Pengantar
BAGIAN berikut adalah penulisan kembali atas narasi mengenai Tragedi ‘65 dari kacamata seorang mantan pejuang Kemerdekaan Republik Indonesia yang sekaligus pemimpin gerakan Petani. Namanya kita sebut saja Samsul Ahmad. Samsul adalah seorang pejuang yang gigih sejak masa mudanya, dan di masa tuanya secara konsisten membela kepentingan rakyat di lapisan bawah, khususnya kaum tani. Ia pernah menjadi Sekretaris Umum organisasi petani Serikat Kaum Tani Indonesia ( SAKTI) dan anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara ( MPRS). Ironisnya, justru karena pembelaanya itu ia ditangkap, dipenjara, dan akhirnya dibuang ke Pulau Buru.
Bagi Samsul, apa yang terjadi pada tanggal 1 Oktober 1965, yakni penculikan dan pembunuhan terhadap para jenderal di Jakarta, berada di luar pengetahuan dan pemahamannya. Waktu itu ia sedang berada di Bandung, dan ketika mendengar tentang itu, ia segera bergegas ke Jakarta. Sebagai anggota Badan Pemimpin MPRS dan merasa tidak melakukan kesalahan apa pun, ia langsung menuju ke gedung MPRS untuk mencari tahu apa yang terjadi. Sayang sekali di sana, ia tidak berhasil menemui siapa pun.
Tak lama kemudian, karena dikhianati oleh orang yang dikenalnya, Samsul ditangkap dan dibawa ke kantor polisi. Di situ, ia segera diinterogasi. Katanya,“Saya dimintai keterangan atas berbagai aktivitas politik yang saya lakukan. Tentu saja proses interogasi ini luar biasa-lah. Saya dibentak, dihardik, dimaki, dan sebagainya.” Seakan tak seorang pun peduli bahwa seumur hidupnya Samsul adalah pejuang Kemerdekaan RI yang kemudian mati-matian membela kaum tani. Konon setiap selesai interogasi ia selalu harus digotong ke luar ruangan. “Tentu saja, karena kan tidak kuat menghadapi siksaan,” katanya. Ia melanjutkan, “Kalau perkara disiksa rasanya tidak ada akhirnya. Saya selalu bertanya dalam hati, kapan gua [saya] mati?”
Selanjutnya Samsul ditahan di penjara Kebon Waru, untuk kemudian dipindahkan ke penjara Nusa Kambangan, dan akhirnya dibuang di Pulau Buru.”Saya berada dalam tahanan Orde Baru kira-kira hampir 15 tahun,” tutur Samsul.
Terhadap apa yang ia alami berkaitan dengan Tragedi ’65 itu Samsul tidak merasa dendam. Meskipun telah mempertaruhkan hidup dan nyawanya untuk kemerdekaan bangsanya tetapi lalu dikhianati, ia bahkan tak ingin melihat masalah ini sebagai masalah pribadi. “Ini bukan problem pribadi saya. Ini problem kita sebagai bangsa,” ungkapnya. Ia bahkan menghimbau supaya kita berlaku adil terhadap para pelaku ketidakadilan di seputar Tragedi 1965. Rasa dendam harus dijauhkan. Tujuannya adalah supaya semakin jelas bangsa ini melangkah menuju ke rekonsiliasi. Itulah Samsul Ahmad.
Narasi yang akan segera Anda tekuni ini merupakan hasil rekonstruksi yang dilakukan oleh anggota Komisi Sejarah PUSdEP Tri Chandra Aprianto atas beberapa wawancara dengan Samsul Ahmad. Selain itu, diintegrasikan pula surat-surat yang telah dikirimkan Samsul kepada Chandra, maupun dokumentasi ceramah-ceramah,
tulisan-tulisan, puisi-puisi, serta hasil wawancara orang lain dengan Samsul Ahmad. Tri Chandra Aprianto adalah dosen Sejarah di Universitas Negeri Jember, kota Jember, Jawa Timur. Kini ia sedang menempuh studi S3 di Universitas Indonesia, Jakarta.
