Tragedi ’65 di Mata Seorang Muslim
Pengantar
LAHIR tanggal 23 Januari 1944di Kotagede, Yogyakarta, narasumber dari tuturan berikut adalah anak bungsu dari tiga bersaudara. Secara tradisional, Asnawi (bukan nama sebenarnya) dan keluarganya adalah keluarga Muhammadiyah, mirip dengan Suherjanto di atas. Ayahnya seorang aktivis Muhammadiyah di tingkat cabang dan aktif dalam berbagai kegiatan sosial di masyarakat. Saat Tragedi ’65 terjadi, usianya sekitar dua puluh atau dua puluh satu tahun dan merupakan anggota Pemuda Muhammadiyah. Waktu itu ia sedang kuliah di Fakultas Ekonomi Universitas Gadjah Mada ( UGM), Yogyakarta.
Sejauh dia ingat, berbagai kegiatan sosial yang dilakukan oleh kelompok-kelompok pemuda di daerahnya pada awal 1960-an berjalan dengan baik dan kompak. Misalnya, kegiatan-kegiatan dalam bidang seni dan beladiri. Seandainya pun ada semacam “konfrontasi” di bidang budaya antara kelompok Muhammadiyah dengan kelompok Pemuda Rakyat, biasanya bentuknya hanya sekadar “perang propaganda” melalui papan yang dibuat oleh masing-masing pihak. “Paling itu saja. Jadi cuma sekadar perang kata-kata saja lewat karya. Tidak ada kejadian bentrok secara fi sik,” kata Asnawi.
Tentang Tragedi ‘65 sebagai sebuah peristiwa besar Asnawi tidak banyak memberikan refl eksinya. Meskipun demikian, menurutnya pemberian kode khusus (misalnya kode “ ET”) pada Kartu Tanda Pengenal milik para mantan Tahanan Politik tidak tepat lagi. Ia mendukung usaha orang-orang Muhammadiyah untuk mengadakan rekonsiliasi dengan para mantan Tahanan Politik yang bentuknya adalah sosialisasi dan dakwah.
Menurutnya pula yang terjadi pada tahun 1960-an adalah konfl ik ideologi. Namun demikian, sejauh dia mengamati, sekarang ini konfl ik macam itu sudah tidak ada, mengingat peran ideologi sudah tak menonjol lagi. Kalaupun ada perbedaan pandangan, biasanya lebih menyangkut soal sistem-sistem ekonomi, misalnya ekonomi kapitalis lawan ekonomi non-kapitalis.”Kalau soal paham monotheis atau anti-monotheis, percaya pada Tuhan atau tidak percaya Tuhan, sekarang ini kelihatannya orang lebih berpikir secara rasional,” kata Asnawi lagi.
Seperti narasi sebelumnya, narasi berikut adalah pengolahan kembali hasil wawancara yang dilakukan Mohammad Subkhi Ridho, orang muda aktivis Muhammadiyah dan alumnus Program Magister Ilmu Religi dan Budaya, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta. Wawancara dilakukan tanggal 17 September 2009 di kantor di Baitul Mal wa Tamwil (BMT) an-Nikmah, Kotagede, Yogyakarta
***
NAMA saya Asnawi. Saya lahir tanggal 23 Januari 1944 di Kotagede, Yogyakarta. Saya terlahir sebagai anak ragil [bungsu]. Kakak tertua saya adalah seorang perempuan, dan saat ini menetap di Wonosobo, Jawa Tengah. Kakak kedua saya seorang laki-laki, tetapi sudah mening gal pada tahun 1999. Saya mempunyai seorang anak perempuan. Suami
anak saya dari Pekalongan dan saat ini mereka sudah memberikan cucu pertama untuk saya.
Saya lahir dari tradisi keluarga Muhammadiyah. Bapak saya aktivis Muhammadiyah, meskipun hanya di tingkat cabang dan bukan di tingkat pusat. Ayah saya aktif dalam kegiatan-kegiatan sosial di masyarakat. Misalnya dalam kegiatan koperasi di kampung, di mana Bapak saya adalah ketuanya.
