Diskusi – Perlunya Solusi Perbaikan
6.1. Inisiatif perbaikan untuk eksportir berorientasi UE
-Eksportir mencari informasi tentang ekspor ke UE secara independen.
5.5
Table 11 menggambarkan sembilan masalah yang saat ini dihadapi oleh eksportir Indonesia ketika mengekspor buah-buahan tropis di mana tiga (nomor 1, 2, dan 3) di antaranya adalah non-compliance issues terhadap aturan hukum UE. Eksportir juga telah melakukan beberapa tindakan pencegahan agar masalah-masalah tersebut dapat diminimalisasi, namun
non-com-Masalah kualitas masih menjadi salah satu kendala utama eksportir Indonesia dalam mengekspor buah tropis ke UE, seperti buah me-mar, berkerut, terlalu matang, hingga busuk. Da-lam menangani masalah tersebut, eksportir harus memperhatikan beberapa hal, seperti daya tahan produk, jarak, keterlambatan selama transporta-si, dan perlakuan pasca panen (GBG Indonesia, 2016; Kitinoja & Kader, 2015). Berkaitan dengan buah yang busuk atau terlalu matang, tindakan yang dilakukan oleh eksportir pada Subbab 4.4.a seharusnya sudah cukup untuk dilakukan karena mereka telah mempertimbangkan timing yang tepat untuk memanen buah, mengestimasikan tingkat kematangan buah saat sampai di negara tujuan agar tetap pada kualitas yang memuas-kan, dan telah menggunakan truk pendingin un-tuk menjaga kualitas buah yang akan diekspor.
Dalam hal ini kemungkinan keterlambatan saat pengiriman juga seharusnya diperhitungkan oleh eksportir. Buah memar dan berkerut juga telah diatasi dengan kemasan tertentu untuk memini-malkan potensi kerusakan fisik akibat kondisi jalan yang buruk.
Selain itu, beberapa pendekatan penting lainnya perlu dipertimbangkan untuk menjaga kualitas dan keamanan pangan dari buah yang akan diekspor. Pertama, penggunaan teknologi penyimpanan yang mutakhir, terutama selama pengiriman diperlukan untuk memperlambat laju pematangan buah sehingga buah saat sam-pai di Eropa masih dalam kondisi/kualitas yang memuaskan. Penggunaan teknologi penyim-panan juga dapat membantu menjaga kualitas buah (Mahajan, Caleb, Singh, Watkins, & Geyer, 2014) saat buah mengalami delay dalam pen-girimannya. Studi dari Purwadaria (2006) menun-jukkan bahwa sistem CA (Controlled Atmosphere) dan MAS aktif (Modified Atmosphere Storage) untuk pengiriman buah telah diperkenalkan di Indonesia tetapi masih belum digunakan secara komersil. CA dapat memperlambat pematangan, memperlambat perubahan warna, dan menjaga kesegaran buah (Huang, 2010). Dengan teknologi ini, masalah pembusukan atau overripe fruit ka-rena jarak jauh dan/atau penundaan pengiriman kemungkinan dapat diminimalkan. Ini merupakan tantangan bagi para eksportir untuk berani mulai pliance issues masih juga dialami oleh eksportir.
Oleh karena itu (lihat Subbab 4.4), Bab ini akan memberikan rekomendasi inisiatif perbaikan yang dapat dilakukan untuk mengatasi masalah-masa-lah tersebut, baik dari sisi eksportir yang berorien-tasi UE, eksportir yang beroerienberorien-tasi non-UE, dan korporasi.
6.1. Inisiatif perbaikan untuk eksportir berorientasi UE
DISKUSI - PERLUNYA SOLUSI PERBAIKAN KAJIAN NON-COMPLIANCE ISSUES
DALAM EKSPOR PRODUK BUAH TROPIS INDONESIA KE UNI EROPA
RESEARCH SERIES
menggunakan teknologi semacam ini agar pang-sa papang-sar buah Indonesia tidak hanya terbatas pada negara-negara tetangga.
