• Tidak ada hasil yang ditemukan

DEWAN PERWAKILAN RAKYAT

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "DEWAN PERWAKILAN RAKYAT"

Copied!
64
0
0

Teks penuh

(1)

LAPORAN KINERJA

SEKRETARIAT JENDERAL

DEWAN PERWAKILAN RAKYAT

REPUBLIK INDONESIA

TAHUN 2015

SEKRETARIAT JENDERAL

(2)

Ikhtisar Eksekutif

eputusan Sekretaris Jenderal DPR RI Nomor 1266/SEKJEN/2014 tentang Penetapan Rencana Strategis Sekretariat Jenderal Dewan

Perwakilan Rakyat Republik Indonesia Tahun 2015-2019,

menyatakan adanya empat tujuan yang ingin dicapai Sekretariat Jenderal DPR RI yaitu tercapainya kualitas dukungan di bidang perundang-undangan bagi pelaksanaan tugas dan fungsi DPR RI yang professional, tercapainya kualitas dukungan di bidang anggaran dan pengawasan bagi pelaksanaan tugas dan fungsi DPR RI yang akuntabel, tercapainya kualitas dukungan di bidang persidangan bagi pelaksanaan tugas dan fungsi DPR RI yang andal, dan tercapainya kualitas dukungan di bidang administrasi guna menunjang pelaksanaan tugas dan fungsi DPR RI yang akuntabel. Untuk mencapai tujuan dimaksud, sasaran dan indikator yang telah ditetapkan dalam Penetapan kinerja (PK) Setjen DPR Tahun 2015 serta target capaiannya. PK digunakan sebagai dasar untuk menilai keberhasilan dan kegagalan pelaksanaan kegiatan sesuai dengan sasaran dan tujuan yang telah ditetapkan dalam rangka mewujudkan visi dan misi Sekretariat Jenderal DPR RI yang tertuang dalam Renstra Setjen DPR RI 2015-2019.

Terkait dengan kinerja Sekjen DPR RI, dari 4 sasaran dan 19 indikator yang tercantum dalam Penetapan Kinerja (PK) Sekjen DPR RI tahun 2015 ini, terdapat 10 indikator yang mencapai target, bahkan 4 indikator diantaranya berhasil melebihi target, dan 5 indikator yang tidak mencapai target.

Terkait dengan akuntabilitas keuangan, pada tahun 2015 tingkat realisasi anggaran di Satker Dewan dengan pagu Rp3.766.105.172.000,00 dan realisasinya Rp2.644.086.044.287,00 maka tingkat capaian realisasi anggaran

sebesar 70%. Sedangkan untuk Satker Setjen dengan pagu

Rp1.425.563.516.000,00 dan realisasinya Rp1.027.743.326.333,00, maka tingkat capaian realisasi anggarannya sebesar 72%.

Terhadap faktor efisiensi, hal ini lebih disebabkan karena adanya keinginan yang kuat dari Setjen DPR RI untuk mensukseskan pencanangan Presiden terhadap penggunaan anggaran yang efisien. Adanya efisiensi anggaran bukan berarti kegiatan tidak dilakukan. Namun, dengan hasil kegiatan yang tetap optimal, anggaran yang diserap hanya sedikit. Selain itu keputusan akan pelaksanaan kegiatan khususnya untuk Satker Dewan berada di tangan DPR RI. Sehingga dinamika politik DPR RI sangat berpengaruh dalam terealisasi atau tidaknya kegiatan pada Satker Dewan. Adanya optimalisasi tersebut dapat kita lihat pada perbandingan capaian kinerja untuk

(3)

masing sasaran dengan tingkat realisasi anggaran sebagaimana terlihat pada Tabel berikut:

Perbandingan Capaian Kinerja dengan Realisasi Anggaran

N

o Sasaran Program/ Kegiatan Indikator Kinerja Anggaran Capaian

Capaian Kinerja

1

. Meningkatnya kualitas dukungan terhadap pelaksanaan fungsi legislasi DPR RI, fungsi anggaran DPR RI, fungsi pengawasan DPR RI, dan dalam penguatan kelembagaan DPR RI

Jumlah Konsep Naskah Akademik dan Draft RUU

yang digunakan oleh DPR RI 88 % 175 % Jumlah Analisis/Referensi/ Ringkas Cepat APBN dan

hasil pemeriksaan BPK serta pengawasan DPD yang

digunakan oleh AKD 79% 115% Jumlah Konsep Prolegnas Prioritas Tahunan Tahun

2016 - 100 %

Dukungan substansi kepada Badan Anggaran yang

akuntabel dan tepat waktu 51 % 100 % Dukungan substansi dalam penyelenggaraan

rapat-rapat Badan Legislasi 35 % 100 % Jumlah Naskah Keterangan DPR yang dipergunakan

dalam persidangan di Mahkamah Konstitusi

67 %

131 % Jumlah Naskah Gugatan, Jawaban, Replik, Duplik,

Alat-Alat Bukti dan Kesimpulan Akhir, Memori/ Kontra Memori Banding, serta Memori/Kontra Memori Kasasi yang dipergunakan dalam proses persidangan di lingkungan peradilan umum, DPR RI, danSetjen DPR RI

50 %

Dukungan penyelenggaraan pengaduan perkara etik Anggota DPR RI dan penyempurnaan peraturan DPR RI tentang KodeEtik dan Tata Beracara Mahkamah Kehormatan Dewan

83 % 73 % 2

. Meningkatnya kualitas dukungan persidangan dan pelayanan kepada masyarakat dalam pemberian informasi perihal tugas dan fungsi DPR RI guna menciptakan citra positif DPR RI di masyarakat

Terlaksananya kegiatan pelayanan persidangan

paripurna yang prima dan tepat waktu 92 % 100 % Persentase risalah rapat yang digunakan oleh

anggota Dewan 97 % 100 %

Terselenggaranya kegiatan dukungan kerjasama

antar parlemen 42 % 86 %

Tindak lanjut permintaan informasi PPID 61 % 135 % Persentase tersedianya fasilitas penunjang kegiatan

sosialisasi DPR RI dalam membentuk citra positif di

masyarakat 83 % 100 %

Persentase terlaksananya kegiatan rapat Paripurna, Rapat Komisi, danpansus RUU serta kunjungan kerja Dalam negeri dan Luar Negeri Komisi dan Pansus RUU sesuai standar dan tepat waktu

56 % 92 % Terselenggaranya kegiatan kerjasama bilateral dan

multilateral antar parlemen serta kegiatan ASGP

yang akurat dan tepat waktu 41 % 86 % 3

.

Mencapai tata kelola Setjen DPR RI yang baik melalui reformasi Setjen DPR RI di bidang kelembagaan,

ketatalaksanaan, dan sumber daya manusia

Tercapainya opini BPK berupa Wajar Tanpa

Pengecualian (WTP) 65 % 100 % Terlaksananya pengelolan anggaran yang

akuntabel yang didasarkan pada AKUPA

62 %

100 % Tindak lanjut penerapan rencana Strategis (RENSTRA)

DPR RI 2015 - 2019 100 %

4

. Meningkatnya sarana dan prasarana kulitas yang berbasis teknologi di lingkungan DPR RI dalam melaksanakan tugas dan fungsi DPR RI

Tersedianya administrasi sarana dan prasarans yang memadai guna menunjang pelaksanaan tugas dan

(4)

Pengantar

Laporan Akuntabilitas Kinerja (LAK) adalah wujud pertanggungjawaban Sekretariat Jenderal DPR RI (Setjen DPR RI) dalam pencapaian visi, misi, dan tujuan dari pelaksanaan program dan kegiatan Setjen DPR RI Tahun 2015. LAK sebagai media pertanggungjawaban telah diamanatkan dalam Peraturan Presiden Nomor 29 Tahun 2014 tentang Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (SAKIP) sebagai pengganti Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 7 Tahun 1999 tentang Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah dan amanat reformasi birokrasi khususnya area perubahan Penguatan Akuntabilitas Kinerja.

Sekretariat Jenderal DPR RI sebagai bagian dari instansi pemerintah pusat yang mempunyai tugas memberikan dukungan kepada DPR RI, mempunyai rencana strategis yang berorientasi pada hasil (result) yang ingin dicapai selama kurun waktu 5 tahun yang dituangkan dalam dokumen Rencana Strategis Sekretariat Jenderal DPR RI Tahun 2015-2019. Tahun 2015 merupakan tahun pertama pada periode Renstra 2015-2019 dan pelaporan kinerja tahun ini menjadi titik awal bagi perencanaan strategis 5 tahun yang akan datang.

Pada tahun 2015 juga merupakan titik tolak dalam bagi Sekretariat Jenderal sebagai sistem pendukung DPR RI. Keberadaan Badan Keahlian diharapkan akan memperkuat sistem pendukung DPR Ri di bidang keahlian.

Usaha-usaha terus dilakukan Setjen DPR RI dari tahun ke tahun untuk menuju perbaikan yang signifikan, baik dari segi sistem akuntabilitas kinerja maupun penyusunan laporan itu sendiri.

Diharapkan LAK ini menjadi sarana evaluasi yang konstruktif dan dapat memberikan manfaat yang optimal bagi seluruh jajaran Sekretariat Jenderal DPR RI untuk peningkatan kinerja yang lebih baik di masa yang akan datang.

Jakarta, 29 Februari 2016 SEKRETARIS JENDERAL DPR RI,

Dr. WINANTUNINGTYAS T. S., M.Si. NIP. 19561125 198203 2 002

(5)

Daftar Isi

49

54

12

7

1

i

Pendahuluan

Ikhtisar

Eksekutif

Perencanaan

dan Perjanjian

Kinerja

Akuntabilitas

Kinerja

Penutup

Lampiran

(6)

v

Penghargaan

DPR RI/Setjen DPR RI, telah menerima Piagam Penghargaan Negara dari Badan Pengawas Pemilihan Umum Republik Indonesia kepada Majalah Parlemen atas partisipasinya dalam mengawal demokrasi dan

pengawasan Pemilu Anggota DPR, DPD, dan DPRD serta Pemilu Presiden dan Wakil Presiden Tahun 2014.

