Suprianto, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Nunukan
Kelurahan Mansapa, Sedadap Kelurahan Nunukan Selatan, kawasan Pelabuhan Tunon Taka Kelurahan Nunukan Timur, dan Jalan Tanjung Kelurahan Nunukan Barat.
Tidak banyak orang tahu, sejumlah hasil penelitian mengatakan bahwa kualitas produksi rumput laut di daerah Nunukan merupakan yang terbaik di Pulau Kalimantan.
Saat ini, masyarakat pesisir di Kabupaten Nunukan telah memfokuskan untuk menjadi pembudidaya dengan menyediakan segala fasilitas yang dibutuhkan, seperti penjemuran karena terbukti hasilnya mampu mengangkat perekonomiannya.
Namun harga penjualannya masih relatif sangat luktuatif karena adanya permainan dari para tengkulak. Tetapi hal itu tidak pernah disesali oleh para petani rumput laut, karena hanya melalui tengkulak, hasil produksi rumput laut mereka dapat terjual.
Keterlibatan pemerintah daerah sangat dibutuhkan, khususnya dalam hal untuk mencari investor atau pembeli. Sesuai data Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Nunukan tahun 2013, jumlah
Diskusi pengembangan rumput laut di Kabupaten Nunukan. Ki-ka, Sunarso Manager Akses Keuangan dan UMKM BI Kaltim, Argo Galih Managing Redaktur Bisnis Indone- sia, Bupati Nunukan H. Basri, Yusuf Arif Konsultan Pengembang UMKM BI Kaltim.
produksi rumput laut mencapai 800 ton setiap bulan.
Semakin me ningkatnya hasil produksi dari wak tu ke waktu, maka pemerintah dae rah harus terus mencari jalan un tuk dapat meng
akomodasi seluruh produksi rumput laut di daerahnya,
serta menstabilkan harga dengan menjalin kerjasama dan kemitraan de ngan pengusaha berskala besar.
Pemerintah Kabupaten Nunukan mengikuti dengan seksama proses budidaya rumput laut. Oleh karena itu, bantuan yang diberikannya pun sesuai dengan proses budidaya tersebut. Pemerintah berusaha agar pembudidaya dapat terbantu, mulai dari pemilihan bibit hingga pasca panennya.
Dalam pembibitan, pemerintah menyediakan penangkaran. Bibit rumput laut didatangkan dari luar Nunukan. Daerah Kebun Bibit seperti dari Takalar, Sulawesi Selatan menjadi salah satu sumber bibit. Dengan banyaknya alternatif penyedia bibit dari luar, penangkar bibit dapat membandingkan kualitas antar bibit.
Setelah didatangkan, bibit ditangkarkan. Penangkar bibit dilakukan oleh masingmasing kelompok perikanan. Bibit yang telah ditangkarkan ini nantinya akan dibeli oleh para anggotanya (pembudidaya). Jadi pembudidaya tidak perlu repot mencari bibit unggul bagi calon tanamannya. Penangkar bibit juga harus dapat menjaga kualitas bibitnya agar tidak mengecewakan pembudidaya.
Dengan begitu, biaya yang dikeluarkan diharapkan menjadi lebih efisien. Bantuan untuk benih rumput laut diberikan setiap
tahun dengan tujuan agar kualitas rumput laut senantiasa ter jaga.
Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Nunukan, Suprianto, menjelaskan bahwa pemerintah daerah telah me lakukan kerja sama dengan dua perusahaan besar (eksportir) di Jakarta yang selama ini menjadi mitra nelayan rumput laut di daerahnya.
Suprianto juga menambahkan bahwa potensi rumput laut di Kabupaten Nunukan yang produksinya sudah sangat luar biasa setiap bulannya itu, telah membuat perusahaan raksasa asal Sulawesi Selatan, Bosowa, tertarik masuk ke Nunukan.
Rumput laut sebe narnya merupakan ko moditas yang relatif mudah dibudidayakan. Bahkan cukup me naruh nya di laut, rumput laut dapat tumbuh hidup dengan sendirinya.
Akibatnya banyak masyarakat memandang remeh budidaya rumput laut. Usaha budidaya ini bahkan hanya dianggap menjadi pekerjaan
Seminar Kewirausahaan Rumput Laut oleh Ujang Koswara dari Greenlinecare (Ketua Kadin Jawa Barat).
sambilan bagi sekelompok orang. Bahkan ketika panen tiba, tidak sedikit pembudidaya yang mengabaikannya.
