7. Gunung Raung
7.1 Informasi Umum Nama Lain : Rawon
Nama Kawah Utama : Kaldera Raung
Nama Kawah Lain : Tegal Alun-Alun dan Tegal Brungbung Lokasi :
a. Geografi Puncak : 8° 7,5’ LS dan 114° 02,5’ BT
b. Wilayah administratif : Kab. Banyuwangi, Kab. Bondowoso, Kab. Jember, danKab.
Lumajang, Jawa Timur
27 Ketinggian : 3332m dpl
Kota Terdekat : Banyuwangi, Bondowoso Tipe Gunungapi : Strato dengan kaldera
Lokasi Pos Pengamatan Gunungapi : Desa Sragi, Kecamatan Singojuruh, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur Geografi : 8° 11’ 54.48” LS dan 114° 9’ 13.02” BT
7.2 Potensi Gunung Ijen
Daerah sekitar G. Raung yang subur dimanfaatkan masyarakat setempat sebagai lahan pertanian dan perkebunan. Selain itu materialhasil letusan berupa pasir dan batu menjadi salah satu sumber mata pencaharian masyarakat setempat sebagai tambang rakyat.
Selain itu G. Raung adalah sebuah gunungapi yang besar dan unik, yang berbeda dari ciri gunungapi pada umumnya di pulau Jawa. Keunikan dari puncak G. Raung adalah kalderanya yang dalamnya sekitar 500 m, selalu berasap dan sering menyemburkan api. G.
Raung termasuk gunungapi tua dengan kaldera di puncaknya dan dikelilingi oleh banyak puncak kecil, menjadikan pemandangannya benar-benar menakjubkan.
7.3 Sejarah Letusan
Tahun Letusan Keterangan
1586 Terjadi letusan dahsyat dan diketahui adanya korban manusia (Verbeek dan Fennema, 1896)
1597 Letusan yang serupa dalam letusan 1586 dan dicatat adanya korban manusia
1638 Terjadi letusan dahsyat, kemudian diikuti dengan banjir besar dan aliran lahar yang melanda daerah antara K. Stail dan K.
Klatak. Korban manusia mencapai ribuan orang. Saat itu berdiri Kerajaan Macan Putih di bawah Pangeran Tawangulun (Brouwer, 1913, p. 60-65)
1730 Letusan abu yang dibarengi dengan lahar yang melanda wilayah yang cukup luas dan dilaporkan banyak korban manusia
1787 – 1799 Letusan terjadi pada waktu pemerintah Residen Harris, tidak diketahui adanya keterangan lebih lanjut.
1800 – 1808 Letusan terjadi pada waktu pemerintahan Residen Malleod,
28
tidak diketahuiadanya keterangan lebih lanjut.
1812 – 1814 Letusan disertai suara gemuruh dan hujan abu.
1815 Terjadi hujan abu di Besuki dan Probolinggoantara tanggal 4 - 12 April. Neumann van Padang (1951) menyangsikan terjadinya letusan tersebut, diduga hujan abu ini berasal dari letusan G.
Tambora di Sumbawa.
1817 Tanah rusak
1859 Tanggal 14 Desember 1941 tidak ada keterangan lebih lanjut 1860 Letusan yang terjadi pada tahun ini tidak diketahui dengan pasti 1864 Terdenga suara gemuruh dan di siang hari gelap, di duga hujan
abu
1881 Gumpalan asap disertai suara gemuruh, terjadi hujan abu tipis di sekitar Banyuwangi
1885 Di duga terjadi letusan pada bulan Juni tidak ada keterangan lebih lanjut
1890 Terjadi letusan sejak Juli – September paroksimal 1902 Munculnya kerucut pusat pada 16 Februari
1903 – 1904 Terdengar suara gemuruh dan bara api di bagian puncak pada tanggal 28 November – 2 Desember
1913 Tampak ada gumpalan asap
1915 Terdemgar suara gemuruh dan diikuti gumpalan asap
1916 Terdengar suara gemuruh dan diikuti dengan gumpalan asap (November, Desember)
1917 Terdengar suara gemuruh dan diikuti gumpalan asap 1921 Adanya aliran lava di dalam kaldera bulan Februari – April 1924 Pelemparan eflata di sekitar kaldera dan leleran lava, sebelum
Februari
1927 Letusan asap cendawan dan diiringi oleh hujan abu sampai sejauh 30 km. Terdengar dentuman bom yang dilontarkan sejauh 500 m, 2 Agustus sampai Oktober
1928 Tampak adanya celah merah di dasar kaldera yang
29
mengeluarkan lava, Maret dan November
1929 Di antara bulan Maret dan Juni, sama dengan yang pernah terjadi dalam tahun 1928
1933 21 November-6 Desember
1936 22-31 Agustus, 18 September, November-11 Desember
1937 27-31 Oktober dan 21-27 November
1938 13 Agustus-September dan 14 November-28 Desember
1939 10 Januari
1940 Diragukan
1941 13 Desember
1943 18 Januari
1953 Terjadi letusan asap tanggal 31 Januari. Asapmembara dengan guguran hingga 18 Maret. Tinggi awan letusan mencapai ± 6 km di atas puncak dan sebaran abu mencapai radius ± 200 km
1956 Terjadi kegiatan letusan antara 13-19 Februari dan letusan paroksimal terjadi pada tanggal 19 Februari. Tinggi tiang asap letusan diduga ± 12 km. Suara dentuman berlangsung sekitar 4 jam terdengar jauh hingga ke Surabaya dan Malang. Hujan abu menyebar dan turun hingga Bali dan Surabaya.
