• Tidak ada hasil yang ditemukan

Membangun Daerah Perbatasan Dengan Rumpu

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Membangun Daerah Perbatasan Dengan Rumpu"

Copied!
118
0
0

Teks penuh

(1)
(2)
(3)

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Prov. Kalimantan Timur

Ameriza M. Moesa

Deputi Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Prov. Kalimantan Timur

Teguh Setiadi

Manajer Unit Pemberdayaan Sektor Riil dan UMKM Kantor Perwakilan Bank Indonesia

Prov. Kalimantan Timur

Sunarso

Asisten Manajer

Tauik Ariesta Ardhiawan

Konsultan Pengembang UMKM Kantor Perwakilan Bank Indonesia Prov. Kalimantan Timur

Yusuf Arif Setiawan

ISBN 978-602-96071-9-2

Cetakan 1, Oktober 2013

Hak cipta © 2013

(4)
(5)
(6)

Kata Pengantar

Dengan memanjatkan puji dan syukur kehadirat Allah SWT, akhirnya penyusunan buku ini dapat selesai tepat waktu sesuai rencana. Buku yang diberi judul “Membangun Daerah Perbatasan Dengan Rumput Laut” ini menceritakan dan mendokumentasikan proses pelaksanaan program pengembangan rumput laut di Kabupaten Nunukan, yang merupakan hasil kolaborasi yang sangat apik berbagai pemangku kepentingan khu­ susnya antara Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kalimantan Timur, Pemerintah Kabupaten Nunukan dan kelompok usaha nelayan rumput laut. Keterlibatan Bank Indonesia (BI) dalam program pengem­ bangan rumput laut tersebut sejalan dengan salah satu tugas pokok BI khususnya yang terkait dengan pemberdayaan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).

Penulisan buku ini bertujuan untuk memberikan gambaran dan ber­ bagi informasi mengenai proses dan kisah sukses dari upaya pemberda­ yaan sebuah kelompok nelayan rumput laut di Kabupaten Nunukan, yang berbatasan dengan Sabah, Malaysia. Melalui penerbitan buku ini juga diharapkan dapat memberikan inspirasi bagi pembaca dan refe­ rensi bagi pemangku kepentingan dalam rangka pemberdayaan ma­ syarakat pada umumnya dan kelompok usaha budidaya rumput laut pada khususnya.

(7)

mewarnai buku ini. Selanjutnya analisis mengenai potensi dan strategi pengembang an rumput laut ke depan diuraikan secara umum pada bab terakhir.

Keberhasilan budidaya rumput laut di Kabupaten Nunukan meru­ pakan prestasi yang patut dibanggakan. Pada saat ini Kabupaten Nunu­ kan telah menjelma menjadi kabupaten penghasil rumput laut terbesar di Indonesia, walaupun pengembangannya baru dimulai sejak tiga tahun terakhir dan secara teoritis karakteristik perairannya tidak cocok untuk budidaya rumput laut. Kunci sukses program tersebut terutama berkat ada nya kesadaran petani rumput laut, penerapan pola pendampingan dan pelatihan yang tepat sasaran, terbentuknya sinergisitas dari berbagai pemangku kepentingan, serta diterapkannya strategi penguatan value chain yang lebih berorientasi pasar.

Pada kesempatan ini, kami mengucapkan terima kasih kepada pihak­ pihak yang membantu dan mendukung terlaksananya program tersebut, terutama Bupati Nunukan beserta jajarannya, Dinas Kelautan dan Per­ ikanan Kabupaten Nunukan, Badan Ketahanan Pangan dan Petugas Pe­ nyuluh Lapangan, IPKANI dan Gapokan (Gabungan Kelompok Per ikanan) Harapan Mandiri, dan pihak lainnya yang tidak dapat disebutkan satu per satu. Terima kasih juga kami sampaikan kepada Bisnis Indonesia yang telah membantu proses penulisan dan penerbitan buku ini. Secara khu­ sus, terima kasih dan apresiasi juga kami sampaikan kepada Gubernur Kalimantan Timur yang telah memberikan dukungan dan bimbingan­ nya kepada kami khususnya dalam pelaksanaan program pemberdayaan UMKM di Provinsi Kalimantan Timur, termasuk di Kabupaten Nunukan yang saat ini berada dalam Provinsi Kalimantan Utara.

Samarinda, Oktober 2013

Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kalimantan Timur

Ameriza M. Moesa

(8)

Sambutan Bupati Nunukan

S

esuai dengan salah satu Misi, Visi dan Tujuan Pembangunan Kabupaten Nunukan tahun 2011­2016 adalah meningkatkan pemerataan dan pertumbuhan ekonomi daerah yang berbasis ekonomi dan keunggulan kompetitif melalui Gerakan Pembangunan Ekonomi Mandiri Aman dan Sejahtera (GERBANG EMAS). Hal tersebut ditunjukkan dengan pencapaian Kabupaten Nunukan sebagai salah satu kabupaten produsen rumput laut kering terbesar di Indonesia yang merupakan perwujudan dari pemberdayaan ekonomi masyarakat berbasis komoditas unggulan daerah dan menjadi daerah perbatasan yang maju serta mandiri seperti yang dicita­citakan. Keberhasilan ini tentunya merupakan hasil kerja keras dan kerjasama antara Pemkab Nunukan, SKPD terkait, PPL, LSM dan pihak­pihak yang concern

terhadap pengembangan ekonomi, terutama atas dukungan yang luar biasa dari Bank Indonesia dalam melakukan pendampingan para petani rumput laut. Bila dibandingkan dengan daerah lain yang telah lama mengembangkan rumput laut, Nunukan baru 3 tahun berjalan, tentunya kemajuan ini patut kita syukuri.

(9)

Kerjasama pengembangan rumput laut di Kabupaten Nunukan antara Pemkab Nunukan dan Bank Indonesia telah menunjukkan hasil yang sangat menggembirakan, oleh karena itu harapan kami, kerjasama yang telah terjalin tidak berhenti disini, dan sinergisitas ini dapat dan semakin ditingkatkan baik dimasa kini maupun dimasa mendatang. Semoga Bank Indonesia dapat senantiasa berkiprah dalam mendukung kemajuan dan berkembangnya sektor riil dan UMKM untuk meningkatkan perekonomian dan kesejahteraan masyarakat.

(10)

Kata Pengantar ... iii

Sambutan Bupati Nunukan... v

Menyemai Rumput Laut di Pesisir Nunukan ... 1

Buah dari Jerih Payah Si Habir ...27

Daftar Isi

11

Memberdayakan

Rumput Laut,

Memberdayakan

Masyarakat Nunukan

Peran Pamong di

Perbatasan Negara

(11)

Seberkas Asa Bank Indonesia ...53

Kisah Gapokan Melawan Tengkulak ...61

Peran Penyuluh dan LSM Lokal ...77

Menguatkan Peran, Merangkai Masa Depan...97

Daftar Istilah ...105

Lensa Foto ...106

Bank Indonesia

Peduli Rumput Laut

Peran Penyuluh dan

LSM Lokal

77

Mengubah Rumput

Laut Jadi Emas

(12)

SUASANA disepanjang pesisir pantai Nunukan terlihat sibuk dengan aktivitas para nelayan. Kali ini mereka tidak sedang menangkap ikan. Nelayan di Nunukan lebih banyak yang membudidayakan rumput laut (Euchema Cottoni). Mereka memasang bibit rumput laut dengan perahu yang tidak jauh dari pantai. Setelah 45 hari, tibalah waktu memanen. Rumput laut yang siap untuk dipanen dibawa dengan perahu ke tepian untuk dijemur terlebih dahulu, kemudian membungkusnya dengan karung. Sesudah dirapikan, rumput laut yang telah siap dipasarkan itu akan dijual. Begitulah kesibukan sehari­hari di Nunukan.

(13)

laut seluas 20.000 ha. Namun yang baru termanfaatkan sekitar 700 Ha. Hal ini menjadi peluang tersendiri bagi bisnis rumput laut di Nunukan.

Budidaya rumput laut di Nunukan tidak terlepas dari prospek ekonomi yang secara perlahan meningkatkan taraf hidup masyarakat pesisir Nunukan. Menurut Heru, koordinator Petugas Penyuluh Lapangan (PPL) Kabupaten Nunukan, “harga rumput laut itu memberikan dampak signiikan bagi perekonomian masyarakat”.

Menurut Pak Eddy Afrios, Petugas Penyuluh Lapangan (PPL) yang menjadi pembina nelayan di Kampung Tanjung Harapan, Nunukan, “dengan adanya rumput laut, masyarakat mendapatkan penghasilan yang bertambah”. Bahkan tidak sedikit masyarakat yang sudah bisa membeli barang mewah seperti motor, laptop, tablet, atau kamera digital. Dengan nilai jual rumput laut yang tinggi di pasar, masyarakat

(14)

dapat terus memproduksi agar dapat meningkatkan taraf ekonomi mereka. Boleh dibilang, saat itu masyarakat Nunukan boleh berbangga hati dengan adanya rumput laut. Pak Eddy bilang “ini merupakan berkah bagi Nunukan!”.

Keberhasilan budidaya rumput laut di Nunukan tidak terlepas dari peran Bank Indonesia (BI). Pada 8 September 2011, BI secara resmi ikut berpartisipasi mem bangun rumput laut Nunukan, me lalui penandatanganan kerjasama Pengembangan Rumput Laut di Kabupaten Nunukan dengan Pemkab. Nunukan. Nota kesepahaman itu bernomor 13/3A/DKBU/ Smr dan No. 180/15/523.36/HK/VIII/ 2011, ditandatangani Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kalimantan Timur, Bapak

(15)

Selama rentang tahun 2011

sampai dengan tahun 2013,

BI bekerjasama dengan DKP

Nunukan dan

stakeholders

terkait setempat telah

memberikan pelatihan berupa

know how

maupun

soft skill

kepada pembudidaya dan

UMKM terkait.

Androecia Darwis dengan Bupati Nunukan Bapak Drs. H. Basri. Untuk memperkuat pelaksanaan dilapangan selanjutnya Bank Indonesia dan Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Nunukan menandatangani Perjanjian Kerja Sama bernomor 14/7/DKBU/BPBU/Smr dalam rangka Program Pengembangan Klaster Rumput Laut di Kabupaten Nunukan.