Februari 2015

DPR RI/Setjen DPR RI menerima penghargaan dari Menteri Keuangan atas Keberhasilannya Menyusun

dan Menyajikan Laporan Keuangan Tahun 2014 dengan Capaian Standar Tertinggi dalam akuntansi

dan Pelaporan Keuangan Pemerintah.

Oktober 2015

DPR RI/Setjen DPR RI menerima penghargaan dari Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara Jakarta VII

sebagai Satuan Kerja dengan Pengelolaan Data Supplier dan Kontrak Terbaik 2015.

Desember 2015

DPRRI/Setjen DPR RI telah menerima penghargaan dari Direktorat Jenderal Perbendaharaan Kementerian Keuangan RI Atas Penyajian

Saldo Kas Bendahara Pengeluaran Pada Laporan Keuangan Kementerian Negara/Lembaga dan Laporan Pertanggungjawaban Bendahara Pengeluaran Tahun Anggaran 2015 dengan Tingkat Akurasi

Tinggi.

Diterima Februari 2016

DPRRI/Setjen DPR RI telah menerima penghargaan dari KPP Pratama Jakarta Tanah Abang Tiga, Kantor Wilayah DJP Jakarta Pusat, Direktorat

Jenderal Pajak, Kementerian Keuangan RI, yang diberikan kepada Bendahara Pengeluaran Setjen DPR RI NPWP: 00.012.134.3-077.000

sebagai Wajib Pajak Bendahara Berkinerja Baik Dalam Pelaporan Perpajakan Untuk Tahun Pajak 2015.

DPRRI/Setjen DPR RI telah menerima penghargaan dari KPP Pratama Jakarta Tanah Abang Tiga, Kantor Wilayah DJP Jakarta Pusat, Direktorat

(7)

A. Umum

engacu pada Peraturan Presiden Nomor 29 Tahun

2014 tentang Sistem

Akuntabilitas Kinerja Instansi

Pemerintah (SAKIP) sebagai

pengganti Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 7 Tahun 1999 tentang

Akuntabilitas Kinerja Instansi

Pemerintah dan Peraturan Sekretaris Jenderal DPR RI Nomor

7/PER-SEKJEN/2012 tentang Sistem

Akuntabilitas Kinerja Instansi

Pemerintah (SAKIP) di lingkungan Sekretariat Jenderal DPR RI serta amanat reformasi birokrasi khususnya

area perubahan Penguatan

Akuntabilitas Kinerja, Sekretariat

Jenderal Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (Setjen DPR RI) sebagai instansi pemerintah dan

unsur penyelenggara negara

diwajibkan menetapkan target

kinerja dan melakukan pengukuran kinerja yang telah dicapai serta

M

(8)

menyampaikan Laporan Kinerja. Sebagai bentuk penguatan

akuntabilitas kinerja Sekretariat

Jenderal, sesuai dengan arahan

Kementerian Pendayagunaan

Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi dalam Surat Edaran Nomor 1 Tahun 2015 tentang Kewajiban

Penyampaian Laporan Harta

Kekayaan Aparatur Sipil Negara (LHKASN) di Lingkungan Instansi Pemerintah pada tahun 2015 telah menindaklanjuti dengan penyusunan LHKASN secara manual bagi seluruh pejabat dan pegawai (di luar pejabat dan pegawai yang wajib lapor LHKPN). Dan sebagai titik tolak

penguatan pengawasan dan

akuntabilitas, Sekretariat Jenderal

melalui Sekretaris Jenderal

melakukan pencanangan

pembangunan zona integritas pada tanggal 2 November 2015.

Penyusunan Laporan Kinerja

Setjen DPR RI tahun 2015

dimaksudkan sebagai bentuk

pertanggungjawaban atas

pelaksanaan mandat, visi dan misi, tujuan, dan sasaran yang telah ditetapkan di dalam Penetapan Kinerja Tahun 2015, sebagai umpan balik untuk perbaikan kinerja pada tahun mendatang, serta sebagai media untuk mengkomunikasi-kan pencapaian kinerja Setjen DPR RI dalam satu tahun anggaran kepada

masyarakat dan pemangku

kepentingan lainnya.

Hasil penilaian implementasi dan pengembangan akuntabilitas kinerja di lingkungan Setjen DPR RI sampai dengan tahun 2015 dapat dilihat pada Gambar 1.1.

Gambar 1.1

Hasil Penilaian Laporan Kinerja Sekretariat Jenderal

Tahun 2009 - 2015

Sumber : Bagian Organisasi dan Tata Laksana, 2016.

200

201

201

201

201

201

201

CC

CC

CC

CC

C

CC

D

61,15

56,12

44,67

58,36

60,28

50,88

25,22

(9)

B. Struktur Organisasi

ada tahun 2015, Sekretariat Jenderal mengalami perubahan struktur organisasi yang sangat fundamental. Dengan diundangkannya Undang-Undang Nomor17 Tahun 2014 tentang Majelis Permusyawaratan Rakyat, Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah dan Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia(MD3), maka sistem pendukung DPR RI tidak hanya dilaksanakan oleh Sekretariat Jenderal akan tetapi dibentuk pula Badan Keahlian. Badan Keahlian secara administratif berada di bawah Sekretariat Jenderal. Pada bulan Maret 2015 diterbitkan Peraturan Presiden Nomor 27 Tahun 2015 tentang Sekretariat Jenderal dan Badan Keahlian yang menjadi dasar hukum bagi organisasi Sekretariat Jenderal dan Badan Keahlian DPR RI.

Gambar 1.2

Sistem Pendukung DPR RI

berdasarkan Undang-Undang 17 Tahun 2014 tentang MD3

Sumber : Bagian Organisasi dan Tata Laksana, 2015.

P

SEKRETARIAT JENDERAL DPR RI BADAN KEAHLIAN DPR RI DPR RI DUKUNGAN KEAHLIAN DUKUNGAN TEKNIS DAN ADMINISTRATIF Undang-undang Nomor 17 Tahun 2014 tentang MPR, DPR, DPD, dan DPRD

Pasal 413 ayat (2) bahwa untuk mendukung kelancaran pelaksanaan wewenang dan tugas Dewan Perwakilan

Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) dibentuk Badan Keahlian. Pasal 413 ayat (1) bahwa untuk mendukung kelancaran pelaksanaan wewenang dan tugas Dewan Perwakilan

Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) dibentuk Sekretariat Jenderal.

(10)

Sebagai tindak lanjut Peraturan Presiden tersebut, pada bulan Oktober 2015, ditetapkan Peraturan Sekretaris Jenderal DPR RI Nomor 6 Tahun 2015 tentang Organisasi dan Tata Kerja Sekretariat Jenderal dan Badan Keahlian DPR RI. Dengan ditetapkannya Peraturan Sekretaris Jenderal tersebut maka struktur organisasi dari Sekretariat Jenderal mengalami perubahan. Berikut merupakan gambaran perubahan struktur organisasi Sekretariat Jenderal DPR RI.

Gambar 1.3

Gambaran Perubahan Struktur Organisasi

Sumber : Bagian Organisasi dan Tata Laksana, 2015

Persekjen Nomor 400/SEKJEN/2005 sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Persekjen 03/PER-SEKJEN/2013

WAKIL SEKRETARIS JENDERAL

BIRO PERANCANGANGAN UNDANG-UNDANG BIDANG POLHUKHAMKESRA DEPUTI BIDANG PERUNDANG-UNDANGAN BIRO PERANCANGANGAN UNDANG-UNDANG BIDANG EKKU INDAG

BIRO ANALISA ANGGARAN DAN PELAKSANAAN APBN

DEPUTI BIDANG ANGGARAN DAN PENGAWASAN

BIRO PENGAWASAN LEGISLATIF

BIRO PERSIDANGAN DEPUTI BIDANG PERSIDANGAN DAN KERJA SAMA

ANTAR PARLEMEN

BIRO KERJA SAMA ANTAR PARLEMEN BIRO PERENCANAAN DAN PENGAWASAN DEPUTI BIDANG ADMINISTRASI BIRO KEANGGOTAAN DAN KEPEGAWAIAN BIRO KEUANGAN SEKRETARIS JENDERAL

BIRO HUKUM DAN PEMANTAUAN PELAKSANAAN

UNDANG-UNDANG

PUSAT PENGKAJIAN, PENGOLAHAN DATA, DAN

INFORMASI BIRO KESEKRETARIATAN PIMPINAN BIRO HUBUNGAN MASYARAKAT DAN PEMBERITAAN BIRO PEMELIHARAAN BANGUNAN DAN INSTALASI

BIRO UMUM SEKRETARIAT JENDERAL DEPUTI BIDANG PERSIDANGAN BADAN KEAHLIAN DEPUTI BIDANG ADMINISTRASI

BIRO HUKUM DAN PENGADUAN MASYARAKAT PUSAT PERANCANGAN UNDANG-UNDANG PUSAT KAJIAN ANGGARAN PUSAT DATA DAN INFORMASI BIRO PERSIDANGAN II BIRO PROTOKOL PERSIDANGAN IBIRO

BIRO KEPEGAWAIAN DAN ORGANISASI BIRO PERENCANAAN DAN KEUANGAN BIRO UMUM PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN BIRO PEMBERITAAN PARLEMEN INSPEKTORAT II INSPEKTORAT I INSPEKTORAT UTAMA PIMPINAN DPR RI PUSAT KAJIAN AKUNTABILITAS KEUANGAN NEGARA PUSAT PENELITIAN BIRO KERJA SAMA

ANTAR PARLEMEN BIRO KESEKRETARIATAN

PIMPINAN BIRO PENGELOLAAN

BARANG MILIK NEGARA

PUSAT PEMANTAUAN PELAKSANAAN UNDANG-UNDANG Persekjen Nomor 6 Tahun 2015

(11)

Di dalam gambar 1.4 berikut merupakan gambaran perubahan tugas sistem pendukung DPR RI dengan ditetapkannya Peraturan Sekretaris Jenderal DPR RI NOmor 6 Tahun 2015 sebagai pengganti atas Peraturan Sekretaris Jenderal DPR RI Nomor 400/SEKJEN/2005 sebagaimana telah beberapakali diubah terakhir dengan Peraturan Sekretaris Jenderal DPR RI Nomor 03/PER-SEKJEN/2013.

