• Tidak ada hasil yang ditemukan

Tabel 2 : Prasyarat Keberhasilan Beragam Pilihan Privatisas

PILIHAN Kontrak Jasa Kontrak Manajemen Lease Build- Operate- Transfer (BOT) Konsesi Divestiture DUKUNGAN PEMANGKU KEPENTINGAN DAN KOMITMEN POLITIK Tidak Penting rendah- moderat moderat- tinggi moderat- tinggi tinggi tinggi TARIF BERDASAR PEMULIHAN BIAYA Tidak dibu- tuhkan dalam jangka pendek Sebaiknya ada tetapi tidak perlu dalam jangka pendek Perlu Sebaiknya ada Perlu Perlu KETERSEDIAAN INFORMASI Dapat terlaksana dengan informasi terbatas Informasi memadai dibutuhkan Informasi memadai dibutuhkan Informasi memadai dibutuhkan Informasi memadai dibutuhkan Informasi memadai dibutuhkan KERANGKA REGULASI TERSEDIA kapasitas pemantauan minimal kapasitas pemantauan moderat Kapasitas kuat untuk regulasi dan koordinasi

Kapasitas kuat untuk regulasi dan koordinasi Kapasiatas regulasi kuat Kapasitas regulasi kuat PERINGKAT KREDIT BAIK Tidak Perlu Tidak perlu Tidak perlu Peringkat tinggi mengurangi biaya Peringkat tinggi mengurangi biaya Peringkat tinggi mengurangi biaya

Catatan: gradasi warna menunjukkan tingkat kepentingan

Tidak signifikan rendah/moderat tinggi

2000), maka dapat disimpulkan bebe- rapa faktor yang berpengaruh terhadap kesuksesan privatisasi yaitu (i) pe- ngembangan basis legal dan dukungan

pemerintah lainnya; (ii) rencana imple- mentasi yang realistis; (iii) sasaran yang jelas; (iv) kemitraan jangka pan- jang antara operator dan pemerintah

daerah.

Faktor yang disebutkan di atas bukan merupakan jaminan sepenuhnya akan keberhasilan sebuah privatisasi. Namun ketika faktor tersebut tidak ter- penuhi maka kemungkinan masalah yang timbul telah dapat diperkirakan. Penjelasan faktor selengkapnya pada

tabel 3.

Penutup

Dari beberapa pengalaman pelak- sanaan privatisasi di manca negara, maka dapat dikemukakan beberapa fakta yang penting yaitu: Pertama.

Privatisasi berjalan lebih lancar jika pemimpin pemerintahan mempunyai komitmen politis yang kuat terhadap reformasi ekonomi; Kedua.Privatisasi tidak mudah. Tantangan dari berbagai pihak yang mempunyai 'vested in- terest', BUMN yang tidak layak jual dan tidak menarik bagi investor; ketakutan investor asing terhadap keamanan negara merupakan beberapa peng- hambat privatisasi; Ketiga.Model pri- vatisasi tidak hanya satu, tetapi beragam dengan kemungkinan suk- ses/gagal yang sama. Walaupun tidak ada model yang berlaku untuk semua situasi, tetapi dapat dikatakan bahwa prospek privatisasi terbaik pada negara yang mempunyai mekanisme finansial yang mendukung privatisasi; Keempat. Bahkan negara maju tetap ber- eksperimen dengan privatisasi. Contoh- nya Inggris yang telah melakukan pri- vatisasi 40 persen dari BUMN-nya, namun debat tentang privatisasi tetap hangat; Kelima. Privatisasi tidak hanya sekedar menjual aset ke sektor swasta. Tetapi juga berarti meningkatkan ke- bebasan pasar, dan mengurangi re- gulasi pemerintah, serta kebijakan makro lainnya. „

*) Staf Direktorat Permukiman dan Perumahan Bappenas Anggota Pokja AMPL

A W A S A N

W

FAKTOR KESUKSESAN (1) Dukungan pemerintah (2) Stabilitas politik (3) Saran professional terinformasikan (4) Rencana implementasi realistis

(5) Sasaran yang jelas

(6) Penawaran yang dapat diandalkan (7) Kemitraan jangka panjang (8) Berbagi resiko KUNCI