Pemerintah pada awalnya sering memberikan bantuan tunai kepada pembudidaya rumput laut. Tapi bantuan ini kemudian dinilai kurang efektif dalam mengembangkan budidaya rumput laut.
Pemerintah mengharapkan bantuan tunai yang sudah diberikannya itu digunakan oleh pembudidaya rumput laut untuk membeli bibit, alatalat budidaya, atau lainnya. Namun kenyataannya, malah banyak digunakan untuk membeli barangbarang konsumsi, seperti televisi dan sepeda motor.
Mentalitas pembudidaya di Nunukan belum berjiwa pengusaha. Mungkin karena saat itu budidaya rumput laut belum terlihat menjanjikan. Bahkan ketika pemerintah memberikan bantuan, berupa tali untuk mengikat rumput laut, para pembudidaya malah menjualnya.
Setelah itu, pola bantuan diubah. Kini bantuan lebih diarahkan pada peningkatan kompetensi budidaya rumput laut. Jadi sifatnya berupa pendampingan. Bantuan tidak diberikan sembarangan. Pembudidaya akan diseleksi lebih dahulu.
Mereka yang dinilai memiliki motivasi untuk serius mendalami usaha budidaya rumput laut yang akan mendapat bantuan. Selain itu, minat dan konsistensi pembudidaya juga dipertimbangkan. Dengan adanya semacam seleksi itu, bantuan diharapkan akan lebih efektif.
Pernah suatu ketika, pihak pemerintah daerah memberikan bantuan pompa air sebanyak 14 unit. Pompa tersebut lalu disebarkan ke kelompokkelompok Gapokan. Kelompok yang dinilai memberikan
support besar ke Gapokan mendapat dua pompa air, sementara kelompok yang kurang atau tidak memberikan dukungan, hanya mendapat satu. Cara ini diharapkan dapat menjadi insentif bagi para pembudidaya untuk terus semangat dalam berusaha.
Kemudian ketika terjadi perebutan lahan budidaya rumput laut, pemerintah daerah juga turun tangan. Perebutan lahan usaha ini melibatkan potensi pendapatan, suatu hal yang sensitif dibicarakan.
Pemerintah akhirnya memediasi dan melakukan penertiban lahan budidaya.
Tapi masyarakat tidak seluruhnya mudah diatur. Pemerintah daerah sudah membuat aturan agar masyarakat melaporkan lahan usahanya, namun sayangnya hanya sebagian saja yang melapor.
Belum lagi dengan datangnya penduduk dari luar daerah tersebut. Perseteruan ini bahkan dapat menyingkirkan lapangan usaha penduduk setempat. Hal ini dapat terjadi terutama jika mekanisme yang digunakan “siapa cepat, dia dapat”. Karena itu, pihak pemerintah sempat mengeluarkan aturan untuk memprioritaskan penduduk setempat.
Bagi penduduk yang sudah memiliki area budidaya, pemerintah melakukan pengaturan lokasinya. Penduduk di luar daerah diarahkan untuk melakukan budidaya di tempat lain, sementara penduduk setempat dipersilakan untuk menanam rumput laut di area yang telah disediakan.
Masalah listrik yang sering padam, masih sering ditemui, meskipun kini intensitasnya mulai berkurang setiap harinya. Listrik ke depannya diyakini sudah bisa masuk ke semua industri kecil.
Market merupakan masalah yang paling dominan. Untuk menjadi besar, rumput laut yang dihasilkan di Nunukan harus dipasarkan ke
daerahdaerah lain. Market ini terkait dengan geograis. Sementara geograis terkait dengan transportasi dan infrastruktur.
Sarana transportasi di Nunukan, menurut pemerintah daerah setempat, sudah cukup memadai. Pelabuhan besar sudah ada. Begitu pula dengan bandar udara. Saat ini pemerintah daerah masih menganalisis permasalahan apa yang sebenarnya menjadi penghambat paling besar dalam mengundang investor.
Meskipun produksi budidaya rumput laut meningkat, intensitas kedatangan kapal pengangkut tidak bisa menandingi. Kapal pengangkut hanya datang sebulan sekali. Menurut pemerintah daerah, hal ini terjadi karena pengangkutan masih dikerjakan sendirisendiri.
Sejumlah pengangkut menggunakan kontainer, sebagian lainnya menggunakan kapal biasa. Karena itu, pengangkutan ini belum dapat dikoordinir dengan baik. Pemerintah daerah mengharapkan kedatangan investor ke Nunukan dapat ikut meningkatkan sektor rumput laut, termasuk di sisi distribusi.
