BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
2.4 Informasi Transaksi Elektronik
Peranan teknologi informasi dan komunikasi di era globalisasi telah menempatkan pada posisi yang amat strategis karena menghadirkan suatu dunia tanpa batas, jarak, ruang, dan waktu, yang berdampak pada peningkatan produktivitas dan efisiensi. Pengaruh globalisasi dengan penggunaan sarana teknologi informasi dan komunikasi telah mengubah pola hidup masyarakat, dan berkembang dalam tatanan kehidupan baru dan mendorong terjadinya perubahan sosial, ekonomi, budaya, pertahanan, keamanan, dan penegakan hukum. Teknologi informasi dan komunikasi dewasa ini, telah dimanfaatkan dalam kehidupan sosial masyarakat, dan telah memasuki berbagai sektor kehidupan baik sektor pemerintahan, sektor bisnis, perbankan, pendidikan, kesehatan, dan kehidupan pribadi. Manfaat teknologi informasi dan komunikasi selain memberikan dampak positif juga disadari memberi peluang untuk dijadikan sarana melakukan tindak kejahatan-kejahatan baru (cyber crime) sehingga diperlukan upaya proteksi. Sehingga dapat dikatakan bahwa teknologi informasi dan komunikasi bagaikan pedang bermata dua, dimana selain memberikan kontribusi positif bagi peningkatan kesejahteraan, kemajuan, dan peradaban manusia, juga menjadi sarana potensial dan sarana efektif untuk melakukan perbuatan melawan hukum.
Perbuatan melawan hukum di dunia maya merupakan fenomena yang sangat mengkhawatirkan, mengingat tindakan carding, hacking, penipuan,
terorisme, dan penyebaran informasi destruktif telah menjadi bagian dari aktivitas pelaku kejahatan di dunia maya. Kenyataan itu, demikian sangat kontras dengan ketiadaan regulasi yang mengatur pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi di berbagai sektor dimaksud. Oleh karena itu, untuk menjamin kepastian hukum, pemerintah berkewajiban melakukan regulasi terhadap berbagai aktivitas terkait dengan pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi tersebut.
Undang-Undang RI Nomor 11 tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) adalah wujud dari tanggung jawab yang harus diemban oleh negara, untuk memberikan perlindungan maksimal pada seluruh aktivitas pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi di dalam negeri agar terlindungi dengan baik dari potensi kejahatan dan penyalahgunaan teknologi. Dalam konsideran UU Nomor 11 tahun 2008 tentang ITE, dinyatakan bahwa pembangunan nasional yang telah dilaksanakan pemerintah Indonesia dimulai pada era orde baru hingga orde saat ini, merupakan proses yang berkelanjutan yang harus senantiasa tanggap terhadap berbagai dinamika yang terjadi di masyarakat. Dinamika kehidupan masyarakat itu, akibat pengaruh globalisasi informasi, telah menempatkan Indonesia sebagai bagian dari masyarakat informasi dan transaksi elektronik di tingkat nasional sehingga pembangunan teknologi informasi dapat dilakukan secara optimal, merata, dan menyebar ke seluruh lapisan masyarakat guna mencerdaskan kehidupan bangsa.
Salah satu ciri asas hukum ialah mempunyai sifat umum, yang berlaku tidak hanya untuk satu peristiwa saja, akan tetapi berlaku untuk semua peristiwa. Sesuatu yang bersifat umum maka membuka peluang adanya kekecualian. Bila ada pertentangan antara UU dengan UU, atau UU dengan UUD, atau UU dengan PP atau hal lainnya, dengan memperhatikan asas lex imperior derogat lex superior, atau lex superior derogat lege infeori, atau lex specialist lege generale, atau lex posterior derogat lege priori, maka suatu aturan hukum perundangan akan menetapkan sejumlah pilihan terhadap mana yang harus didahulukan, apakah faktor keadilan, kemanfaatan, atau kepastian hukum.
Berdasarkan hal di atas, maka asas hukum mempunyai ciri atau sifat bersifat abstrak, yakni biasanya tidak dituangkan dalam peraturan perundang-undangan yang konkrit. Seperti adanya asas in dubio pro reo artinya bilamana hakim terjadi keragu-raguan dalam memutus/ perkara maka harus memberikan putusan yang seringan-ringannya. Asas hukum juga merupakan suatu cita-cita atau persangkaan yang sebenarnya dalam kenyataan belum tentu sesuai. Asas hukum sifatnya tidak mengenal hirarki, kalau terjadi pertentangan antara dua asas, maka keduanya saling tetap eksis. Asas hukum selain bersifat umum, juga bersifat dinamis, yaitu selalu bergerak dan berjalan tergantung pada waktu dan tempat, dan juga asas hukum bersifat khusus yang hanya berlaku pada satu bidang saja, misalnya asas pacta sunt servanda hanya berlaku dalam hukum perdata, dan asas praduga tak bersalah hanya berlaku dalam hukum pidana. Asas hukum menurut sifatnya adalah bersifat universal tidak tergantung pada waktu dan tempat, namun
demikian, dari sifat yang umum tadi, ada lima sifatnya yang sama yakni bersifat individual, kolektivitas, kesamaan, kewibawaan, dan memberikan penilaian baik atau buruk.