Gambar 1.4

Perubahan Tugas Sistem Pendukung DPR RI

T

U

G

A

S

T

U

G

A

S

PIMPINAN DPR RI

SEKRETARIAT JENDERAL

Mendukung kelancaran pelaksanaan wewenang dan tugas Dewan Perwakilan Rakyat

Republik Indonesia di bidang administrasi dan persidangan

BADAN KEAHLIAN

Mendukung kelancaran pelaksanaan wewenang dan tugas Dewan Perwakilan Rakyat

Republik Indonesia di bidang keahlian

T

U

G

A

S

PIMPINAN PR RI

SEKRETARIAT JENDERAL

Menyelenggarakan dukungan teknis, administratif, dan keahlian kepada Dewan Perwakilan Rakyat Republik

(12)

Perbedaan fungsi dari sistem pendukung DPR RI (Sekretariat Jenderal dan Badan Keahlian DPR RI) sesuai dengan Peraturan Sekretaris Jenderal DPR RI Nomor 6 Tahun 2015 tentang Organisasi dan Tata Kerja Sekretariat Jenderal dan Badan Keahlian DPR RI adalah sebagai berikut:

Tabel 1.1

Fungsi Sistem Pendukung DPR RI

SEKRETARIAT JENDERAL BADAN KEAHLIAN

a. perumusan dan evaluasi rencana strategis Sekretariat Jenderal;

b. koordinasi dan pembinaan terhadap pelaksanaan tugas unit organisasi di lingkungan Sekretariat Jenderal dan Badan Keahlian;

c. perumusan kebijakan, pembinaan, dan pelaksanaan dukungan persidangan kepada Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia; d. perumusan kebijakan, pembinaan,

dan pelaksanaan dukungan administrasi kepada Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia; e. perumusan kebijakan, dan

pelaksanaan pengolahan data dan pelayanan informasi serta dukungan tertentu pelaksanaan tugas dan fungsi Sekretariat Jenderal dan Badan Keahlian;

f. perumusan kebijakan, dan pelaksanaan pengawasan intern di lingkungan Sekretariat Jenderal dan Badan Keahlian;

g. pelaksanaan kegiatan lain yang ditugaskan oleh Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia; dan

h. pelaporan pelaksanaan tugas dan fungsi kepada Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia.

a. perumusan dan evaluasi rencana strategis Badan Keahlian;

b. koordinasi dan pembinaan terhadap pelaksanaan tugas unit organisasi di lingkungan Badan Keahlian;

c. penyiapan rumusan kebijakan dan pelaksanaan dukungan perancangan undang-undang kepada Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia; d. penyiapan rumusan kebijakan dan

pelaksanaan dukungan kajian anggaran kepada Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia;

e. penyiapan rumusan kebijakan dan pelaksanaan dukungan kajian akuntabilitas keuangan negara kepada Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia;

f. penyiapan rumusan kebijakan dan pelaksanaan dukungan penelitian kepada Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia;

g. penyiapan rumusan kebijakan dan pelaksanaan dukungan kajian keparlemenan kepada Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia; h. pelaksanaan administrasi Badan

Keahlian; dan

i. Pelaporan pelaksanaan tugas dan fungsi kepada Pimpinan Dewan Perwakilan Rakyat Republik dan Sekretaris Jenderal.

(13)

raian singkat Rencana Strategis Sekretariat Jenderal Periode 2015

– 2019 adalah sebagai berikut:

Gambar 2.1

Visi dan Misi Setjen DPR RI

U

VISI

Tercapainya kualitas dukungan di bidang perundang-undangan bagi pelaksanaan tugas dan fungsi DPR

RI yang profesional Tercapainya kualitas dukungan di bidang anggaran dan pengawasan bagi pelaksanaan tugas dan fungsi

DPR RI yang akuntabel Tercapainya kualitas dukungan di

bidang persidangan dalam mendukung pelaksanaan tugas

dan fungsi DPR RI yang andal Tercapainya kulitas dukungan di

bidang administrasi guna menunjang pelaksanaan tugas dan

fungsi DPR RI yang akuntabel

T

U

J

U

A

N

3

2

1

 Memberikan dukungan di bidang perundang-undangan yang profesional  Memberikan dukungan di bidang

anggaran dan pengawasan yang akuntabel

 Memberikan dukungan di bidang persidangan yang andal

 Memberikan dukungan di bidang administrasi yang akuntabel

MISI

4

Menjadi Sekretariat Jenderal DPR RI yang professional, andal, dan akuntabel,

dalam mendukung fungsi DPR RI

2

Perencanaan dan

Perjanjian Kinerja

(14)

Keseluruhan gambaran visi dan misi Sekretariat Jenderal merupakan penggambaran struktur organisasi berdasarkan Peraturan Sekretaris Jenderal DPR RI Nomor 400/SEKJEN/2005 sebagaimana telah beberapa kali diubah terkahir dengan Peraturan Sekretaris Jenderal Nomor 03/PER-SEKJEN/2013.

Permasalahan strategis yang terjadi selama tahun 2015 berasal dari internal dan eksternal Sekretariat Jenderal DPR RI. Berikut merupakan gambaran permasalahan strategis Sekretariat Jenderal DPR RI.

Gambar 2.2

Permasalahan dan Langkah Strategis Setjen DPR RI

INTERNAL

 Melakukan revisi mekanisme

kerja

 Melakukan peningkatan

kualitas sumder daya manusia

 Membangun budaya kerja

 Memperbaiki sarana dan

prasaran

LANGKAH STRATEGIS Permasalahan yang dihadapi sebagai dampak perubahan organisasi adalah selama masa transisi dari struktur lama ke struktur baru perlu dilakukan pembaharuan mekanisme kerja, penataansumber daya manusia, pembentukan bidaya kerja, serta perubahan sarana dan prasarana

KELEMBAGAAN

ESKTERNAL

Dengan adanya dinamika kebijakan politik di DPR RI, baik dari DPR RI sendiri sebagai suatu entitas

maupun dari Partai politik yang diwujudkan dalam fraksi di DPR RI.

Adanya perbedaan pandangan dan perpecahan/dualisme yang ada membuat banyak keputusan

tidak bisa diambil. Hal ini berdampak kepada Sekretariat

Jenderal sebagai sistem DINAMIKA POLITIK DPR RI

Memperkuat mekanisme kerja internal dalam melaksanakan dukungan pelaksanaan tugas dan

fungsi DPR RI LANGKAH STRATEGIS

(15)

Perjanjian Kinerja

Penyusunan Rencana Kinerja Tahunan (RKT) Sekretariat Jenderal DPR RI mengacu kepada tugas dan fungsi Setjen DPR RI. Berdasarkan RKT tersebut, pada awal tahun 2015, Sekretariat Jenderal telah menetapkan Perjanjian Kinerja Sekretaris Jenderal DPR RI Tahun 2015. Perjanjian Kinerja adalah lembar/ dokumen yang berisikan penugasan dari pimpinan instansi yang lebih tinggi kepada pimpinan instansi yang lebih rendah untuk melaksanakan program/ kegiatan yang disertai dengan Indikator Kinerja. Persandingan RKT dan Perjanjian Kinerja Tahun 2015 selengkapnya terdapat pada Tabel 2.1.

Tabel 2.1

Persandingan RKT dan PK Tahun 2015

RENCANA KINERJA TAHUNAN PERJANJIAN KINERJA

Sasaran Strategis Indikator Kinerja Target Sasaran Strategis Indikator Kinerja Target

Meningkatnya kualitas dukungan terhadap

pelaksanaan fungsi legislasi DPR RI

Jumlah konsel Naskah Akademis dan konsep Rancangan Undang-Undang yang dimanfaatkan oleh DPR 8 NA dan 8 Draft RUU Meningkatnya kualitas dukungan terhadap pelaksanaan fungsi legislasi DPR RI, fungsi anggaran DPR RI, fungsi pengawasan DPR RI, dan dalam penguatan kelembagaan DPR RI

Jumlah Konsep Naskah Akademik dan Draft RUU yang digunakan oleh DPR RI

8 NA dan 8 Draft RUU

Jumlah konsep prolegnas prioritas RUU Tahun 2016 yang akan digunakan oleh Badan Legislasi

1 paket

Jumlah

Analisis/Referensi/ Ringkas Cepat APBN dan hasil pemeriksaan BPK serta pengawasan DPD yang digunakan oleh AKD 66 Analisis/ Referensi Jumlah Pertimbangan dan kajian hukum kepada DPR RI dan Setjen DPR RI yang akurat dan tepat waktu 481 dokumen pertimbang an hukum dan 17 kajian Jumlah Konsep Prolegnas Prioritas

Tahunan Tahun 2016 1 Konsep Meningkatnya kualitas dukungan terhadap pelaksanaan fungsi anggaran DPR RI Analisis kebijakan anggaran Negara dalam setiap tahap pembahasan/siklus APBN yang akuntabel dan tepat waktu

45 analisis/ referensi

Dukungan substansi kepada Badan Anggaran yang akuntabel dan tepat waktu 100 % Meningkatnya kualitas dukungan terhadap pelaksanaan fungsi pengawasan DPR RI Hasil pengadminis-trasian dan analisis surat pengaduan masyarakat yang disampaikan kepada DPR RI 4000 surat Dukungan substansi dalam penyelenggaraan rapat-rapat Badan Legislasi 41 RUU

(16)

RENCANA KINERJA TAHUNAN PERJANJIAN KINERJA

Sasaran Strategis Indikator Kinerja Target Sasaran Strategis Indikator Kinerja Target

