• Tidak ada hasil yang ditemukan

JAWA BARAT

INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2011

i RINGKASAN

ANA MAWAR IRIANI. D240612983. 2011. Kecukupan Nutrien Makro pada Sapi Pejantan di Balai Inseminasi Buatan Lembang Jawa Barat. Skripsi. Departemen Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan, Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor.

Pembimbing Utama : Prof. Dr. Ir. Toto Toharmat, M.Agr.Sc. Pembimbing Anggota : Dr. Ir. Suryahadi, DEA.

Ketersediaan bibit merupakan salah satu faktor paling dominan dalam keberhasilan sebuah usaha peternakan, baik pada usaha peternakan sapi perah ataupun peternakan sapi potong. Selain itu ketersediaan bibit juga merupakan masalah nasional. Bibit yang baik dan berkualitas dipengaruhi oleh pakan yang diberikan. Pakan tersebut harus memiliki kualitas baik dan diberikan dengan kuantitas yang mencukupi. Tujuan dari penelitian ini adalah mengevaluasi kecukupan nutrien makro pakan yang diberikan kepada sapi pejantan terkait dengan kondisi fisiologis dan kualitas semen pada sapi pejantan tersebut.

Penelitian menggunakan data sekunder yang diperoleh dari catatan pemberian pakan dan kondisi sapi pejantan di Balai Inseminasi Buatan Lembang, Jawa Barat. Sapi pejantan yang dipelihara terdiri dari bangsa Frisian Holstein (FH), Limousin, Simmental, Angus, Brangus, Brahman, dan Ongole dengan bobot badan dan umur yang berbeda. Data diperoleh dari 75 ekor sapi pejantan yang diamati pada tahun 2010. Pakan sapi pejantan dievaluasi berdasarkan bobot badan per bangsa sapi. Pakan yang diberikan berupa hijauan rumput Gajah (Pennisetum purpureum), pucuk tebu serta rumput kering dan konsentrat dan toge. Ransum diberikan berdasarkan bobot badan. Umur tidak dipertimbangkan dalam penentuan jumlah pemberian ransum.

Data menunjukkan bahwa terdapat kelebihan jumlah nutrien makro dalam ransum yang diberikan. Pejantan dapat menghasilkan sperma yang berkualitas walaupun umurnya sudah tua. Kelebihan nutrien makro yang diberikan memastikan bahwa kebutuhan nutrien untuk hidup pokok dan produksi dapat terpenuhi. Kondisi tersebut mampu mempertahankan kualitas sperma yang dibuat menjadi sperma beku. Permasalahan yang timbul diduga dari kurangnya kecukupan dan ketidakseimbangan dari nutrien mikro, diantaranya adalah kandungan Ca dan P dalam ransum.

ii ABSTRACT

Macro Nutrient Sufficiency in Bulls in the Institute for Artificial Insemination Lembang, West Java

A.M. Iriani, T. Toharmat, and Suryahadi

The shortage of replacement stock is a limiting factor in development of dairy and beef industry in Indonesia. Availability and performance of the replacement stock is influenced by feed availability and feeding management. The objective of this study was to evaluate the nutrient sufficiency in Bulls reared in the Institute for Artificial Insemination (BIB), Lembang - West Java. Information on feeding management, physiological condition and semen production recorded from 75 bulls was evaluated. The breed of bulls were Frisian Holstein (FH), Limousine, Simmental, Angus, Brangus, Brahman, and Ongole. They varied in their age and body weight. Feed offered were elephant grass, sugarcane top, hay, tauge and concentrate. Total feed offered was based on the body weight. Result indicated that the makro nutrients in the rations offered to the bulls was inacxess. Bulls produce high quality semen, therefore the bull has obtained the sufficient ammount of nutrient for reproduktif and milk production. Health problem of bulls was assciated with the inbalance nutrient intake.