BI sebenarnya telah sering melakukan kegiatan pemberian bantuan teknis kepada UMKM di Kabupaten Nunukan. Sedangkan kegiatan pengembangan rumput laut di Nunukan oleh Bank Indonesia, telah dimulai pada awal tahun 2011 dengan melakukan pre-eliminary study

(16)

Pada Desember 2011, rumput laut Nunukan telah menjadi representase rumput laut di Kalimantan Timur mengalahkan daerah lain yang terbilang lebih dulu mengembangkannya. Pangsa produksi 84,29% rumput laut Kalimantan Timur berasal dari Kabupaten Nunukan. Bila dibandingkan dengan wilayah lain yang sudah lebih lama mengembangkan budidaya rumput laut, kenaikan dan dominasi pangsa produksi menjadi prestasi bagi Nunukan sebagai penghasil rumput laut. Hal itu disebabkan karena terdapat peningkatan cukup menggembirakan dimana produksi tahun 2010 adalah 55.098,95 ton, dan meningkat menjadi 116.731 ton di tahun 2011 atau meningkat 112%.

Selama rentang tahun 2011 sampai dengan tahun 2013, BI bekerjasa­ ma dengan DKP Nunukan dan stakeholders terkait setempat telah mem­ berikan pelatihan berupa know how maupun soft skill kepada pembudi­ daya dan UMKM terkait. Bupati Nunukan, Basri, mengatakan bahwa “ini

(17)

suatu potensi yang luar biasa. Kita mengharapkan dari kita semua bisa bahu­membahu, membina kelembagaannya, mem bina keterampilannya, ju­ ga meningkatkan mutunya”. Kesuksesan membudidayakan rumput laut tidak terlepas dari keberhasilan membina pelaku usaha secara terorganisir. Waktu itu, masalah yang dihadapi oleh banyak petani adalah rendah­ nya tingkat keuntungan (harga jual) yang diperoleh diban­ dingkan tingginya keuntungan yang diperoleh para tengkulak.

Melalui inisiatif stakeholders

di Nunukan, didirikanlah Ga­ pok an (Gabungan Kelompok Perikanan) bernama Harapan

(18)

Mandiri pada bulan Juni 2012 yang menjadi langkah awal

kemandirian pembudida­ ya rumput laut. Gapok an

Harap an Mandiri ini me­ rupakan Gapokan yang pertama ada di Kalimantan

Timur. Dampak yang secara langsung dapat dirasakan atas pendirian Gapokan adalah harga rumput laut langsung mening­ kat dan menjadi stabil. Pada masa bulan Ramadhan tahun 2012, para pembudidaya dapat menikmati harga rumput laut yang stabil. Sebelum Gapokan terbentuk, harga rumput laut pada bulan ramadhan selalu terjun bebas.

(19)

Dampaknya porsi keuntungan dapat lebih banyak dinikmati, karena tidak perlu melewati jalur distribusi yang panjang.

Setelah semua berjalan baik, Habir, ketua Gapokan Harapan Mandiri, mengatakan bahwa “gapokan harus melakukan sebuah kontrol agar tidak terjadi lagi permainan harga. Buat para petani, kestabilan harga merupakan persoalan penting, karena memberikan kepastian berusaha bagi mereka dimasa selanjutnya.”

Habis Gapokan terbitlah koperasi, itulah yang terpikir untuk membenahi aspek lanjutan dari masalah modal dan pasar bagi para petani. Habir mengatakan “Kecenderungannya, masyarakat kalau sudah jual rumput itu langsung setor ke bank. Kadang sisanya itu untuk keperluan dapur. Jadi pas mau turun ke laut, di mana lagi ini. Akhirnya lari ke tengkulak, ke pengepul. Jadi dia terikat lagi. Kalau seandainya ada koperasi, siapa saja anggota yang butuh, silakan. Nanti setelah barangnya terjual, potong, habis. Simpan pinjam, begitu.”

(20)

sendiri.

(21)

Peran koperasi pada dasarnya membantu kelompok masyarakat budidaya rumput laut untuk mengakses modal ke lembaga pembiayaan, karena tidak mungkin kelompok masyarakat mendapatkan akses jika tidak difasilitasi oleh badan usaha yang resmi dan dikelola dengan manajemen yang rapi. Koperasi dapat mewakili kebutuhan dana bagi kelompok masyarakat yang sedang memerlukan modal usaha. Dari aspek pemasaran, koperasi juga membantu membuka jalur pemasaran rumput laut sehingga peran koperasi dianggap menjadi model lembaga yang cocok dengan ekonomi kerakyatan.

Kelompok masyarakat yang masuk ke dalam anggota koperasi akan mendapatkan sisa hasil usaha (SHU). Bagi anggota koperasi ada iuran wajib dan iuran sukarela untuk pengembangan keuangan koperasi. Realisasi koperasi mengakomodasi kelompok masyarakat budidaya rumput laut se­Nunukan, seperti dikatakan Sunarso “tidak menutup kemungkinan bila layanan koperasi itu nantinya dapat menjangkau wilayah Sebatik”. Sehingga Nunukan bisa jadi contoh pembangunan ekonomi di wilayah perbatasan.

(22)

AWAL mula keberadaan rumput laut di Kabupaten Nunukan, Kalimantan Timur, menurut kebanyakan petani di sana, pertama kali dibawa oleh seseorang dari Sulawesi Selatan. Peristiwa itu terjadi beberapa tahun lalu dengan tujuan untuk mencoba mengembangkan rumput laut. Niat awal seorang nelayan tersebut hanyalah coba­coba. Namun hasilnya ternyata malah berkembang pesat. Banyak warga pesisir, yang sebelumnya merupakan nelayan tangkap ikan, kemudian tertarik ikut membudidayakan rumput laut. Bahkan, kini selain menangkap ikan juga sekaligus menjadi pembudidaya rumput laut.

(23)

rumput laut, tanpa meninggalkan profesi sebelumnya sebagai ne­ layan tangkap. Ketika ditanya soal mengapa ia juga menjadi pembu­ didaya rumput laut, Habir menja­ wab “rumput laut lebih menjanji­ kan secara ekonomi!” langkah Habir diikuti oleh ratusan nelayan lain yang ada di Nunukan yang juga beralih profesi menjadi pem­ budidaya rumput laut.

Secara teori, kondisi laut di Nu­ nukan sebenarnya kurang cocok untuk tempat budidaya rumput laut. Rumput laut biasanya dibudi­ dayakan di laut dengan karakteris­

(24)

tik air yang jernih dan arus air yang tidak terlalu kuat. Sedangkan, kondi­ si laut di Nunukan bertolak belakang dengan karakteristik idealnya. Air laut di Nunukan cenderung keruh, dan arusnya cenderung kuat.

Rumput laut yang dihasilkan di Nunukan tersebut justru memiliki karakteristik tersendiri yang unik. Budidaya rumput laut dalam awal perkembangannya baru sebatas menjadi usaha sampingan masyarakat setempat.

Sumber: Statistik Kabupaten Nunukan 2012

Letak

Lintang Utara : 3o15'00" ­ 4024'55" Bujur Timur : 115033' ­ 11803'

Batas

Utara : Malaysia Timur ­ Sabah

(25)

Dari sudut pandang ekonomi, sisi penawaran dan permintaan rumput laut dapat dipertimbangkan untuk mengetahui potensi pengembangan budidayanya. Kondisi yang dihadapi yaitu tingginya permintaan terhadap rumput laut sementara penawarannya relatif rendah. Karena itu, penawaran dari para produsen rumput laut di Indonesia belum dapat memenuhi seluruh permintaannya. Dengan kata lain, masuknya produsen baru tanpa merugikan produsen yang sudah ada masih dimungkinkan terjadi. Peluang inilah yang ditangkap oleh pembudidaya di Nunukan.

(26)

Rendahnya penawaran ini terutama dikarenakan kondisi area budidaya rumput laut. Tidak semua perairan di Indonesia cocok untuk ditanami rumput laut. Keberhasilan perintisan budidaya rumput laut di Nunukan lalu menjadi alasan bahwa masyarakat tidak seharusnya mudah menyerah pada kondisi yang dihadapi. Trial and error perlu dicoba terlebih dahulu, seperti yang telah dilakukan di Nunukan.

Sementara itu, permintaan rumput laut terus meningkat karena perkembangan pemanfaatan rumput laut untuk industri olahan. Rumput laut berkembang dari bahan baku untuk produksi makanan hingga produk tekstil, farmasi, bahkan pengental cat. Dalam industri farmasi, rumput laut digunakan untuk bahan baku cangkang kapsul.

Di Eropa, rumput laut bahkan digunakan untuk membuat pakaian. Rumput laut dapat menyesuaikan diri dengan suhu udara. Dalam suhu panas, rumput laut akan mencair. Dalam kondisi dingin, rumput laut bisa kering. Semakin kering rumput laut, wujudnya akan semakin keras. Karena penggunaannya yang beragam tersebut, permintaan rumput laut diharapkan dapat terus berkembang dalam jangka panjang.

Secara umum, keberhasilan budidaya rumput laut setidaknya dipe­ ngaruhi oleh lima kondisi: lahan budidaya, kejernihan air, kandungan

(27)

oksigen, kandungan garam, dan intensitas cahaya. Lahan budidaya yang dimaksud yaitu laut tempat menanam rumput laut. Dalam lahan bu­ didaya itu, kualitas arus dan ombak sangat menentukan. Ombak berada di atas per­ mukaan air, sementara arus berada di dalamnya. Laut dengan ombak yang besar belum tentu memiliki arus yang juga besar. Kondisi arus yang baik untuk menanam rumput laut secara teori min­ imal 20 cm per detik. Ombak yang baik bagi rumput laut adalah ombak yang tenang. Jika ombak besar, konstruksi budidaya rumput laut bisa hancur.