Meningkatnya kualitas dukungan terhadap pelaksanaan penguatan kelembagaan DPR RI Penyelenggaraan persidangan DPR RI yang sesuai standard an tepat waktu 1.600 kegiatan Jumlah Naskah Keterangan DPR yang dipergunakan dalam persidangan di Mahkamah Konstitusi 45 Perkara Penyelenggaraan kegiatan Pimpinan DPR RI dan Pimpinan Setjen DPR RI yang sesuai standard an tepat waktu 772 dokumen Jumlah Naskah Gugatan, Jawaban, Replik, Duplik, Alat-Alat Bukti dan Kesimpulan Akhir, Memori/ Kontra Memori Banding, serta Memori/Kontra Memori Kasasi yang dipergunakan dalam proses persidangan di lingkungan peradilan umum, DPR RI, danSetjen DPR RI 8 Perkara Penyelenggaraan persidangan di forum internasional, regional, bilateral yang diikuti delegasi DPR RI yang sesuai standar 112 dokumen Dukungan penyelenggaraan pengaduan perkara etik Anggota DPR RI dan penyempurnaan peraturan DPR RI tentang KodeEtik dan Tata Beracara Mahkamah Kehormatan Dewan 22 Perkara Penyelenggaraan kehumasan, keprotokolan, dan pemberitaan sesuai dengan pedoman kehumasan DPR RI 127 dokumen Meningkatnya kualitas dukungan persidangan dan pelayanan kepada masyarakat dalam pemberian informasi perihal tugas dan fungsi DPR RI guna menciptakan citra positif DPR RI di masyarakat Terlaksananya kegiatan pelayanan persidangan paripurna yang prima dan tepat waktu

100 %

Mencapai tata kelola Setjen yang baik melalui reformasi setjen di bidang

kelembagaan, ketatalaksanaan, dan sumber Daya Manusia

Jumlah kajian, analisis, hasil penelitian atas situasi dan perkembangan Kedewanan sebagai bahan rekomendasi kebijakan yang disampaikan kepada DPR RI

400 kajian Persentase risalah rapat yang digunakan

oleh anggota Dewan 100 %

Jumlah dokumen perencanaan program dan anggaran 17 dokumen Terselenggaranya kegiatan dukungan kerjasama antar parlemen 95 % Terselenggaranya penyelenggaraan program dan evaluasi pendidikan dan pelatihan pegawai sesuai ketentuan 51 dokumen/ kegiatan Tindak lanjut permintaan informasi PPID 220 Permintaan Informasi Publik Opini Wajar Tanpa

Pengecualian dari Badan pemeriksa

WTP Persentase tersedianya fasilitas penunjang kegiatan sosialisasi DPR

(17)

RENCANA KINERJA TAHUNAN PERJANJIAN KINERJA

Sasaran Strategis Indikator Kinerja Target Sasaran Strategis Indikator Kinerja Target

Keuangan (BPK) RI RI dalam membentuk citra positif di masyarakat Perawatan, penyimpanan, dan pendistribusian peralatan dan perlengkapan kantor yang memenuhi standar 63 dokumen Persentase terlaksananya kegiatan rapat Paripurna, Rapat Komisi, danpansus RUU serta kunjungan kerja Dalam negeri dan Luar Negeri Komisi dan Pansus RUU sesuai standar dan tepat waktu

100 %

Pengelolaan Gedung dan rumah jabatan anggota sesuai standar 3 Doku-men Kontrak 560 Unit Rja 5 Unit Rumah Pimpinan 1 Unit Gedung Serba Guna 3 Dokumen Kontrak 1 Dokumen Kontrak 64 Unit Bungalow 2 Unit Ruang Sidang 1 Unit Gedung Serba Guna 1 Unit Kantor Pengelola Berikut Sarana Prasarana Terselenggaranya kegiatan kerjasama bilateral dan multilateral antar parlemen serta kegiatan ASGP yang akurat dan tepat waktu 35 Dokumen Mencapai tata kelola Setjen DPR RI yang baik melalui reformasi Setjen DPR RI di bidang kelembagaan, ketatalaksanaan, dan sumber daya manusia Tercapainya opini BPK berupa Wajar Tanpa

Pengecualian (WTP) WTP Terlaksananya

pengelolan anggaran yang akuntabel yang didasarkan pada AKUPA 100 % Tindak lanjut penerapan rencana Strategis (RENSTRA) DPR RI 2015 - 2019 100 % Meningkatnya kulitas sarana dan prasarana yang berbasis teknologi di lingkungan DPR RI dalam melaksanakan tugas dan fungsi DPR RI

Tersedianya administrasi sarana dan prasarans yang memadai guna menunjang pelaksanaan tugas dan fungsi DPR RI

(18)

A.

Pengukuran Capaian Kinerja

Sebagai perwujudan dari akuntabilitas kinerja dan alokasi anggaran yang disediakan, maka pengukuran kinerja ini menggambarkan pencapaian atas sasaran program/kegiatan yang didasarkan pada indikator kinerja yang sudah targetnya sudah ditetapkan dalam Perjanjian Kinerja. Gambaran pengukuran kinerja Sekretaris Jenderal DPR RI Tahun 2015 selengkapnya ada pada tabel 3.1.

Tabel 3.1

Pengukuran Capaian Kinerja Sekretariat Jenderal DPR RI Tahun 2015

No Sasaran Program/

Kegiatan IndikatorKinerja Target Realisasi Capaian

1. Meningkatnya kualitas dukungan terhadap

pelaksanaan fungsi legislasi DPR RI, fungsi anggaran DPR RI, fungsi pengawasan DPR RI, dan dalam penguatan

kelembagaan DPR RI

Jumlah Konsep Naskah Akademik dan Draft RUU yang digunakan oleh DPR RI

8 NA dan

8 Draft RUU

14 NA dan

14 Draft RUU

175 %

Jumlah Analisis/Referensi/ Ringkas Cepat APBN dan hasil pemeriksaan BPK serta pengawasan DPD yang digunakan oleh AKD

66 Analisis/

Referensi

83 Analisis/

Referensi

126%

Jumlah Konsep Prolegnas Prioritas Tahunan Tahun 2016

1 Konsep

1 Konsep

100 %

Dukungan substansi kepada Badan Anggaran yang akuntabel dan tepat waktu

100 %

100 %

100 %

Dukungan substansi dalam penyelenggaraan

rapat-rapat Badan Legislasi

41 RUU

41 RUU

100 %

3

Akuntabilitas

(19)

No Sasaran Program/

Kegiatan IndikatorKinerja Target Realisasi Capaian

Jumlah Naskah Keterangan DPR yang dipergunakan dalam persidangan di Mahkamah Konstitusi

45 Perkara

59 Perkara

131 %

Jumlah Naskah Gugatan, Jawaban, Replik, Duplik, Alat-Alat Bukti dan

Kesimpulan Akhir, Memori/ Kontra Memori Banding, serta Memori/Kontra Memori Kasasi yang

dipergunakan dalam proses persidangan di lingkungan peradilan umum, DPR RI, danSetjen DPR RI

8 Perkara

4 Perkara

50 %

Dukungan

penyelenggaraan pengaduan perkara etik Anggota DPR RI dan penyempurnaan peraturan DPR RI tentang KodeEtik dan Tata Beracara Mahkamah Kehormatan Dewan

22 Perkara

16 Perkara

73 %

2. Meningkatnya kualitas dukungan persidangan dan pelayanan kepada masyarakat dalam pemberian informasi perihal tugas dan fungsi DPR RI guna menciptakan citra positif DPR RI di masyarakat Terlaksananya kegiatan pelayanan persidangan paripurna yang prima dan tepat waktu

100 %

100 %

100 %

Persentase risalah rapat yang digunakan oleh

anggota Dewan

100 %

100 %

100 %

Terselenggaranya kegiatan

dukungan kerjasama antar

parlemen

95 %

82 %

86 %

Tindak lanjut permintaan

informasi PPID

220

Permintaan

Informasi

Publik

297

Permintaan

Informasi

Publik

135 %

Persentase tersedianya fasilitas penunjang kegiatan sosialisasi DPR RI dalam membentuk citra positif di masyarakat

80 %

80 %

100 %

Persentase terlaksananya kegiatan rapat Paripurna, Rapat Komisi, danpansus

(20)

No Sasaran Program/

Kegiatan IndikatorKinerja Target Realisasi Capaian

RUU serta kunjungan kerja Dalam negeri dan Luar Negeri Komisi dan Pansus RUU sesuai standar dan tepat waktu

Terselenggaranya kegiatan kerjasama bilateral dan multilateral antar parlemen serta kegiatan ASGP yang akurat dan tepat waktu

35 Dokumen 30 Dokumen

86 %

3. Mencapai tata kelola Setjen DPR RI yang baik melalui reformasi Setjen DPR RI di bidang

kelembagaan, ketatalaksanaan, dan sumber daya manusia

Tercapainya opini BPK berupa Wajar Tanpa Pengecualian (WTP)

WTP

WTP

100 %

Terlaksananya pengelolan anggaran yang akuntabel yang didasarkan pada AKUPA

100 %

100 %

100 %

Tindak lanjut penerapan rencana Strategis (RENSTRA)

DPR RI 2015 - 2019

100 %

100 %

100 %

4. Meningkatnya kulitas sarana dan prasarana yang berbasis teknologi di lingkungan DPR RI dalam melaksanakan tugas dan fungsi DPR RI Tersedianya administrasi sarana dan prasarans yang memadai guna menunjang pelaksanaan tugas dan fungsi DPR RI

(21)

B.

