v
N a m a : John Bestari N I M : D051030101
Disetujui
Komisi Pembimbing
Dr. Ir. Toto Toharmat, M.Agr.Sc Ketua
Dr. Ir. Kuswandi, M.Sc Anggota
Diketahui
Ketua Program Studi Ilmu Ternak
Dr. Ir. Nahrowi, M.Sc
Dekan Sekolah Pascasarjana
Prof. Dr. Ir. Khairil Anwar Notodiputro, MS
vi JOHN BESTARI. Suplementasi Kromium Pikolinat Murni dalam Ransum Sapi Perah Dara yang Dipelihara di Dataran Rendah. Dibimbing oleh TOTO TOHARMAT dan KUSWANDI.
Peran mineral Kromium (Cr) sebagai faktor toleransi glukosa (GTF) telah diketahui khususnya dalam meningkatkan entri glukosa ke dalam sel. Tujuan penelitian ini adalah mengkaji kemampuan nutrisi mineral Cr-pikolinat murni dalam ransum sapi perah dara terhadap fermentasi rumen, kondisi fisiologis (suhu rektal, denyut jantung dan pernafasan), kadar glukosa darah, hormon triiodotironine (T3), hormon tetraiodotironine (T4) dan tingkat pertumbuhan sapi perah (PFH) dara yang dipelihara di dataran rendah.
Percobaan dimulai dengan uji kualitas pakan secara in-vitro yang dilakukan
mengunakan rancangan acak lengkap, dengan 4 perlakuan suplementasi Cr-pikolinat murni (0; 1,5; 3,0 dan 4,5 ppm) dalam pakan konsentrat, masing-masing 3 ulangan. Ransum perlakuan terdiri dari rumput gajah dan konsentrat yang dibuat iso-protein (15%) dan iso-TDN (67%). Konsentrat dibuat dari bahan pakan bungkil kelapa, dedak padi, pollard, bungkil kelapa sawit, onggok, garam, kapur dan campuran mineral.
Percobaan kedua adalah uji kualitas ransum secara in-vivo menggunakan 12 ekor sapi
perah (PFH) dara umur 12 bulan dengan bobot badan 208 – 217 kg, dengan rancangan acak lengkap 4 perlakuan dan 3 ulangan. Perlakuan yang diberikan sama dengan
percoban in-vitro dan diamati selama 12 minggu.
Suplementasi Cr-pikolinat murni dalam ransum menghasilkan kecernaan dan fermentabilitas ransum yang lebih baik (P < 0,05), meningkatkan bobot badan dan konsumsi BK pakan secara nyata (P<0,05). Diperoleh penurunan pada kadar glukosa darah pada perlakuan suplementasi 3,0 dan 4,5 ppm dibandingan kontrol. Hal yang sama juga terjadi pada suhu rektal, denyut jantung dan pernafasan terjadi penurunan yang nyata (P<0,05) pada perlakuan suplementasi 3,0 dan 4,5 ppm, sebaliknya terjadi peningkatan pada kandungan hormon T3 dan T4 secara nyata, sehingga suplementasi Cr-pikolinat murni dalam pakan konsentrat sapi PFH yang dipelihara di dataran rendah diperlukan.
Cr-pikolinat murni dapat digunakan dalam metabolisme mikroba rumen dan jaringan tubuh, sehingga menghasilkan pertambahan bobot badan dan kecernaan yang lebih tinggi serta menurunkan suhu tubuh, denyut jantung dan pernafasan. Suplementasi Cr-pikolinat murni menurunkan kadar glukosa darah dan meningkatkan hormon T3 dan T4 plasma sapi perah yang dipelihara di dataran rendah. Hasil penelitian menunjukan bahwa suplementasi Cr-pikolinat murni memperbaiki kemampuan termoregulasi pada sapi perah dara yang dipelihara di dataran rendah yang panas sehinga dapat memperbaiki performannya.
vii JOHN BEST ARI. Supplementation of Pure Chromium Picolinate in Rations of Dairy Heifers Raised in Low Land Area. Supervised by TOTO TOHARMAT and KUSWANDI.
The role of Chromium (Cr) as a glucose tolerance factor (GTF) has well recognised in particular for glucose intake into cells. The purpose of this study is to evaluate the supplementation effect of pure Cr-picolinate in dairy heifers feed in altering ruminal fermentation, physiological condition (rectal temperature, cardiac pulses and respiration), plasma glucos e level, triiodothyronine (T3) hormone, tetraiodothyronine (T4) hormone and growth rate on dairy heifers raised in low land area.
The experiment was initiated with an in-vitro trial applying a completely randomized design with 4 treatments of pure Cr-picolinate supplementation levels (0; 1.5; 3.0; and 4.5 ppm) in concentrate of 3 replications subsequently. Experimental ration consisted of elephant grass (Pennisetum purperium) and concentrate made to isoprotein (15%) and iso TDN (67%). Concentrate was made from cocconut cake, rice bran, pollard, palm kernel cake, cassava by product (onggok), salts, lime and mineral mixed. The second experiment was in-vivo trial using 12 heads of Fresien Hollstein crossbreeds of 12 months old and 208 to 217 kg weight, using a completely randomized design of 4 treatments and 3 replications. The treatment applied was similar to the in-vitro study for 12 weeks observation.