Sayang sekali bahwa ketika proses menarasikan ingatan ini sedang berlangsung—sementara banyak hal penting belum sempat terungkap— tiba-tiba Samsul dipanggil menghadap Pencipta pada tanggal 26 Mei 2009.
***
SAYA lahir pada tahun 1926 dari keluarga yang memiliki tradisi dagang di Ranah Minang, Sumatera Barat. Semasa muda, aktivitas saya lebih banyak berada di wilayah pertempuran. Sebabnya saya ini kan dulu seorang tentara. Akan tetapi yang dimaksud dengan tentara di sini bukanlah tentara dalam arti tentara yang berangkat dari Barisan Keamanan Rakyat [ BKR], yang kemudian menjadi Tentara Republik Indonesia [ TRI], dan yang akhirnya menjadi Tentara Nasional Indonesia [ TNI]. Bersama teman-teman, saya bergabung dengan sebuah laskar rakyat yang cita-citanya adalah mempertahankan kemerdekaan Indonesia yang diproklamasikan tahun 1945. Laskar ini lebih dikenal dengan “Laskar Rakyat Jakarta Raya” yang para pendirinya adalah Chaerul Saleh, Nandar, Darwis, Johar Nur, Hasnan, Wahidin, Armansyah Hasan Dayuh, dan lain-lain. Kelompok muda ini juga ikut membidani lahirnya Proklamasi.51 Aktivitas mereka mendapat semangat dari zamannya.
Begitu Luar Biasa
Tahun 1926 dikenal sebagai tahun terjadinya pemberontakan kaum komunis terhadap pemerintah kolonial, sebuah pemberontakan yang sangat tidak matang diperhitungkan oleh para pelakunya. Tahun-tahun itu juga diwarnai oleh hadirnya pergerakan kaum muda terpelajar.52 Walaupun kehadiran mereka merupakan akibat dari adanya Politik Etis pemerintah kolonial Hindia Belanda yang bernuansa diskriminatif itu, namun kehadiran itu juga disertai nalar pikir yang berisi kesadaran akan pergerakan menuju kemerdekaan. 53 Mereka itu misalnya, Ki Hajar Dewantara, Ibrahim yang dikenal dengan nama Tan Malaka, Maroeto Nitimihardjo, Soetomo, Semaun, Musso, HOS Tjokroaminoto, Abdoel Moeis, Samsi, Sukarno, Syahrir, Hatta, Amir Syarifuddin, Achmad Kapau Gani, Mohamad Yamin, dan banyak lagi. Pada tahun-tahun itu hadir pula tokoh dari kaum muda yang nantinya mendesakkan Proklamasi 1945 seperti Soekarni, Chaerul Saleh, Djohar Nur, Hasnan, Samsuddin, Sidik Kertapati, Ibnu Parna, Samsu Haryaudaya, Legiman Haryono, Bahar Razak, Winaye, dan lainnya. Mereka semua mengenyam pendidikan kolonial. Bolehlah mereka disebut sebagai “disiden” di mata [pemerintah] kolonial Belanda.54
Awal abad ke-20 merupakan periode yang revolusioner dalam sejarah Indonesia. Kala itu semua pikiran dan energi masyarakat Indonesia tergiring mengikuti arus Revolusi. Kaum pemuda terpelajar Indonesia saat itu semakin revolusioner. Dan hal itu tertransformasi ke kaum muda lainnya dengan sangat cepat. Pada periode paruh pertama
52 Istilah kaum terpelajar ini khas selalu muncul dalam hasil wawancara, paper ceramah, termasuk surat-surat pribadi Samsul.
1940-an, dalam usia yang relatif muda55 dan nyaris tanpa disadari, saya sudah terseret oleh sebuah arus yang penuh pergolakan.