Saat terjadi Tragedi ’65, umur saya sekitar 20-21 tahun. Saya masih berstatus mahasiswa, kuliah di Fakultas Ekonomi UGM [ Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta]. Waktu itu saya baru saja masuk kuliah, tetapi kemudian kuliah terhenti karena adanya peristiwa Gestapu itu. Ketika itu seluruh kegiatan di UGM berhenti selama satu semester. Kuliah baru dimulai lagi pada tahun 1967-an. Saya menyelesaikan program sarjana pada tahun 1971. Sejak mahasiswa, saya sudah aktif di organisasi sayap Muhammadiyah, yakni di Pemuda Muhammadiyah. Saya sempat menjadi Ketua Pemuda Muhammadiyah sekitar tahun 1968-1970, sebelum saya lulus ujian sarjana dari UGM.
Setelah menyelesaikan kuliah sarjana pada tahun 1971, mulai akhir tahun 1972 saya merantau ke Jakarta dan bekerja di sana. Selama sekitar 30 tahun saya meninggalkan Yogya dan menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) di Jakarta, dan pada tahun 2003 saya kembali ke Kotagede. Di Kotagede saya diminta untuk mengelola kegiatan di Baitul Mal wa Tamwil atau BMT.
Memang Ada Ketegangan
Berkaitan dengan Tragedi ’65, baik sebelum maupun sesudahnya, saya hanya berperan sebagai “pemain fi guran” saja. Ini meminjam istilah dari dunia fi lm. Itu pun mungkin peran saya masih di bawah peran pembantu, bukan sebagai aktor intelektual atau aktivis. Memang
setiap malam saya terlibat dalam ronda, akan tetapi masih dalam bentuk sebatas wira-wiri, ubyang-ubyung [mondar-mandir dan ikut-ikutan] saja, bukan terlibat aktif, apalagi mengetahui berbagai hal secara detil. Waktu itu masih kroco. Saya belum aktif sebagai pengurus di Muhammadiyah. Memang saya sudah mulai ikut di Pemuda Muhammadiyah, tetapi hanya sebagai anggota saja.
Sementara itu pada tahun 1960-1965 itu saya masih kecil. Ibaratnya saya ini masih precil [anak katak]. Saya menjadi anggota ”Sanggar Bulus Kuning”, sebuah kelompok seni milik Muhammadiyah di Kotagede. Saya menjadi anggota di Divisi Publikasi. Tugasnya antara lain membuat spanduk, membikin gambar-gambar, baik menggunakan papan ataupun kertas. Sanggar seni ini dibuat untuk ”mengimbangi” program-program kesenian Lembaga Kebudayaan Rakyat ( Lekra) yang dekat dengan Partai Komunis Indonesia (PKI ).
Di kalangan Muhammadiyah memang ada banyak kegiatan bidang seni. Terutama di antara Pemuda Muhammadiyah dan Nasyiatul Aisyiah (NA). NA adalah organisasi sayap perempuan muda Muhammadiyah. Aktivitas seninya antara lain permainan musik angklung, yang dibuat untuk mengimbangi kesenian ketoprak dan tari Genjer-genjer milik Lekra. Akan tetapi tentang tari Genjer-genjer, bentuknya bagaimana, saya tidak mengetahuinya. Hanya saja dahulu pada tahun-tahun sebelum terjadinya Tragedi ’65, tarian itu memang terkenal. Dulu sering dipentaskan di Jalan Sopingan, Yogyakarta.
Pada waktu itu di Kotagede Gerakan Wanita Indonesia atau Gerwani tidak begitu menonjol. Yang menonjol kala itu adalah kesenian dari Pemuda Rakyat. Dengan demikian NA bukanlah kom petitor dari Gerwani. Adapun NA waktu itu sangat terkenal. Kesenian angklung di Kotagede itu penggeraknya adalah para anggota
sebagainya, biasanya hiburannya adalah musik. Nah, musiknya itu musik angklung dan tari-tari yang Islami. Tarian Islami ini dilakukan oleh orang-orang Kotagede sendiri, khususnya orang-orang Kotagede yang tinggal di daerah sebelah timur, seperti di Mertosanan, Jampitan, dan Piyungan.
Perlakuan di Muhammadiyah kepada orang-orang ”merah” [maksudnya orang-orang berhaluan kiri atau anggota PKI , ed.] secara spesifi k saya tidak mengetahuinya. Yang saya ketahui, sebelum terjadinya Tragedi ’65 memang ada ketegangan. Ketegangan yang saya maksud adalah ketegangan yang terjadi karena ketika orang-orang Islam melakukan kegiatan pengajian dan sebagainya, orang-orang ”merah” itu melakukan kegiatan lainnya seperti latihan ketoprak, kumpul-kumpul, dan sebagainya yang dimaksudkan untuk ”menandingi” kegiatan di masjid.