Kondisi di Nunukan, kondi­ si ombak relatif tenang, se­ mentara arusnya kuat. Pa­ sang surut air laut relatif lebih banyak terjadi di Nunukan dibandingkan daerah lain. Selain itu, kondisi kejernih­ an air laut Nunukan terbi­ lang keruh. Air yang keruh ini dapat mengurangi intensitas cahaya matahari yang ma­

Umumnya, jenis rumput

laut yang dibudidayakan

di Indonesia yaitu

cottoni

,

spinosum

, dan

gracilaria

. Dari tiga

jenis varietas rumput

laut tersebut,

euchema

(28)

suk. Karena itu, rumput laut dari Nunukan tidak sebesar rumput laut ha­ sil produksi daerah­daerah lainnya. Tapi justru karena kecil itulah maka rumput laut di Nunukan tidak mudah patah.

Kekurangan dari faktor demograi Nunukan justru memberikan keuntungan tersendiri bagi rumput laut hasil produksi Nunukan. Selain kondisi lingkungannya tersebut, bibit juga menentukan keberhasilan budidaya rumput laut. Bibit yang baik tentu akan menghasilkan rumput laut yang baik juga, begitu juga sebaliknya. Untuk memastikan kualitas tersebut, perawatan rumput laut menjadi hal yang penting. Secara berkala hendaknya pembudidaya membersihkan rumput lautnya dari menempelnya jamur, lumut atau lumpur. Hal ini dilakukan agar proses tumbuh dan fotosintesisnya tidak mengalami gangguan.

Umumnya, jenis rumput laut yang dibudidayakan di Indonesia yaitu cottoni, spinosum, dan gracilaria. Dari tiga jenis varietas rumput laut tersebut, euchema cottoni yang paling cocok dibudidayakan di Nunukan. Selain itu untuk harga dan permintaannya pun relatif lebih tinggi dibandingkan dua jenis lainnya.

Provinsi Kalimantan Timur termasuk salah satu penghasil rumput laut yang cukup dipandang. Kenaikan produksi rumput laut di Kalimantan Timur terjadi terutama dalam periode tahun 2005­2006. Menurut data Statistik Perikanan Tangkap, Perikanan Budidaya, dan Ekspor­Impor di

Rapat diwaktu malam pun tetap harus dijalankan. Rakor Gapokan (Gabungan Kelompok Perikanan), BI, PPL, IPKANI dalam

(29)

Indonesia yang dipublikasikan Kementerian Kelautan dan Perikanan, produksi rumput laut Kalimantan Timur tahun 2004 hanya sebesar tujuh ton. Sedangkan pada tahun 2006, produksi melonjak menjadi 1.547 ton. Bahkan produksi rumput laut tahun 2007 meningkat lebih besar lagi, yaitu menjadi 17.562 ton, meskipun setelah itu menurun ke angka 5.000­an. Tapi pada tahun 2010, produksi rumput laut kembali meningkat signiikan ke angka 40.126 ton.

Meskipun belum masuk kelompok sepuluh besar provinsi produsen rumput laut, pertumbuhan yang terjadi di Kalimantan Timur dapat dikatakan luar biasa. Tahun 2011, produksi rumput laut Kalimantan Timur sudah mengungguli Banten. Produksi Banten saat itu sebesar 55.420 ton, sementara Kalimantan Timur sudah mencapai 83.093 ton. Jika Kalimantan Timur dapat konsisten mengembangkan produksi rumput lautnya, bukan tidak mungkin provinsi tersebut dapat menjadi yang terbesar sebagai sentra produksi budidaya rumput laut di Indonesia.

Meningkatnya produksi, meningkat pula volume ekspornya. Pasar rumput laut tidak hanya dari dalam negeri, tetapi juga luar negeri.

No. Kabupaten Produksi (ton) %

1 Nunukan 116.731 84,29%

2 Paser 9.019 6,51%

3 Bontang 5.496 3,97%

4 Balikpapan 3.567 2,58%

5 Kutai Timur 1.613 1,16%

6 Tarakan 1.260 0,91%

7 Kutai Kartanegara 693 0,50%

8 Bulungan 72 0,05%

9 Panajam 38 0,0%

Total 138.489 100%

Tingkat Produksi Rumput Laut di Kalimantan Timur Tahun 2011

(30)

Hal ini dapat dipahami mengingat kegunaan rumput laut yang sangat luas dalam industri pengolahan. Banyaknya lokasi budidaya di Indonesia juga dapat menjadi keunggulan tersendiri sebagai eksportir. Pada tahun 2010, nilai ekspor rumput laut dari Kalimantan Timur sebesar US$63.000. Sedangkan pada tahun berikutnya, ekspor rumput laut dari daerah tersebut meningkat signiikan menjadi US$231.000. Dengan kata lain, peningkatan nilai ekspor tersebut menjadi sebesar 265,17%.

Tingginya produksi rumput laut di Kalimantan Timur, utamanya ber asal dari Kabupaten Nunukan. Se belum Kalimantan Utara terbentuk, Nunukan masih menjadi bagian dari Provinsi

Jika Kalimantan

(31)

Kalimantan Timur. Sebagai contoh, data tahun 2011 yang ditunjukkan pada tabel di atas menyatakan dengan jelas bahwa Nunukan merupakan daerah penghasil utama rumput laut di Kalimantan Timur. Dari total produksi rumput laut sebesar 138.489 ton pada tahun 2011 di provinsi tersebut, Nunukan memberikan kontribusi lebih dari 84% atau sebesar 116.731 ton. Sementara itu, di urutan kedua, yaitu Kabupaten Paser, produksinya hanya sebesar 9.019 ton atau 6,51% dari total produksi rumput laut di Kalimantan Timur.

Dibandingkan tahun­tahun sebelumnya, produksi rumput laut di Nunukan menunjukan tren peningkatan. Pada tahun 2010, produksi rumput laut Nunukan sebesar 56.542 ton. Jadi peningkatan produksi dari tahun 2010 ke 2011 lebih dari 100%. Sejalan dengan itu, luas lahan budidaya juga meningkat. Dari sebelumnya 712 Ha pada 2010, luas lahan meningkat menjadi 1.297 Ha pada tahun 2011. Sementara itu, potensi lahan yang masih dapat digarap sekitar 20.000 Ha. Jika dapat dibangun dengan serius, rumput laut di Nunukan memiliki prospek yang cerah.

Januari 2013, Basri, Bupati Nunukan, menyatakan bahwa Nunukan telah menjadi penghasil rumput laut kering terbesar di Indonesia. Pada bulan itu, produksi rumput laut Nunukan telah mencapai angka 750 ton. Angka ini meningkat tajam dibandingkan pencapaian tahun 2011. Secara rata­rata, pada tahun 2011, produksi rumput laut Nunukan sebesar 500 ton per bulan. Pada tahun itu saja Nunukan telah memberikan kontribusi 84% lebih dari total rumput laut kering yang diproduksi di Kalimantan Timur.

(32)

Suprianto, dalam gurauannya pernah mengatakan bahwa rumput laut di Nunukan mungkin dapat dijadikan salah satu keajaiban dunia.

Umumnya yang menggeluti sektor budidaya rumput laut adalah masyarakat pesisir. Namun tidak jarang, ada diantara pembudidaya yang memiliki latar belakang birokrat. Komoditas ini dianggap cukup menjanjikan dalam menopang perekonomian dan menambah penghasilan masyarakat.

Banyak kalangan petani yang semula sudah “gantung tali” kembali menggeluti usaha rumput laut karena menguatnya harga rumput laut di pasaran. Bahkan banyak juga pembudidaya baru yang bermunculan. Tentunya hal ini tidak dapat disalahkan dari keputusannya alih profesi. Rekan­rekannya yang telah lebih dahulu menggeluti usaha budidaya rumput laut dilihat lebih berhasil. Penghasilan yang diperoleh sebagai pembudidaya rumput laut ternyata lebih tinggi daripada nelayan.

(33)

Mereka menyukai usaha barunya karena panen sudah dapat di la­ kukan minimal 45 hari setelah menanam. Karena itu, merogoh kocek untuk modal awal dianggap setimpal oleh pembudidaya karena pengembaliannya dapat diperoleh dengan cepat.

Biasanya modal awal diperlukan untuk membeli tali, membuat fondasi di laut lepas, dan biaya pengikatan bibit. Secara umum, para pembudidaya mengeluarkan modal awal sekitar Rp10 juta. Dari nilai tersebut, pembudidaya dapat memasang bentangan sebanyak 100 utas tali. Jika mekanisme

(34)

pembudidayaan yang dilakukan tepat, 100 utas tali tersebut diperkirakan dapat menghasilkan panen sebanyak satu ton rumput laut kering. Dengan kata lain, panen yang dihasilkan secara umum sekitar 10 kilogram per bentang tali.

Dalam beberapa tahun perjalanannya, budidaya rumput laut telah, secara kasat mata, memberi manfaat nyata bagi kesejahteraan masyarakat. Hal ini dapat dilihat, salah satunya, dari belanja masyarakat. Konsumsi barang­barang kebutuhan sekunder, bahkan tersier, sudah semakin terpenuhi. Sepeda motor, misalnya, kendaraan ini dahulu merupakan barang yang jarang ditemui di jalan­jalan daerah Nunukan. Setelah ada budidaya rumput laut, jalan­jalan di Nunukan terlihat makin padat dengan kendaraan tersebut. Begitu juga dengan barang­barang elektronik. Laptop dan kamera digital, misalnya, bukan lagi barang yang asing bagi masyarakat Nunukan.

Tidak hanya kepala keluarga, manfaat budidaya rumput laut juga dinikmati oleh anggota keluarga lainnya seperti ibu dan anak. Mereka turut memperoleh tambahan penghasilan dari rumput laut. Sejak tahun 2008, mudah ditemui pemandangan sejumlah ibu­ibu beramai­ramai memasang bibit rumput laut. Saat itu, pemasangan satu bentang tali dihargai Rp5.000. Selain ibu­ibu, anak­anak juga dapat ikut berpartisipasi.

(35)

Budidaya rumput laut tidak hanya menguntungkan bagi pembudidaya, tetapi juga nelayan tangkap. Keberadaan budidaya itu membuat ikan­ikan berkumpul di sekitar rumput laut. Sering terjadi, ketika pembudidaya memukat rumput laut, ikan­ikan juga terangkat. Selain ikan, udang juga ikut berlindung di bawah rumput laut. Nelayan penangkap udang mengakui, sebelum ada budidaya rumput laut, mereka hanya mendapat sekitar 10­20 kg dalam sekali tangkap. Setelah ada rumput laut, udang yang diangkat bisa mencapai 30 kg.

