erdasarkan data permintaan informasi publik yang dikelola Sekretarat Jenderal melalui Biro Hubungan Masyarakat dan Pemberitaan khususnya Bagian Hubungan Masyarakat, selama tahun 2015, jumlah permintaan informasi publik yang masuk ke DPR RI adalah sebanyak 363 permohonan. Dari total 363 permintaan yang masuk, sebanyak 297 permintaan dapat diselesaikan sedangkan 62 permintaan sedang dalam proses pengumpulan informasi dari unit-unit penyedia informasi di dalam Sekretariat Jenderal, dan 4 permintaan lainnya batal.
Kinerja pelayanan publik selama tahun 2015 dapat digambarkan pada tabel berikut:
Grafik 3.2
KInerja Pelayanan Permintaan Informasi Publik Tahun 2015
B
Tindak Lanjut Permintaan Informasi PPID 220 Permintaan Informasi Publik
135
%
Target 297 Permintaan Informasi Publik Realisasi2.4
ntuk menunjang citra positif DPR RI, tugas Sekretariat Jenderal yaitu memberikan dukungan kehumasan dan pemberitaan yang makin gencar dan bersaing dengan pemberitaan dari media di luar. Oleh karena itu Biro Humas dan Pemberitaan melalui Bagian Humas, Bagian Pemberitaan, dan Bagian Protokol menyusun kegiatan-kegiatan yang secara perlahan dapat membentuk citra positif DPR RI di mata masyarakat Indonesia. Diantaranya meliputi kegiatan penerimaan instansi/sekolah ke DPR RI, sosialisasi melalui Gelar Budaya, penayangan dialog interaktif/talkshow, liputan TV Parlemen, Bocking Rubrik Media Cetak dan Elektronik dan lain sebagainya.
U
Persentase Tersedianya Fasilitas Penunjang Kegiatan Sosialisasi DPR RI dalam Membentuk Citra Positif di
Masyarakat
80%
100%
Target80 %
Realisasi2.5
esuai dengan acara jadwal rapat DPR RI, pada Masa Persidangan II Tahun 2014-2015 yang diputuskan pada Rapat Konsultasi pengganti rapat Bamus tanggal 2 Desember 2014, maka jumlah Masa Sidang pada Tahun 2015 sebanyak 165 hari kerja
Sesuai dengan karakteristik rapat pada Masa Persidangan II Tahun Sidang 2014-2015, maka:
1. Rencana kegiatan fungsi legislasi dialokasikan ±50% dari waktu yang
tersedia, sedangkan kegiatan fungsi anggaran dan pengawasan dialokasikan ±50% dari waktu yang tersedia.
2. Pelaksanaan setiap fungsi akan disesuaikan dengan perkembangan dan
kebutuhan setiap pelaksanaan fungsi Dewan tersebut.
3. Fokus kegiatan per sesi sesuai dengan jadwal, namun demikian masih
dapat berubah sesuai dengan kebutuhan.
Untuk penetapan hari-hari rapat sesuai dengan Rapat konsultasi Pengganti Bamus tanggal 9 Oktober 2014 di sepakati penetapan hari-hari rapat DPR RI sebagai berikut:
- Hari Senin untuk Rapat Pimpinan dan Komisi-komisi
- Hari Selasa untuk Rapat Paripurna (apabila tidak ada Rapat Paripurna,
maka dialokasikan untuk Rapat-rapat Komisi).
- Hari Rabu untuk Rapat Komisi-komisi dan Tim
- Hari Kamis siang dipergunakan untuk Rapat Badan dan Mahkamah
Kehormatan, selanjutnya untuk pagi dan malam hari dipergunakan untuk Rapat Komisi.
- Hari Jumat dipergunakan untuk Rapat Fraksi-fraksi.
- Rapat Badan Anggaran dialokasikan pada hari Senin, Selasa (apabila
tidak ada Rapat Paripurna, dan Kamis.