DALAM rangka meningkatkan pemberdayaan ekonomi daerah, Bank Indonesia memandang perlu untuk meningkatkan peran sebagai upaya memperkuat struktur ekonomi nasional bagi pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.
Pelaksanaan pengembangan rumput laut di Kabupaten Nunukan merupakan salah satu upaya dalam mengembangkan ekonomi di daerah perbatasan dan tertinggal, sehingga daerah tersebut dapat menjadi gerbang aktivitas ekonomi, sekaligus bentuk nyata dukungan Bank Indonesia terhadap perkembangan UMKM.
Dan untuk mewujudkan hal tersebut, Bank Indonesia menandatangani MoU dengan Pemerintah Kabupaten Nunukan. Dukungan Bank Indonesia melahirkan respon pemerintah Kabupaten Nunukan melalui belanja publik (APBD) untuk pengembangan rumput laut yang cukup besar.
Bahkan rumput laut ditetapkan sebagai komoditas unggulan kabupaten Nunukan, menggeser kakao yang menjadi produk unggulan sebelumnya. Salah satu dukungan terhadap penguatan klaster rumput laut, dialokasikannya program bernilai sekitar Rp1,1 miliar ini merupakan pilot project yang dilakukan di Desa Tanjung Harapan untuk membangun gudang penyimpanan rumput laut kering dan lantai penjemuran rumput laut.
Selain itu, pemerintah daerah melalui Dinas Kelautan dan Perikanan menyiapkan dana untuk programprogram bantuan terhadap pengembangan rumput laut. Bantuan itu diberikan sejalan dengan harapan akan kemajuan sektor budidaya rumput laut ini.
Budidaya rumput laut telah menjadi perhatian pemerintah daerah, karena semakin banyaknya penduduk yang menjalankan usaha ini. Hingga Juli 2013, ada sekitar 1.632 rumah tangga yang terlibat dalam
Pelatihan kesamaptaan oleh Militer untuk me ningkatkan isik, mental dan kedisiplinan para pembudidaya rumput laut Nunukan.
usaha budidaya rumput laut. Angka itu belum termasuk buruh buruh yang bekerja pada budidaya tersebut.
Buruhburuh tersebut juga cukup mendapat keuntungan dari rumput laut. Mereka dapat memasang 12 bentang dalam satu hari. Pemasang an satu bentang dihargai Rp5.000. Jadi para buruh tersebut ratarata bisa memperoleh Rp60.000.
Buruh tersebut tidak hanya ber asal dari daerah penghasil rumput laut. Banyak buruh juga berdatang an dari daerah lain setelah me ngetahui potensi pendapatan yang bisa mereka peroleh. Karena itu, usaha budidaya rumput laut me miliki dampak yang luas hingga ke daerahdaerah lain.
Rapat Rutin berkala yang dilakukan oleh BI, PPL, Dinas Kelautan, LSM dan Kelompok Pembudidaya Rumput Laut di Kampung Nelayan Tanjung Harapan.
Para pembudidaya ma kin bersemangat karena harga rumput laut di Nunukan relatif terjaga di tingkat yang tinggi. Hal ini dapat dipertahankan selama kualitas rumput laut juga dijaga oleh para pembudidaya.
Juli 2013, harga rum put laut di Nunukan mencapai Rp10.000. Har ga ini merupakan yang tertinggi di ban dingkan
Kunjungan bisnis ke PT. Gumindo Perkasa oleh Rombongan besar BI, Dinas kelautan Nu- nukan, Pembudidaya rumput laut Nunukan dalam memperpendek akses pasar. Bargain- ing kualitas, harga dan spesiikasi rumput laut yang dinginkan oleh Industri.
daerahdaerah lain di Kalimantan Timur maupun Kalimantan Utara. Di Bontang, misalnya, harga rumput lautnya hanya sekitar Rp7.000.
Aktivitas budidaya rumput laut Nunukan terus mendapat dukungan dari pemerintah daerah. Tahun anggaran 2013, pemerintah daerah menggelontorkan dana miliaran rupiah untuk budidaya rumput laut
“Daerah lain, kualitas le bih bagus, tetapi harganya lebih rendah. Kita bersyu- kur, Bank Indonesia bantu kita sehingga pemasaran lebih bagus.Mudah-mu- dahan Bank Indonesia bisa terus membantu. Nunukan masih tetap dipantau. Dan Bank Indonesia bisa men- ciptakan fenomena se perti ini di tempat lain,” ujar Suprianto.