Dukungan diharapkan akan menjadi (i) dasar hukum bagi pengaturan keterlibatan swasta; (ii) komitmen terhadap independensi swasta dari intervensi politik; (iii) regulasi yang memadai; (iv) tarif realistik untuk memastikan pendapatan yang memadai

Dibutuhkan untuk menarik modal swasta dalam jangka panjang

Dalam proses persiapan dan imple- mentasi, pemerintah, masyarakat dan swasta harus mempunyai akses yang sama terhadap informasi

Penting untuk memastikan bahwa proses implementasi dapat dicapai dalam jangka waktu yang realistis, serta komitmen penuh pemerintah

Merupakan hal mendasar bagi pen- gukuran kinerja swasta oleh badan regulasi, dan bagi pencapaian kiner- ja oleh operator

Pelayanan harus dapat dilaksanakan sesuai dengan harga penawaran. Harus dihindari biaya murah dengan konsekuensi tingkat pelayanan yang tidak memadai

Keseluruhan proses harus didisain sebagai dasar bagi kemitraan jangka panjang antara operator dan peme- rintah daerah

Strategi kunci adalah memastikan resiko telah teridentifikasi sejak awal, dan dialokasikan pada masing- masing pihak dalam kontrak

CONTOH

Di Chili, peraturan diimplemen- tasikan untuk menerapkan tarif Di Buesnos Aires, dibawah kepemimpinan kuat dari pusat, komite privatisasi melibatkan berbagai pihak

Inggris memiliki badan pengatur yang independen

Di Jakarta (Timur), kontrak meng- haruskan reviewtarif untuk memastikan keuntungan bagi swasta

Di Jakarta, setelah penyerahan dari pemerintah, kedua konsesi di- nyatakan batal (null).

Proyek di Buesnos Aires, Manila menerima bantuan dari Bank Dunia

Di Perancis, pemerintah daerah dapat memilih jenis kontrak, dan beragam pilihan tersedia

Sasaran yang jelas ada pada selu- ruh studi kasus

Di Manila Timur, kekhawatiran tim- bul karena rendahnya tingkat penawaran

Di Perancis, pemerintah dan swasta telah membangun saling keper- cayaan melalui kesepakatan ker- jasama

Di Polandia, kontrak kompleks dan memancing kekisruhan pada awal- nya. Kontrak kemudian direvisi dan hubungan membaik

Di Turki, resiko dialokasikan pada masing-masing pihak dalam kontrak z z z z z z z z z z z z

Tabel 3 : Kunci Kesuksesan Privatisasi Sektor Air Minum dan Sanitasi

K

eberlanjutan pembangunan dan pelayanan masyarakat dalam sektor air minum dan penye- hatan lingkungan merupakan isu bersa- ma dalam upaya peningkatan kesejah- teraan masyarakat di Indonesia, tak ter- kecuali di Kabupaten Lombok Barat, Pro- pinsi Nusa Tenggara Barat.

Salah satu strategi nasional yang telah dilaksanakan yakni penyusunan Kebijak- an Nasional Pembangunan Nasional dan Penyehatan Lingkungan Berbasis Masya- rakat yang pada tahun ini telah diopera- sionalisasikan di Propinsi Nusa Tenggara Barat, serta Kabupaten Lombok Barat.

Dalam upaya pemantapan pelaksana- an operasionalisasi kebijakan nasional AMPL berbasis masyarakat pada tahun 2005 dan seterusnya, pemerintah daerah Propinsi Nusa Tenggara Barat serta Kabupaten Lombok Barat membentuk Kelompok Kerja AMPL Daerah, yang ber- anggotakan unsur Bappeda, BPM/- BPMD, PU Kimpraswil-Cipta Karya, Ba- pedalda /Lingkungan, Dinkes, serta dinas terkait.

Pokja AMPL daerah selama ini telah menyelenggarakan serangkaian perte- muan koordinasi untuk melakukan pe- mahaman bersama mengenai pelaksa- naan kebijakan dan penyusunan langkah- langkah operasionalisasi pelaksanaan kebijakan di daerah.