1 PENDAHULUAN

Latar Belakang

Ketersediaan bibit merupakan salah satu faktor paling dominan dalam upaya mencapai keberhasilan sebuah usaha peternakan, baik pada usaha peternakan sapi perah ataupun peternakan sapi potong. Ketersediaan bibit hingga saat ini merupakan masalah nasional. Bibit yang baik dan berkualitas dipengaruhi oleh pakan yang diberikan. Pakan harus diupayakan tersedia secara berkesinambungan, berkualitas, dan diberikan dengan kuantitas yang memadai.

Pakan di daerah tropis umumnya berkualitas kurang baik, sehingga untuk mengatasi masalah tersebut, manajemen pemberian pakan harus mendapat perhatian khusus. Pakan yang diberikan harus memiliki komposisi nutrien yang cukup dan seimbang. Pakan dengan komposisi nutrien yang cukup dan seimbang akan menghasilkan performa ternak yang baik.

Sapi pejantan unggul merupakan penghasil sperma yang dibekukan untuk didistribusikan dan digunakan dalam program inseminasi sejumlah besar sapi betina. Sperma dari sapi pejantan yang baik akan menghasilkan keturunan atau bibit yang baik. Kualitas sperma sangat dipengaruhi oleh kualitas pakan. Pakan berkualitas buruk dengan kadar nutrien rendah dan tidak seimbang, maka dapat mengganggu metabolisme nutrien. Terganggunya metabolisme nutrien dalam tubuh ternak akan mengakibatkan gangguan pada spermatogenesis, kesehatan ternak bahkan dapat menimbulkan kematian. Gangguan kesehatan yang sering terjadi pada sapi pejantan dapat terkait dengan kelebihan atau kekurangan nutrien.

Oleh karena itu, perlu dilakukan suatu evaluasi kecukupan nutrien yang terkandung dalam pakan sapi pejantan yang diberikan dengan mengacu pada standar kebutuhan NRC (1988) berdasarkan umur, bobot badan, dan jenis sapi. Hasil evaluasi diharapkan dapat membantu dalam melakukan perubahan atau memperbaiki manajemen pemberian pakan dalam sistem pemeliharaan yang telah dilakukan. Sehingga dapat menentukan kuantitas dan kualitas pakan yang tepat dan mampu memenuhi kebutuhan ternak sesuai umur, bobot badan, dan kondisi faal sapi pejantan.

2 Tujuan

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengevaluasi jenis, jumlah, dan kecukupan nutrien yang diberikan kepada sapi pejantan terkait dengan kondisi fisiologis, kualitas semen, dan bangsa sapi pejantan tersebut.

3 TINJAUAN PUSTAKA

Sapi Pejantan

Sapi merupakan salah satu hewan ternak yang sering dipergunakan dalam usaha peternakan. Hal ini disebabkan banyaknya manfaat yang dihasilkan dari ternak sapi itu sendiri, antara lain daging dan susu. Menurut Blakely dan Bade (1998) bangsa sapi mempunyai klasifikasi taksonomi sebagai berikut :

Kingdom : Animal Filum : Chordata Kelas : Mammalia Ordo : Artiodaktil Sub Ordo : Ruminansia Familia : Bovidae Genus : Bos

Performan produksi dan reproduksi sapi ditentukan oleh induknya baik betina maupun pejantannya. Namun kualitas bibit sapi saat ini dikontrol melalui upaya memelihara pejantan yang khusus untuk diambil spermanya. Sehingga sapi pejantan merupakan salah satu ternak yang berperan sangat penting dalam usaha pembibitan.

Bahan Pakan

Bahan pakan adalah bahan yang dapat dimakan, dicerna dan digunakan oleh hewan yang mampu menyajikan hara atau nutrien yang penting untuk perawatan tubuh, pertumbuhan, penggemukan, dan reproduksi. Darmono (1999) menjelaskan bahwa bahan pakan yang baik adalah bahan pakan yang mengandung karbohidrat, protein, lemak, vitamin, dan mineral serta tidak mengandung racun yang dapat membahayakan ternak yang mengkonsumsinya. Bahan pakan ternak terdiri dari tanaman, hasil ikutan tanaman pangan, dan kadang berasal dari ternak serta hewan yang hidup di laut (Tillman et al., 1991). Menurut Blakely dan Bade (1998) bahan pakan dapat dibagi menjadi dua kelompok yaitu konsentrat dan bahan pakan berserat. Konsentrat berupa bijian dan butiran sedangkan bahan berserat yaitu jerami dan rumput yang merupakan komponen penyusun ransum utama pada ternak ruminansia.