Gara-gara Jepang masuk, saya tidak bisa sekolah lagi. Ketika Proklamasi lahir, tanpa ada yang menyuruh, saya langsung “nyebur” sendiri [ke dalam kancah perjuangan kemerdekaan]. Waktu itu tidak jelas betul di mana kita berada dan untuk siapa keberadaan kita ini. Tetapi intinya adalah bahwa di mana pun kita berada dan untuk siapa pun kita berada, semuanya merupakan hasil ketetapan sendiri. Itu yang saya alami. Itu pula yang dialami banyak orang lain. Misalnya saja ada seorang pemudi bernama Kartini dari Bondowoso, Jawa Timur, yang dalam suatu keadaan darurat diajak mengungsi. Dia menolak dan lebih memilih untuk bergabung dengan para pemuda guna berjuang bersama mereka. Sebenarnya proses kesadaran seperti ini terjadinya berangsur-angsur. Karena tumbuh secara berangsung-angsur, orang seperti Kartini tidak akan mundur meskipun harus menghadapi banyak hambatan. Ini adalah proses. Baja itu ditempa dengan suhu yang tinggi supaya tidak menjadi besi.56
Saya bergabung dengan sekelompok kaum muda, muda-remaja, usia dua puluhan tahun. Saya diliputi oleh semangat muda yang menggelora dan menyala-nyala untuk merdeka dan untuk berjuang demi kemerdekaan. Saya bergabung dengan “Kelompok Menteng 31” di Jakarta yang di zaman pendudukan fasisme Jepang di tahun tahun 1942-1943 merupakan semacam ”Sekolah Politik”. Ada yang diasramakan, ada pula yang tidak. Begitulah, bersama remaja lainnya
55 Tokoh-tokoh pergerakan saat itu memang usianya masih sangat belia. Bahkan beberapa nama sudah menjadi tokoh pada usia sebelum 20 tahun.
56 Lihat juga Samsul Mohammad, Proseding Workshop Memahami Gerakan Sosial Masa Lalu dan Masa Kini, Yogyakarta 28 September-1 Oktober 2005, tidak diterbitkan (Selanjutnya: Samsul Ahmad, Memahami Gerakan Sosial.).
saya mengenal para senior pergerakan seperti Soekarni, Adam Malik, Chaerul Saleh, Djohar Nur, Hasnan, dan lain-lain.57
Selanjutnya saya aktif pada Komite Aksi yang diketuai oleh Chaerul Saleh, yang dalam perjalanannya bermetamorfosa menjadi Angkatan Muda Indonesia atau API. Selanjutnya sejak bulan September 1945, API menjelma menjadi Laskar Rakyat Jakarta dan berkembang menjadi Laskar Jawa Barat. Di situ saya menjadi lebih aktif. Untuk selanjutnya, saya hidup dalam arus pertempuran seperti saya katakan tadi.
Narasumber tuturan ini sedang serius menyimak. Beliau wafat ketika proses penelitian untuk buku ini sedang berlangsung (Ist.)
Pada tanggal 15 Agustus 1945 saya berada di Jakarta. Tepatnya di kediaman Bung Karno, Jl Pegangsaan Timur no 56. Selain saya, hadir pula di situ waktu itu, Bung Hatta dan Soebardjo. Waktu itu saya baru melihat Bung Karno marah sekali setelah mendengar desakan Bung Wik [Wikana] yang diutus oleh para pemuda.
57 Lihat surat Samsul dalam rangka hari proklamasi 17 Agustus 2005. Surat tersebut dikemas dengan gaya bertutur dan diberi judul Menjenguk Masa
Bung Wik mendesak dengan kasar supaya Bung Karno secepatnya memproklamasikan kemerdekaan Indonesia tanpa harus khawatir dengan pihak Jepang yang sudah kalah perang itu. Bung Karno dengan keras menolaknya. Namun demikian, sebagaimana kita tahu, atas desakan dan paksaan para pemuda akhirnya Proklamasi Kemerdekaan dilaksanakan pada tanggal 17 Agustus 1945.58
Peristiwa sejarah ini sangat penting, karena prosesnya begitu luar biasa. Ada banyak tokoh di sekitarnya. Sepertinya kita selama ini memperingati Proklamasi nyaris seperti mengadakan ”pesta” saja. Semuanya ramai dengan berbagai lomba dan hura-hura. Tak ada uraian bagaimana Proklamasi itu terjadi. Tak disebut-sebut bagaimana dan siapa para pelakunya. Jika terus begini, bagaimana dan kapan kita akan mengetahui sejarah kita sendiri secara benar?