Tapi beberapa jenis ikan dapat menjadi ancaman bagi budidaya rumput laut, misalnya ikan baronang. Selain itu, kura­kura dan penyu juga menjadi ancaman budidaya rumput laut. Karena itu, beberapa lahan budidaya rumput laut dikelilingi pukat. Ini dipasang untuk menghalangi ikan atau hewan laut lainnya yang berusaha memakan rumput laut. Selain oleh predator, rumput laut juga terancam oleh keberadaan hama parasit. Hama itu menempel di batang rumput laut sehingga menghambat pertumbuhan rumput laut. Tapi menariknya, rumput laut di Nunukan relatif tidak mudah terserang hama.

Budidaya rumput laut di Nunukan tidak banyak dipengaruhi cuaca. Hal ini karena Nunukan beriklim non zona musim, jadi hujan turun merata sepanjang tahun. Kondisi ini di satu sisi menguntungkan, tapi di sisi lain menjadi tantangan tersendiri bagi pembudidaya. Pasalnya, batas kandungan rumput laut yang sempurna agak sulit dicapai. Di Jawa atau Sulawesi, penjemuran rumput laut dapat mencapai hasil yang maksimal saat musim kemarau. Saat kemarau, penjemuran rumput laut pun dapat ditinggal tanpa takut hujan turun. Sedangkan di Nunukan, pembudidaya harus terus­menerus mengawasi rum put lautnya. Hujan dapat tiba­tiba turun di Nunukan meskipun cuaca terlihat cerah.

(36)

Hal yang juga menarik mengenai budidaya rumput laut di Nunukan adalah karakter daerahnya. Rumput laut di Nunukan dibudidayakan di lautan lepas. Di daerah lain, lokasi budidaya rumput laut diusahakan terhindar dari arus kuat. Arus yang kuat dinilai dapat merontokkan rumput laut. Tapi di Nunukan, kuatnya arus justru memberikan manfaat bagi budidaya rumput laut. Rumput laut yang dihasilkan diklaim semakin bagus saat arus kuat. Karena kondisi awal lokasi budidaya dan bibit yang digunakan sudah bagus. Kalau dari awal sudah ditanam di arus yang kuat, kondisi rumput laut akan semakin bagus. Tapi di daerah lain, kondisi lokasi dan bibit mungkin tidak sebagus di Nunukan, sehingga tidak tahan terhadap kuatnya arus air.

Kemampuan menghadapi persoalan teknis ditambah dengan kondisi alam Nunukan dalam pengembangan rumput laut, justru menimbulkan

(37)

masalah jika tidak dibarengi dengan penjualan dan pemasaran yang memadai. Kondisi yang dihadapi pembudidaya rumput laut Nunukan adalah kelebihan produksi. Jika kualitas rumput laut turun, itu lebih dikarenakan para pembudidaya kewalahan menghadapi kelebihan produksi.

Saat ini, hasil budidaya rumput laut di Nunukan sudah sampai ke tahap barang jadi. Artinya barang itu sudah dapat langsung dinikmati konsumen. Produk olahan rumput laut di Nunukan dapat ditemui dalam bentuk makanan. Produk ini dijajakan di “pintu gerbang” daerah tersebut, yaitu bandar udara dan pelabuhan. Selain itu, hasil produksi olahan rumput laut juga bisa ditemui di UKM Center di Nunukan. Rumput laut diklaim kaya akan serat sehingga sehat untuk dikonsumsi.

(38)

PERAHU berjejer rapi di pinggir perairan Nunukan. Saat itu para nelayan tangkap baru saja menambatkan perahunya selepas bekerja. Ikan­ ikan lalu dibawa untuk segera diuangkan. Biasanya, ikan­ikan dijual ke negara sebelah, yaitu Malaysia. Uang hasil keringatnya bisa berbentuk rupiah ataupun ringgit.

(39)

Habir, salah satu nelayan tangkap yang beralih menjadi pembudidaya, menyatakan usaha budidaya rumput laut sangat menjanjikan. “Selama saya di Nunukan, mungkin hampir 20 tahun, pekerjaan inilah yang sangat menjanjikan bagi ekonomi masyarakat,” ujarnya.

Selama di Nunukan, Habir telah mencoba berbagai bidang usaha. Dia awalnya menjalankan usaha pengupasan kepiting. Setelah itu dia beralih ke usaha penangkapan ikan. Dia biayai orang­orang untuk menangkap ikan. Tapi perkembangan usahanya dirasakan begitu­begitu saja. Hampir tidak ada kemajuan. Baru setelah ada rumput laut, Habir merasakan potensi besar dari usaha budidaya itu.

Namun hasil yang besar butuh pengorbanan besar. Habir dan rekan­ rekannya sesama pembudidaya harus menghadapi tengkulak. Mereka berhadapan dengan harga yang dikuasai tengkulak. Harga rumput laut hanya dihargai Rp5.000. Jika itu terus berlangsung, para pembudidaya bisa merugi.

(40)

dan pembentukan harga belum dikuasainya. Mereka pun kemudian terpaksa bergantung pada harga yang diberikan pengepul.

Padahal, jumlah pembudidaya lebih banyak dibandingkan pengepul. Hanya karena pembudidaya berjalan sendiri­sendiri, pengepul menjadi lebih berkuasa atas pembentukan harga. Ditambah lagi, pembudidaya juga tidak mendapatkan informasi yang simetris tentang harga. Jadi meskipun harga yang dibayar perusahaan pengolahan meningkat, pembudidaya tetap mendapatkan harga lama yang rendah dari pengepul.

Untuk meningkatkan produktivitas petani, adalah dengan men­ sejahterakan terlebih dahulu pembudidayanya. Agar pembudidaya

Inisiasi ini muncul

dari pelatihan yang

diadakan selama

seminggu oleh

Bank Indonesia,

dengan dibidani

oleh petugas DKP

dan penyuluh

lapangan.

(41)

dapat sejahtera, maka hasil produksi harus dibeli dengan harga yang menguntungkan dari sisi petani. Agar dapat ter­ kompensasikan baik dari segi waktu, biaya serta usaha yang telah dikorbankan para pe­ tani. Untuk itu agar pe tani kon­ sentrasi dalam mening katkan produksinya, pe tani diharapkan

Perairan yang keruh, hasil panen pun perlu special treatment

(42)

tidak perlu memikirkan proses pemasar­ an dan proses pasca panen.

Karena itu, muncul inisiasi agar tidak selamanya bergantung kepada tengku­ lak. Mereka lalu mendirikan Gapokan bernama “Harapan Mandiri”. Inisiasi ini muncul dari pelatihan yang diadakan selama seminggu oleh Bank Indonesia, dengan dibidani oleh petugas DKP dan penyuluh lapangan. Pelatihan dinamika kelompok, baris berbaris dengan mili­ ter, outbond, dan brainstorming. Hal itu ternyata menyadarkan sebagian pembu­ didaya bahwa dengan bersatu itu lebih

“Mungkin ini

sudah diatur

‘Yang di atas’

bahwa nanti akan

didatangkan

seperti ini,” ujar

Habir.

(43)

baik. Dengan kekuat an bersama, mereka merasa lebih kuat mengha­ dapi para tengkulak dan permasalahan internal sendiri.

Kehadiran Gapokan lantas mem berikan daya tawar yang lebih besar bagi pembudidaya. Para pengepul tidak lagi menguasai harga. Habir dan rekan­rekannya kini bisa mendapatkan harga jual yang lebih tinggi. Habir pun diangkat menjadi Ketua Gapokan.

(44)

antara harga dengan kualitas ini menjadi salah satu kekhawatiran Habir. “Antara harga dengan kualitas ini kurang sejalan,” tutur Habir.

Habir mengakui para pembudidaya tidak berpikir jangka panjang dalam menjual hasil usahanya. Dengan kualitas yang rendah, penjualan rumput laut dari Nunukan ke depan bisa jatuh. Mereka hanya memikirkan bagaimana agar hasil budidayanya cepat terjual.

Karena itu, Habir menginginkan adanya kontrol kualitas sebelum rumput laut keluar dari Nunukan. Kontrol itu dapat menjadi

(45)

standar kualitas rumput laut anggota Gapokan. Habir berusaha mempertahankan kualitas ini dengan nekat. Dia mengajak berbagai pihak membicarakan masalah ini, termasuk pemerintah daerah. Dia juga rajin mengikuti studi banding di daerah­daerah lain.

Ternyata hasil jerih payah Habir tidak sia­sia. Hasil budidaya rumput laut Nunukan mendapat acungan jempol dari daerah­daerah lain. Cara kerja pembudidaya rumput laut Nunukan juga ikut mendapat apresiasi. Menurut Habir, faktor sumber daya manusia menjadi salah satu yang dominan mempengaruhi kesuksesan budidaya rumput laut. Selain itu, kesuksesan rumput laut juga diakuinya sebagai rahmat dari Tuhan. “Mungkin ini sudah diatur ‘Yang di atas’ bahwa nanti akan didatangkan seperti ini,” ujar Habir.

(46)

PERHATIAN pemerintah daerah untuk pengembangan produksi rumput laut di Nunukan salah satunya adalah dengan mengalokasikan anggaran melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD), sambil melakukan negosiasi dengan lembaga keuangan, seperti

(47)

perbankan untuk bantuan mo­ dal.

Langkah tersebut berdampak positif terhadap peningkatan produksi dan secara tidak lang­ sung juga dapat meningkatkan pendapatan pembudidaya rum­ put laut itu sendiri.

Pemerintah Daerah Kabupa­ ten Nunukan mengharapkan semua pihak dapat bahu­mem­ bahu mengembangkan budi­ daya rumput laut, baik dari ke terampilannya, kelembagaan­ nya, hingga kualitas rumput laut­ nya.