Foto bersama Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kalimantan Timur, Ameriza M Moesa, Deputi KPw BI Kaltim Teguh Setiadi, Pimpinan Bank Kaltim Cabang Nunukan, dan Gapokan Harapan Mandiri.
Hibah pembangunan Gudang Rumput Laut oleh Dinas Kelautan Nunukan senilai Rp1,2 M di Desa Mamolo Tanjung Harapan Nunukan.
di Nunukan. Dana tersebut digunakan untuk pembelian bibit maupun pembangunan sarana dan prasarana yang dibutuhkan.
“Saya sangat berterima kasih. Ini bukan hanya cerita, tetapi bukti. Faktanya, harga rumput laut di Nunukan sekarang bagus. Ini adalah ha sil bantuan Bank Indonesia. Terus terang saja, kita dari Dinas Perikanan ini lebih ahli memproduksi daripada memasarkan, dan Bank Indonesia membantu terutama dalam hal pasar. Tidak hanya pasar, termasuk pas ca panennya. Budidaya juga dibantu. Tapi terutama pasar yang paling dirasakan, sampai bisa memimpin pasar, sehingga pengepul ikut harga kita,” ujar Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Nunukan, Suprianto.
Lebih lanjut, Suprianto juga menambahkan, “Daerah lain, kualitas lebih bagus, tetapi harganya lebih rendah. Kita bersyukur, Bank Indonesia bantu kita sehingga pemasaran lebih bagus.Mudahmudahan Bank Indonesia bisa terus membantu. Nunukan masih tetap dipantau. Dan Bank Indonesia bisa menciptakan fenomena seperti ini di tempat lain.” Kerja sama ini dinilai Suprianto sangat baik.
Bantuan BI berupa Mesin Press Rumput Laut untuk peningkatan produksi petani Rumput Laut Nunukan.
PULUHAN penduduk telah berkumpul memadati ruangan sederhana berbahan dasar kayu. Tanpa kursi, mereka duduk lesehan bersila di lantai kayu itu. Mereka dengan sabar menanti di mulainya acara. Beberapa di antara mereka berbincang ringan satu sama lain, sementara beberapa lainnya diam menunggu seolah menyimpan pemikiran mendalam terkait acara yang akan berlangsung.
Di hadapan mereka, duduk berjajar sejumlah orang dengan penampilan yang sedikit berbeda dari penduduk setempat. Sebuah
sound system seadanya dipersiapkan untuk memastikan informasi yang disampaikan dapat didengar seluruh peserta acara.
Dari ruangan yang sederhana itu muncul ideide hingga berbagai pengetahuan yang mencerahkan. Para penduduk Nunukan yang merupakan pembudidaya rumput laut tersebut mendapat banyak informasi mengenai penguatan kelembagaan dan manajemen keuangan dari dalam ruangan tersebut.
Tema seperti itu tentu merupakan hal baru bagi para pembudidaya. Mereka yang sebelumnya hanya memikirkan teknis budidaya rumput
Sosialisasi Koperasi untuk meningkat- kan formalitas kelembagaan pembudi- daya rumput laut Nunukan.
laut kini juga mengetahui bagaimana menempatkan posisinya agar harga jual rumput laut tidak tersungkur.
Pelatihanpelatihan seperti itu telah intens diadakan oleh Bank Indonesia di Nunukan. Bahkan pelatihan juga tidak jarang diadakan di luar ruangan dengan beratapkan terpal seadanya. Fasilitas paling mewah dari pelatihanpelatihan yang diadakan Bank Indonesia di Nunukan mungkin hanya berupa pengeras suara, laptop, dan proyektor. Fasilitas ini memang tidak semewah acaraacara pelatihan di kotakota besar, yang biasa diadakan di gedung mewah dengan pendingin udara yang sangat nyaman bagi peserta dan pembicara.
Tapi bagian yang paling penting dari pelatihan bukanlah fasilitasnya, melainkan isi materi yang disampaikan. Dari seluruh pelatihan di Nunukan yang diadakan Bank Indonesia, hasilnya terbukti efektif memberikan manfaat bagi penduduk setempat.