4 Pakan hijauan adalah semua bahan pakan yang berasal dari tanaman ataupun tumbuhan berupa daun-daunan, terkadang termasuk batang, ranting, dan bunga (Tillman et al., 1991). Hijauan biasanya diberikan dalam bentuk segar, silase atau hay. Lubis (1992) mengemukakan bahwa pakan sebaiknya diberikan pada ternak dalam keadaan segar. Pakan yang baik diberikan dengan perbandingan 60:40, apabila hijauan yang diberikan berkualitas rendah perbandingan itu dapat menjadi 55:45 dan hijauan yang diberikan berkualitas sedang sampai tinggi perbandingan itu dapat menjadi 64:36 (Parakkasi, 1999).

Pakan penguat atau konsentrat adalah pakan yang mengandung serat kasar rendah dan mudah dicerna. Menurut Darmono (1999) konsentrat adalah bahan pakan yang mengandung serat kasar kurang dari 18%, berasal dari biji- bijian, hasil produk ikutan pertanian atau pabrik pengolahan pangan, dan umbi- umbian. Jagung, menir, dedak, katul, bungkil, dan tetes juga termasuk kelompok kosentrat. Fungsi pakan penguat adalah meningkatkan dan memperkaya nilai gizi bahan pakan lain yang nilai gizinya rendah.

Kebutuhan Nutrien Sapi Pejantan

Faktor yang menentukan keberhasilan suatu peternakan yaitu pemberian pakan. Sapi akan memiliki kualitas dan kuantitas output yang baik, bila kuantitas maupun kualitas pakan yang diberikan cukup baik. Untuk mencegah kerugian, pemberian pakan harus diperhitungkan secara cermat dan harus dilakukan secara efisien. Kemampuan ternak ruminansia dalam mengkonsumsi ransum dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu: 1) faktor ternak itu sendiri yang meliputi besar tubuh atau bobot badan, potensi genetik, status fisiologi, tingkat produksi dan kesehatan ternak; 2) faktor ransum yang diberikan, meliputi bentuk dan sifat, komposisi nutrien, frekuensi pemberian, keseimbangan nutrien serta kandungan bahan toksik dan anti nutrisi; dan 3) faktor lain yang meliputi suhu dan kelembaban udara, curah hujan, lama siang atau malam hari serta keadaan ruangan kandang dan tempat ransum (Parakkasi, 1999). Sehingga nutrisi yang dibutuhkan oleh sapi khususnya sapi pejantan harus mempunyai informasi sebagai berikut : 1) kondisi dan berat badan sapi, 2) jenis dan komposisi makanan misalnya bahan kering, TDN, protein, dan sumber mineral.

5 Kebutuhan Bahan Kering

Bahan kering (BK) adalah bahan yang terkandung di dalam pakan setelah dihilangkan airnya. Jumlah pemberian ransum dapat diperkirakan dari kebutuhan bahan kering. Jumlah bahan kering yang dapat dikonsumsi sapi sangat beragam, sesuai dengan kondisi lingkungan, berkisar 2,2%-3,0% dari bobot badan (Sutardi, 1981). Konsumsi bahan kering menurut Lubis (1992) dipengaruhi oleh beberapa hal diantaranya: 1) faktor pakan yang meliputi daya cerna dan palatabilitas; dan 2) faktor ternak yang meliputi bangsa, jenis kelamin, umur, dan kondisi kesehatan ternak. Fungsi bahan kering pakan antara lain sebagai pengisi lambung, perangsang dinding saluran pencernaan dan merangsang pembentukan enzim. Apabila ternak kekurangan bahan kering menyebabkan ternak merasa tidak kenyang.