Selain itu, pemerintah dae­ rah juga berusaha membuat iklim usaha yang kondusif bagi investasi. Para investor diharap­ kan tidak ragu menanamkan investasinya di sektor budidaya

(48)

rumput laut di Nunukan. Ke depan, pemerintah menargetkan ada pembangunan pabrik pengolahan rumput laut di Nunukan.

Pemerintah daerah tidak meng khu suskan target kedatangan investor dari daerah atau negara tertentu. Investor dari manapun dipersilakan datang dan berinvestasi di Nunukan, termasuk dari Malaysia.

Meskipun ada sentimen negatif dari beberapa pihak mengenai Ma­ laysia, namun pihak pemerintah daerah menyatakan hubungannya

Pemerintah

daerah yakin

bahwa kondisi

budidaya rumput

laut di Nunukan

memberikan

peluang besar

bagi investor

untuk meraup

keuntungan.

(49)

dengan Malaysia sejauh ini terbilang baik. Sentimen ter ­ sebut dinilai pe ­ merintah daerah ter lalu dibumbui.

P e m e r i n t a h daerah meman­ faatkan ber bagai

media promosi untuk menarik

investor, mulai dari mulut ke mulut hingga media elektronik. Peme rintah mengharapkan investor datang langsung ke Nunukan dan melihat sen­ diri bagaimana kondisi budidaya rumput lautnya.

(50)

Pemerintah daerah yakin bahwa kondisi budidaya rumput laut di Nunukan memberikan peluang besar bagi investor untuk meraup keuntungan. Sektor rumput laut ini diyakini akan benar­benar menjadi sektor unggulan Nunukan.

Bagaimana pemerintah daerah menghadapi sepak terjang para tengkulak di Nunukan? Kebijakan Pemerintah Daerah Nunukan saat ini masih dalam taraf sekedar mem­ berikan himbauan saja.

Jika masyarakat menyadari bahwa tengkulak tidak lagi meng­ untungkan, tentu masya rakat de­ ngan sendirinya akan menjauhi. Tapi ma salahnya, tengkulak ma ­

Keterlibatan

pemerintah daerah

sangat dibutuhkan,

khususnya dalam hal

untuk mencari investor

atau pembeli. Sesuai

data Dinas Kelautan

dan Perikanan

Kabupaten Nunukan

tahun 2013, jumlah

produksi rumput laut

mencapai 800 ton

setiap bulan.

(51)

kin ketat mengikat para pembudidaya. Tidak hanya di sisi hilir, tengkulak juga mengikat pembudi­ daya dari sisi hulu.

Artinya tengku­ lak juga melakukan pembinaan dari awal memulai usa­ ha. Permodalan di­ berikan, begitu juga alat­alat operasional

budidaya. Hal inilah yang menjadi salah satu tantang an pemerintah jika ingin agar tengkulak tidak bisa mempermainkan harga.

“Saat ini belum sampai tingkat yang parah. Saya rasa masyarakat berurusan dengan tengkulak juga karena tidak ada saluran lain. Mungkin tindakan konkrit baru bisa kita ambil setelah ada infrastruktur dan kemudahan­kemudahan,” papar Bupati Nunukan, Basri.

Kawasan budidaya rumput laut terfokus pada lokasi masyarakat nelayan Mamolo Kelurahan Tanjung Harapan, Kampung Nelayan

Pemerintah daerah telah melakukan

kerja sama dengan dua perusahaan

besar (eksportir) di Jakarta yang selama

ini menjadi mitra nelayan rumput laut

di daerahnya.

(52)

Kelurahan Mansapa, Sedadap Kelurahan Nunukan Selatan, kawasan Pelabuhan Tunon Taka Kelurahan Nunukan Timur, dan Jalan Tanjung Kelurahan Nunukan Barat.

Tidak banyak orang tahu, sejumlah hasil penelitian mengatakan bahwa kualitas produksi rumput laut di daerah Nunukan merupakan yang terbaik di Pulau Kalimantan.

Saat ini, masyarakat pesisir di Kabupaten Nunukan telah memfokuskan untuk menjadi pembudidaya dengan menyediakan segala fasilitas yang dibutuhkan, seperti penjemuran karena terbukti hasilnya mampu mengangkat perekonomiannya.

Namun harga penjualannya masih relatif sangat luktuatif karena adanya permainan dari para tengkulak. Tetapi hal itu tidak pernah disesali oleh para petani rumput laut, karena hanya melalui tengkulak, hasil produksi rumput laut mereka dapat terjual.

Keterlibatan pemerintah daerah sangat dibutuhkan, khususnya dalam hal untuk mencari investor atau pembeli. Sesuai data Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Nunukan tahun 2013, jumlah

(53)

produksi rumput laut mencapai 800 ton setiap bulan.

Semakin me­ ningkatnya hasil produksi dari wak­ tu ke waktu, maka pemerintah dae­ rah harus terus mencari jalan un­ tuk dapat meng­

akomodasi seluruh produksi rumput laut di daerahnya,

serta menstabilkan harga dengan menjalin kerjasama dan kemitraan de­ ngan pengusaha berskala besar.

Pemerintah Kabupaten Nunukan mengikuti dengan seksama proses budidaya rumput laut. Oleh karena itu, bantuan yang diberikannya pun sesuai dengan proses budidaya tersebut. Pemerintah berusaha agar pembudidaya dapat terbantu, mulai dari pemilihan bibit hingga pasca panennya.

Dalam pembibitan, pemerintah menyediakan penangkaran. Bibit rumput laut didatangkan dari luar Nunukan. Daerah Kebun Bibit seperti dari Takalar, Sulawesi Selatan menjadi salah satu sumber bibit. Dengan banyaknya alternatif penyedia bibit dari luar, penangkar bibit dapat membandingkan kualitas antar bibit.

Setelah didatangkan, bibit ditangkarkan. Penangkar bibit dilakukan oleh masing­masing kelompok perikanan. Bibit yang telah ditangkarkan ini nantinya akan dibeli oleh para anggotanya (pembudidaya). Jadi pembudidaya tidak perlu repot mencari bibit unggul bagi calon tanamannya. Penangkar bibit juga harus dapat menjaga kualitas bibitnya agar tidak mengecewakan pembudidaya.

(54)

tahun dengan tujuan agar kualitas rumput laut senantiasa ter­ jaga.

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Nunukan, Suprianto, menjelaskan bahwa pemerintah daerah telah me­ lakukan kerja sama dengan dua perusahaan besar (eksportir) di Jakarta yang selama ini menjadi mitra nelayan rumput laut di daerahnya.

Suprianto juga menambahkan bahwa potensi rumput laut di Kabupaten Nunukan yang produksinya sudah sangat luar biasa setiap bulannya itu, telah membuat perusahaan raksasa asal Sulawesi Selatan, Bosowa, tertarik masuk ke Nunukan.

Rumput laut sebe narnya merupakan ko moditas yang relatif mudah dibudidayakan. Bahkan cukup me naruh nya di laut, rumput laut dapat tumbuh hidup dengan sendirinya.

Akibatnya banyak masyarakat memandang remeh budidaya rumput laut. Usaha budidaya ini bahkan hanya dianggap menjadi pekerjaan

(55)

sambilan bagi sekelompok orang. Bahkan ketika panen tiba, tidak sedikit pembudidaya yang mengabaikannya.

Pemerintah pada awalnya sering memberikan bantuan tunai kepada pembudidaya rumput laut. Tapi bantuan ini kemudian dinilai kurang efektif dalam mengembangkan budidaya rumput laut.

Pemerintah mengharapkan bantuan tunai yang sudah diberikannya itu digunakan oleh pembudidaya rumput laut untuk membeli bibit, alat­alat budidaya, atau lainnya. Namun kenyataannya, malah banyak digunakan untuk membeli barang­barang konsumsi, seperti televisi dan sepeda motor.

Mentalitas pembudidaya di Nunukan belum berjiwa pengusaha. Mungkin karena saat itu budidaya rumput laut belum terlihat menjanjikan. Bahkan ketika pemerintah memberikan bantuan, berupa tali untuk mengikat rumput laut, para pembudidaya malah menjualnya.

Setelah itu, pola bantuan diubah. Kini bantuan lebih diarahkan pada peningkatan kompetensi budidaya rumput laut. Jadi sifatnya berupa pendampingan. Bantuan tidak diberikan sembarangan. Pembudidaya akan diseleksi lebih dahulu.

Mereka yang dinilai memiliki motivasi untuk serius mendalami usaha budidaya rumput laut yang akan mendapat bantuan. Selain itu, minat dan konsistensi pembudidaya juga dipertimbangkan. Dengan adanya semacam seleksi itu, bantuan diharapkan akan lebih efektif.

Pernah suatu ketika, pihak pemerintah daerah memberikan bantuan pompa air sebanyak 14 unit. Pompa tersebut lalu disebarkan ke kelompok­kelompok Gapokan. Kelompok yang dinilai memberikan

support besar ke Gapokan mendapat dua pompa air, sementara kelompok yang kurang atau tidak memberikan dukungan, hanya mendapat satu. Cara ini diharapkan dapat menjadi insentif bagi para pembudidaya untuk terus semangat dalam berusaha.

(56)

Pemerintah akhirnya memediasi dan melakukan penertiban lahan budidaya.

Tapi masyarakat tidak seluruhnya mudah diatur. Pemerintah daerah sudah membuat aturan agar masyarakat melaporkan lahan usahanya, namun sayangnya hanya sebagian saja yang melapor.

Belum lagi dengan datangnya penduduk dari luar daerah tersebut. Perseteruan ini bahkan dapat menyingkirkan lapangan usaha penduduk setempat. Hal ini dapat terjadi terutama jika mekanisme yang digunakan “siapa cepat, dia dapat”. Karena itu, pihak pemerintah sempat mengeluarkan aturan untuk memprioritaskan penduduk setempat.

Bagi penduduk yang sudah memiliki area budidaya, pemerintah melakukan pengaturan lokasinya. Penduduk di luar daerah diarahkan untuk melakukan budidaya di tempat lain, sementara penduduk setempat dipersilakan untuk menanam rumput laut di area yang telah disediakan.

Masalah listrik yang sering padam, masih sering ditemui, meskipun kini intensitasnya mulai berkurang setiap harinya. Listrik ke depannya diyakini sudah bisa masuk ke semua industri kecil.

