• Tidak ada hasil yang ditemukan

''Infrastruktur Sebagai Pemersatu Bangsa''

W

Kondisi infrastruktur Indonesia sangat tert- inggal dibandingkan dengan negara-negara di Asia Tenggara. Sebuah survei yang diadakan The World Economic Forum (Forum Ekonomi Dunia) pada tahun 1996 menunjukkan cakupan layanan infrastruktur Indonesia dan kualitasnya tergo- long rendah. Sebanyak 90 juta orang tak memi- liki sambungan listrik, hanya 14 persen yang ter- sambung dengan sarana air minum, dan hanya 1,3 persen penduduk yang memiliki akses den- gan salurang pembuangan air limbah. Penduduk yang tersambung dengan saluran telepon hanya 4 persen dan itu pun baru menjangkau masyarakat di perkotaan. Sedangkan jaringan jalan dalam kondisi 50 persen rusak. Kondisi infrastruktur yang ada tidak bisa mendukung kecepatan pertumbuhan urbanisasi ke kota-kota besar di Indonesia. Padahal daerah urban memi- liki kontribusi besar dalam bidang ekonomi yakni sekitar 70 persen di luar minyak. Sedangkan saluran limbah dan penanganan sampah yang buruk menimbulkan pencemaran tanah dan air tanah serta merusak ekosistem. Karenanya mau

tidak mau Indonesia harus membangun kembali infrastrukturnya demi kemaslahatan rakyat. Sejauh mana kondisi infrastruktur Indonesia saat ini, berikut wawancara dengan Deputi Sarana dan Prasaran Bappenas, Suyono Dikun:

cukup. Telekomunikasi harus baik dan bisa menjangkau rakyat di desa dan diu- tamakan menjangkau daerah-daerah yang terpencil dan terbengkalai. Trans- portasi laut di Indonesia Timur harus diu- tamakan karena wilayah ini menggu- nakan transportasi laut. Perumahan untuk rakyat kecil harus dibangun. Pada dasarnya semua kebutuhan dasar rakyat bisa terpenuhi, tentu dengan standar minimal.

Lalu adakah prioritas mana yang perlu didahulukan dibangun atau diperbaiki?

Yang sangat krusial adalah jalan dan listrik, air minum dan sanitasi.

Berapa dana yang dibutuhkan untuk membangun semua itu?

Antara 80-100 milyar dolar untuk lima tahun ke depan. Ini untuk men- dukung pertumbuhan ekonomi 6,6 per- sen yang telah dicanangkan oleh peme- rintah.

Dari mana dana yang Anda se- butkan tadi bisa diperoleh?

Pemerintah bisa mendapatkannya dari APBN sebesar 30-40 persen. Ini sumbernya bisa dari pemerintah sendiri atau utang luar negeri. Sisanya dari swasta atau domestic capital marketter- masuk investasi dalam negeri. Saat ini ada tim yang sedang menjajagi kemung- kinan penggunaan domestic capital mar- ket untuk membiayai pembangunan infrastruktur Indonesia.

Apa sebenarnya yang bisa dita- warkan kepada investor untuk me- nginvestasikan dana di infrastruk- tur?

Sebenarnya banyak yang bisa dida- patkan oleh investor. Di bidang trans- portasi, peluang cukup terbuka. Mereka bisa membangun jalan tol, juga investasi di per- keretaapian dan banyak yang lainnya.

Mengapa saat ini investor asing enggan menanamkan modalnya?

Investor tidak mau masuk kalau undang-undangnya masih undang-un- dang yang lama. Isinya misalnya adanya keharusan investor asing bekerja sama dengan BUMN. Makanya harus ada refor- masi kebijakan, kelembagaan, tarif, ada

best practice, dan ada kepastian hukum- nya.

Kalau kondisi Indonesia seperti sekarang, bisakah kondisi ideal itu terwujud?

Susah. Kalau pemerintah yang baru masih berjalan alon-alon (pelan-pelan- red) seperti sekarang, tidak ada peruba- han yang radikal, susah. Perubahan harus signifikan untuk mendongkrak pertum- buhan ekonomi. Mudah-mudahan bisa, sekarang kan baru sekitar 50 hari peme- rintahan baru bekerja.

Berkaitan dengan pelaksanaan Infrastruktur Summit yang akan berlangsung di Jakarta, Januari mendatang, manfaat apa yang bisa diperoleh Indonesia dari acara itu?

