelaksanaan prgram Pos Gizi Pergizi cukup banyak, yaitu sebesar 22 orang (91.7%). dibandingkan asupan energi yang baik, yaitu sebesar 2 orang (8.3%).

58

Sedangkan distribusi asupan energi balita setelah Pos Gizi Pergizi dilaksanakan dapat di lihat pada gambar 5.4. di bawah ini.

Tabel 5.4.

Distribusi Asupan Energi Balita setelah Pos Gizi Pergizi Desa Pondok Jaya Tahun 2010

Asupan Energi Jumlah (n) Persen (%)

Buruk 5 20.8%

Baik 19 79.2%

Total 24 100 %

(Sumber: Data primer)

Berdasarkan tabel 5.4 diatas diketahui bahwa dari 22 balita yang memiliki asupan energi buruk menjadi baik sebanyak 17 balita dan sisanya sebanyak 5 balita tetap memiliki asupan energi buruk. Sedangkan dari 2 balita dengan asupan energi yang baik tetap memiliki asupan energi yang baik.

Jadi, persentase balita yang memiliki asupan energi yang sebelumnya buruk menjadi baik setelah mengikuti Pos Gizi sebanyak 17 balita (70.81%). Berdasarkan target program Pos Gizi yang menetapkan bahwa asupan energi sebesar 70%,

59

maka efektivitas program Pos Gizi di lihat dari asupan energi sudah mencapai target.

2. Protein

Gambaran asupan protein balita peserta Pos Gizi yang dikategorikan menjadi buruk dan baik dapat di lihat pada tabel 5.5. seperti di bawah ini.

Tabel 5.5

Distribusi Asupan Protein Balita sebelum Pos Gizi Pergizi Desa Pondok Jaya Tahun 2010

Asupan Protein Jumlah (n) Persen (%)

Buruk 19 79.2%

Baik 5 25%

Total 24 100 %

(Sumber: Data Puskesmas Sepatan)

Dari tabel 5.5 diketahui bahwa 19 balita (79.2%) sebelum pelaksanaan program Pos Gizi Pergizi mempunyai asupan protein yang buruk. Sedangkan sebanyak 5 balita (25%) sudah memiliki asupan protein yang baik.

60

Sedangkan distribusi asupan protein balita setelah Pos Gizi Pergizi dilaksanakan dapat di lihat pada gambar 5.6 di bawah ini.

Tabel 5.6.

Distribusi Asupan Protein Balita setelah Pos Gizi Pergizi Desa Pondok Jaya Tahun 2010

Asupan Protein Jumlah (n) Persen (%)

Buruk 1 4.2 %

Baik 23 95.8%

Total 24 100 %

(Sumber: Data primer)

Berdasarkan tabel 5.6 diatas diketahui bahwa dari 19 balita yang memiliki asupan protein buruk sebelum pelaksanaan Pos Gizi Pergizi mengalami perubahan menjadi asupan protein baik yaitu sebanyak 18 balita. dan sisanya sebanyak 1 balita tetap memiliki asupan protein yang buruk sedangkan 5 balita lainnya tetap dengan asupan protein yang baik.

61

Jadi, Persentase balita yang memiliki asupan protein yang berubah dari buruk ke baik setelah mengikuti Pos Gizi sebanyak 18 balita (75%). Berdasarkan target program Pos Gizi yang menetapkan bahwa asupan protein sebesar 70%, maka efektivitas program Pos Gizi di lihat dari asupan protein sudah mencapai target.

5.3.1.3Gambaran Pemberian Makan

Gambaran pemberian makan sebagian besar informan mengungkapkan sudah tergolong efektif. Menurut informan utama yaitu tenaga pelaksana gizi diketahui efektivitas program dengan melihat perubahan kebiasaan makan mereka pada saat menumbuhkan selera makan anaknya. Berikut kutipannya:

“Pemberian makan ibu terlihat lebih bervariasi dan cara mereka sudah tergolong baik setelah kegiatan Pos Gizi ini berlangsung yaitu dengan bernyanyi untuk menumbuhkan selera makan anak mereka salah satunya”(Informan Utama A).