Keterlibatan Bank Indonesia dalam pengembangan budidaya rumput laut di Nunukan berawal dari inisiasi pemerintah daerah setempat. Kepala Bidang Budidaya Perikanan Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Nunukan Suaedi mengatakan untuk meningkatkan harga jual rumput laut para petani di Nunukan, pihaknya menggandeng Bank Indonesia.
Karena itu, selain memberikan pelatihan kepada para petani rumput laut, Bank Indonesia juga membuka jalan bagi petani untuk dapat
“Untuk meningkatkan harga jual rumput laut para petani di Nunukan, pihaknya menggandeng Bank Indonesia,“ ujar Suaedi Kepala Bidang Budidaya Perikanan DKP Nunukan.
menjual langsung hasil produksi ke pabrikpabrik pengolahan di daerah lain. Jakarta dan Surabaya menjadi target distribusi penjualan hasil budidaya rumput laut tersebut. Suaedi meyakini kalau DKP sendiri yang mendatangi pabrik pasti dipandang sebelah mata. Karena itulah, DKP berkoordinasi dengan Bank Indonesia agar mendapat fasilitas akses ke eksportir dan industri besar pengolahan rumput laut di Jakarta dan Surabaya.
Akan tetapi, pada prakteknya banyak khalayak termasuk petani rumput laut waktu itu bertanyatanya, apakah ada hubungannya antara perbankan dengan rumput laut? Sebagian lain menyangsikan, apakah Bank Indonesia dapat menaikkan harga rumput laut kami? Waktu itu, harga rumput laut memang susah beranjak ke angka Rp6.000. Bahkan setelah kesekian kali Bank Indonesia bersama Dinas Kelautan memberikan pelatihan, masih saja ada komplain dari para pembudidaya. Masyarakat berpikir, bagaimana ini, kami sudah mengikuti berkalikali arahan dan pelatihan dari BI, kok harganya tidak naik juga? Malah ada pembudidaya yang menantang, apabila BI dapat menaikkan harga dengan selisih Rp1.000/kg dari sebelumnya mereka bersedia disuruh untuk melakukan apa saja. Tapi Bank Indonesia selalu menekankan bahwa kalau ingin sukses menjual yang paling penting adalah kualitas produk (masa
tanam dan pasca panen) dan kekompakan petani. Sekarang, pertanyaan tentang “harga” rumput laut sudah tidak ada lagi dikalangan para pembudidaya. Saat ini yang terpikirkan oleh pembudidaya rumput laut adalah bagaimana caranya agar dapat memproduksi sebesarbesarnya dan menjual sebanyakbanyaknya.
Dengan difasilitasi Bank Indonesia perlahan tapi pasti perubahan har ga itu terjadi, pembudidaya rumput laut pun merasakan hasilnya. DKP Nunukan berhasil masuk ke PT Asia Sejahtera Mina (Surabaya) dan PT Gu mindo Perkasa Industri (Jakarta). Suaedi me ngatakan pihaknya sengaja memi lih dua per usahaan besar ini karena tujuan pasar yang berbeda. Kalau tujuan ekspor PT Asia Sejahtera Mina adalah Cina, PT Gumindo Per kasa Industri memiliki tujuan ekspor ke negaranegara Ero pa. Baik itu PT Asia Sejahtera Mina atau PT Gumindo Perkasa Industri, hubungan baik dengan keduanya harus dijaga dan dipelihara.
Kemitraan antara masyarakat budidaya rumput laut de ngan per usahaan awal mulanya me nyepakati tentang harga rumput laut. Hal yang disepakati waktu itu bahwa penetapan harga rumput laut harus mempertimbangkan berbagai hal antara lain kualitas berstandar, kurs mata uang dan harga tingkat global. Menurut Tauik, yang pada saat itu mewakili BI untuk mediasi antara pembudidaya dan perusahaan, menga takan “waktu itu juga dibicarakan seperti apa kualitas rumput laut yang baik agar bisa diterima pasar” ujarnya. Hal itulah yang menjadi bekal bagi pembudidaya untuk terus memperbaiki kualitas.
Sebenarnya kemitraan antara pembudidaya dengan perusahaan seperti layaknya demand dan supply, maka keduanya harus saling me
nguntungkan. Ini berkat support BI dalam menunjang pengembangan ekonomi rakyat Nunukan.
Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Nunukan Suprianto menyampaikan terima kasihnya kepada Bank Indonesia atas usahanya itu. “Kita berterima kasih kepada Bank Indonesia karena memfasilitasi kita mempertemukan antara kita dengan pabrik dan eksportir,” ujarnya.
