4. Kelompok Bediom, kelompok ini sudah bertempat tinggal di luar kawasan
4.1.3. Demografi Orang Rimba
4.2.1.2. Institusi Sosial dan Norma Sosial Orang Rimba
Institusi Sosial30merupakan wujud abstrak dari suatu lembaga merupakan sekumpulan norma-norma pengaturan perilaku dalam aktivitas kehidupan suatu masyarakat. Selanjutnya Bertrand (1980)
mengemukakan institusi sosial pada hakekatnya adalah kumpulan-kumpulan dari norma-norma sosial (struktur sosial) yang telah diciptakan untuk dapat melaksanakan fungsi masyarakat.
Dalam masyarakat adat Orang Rimba selain institusi atau lembaga sosial pengulu, dikenal pula lembaga sosial keluarga, perkawinan, berburu, berladang, religi atau agama dan pola pemanfaatan
hutan. Institusi sosial dalam masyarakat Orang Rimba belum banyak mengalami perubahan terkecuali institusi berladang yang proses internalisasinya dipengaruhi oleh orang terang sebagai dampak interaksi yang terjadi.
Secara teori fungsi keluarga dalam masyarakat adalah untuk menyelesaikan tugas-tugas tertentu diantaranya adalah funsi sosialisasi, fungsi afeksi dan fungsi perlindungan.31 Dalam aspek fungsi institusi keluarga, dalam komunitas Orang Rimba adalah lemahnya fungsi perlindungan dan afeksi
30 Sugiyanto, Lembaga Sosial, Global Pustaka Utama-Yogyakarta, 2002.
31 Paul B. Horton dan Chester L.Hunt, Sosiologi, Edisi Keenam, Penerbit Erlangga-Jakarta, 1987.
Sumber Photo :www.peopleandplanet.net
Universitas Indonesia
keluarga terhadap anak. Hal ini terlihat dalam pemenuhan kebutuhan hidup, bagi anak-anak Orang Rimba setelah mereka sudah bisa mengenakan cawot atau cawat yang merupakan pakaian tradisional laki-laki Orang Rimba, maka si anak harus mencari makanan sendiri. Dalam artian orang tua tidak begitu memiliki beban untuk memenuhi kebutuhan makanan anak secara cukup layaknya keluarga biasa, anak-anak harus mencari makanan sendiri dengan cara mencari umbi-umbian hutan, berburu binatang atau mencari buah hutan yang dapat dimakan. Orang tua hanya mengurus anak-anak yang masih berumur balita atau yang belum bisa menggunakan cawot.
Lemahnya fungsi institusi keluarga ini berpengaruh pada proses kehidupan anak, anak-anak remaja Orang Rimba sudah terbiasa pergi merantau meninggalkan keluarga, mereka merantau ke desa-desa terdekat dari kawasan hutan tempat mereka bermukim. Alasan mereka meninggalkan keluarga adalah karena tersinggung tidak mendapatkan pembagian daging hasil buruan secara adil dari orang tua, tidak jarang karena kemauan sendiri sebab di keluarga Orang Rimba para orang tua tidak mempunyai beban pemikiran yang jauh akan masa depan anak-anak mereka. Hal ini mungkin dikarenakan tuntutan kehidupan yang masih sederhana. Lemahnya beberapa fungsi keluarga juga terlihat dari sulitnya melakukan proses pendidikan bagi anak-anak Orang Rimba yang telah dilakukan oleh pemerintah dan LSM terhadap anak-anak Orang Rimba di kawasan TNBD.
Hal ini dikuatkan dari beberapa infroman yang diwawancarai, misalnya dalam proses pelaksanaan belajar secara alternatif di dalam rimba atau dalam proses belajar disekolah formal. Dalam proses ini peran orang tua boleh dikatakan belum maksimal untuk memberikan motivasi kepada anak agar dapat mengikuti proses belajar atau bersekolah.32
Institusi sosial berburu, berladang dan pola pemanfaatan hutan yang berlaku di masyarakat Orang Rimba memiliki kearifan terhadap kelestarian sumberdaya alam yang berada di kawasan hutan TNBD. Institusi sosial ini perlu dibangun untuk tujuan agar lebih efisien dan multiguna. Kearifan lokal yang dimiliki komunitas Orang Rimba khususnya dalam hal pemanfaatan sumberdaya
Universitas Indonesia
alam dapat dijadikan titik masuk dalam proses perencanaan pembangunan sosial bagi Orang Rimba.
Kearifan lokal yang dimiliki oleh komunitas Orang Rimba perlu dikuatkan agar tidak hilang atau melemah sebagai
dampak dari proses interaksi dengan masyarakat luar atau Orang Terang. Tentunya proses penguatan kearifan lokal ini harus dilakukan dengan memperhatikan norma dan nilai yang berlaku dalam komunitas Orang Rimba agar tidak memberikan dampak negatif terhadap nilai budaya yang dimiliki Orang Rimba. Proses penguatan kearifan lokal ini sejalan dengan pendapat Sugiyanto mengenai pembangunan lembaga sosial adalah suatu
perspektif tentang perubahan sosial yang direncanakan dan didampingi. Pembangunan lembaga sosial adalah perencanaan, penataan dan bimbingan dari organisasi-organisasi baru atau yang disusun kembali yang menetapkan, mengembangkan dan melindungi hubungan-hubungan normatif dan pola-pola tindakan yang baru.33
Hal penting yang harus diperhatikan bahwa proses perubahan sosial yang direncanakan bagi komunitas Orang Rimba perlu untuk didampingi dan difasilitasi agar dapat berjalan sesuai dengan kondisi sosial budaya yang dimiliki Orang Rimba.
Secara teori para sosiolog menjelaskan norma sosial menggunakan konsep kebudayaan. Karena kebudayaan mengandung standar normatif untuk perilaku. Secara khusus kebudayaan dapat dipandang sebagai cara hidup (way of life) yang harus dipelajari dan diharapkan dan sama-sama harus diikuti oleh para warga masyarakat tertentu atau para anggota dari suatu kelompok tertentu.34 Norma sosial yang tumbuh dan berkembang dalam masyarakat Orang Rimba dapat
33 Op.Cit.Sugiyanto,2002.
34 Op.Cit. Soleman B. Taneko, 1984.
Sumber Photo : Koleksi Pribadi
Gbr. 4.14 Pohon Tenggeris Anak Didenda Adat Jika Ditebang
Universitas Indonesia
dilihat dari berbagai aspek budaya yang mereka miliki yang berkaitan dengan larangan dan denda adat yang membatasi dan mengendalikan perilaku mereka. Dalam adat Orang Rimba denda atau sanksi harus ditebus atau dibayar dengan “kain”. Kain mempunyai nilai sosial dan nilai ekonomi yang tinggi dalam komunitas adat Orang Rimba.
Norma sosial yang berlaku dalam masyarakat Orang Rimba terkait dalam hubungan kehidupan mereka dalam pemanfaatan ruang kawasan hutan dan pemanfaatan sumberdaya alam hutan, dan norma sosial yang mengatur hubungan dengan sesama Orang Rimba. Contoh dalam hal ini adalah larangan menebang hutan di kawasan tanah kelahiran, tanah pasohon, larangan menebang pohon sialang, pohon tenggeris dan pohon sentubung. Pelanggaran terhadap norma sosial tersebut akan di denda dengan kewajiban membayar dengan sejumlah kain. Mulai dari denda kecil 60 kain sampai dengan besar 500 kain.