Kebutuhan Energi

Energi adalah sumber kemampuan untuk melakukan kerja dan dibutuhkan oleh semua proses hidup. Menurut Parakkasi (1999) ternak memanfaatkan energi untuk pertumbuhan dan produksi setelah kebutuhan hidup pokoknya terpenuhi. Tinggi rendahnya energi yang diperlukan dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain bobot badan dan konsumsi pakan itu sendiri. Kebutuhan energi akan meningkat seiring dengan pertambahan bobot badan. Defisiensi energi yang parah dapat mengganggu reproduksi, sedangkan kelebihan energi dalam pakan akan mengakibatkan penimbunan jaringan adiposa dalam tubuh. Satuan energi dapat dinyatakan dalam satuan TDN (Total Digestable Nutrient) yaitu jumlah nutrien yang dapat dicerna (Ensminger et al., 1990).

Karbohidrat merupakan nutrien yang cepat mensuplai energi sebagai sumber energi tubuh. Karbohidrat diklasifikasikan sebagai monosakarida, disakarida dan polisakarida. Monosakarida utama yang terdapat dalam bentuk bebas dalam pakan ialah glukosa. Pada hewan ruminansia glukosa darah didapatkan dari perubahan propionat. Semua volatile fatty acid (VFA) yang diproduksi dalam rumen yaitu asetat, propionate, dan butirat, dapat menghasilkan energi, tetapi propionat merupakan satu-satunya sumber utama glukosa (Piliang dan Djojosoebagio, 2006).

6 Kebutuhan Protein

Selain energi, protein merupakan nutrien yang penting untuk proses metabolisme tubuh. Protein adalah senyawa organik kompleks yang mempunyai berat molekul tinggi. Ruminansia mendapatkan protein dari 3 sumber, yaitu protein mikrobia rumen, protein pakan yang lolos dari perombakan mikrobia rumen, dan sebagian kecil dari protein endogenus (Tillman et al., 1991). Tubuh memerlukan protein untuk membentuk, memperbaiki, dan menggantikan sel tubuh yang rusak. Protein dalam tubuh mengalami perombakan dan asam amino yang terbentuk dapat diubah menjadi energi jika diperlukan. Protein yang didapat dari pakan berasal dari tumbuhan yang biasa disebut protein nabati dan dari hewan yang disebut protein hewani (Piliang dan Djojosoebagio, 2006).

Kondisi tubuh ternak yang normal dapat dipertahankan melalui konsumsi protein dalam jumlah yang cukup. Defisiensi protein dalam ransum akan memperlambat pengosongan perut sehingga menurunkan konsumsi (Ensminger et al., 1990).

Asam amino merupakan komponen protein di dalam tubuh ternak ruminansia, dapat dibedakan menjadi asam amino yang dapat disintesis dan asam amino yang tidak dapat disintesis. Protein yang dibutuhkan oleh ternak ruminansia dapat dinyatakan dalam bentuk protein kasar (PK) atau protein dapat dicerna (Prdd). Protein kasar adalah jumlah nitrogen (N) yang terdapat di dalam pakan dikalikan dengan 6,25; sedangkan Prdd adalah protein pakan yang dapat dicerna dan diserap dalam saluran pencernaan (Parakkasi, 1999). Menurut Anggorodi (1994) kekurangan protein pada sapi dapat menghambat pertumbuhan, sebab fungsi protein adalah untuk memperbaiki jaringan, pertumbuhan jaringan baru, metabolisme, sumber energi, bahan baku pembentukan antibodi, enzim, dan hormon.

Kebutuhan Mineral

Selain makro nutrien, tubuh hewan juga memerlukan mikro nutrien untuk stabilitas fungsi sel, salah satu mikro nutrien yang diperlukan adalah mineral. Mineral merupakan unsur kimiawi yang diperlukan oleh jaringan hidup untuk fungsi biologis normal. Berdasarkan jumlahnya, unsur-unsur tersebut dikelompokkan menjadi dua golongan yaitu unsur makro dan mikro (Piliang dan Djojosoebagio, 2006).

