Jenis Obligasi Nilai Nominal Keuntungan yang Nilai Pasar belum direalisasi
c. Beban Bunga
37. INFORMASI PENTING LAINNYA (lanjutan)
b. Pada tanggal 22 Maret 2006, Komisi Pengawas Persaingan Usaha (“KPPU”) membacakan putusan bahwa Perseroan telah melanggar UU Nomor 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat. Atas pelanggaran ini, Perseroan dikenai denda sebesar Rp1 miliar (angka penuh). Perseroan telah menerima salinan keputusan tersebut dan pada tanggal 27 April 2006 mengajukan keberatan yang didaftar di panitera PN Surabaya atas putusan tersebut.
Pada tanggal 31 Oktober 2006, PN Surabaya mengeluarkan putusan yang menyatakan menerima permohonan keberatan Perseroan untuk seluruhnya dan membatalkan putusan KPPU tanggal 22 Maret 2006.
Pada tanggal 13 Desember 2006, KPPU telah mengajukan kasasi kepada Mahkamah Agung RI terhadap putusan Pengadilan Negeri Surabaya dan pada tanggal 22 Desember 2006 memasukkan memori kasasi. Selanjutnya pada tanggal 24 Januari 2007, Perseroan memasukkan kontra memori kasasi ke Mahkamah Agung RI.
Mahkamah Agung RI pada tanggal 4 April 2008 telah memutuskan untuk membatalkan putusan PN Surabaya Nomor: 237/Pdt.G/2006.PN.Sby, tanggal 31 Oktober 2006 dan mewajibkan Perseroan dan distributornya untuk membayar denda sebesar Rp1 miliar (angka penuh) secara tanggung renteng kepada kas Negara. Pada tanggal 19 Pebruari 2009 Perseroan dan distributornya telah membayar denda sebesar Rp1 miliar (angka penuh) secara tanggung renteng kepada kas Negara.
c. Pada tanggal 31 Oktober 2001, masyarakat Sumatera Barat mengeluarkan Maklumat Masyarakat yang menyatakan bahwa terhitung sejak tanggal 1 November 2001, untuk sementara waktu, SP, salah satu anak perusahaan, berada di bawah penguasaan masyarakat Sumatera Barat dan diserahkan kepada Pemerintah Daerah Propinsi Sumatera Barat yang diawasi Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Propinsi Sumatera Barat (DPRD Propinsi Sumbar) sampai dilaksanakannya pemisahan (spin off) SP dari Perseroan dan bahwa SP dikembalikan sebagai Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang berdiri sendiri yang dimiliki oleh Pemerintah Republik Indonesia.
Maklumat juga menyatakan bahwa para direktur, komisaris dan seluruh karyawan SP diminta menjalankan operasional SP sebagaimana biasanya dan melaporkan secara berkala kepada Pemerintah Daerah dan DPRD Sumbar.
d. Selama tahun 2002, Perseroan meminta SP untuk menyelenggarakan Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) dengan agenda penggantian manajemen SP. Manajemen SP tidak melaksanakan perintah tersebut. Atas hal tersebut Perseroan mengajukan permohonan izin kepada Pengadilan Negeri Padang (“PN Padang”) untuk menyelenggarakan RUPSLB. Berdasarkan Surat Ketetapan No. 124/PDT/P/2002/PN.PDG tertanggal 7 September 2002, Pengadilan Negeri Padang menolak permohonan tersebut. Pada tanggal 18 September 2002, Perseroan melalui Konsultan Hukum Independen Lubis, Santosa & Maulana mengajukan kasasi kepada Mahkamah Agung dengan Surat No. 0154/LSM/FP-DAW/L/IX/02 yang disampaikan juga kepada Inspektorat Jenderal Departemen Kehakiman dan Hak Asasi Manusia dengan Surat No. 0155/LSM/FP-DAW/L/IX/02.
Konsultan hukum yang sama dalam suratnya No. Ref: 0062/LSM-FP/L/III/2003 tanggal 11 Maret 2003 memberikan pendapat hukum bahwa secara hukum, Perseroan mempunyai hak pengendalian atas SP sesuai dengan definisi pengendalian dalam Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK), UU No. 1 tahun 1995 tentang Perseroan Terbatas (PT) dan Anggaran Dasar Perseroan. Meskipun demikian karena SP menolak permintaan Perseroan untuk menyelenggarakan Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) dan menolak konsultan dan manajemen Perseroan untuk melakukan uji kelayakan atas SP, maka menurut pendapat konsultan hukum tersebut, Perseroan tidak dapat melaksanakan pengendaliannya atas SP.
Berdasarkan pemberitahuan putusan kasasi yang disampaikan oleh Pengadilan Negeri Padang kepada Perseroan tentang putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia dengan putusan No. 3252K/Pdt/2002 dalam amarnya mengabulkan permohonan Perseroan untuk seluruhnya dan memberikan izin kepada Perseroan untuk menyelenggarakan RUPSLB SP dengan agenda rapat penggantian susunan direksi dan komisaris SP. Pada tanggal 12 Mei 2003, SP telah menyelenggarakan RUPSLB tersebut. Tetapi, pihak yang tidak terkait langsung dengan kasus ini telah mengajukan permohonan peninjauan kembali ke Mahkamah Agung. Pada tanggal 27 Agustus 2007, Mahkamah Agung menolak permohonan peninjauan kembali tersebut.