Salah satu hasil khusus dari perte- muan pokja AMPL Kabupaten Lombok Barat adalah catatan permasalahan pem- bangunan Air Minum dan Penyehatan Lingkungan sebagai berikut :

Aspek Lingkungan

Permasalahan lingkungan yang pen- ting di Kabupaten Lombok Barat yaitu ti- dak dilibatkannya lembaga adat dalam ikut serta menjaga kelestarian hutan se- hingga berdampak banyaknya terjadi pe- nebangan hutan secara liar.

Penebangan liar ini pada akhirnya akan berpengaruh pada menurunnya

curah hujan serta rendahnya resapan air. Kondisi ini bila dibiarkan akan menu- runkan debit air/mata air dan mening- katkan jumlah sumber mata air yang hilang atau mengering.

Selain itu, penghargaan atas jasa pelestari lingkungan sangat rendah, ter- batasnya lahan untuk Tempat Pembu- angan Akhir Sampah (TPA) serta lemah- nya penegakan hukum dan aturan terkait aspek lingkungan.

Aspek Sosial

Keterlibatan masyarakat kurang opti- mal. Ini berdampak pada rendahnya go- tong royong, sulitnya mengubah budaya dalam Buang Air Besar (BAB) di semba- rang tempat, dan tidak dimanfaatkannya fasilitas Jamban Keluarga (JAGA). Di sisi lain, ada persoalan kurangnya konsep dan materi penyuluhan serta kemiskinan masyarakat.

Aspek Kelembagaan

Peran pemerintah sebagai fasilitator belum efektif. Hal ini menyebabkan le- mahnya koordinasi antardinas instansi terkait, program AMPL menjadi tumpang tindih dan belum menjadi prioritas, pe- rencanaan belum disusun secara menye- luruh dan terpadu, manajemen data AMPL belum akurat karena masing-ma- sing dinas berbeda, belum disediakannya PERDA tentang penguatan kapasitas ke- lembagaan AMPL, inkonsistensi dalam menegakkan aturan, serta petugas la- pangan pemberdaya kapasitas kelem- bagaan masyarakat pengguna sarana dan prasarana AMPL belum optimal.

Implikasinya, partisipasi masyarakat utamanya kaum perempuan dalam pe- rencanaan, pelaksanaan dan pengawasan program sangat rendah, Unit Pengelola Sarana (UPS) dan Kelompok Masyarakat

Pemakai Air (Pokmair) belum kuat kapa- sitasnya, serta pengelolaan air minum oleh desa (BUMDes) belum menjadi pro- gram prioritas.

Aspek Teknologi

Pembangunan prasarana dan sarana AMPL tidak sesuai dengan bestek (ren- cana kerja dan syarat-syarat) serta prin- sip pemulihan biaya yang belum menjadi dasar pertimbangan dalam pemba- ngunan fisik AMPL, mengakibatkan pela- yanan AMPL menjadi kurang efisien dan efektif.

Aspek Keuangan

Investasi di bidang AMPL masih ren- dah. Selain itu pembiayaan pembangun- an AMPL dalam APBD sangat terbatas, serta sulitnya menggali kontribusi dari masyarakat pengguna, mengakibatkan cakupan AMPL perdesaan masih rendah. Di sisi lain, kesadaran masyarakat peng- guna dalam pemeliharaan prasarana dan sarana AMPL masih sangat minim, ter- masuk dalam pemulihan biaya.

Penutup

Permasalahan tersebut jika tidak diantisipasi dan dicarikan jalan penyele- saiannya oleh semua pihak yang peduli, maka target MDGs pada tahun 2015 tidak akan tercapai.

Pokja AMPL Kabupaten Lombok yang didampingi oleh Pokja AMPL Propinsi Nusa Tenggara Barat, dalam kegiatan koordinasi dan pertemuan serial berikut- nya akan mencoba menawarkan berbagai alternatif pendekatan guna mengantisi- pasi berbagai permasalahan tersebut. Alternatif itu akan dituangkan dalam suatu kerangka kebijakan pembangunan AMPL di Kabupaten Lombok Barat, tahun 2005-2015. „

1)Kabid Fispra Bappeda Kabupaten

Lombok Barat

2)Konsultan WASPOLA.

Dokumen terkait