7 Anggorodi (1994) mengemukakan bahwa terdapat 15 unsur mineral yang essensial dalam tubuh, termasuk unsur mineral makro dan mineral mikro. Unsur mineral makro diperlukan tubuh dalam jumlah relatif besar, mencakup K, Na, Ca, P, Mg, S, dan Cl. Sedangkan mineral mikro yang diperlukan oleh tubuh relatif lebih kecil dibandingkan dengan mineral makro, dan mineral mikro mencakup Zn, Cu, Fe, I, Mn, Se, Mo, Cr, dan Ni.

Status nutrisi mineral ternak sangat ditentukan oleh jumlah dan jenis mineral yang dikonsumsi. Konsumsi yang berlebihan sering menimbulkan keracunan, demikian pula sebaliknya, bila konsumsi mineral sangat rendah, akan mengakibatkan defisiensi. Mineral harus disediakan dalam perbandingan yang tepat dan dalam jumlah yang cukup, karena apabila terlalu banyak mineral akan membahayakan tubuh ternak (Anggorodi, 1994). Kebutuhan mineral pada ternak, sering dinyatakan dalam bentuk % atau mg/kg ransum.

Parakkasi (1985) menyatakan bahwa kebutuhan mineral pada ternak dipengaruhi beberapa faktor, yaitu umur ternak, jenis dan tingkat produksi, jumlah dan bentuk ikatan mineral yang dikonsumsi, dan interaksi dengan nutrien lain. Defisiensi, ketidakserasian atau keracunan mineral dapat menghambat pertumbuhan dan tingkat produksi ternak yang berakibat buruk pada efisensi penggunaan pakan (Sutardi, 1982).

Mineral mikro yang mempunyai fungsi penting dalam metabolisme nutrien dalam tubuh salah satunya adalah Zn. Unsur Zn terlibat terutama dalam metabolisme asam nukleat dan protein dan juga dalam proses penggantian sel dan sangat penting dalam menunjang aktifitas enzim. Enzim yang mengandung Zn sangat banyak jumlahnya, antara lain anhidrase karbonat, urease, dehidrogenase glutamate, dan polimerase RNA dan DNA. Unsur Zn ditemukan terikat dengan kelenjar penghasil insulin dan juga digunakan dalam metabolisme vitamin A (Church dan Pond, 1988).

Unsur Zn juga sangat diperlukan dalam menunjang fungsi sistem reproduksi, diantaranya diperlukan dalam produksi sperma, perkembangan embrio, dan tumbuh kembang anak. Kekurangan Zn akan mengganggu proses pembentukan sperma dan perkembangan baik organ seks primer maupun sekunder pada hewan jantan. Kekurangan Zn tersebut pada pejantan menyebabkan menurunnya fungsi testikular

8 (testicular hypofunction) yang berdampak pada terganggunya proses spermatogenesis dan produksi hormon testosteron oleh sel-sel Leydig.

Penyerapan Ca bergantung pada bentuk senyawa Ca tersebut yang berada dalam bahan pakan. Bila Magnesium (Mg) atau Phosphat (P) terlalu berlebihan, penyerapan Ca akan tertekan. Kecukupan unsur Ca ditunjukkan dengan kadar Ca darah yang normal. Kadar normal Ca serum darah pada sapi dewasa adalah 9-12 mg% (Thompson, 1978). Kadar Ca serum dapat berubah karena berbagai faktor diantaranya adalah tingkat konsumsi Ca dalam pakan. Kadar P dan Mg dalam ransum yang tinggi apat menekan penyerapan Ca, sehingga kadar Ca dalam darah dapat menurun (Danzier, 1984; Thompson, 1978).

Kadar P serum darah berkisar 4-6 mg% untuk sapi dewasa dan 6-8 mg% untuk sapi muda (Conrad, 1984). Kadar P darah sangat sensitif terhadap kekurangan P dalam bahan pakan. Kadar P di bawah normal dapat menunjukkan gejala defisiensi pada hewan. Kadar P dalam serum dapat bervariasi, karena adanya perubahan dalam jumlah konsumsinya (Thompson, 1978).