Risiko Situasi Revolusi
Saat itu dinamika gerakan kaum muda terus bergerak maju. Seperti saya sampaikan tadi, Komite Aksi yang diketuai oleh Chaerul Saleh menjelma menjadi API. Selanjutnya API beralih menjadi Laskar Rakyat Jakarta, hingga berujung menjadi TNI Divisi Bambu Runcing dengan Komandannya, Sutan Akbar dan Wakilnya, Sidik Kertapati.
Perlawanan untuk mewujudkan kedaulatan terus dikobarkan, kendati pemerintah, sebagai representasi golongan tua, lebih memilih jalur diplomasi. Bagi kalangan muda jalur diplomasi lebih merupakan tindakan kompromi terhadap kekuatan kolonial. Padahal saat itu beredar informasi bahwa pemerintahan sementara Belanda di Indonesia telah kehabisan dana untuk meneruskan pemerintahannya.
58 Pada konsep Proklamasi yang ditulis oleh Sukarno, Sukarno menuliskan penanggalan Jepang, yaitu 17-8-1905. Namun menurut Samsul, Sayuti Melik mengubahnya dengan “lancang” tanpa bicara pada siapa pun menjadi tahun “1945”.
Ditambah lagi mereka tidak mendapat pinjaman lebih lanjut dari pemerintah Inggris dan Amerika. Akibatnya manakala pemerintahan kolonial melakukan agresi, yang dituju adalah daerah-daerah yang memiliki kemampuan untuk quick capital [mendatangkan modal secara cepat, ed.], yaitu wilayah perkebunan. Politik diplomasi hanya akan memberi peluang bagi Belanda untuk “menghela nafas”.59
Oleh karena itu, pilihan kami adalah tetap menjalankan pertempuran tanpa memberi ruang bagi pihak kolonial untuk menghela nafas barang sedikit pun. Rupanya pihak Pemerintah [RI] lebih menyetujui ajakan pihak kolonial untuk melakukan perundingan. Perundingan pertama dikenal dengan istilah Perundingan Linggajati60
yang merujuk pada tempat berlangsungnya perundingan [suatu daerah dekat Cirebon, Jawa Barat] yang dilaksanakan pada 12 November 1946. Pihak Republik Indonesia diwakili oleh Sutan Syahrir, sementara pihak kolonial Belanda diwakili oleh Schermerhorn. Perundingan Linggajati menghasilkan keputusan bahwa kekuasaan secara de facto Republik Indonesia hanya berkisar Jawa, Madura, dan Sumatera.
Saya katakan tadi, semangat revolusi mendorong saya untuk bergabung dengan laskar rakyat. Namun pada tahun 1946, saya sudah berbeda sikap dengan Pemerintah Republik, yang kala itu diwakili oleh Syahrir. Ketika terjadi perundingan Linggajati, kami menolak hasil dari perundingan itu karena di dalamnya ada kalimat yang menyatakan bahwa kekuasaan de facto RI hanya meliputi Jawa dan Sumatera. Kami menentangnya. Dan karena menentang, maka kami ”dipukul” oleh Pemerintah. Kami dilucuti dan diserbu. Bahkan Sidik Kertapati terkena tembakan pada pahanya oleh peluru tentara Indonesia. Saya sendiri menjadi buronan.61
59 Wawancara 26 April 2005.
Selama menjadi buronan, saya mengalami banyak hal termasuk perlakuan-perlakuan yang tidak manusiawi. Maklumlah saat itu situasinya adalah situasi revolusi. Kalau sudah diteriaki sebagai “pengkhianat” tentu sudah seperti dipotong atau disembelih saja nasibnya. Waktu itu kalau pada seseorang diketemukan tiga warna saja [warna merah, putih dan biru, warna bendera Belanda] sudah pasti orang itu dicap mata-mata musuh. Maka matilah dia. Padahal belum tentu dia itu mata-mata musuh. Tapi itu adalah risiko hidup dalam situasi revolusi.