Evaluasi dan Analisis Capaian

Kinerja

Analisis dan evaluasi capaian kinerja masing-masing sasaran Tahun 2015 dari Sekretariat Jenderal dapat dijelaskan sebagai berikut:

ecara umum tujuan, sasaran, dan kegiatan Deputi PUU pda tahun 2015 dapat dilaksanakan dengan baik, namun hasil tersebut masih perlu ditingkatkan dari beberapa aspek, yaitu pertama: aspek kualitas dan pemenuhan standar penyusunan NA sebagaimana tertuang dalam lampiran 1 Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan. Kedua, aspek ketepatan waktu untuk meyelesaikan tugas, walaupun pada akhir tahun NA dan Draft RUU dapat diselesaikan, namun sesungguhnya kebutuhan penyelesaian NA dan Draft RUU dibutuhkan selama tahun berjalan untuk menunjang pelaksanaan tugas dan fungsi Dewan. Ketiga, pelaksanaan penyusunan NA dan Draft RUU belum didukung dengan SOP yang sama untuk semua Tim yang mengerjakan, sehingga masih terdapat perbedaan format NA untuk masing-masing Tim. Untuk itu sangat

S

Sasaran

1

Meningkatnya kualitas dukungan terhadap pelaksanaan fungsi legislasi DPR RI, fungsi anggaran DPR RI, fungsi pengawasan DPR RI,

dan dalam penguatan kelembagaan DPR RI

Jumlah Konsep Naskah Akademik dan Draft RUU yang

digunakan oleh DPR RI

8 NA dan 8 Draft RUU

175%

Target

14 NA dan 14 Draft RUU

Realisasi

(22)

diperlukan mekanisme control kualitas NA. Keempat, beban pekerjaan yang belum merata baik secara kualitas maupun secara kuantitas di antara para tenaga perancang.

Perlu pula disampaikan beberapa hambatan dalam pelaksanaan tugas dukungan di bidang penyusunan NA dan draft RUU, yaitu: kemampuan tenaga perancang belum merata sehingga masih diperlukan kegiatan pelatihan peningkatan kapasitas yang dapat meningkatkan kemampuan perancang secara keseluruhan.

Setelah terbentuknya Badan Keahlian Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (BKD), maka fungsi pemberian dukungan di bidang legislasi akan dilakukan oleh Pusat Perancangan Undang-Undang Badan Keahlian DPR RI. Untuk melanjutkan dan mempertahankan capaian sebelumnya, maka Pusat Perancangan Undang-Undang perlu mengoptimalkan pelibatan Tenaga Ahli pada Alat Kelengkapan Dewan (AKD) dan Peneliti dari Pusat Penelitian, Analisis Anggaran dari Pusat Kajian Anggaran, dan akademisi dari luar Badan keahlian DPR RI.

elain melaksanakan dukungan terhadap fungsi legislasi DPR, Sekretariat Jenderal juga melaksanakan dukungan kepada DPR dalam melaksanakan fungsi anggaran. Khususnya bagi Biro Analisa Anggaran dan Pelaksanaan APBN, dukungan diberikan dalam bentuk penyusunan analisis, referensi, dan ringkas cepat APBN. Analisis merupakan kajian tematik yang terkait dengan perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan APBN sebagai bahan pertimbangan bagi para pengambil keputusan di bidang anggaran. Referensi merupakan penyajian/kompilasi data dan informasi primer/sekunder atas topik tertentu terkait dengan perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan APBN. Analisis Ringkas Cepat (ARC) merupakan kajian ringkas terkait dengan perencanaan, pelaksanaan, dan

S

Jumlah Analisis/Referensi/Ringkas Cepat APBN dan

hasil pemeriksaan BPK serta pengawasan DPD yang

digunakan oleh AKD

66 Analisis/ Referensi

126

%

Target

83 Analisis/Referensi

Realisasi

1.2

(23)

pengawasan APBN yang disusun dalam waktu singkat dan berdasarkan permintaan dari Anggota Dewan. Pada tahun 2015, jumlah output yang dihasilkan berjumlah 62 analisis, yang terdiri dari 51 analisis, 5 referensi dan 6 analisis ringkas cepat. Output tersebut disampaikan kepada Komisi terkait dan Badan Anggaran. Pemanfaatan analisis tersebut dapat terlihat dari kutipan laporan pembahasan RAPBN di Komisi dan Badan Anggaran, termasuk kutipan Ketua Badan Anggaran dalam menyampaikan laporan di rapat Paripurna DPR dalam rangka persetujuan atas RUU APBN.

Sedangkan untuk hasil analisis, referensi, dan ringkas cepat hasil pemeriksaan BPK dan pengawasan DPD pada tahun 2015 berjumlah 21 buah yang terdiri dari 4 analisis dan 17 referensi. Output tersebut menjadi bahan bagi komisi dalam menindaklanjuti temuan-temuan BPK pada pasangan kerja masing-masing dan juga sebagai bahan pengawasan DPR ketika melaksanakan kunjungan kerja ke daerah atau Daerah Pemilihannya (Dapil). Hal ini merupakan bagian dalam memberikan dukungan bagi pelaksanaan fungsi pengawasan DPR RI.

ukungan Deputi PUU terhadap penyusunan Program Legislasi Nasional adalah menyampaikan hasil analisis terhadap prioritas RUU tahun 2016. Untuk melakukan analisis tersebut, Deputi PUU terlebih dahulu melakukan evaluasi terhadap capaian dan realisasi program legislasi nasional tahun 2015. Sesuai dengan ketentuan bahwa penetapan prolegnas DPR sebelum penetapan APBN, maka untuk itu Deputi PUU sudah mempersiapkan hasil kajiannya untuk dijadikan bahan rapat penetapan Prolegnas oleh DPR bersama-sama dengan pemerintah. Namun perlu disampaikan bahwa penetapan prolegnas tahun 2016 jauh melampau tenggat waktu yang ditetapkan. Namun persoalan tersebut, bukan pada sistem pendukungan seperti Deputi PUU tetapi karena agenda DPR RI sendiri yang kurang

D

Jumlah Konsep Prolegnas Prioritas Tahunan

Tahun 2016

1 Konsep

100%

Target 1 Konsep Realisasi

1.3

(24)

memperhatikan tugas-tugas di bidang fungsi legislasi. Hal ini dipengaruhi pula oleh situasi politik di DPR RI sendiri yang kurang kondusif bagi pelaksanaan fungsi legislasi. Kondisi yang kurang kondiusif misalnya persidangan kasus pelanggaran kode etik terhadap Ketua DPR RI Setya Novanto, serta hubungan KIH dan KMP yang belum harmonis.

arget indikator “Dukungan substansi kepada Badan Anggaran yang Akuntabel dan Tepat Waktu” adalah 100%, berupa 6 dukungan substansi dan administrasi yang terdiri dari 5 (lima) dokumen substansi terkait dengan siklus pembahasan APBN yaitu, 1) pembahasan RKP dan Pembicaraan Pendahuluan RAPBN Tahun 2016; 2) pembahasan RUU APBN tahun 2016, 3) pembahasan RUU tentang Pertanggungjawaban atas Pelaksanaan APBN tahun 2014, 4) pembahasan RUU tentang APBN Perubahan tahun 2015, dan 5) pembahasan Laporan Semester I APBN tahun 2015 dan Prognosis 6 bulan berikutnya, dan 1 (satu) dokumen administrasi keuangan Badan Anggaran. Realisasi dukungan substansi dan administrasi kepada Badan Anggaran mencapai 100% (6 dokumen substansi dan administrasi). Dukungan ini diberikan terhadap pelaksanaan kegiatan rapat dalam setiap pembahasan RAPBN, yang meliputi:

1) Dokumen pembahasan RKP dan Pembicaraan Pendahuluan RAPBN

Tahun 2016.

2) Dokumen pembahasan RUU tentang APBN Tahun 2016.

3) Dokumen pembahasan RUU tentang Pertanggungjawaban atas

Pelaksanaan APBN tahun 2014.

4) Dokumen pembahasan RUU tentang APBN Perubahan tahun 2015.

5) Dokumen pembahasan Laporan Semester I APBN tahun 2015 dan

Prognosis untuk 6 bulan berikutnya.

6) Dokumen Administrasi lainnya.

T

Dukungan Substansi Kepada Badan Anggaran Yang

Akuntabel dan Tepat Waktu

100%

100

%

Target

100%

Realisasi

1.4

(25)

ealisasi dukungan terhadap dukungan kepada Badan Legislasi

mencapai 100 %. Dukungan tersebut meliputi dukungan

penyelenggaraan rapat Badan Legislasi dilakukan dalam rangka pelaksanaan tugas yang terkait dengan :

a. Pembahasan RUU. Tahun 2015 Baleg ditugaskan oleh Badan Musyawarah

untuk melakukan pembahasan RUU tentang Penjaminan bersama Pemerintah yang telah diselesaikan pada Masa Persidangan II TS. 2015-2016.

b. Pengharmonisasian, pembulatan, dan pemantapan konsepsi RUU.

Prolegnas RUU Prioritas Tahun 2015 terdapat 40 RUU yang terdiri dari 27 RUU usulan DPR, 12 RUU usulan Pemerintah, dan 1 RUU usulan DPD RI. Selain memberikan dukungan substansi terhadap rapat pembahasan, pengharmonisasian, pembulatan, dan pemantapan konsepsi RUU, Bagian Sekretariat Badan Legislasi juga memberikan dukungan terhadap penyusunan/pembahasan Peraturan DPR RI dan pemantauan dan peninjauan terhadap Undang-Undang. Pada Tahun 2015 Baleg melakukan penyusunan dan pembahasan 6 Rancangan Peraturan DPR RI, namun yang sudah diselesaikan pembahasannya baru 3 Peraturan DPR RI. Selain itu, Badan Legislasi selama tahun 2015 telah melakukan pemantauan dan peninjauan terhadap pelaksanaan UU Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan dan UU 16 Tahun 2011 tentang Bantuan Hukum.