(57)

daerah­daerah lain. Market ini terkait dengan geograis. Sementara geograis terkait dengan transportasi dan infrastruktur.

Sarana transportasi di Nunukan, menurut pemerintah daerah setempat, sudah cukup memadai. Pelabuhan besar sudah ada. Begitu pula dengan bandar udara. Saat ini pemerintah daerah masih menganalisis permasalahan apa yang sebenarnya menjadi penghambat paling besar dalam mengundang investor.

Meskipun produksi budidaya rumput laut meningkat, intensitas kedatangan kapal pengangkut tidak bisa menandingi. Kapal pengangkut hanya datang sebulan sekali. Menurut pemerintah daerah, hal ini terjadi karena pengangkutan masih dikerjakan sendiri­sendiri.

(58)

DALAM rangka meningkatkan pemberdayaan ekonomi daerah, Bank Indonesia memandang perlu untuk meningkatkan peran sebagai upaya memperkuat struktur ekonomi nasional bagi pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.

Pelaksanaan pengembangan rumput laut di Kabupaten Nunukan merupakan salah satu upaya dalam mengembangkan ekonomi di daerah perbatasan dan tertinggal, sehingga daerah tersebut dapat menjadi gerbang aktivitas ekonomi, sekaligus bentuk nyata dukungan Bank Indonesia terhadap perkembangan UMKM.

(59)

Bahkan rumput laut ditetapkan sebagai komoditas unggulan kabupaten Nunukan, menggeser kakao yang menjadi produk unggulan sebelumnya. Salah satu dukungan terhadap penguatan klaster rumput laut, dialokasikannya program bernilai sekitar Rp1,1 miliar ini merupakan pilot project yang dilakukan di Desa Tanjung Harapan untuk membangun gudang penyimpanan rumput laut kering dan lantai penjemuran rumput laut.

Selain itu, pemerintah daerah melalui Dinas Kelautan dan Perikanan menyiapkan dana untuk program­program bantuan terhadap pengembangan rumput laut. Bantuan itu diberikan sejalan dengan harapan akan kemajuan sektor budidaya rumput laut ini.

Budidaya rumput laut telah menjadi perhatian pemerintah daerah, karena semakin banyaknya penduduk yang menjalankan usaha ini. Hingga Juli 2013, ada sekitar 1.632 rumah tangga yang terlibat dalam

(60)

usaha budidaya rumput laut. Angka itu belum termasuk buruh­ buruh yang bekerja pada budidaya tersebut.

Buruh­buruh tersebut juga cukup mendapat keuntungan dari rumput laut. Mereka dapat memasang 12 bentang dalam satu hari. Pemasang­ an satu bentang dihargai Rp5.000. Jadi para buruh tersebut rata­rata bisa memperoleh Rp60.000.

Buruh tersebut tidak hanya ber­ asal dari daerah penghasil rumput laut. Banyak buruh juga berdatang­ an dari daerah lain setelah me­ ngetahui potensi pendapatan yang bisa mereka peroleh. Karena itu, usaha budidaya rumput laut me­ miliki dampak yang luas hingga ke daerah­daerah lain.

(61)

Para pembudidaya ma kin bersemangat karena harga rumput laut di Nunukan relatif terjaga di tingkat yang tinggi. Hal ini dapat dipertahankan selama kualitas rumput laut juga dijaga oleh para pembudidaya.

Juli 2013, harga rum ­ put laut di Nunukan mencapai Rp10.000. Har­ ga ini merupakan yang tertinggi di ban dingkan

(62)

daerah­daerah lain di Kalimantan Timur maupun Kalimantan Utara. Di Bontang, misalnya, harga rumput lautnya hanya sekitar Rp7.000.

Aktivitas budidaya rumput laut Nunukan terus mendapat dukungan dari pemerintah daerah. Tahun anggaran 2013, pemerintah daerah menggelontorkan dana miliaran rupiah untuk budidaya rumput laut

“Daerah lain, kualitas le bih bagus, tetapi harganya lebih rendah. Kita bersyu-kur, Bank Indonesia bantu kita sehingga pemasaran lebih bagus. Mudah-mu-dahan Bank Indonesia bisa terus membantu. Nunukan masih tetap dipantau. Dan Bank Indonesia bisa men-ciptakan fenomena se perti ini di tempat lain,” ujar Suprianto.

Foto bersama Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kalimantan Timur, Ameriza M Moesa, Deputi KPw BI Kaltim Teguh Setiadi, Pimpinan Bank Kaltim Cabang Nunukan, dan Gapokan Harapan Mandiri.

(63)

di Nunukan. Dana tersebut digunakan untuk pembelian bibit maupun pembangunan sarana dan prasarana yang dibutuhkan.

“Saya sangat berterima kasih. Ini bukan hanya cerita, tetapi bukti. Faktanya, harga rumput laut di Nunukan sekarang bagus. Ini adalah ha­ sil bantuan Bank Indonesia. Terus terang saja, kita dari Dinas Perikanan ini lebih ahli memproduksi daripada memasarkan, dan Bank Indonesia membantu terutama dalam hal pasar. Tidak hanya pasar, termasuk pas­ ca panennya. Budidaya juga dibantu. Tapi terutama pasar yang paling dirasakan, sampai bisa memimpin pasar, sehingga pengepul ikut harga kita,” ujar Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Nunukan, Suprianto.

Lebih lanjut, Suprianto juga menambahkan, “Daerah lain, kualitas lebih bagus, tetapi harganya lebih rendah. Kita bersyukur, Bank Indonesia bantu kita sehingga pemasaran lebih bagus.Mudah­mudahan Bank Indonesia bisa terus membantu. Nunukan masih tetap dipantau. Dan Bank Indonesia bisa menciptakan fenomena seperti ini di tempat lain.” Kerja sama ini dinilai Suprianto sangat baik.

(64)

PULUHAN penduduk telah berkumpul memadati ruangan sederhana berbahan dasar kayu. Tanpa kursi, mereka duduk lesehan bersila di lantai kayu itu. Mereka dengan sabar menanti di mulainya acara. Beberapa di antara mereka berbincang ringan satu sama lain, sementara beberapa lainnya diam menunggu seolah menyimpan pemikiran mendalam terkait acara yang akan berlangsung.

Di hadapan mereka, duduk berjajar sejumlah orang dengan penampilan yang sedikit berbeda dari penduduk setempat. Sebuah

sound system seadanya dipersiapkan untuk memastikan informasi yang disampaikan dapat didengar seluruh peserta acara.

Dari ruangan yang sederhana itu muncul ide­ide hingga berbagai pengetahuan yang mencerahkan. Para penduduk Nunukan yang merupakan pembudidaya rumput laut tersebut mendapat banyak informasi mengenai penguatan kelembagaan dan manajemen keuangan dari dalam ruangan tersebut.

Tema seperti itu tentu merupakan hal baru bagi para pembudidaya. Mereka yang sebelumnya hanya memikirkan teknis budidaya rumput

(65)

laut kini juga mengetahui bagaimana menempatkan posisinya agar harga jual rumput laut tidak tersungkur.

Pelatihan­pelatihan seperti itu telah intens diadakan oleh Bank Indonesia di Nunukan. Bahkan pelatihan juga tidak jarang diadakan di luar ruangan dengan beratapkan terpal seadanya. Fasilitas paling mewah dari pelatihan­pelatihan yang diadakan Bank Indonesia di Nunukan mungkin hanya berupa pengeras suara, laptop, dan proyektor. Fasilitas ini memang tidak semewah acara­acara pelatihan di kota­kota besar, yang biasa diadakan di gedung mewah dengan pendingin udara yang sangat nyaman bagi peserta dan pembicara.

Tapi bagian yang paling penting dari pelatihan bukanlah fasilitasnya, melainkan isi materi yang disampaikan. Dari seluruh pelatihan di Nunukan yang diadakan Bank Indonesia, hasilnya terbukti efektif memberikan manfaat bagi penduduk setempat.

Keterlibatan Bank Indonesia dalam pengembangan budidaya rumput laut di Nunukan berawal dari inisiasi pemerintah daerah setempat. Kepala Bidang Budidaya Perikanan Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Nunukan Suaedi mengatakan untuk meningkatkan harga jual rumput laut para petani di Nunukan, pihaknya menggandeng Bank Indonesia.

Karena itu, selain memberikan pelatihan kepada para petani rumput laut, Bank Indonesia juga membuka jalan bagi petani untuk dapat

(66)

menjual langsung hasil produksi ke pabrik­pabrik pengolahan di daerah lain. Jakarta dan Surabaya menjadi target distribusi penjualan hasil budidaya rumput laut tersebut. Suaedi meyakini kalau DKP sendiri yang mendatangi pabrik pasti dipandang sebelah mata. Karena itulah, DKP berkoordinasi dengan Bank Indonesia agar mendapat fasilitas akses ke eksportir dan industri besar pengolahan rumput laut di Jakarta dan Surabaya.

Akan tetapi, pada prakteknya banyak khalayak termasuk petani rumput laut waktu itu bertanya­tanya, apakah ada hubungannya antara perbankan dengan rumput laut? Sebagian lain menyangsikan, apakah Bank Indonesia dapat menaikkan harga rumput laut kami? Waktu itu, harga rumput laut memang susah beranjak ke angka Rp6.000. Bahkan setelah kesekian kali Bank Indonesia bersama Dinas Kelautan memberikan pelatihan, masih saja ada komplain dari para pembudidaya. Masyarakat berpikir, bagaimana ini, kami sudah mengikuti berkali­kali arahan dan pelatihan dari BI, kok harganya tidak naik juga? Malah ada pembudidaya yang menantang, apabila BI dapat menaikkan harga dengan selisih Rp1.000/kg dari sebelumnya mereka bersedia disuruh untuk melakukan apa saja. Tapi Bank Indonesia selalu menekankan bahwa kalau ingin sukses menjual yang paling penting adalah kualitas produk (masa

(67)

tanam dan pasca panen) dan kekompakan petani. Sekarang, pertanyaan tentang “harga” rumput laut sudah tidak ada lagi dikalangan para pembudidaya. Saat ini yang terpikirkan oleh pembudidaya rumput laut adalah bagaimana caranya agar dapat memproduksi sebesar­besarnya dan menjual sebanyak­banyaknya.