Tidak Ada Bentrok Fisik
Informasi mengenai terjadinya Peristiwa Gestapu baru saya dengar beberapa hari kemudian. Saya mendapat informasi bahwa peristiwa itu dilakukan oleh Partai Komunis Indonesia, PKI . Informasi ini saya terima dari salah satu keluarga saya yang kebetulan bekerja sebagai intelijen. Ia menginformasikan kalau peristiwa Gestapu pelakunya adalah PKI . Intel tersebut yang memberi tahu kepada orangtua saya bahwa ada gerakan-gerakan seperti ini atau seperti itu. Saudara saya itu lalu bilang kepada Bapak saya, “Tapi Bapak tidak usah khawatir, tidak usah mengungsi karena rumah sudah teratasi dengan baik.” Demikian kata kakak saya.
Informasi bahwa pelaku Peristiwa G30S adalah Partai Komunis sebetulnya simpang siur. Saya sendiri sebenarnya kurang tahu. Informasi yang saya ketahui hanya saya terima dari kakak saya saja.
Kakak saya memberi tahu supaya jangan keluar malam sendirian. Yang saya dengar hanya itu saja.
Memang ketika meletus peristiwa pembunuhan para Jenderal di Jakarta, terjadi semacam tindakan counter attack [perlawanan-balik] terhadap kegiatan orang-orang PKI . Jadi, waktu itu setiap malam warga Muhammadiyah melakukan siskamling [kegiatan sistem keamanan lingkungan], dan terus melakukan latihan beladiri. Di kalangan anak-anak Muhammadiyah ada kecondongan untuk melakukan latihan beladiri secara rutin. Padahal sebelumnya mereka tidak terlalu giat. Tapi saya tidak ikut. Saya sendiri waktu itu senangnya pada kegiatan gambar-menggambar dan lukis-melukis. Pokoknya lebih pada kegi-atan yang dekat dengan bidang kesenian. Karena sejak kecil badan saya sudah kurus, maka saya tidak tertarik untuk mengikuti kegiatan beladiri.
Yang jelas waktu itu semua kegiatan berjalan dengan kompak, baik kegiatan di bidang seni maupun beladirinya. Kekompakan ini terlihat dari kegiatan jaga malam yang terkoordinasi dengan baik. Kemudian kegiatan dapur umum diselenggarakan oleh NA dan dipusatkan di mushola dan sekitarnya.
Saya punya pengalaman pribadi yang membekas berkaitan dengan riak-riak hubungan antara Muhammadiyah dengan PKI . Pengalaman saya itu dalam bidang seni budaya yang mungkin dianggap berkonfrontasi dengan seniman Lekra. Polemik muncul ketika kita sama-sama membuat tulisan propaganda lewat papan yang dibuat oleh masing-masing. Paling itu saja. Jadi cuma sekadar perang kata-kata saja lewat karya. Tidak ada kejadian bentrok secara fi sik.
Tetap Mewaspadai
Terkait kebijakan yang memberi tanda khusus di KTP orang-orang yang dianggap PKI pada zaman Orde Baru, menurut saya situasi pada waktu itu diperlukan. Akan tetapi dengan adanya perjuangan di bidang Hak-hak Asasi Manusia [ HAM] seperti sekarang ini, kelihatannya sudah tidak tepat lagi memberikan cap seperti itu.
Waktu itu tak lama setelah Tragedi ’65, orangorang Muha m -madiyah di Kotagede mencoba melakukan rekonsiliasi, dan ben-tuknya adalah sosialisasi dan dakwah. Sosialisasi dan dakwah dilakukan dengan cara bertemu dengan tokoh-tokoh PKI . Tapi waktu itu saya sendiri tidak ikut melakukannya, karena saya masih terlalu muda. Menurut saya setelah terjadinya Tragedi ’65, dakwah berkembang pesat di Kotagede. Tandanya adalah munculnya banyak masjid. Sebelum terjadi Tragedi ’65 di sini jumlah masjid hanya ada dua, yakni Masjid Gede dan Masjid Perak. Tapi setelah Tragedi ’65 setiap kampung sudah memiliki masjid atau musholanya sendiri. Dan itu berjalan hingga sekarang.