R

Dukungan substansi dalam penyelenggaraan rapat-rapat Badan Legislasi

41 RUU

100%

Target 41 RUU Realisasi

1.5

(26)

ekretariat jenderal DPR RI CQ Deputi Perundang-undangan CQ Biro Hukum dan Pemantauaun Pelaksanaan Undang-Undang Cq Bagian Hukum telah menyusun Naskah Keterangan DPR RI yang dipergunakan

oleh DPR RI C.Q Tim Kuasa DPR (Pimpinan dan/atau Anggota AKD yang

membahas UU yang diuji Materiil dengan didampingi oleh Anggota Komisi III)

dalam persidangan di Mahkamah Konstitusi untuk memberikan keterangan lisan dan/atau tertulis terhadap 59 (lima puluh Sembilan) Perkara Permohonan Pengujian UU terhadap UUD NRI Tahun 1945.

Disamping itu pejabat/Pegawai Biro Hukum, Setjen DPR RI juga mendampingi Tim Kuasa DPR RI dalam setiap persidangan di Mahkamah Konstitusi dengan menyiapkan kelengkapan administrasi persidangan serta menyiapkan data dan informasi terkait dengan bahan-bahan pokok perkara pengujian UU.

Dengan adanya perubahan struktur baru, maka hal penting yang dilakukan untuk menjaga capaian prestasi adalah mengadaan tenaga analisis hokum yang akan membuat keterangan. Tenaga-tenaga analisis hokum perlu dibekali dengan kemampuan untuk melakukan analisis konstitusional untuk menjamin kualitas keterangan yang disiapkan.

Pada tahun 2015, Sekretariat Jenderal DPR RI cq, Deputi Perundang-undangan cq.Biro Hukum dan Pemantauan Pelaksanaan Undang-Undang cq. Bagian Hukum telah menyusun Naskah Keterangan DPR RI yang dipergunakan oleh DPR c.q. Tim Kuasa DPR (Pimpinan dan/atau Anggota AKD yang

membahas UU yang diuji Materiil dengan didampingi oleh Anggota Komisi III)

dalam persidangan di Mahkamah Konstitusi untuk memberikan keterangan lisan dan/atau tertulis terhadap 59 (lima puluh sembilan) Perkara Permohonan Pengujian UU Terhadap UUD NRI Tahun 1945 (Daftar register perkara dan pokok permohonan terlampir).

S

Jumlah Naskah Keterangan DPR Yang

Dipergunakan Dalam Persidangan di Mahkamah

Konstitusi

45 Perkara

131%

Target

59 Perkara

Realisasi

1.6

(27)

ntuk penanganan gugatan perdata dan TUN di pengadilan dalam lingkungan Peradilan Umum, Pimpinan DPR RI melalui Keputusan Pimpinan Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia Nomor 342/PIMP/I/2014 – 2015 telah membentuk Tim Kuasa Hukum DPR dengan menunjuk Pejabat dan/atau Pegawai Sekretariat Jenderal DPR RI yang tugas dan fungsinya membidangi urusan hukum.

Tim Kuasa Hukum DPR dimaksud, bertugas mewakili DPR dalam penanganan gugatan perdata dan TUN di Pengadilan dalam lingkungan Peradilan Umum dengan menghadiri dan mengikuti persidangan di Pengadilan, melakukan mediasi, membuat eksepsi/jawaban, Duplik, penyampaian alat bukti, dan keterangan-keterangan lain terkait dengan pokok perkara, dan kesimpulan, serta bila diperlukan sampai pada tahap menyusun memori/kontra memori banding dan memori/kontra memori kasasi yang merupakan output Tim Kuasa Hukum DPR. Output dimaksud memberikan manfaat (outcome) sebagai bahan pertimbangan Majelis Hakim untuk membuat putusan sesuai dengan tuntutan DPR RI.

Pada tahun 2015, Sekretariat Jenderal memperkirakan terdapat 8 perkara terkait gugatan perdata dan tata Usaha Negara di pengadilan, sedangkan realisasinya hanya 4 perkaya yang masuk diantaranya 3 perkara gugatan perdata di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan dan 1 perkara gugatan perdata di Pengadilan Negeri Padang. Tim Kuasa DPR RI telah berasil dalam penanganan Perkara dimaksud, dengan ditolaknya atau tidak dapat

diterimannya Gugatan terhadap DPR RI sebagaimana tertuang dalam amar

Putusan 4 Perkara dimaksud. Dengan demikian Tim Kuasa DPR RI telah berhasil membuktikan dihadapan Majelis Hakim bahwa DPR dalam melaksanakan tugas dan fungsinya telah sesuai dengan koridor-koridor hukum.

U

Jumlah Naskah Gugatan, Jawaban, Replik, Duplik, Alat-Alat Bukti dan Kesimpulan Akhir, Memori/Kontra Memori Banding, serta Memori/Kontra Memori Kasasi Yang Dipergunakan Dalam Proses Persidangan di Lingkungan Peradilan Umum, DPR RI, dan Setjen DPR RI

8 Perkara

50%

Target 4 Perkara Realisasi

1.7

(28)

ada tahun 2015, Sekretariat Jenderal memperkirakan adanya pengaduan perkara etik Anggota DPR RI yang diterima oleh Mahkamah Kehormatan Dewan (MKD) sebanyak 22 perkara. Oleh karenannya Sekretariat Jenderal menetapkan target pemberian dukungan administrasi dan tekhnis keahlian kepada Pimpian dan Anggota Majelis Kehormatan Dewan Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia dalam penyelesaian 22 perkara dimaksud. Dukungan Administrasi menyangkut kegiatan registrasi perkara baik yang bersumber pada pengaduan maupun non-pengaduan, Pemyelenggaraan rapat-rapat MKD, Notulensi rapat, dan Notulensi persidangan MKD, sedangankan dukungan keahlian menyangkut kegiatan pengolahan data dan informasi yang terkait dengan pokok perkara.

Dalam pelaksanaan pemberian dukungan sebagaimana diuraikan diatas Sekretariat MKD telah menerima dan meregistrasi 47 perkara dan hal telah melebihi dari target yang telah ditetapkan sebelumnya. Dari 47 perkara tersebut setelah dilakukan verifikasi administrasi, dan diputuskan 17 perkara tidak ditindaklanjuti karena tidak memenuhi syarat pengaduan sesuai dengan Tata Beracara MKD. Dalam hal ini berkas perkara yang telah diverifikasi dan diselidiki serta diputus oleh MKD adalah sebanyak 16 perkara. Sedangkan yang masih dalam proses verifikasi maupun penyelidikan oleh anggota MKD adalah sebanyak 14 perkara.

Dengan demikian, untuk mendukung kelancaran tugas fungsi MKD dalam melakukan verifikasi, penyelidikan dan memutus perkara, Sekretariat Jenderal khususnya Bagian Sekretariat MKD telah memberikan dukungan teknis maupun administrative bagi terselenggaranya kegiatan rapat-rapat MKD.

Selanjutnya untuk tahun anggaran berikutnya, dalam hal anggaran maupun ketersediaan sumber daya manusia, BagianSekretariat MKD merasa perlu ditingkatkan kualitas maupun kuantitasnya guna meningkatkan kemampuan dalam pelayaan penerimaan perkara, dukungan data dan informasi terkait perkara maupun pelayanan kegiatan rapat-rapat MKD.

P

Dukungan Penyelenggaraan Pengaduan Perkara Etik Anggota DPR RI dan Penyempurnaan Peraturan DPR RI

tentang Kode Etik dan Tata Beracara Mahkamah Kehormatan Dewan

22 Perkara

73 %

Target

16 Perkara

Realisasi

1.8

(29)

erdasarkan Peraturan DPR RI Nomor 1 Tahun 2014 tentang Tata Tertib sebagaimana telah diubah dengan Peraturan DPR RI Nomor 3 Tahun 2015, definisi Rapat Paripurna adalah rapat Anggota yang dipimpin oleh pimpinan DPR dan dihadiri oleh paling sedikit 3 (tiga) orang pimpinan DPR. Rapat Paripurna DPR merupakan forum tertinggi dalam melaksanakan wewenang dan tugas DPR, kecuali rapat Paripurna DPR pengucapan sumpah/janji. Selain itu juda dilaksanakan rapat paripurna luar negeri yang merupakan rapat paripurna yang diadakan dalam masa reses apabila diusulkan oleh Presiden, Pimpinan AKD, Pimpinan Fraksi, atau Anggota dengan jumlah paling sedikit 28 (dua puluh delapan) orang yang mencerminkan lebih dari 1 Fraksi. Pada tahun 2015, Bagian Persidangan Paripurna melaksanakan 39 kali rapat paripurna.

B

Sasaran

2

Meningkatnya kualitas dukungan persidangan dan pelayanan kepada masyarakat dalam pemberian informasi perihal tugas dan fungsi DPR RI guna menciptakan citra positif DPR RI

di masyarakat

Terlaksananya kegiatan pelayanan persidangan paripurna yang prima dan tepat waktu

100%

100%

Target

100 %

Realisasi

2.1

(30)

esuai dengan Peraturan DPR RI Nomor 1 Tahun 2014 tentang Tata Tertib sebagaimana telah diubah dengan Peraturan DPR RI Nomor 3 Tahun 2015, bahwa untuk setiap rapat paripurna, rapat paripurna luar biasa, rapat panitia kerja, atau tim, rapat kerja, rapat dengar pendapat, dan rapat dengar pendapat umum dibuat risalah rapat. Risalah rapat adalah catatan rapat yang dibuat secara lengkap dan berisi seluruh jalannya pembicaraan yang dilakukan dalam rapat serta dilengkap dengan catatan tentang jenis dan sifat rapat, hari dan tanggal rapat, tempat rapat, acara rapat, waktu pembukaan dan penutupan rapat, ketua dan sekretaris rapat, jumlah dan nama anggota yang menandatangni daftar hadir, dan undangan yang hadir.

Sekretariat Jenderal melalui Bagian Risalah menghasilkan risalah seluruh rapat yang dilaksanakan oleh Komisi, Pansus dan Rapat Paripurna, yang memenuhi standar dan tepat waktu berdasarkan ketentuan Peraturan DPR RI tentang Tata Tertib.