Kecernaan Nutrien

Kebutuhan ternak akan nutrien terdiri atas kebutuhan untuk hidup pokok, produksi, dan reproduksinya. Nutrien dalam ransum hendaknya tersedia dalam jumlah yang cukup dan seimbang sebab keseimbangan nutrien dalam ransum sangat berpengaruh terhadap daya cerna (Tillman et al., 1991). Semakin tinggi kecernaan suatu bahan makanan maka menunjukkan bahwa bahan makanan tersebut berkualitas baik untuk dikonsumsi ternak dan dimanfaatkan untuk proses metabolisme tubuhnya. Hal ini disebabkan pada umumnya pakan dengan kandungan nutrien yang dapat dicerna tinggi, maka tinggi pula nilai gizinya (Suarti, 2001).

Menurut Anggorodi (1994), nilai gizi pakan antara lain diukur dari jumlah nutrien yang dicerna dan dicerminkan juga oleh konsumsi bahan keringnya. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi kecernaan, termasuk suhu, laju perjalanan pakan pada organ pencernaan, bentuk fisik bahan pakan, komposisi ransum, dan pengaruh perbandingan dari nutrien lainnya.

9 Gangguan Metabolis

Hasil metabolisme yang dibuang oleh ginjal yaitu ureum dan kreatinin. Dua macam hasil metabolisme protein tersebut berfungsi sebagai indikator derajat kesehatan ginjal. Apabila keduanya meningkat, menunjukkan bahwa fungsi ginjal tidak baik. Pada manusia jika tekanan darah meningkat, maka filtrasi meningkat, sehinga jumlah urin meningkat (poliuria). Jika tekanan darah menurun, maka filtrasi menurun sehingga jumlah urin sedikit (poliuria sampai anuria) (Listiaji, 2010).

Pemeriksaan kadar ureum dan kreatinin dalam darah dapat menjadi acuan untuk mengetahui adanya gagal ginjal akut (GGA) yaitu suatu sindrom klinis yang ditandai dengan penurunan mendadak kecepatan penyaringan ginjal, disertai dengan penumpukan sisa metabolisme ginjal yaitu ureum dan kreatinin. Hal ini dapat terjadi dalam beberapa jam sampai beberapa hari (Listiaji, 2010).

Ureum adalah hasil akhir metabolisme protein. Berasal dari asam amino yang telah mengalami deaminasi di dalam hati dan mencapai ginjal, dan diekskresikan rata-rata 30 gram sehari. Kadar ureum darah yang normal adalah 20-40 mg, tetapi hal ini tergantung dari jumlah normal protein yang dikonsumsi dan fungsi hati dalam pembentukan ureum (Listiaji, 2010).

Kreatinin merupakan produk sisa dari perombakan kreatin fosfat yang terjadi di dalam otot. Kreatinin adalah metabolit dalam darah yang bersifat racun bagi sel, dan diproduksi jika ginjal sudah tidak berfungsi dengan normal. Koefisien kreatinin adalah jumlah mg kreatinin yang diekskresikan dalam 24 jam/kg berat badan (BB). Kadar kreatinin darah yang normal adalah 0,5-1,5 mg. Ekskresi kreatinin akan meningkat jika terjadi gangguan pada otot (Listiaji, 2010)

Gagal ginjal akut adalah penurunan fungsi ginjal yang mendadak akibat hilangnya kemampuan ginjal untuk mempertahankan homeostasis tubuh yang ditandai dengan peningkatan kadar ureum dan kreatinin darah. Gagal ginjal akut dibedakan menjadi GGA prarenal, GGA renal, dan GGA pasca renal.