1961 Kenaikan kegiatan pada tanggal 26 April
1973 Dikabarkan kegiatan meningkat sejak akhir 1972. Hadian (1973) mengunjungi puncak, tetapi keadaan sudah normal kembali. Hampirseluruh permukaan dasar kawah tertutup oleh aliran lava yang keluar dari kerucut yang terletak di tengah dasar kawah. Seluruh permukaan kerucut sinder tertutup oleh belerang, demikian pula halnya di bagian utara dasar kawah.
Rekahan berbentuk busur menghadap ke tengah terdapat pada bagian timurlaut. Tembusan fumarola terdapat pada puncak kerucut sinder, pada rekahan tersebut di atas, dan di bagian tubuh lava sebelah barat
1989 Letusan abu
30 7.4 Geologi Umum
Puncak G. Raung merupakan kerucut terpotong dengan tonjolan dari sisa-sisa endapan lava dan barangko-barangko dari sisa endapan piroklastik. Kaldera G. Raung berbentuk ellips, berukuran 1750 x 2250 m, dalamnya 400-550 m di bawah pematang, lereng kaldera sangat terjal.
Sektor barat G. Raung muncul sekelompok bukit (hillocks) sebagai sisa dari suatu longsoran puing raksasa dari kerucut gunungapi bagian barat. Gumuk-gumuk atau bukit bukit kecil G. Raung ini merupakan sisa erosi dari suatu longsoran yang maha dahsyat,juga gumuk-gumuk piroklastik di dataran Jember kemungkinan besar karena terjadinya banjir masa batuan (banjir lahar).
G. Raung dikelilingi oleh kelompok tonjolan diantaranya : di sebelah utara G. Suket (2750 m), di timurlaut G. Lempeh (2932 m), di timur G. Jampit (2338 m), di selatan G. Wates (2796 m), di barat G. Gadung (2390 m), dan G.Pajungan (2352 m).
Pola aliran sungai-sungai di G. Raung adalah radial, sedangkan di daerah kakinya pola alirannya adalah dendritik. Sungai-sungai yangberhulu di sekitar puncak diantaranya : Kali stail dan Kali Mangarang. Sungai-sungai yangberhulu di sekitar lereng diantaranya : K.
Kajar, K. Gladagkundung, K. Telepon, K. Kohor, K. Basiran, dan K. Caken. Sungai sungai tersebut mengalir antara Kalibaru dan Glenmore. Sungai-sungai antara Glenmore dan Rogojampi, terdiri dari K. Sempit, K. Porolinggo, K. Wadung, K. Jalen, K. Togung, K.
Susulan, K. Bandeng, dan K. Binan. K. Satel di Gempol, mengalir ke utara lewat dinding timur G. Suket melalui lembah Gempol dan kampung Belawan, masuk K. Banyuputih.
Beberapa kerucut yang mengelilingi G. Raung seperti G. Suket, G. Lempe, G.
Gadung, G. Pajungan, dan G. Wates adalah gunungapi yang sebagian mungkin lebih tua dari G. Raung dan sebagian adalah gunungapi parasit. Menurut Taverne 1926, (dalam Djoharman, 1970) G. Suket dan G. Dampit berumur lebih tua dari G. Raung.
31
Gambar 2. 13 Peta Geologi Gunung Raung
32