37. INFORMASI PENTING LAINNYA (lanjutan)
e. Pada tanggal 14 Mei 2003, Koperasi Keluarga Besar Semen Padang mengajukan gugatan di PN Padang. Salah satu tergugat adalah Direksi baru yang diangkat dengan Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (“RUPSLB”) SP tanggal 12 Mei 2003. Terhadap gugatan tersebut, Direksi dan Dewan Komisaris yang baru, melalui kuasa hukumnya (Handra Darwin & Rekan), telah mengajukan gugat rekonpensi. Dalam gugatan rekonpensinya Handra Darwin dan Rekan, mengajukan permohonan provisi. Provisi tersebut dikabulkan oleh PN Padang No. 45/Pdt.G/2003/PN.PDG tertanggal 13 Agustus 2003.
Salah satu amar putusan PN Padang menyatakan “bahwa terpilihnya Direksi dan Dewan Komisaris SP melalui RUPSLB tanggal 12 Mei 2003 adalah sah”. Oleh karena itu Majelis Hakim yang menyidangkan perkara memerintahkan kepada Direksi dan Dewan Komisaris SP yang lama untuk meninggalkan lokasi dan wilayah kerja SP. Atas dasar hukum yang sah dan kuat, pada tanggal 8 September 2003 PN Padang dengan dibantu oleh Kepolisian RI dan didampingi oleh Handra Darwin & Rekan selaku kuasa hukum melaksanakan eksekusi untuk menguasai SP secara fisik dan menyerahkan kepada Direksi dan Dewan Komisaris yang baru. Pada tanggal 29 September 2003, oleh karena Direksi dan Dewan Komisaris baru telah menguasai lokasi SP, maka Koperasi Keluarga Besar Semen Padang mencabut gugatannya. Namun manajemen lama dan pihak lain yang terlibat dari awal perkara tersebut menolak pencabutan gugatan.
Pada tanggal 29 Januari 2004, PN Padang memutuskan perkara tersebut dengan memenangkan pihak Perseroan dan Direksi dan Dewan Komisaris yang SP baru sekaligus mengukuhkan putusan provisi No. 45/Pdt.G/2003/ PN.PDG. Pada tanggal 27 April 2004, Pihak Direksi dan Dewan Komisaris SP yang lama dengan mengatasnamakan SP mengajukan banding. Direksi dan Dewan Komisaris lama pada intinya meminta Pengadilan Tinggi Padang untuk membatalkan putusan PN Padang tertanggal 29 Januari 2004.
Pada tanggal 2 Juni 2005, Pengadilan Tinggi Padang mengeluarkan Putusan Banding No. 18/PDT/2005/PT.PDG yang amarnya menolak permohonan Direksi dan Dewan Komisaris SP yang lama. Pada tanggal 13 Juli 2005, Direksi dan Dewan Komisaris SP yang lama telah mengajukan Memori Kasasi ke Mahkamah Agung RI. Perseroan dan SP telah mengajukan Kontra Memori Kasasi masing-masing pada tanggal 5 Agustus 2005 dan 28 Juli 2005. Belum ada keputusan kasasi sampai dengan tanggal penyelesaian laporan keuangan konsolidasian ini.
f. Pada tanggal 24 Oktober 2008, SP mengajukan gugatan No 99/Pdt.G/2008 PN.PDG terhadap PT Berkala International (PT BI) di Pengadilan Negeri Padang (PN Padang) akibat kegagalan PT BI untuk memenuhi kewajibannya menyerahkan batu bara pada tahun 2008 sesuai dengan perjanjian jual beli antara SP dan PT BI. Dalam gugatannya, SP juga menyampaikan permohononan untuk membatalkan perjanjian jual beli batu bara tersebut kepada PN Padang. Berkenaan dengan Surat Kredit Berdokumen Dalam Negeri (SKBDN) yang telah diterbitkan dan diakseptasi oleh PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (Bank Penerbit) sehubungan dengan perjanjian jual beli, SP telah mengajukan permohonan kepada PN Padang untuk melarang PT Bank Mandiri (Persero) Tbk, PT Berkala International, PT Eksplorasi Mantap Indonesia (selaku beneficiary), PT Maybank Indocorp (selaku bank koresponden) untuk mencairkan/mengklaim/mengakseptasi/ mendebit rekening milik SP sebesar Rp23.760.000 pada PT Bank Mandiri (Persero) Tbk hingga keputusan dalam perkara ini mempunyai kekuatan hukum tetap.
Pada tanggal 17 April 2009 telah dikeluarkan Putusan Pengadilan Negeri Padang yang mengabulkan permohonan Provisi dan gugatan SP yaitu:
Melarang kepada PT BI, PT Bank Mandiri, PT Eksplorasi Mantap Indonesia, PT Maybank Indocorp atau pihak manapun juga maupun kuasa-kuasanya untuk mencairkan/mengklaim/mengakseptasi/mendebit rekening milik SP ataupun rekening lainnya yang ada pada Bank Mandiri, atas dasar adanya pengajuan SKBDN sampai dengan putusan dalam perkara ini mempunyai kekuatan hukum yang tetap”.