Kualitas Semen Sapi

Semen adalah cairan yang dikeluarkan organ reproduksi jantan sewaktu berejakulasi, berisi spermatozoa dan plasma (Hafez, 1980; Salisbury et al., 1981). Campuran sekresi dari epididimis, vas defferens, kelenjar prostat dan kelenjar Cowper membentuk plasma semen. Plasma semen berisi senyawa organik yang

10 spesifik yaitu fruktosa, asam sitrat, inositol, sorbitol, glyserilphosphorylcholin, ergothionin, dan prostaglandin serta berisi senyawa inorganik antara lain K, Ca, dan bikarbonat (Hafez, 1980).

Faktor-faktor yang mempengaruhi kualitas dari semen sapi yaitu makanan, konstituen makanan, suhu dan musim, frekuensi ejakulasi, libido, dan faktor-faktor fisik serta berbagai faktor lainnya (seperti penyakit, pengangkutan, umur, herediter, dan gerak badan). Kualitas semen sapi dapat dilihat dari warna semen yang dihasilkan, konsistensi semen, nilai motilitas dari spermatozoa, gerakan massa, gerakan individual, konsentrasi spermatozoa, dan jarak antar kepala sperma (DeJarnette et al., 1992).

Suplementasi vitamin A asetat diperlukan untuk meningkatkan konsentrasi sperma dan konsentrasi sperma hidup, pada sapi yang mendapat rumput gajah yang disubtitusi dengan jerami padi 50%. Kombinasi suplementasi vitamin A asetat dengan cytozyme (+) pada pakan jerami padi dapat meningkatkan konsentrasi sperma hidup normal, meningkatkan keefisienan penggunaan energi tercerna dan meningkatkan keefisienan penggunaan TDN (Muhammad, 1986).

11 MATERI DAN METODE

Waktu dan Tempat Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juni sampai Juli 2010 di Balai Inseminasi Buatan (BIB) Lembang yang berlokasi di Jalan Kiwi Ayu Ambon 78 Lembang, Bandung, Jawa Barat.

Materi

Ternak yang merupakan objek evaluasi pada penelitian ini adalah sapi pejantan yang terdapat pada Balai Inseminasi Buatan (BIB) Lembang, Bandung. Sapi pejantan yang dievaluasi kecukupan pakannya terdiri atas beberapa bangsa, seperti: Frisian Holstein, Limousin, Simmental, Angus, Brangus, Brahman, dan Ongole. Jumlah sapi yang diamati sebanyak 85 ekor pada tahun 2009 dan 75 ekor pada tahun 2010 dengan bobot badan dan umur yang berbeda. Sapi pejantan yang dievaluasi kecukupan pakannya adalah populasi sapi pejantan pada tahun 2010. Evaluasi pakan sapi pejantan tersebut dibedakan berdasarkan bangsa sapinya.

Metode

Penelitian yang dilakukan merupakan penelitian non eksperimental. Penelitian ini didesain dengan menggunakan metode studi kasus dengan obyek sapi pejantan yang berada di BIB Lembang. Tujuan dari studi kasus ini adalah mendapatkan gambaran secara mendetail tentang status nutrisi sapi pejantan tersebut. Kegiatan penelitian dibagi dalam dua tahap, yaitu tahap pengambilan data dan pengolahan data. Data yang dipergunakan di dalam penelitian ini terdiri atas data sekunder dari tahun 2009 dan 2010. Data sekunder dikumpulkan dari laporan bulanan yang dimiliki BIB Lembang, termasuk bangsa, bobot badan dan umur sapi, jenis dan jumlah pakan yang diberikan, komposisi kimia pakan yang diberikan, jumlah semen yang dihasilkan, dan kondisi kesehatan sapi. Data yang terkumpul selanjutnya diolah dan disederhanakan dalam bentuk tabulasi lalu dianalisis secara deskriptif.

Pengelompokkan sapi dilakukan berdasarkan bobot badan dan bangsanya, bertujuan untuk membedakan jumlah pemberian pakan, dengan pertimbangan bahwa jumlah kebutuhan nutrien berbeda sesuai dengan bobot badan dan bangsanya. Pakan

12 yang diberikan berupa hijauan rumput Gajah (Pennisetum purpureum), pucuk tebu,

Dokumen terkait