Dengan difasilitasi Bank Indonesia perlahan tapi pasti perubahan har­ ga itu terjadi, pembudidaya rumput laut pun merasakan hasilnya. DKP Nunukan berhasil masuk ke PT Asia Sejahtera Mina (Surabaya) dan PT Gu­ mindo Perkasa Industri (Jakarta). Suaedi me ngatakan pihaknya sengaja memi lih dua per usahaan besar ini karena tujuan pasar yang berbeda. Kalau tujuan ekspor PT Asia Sejahtera Mina adalah Cina, PT Gumindo Per­ kasa Industri memiliki tujuan ekspor ke negara­negara Ero pa. Baik itu PT Asia Sejahtera Mina atau PT Gumindo Perkasa Industri, hubungan baik dengan keduanya harus dijaga dan dipelihara.

Kemitraan antara masyarakat budidaya rumput laut de ngan per­ usahaan awal mulanya me nyepakati tentang harga rumput laut. Hal yang disepakati waktu itu bahwa penetapan harga rumput laut harus mempertimbangkan berbagai hal antara lain kualitas berstandar, kurs mata uang dan harga tingkat global. Menurut Tauik, yang pada saat itu mewakili BI untuk mediasi antara pembudidaya dan perusahaan, menga­ takan “waktu itu juga dibicarakan seperti apa kualitas rumput laut yang baik agar bisa diterima pasar” ujarnya. Hal itulah yang menjadi bekal bagi pembudidaya untuk terus memperbaiki kualitas.

(68)

nguntungkan. Ini berkat support BI dalam menunjang pengembangan ekonomi rakyat Nunukan.

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Nunukan Suprianto menyampaikan terima kasihnya kepada Bank Indonesia atas usahanya itu. “Kita berterima kasih kepada Bank Indonesia karena memfasilitasi kita mempertemukan antara kita dengan pabrik dan eksportir,” ujarnya.

Tapi kedua perusahaan itu harus diperlakukan berbeda. Kenapa? PT Asia Sejahtera Mina umumnya langsung melakukan ekspor rumput laut yang dikirim dari Nunukan. Sementara itu, PT Gumindo Perkasa Industri melakukan pengolahan terlebih dahulu. PT Asia Sejahtera Mina yang merupakan eksportir umumnya lebih mengutamakan warna rumput laut, sedangkan PT Gumindo Perkasa Industri sebagai industri manufaktur umumnya lebih mengutamakan usia panennya.

Karena itu juga, para pembudidaya rumput laut di Nunukan tidak bergantung sepenuhnya pada satu kondisi. Jika ekspor rumput laut sedang lesu, pembudidaya bisa mengutamakan hasil panennya untuk industri pengolahan. Dengan begitu, pembudidaya harus memperhatikan dan menyesuaikan proses budidaya dengan kondisi terkini pasar rumput laut.

Bukan hanya manusianya yang dikembangkan, Bank Indonesia juga memberikan bantuan isik. Bank Indonesia pernah memberikan mesin

press rumput laut pada 2012. Dengan begitu, jumlah rumput laut yang dimasukkan ke dalam kontainer bisa lebih banyak daripada sebelumnya.

Tanpa mesin itu, satu kontainer hanya dapat menampung sekitar 12 ton rumput laut. Kini 20 ton rumput laut dapat dimuat dalam satu kontainer dengan adanya mesin tersebut. Jadi biaya pengiriman dapat ditekan dan pendapatan yang diterima petani juga meningkat.

Itu hanya segelintir bantuan yang diberikan Bank Indonesia. Contoh bantuan mesin lainnya yaitu mesin analisis Clean Anhydrous Weed

(69)

Kehadiran bantuan Bank Indonesia di Nunukan sangat tepat. Ini jadi pelengkap keahlian pembudidaya rumput laut sebelumnya. Para pembudidaya umumnya lebih ahli dalam hal teknis produksi. Tapi dalam pemasaran, mereka bukan ahlinya. Pengetahuan seperti pemasaran itulah yang dibawa oleh Bank Indonesia ke Nunukan. Hal ini juga diakui Suprianto. “Terus terang saja, kita dari Dinas Perikanan ini lebih ahli memproduksi daripada memasarkan,” ungkap Suprianto.

Bahkan Bank Indonesia juga ikut membantu dalam hal budidaya dan pasca panennya. Lewat solusi yang ditawarkan Bank Indonesia, para pembudidaya dapat menguasai pasar. Mereka jadi lebih percaya diri menghadapi pengepul. Mereka memiliki kuasa yang lebih besar atas harga, bukan lagi pengepul.

Bupati Nunukan Basri mengharapkan Bank Indonesia dapat te­ rus meningkatkan perannya. “Ke depan, kita ingin Bank Indonesia melakukan pembinaan langsung ke lapangan, mungkin dengan bantuan modal langsung yang ringan, sehingga bisa mengurangi, baik itu tengkulak maupun lainnya,” ungkapnya.

Jika para pembudidaya melihat daerah budidaya rumput laut di luar Nunukan, mereka patut bersyukur. Di daerah yang kualitas rumput lautnya lebih bagus daripada Nunukan, pembudidaya justru mendapatkan harga rendah. Dari fenomena ini mereka dapat mengetahui, bukan hanya teknis budidaya yang perlu dikuasai. Pemasaran dan daya tawar juga ikut mengangkat harga rumput laut di pasar.

Bank Indonesia sudah sejak lama memberikan bantuannya kepada masyarakat Nunukan. Selama periode tahun 2011 hingga 2012 saja,

Forum rembug yang cukup efektif untuk mengungkapkan permasalahan yang

(70)

Bank Indonesia telah mengadakan pelatihan mulai dari motivasi hingga teknik budidaya rumput laut. Pelatihan­pelatihan itu antara lain:

• Seminar kewirausahaan dan bisnis rumput laut. Seminar ini meng ha­ dirkan motivator Ujang Koswara dari Green Line Care sebagai pembicara. Ujang adalah penemu Listrik Mandiri Rakyat, yaitu lampu bertenaga aki. Melalui temuannya, Ujang berupaya agar daerah­daerah pedalaman di Indonesia mendapat penerangan yang memadai. Dalam seminar ini, para peserta mendapat motivasi mengenai wirausaha. Motivasi ini diberikan agar masyarakat makin tertarik dengan usaha budidaya rumput laut di Nunukan.

• Pelatihan budidaya dan teknik pascapanen serta sosialisasi rumput laut yang diterima pasar. Masyarakat sebagai pembudidaya perl u mengetahui tidak hanya proses budidayanya, tetapi juga penjualannya. Pengetahuan budidaya rumput laut yang berkualitas saja akan menjadi percuma jika tidak mengetahui rantai distribusi dan penjualan. Pembudidaya harus dapat mengetahui keinginan pasar dan menyesuaikan kualitas produksinya dengan permintaan tersebut. • Uji coba terapan model budidaya rumput laut nonkonvensional.

Uji coba ini diberikan kepada pembudidaya dan Petugas Penyuluh Lapangan (PPL) di Nunukan dan Sebatik. Jika model budidaya ini dinilai dapat memberikan keuntungan yang lebih optimum bagi masyarakat, model ini perlu diteruskan atau bahkan dikembangkan.

• Sosialisasi akses permodalan kredit UMKM merupakan bagian penting dalam berwirausaha. Tapi akses permodalan inilah yang sering menjadi masalah dalam memulai atau mengembangkan usaha. Melalui so­ sialisasi ini, masyarakat, terutama pelaku UMKM, dapat mengetahui proses pengajuan kredit ke bank untuk mendapat modal usaha.

(71)

• Kunjungan kelompok pembudidaya ke eksportir dan pabrik pengolahan rumput laut di Pulau Jawa. Kunjungan dilakukan selama seminggu untuk membuka akses pemasaran dan distribusi rumput laut dari Nunukan. Dengan adanya kunjungan ini, pembudidaya memiliki akses langsung ke pabrik pengolahan sehingga memangkas rantai distribusi dan memperoleh harga yang lebih sesuai.

• Komunikasi dua arah, rapat kerja, kunjungan kerja, Focus Group Discussion (FGD) kepada setiap pemangku kepentingan sektor rumput laut di Nunukan. Para pemangku kepentingan itu, antara lain Dinas Kelautan dan Perikanan, Bank Kaltim, Badan Ketahanan Pangan, lembaga swadaya masyarakat, Gapokan, kelompok tani, petugas penyuluh lapangan, dan para pembudidaya rumput laut.

Apresiasi terhadap Bank Indonesia salah satunya datang dari pihak pemerintah daerah. Wakil Bupati Nunukan, Asmah Gani, dalam suatu kesempatan secara resmi menyatakan Bank Indonesia menjadi salah satu pemacu bergairahnya kembali sektor rumput laut di Nunukan setelah sebelumnya sempat terpuruk karena keterbatasan akses pasar dan permainan harga oleh pengepul.

Keterlibatan Bank Indonesia ditambah dengan keberhasilan para pembudidaya membuat pihak­pihak lain tertarik memberikan kontribusi terhadap pengembangan rumput laut di Nunukan.

Kalangan perbankan, misalnya, tidak ragu untuk menggelontorkan dana dalam jumlah besar. BPD Kaltim pada tahun 2012 mengucurkan kredit ke Gapokan Harapan Mandiri sebesar Rp500 juta. Selain itu, sejumlah bank besar seperti BRI dan Bank Mandiri juga ikut memberikan penguatan permodalan untuk budidaya rumput laut di Nunukan.

(72)

PERMINTAAN dunia pada awal perkembangan rumput laut terbilang cukup tinggi. Salah satunya diakibatkan badai yang menerjang China dan Filipina yang mengakibatkan gagal panen. Jumlah permintaan pada saat itu bahkan bisa melebihi penawarannya. Dan akibatnya bisa ditebak, harga rumput laut melonjak tinggi di pasar. Dari yang biasanya,

(73)

Rp4.500 ­ Rp6.000, mendadak merangkak hingga Rp12.000. Pembeli dari berbagai tempat dari luar Nunukan, menyerbu wilayah perbatasan ini. Peluang ini menarik perhatian masyarakat Nunukan, khususnya yang awalnya berprofesi sebagai nelayan ikan.