Dalam penggunaan CA, MAS, atau teknolo-gi lainnya, perlu diperhitungkan apakah laju pematangan buah dapat dihambat hingga ber-minggu-minggu. Oleh karena itu perlu adanya penelitian atau literatur pendukung lain untuk membuktikan hal ini. Jika teknologi tersebut mam-pu menghambat pematangan buah hingga ber-minggu-minggu, maka pengiriman buah ke Eropa tidak perlu lagi menggunakan airfreight namun cukup menggunakan seafreight. Selain dapat mengirimkan volume yang besar dengan biaya yang lebih terjangkau, penggunaan seafreight juga cukup membantu untuk mengurangi jumlah emisi carbon footprints dalam pengiriman buah tropis ke Eropa (lihat Subbab 4.1).
Dalam kaitannya dengan seafreight, penggu-naan kontainer dengan unit pendingin maupun insulated container dapat menjadi opsi umum yang dapat dipilih eksportir ketika memilih untuk
Kontainer kedua memiliki prinsip yang rela-tif sama, namun tidak dilengkapi dengan unit pendingin atau biasa disebut dengan insulated container atau porthole container. Karena tidak memiliki unit pendingin, kontainer ini memiliki volume yang lebih besar dibandingkan kontain-er dengan unit pendingin. Kontainkontain-er ini memiliki ventilasi yang posisinya bersebarangan dengan pintu. Ventilasi ini memungkinkan adanya sirkulasi udara dari dan ke dalam kontainer.
Udara dari luar terdifusi ke dalam container mel-alui saluran di bawah kontainer dan kemudian mengalir ke atas membawa panas dari produk.
Setelah sampai di atas, udara dikeluarkan melalui saluran pengeluaran udara. Proses ini berlanjut terus untuk menjaga suhu tetap konstan selama pengiriman (Piala & Dávid, 2015). Karena tidak dilengkapi dengan unit pendingin, penggunaan insulated container hanya dilakukan untuk pen-giriman produk dengan jarak dekat. Penggunaan ekspor menggunakan sea cargo45. Studi dari Pi-ala & Dávid (2015) memberikan ilustrasi menge-nai kedua model penyimpanan tersebut terhadap buah pisang yang diekspor dari beberapa negara berkembang seperti Republk Dominika, Kamerun, Pantai Gading, Ghana, Ekuador, Columbia, Pan-ama, dan Meksiko ke UE. Pada dasarnya, suhu kontainer harus dijjaga konstan pada kisaran 13.5°C untuk buah pisang selama pengiriman.
Kontainer jenis pertama dillengkapi dengan unit pendingin yang harus terkoneksi langsung dengan power supply. Udara dingin dari unit pendingin dihembuskan melalui bagian bawah container kemudian naik ke atas dengan memba-wa panas dari buah pisang yang kemudian men-galir ke unit pendingin kembali untuk didinginkan dan disirkulasikan kembali ke dalam kontainer (lihat Figure 10). Untuk memperlancar sirkulasi udara, bagian atas kontainer harus diberi ruang paling tidak setinggi 12 cm. Oleh karena itu, pro-duk yang diekspor tidak boleh diletakkan hingga menyentuh bagian atas kontainer (Piala & Dávid, 2015).
Figure 10. Ilustrasi proses sirkulasi udara pada kontainer dengan unit pendingin.
Gambar diperoleh dari Piala & Dávid (2015).
45 Dalam hal ini, perlu dilihat pula apakah penggunaan seafreight cukup feasible untuk dilakukan dari Indonesia ke UE.
DISKUSI - PERLUNYA
SOLUSI PERBAIKAN RESEARCH
SERIES KAJIAN NON-COMPLIANCE ISSUES
DALAM EKSPOR PRODUK BUAH TROPIS INDONESIA KE UNI EROPA
kontainer ini kurang cocok untuk pengiriman buah tropis dari Indonesia ke Eropa.
Kedua, perbaikan penanganan pasca panen sangat perlu untuk dilakukan. Para petani Indo-nesia kebanyakan adalah petani kecil dengan la-han yang kecil serta memiliki pengetahuan akan postharvest handling yang masih rendah (Ahmad
& Chua, 2013; GBG Indonesia, 2016). Hal ini berdampak pada tingginya postharvest losses, rendahnya kualitas dan produktivitas buah yang dihasilkan yang mana berdampak pada keter-batasan petani untuk memasok eksportir secara kontinyu dengan volume konstan (Gunasekara, Parsons, & Smith, 2017; Hagos, Kahsay Zen-ebe, Weldegiorgis, & Weldegerima, 2018). Hal ini menunjukkan bahwa postharvest handling yang kurang baik selain berkontribusi terhadap rendah-nya kualitas buah juga mempenngaruhi kontinyui-tas pasokan (lihat masalah no. 5 pada Table 11).