- Rapat Badan Legislasi dialokasikan pada hari Senin, Selasa (apabila tidak
ada Rapat Paripurna) Rabu dan Kamis.
- Rapat Pansus RUU dialokasikan pada hari Rabu dan Kamis.
S
Persentase Terlaksananya Kegiatan Rapat Paripurna, Rapat Komisi, dan Pansus RUU serta Kunjungan Kerja Dalam Negeri dan Luar Negeri
Komisi dan Pansus RUU sesuai Standar dan Tepat Waktu
100%
92%
Target Realisasi92 %
2.6
Namun untuk rencana kegiatan yang akan dilakukan pada tahun 2015 diperhitungkan mulai hari Senin sampai dengan Rabu, mengingat hari Kamis dititikberatkan pada hari Badan dan hari Jumat merupakan hari Fraksi-fraksi.
Sehingga, penentuan target kegiatan rapat di Masa Sidang di Komisi-komisi dan Paripurna pada tahun 2015 sebagai berikut:
Komisi I s/d XI = 11 (komisi) x 126 (hari) x 1 kegiatan rapat = 1386 kegiatan
rapat
Rapat Paripurna (sesuai Keputusan Rapat Bamus) = 35 kegiatan rapat
Total Target Kegiatan Rapat =1421 kegiatan rapat
Pada realisasinya, keputusan akan terselenggaranya rapat dan kunjungan kerja merupakan keputusan DPR RI. Sehingga sebagai sistem pendukung Sekretariat Jenderal selalu memberikan dukungan terhadap perubahan kebijakan.
Realisasi terhadap target tersebut dilaksanakan melalui dukungan terhadap seluruh kegiatan rapat-rapat yang diputuskan/dijadualkan oleh Komisi, Pansus dan Paripurna sehingga dapat terlaksana sesuai standar dan tepat waktu.
Pencapaian indikator kinerja dapat terlihat dari pelayanan rapat-rapat komisi, panitia khusus dan Paripurna yang dilaksanakan pada tahun 2015 seperti tabel di bawah ini:
Tabel 3.3.
Rapat-Rapat Alat Kelengkapan Dewan Tahun 2015
Sumber: Rekapitulasi kegiatan persidangan tahun 2014 dari Komisi, Pansus dan Paripurna
Dalam melakukan rapat di luar gedung (konsiyering), Sekretariat Komisi melakukan persiapan khusus untuk penginapan di hotel, baik dalam dan luar kota, paket meeting serta honor kegiatan.
Dibandingkan jumlah rapat yang dilaksanakan pada tahun 2015 terdapat peningkatan jumlah kegiatan rapat, dimana tahun 2015 berjumlah
1.303 kegiatan rapat, sedangkan tahun 2014 berjumlah 1.079 kegiatan rapat.
Namun, dibangingkan dengan tahun 2013, masih terdapat penurunan, dimana tahun 2013 sebanyak 1.571 kegiatan rapat. Perbandingan jumlah rapat dapat dilihat pada grafik dibawah ini.
Grafik 3.3
Perbandingan Jumlah Rapat Tahun 2013, 2014 dan 2015
Sumber: Rekapitulasi kegiatan persidangan tahun 2013, 2014 dan 2015 dari Komisi, Pansus dan Paripurna
Dibandingkan tahun 2014, jumlah kegiatan rapat mengalami peningkatan karena pada tahun 2014 merupakan tahun transisi sehingga jumlah rapat lebih sedikit. Sedangkan di tahun 2015, jumlah kegiatan rapat meningkat karena Alat Kelengkapan DPR RI telah optimal dalam melaksanakan tugas dan fungsinya. Namun, apabila dibandingkan dengan tahun 2013, Alat Kelengkapan DPR RI masih dapat lebih dioptimalkan.