Tidak lama kemudian, aroma wangi keuntungan rumput laut di Nunukan tercium oleh para tengkulak. Mereka menguasai pasar. Keberadaan mereka menurunkan kekuatan tawar para pembudidaya rumput laut. Tengkulak memainkan perannya sebagai price maker. Mereka yang menentukan harga. Para pembudidaya terpaksa mengikuti harga yang dibuat oleh tengkulak.

Para petani rumput laut di Nunukan tidak bisa berbuat apa­apa. Jika tidak dijual kepada para tengkulak, rumput laut yang dipanen hanya akan sia­sia. Rumput laut mereka tidak ada yang membeli.

(74)

Setidaknya ada satu hal yang membuat harga rumput laut anjlok di Nunukan. Terjadinya distorsi informasi harga yang sesunguhnya di pihak petani yang disebabkan keterbatasan jaringan pasar dan akses pemasaran secara langsung membuat pasar sepenuhnya dikuasai oleh para tengkulak. Keberadaan mereka sangat menganggu persaingan pasar. Kondisi ini cukup banyak membuat para pembudidaya “gantung tali”.

Pandangan lain disampaikan para penyuluh budidaya rumput laut di Nunukan. Harga, menurut mereka, tidak naik atau turun murni karena kondisi pasar. Mereka mencurigai adanya permainan dari sekelompok orang tertentu yang bertindak sebagai pemburu rente. Pemburu rente ini bisa siapa saja.

Banyak pihak yang memiliki kepentingan terhadap sektor budidaya rumput laut ini. Sekelompok orang tersebut ditengarai berusaha

Untuk

(75)

mengatur harga agar menghasilkan keuntungan maksimal bagi kelompoknya. Jika pandangan tersebut benar, persaingan di sektor budidaya rumput laut sudah tidak sehat.

Untuk mengimbangi keberadaan tengkulak, dibentuklah Gabungan Kelompok Perikanan (Gapokan). Pembudidaya sebenarnya telah membentuk kelompok­kelompok sendiri sebelumnya. Jadi komunikasi dan koordinasi sudah lebih mudah, baik antar pembudidaya maupun antara pembudidaya dengan pemerintah.

Namun kelompok­kelompok yang terpisah itu tidak akan cukup kuat untuk menandingi kekuatan tengkulak dalam menguasai pasar. Akhirnya kelompok­kelompok itu digabungkan. Kelompok­kelompok kecil tersebut kini menjadi satu kelompok besar. Dengan begitu, daya tawar pembudidaya menjadi lebih kuat dalam menghadapi tengkulak mempermainkan harga.

(76)

Mengetahui berdirinya Gapokan, tengkulak tentu saja menunjukkan sinyal­sinyal penolakan. Gapokan dianggap sebagai ancaman terhadap eksistensi mereka. Hal ini dapat dipahami, mengingat Gapokan dapat membuat pembudidaya memiliki daya tawar yang lebih besar. Pem­ budidaya rumput laut di Nunukan tidak boleh bergantung kepada tengkulak. Menjadi tengkulak sebenarnya sebuah pertaruhan tersendiri. Tidak semua tengkulak mampu meraup keuntungan. Beberapa dari mereka bahkan ada yang gulung tikar. Tidak mengherankan jika akhirnya kehadiran Gapokan akan membuat para tengkulak semakin gentar dalam melangsungkan usahanya di Nunukan.

Sebelum ada Gapokan, informasi kepada pembudidaya sangat terbatas. Bisa dikatakan, informasi yang dimiliki pembudidaya dan tengkulak tidak simetris.

Tengkulak memiliki informasi yang relatif lebih banyak. Misalnya ketika harga rumput laut naik. Informasi kenaikan harga ini tidak akan sampai ke telinga pembudidaya. Ketergantungan pembudidaya terhadap tengkulak sebelum ada Gapokan sangat besar.

Pada awal pembentukannya, hanya ada tujuh kelompok yang bergabung ke dalam Gapokan. Kemudian berkembang menjadi sepuluh kelompok. Dalam kelompok­kelompok itu, ada sekitar 250 Rumah Tangga Petani (RTP). Dari kelompok­kelompok anggota Gapokan, dipilih beberapa orang untuk duduk sebagai pengurus. Ini menujukkan bahwa Gapokan dikelola dengan terorganisir.

Penggabungan kelompok­kelompok kecil ini menjadikan para pembudidaya lebih kompak. Mereka dapat bertukar informasi, pengetahuan, dan hal­hal lain yang bermanfaat antar sesama anggota Gapokan. Berbagi pengalaman dapat dilakukan antar pembudidaya. Pembelajaran dapat terjadi di semua anggota. Sikap yang kooperatif antar sesama anggota disadari dapat meningkatkan kekuatan Gapokan dalam menghadapi berbagai ancaman dari luar.

(77)

dengan satu suara yang kompak membuat tengkulak tidak dapat seenaknya menekan harga. Jika sebelumnya tengkulak menjadi kekuatan mayoritas, kini sebaliknya terjadi. Anggota Gapokan secara bersama dapat menyepakati harga, sehingga para tengkulak, mau tidak mau, harus mengikutinya.

Pembentukan harga antara Gapokan dengan pengepul sebenarnya cukup bersaing. Pengepul menawarkan harga yang lebih murah, namun dengan sistem jemput bola. Jadi pengepul yang mendatangi pembudidaya. Mereka seringnya datang ke tempat penjemuran. Pembudidaya kelihatan senang dengan cara ini. Harga yang diterima pembudidaya memang lebih kecil, tetapi selisihnya dinilai tidak besar.

Sementara itu, masih tingginya permintaan juga membuat rumput laut bertengger di harga tinggi. Permintaan datang tidak hanya dari

(78)

pembeli domestik, tetapi juga mancanegara. Keseimbangan persaingan harga ini seharusnya juga menjadi kunci keberhasilan pembudidayaan rumput laut di Nunukan. Setidaknya, tengkulak sudah tidak dapat sesuka hati menurunkan harga yang mencekik pembudidaya.

Rebutan Lahan

Harga rumput laut di Nunukan yang bagus ternyata memunculkan permasalahan baru, yaitu timbulnya perebutan lahan budidaya.

(79)

Para pembudidaya yang se­ belumnya beralih ke sektor lain, kembali lagi tertarik dengan budidaya rumput laut. Selain itu, para pembudidaya baru juga berdatangan ma­ suk ke sektor ini. Karena lahan yang digunakan berupa laut, kepemilikan sulit ditentukan. Beberapa kalangan meng­ anggap pemerintah setem­

pat belum siap menangani pengelolaan budidaya rumput laut yang cukup fenomenal di Nunukan.

Perebutan lahan bukan hanya terjadi antar pembudidaya rumput laut, tetapi juga dengan nelayan tangkap. Menurut nelayan, para pembudidaya telah mengambil lahan pencarian nafkah mereka. Tapi faktanya, kehadiran rumput laut sebenarnya justru malah membantu usaha para nelayan. Di area yang ditanami rumput laut, ikan­ikannya di sana relatif lebih banyak. Penghasilan nelayan pun seharusnya terbantu karenanya. Namun masalahnya proses pemahaman kepada para nelayan itu tidak mudah. Rapat dan diskusi kerap digelar untuk mencari jalan tengah solusi terbaik.

Menjaga Kualitas

Gapokan secara bersama terus berusaha menjaga bahkan meningkatkan kualitas rumput laut. Banyak hal yang sudah dilakukan, mulai dari pemilihan bibit hingga proses budidayanya. Penyuluhan kepada para pembudidaya juga tidak henti dilakukan. Mereka disadarkan untuk tidak mementingkan ego semata, melainkan juga kepentingan sesama pembudidaya lainnya.

(80)

dapat dijaga, kepercayaan pembeli terhadap pembudidaya rumput laut di Nunukan lambat laun bisa turun. Jika ini terjadi, pembeli akan berpindah ke penjual lain dengan harga yang lebih murah atau kualitas yang lebih baik.

Apalagi para pembudidaya kini sudah memiliki hubungan langsung dengan pabrik. Artinya hasil budidaya rumput laut sudah memiliki jalur penjualan yang jelas. Pembudidaya tidak lagi khawatir rumput lautnya tidak laku.

Hanya saja, pabrik pengolahan yang bekerja sama tersebut memiliki standar tertentu. Pihak pabrik tentu tidak menginginkan hasil pengolahannya berkualitas lebih rendah karena turunnya mutu rumput laut, padahal harga beli mereka tetap.

Referensi

Dokumen terkait

Apabila Tertanggung memiliki lebih dari 1 (satu) Polis yang diterbitkan oleh Kami yang memberikan Manfaat Meninggal Dunia akibat Kecelakaan sebagaimana dimaksud dalam Ketentuan

psikomotor tidak ada, (6) tidak ada interaksi antara kreativitas dengan sikap peduli lingkungan siswa terhadap prestasi belajar kognitif, afektif dan psikomotor

Masalah yang dibahas dalam penulisan ini yang berkaitan dengan hubungan kerjasama antara Indonesia dan AS dalam bidang keamanan, lebih difokuskan pada hubungan

Pengukuran yang dilakukan antara thermometer dan sensor SHT11 ini dengan mengukur temperatur dan kelembaban yang ada di lingkungan dengan hasil keluaran dari

Dengan cara yang sama, setiap orang yang bekerja dalam media atau pada teks media tertentu butuh berhubungan kepada lebih dari satu institusi, lebih dari

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui : (1) Penanaman nilai-nilai akidah akhlak pada siswa/i di Madrasah Ibtidaiyah Hidayatusshibyan, (2) faktor pendukung dan

This thesis entitles AN EXPERIMENTAL STUDY OF CROSSWORD PUZZLE IN TEACHING VOCABULARY AT ELEVENTH GRADE STUDENTS OF SMA MUHAMMADIYAH 1 PALANGKA RAYA in the

(minimal semua elemen data yang dihasilkan dari program sesuai dengan semua elemen data yang ada pada rancangan keluaran) dan File – file yang dipakai didalam program