Dalam hal ini, petani seharusnya diberikan akses yang mudah terhadap berbagai informasi terkait postharvest handling baik oleh pemerintah maupun ekportir mitra agar dapat memperbaiki kualitas buah yang dihasilkannya. Sebagai con-toh, eksportir atau pemerintah dapat memberikan pelatihan maupun bahan bacaan bagi para petani dengan mengacu pada buku terbitan FAO berikut,
“Prevention of post-harvest food losses fruits, veg-etables and root crops a training manual”. Buku ini diakses secara bebas melalui internet dan dapat menjadi panduan bagi petani untuk melakukan penanganan pasca panen yang lebih baik. Selain itu, melihat dari terobosan yang telah dilakukan oleh korporasi (lihat Subbab 4.5.b.iii), pemberian pelatihan dari perusahaan atau eksportir untuk membantu petani dalam melakukan budidaya, penanganan pasca panen, dan melakukan ek-spor dapat pula menjadi alternatif solusi.
Jika ditemukan adanya kesulitan dalam mema-hami pedoman dari FAO, saran ketiga dapat menjadi alternatif lain, yaitu dengan mengacu pada standar GAP (GBG Indonesia, 2016), atau GLOBALG.A.P untuk produk yang orientasi ek-spornya ke UE. GLOBALG.A.P secara teknis dapat membantu para petani untuk mencapai standar penanganan tanaman yang tinggi untuk menghasilkan buah berkualitas tinggi dengan keamanan pangan yang tinggi pula.
Selain itu, sertifikasi GLOBALG.A.P juga berkontribusi terhadap beberapa manfaat lainn-ya. Penerimaan pasar untuk produk bersertifikat GLOBALG.A.P di UE tidak perlu dipertanyakan lagi karena mayoritas importir dan retailer UE mensyaratkan eksportir untuk comply dengan standar ini. Keuntungan lainnya adalah, ekspor-tir terhindar dari non-compliance issues karena GLOBALG.A.P disusun sebagian berdasarkan regulasi dan Directive UE.
Dalam hal ini, sertifikasi GLOBALG.A.P mer-upakan cara yang dapat dilakukan untuk mem-bantu meminimalisasi non-compliance issues, terutama terkait residu pestisida yang berlebihan, organisme berbahaya, serta masalah keamanan pangan. Hatanaka et al. (2005) telah menunjuk-kan bahwa GLOBAL.G.A.P dapat meminimalmenunjuk-kan residu kimia serta meningkatkan kualitas dan keamanan pangan melalui penerapan pelati-han IPM (Integrated Pest Management) kepada para petani di Ghana. Hatanaka, Bain, & Busch (2005) juga berpendapat bahwa meskipun GLOBALG.A.P adalah TPC yang diterapkan se-cara sukarela, tidak menutup kemungkinan bah-wa standar ini akan diberlakukan secara bah-wajib di UE dalam waktu dekat.
Namun, seiring dengan kenyataan bahwa GLOBALG.A.P merupakan voluntary certification scheme, urgensi untuk melakukan sertifikasi ini bagi eksportir Indonesia perlu dikaji lebih lanjut melalui dua hal; (1) apakah buyer dari UE secara ketat menuntut sertifikat, dan (2) apakah pemasok (petani) mampu memenuhi persyaratan sertifikasi yang diterapkan GLOBAL.G.A.P. Petani kecil dari negara berkembang dirasa masih kesulitan untuk memenuhi persyaratan GLOBALG.A.P (Hatanaka et al., 2005). Hal ini disebabkan karena standar ini dikembangkan di negara-negara industri di mana petani mereka telah maju dan memiliki akses yang luas terhadap informasi teknologi pertanian yang maju yang mendukung mereka untuk comply den-gan private standard tersebut. Sebaliknya, para petani Indonesia masih memiliki akses terbatas ke informasi yang berkaitan dengan standar (Bar-rett, Browne, Harris, & Cadoret, 2002). Terkadang petani yang ingin mengekspor harus bergantung pada Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) un-tuk memberikan informasi yang diperlukan men-genai standar tertentu (Hatanaka et al., 2005).