Kader mengungkapkan sebagian besar anak berselera makan setelah adanya program Pos Gizi ini. Hal ini terlihat saat kunjungan rumah dimana ibu balita menerapkan kegiatan menyanyi sebagai rangsangan untuk menumbuhkan selera makan anak.

“Saat kunjungan rumah, dimana ibu memperaktekan yang diajarkan di Pos Gizi, saya liat saat ibu sedang menyuapi anaknya terjadi kontak mata keduanya juga saling

62

bernyanyi saat pemberian makan”(Informan Pendukung Kader C2).

Berdasarkan hasil observasi ketika anak dan ibu sedang makan siang bersama, terlihat anak lebih senang diajak makan sambil bermain dan bernyanyi.

Berikut gambaran pemberian makan balita sebelum dan sesudah Pos Gizi yang menunjukan efektivitas program. Pemberian makan dikategorikan menjadi pemberian makan buruk dan baik. Pemberian makan buruk jika < median dan pemberian makan baik jika > median dapat di lihat pada tabel 5.7 di bawah ini.

Tabel 5.7

Distribusi Pemberian Makan Balita sebelum Pos Gizi Pergizi Desa Pondok Jaya Tahun 2010

Pemberian Makan Jumlah (n) Persen (%)

Buruk 23 95.8%

Baik 1 4.2 %

Total 24 100 %

(Sumber: Data Puskesmas Sepatan)

Berdasarkan tabel 5.7. diatas memperlihakan bahwa balita dengan pemberian makan buruk sebelum pelaksanaan program Pos Gizi Pergizi sebanyak 23 orang (95.8%) dan pemberian makan yang baik sebanyak 1 orang (4.2%).

63

Sedangkan gambaran pemberian makan balita setelah Pos Gizi Pergizi dilaksanakan dapat di lihat pada gambar 5.8. di bawah ini.

Tabel 5.8

Distribusi Pemberian Makan Balita setelah Pos Gizi Pergizi Desa Pondok Jaya Tahun 2010

Pemberian Makan Jumlah (n) Persen (%)

Buruk 6 25.00%

Baik 18 75.0%

Total 24 100 %

(Sumber: Data primer)

Berdasarkan tabel 5.8 diatas diketahui bahwa sebelum mengikuti Pos Gizi dari 23 balita yang memiliki pemberian makan yang buruk berubah menjadi baik yaitu sebanyak 17 balita setelah mengikuti Pos Gizi dan sisanya sebanyak 6 balita tetap memiliki pemberian makan kurang. Sedangkan 1 balita lainnya tetap memiliki pemberian makan yang baik.

Jadi, Persentase balita yang memiliki pemberian makan yang buruk menjadi baik setelah mengikuti Pos Gizi sebanyak 17 balita (70.8%). Berdasarkan target program Pos Gizi yang menetapkan bahwa pemberian makan sebesar 70%, maka efektivitas program Pos Gizi di lihat dari pemberian makan sudah mencapai target.

64

Penilaian program untuk pengasuhan balita tergolong sudah efektif. Efektivitas terlihat pada pengasuhan ibu yang berubah menjadi baik. Dengan adanya program Pos Gizi, ibu membagi tugas perawatan dengan ayah dengan mengajak anaknya bermain sambil bernyanyi. Hal ini efektif dalam memperbaiki kemampuan anak dalam bidang vokalisasi. Berikut kutipan informan utama tentang pengasuhan balita:

”Pengaruhnya ibu membagi tugas dengan ayah dalam pengasuhan sehingga ayah memiliki peran. Bermain sambil bernyanyipun dilakukan. Semua. guna dalam vokalisasi anak, efektif”(Informan Utama A).