Tindakan Perlawanan
Selain melancarkan aksi perlawanan dalam bentuk fi sik, kami juga memiliki surat kabar yang terbit dalam bentuk koran dengan nama Genderang dan majalah dengan nama Godam Djelata.62 Redaksinya adalah Armoenanto atau yang biasa disebut “Kerongkongan”. Sementara itu “Keriting” adalah nama panggilan untuk Sidik Kertapati. Kalau Haroen Oemar dipanggil ”Bob”, karena mukanya bopeng.63
Apa yang menjadi kekhawatiran kami terbukti. Pihak Belanda sudah mulai menunjukkan sikap ingkar terhadap hasil Perjanjian Linggajati. Sejak sekitar bulan Mei 1947 pihak Belanda mulai mempersiapkan diri untuk melakukan penyerangan terhadap Indonesia, dan pada 20 Juli 1947 mereka mengimplementasikan persiapan itu dengan melakukan tindakan agresi militernya ke wilayah
62 Visi dari kedua terbitan tersebut tercermin dengan jelas dalam puisi Samsul berikut: ….Kemerdekaan / hak setiap bangsa / didegupkan semangat / merdeka atau mati / rakjat menebusnja / membajarnja / dengan segala / jang ada padanya // Itulah muatan / godam djelata // Itulah jang didebarkan / tiap hari oleh genderang / lalu datanglah virus kompromi / menumpas dan membungkamnja // Lihat Samsul Ahmad, Angin Burangrang: Sajak-sajak Petani Tua, ( Bandung: Ultimus, 2007), hal 111-112.
kedaulatan Indonesia. Persis seperti yang telah kami khawatirkan, yang diserang adalah wilayah-wilayah yang potensial menghasilkan modal secara cepat. Salah satunya adalah wilayah-wilayah perkebunan.
Melihat hal itu, para pemimpin kami saat itu ingin berunding dengan pemerintah guna membantu melakukan perlawanan terhadap pemerintah kolonial. Untuk sementara perbedaan pendapat dihindari, mengingat adanya kesamaan tujuan, yaitu perang melawan pemerintah kolonial. Inilah yang kemudian menjadikan Laskar Jakarta Rakyat Raya bergabung dengan TNI. Sejak bergabung dengan TNI, laskar ini diubah namanya menjadi Divisi Bambu Runcing, yang diketuai oleh Sutan Akbar dengan Sidik Kertapati sebagai wakilnya.
Terjadilah perundingan di Yogyakarta. Saat itu sudah ada TNI. Saya sendiri berangkat ke Yogyakarta bersama Komandan Divisi Sutan Akbar. Kami naik kereta sampai Gombong, Jawa Tengah, kemudian turun jalan kaki menuju ke tempat kedudukan Indonesia.
Kemudian saya pindah tugas di Priangan membantu Brigade Priangan dengan Komandannya Astra Wiguna. Kedudukan kami saat itu di Cidueng, Tasikmalaya. Sejak saat itu saya dan kawan-kawan melakukan serangkaian perlawanan dengan strategi gerilya di wilayah Karesidenan Priangan.
Seiring dengan berlangsungnya penerapan strategi gerilya tersebut Pemerintah [RI], karena adanya campur tangan pihak asing, ternyata mendorong dilangsungkannya perundingan kedua dengan pihak Belanda. Pada bulan Januari 1948 dilakukanlah perundingan di atas kapal USS Renville. Pelaksana perundingan dari Indonesia adalah Perdana Menteri kala itu, yakni Amir Syarifuddin dari Partai Komunis Indonesia (PKI ). Akibat perjanjian tersebut TNI diharuskan meninggalkan kantong-kantong gerilya. Lagi-lagi tindakan tersebut
Peristiwa meninggalkan kantong-kantong gerilya tersebut dikenal dengan sebutan peristiwa hijrah ke Yogyakarta. Lagi-lagi, entah karena kekokohan sikap atau karena ”kebandelan”, laskar kami menolak hasil Perjanjian Renville dan tidak mau menyerahkan negeri kami kepada pihak kolonial. Kami menolak untuk ikut hijrah. Kami terus melakukan perlawanan.