Hal ini mungkin akan berdampak pada kurang mampunya petani Indonesia untuk dapat comply
DISKUSI - PERLUNYA SOLUSI PERBAIKAN KAJIAN NON-COMPLIANCE ISSUES
DALAM EKSPOR PRODUK BUAH TROPIS INDONESIA KE UNI EROPA
RESEARCH SERIES
dengan standar GLOBAL.G.A.P. Selain itu, perlu diperhatikan juga bahwa biaya untuk menerapkan dan mendapatkan sertifikat GLOBALG.A.P cukup tinggi (UNCTAD, 2007). Pertanyaan yang kemudi-an muncul adalah siapa ykemudi-ang akkemudi-an menkemudi-anggung biaya untuk mendapatkan sertifikasi; para petani, eksportir, atau kedua belah pihak.
Ketika importir tidak mensyaratkan sertifikasi GLOBALG.A.P, akan lebih baik apabila petani memiliki sistem pertanian internal untuk menja-min bahwa produk mereka telah memenuhi pers-yaratan UE. Petani juga harus mampu secara aktif dan mandiri membaca dan mencari tahu pedo-man FAO atau pedopedo-man UE.
Di samping mengacu pada GLOBALG.A.P, menerapkan sistem pertanian organik dapat men-jadi alternatif keempat untuk mengatasi masalah residu pestisida yang berlebihan. Seperti yang dapat kita lihat dari Subbab 4.3.d, tidak ada masa-lah signifikan yang dialami oleh eksportir organik dalam mengekspor buah ke UE, asalkan perusa-haan tersebut telah disertifikasi organik oleh otori-tas kontrol yang diakui oleh UE. Karena tergolong niche market, produk organik dipandang sebagai memiliki nilai tambah sehingga harga jualnya juga lebih tinggi daripada produk mainstream lainnya.
Oleh karena itu, mereka yang mengekspor buah organik, mungkin, akan menerima lebih banyak keuntungan daripada eksportir buah pada umum-nya. Namun, petani juga harus menyadari bah-wa produksi organik memerlukan investasi yang besar untuk produksi dan untuk sertifikasi (FAO, n.d.). Namun, perlu disadari pula bahwa adanya wacana buah organik akan dihapuskan statusn-ya sebagai “organic” bila diekspor menggunakan seafreight menjadi hambatan tersendiri bagi ek-sportir. Meskipun hal ini belum tentu benar adan-ya, eksportir harus mulai waspada akan wacana ini dan berusaha mencari alternatif lain.
Dalam situasi kurangnya biaya untuk melaku-kan sertifikasi organik, para petani tetap bisa men-jual produk organik mereka ke UE dengan sistem two-party joint cooperation di mana mitra dagang di UE dapat melakukan audit ke lahan pertanian di Indonesia (lihat Subbab 4.6). Apabila perusahaan mitra dari UE merasa bahwa praktik yang dilaku-kan telah sesuai dengan standar yang diharap-kan, maka kerjasama dagang dapat dilanjutkan.
Hal ini tentunya perlu dinegosiasikan sejak awal dan disepakati bersama oleh kedua belah pihak.
Terlepas dari keempat alternative perbaikan di atas, biaya transportasi yang tinggi juga diang-gap sebagai kendala eksportir berikutnya (masa-lah no. 6 Table 11) karena pengiriman buah segar sejauh ini hanya bisa dilakukan melalui airfreight.
Meskipun mahal, airfreight menyediakan rute dan waktu tercepat serta meminimalkan postharvest losses selama pengiriman, jika teknologi peny-impanan melalui seafreight seperti yang telah dibahas sebelumnya belum dapat diterapkan, pe-merintah Indonesia dalam hal ini perlu memberi-kan kemudahan bagi eksportir guna mendukung peningkatan ekspor ke UE dengan bekerjasa-ma dengan penyedia layanan pengiribekerjasa-man untuk menurunkan biaya angkutan udara dari Indonesia ke luar negeri.
Terlepas dari semua opsi inisiatif perbaikan di atas, pemerintah juga harus aktif dalam menyedi-akan informasi mengenai ekspor buah tropis ke UE. Saat ini, informasi yang tersedia terkait ekspor ke UE tidak lebih lengkap daripada ekspor ke ne-gara lain seperti Cina dan nene-gara- nene-gara di Timur Tengah. Selain itu, intervensi pemerintah terhada perlakuan fitosanitarsi sebaiknya tidak melenceng dari apa yang tertulis di peraturan perundangan.