Menyatakan PT Berkala International dan PT Eksplorasi Mantap Indonesia telah melakukan perbuatan ingkar janji (wanprestasi) kepada SP.
Membatalkan Perjanjian Jual Beli batubara antara SP dengan PT Berkala International, berikut segala akibat hukumnya;
Menyatakan batal SKBDN yang diterbitkan dalam rangka Perjanjian Jual Beli batubara antara SP dengan PT Berkala International , berikut segala akibat hukumnya;
37. INFORMASI PENTING LAINNYA (lanjutan)
g. Pada tanggal 23 Januari 2009, Yayasan Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) mengajukan gugatan ke Pengadilan Tata Usaha Negara Semarang (PTUN Semarang). Pihak-pihak yang digugat adalah Kepala Kantor Pelayanan Perijinan Terpadu Kabupaten Pati sebagai Tergugat dan Perseroan sebagai Tergugat II Intervensi.
WALHI mengajukan gugatan berupa permohonan penundaan pelaksanaan Keputusan Kepala Kantor Pelayanan Perijinan Terpadu Nomor : 540/052/2008 sampai dengan adanya putusan pengadilan yang berkekuatan hukum tetap serta permohonan pembatalan dan pencabutan Keputusan Kepala Kantor Pelayanan Perijinan Terpadu Nomor : 540/052/2008 tentang Ijin Pertambangan Daerah Eksplorasi Bahan Galian Golongan C Batu Kapur Atas Nama Perseroan.
Inti dari gugatan tersebut adalah keberatan atas keluarnya Keputusan Kepala Kantor Pelayanan Perijinan Terpadu Nomor : 540/052/2008 tentang Ijin Pertambangan Daerah Eksplorasi Bahan Galian Golongan C Batu Kapur Atas Nama Perseroan. Dalam gugatannya WALHI mengemukakan bahwa keputusan tersebut bertentangan dengan peraturan lingkungan hidup karena dikeluarkan sebelum adanya Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL). Selain itu, Kawasan Kars Sukolilo sebagai obyek kawasan ijin pertambangan daerah atas nama Perseroan termasuk Kawasan Lindung dimana dalam kawasan tersebut tidak boleh ada kegiatan pertambangan.
Pada tanggal 6 Agustus 2009, PTUN Semarang memutus perkara tersebut dengan memenangkan pihak WALHI.
Pada tanggal 14 Agustus 2009, Kepala Kantor Pelayanan Perijinan Terpadu Kabupaten Pati dan Perseroan melakukan upaya banding melalui Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara Semarang.
Melalui memori banding, Kepala Kantor Pelayanan Perijinan Terpadu Kabupaten Pati dan Perseroan mengajukan keberatan atau penolakan atas putusan PTUN Semarang dengan pendapat bahwa produk hukum berupa Keputusan Kepala Kantor Pelayanan Perijinan Terpadu Nomor : 540/052/2008 tentang Ijin Pertambangan Daerah Eksplorasi Bahan Galian Golongan C Batu Kapur Atas Nama Perseroan tidak melanggar peraturan lingkungan hidup. Berdasarkan Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 11 Tahun 2006, kegiatan yang wajib dilengkapi AMDAL adalah kegiatan eksploitasi bahan galian golongan C. Sedangkan ijin tersebut adalah ijin kegiatan eksplorasi yang tidak memerlukan studi AMDAL karena merupakan rangkaian kegiatan survey dan studi pendahuluan sebelum dilakukan kegiatan eksploitasi. Selain itu, kegiatan pertambangan di Kawasan Kars Sukolilo atas nama Perseroan sudah sesuai dengan Rencana Tata Ruang dan Tata Wilayah Kabupaten Pati yang menyatakan bahwa Kawasan Kars Sukolilo termasuk kawasan pertambangan golongan C. Hal ini diperkuat dengan adanya Peraturan Gubernur Jawa Tengah Nomor 128 Tahun 2008 yang membagi Kawasan Kars Sukolilo menjadi dua yakni Kawasan Lindung dan Kawasan Ekonomis, dimana kawasan eksplorasi Perseroan tidak termasuk Kawasan Lindung dan dapat dimanfaatkan oleh Perseroan.
Sampai dengan tanggal penyelesaian laporan keuangan konsolidasian ini, belum ada keputusan dari Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara Semarang atas kasus tersebut diatas.
Perseroan dan anak perusahaan tidak membentuk penyisihan atas tuntutan-tuntutan hukum di atas terhadap Perseroan dan anak perusahaan kecuali hal-hal yang berhubungan dengan KPPU dan perjanjian jual beli dengan PT Berkala International (butir 37b dan 37f di atas), karena Perseroan dan anak perusahaan berkeyakinan bahwa hasil akhir dari tuntutan-tuntutan hukum tersebut tidak akan secara berdampak signifikan terhadap posisi keuangan konsolidasi Perseroan dan anak perusahaan.