Keefektifan program dalam pengasuhan balita juga terlihat pada hari di rumah sendiri saat kader melakukan kunjungan rumah, dimana ayah ikut berpartisipasi dalam pengasuhan. Berikut komentar kader dalam hal tersebut:

Saat di rumah sendiri, Ayah berpartisipasi menghabiskan waktu bersama anak, selain itu keluarga juga mengajak main sambil bernyanyi”(Informan Pendukung Kader C1). Hasil observasi menunjukan hal yang sama dimana Ayah berpartisipasi mengasuh balita saat libur kerja. Keluarga juga mengajak balita bermain bernyanyi pada saat di rumah.

Adapun gambaran pengasuhan balita sebelum dan setelah program Pos Gizi dilaksanakan sebagai berikut. Pengasuhan balita dikategorikan menjadi buruk dan baik. Ibu pengasuhan balita

65

dikatakan buruk jika < median dan pengasuhan balita dikatakan baik jika > median dapat di lihat pada tabel 5.9 di bawah ini.

Tabel 5.9

Distribusi Pengasuhan Balita sebelum Pos Gizi Pergizi Desa Pondok Jaya Tahun 2010

Ibu balita an Balita Jumlah (n) Persen (%)

Buruk 21 87.5%

Baik 3 12.5%

Total 24 100 %

(Sumber: Data Puskesmas Sepatan)

Dari table 5.9 diatas dapat di lihat bahwa sebagian besar pengasuhan balita sebelum pelaksanaan Pos Gizi Pergizi terbilang buruk yaitu sebanyak 21 balita (87.5%) dari 24 balita dan sisanya yaitu sebanyak 3 balita (12.5%) memiliki pengasuhan balita yang baik.

Sedangkan gambaran pengasuhan balita setelah Pos Gizi Pergizi dilaksanakan dapat di lihat pada gambar 5.10 di bawah ini.

Tabel 5.10

Distribusi Pengasuhan Balita setelah Pos Gizi Pergizi Desa Pondok Jaya Tahun 2010

(Sumber: Data primer)

Ibu balita an Balita Jumlah (n) Persen (%)

Buruk 4 16.67%

Baik 20 83.33%

66

Berdasarkan table 5.10 diatas terlihat bahwa dari 21 balita sebelum mengikuti Pos Gizi yang memiliki pengasuhan balita yang buruk berubah menjadi baik yaitu sebanyak 17 balita setelah mengikuti Pos Gizi dan sisanya sebanyak 4 balita tetap memiliki pengasuhan balita yang buruk sedangkan ada 3 balita tetap dengan pengasuhan balita yang baik.

Jadi, Persentase balita yang memiliki pengasuhan balita yang berubah dari buruk ke baik setelah mengikuti Pos Gizi sebanyak 17 balita (70.83%). Berdasarkan target program Pos Gizi yang menetapkan bahwa pengasuhan balita yaitu sebesar 70%, maka efektivitas program Pos Gizi di lihat dari pengasuhan balita sudah mencapai target .

5.3.1.5Kebersihan Balita

Penilaian program di lihat dari kebersihan balita berdasarkan hasil wawancara sebagian besar informan menyatakan ibu masih kurang menjaga kebersihan balitanya. Hal ini membuat program kurang efektif dalam merubah kebiasaan kebersihan balita.

Dalam kegiatan Pos Gizi, berbagai pesan-pesan kesehatan termasuk kedalamnya kebersihan balita di pelajari. Menurut kader mereka telah mengajarkan dan menyampaikan pesan-pesan kesehatan. Pada saat sesi Pos Gizi berlangsung ibu dan anak

67

memperaktekan secara langsung bagaimana menjaga kebersihan balitanya. Salah satunya dengan kebiasaan mecuci tangan sebelum dan sesudah makan.

Informan utama juga mengungkapkan masih ditemukan kuku balita yang panjang sehingga mencerminkan kurangnya ibu dalam menjaga kebersihan. Hal ini yang dapat mempengaruhi

Dokumen terkait