Tabel 3.2

Jumlah Risalah Rapat Tahun 2015

Sumber: Rekapitulasi kegiatan persidangan tahun 2015 dari Komisi, Pansus dan Paripurna

PAN

I

II

III IV

V VI VII VIII IX

X

XI SUS

1 RISALAH LEGISLASI

20 17 15 76

6 3

4 53 12 14 16 23

259

2 RISALAH ANGGARAN

24 26 21 33 42 28 32 19 14 49 29

0

317

3 RISALAH PENGAWASAN

73 50 70 64 34 120 55 40 33 87 62

0

688

39

117 93 106 173 82 151 91 112 59 150 107 23 1,303

RISALAH RAPAT PARIPURNA

JUMLAH

RISALAH RAPAT-RAPAT ALAT KELENGKAPAN DEWAN

NO.

FUNGSI

KOMISI

JML

S

Presentase Risalah Rapat yang Digunakan oleh Anggota Dewan

100%

100%

Target

100 %

Realisasi

2.2

(31)

Jumlah risalah rapat yang dilaksanakan pada tahun 2015 terdapat peningkatan dibanding tahun 2014. Jumlah risalah rapat sesuai dengan jumlah kegiatan rapat, dimana tahun 2015 berjumlah 1.303 rapat, sedangkan tahun

2014 berjumlah 1.079 rapat. Namun, dibandingkan dengan tahun 2013, masih

terdapat penurunan, dimana tahun 2013 sebanyak 1.571 kegiatan rapat. Perbandingan jumlah rapat dapat dilihat pada grafik dibawah ini.

Grafik 3.1

Perbandingan Jumlah Risalah Rapat Tahun 2013, 2014 dan 2015

Sumber: Rekapitulasi kegiatan persidangan tahun 2013, 2014 dan 2015 dari Komisi, Pansus dan Paripurna

Output dari kegiatan pembuatan risalah rapat adalah tersedianya risalah

rapat-rapat yang dilakukan oleh seluruh Alat Kelengkapan Dewan yang tepat waktu dan sesuai standar. Sedangkan outcome dari tersedianya risalah rapat-rapat yaitu:

a) Menjadi bahan masukan/pertimbangan bagi Pimpinan dan Anggota

DPR RI dalam melakukan pembahasan dan pengambilan keputusan;

b) Bahan penelitian para akademisi/masyarakat;

(32)

irencanakan 49 kegiatan pengiriman delegasi DPR RI ke luar negeri dan 4 kegiatan penyelenggaraan Sidang Regional dan Internasional yang akan dilaksanakan oleh Badan Kerja Sama Antar Parlemen. Pada tahun 2015, telah terealisasi 33 kegiatan. Hal ini dikarenakan dinamika politik di DPR RI, sehingga mengakibatkan beberapa kegiatan tidak dapat diambil keputusan. Hal ini berdampak pada pelaksanaan kegiatan yang sudah direncanakan oleh DPR RI dan akan dilaksanakan oleh Setjen DPR RI. Berikut merupakan daftar kegiatan tahun 2015.

REALISASI KEGIATAN PENGIRIMAN DELEGASI DPR RI KE LUAR NEGERI DAN PENYELENGGARAAN SIDANG REGIONAL DAN INTERNASIONAL

OLEH BADAN KERJASAMA ANTAR PARLEMEN TAHUN 2015

A. PENYELENGGARAAN SIDANG

1. Parliamentary Event on the 60th Commemoration of the Asian

African Conference tanggal 23 April 2015 di Jakarta. Pertemuan ini

menghasilkan 1 Deklarasi dan 1 Kesepakatan pembentukan

Sekretariat Tetap Parliamentary Asia-Africa Conference.

2. Asian Parliamentary Assembly (APA) Standing Committee on Economic and Sustainable Development Affairs tanggal 19 – 20

Agustus 2015 di Jakarta. Sidang ini menghasilkan 1 Report Meeting dan 5 Draf Resolusi yang kemudian disampaikan ke Sidang Pleno APA ke-8;

3. The 6th Global Conference of Parliamentarians Against Corruption

(GOPAC) tanggal 5 – 8 Oktober 2015 di Yogyakarta. Konferensi ini

menghasilkan 1 Deklarasi dan 1 Kesepakatan pembentukan

Sekretariat Tetap GOPAC

D

Terselenggaranya Kegiatan

Dukungan Kerja Sama antar Parlemen

95%

86%

Target

82%

Realisasi

2.3

(33)

B. PENGIRIMAN DELEGASI KE SIDANG REGIONAL DAN INTERNASIONAL

1. Sidang Tahunan ke-23 Asia Pacific Parliamentary Forum (APPF)

tanggal 8 - 17 Januari 2015 di Quito, Ekuador. Sidang ini menghasilkan Joint Communique dan 18 Resolusi termasuk 2

Resolusi usulan Indonesia.

2. The 10th Session of the PUIC Conference and related meetings

tanggal 16 - 23 Januari 2015 di Istanbul. Turki. Pertemuan tersebut menghasilkan 1 Deklarasi, 1 Final Communique, 53 Resolusi.

3. Annual 2015 Session of the Parliamentary Conference on the World Trade Organization (PCWTO), tanggal 16 - 17 Februari 2015 di

Jenewa, Swiss. Pertemuan ini menghasilkan 1 Rekomendasi.

4. The 3rd OECD Parliamentary Days, tanggal 25 - 27 Februari 2015 di

Paris, Prancis. Pertemuan ini menghasilkan 1 Rekomendasi.

5. Seminar for Asia Pacific on Translating International Rights Commitment into National Realities: The Contribution of Parliament to the work of the UNHCR, tanggal 26 - 27 Februari 2015 di Manila,

Filipina. Pertemuan ini menghasilkan 1 Rekomendasi.

6. The 59th Session of the CSW tanggal 9 - 13 Maret 2015 di New York,

USA. Pertemuan ini menghasilkan 1 Rekomendasi.

7. Parliamentary Meeting at the Third UN World Conference on Disaster Risk Reduction tanggal 13 Maret 2015 di Sendai, Jepang. Pertemuan

ini menghasilkan 1 Rekomendasi.

8. Sidang APA Standing Committee on Political Affairs, tanggal 19-20

(34)

yang kemudian disampaikan pada Sidang Pleno APA ke-8 pada tanggal 7 – 12 Desember 2015 di Phnom Penh, Kamboja.

9. The 132nd Assembly of the Inter-Parliamentary Union (IPU) and related meetings tanggal 28 Maret - 2 April 2015, di Hanoi, Vietnam

Pertemuan ini menghasilkan 3 Resolusi.

10. Global Parliamentary Conference of the Parliamentary Network on

the World Bank & International Monetary Fund (IMF) tanggal 12-13

April 2015, di Washington D.C, USA. Pertemuan tersebut menghasilkan 1 Report.

11. ASEAN People's Forum, tanggal 25 April 2015 di Kuala Lumpur, Malaysia. Forum ini menghasilkan Rekomendasi tentang civil society, salah satunya usulan dari Indonesia mengenai penguatan peran perempuan dalam menghadapi Komunitas Masyarakat ASEAN. 12. ASEAN Leaders Meeting with the Representatives of ASEAN Inter

Parliamentary Assembly (AIPA), tanggal 25-28 April 2015 di Malaysia.

Sidang ini menghasilkan Summary Report dan Rekomendasi dari AIPA kepada Pimpinan Negara Anggota ASEAN tentang peningkatan hubungan Negara anggota ASEAN – AIPA untuk mewujudkan ASEAN Post-2015 Vision dan menciptakan Masyarakat ASEAN yang people-centered dan rules-based.

13. Sidang Global Parliament of Young Parliamentary tanggal 25- 31 Mei

2015 di Jepang. Pertemuan ini menghasilkan 1 Rekomendasi.

14. The 12th Meeting of the ASEAN Inter-Parliamentary Assembly (AIPA)

Fact-Finding Committee (AIFOCOM) to Combat the Drug Menace

tanggal 7 - 11 Juni 2015 di Kuala Lumpur, Malaysia. Sidang ini menghasilkan 1 Draf Resolusi yang kemudian disampaikan pada Sidang Umum AIPA ke-36 pada tanggal 6 – 12 September 2015 di Kualalumpur, Malaysia.

15. Sidang ASEAN Inter-Parliamentary Assembly (AIPA) Caucus ke-7, tanggal 26-30 Juli 2015 di Siam Reap, Kamboja. Sidang ini menghasilkan 9 Summary Country Report dan 1 Draf Resolusi tentang ASEAN Tourism; Promoting Nature Conservation and

Developing Sustainable Tourism yang kemudian disampaikan pada

Sidang Umum AIPA ke-36 pada tanggal 6 – 12 September 2015 di Kualalumpur, Malaysia.

16. Sidang Umum ke-36 ASEAN Inter-Parliamentary Assembly (AIPA), tanggal 6-12 September 2015 di Kuala Lumpur, Malaysia. Sidang ini menghasilkan 7 Report Meeting dari setiap Committee (Committee

on Political Matters, Committee on Economic Matters, Committee on Social Matters, Committee on Organizational Matters, Women Parliamentarians of AIPA, dan Committee on Joint Communique), 1

(35)

Summary Report Sidang Umum AIPA ke-26, 1 Adopsi Draf Resolusi

dari AIFOCOM, 10 Resolusi mengenai Isu-isu Regional dan 13 Resolusi Komisi Keorganisasian AIPA.

17. Parliamentary Session within the Framework of the Annual WTO

Public Forum and the 34th Session of the Streering Committee of the PCWTO tanggal 28 September - 3 Oktober 2015 di Jenewa, Swiss.

Pertemuan ini menghasilkan 1 Rekomendasi.

18. IPU 133rd Assembly and Related Meetings tanggal 15 - 22 Oktober

2015 di Jenewa, Swiss. Pertemuan ini menghasilkan 3 Resolusi.

19. Parliamentary Meeting on the Occasion of the United Nations on

Climate Change Conference tanggal 3 – 7 Desember 2015 di Paris,

Perancis. Pertemuan ini menghasilkan 1 Rekomendasi.