Kita ingin menunjukkan kepadainter- national community seperti donor, swasta, niat pemerintah untuk memba- ngun kembali infrastruktur ke depan. Kita berharap mendapatkan respon positif dari mereka sehingga memberi dampak yang baik bagi Indonesia. Pemerintah akan mengumumkan semacam perubah- an kebijakan, pricing, investasi dan lain- nya. Kita sedang merancang itu semua. Itu juga merupakan forum untuk menun- jukkan RPJM (Rencana Pembangunan Jangka Menengah) dari sisi perencanaan pembangunan nasional itu seperti apa. Pemerintah ingin memberikan sinyal yang kuat kepada investor untuk berin- vestasi di Indonesia. „(MJ)

A W A N C A R A

W

FOTO:DOK.ADB

MCK umum yang terbengkalai karena dibangun tidak sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

H

uman Development Indexatau

HDIyang sering diterjemahkan menjadi Indeks Pembangunan Manusia (IPM), akhir-akhir ini muncul sebagai salah satu isu yang telah men- dunia, dan merupakan indikator yang digunakan secara global dalam menun- jukkan tingkat keberhasilan (outcome) pembangunan dan kemakmuran yang dicapai oleh suatu negara. IPM diter- bitkan oleh Program Pembangunan PBB (UNDP) untuk membandingkan tingkat keberhasilan pembangunan di 177 negara di dunia. Indonesia pada tahun 2004 ini berada pada urutan ke-111, satu tingkat di atas Vietman, namun masih di bawah negara-negara tetangga lainnya seperti Singapura, Malaysia, Philipina, maupun Thailand. Tabel di bawah ini menggam- barkan peringkat IPM tahun 2000-2004 di beberapa negara ASEAN. Menyakitkan memang, tetapi itulah kenyataan yang harus diterima. Menjadi negeri yang kaya akan sumberdaya alam, berpenduduk besar, dan memiliki budaya yang beragam tampaknya tidak selalu men- jamin terciptanya kemakmuran dan kese- jahteraan bagi rakyatnya.

Tulisan berikut akan menguraikan pergeseran paradigma pembangunan selama ini hingga dipilihnya IPM sebagai indikator keberhasilan pembangunan yang memadai, serta pelajaran yang dapat diambil dari rendahnya peringkat IPM Indonesia saat ini dalam

upaya mendorong pembangun- an prasarana dasar, terutama prasarana sanitasi di Indonesia.

Pergeseran Paradigma Pem- bangunan

Perkembangan di empat dekade terakhir ini menun- jukkan ada pergeseran pemiki- ran tentang paradigma pem- bangunan di dunia. Pada deka- de 60-an, pembangunan lebih berorientasi pada produksi

(production centered development), yang menilai hasil pembangunan dari kemaju- an fisik. Pada dekade 70-an, terjadi per- geseran yang menekankan hasil pemba- ngunan pada besarnya pertumbuhan yang dicapai (distribution growth deve- lopment) dengan menggunakan indikator makro ekonomi seperti GNP/GDP, dan kemudian diikuti oleh paradigma lain yang berorientasi pada pemenuhan kebu- tuhan dasar masyarakat (basic need de- velopment) pada dekade 80-an. Paradig- ma ini mengukur keberhasilan pemba- ngunan dengan menggunakan indeks mutu hidup (Physical Quality Life Index), yang mengacu pada 3 parameter utama, yaitu Angka Kematian Bayi, Angka Harap- an Hidup, dan Tingkat Melek Huruf.

Pada dekade 90-an, keberhasilan pembangunan tidak bisa hanya diukur dari pembangunan fisik, produksi dan distribusi, serta kebutuhan dasar masyarakat, tetapi keberhasilan pemba- ngunan juga harus dilengkapi dan diukur dari keberhasilan pembangunan manu- sia. Istilah pembangunan manusia dipo- pulerkan oleh UNDP setiap tahun sejak 1990, yang didefinisikan sebagai proses memperbesar pilihan bagi penduduk (a process of enlarging people's choices). Dalam hal ini, masyarakatlah yang menentukan prioritas sesuai dengan kebutuhannya serta menetapkan indika- tor keberhasilannya.

Dalam konteks pembangunan manu- sia, pertumbuhan ekonomi memang diperlukan karena merupakan dasar bagi pembangunan manusia. Namun demi- kian, karena secara empiristerbukti bah- wa pertumbuhan ekonomi tidak secara otomatis meningkatkan pembangunan manusia, maka diperlukan intervensi untuk memperhatikan juga sektor sosial, khususnya yang berkaitan dengan upaya perbaikan kesejahteraan seperti pen- didikan, perbaikan infrastruktur kese- hatan, serta pelayanan sosial lainnya. Hal ini dianggap penting untuk menghindari terjadinya ketimpangan dan kesenjangan sosial akibat kebijakan yang condong pada pertumbuhan ekonomi semata. Kita memang sempat berhasil membangun ekonomi, dengan pertumbuhan rata-rata 7 persen per tahun, namun manusia yang dihasilkan adalah manusia-manusia yang tidak memiliki nilai, egois dan menjadikan harta kekayaan seba- gai segala-galanya. Akibatnya bangsa ini manjadi bangsa yang rakus. Teori trickle-down effect

yang memperkirakan bahwa kese- jahteraan akan menetes ke bawah, tidak pernah terjadi. Akibatnya orang yang kaya akan semakin kaya, sementara yang miskin

A W A S A N

W

Dokumen terkait