Sekarang ini kebetulan saya bergiat di bidang dakwah. Sekaligus saya juga jadi jamaah di Masjid Mataram. Masjid Mataram itu masjid kuno dan di sampingnya petilasan [peninggalan] makam raja-raja. Di situ kan masih ada klenik [ilmu gaib]. Misalnya ada sirep37 dan sebagainya. Paham klenik seperti itu kan harus dilawan.
Saya kira salah satu caranya supaya paham seperti itu tidak sampai masuk lagi, ya dengan mengadakan sosialisasi sambil mengatakan kepada mereka yang masih melaksanakan sirep bahwa hal macam itu keliru. Praktik seperti itu berarti mengkultuskan, menghormati arwah-arwah, dan sebagainya. Hal-hal seperti itu sebetulnya bukan
37 Membuat orang tertidur di luar kemauannya supaya barang-barangnya bisa dicuri.
suruhan [perintah] agama. Agama apa pun, mana pun, kan begitu ya? Jadi, caranya dengan melakukan banyak sosialisasi. Menurut saya perlu sosialisasi dan dakwah. Nah, dakwahnya sesuai dengan yang dilakukan oleh Pak AR [maksudnya AR Fachruddin],38 yakni cara-cara yang sejuk dan persuasif.
Cara yang tidak persuasif itu misalnya mengatakan kepada tetangga “kowe kok ra salat?” [kamu kok tidak shalat?]. Wuuah..., kalau caranya begitu mungkin tetangga itu malah akan benci. Perlu dicari cara-cara lain. Misalnya melalui takjilan sore hari.
Mungkin juga dengan pendekatan ekonomi. Misalnya, sekarang ini kan secara ekonomis banyak orang bekerja dengan gaji di bawah ketentuan upah minimum regional. Ada buruh benik [kancing baju], yakni buruh yang tugasnya memasang bat kancing baju, pendapatan-nya sehari hapendapatan-nya Rp 4.000,- sampai Rp 5.000,-. Jauuhhh..., jauh dari upah minimum. Coba kalau jumlah itu dikalikan 30 [hari]. Kan jumlahnya hanya antara Rp 120.000,- dan Rp 150.000,-? Padahal ketentuan Upah Minimum Regional [UMR] untuk Yogya adalah Rp 672.000,- sekarang ini. Kalau seseorang menerima upah di bawah itu kan berarti dia masih miskin.
Nah, kemiskinan seperti ini kan mirip sekali dengan kemiskinan yang terjadi dulu itu. Banyak pemilik pabrik sangat kaya, tapi buruh-buruhnya miskin-miskin. Situasi seperti ini harus diatasi melalui sosialisasi dakwah. Selain itu, perlu juga meningkatkan kemampuan ekonomi umat, khususnya mereka yang ada di grass roots, di lapisan bawah. Saya yakin kalau kehidupan masyarakat sudah sejahtera nggak akan timbul lagi hal-hal seperti dulu. Orang tidak akan aeng-aeng [aneh-aneh] lagi. Kalau hidupnya sudah sejahtera, orang akan berpikir, ”Ah,
ngapa aku golek gawean sing malah dilarang ro pemerintah? [Ah, kenapa saya musti mencari pekerjaan yang dilarang oleh pemerintah?]
Menurut saya dulu itu yang paling bahaya sebetulnya adalah paham ideologinya. Kalau zaman sekarang, sepertinya peran ideologi itu tidak lagi menonjol. Yang ada malah paham-paham, atau sistem ekonomi, misalnya paham kapitalisme. Kalau soal paham monotheis dan anti-monotheis, percaya pada Tuhan atau tidak percaya Tuhan, sekarang ini kelihatannya orang kan lebih berpikir secara rasional. Meskipun demikian, kita harus tetap mewaspadai, jangan sampai ada paham-paham yang seperti dulu itu. Sekarang kan zamannya sudah lain. Tapi tetap harus diwaspadai, jangan sampai bahaya laten itu timbul. Tapi ya, mungkin selama Rusia atau negara-negara lain tidak memunculkan paham seperti itu [maksudnya paham komunis] kemungkinannya kecil saja untuk bangkit lagi. Tapi bukan berarti kita boleh mengabaikannya lho ya?[]