20. Sidang Pleno ke-8 Asian Parliamentary Assembly (APA) tanggal 7 - 12 Desember 2015 di Phnom Penh, Kamboja. Sidang ini menghasilkan 1

Report Meeting, 1 Deklarasi Phnom Penh dan 18 Resolusi.

C. PENGIRIMAN DELEGASI TEKNIS DAN BILATERAL

1. Kunjungan Teknis BKSAP ke Republik Ceko tanggal 24 – 30 Mei 2015.

Hasil kunjungan ini akan dibentuk GKSB dengan Parlemen Ceko.

2. Kunjungan Teknis BKSAP ke Meksiko tanggal 14 – 18 September 2015

3. Kunjungan Delegasi Sustainable Development Goals (SDGs) ke

Meksiko tanggal 14 – 20 September 2015. Dalam kunjungan ini menghasilkan 1 Rekomendasi.

4. Kunjungan Delegasi Sustainable Development Goals (SDGs) ke

Hungaria tanggal 14 – 20 September 2015. Dalam kunjungan ini menghasilkan 1 Rekomendasi.

5. Kunjungan Delegasi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) ke Thailand

tanggal 17 – 20 November 2015. Dalam kunjungan ini menghasilkan

1 Rekomendasi.

6. Kunjungan Delegasi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) ke Republik

Rakyat Tiongkok tanggal 17 – 20 November 2015. Dalam kunjungan ini menghasilkan 1 Rekomendasi.

7. Kunjungan Bilateral ke Italia tanggal 22 – 28 November 2015. Hasil

kunjungan ini berupa Draft MoU antar kedua parlemen.

8. Kunjungan Bilateral ke Lebanon tanggal 10 – 16 Desember 2015.

Hasil kunjungan ini berupa Draft MoU antar kedua parlemen.

9. Kunjungan Bilateral ke Republik Islam Iran tanggal 13 – 19 Desember

2015. Hasil kunjungan ini berupa Draft MoU antar kedua parlemen. 10. Kunjungan Bilateral ke Austria tanggal 13 – 19 Desember. Hasil

(36)

Selesai 82% Dalam Proses 17% Batal 1%

Informasi Publik

erdasarkan data permintaan informasi publik yang dikelola Sekretarat Jenderal melalui Biro Hubungan Masyarakat dan Pemberitaan khususnya Bagian Hubungan Masyarakat, selama tahun 2015, jumlah permintaan informasi publik yang masuk ke DPR RI adalah sebanyak 363 permohonan. Dari total 363 permintaan yang masuk, sebanyak 297 permintaan dapat diselesaikan sedangkan 62 permintaan sedang dalam proses pengumpulan informasi dari unit-unit penyedia informasi di dalam Sekretariat Jenderal, dan 4 permintaan lainnya batal.

Kinerja pelayanan publik selama tahun 2015 dapat digambarkan pada tabel berikut:

Grafik 3.2

KInerja Pelayanan Permintaan Informasi Publik Tahun 2015

B

Tindak Lanjut Permintaan Informasi PPID 220 Permintaan Informasi Publik

135

%

Target 297 Permintaan Informasi Publik Realisasi

2.4

(37)

ntuk menunjang citra positif DPR RI, tugas Sekretariat Jenderal yaitu memberikan dukungan kehumasan dan pemberitaan yang makin gencar dan bersaing dengan pemberitaan dari media di luar. Oleh karena itu Biro Humas dan Pemberitaan melalui Bagian Humas, Bagian Pemberitaan, dan Bagian Protokol menyusun kegiatan-kegiatan yang secara perlahan dapat membentuk citra positif DPR RI di mata masyarakat Indonesia. Diantaranya meliputi kegiatan penerimaan instansi/sekolah ke DPR RI, sosialisasi melalui Gelar Budaya, penayangan dialog interaktif/talkshow, liputan TV Parlemen, Bocking Rubrik Media Cetak dan Elektronik dan lain sebagainya.

U

Persentase Tersedianya Fasilitas Penunjang Kegiatan Sosialisasi DPR RI dalam Membentuk Citra Positif di

Masyarakat

80%

100%

Target

80 %

Realisasi

2.5

(38)

esuai dengan acara jadwal rapat DPR RI, pada Masa Persidangan II Tahun 2014-2015 yang diputuskan pada Rapat Konsultasi pengganti rapat Bamus tanggal 2 Desember 2014, maka jumlah Masa Sidang pada Tahun 2015 sebanyak 165 hari kerja

Sesuai dengan karakteristik rapat pada Masa Persidangan II Tahun Sidang 2014-2015, maka:

1. Rencana kegiatan fungsi legislasi dialokasikan ±50% dari waktu yang

tersedia, sedangkan kegiatan fungsi anggaran dan pengawasan dialokasikan ±50% dari waktu yang tersedia.

2. Pelaksanaan setiap fungsi akan disesuaikan dengan perkembangan dan

kebutuhan setiap pelaksanaan fungsi Dewan tersebut.

3. Fokus kegiatan per sesi sesuai dengan jadwal, namun demikian masih

dapat berubah sesuai dengan kebutuhan.

Untuk penetapan hari-hari rapat sesuai dengan Rapat konsultasi Pengganti Bamus tanggal 9 Oktober 2014 di sepakati penetapan hari-hari rapat DPR RI sebagai berikut:

- Hari Senin untuk Rapat Pimpinan dan Komisi-komisi

- Hari Selasa untuk Rapat Paripurna (apabila tidak ada Rapat Paripurna,

maka dialokasikan untuk Rapat-rapat Komisi).

- Hari Rabu untuk Rapat Komisi-komisi dan Tim

- Hari Kamis siang dipergunakan untuk Rapat Badan dan Mahkamah

Kehormatan, selanjutnya untuk pagi dan malam hari dipergunakan untuk Rapat Komisi.

- Hari Jumat dipergunakan untuk Rapat Fraksi-fraksi.

- Rapat Badan Anggaran dialokasikan pada hari Senin, Selasa (apabila

tidak ada Rapat Paripurna, dan Kamis.

- Rapat Badan Legislasi dialokasikan pada hari Senin, Selasa (apabila tidak

ada Rapat Paripurna) Rabu dan Kamis.

- Rapat Pansus RUU dialokasikan pada hari Rabu dan Kamis.

S

Persentase Terlaksananya Kegiatan Rapat Paripurna, Rapat Komisi, dan Pansus RUU serta Kunjungan Kerja Dalam Negeri dan Luar Negeri

Komisi dan Pansus RUU sesuai Standar dan Tepat Waktu

100%

92%

Target Realisasi

92 %

2.6

(39)

Namun untuk rencana kegiatan yang akan dilakukan pada tahun 2015 diperhitungkan mulai hari Senin sampai dengan Rabu, mengingat hari Kamis dititikberatkan pada hari Badan dan hari Jumat merupakan hari Fraksi-fraksi.

Sehingga, penentuan target kegiatan rapat di Masa Sidang di Komisi-komisi dan Paripurna pada tahun 2015 sebagai berikut:

 Komisi I s/d XI = 11 (komisi) x 126 (hari) x 1 kegiatan rapat = 1386 kegiatan

rapat

 Rapat Paripurna (sesuai Keputusan Rapat Bamus) = 35 kegiatan rapat

 Total Target Kegiatan Rapat =1421 kegiatan rapat

Pada realisasinya, keputusan akan terselenggaranya rapat dan kunjungan kerja merupakan keputusan DPR RI. Sehingga sebagai sistem pendukung Sekretariat Jenderal selalu memberikan dukungan terhadap perubahan kebijakan.

Realisasi terhadap target tersebut dilaksanakan melalui dukungan terhadap seluruh kegiatan rapat-rapat yang diputuskan/dijadualkan oleh Komisi, Pansus dan Paripurna sehingga dapat terlaksana sesuai standar dan tepat waktu.

Pencapaian indikator kinerja dapat terlihat dari pelayanan rapat-rapat komisi, panitia khusus dan Paripurna yang dilaksanakan pada tahun 2015 seperti tabel di bawah ini:

Tabel 3.3.

Rapat-Rapat Alat Kelengkapan Dewan Tahun 2015

Sumber: Rekapitulasi kegiatan persidangan tahun 2014 dari Komisi, Pansus dan Paripurna

Gambar

Gambar 2.1  Visi dan Misi Setjen DPR RI

Referensi

Dokumen terkait

MENPAREKRAF / KABAPAREKRAF RI (Dr. Pimpinan dan para Anggota Komisi X DPR RI baik yang hadir secara fisik dan juga yang hadir secara online. Kami mencatat beberapa

Komisi III DPR RI mendesak Menteri Hukum dan HAM RI untuk terus meningkatkan pengawasan terhadap orang asing terutama dalam mencegah dan menindak Tenaga Kerja Asing dan Pebisnis

Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 12 Tahun 2018 Tentang Pedoman Tata Tertib Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Provinsi, Kabupaten dan Kota dalam melaksanakan

Ketentuan pasal 45 ayat (1) huruf c dan ketentuan pasal 63 Peraturan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Buleleng Nomor 1 Tahun 2018 tentang Tata Tertib

Peraturan Pemerintah Nomor 16 Tahun 2010 tentang Pedoman Penyusunan Peraturan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah tentang Tata Tertib Dewan Perwakilan Rakyat Daerah,

Peraturan Pemerintah Nomor 12 Tahun 2018 tentang Pedoman Penyusunan Peraturan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Tentang Tata Tertib Dewan Perwakilan Rakyat Daerah

Tim Ahli Badan Legislasi DPR RI telah melakukan kajian atas RUU tentang Sistem Budidaya Pertanian Berkelanjutan yang diusulkan oleh Komisi IV DPR RI, meliputi aspek teknis,

KETUA RAPAT/KETUA KOMISI V DPR RI (LASARUS. Selamat siang dan salam sejahtera bagi kita semua.. 2 Yang saya hormati segenap Pimpinan dan seluruh Anggota Komisi V DPR RI. Yang