Semua kegiatan rapat-rapat dapat dilaksanakan oleh Biro Persidangan sesuai standar dan tepat waktu berdasarkan ketentuan Peraturan DPR RI tentang Tata Tertib. Waktu pelaksanaan rapat DPRRI adalah:
a) pada siang hari, hari Senin sampai dengan hari Kamis, dari pukul 09.00
sampai dengan pukul 16.00 dengan waktu istirahat pukul 12.00 sampai dengan pukul 13.00; hari Jumat dari pukul 09.00 sampai dengan pukul 16.00 dengan waktu istirahat dari pukul 11.00 sampai dengan pukul 13.30; dan
b) pada malam hari dari pukul 19.30 sampai dengan pukul 22.30 pada setiap hari kerja.
c) penyimpangan dari waktu rapat ditentukan oleh rapat yang
bersangkutan.
d) semua jenis rapat DPR RI dilakukan di Gedung DPR RI dan Penyimpangan
dari tempat rapat hanya dapat dilakukan atas persetujuanpimpinan DPR RI.
egiatan dukungan terhadap Badan Kerja Sama Antar Parlemen DPR RI terbagi dalam 3 jenis kegiatan yang dilaksanakan oleh 3 Bagian di lingkungan Biro Kerja Sama Antar Parlemen, yaitu kerja sama internasional, kerja sama organisasi regional, dan kerja sama bilateral. Pada tahun 2015, khususnya dalam hal kerja sama bilateral mengalami kendala yaitu adanya perpecahan di DPR RI antara Koalisi Merah Putih (KMP) dan Koalisi Indonesia Hebat (KIH) yang mengakibatkan tidak adanya keputusan dalam penentuan desk kerja sama bilateral. Hal inilah yang mengakibatkan beberapa hal khususnya dalam kerja sama bilateral menjadi tidak terealisasi.
K
Terselenggaranya Kegiatan Kerja Sama Bilateral dan Multilateral antar Parlemen serta Kegiatan ASGP yang
Akurat dan Tepat Waktu
35 Dokumen
86%
Target 30 Dokumen Realisasi2.7
aporan Keuangan merupakan wujud dari pada Akuntabilitas Keuangan Negara yang dilaksanakan secara transparan sesuai prinsip-prinsip good governance. Laporan Keuangan sangat penting peranannya karena memuat informasi keuangan yang dipakai sebagai pengambilan kebijakan. Sebagai bentuk tercapainya sasaran atas program yang dilaksanakan oleh Setjen dalam pengelolaan keuangan DPR RI yang Akuntabel, Setjen DPR RI telah mendapat Opini Wajar Tanpa Pengecualian dari BPK terhadap Laporan Keuangan sebanyak 5 kali yaitu untuk laporan keuangan tahun anggaran 2010- 2014. Untuk Laporan Keuangan tahun anggaran 2014, Opini WTP dari BPK diterima pada bulan Oktober Tahun 2015 di Kementerian Keuangan RI.
Pada Tahun 2015 terjadi transformasi dalam Sistem Perbendaharaan Anggaran Negara dan Sistem Akuntansi Pemerintah yang dilakukan oleh Menteri Keuangan. Dampak perubahan tersebut adalah, adanya perubahan basis akuntansi yang digunakan oleh pemerintah, dari basis kas menuju akrual menjadi basis akrual, sebagaimana diamanatkan dalam Undang-undang Nomor 17 tahun 2003 tentang Keuangan Negara, UU Nomor 1 tahun 2004 tentang Perbendaharaan, yang kemudian dipertegas kembali pada PP no. 71 th. 2010 tentang Standar Akuntansi Pemerintah. Selain itu, terdapat perubahan besar atas sistem dan proses pertanggungjawaban pendapatan dan belanja Negara.
L
Sasaran3
Mencapai tata kelola Setjen DPR RI yang baik melalui reformasi Setjen DPR RI di bidang kelembagaan, ketatalaksanaan, dan sumberdaya manusia