Asas-asas hukum informasi dan transaksi elektronik, diatur dalam Pasal 3 UU Nomor 18 Tahun 2008 tentang ITE, yang meliputi asas kepastian hukum, manfaat, kehati-hatian, itikad baik, dan kebebasan memilih teknologi atau netral teknologi. Dalam penjelasan Pasal i3 UU ITE, bahwa asas kepastian hukum berarti landasan hukum bagi pemanfaatan teknologi informasi dan transaksi elektronik serta segala sesuatu yang mendukung penyelenggaraannya yang mendapatkan pengakuan hukum di dalam dan di luar pengadilan. Asas manfaat menurut undang-undang ini, berarti asas bagi pemanfaatan teknologi informasi dan transaksi elektronik diupayakan untuk mendukung proses berinformasi sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Adapun asas kehati-hatian mengandung maksud memberikan landasan bagi pihak yang bersangkutan harus memperhatikan segenap aspek yang berpotensi mendatangkan kerugian, baik bagi dirinya maupun bagi pihak lain, dalam pemanfaatan teknologi informasi dan transaksi elektronik.
Asas iktikad baik menurut undang-undang ini, berarti asas yang digunakan para pihak dalam melakukan transaksi elektronik, tidak bertujuan untuk secara sengaja dan tanpa hak atau melawan hukum mengakibatkan kerugian bagi pihak lain, tanpa sepengetahuan pihak lain tersebut. Adapun asas kebebasan memilih teknologi atau netral teknologi, berarti asas pemanfaatan teknologi informasi dan
transaksi elektronik tidak terfokus pada penggunaan teknologi tertentu, sehingga dapat mengikuti perkembangan pada masa yang akan datang.
Tujuan pemanfaatan UU Nomor 11 Tahun 2008 tentang ITE (Pasal 4) adalah :
1) Mencerdaskan kehidupan bangsa sebagai bagian dari masyarakat informasi dunia;
2) Mengembangkan perdagangan dan perekonomian nasional dalam rangka meningkatkan kesejahteraan masyarakat;
3) Meningkatkan efektivitas dan efisiensi pelayanan publik;
4) Membuka kesempatan seluas-luasnya kepada setiap orang untuk memajukan pemikiran dan kemampuan di bidang penggunaan dan pemanfaatan teknologi informasi seoptimal mungkin dan bertanggung jawab; dan
5) Memberikan rasa aman, keadilan, dan kepastian hukum bagi pengguna dan penyelenggara teknologi informasi.
Yang dimaksud sistem elektronik menurut undang-undang ini, ialah serangkaian perangkat dan prosedur elektronik yang berfungsi mempersiapkan, mengumpulkan, mengolah, menganalisis, menyimpan, menampilkan mengumumkan, mengirimkan, dan/atau menyebarkan informasi elektronik.
Bilamana dihubungkan kedua pengertian di atas, dapat disimpulkan, bahwa menurut UU ITE informasi elektronik dan/atau dokumen elektronik, dan/ atau hasil cetaknya baru sah dianggap sebagai alat bukti, apabila dihasilkan dari sistem elektronik.
Berdasarkan pengertian ini, informasi elektronik merupakan alat bukti hukum yang sah. Ketentuan KUHAP tentang pembuktian dalam acara pemeriksaan biasa, dalam pasal 183 KUHAP dinyatakan bahwa: “Hakim tidak boleh menjatuhkan pidana kepada seorang kecuali apabila dengan sekurang-kurangnya dua alat bukti yang sah, ia memperoleh keyakinan bahwa suatu tindak pidana benar-benar terjadi dan bahwa terdakwalah yang bersalah melakukannya”.
Sedangkan apa yang dimaksud dengan alat bukti yang sah, KUHAP mengatur dalam pasal 184 KUHAP, yakni:
(1) Alat Bukti yang sah ialah : a. Keterangan saksi;
b. Keterangan ahli;
c. Surat;
d. Petunjuk;
e. Keterangan terdakwa.
(2) Hal yang secara umum sudah diketahui tidak perlu dibuktikan.
1. Waktu Pengiriman
Ketentuan ini diatur dalam Pasal 8 ayat (1) s/d ayat (4) UU ITE, bahwa kecuali diperjanjikan lain, maka waktu pengiriman suatu informasi dan/atau dokumen elektronik ditentukan.
2. Pelaku Usaha
Ketentuan pelaku usaha yang menawarkan produk melalui sistem elektronika diatur dalam Pasal 9 dan Pasal 10 UU ITE, ada kewajiban dari para
pengusaha harus menyediakan informasi yang lengkap dan benar, berkaitan dengan syarat kontrak, produsen, dan produk yang ditawarkan.
3. Tanda Tangan Elektronik
Berdasarkan ketentuan Pasal 1 angka 12 UU ITE, yang dimaksud dengan tanda tangan elektronik adalah tanda tangan yang terdiri atas informasi elektronik yang dilekatkan terasosiasi atau terkait dengan informasi elektronik lainnya yang digunakan sebagai alat verifikasi dan autentikasi.
Tanda tangan elektronik memiliki kekuatan hukum dan akibat hukum yang sah, selama memenuhi persyaratan, (Pasal 11 ayat 1 UU ITE).
4. Sertifikasi Elektronik dan Sistem Elektronik
Penyelenggaraan sertifikasi elektronik dan sistem elektronik diatur dalam Bab IV Pasal 13 tentang penyelenggaraan sertifikasi elektronik.
5. Transaksi Elektronik
Apa yang dimaksud dengan transaksi elektronik, maka menurut Pasal 1 angka 2 UU ITE, adalah perbuatan hukum yang dilakukan dengan menggunakan komputer, jaringan komputer, dan/atau media elektronik lainnya. Perbuatan hukum penyelenggaraan transaksi elektronik dapat dilakukan dalam lingkup publik ataupun privat. Para pihak yang melakukan transaksi elektronik wajib beriktikad baik dalam melakukan interaksi dan/atau pertukaran informasi elektronik dan/atau dokumen elektronik