Tapi kedua perusahaan itu harus diperlakukan berbeda. Kenapa? PT Asia Sejahtera Mina umumnya langsung melakukan ekspor rumput laut yang dikirim dari Nunukan. Sementara itu, PT Gumindo Perkasa Industri melakukan pengolahan terlebih dahulu. PT Asia Sejahtera Mina yang merupakan eksportir umumnya lebih mengutamakan warna rumput laut, sedangkan PT Gumindo Perkasa Industri sebagai industri manufaktur umumnya lebih mengutamakan usia panennya.
Karena itu juga, para pembudidaya rumput laut di Nunukan tidak bergantung sepenuhnya pada satu kondisi. Jika ekspor rumput laut sedang lesu, pembudidaya bisa mengutamakan hasil panennya untuk industri pengolahan. Dengan begitu, pembudidaya harus memperhatikan dan menyesuaikan proses budidaya dengan kondisi terkini pasar rumput laut.
Bukan hanya manusianya yang dikembangkan, Bank Indonesia juga memberikan bantuan isik. Bank Indonesia pernah memberikan mesin
press rumput laut pada 2012. Dengan begitu, jumlah rumput laut yang dimasukkan ke dalam kontainer bisa lebih banyak daripada sebelumnya.
Tanpa mesin itu, satu kontainer hanya dapat menampung sekitar 12 ton rumput laut. Kini 20 ton rumput laut dapat dimuat dalam satu kontainer dengan adanya mesin tersebut. Jadi biaya pengiriman dapat ditekan dan pendapatan yang diterima petani juga meningkat.
Itu hanya segelintir bantuan yang diberikan Bank Indonesia. Contoh bantuan mesin lainnya yaitu mesin analisis Clean Anhydrous Weed
(CAW) rumput laut. Dengan mesin ini, para pembudidaya dapat mempertahankan kualitas produksinya. Rendemen rumput laut dapat distandarkan sesuai kebutuhan industri pengolahan.
Kehadiran bantuan Bank Indonesia di Nunukan sangat tepat. Ini jadi pelengkap keahlian pembudidaya rumput laut sebelumnya. Para pembudidaya umumnya lebih ahli dalam hal teknis produksi. Tapi dalam pemasaran, mereka bukan ahlinya. Pengetahuan seperti pemasaran itulah yang dibawa oleh Bank Indonesia ke Nunukan. Hal ini juga diakui Suprianto. “Terus terang saja, kita dari Dinas Perikanan ini lebih ahli memproduksi daripada memasarkan,” ungkap Suprianto.
Bahkan Bank Indonesia juga ikut membantu dalam hal budidaya dan pasca panennya. Lewat solusi yang ditawarkan Bank Indonesia, para pembudidaya dapat menguasai pasar. Mereka jadi lebih percaya diri menghadapi pengepul. Mereka memiliki kuasa yang lebih besar atas harga, bukan lagi pengepul.
Bupati Nunukan Basri mengharapkan Bank Indonesia dapat te rus meningkatkan perannya. “Ke depan, kita ingin Bank Indonesia melakukan pembinaan langsung ke lapangan, mungkin dengan bantuan modal langsung yang ringan, sehingga bisa mengurangi, baik itu tengkulak maupun lainnya,” ungkapnya.
Jika para pembudidaya melihat daerah budidaya rumput laut di luar Nunukan, mereka patut bersyukur. Di daerah yang kualitas rumput lautnya lebih bagus daripada Nunukan, pembudidaya justru mendapatkan harga rendah. Dari fenomena ini mereka dapat mengetahui, bukan hanya teknis budidaya yang perlu dikuasai. Pemasaran dan daya tawar juga ikut mengangkat harga rumput laut di pasar.
Bank Indonesia sudah sejak lama memberikan bantuannya kepada masyarakat Nunukan. Selama periode tahun 2011 hingga 2012 saja,
Forum rembug yang cukup efektif untuk mengungkapkan permasalahan yang diha-
dapi oleh masing-masing anggota stake- holder rumput laut Nunukan.
Bank Indonesia telah mengadakan pelatihan mulai dari motivasi hingga teknik budidaya rumput laut. Pelatihanpelatihan itu antara lain:
• Seminar kewirausahaan dan bisnis rumput laut. Seminar ini meng ha dirkan motivator Ujang Koswara dari Green Line Care sebagai pembicara. Ujang adalah penemu Listrik Mandiri Rakyat, yaitu lampu bertenaga aki.