Akibat tidak mau ikut hijrah ke Yogyakarta kami dianggap sebagai pembangkang. Oleh karena itu kami pun kemudian digempur oleh pasukan Brigade yang dikirim pihak Pemerintah [RI] dari Jawa Tengah. Gempuran tersebut terutama terjadi di Ciwaru, Jawa Barat. Akibat gempuran tersebut beberapa pimpinan Divisi Bambu Runcing gugur. Yang gugur itu antara lain Sutan Akbar, Gatot, Suharya, Abu Bakar, dan Maulana. Sebagian besar pasukan kemudian melarikan diri. Kendati pasukan porak poranda, saya, Astra, dan lain-lain perlahan melakukan konsolidasi dalam rangka terus menjalankan kegiatan bergerilya. Selain menghadapi Belanda di medan pertempuran, pada tahun 1948 Divisi Bambu Runcing ini juga harus berhadapan dengan kekuatan Darul Islam/Tentara Islam Indonesia [ DI/TII].
Oleh pihak kolonial hasil perjanjian [ Renville] tetap saja dirasa tidak menguntungkan. Oleh karena itu, lagi-lagi pihak kolonial mengingkari hasil Perundingan Renville. Pada tanggal 18 Desember 1948 pihak kolonial mulai melancarkan agresi militer lagi, agresi militer yang kedua. Tentu saja hal ini menyakitkan hati kalangan laskar rakyat yang sejak semula menginginkan tidak dilakukannya langkah diplomasi dengan pihak kolonial.
Bersamaan dengan itu, pada tahun 1948 pemerintah mengeluarkan kebijakan tentang reorganisasi dan rasionalisasi tentara [dikenal dengan program Re-Ra,-ed.]. Ini merupakan kebijakan di mana kekuatan militer Republik haruslah merupakan tentara yang
profesional. Pada saat gerilya dulu, satu senjata boleh dipegang oleh dua, tiga atau bahkan empat orang anggota laskar secara bergantian. Dengan adanya Re-Ra dituntutlah bahwa tentara harus profesional. Satu senjata untuk satu tentara. Berkat ketentuan Re-Ra pula sebagian anggota laskar, meskipun telah bertahun-tahun ikut bergerilya dan memanggul senjata, harus ”dikembalikan ke masyarakat”.
Tentu saja tindakan ini dirasa sangat menyakitkan bagi laskar-laskar rakyat yang selama bertahun-tahun telah ikut bergerilya demi mempertahankan kemerdekaan Republik. Namun demikian, mereka tidak bisa berbuat apa-apa. Mereka dikumpulkan dan diantar untuk kembali ke masyarakat dengan diangkut truk. Mereka juga diberi uang saku, masing-masing sebesar 5 perak (rupiah). Saya sendiri tidak tahu pasti dari mana Pemerintah mendapatkan uang guna melaksanakan kebijakan Re-Ra tersebut.
Mereka yang tidak bisa menerima kebijakan Re-Ra lantas melakukan tindakan perlawanan dengan mendirikan Barisan Sakit Hati (BSH). Hal itu misalnya dilakukan oleh Letnan Kolonel Jamil dan pasukannya yang melakukan perlawanan di daerah Tomo, Cirebon. Sebenarnya saya dan beberapa kawan lainnya juga merasa sakit hati, tetapi kami tidak melakukan tindakan seperti kelompok Jamil.