Badan Karantina Pertanian Indonesia juga harus dapat menyediakan area yang layak untuk mel-akukan perlakuan fitosanitari saat pre-departure.
DISKUSI - PERLUNYA
SOLUSI PERBAIKAN RESEARCH
SERIES KAJIAN NON-COMPLIANCE ISSUES
DALAM EKSPOR PRODUK BUAH TROPIS INDONESIA KE UNI EROPA
Mengetahui bahwa eksportir berorientasi non-UE tidak familiar dengan persyaratan hukum yang diterapkan UE dan hanya mempertimbang-kan aspek fitosanitari dan administrasi dalam mengekspor buah-buahan, eksportir juga perlu melakukan inisiatif perbaikan jika memiliki keingi-nan untuk ekspor ke UE. Empat inisiatif yang telah disebutkan sebelumnya, serta tindakan-tindakan yang telah dilakukan oleh eksportir UE dalam Subbab 4.4, perlu diperhitungkan oleh eksportir.
Namun, cara termudah untuk memasuki pasar UE bagi mereka adalah dengan mengacu pada
Subbab ini membahas mengenai peluang ek-spor buah kering dan buah beku di UE dengan mengkonsiderasikan beberapa aspek seperti jenis produk yang dapat diterima di EU, negara
kompetitor, serta aspek persyaratan hukum yang harus dipenuhi oleh eksportir. Informasi terkait peluang ekspor yang akan dijelaskan di bawah diperoleh dari CBI (n.d.-d) dan CBI (n.d.-e).
Terlepas dari saran-saran yang disebut-kan di atas, pengalaman dari perusahaan untuk mengekspor buah-buahan kalengan dapat digu-nakan oleh eksportir sebagai alternatif (lihat Sub-bab 4.5.b). Seperti yang telah dijelaskan sebel-umnya bahwa korporasi tidak memiliki masalah untuk memenuhi persyaratan keamanan pangan dan kualitas yang diterapkan di UE, para ekspor-tir dapat melakukan tindakan yang dilakukan oleh korporasi, seperti mengekspor buah kalengan karena shelf-life-nya lebih lama sehingga lebih memungkinkan dikirimkan melalui seafreight. Hal ini tentunya akan menurunkan biaya transportasi produk. Perusahaan menyatakan bahwa UE ada-lah pelanggan setia nanas kalengan. 80% dari pa-sokan pasar dunia nanas kalengan berasal dari Indonesia, Thailand, dan Filipina (Medina & Gar-cia, 2005). Ini bisa menjadi peluang bagus bagi eksportir Indonesia untuk memperkenalkan buah tropis kalengan lainnya dan dengan demikian, dapat menciptakan loyal customers baru di UE.
Namun, perlu diketahui bahwa ada dua hal yang perlu diperhatikan jika mengekspor buah kaleng ke UE. Pertama, buah kaleng dapat diang-gap sebagai processed food yang mana dalam perdagangan, dimungkinkan importir UE memin-ta eksportir untuk melakukan lebih dari satu jenis sertifikasi (misal sertifikasi GLOBALG.A.P dan ser-tifikasi ISO). Kedua, bea impor yang diterapkan di UE harus menjadi aspek penting untuk dipertim-bangkan (lihat Subbab 4.5.b.ii) karena biasanya processed food memiliki bea impor lebih tinggi dibandingkan raw food. Untuk mengetahui bea impor saat ini yang digunakan di UE, eksportir harus memeriksa EU Market Access Database for EU Tariffs. Selain buah kaleng, produk lain seperti buah kering dan buah beku dapat pula menjadi alternatif lain ekspor buah dengan shelf-life yang lama.
standar GLOBALG.A.P. Mengacu pada standar ini akan membawa eksportir comply dengan ham-pir semua persyaratan hukum UE (lihat Subbab 4.3.e). Jika GLOBALG.A.P dirasa belum dapat dilakukan, eksportir dapat melakukan sertifika-si PRIMA sebagai langkah awal untuk menjamin bahwa produk tersebut diproduksi sesuai dengan GAP meskipun beberapa aturan tidak lebih ketat daripada GLOBALG.A.P. Dengan ini diharapkan produk-produk buah tropis Indonesia dapat lolos dari kontrol resmi dan masuk pasar UE.