Keadaan Begitu Mengecewakan
Kenyataan pahit ternyata juga dihadapi oleh anggota laskar yang diterima menjadi anggota TNI. Kendati mereka diterima menjadi anggota TNI, kepangkatan mereka harus turun. Hal ini disebabkan karena mereka tidak memiliki basis pendidikan formal militer. Sementara mereka yang berasal dari KNIL64 secara otomatis mengalami
kenaikan satu pangkat, karena mereka memiliki basis pendidikan militer formal. Padahal KNIL ini adalah pasukan milik pemerintah kolonial Belanda yang dulu ikut menembaki pasukan dari laskar rakyat.
Ketika perlawanan rakyat terhadap Agresi Militer yang dilakukan oleh pihak kolonial sedang dilakukan, lagi-lagi Pemerintah RI meng-“interupsi”-nya dengan melakukan langkah diplomasi. Kali ini diplomasi itu dilakukan di Den Haag, Belanda, dalam bentuk Konferensi Meja Bundar [ KMB] yang dilakukan pada tanggal 2 November 1949. Dalam kesepakaatan yang dihasilkan oleh KMB pihak Indonesia tetap dalam posisi yang lemah. Republik Indonesia Serikat [ RIS] harus menanggung utang pemerintahan Hindia Belanda, yang sebenarnya merupakan biaya yang digunakan oleh pemerintahan kolonial Belanda dalam menguasai Indonesia. Tindakan pemerintah kali ini telah menegaskan perang mempertahankan kemerdekaan yang dilakukan oleh kekuatan massa rakyat tani di berbagai pedesaan di Indonesia, dan yang telah menguasai sentra-sentra perusahaan perkebunan yang sebelumnya dimiliki oleh Belanda. Dengan adanya KMB berarti penguasaan atas sentra-sentra perusahan perkebunan tersebut harus diserahkan kembali ke pihak Belanda.65
Ketidaksetujuan atas hasil KMB juga masih diekspresikan dalam bentuk perlawanan, misalnya seperti yang ditunjukkan oleh kelompok Chaerul Saleh, Syamsuddin Chan, Leimena dan lain-lain. Namun mereka harus menghadapi gempuran dari Angkatan Perang Republik Indonesia Serikat [APRIS], gabungan tentara Indonesia dengan tentara Belanda. Hal ini menempatkan kami dalam posisi yang sulit. Chaerul, saya, dan kawan-kawan lainnya sudah tidak bisa lagi berbuat banyak, karena Republik Indonesia Serikat [ RIS] itu presidennya
tetap Sukarno. Kalau kami melawan Sukarno dapat dipastikan bahwa kami akan habis dimaki-maki oleh rakyat. Sukarno telah betul-betul mengakar di hati rakyat.
Seiring dengan berjalannya waktu, kami sebagai kelompok perlawanan yang berangkat dari semangat kaum muda, yang menginginkan kedaulatan negara Republik Indonesia secara penuh, mulai harus memilih bentuk kehidupan baru. Sebagian melanjutkan sekolah yang sebelumnya telah terhenti akibat perang, sebagian lagi ingin pulang kampung menjadi petani, dan seterusnya. Chaerul sendiri dikirim oleh Bung Karno untuk sekolah ke luar negeri.
Saya sendiri akhirnya memutuskan untuk berhenti sebagai anggota TNI. Saya meletakkan jabatan sebagai Komandan Brigade. Apalagi brigade kami yang diterima menjadi TNI cuma satu batalyon. Satu batalyon itu terdiri dari empat kompi. Mengenai posisi dan tanggung jawab saya, saya menyerahkannya pada wakil saya yang bernama Jaya. Berat memang. Tapi keadaan begitu mengecewakan. Saya merasa kesal. Berbagai macam perasaan menghantui saya. Di tengah itu semua, saya berpikir, ya sudahlah saya berhenti saja.
Sebagai “Sintesa”-nya
Berkat legitimasi KMB kekuatan modal asing menemukan jalannya kembali ke Indonesia. Tentu saja hal ini mengecewakan saya. Kekecewaan saya makin menumpuk.
Berangkat dari rasa kecewa tersebut saya dengan beberapa kawan