.
Supplementation of pure Cr-picolinate resulted better digestability and fermentability (P<0.05) and increased body weight gain and feed dry matter intake (P<0.05). Plasma glucose level in heifers fed ration supplemented with 3.0 and 4.5 ppm Cr-picolinate decreased significantly compared to that in control group. The study also resulted significant reduction in rectal temperature, cardiac pulses and respiration rate (P<0.05) but increased significantly T3 and T4 hormone in heifers offered ration supplemented with 3.0 and 4.5 ppm. The supplementation of pure Cr-picolinate in ration is therefore required for dairy heifers raised in low land area.
Supplementation of pure Cr-picolinate might be used in metabolism of ruminal microorganism and tissues, that produced heigher body weight gain and digestibility and lower body temperature, cardiac pulses and respiratory rate. Supplementation of pure Cr-picolinate reduced plasma glucose level and increased T3 and T4 hormones content in dairy heifers raised in low land area. It is suggested that supplementation of pure Cr-picolinate improves termoregulatory capability of dairy heifers in warm low land area and improve their performance.
viii
lagi maha penyayang karena berkat limpahan rakhmat dan hidayahnya, penulis dapat menyelesaikan penelitian dan penulisan tesis ini dengan baik. Tesis ini mengangkat tema teknologi nutrisi mineral kromium pada sapi perah yang dipelihara di daerah dataran rendah lingkungan panas, yang merupakan salah satu syarat untuk memperoleh gelar Magister Sains (M.Si) pada Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor.
Penulis mengucapkan terima kasih dan penghargaan kepada Bapak Dr. Ir. Toto Toharmat, M.Agr.Sc sebagai ketua komisi pembimbing dan Bapak Dr. Ir. Kuswandi, M.Sc sebagai anggota komisi pembimbing yang telah memberikan arahan, bimbingan, saran, motivasi dan dukungan secara ikhlas dan penuh perhatian mulai dari pembuatan proposal sampai penulisan tesis, sehinga dapat menambah wawasan penulis dalam berbagai hal yang tertuang dalam tesisi ini. Ucapan terima kasih juga disampaikan kepada Ibu Dr. Ir. Dwierra Evvyerni, M.S, M.Sc sebagai penguji luar komisi yang telah memberikan masukan dan kritikan yang sangat membantu dalam penulisan tesis ini.
Ucapan terima kasih penulis sampaikan kepada pimpinan dan staf laboratorium percobaan ternak ruminansia besar Balitnak Ciawi (I. Ketut Pustake dan staf) laboratorium ternak lokasi Cicadas (Bambang Eka dan staf), staf laboratorium Fisiologi Nutrisi Balitnak lokasi Bogor, satf laboratorium Fisologi dan Famakologi FKH IPB yang telah banyak membantu dalam pelaksanaan hingga selesainya penelitian.
Kepada kedua orang tuaku tercinta, Papa H. Moenaf Ali (Alm) dan Ibunda Hj. Ramilan (Alm) serta istriku tersayang Drg. Gadis Sotyandillah, anakku tercinta Mohammad Fidelio Omar Bestari dan Mohammad Aulia Putra Bestari, disampaikan ucapan terima kasih yang dalam karena berkat do’a, dorongan dan bantuan moril maupun materil, semoga Allah SWT memberikan balasan amal baik mereka dengan kebaikan yang tak terhingga. Tesis ini penulis persembahkan sebagai buah pengorbanan yang telah diberikan selama ini.
Semoga karya ilmiah ini bermanfaat bagi kita semua, terutama bagi penulis, rekan-rekan peneliti di Balitnak, IPB dan bagi yang membutuhkannya dalam rangka pengembangan ilmu pengetahuan khususnya teknologi nutrisi mineral kromium.
Bogor, Februari 2007
ix
Penulis dilahirkan di Jambi pada tanggal 14 Jui 1957 dari Bapak H. Abdoel Moenaf Ali (Alm) dan Ibu Hj. Ramilan (Alm) sebagai anak ke enam dari sembilan bersaudara. Pendidikan sekolah menengah atas diselesaikan di SMA Negeri Batusangkar Sumatera Barat dan pendidikan Sarjana diselesaikan di Fakultas Peternakan Universitas Andalas Padang dan lulus pada tahun 1985. Pada tahun 2004 penulis diterima sebagai mahasiswa program Magíster Sains di Program Studi Ilmu Ternak Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor.
Pada tahun 1986 penulis diterima bekerja di Proyek Penelitian Swamps II Badang Litbang Departemen Pertanian di Karang Agung Ulu Sumatera Selatan, dan tahun 1988 penulis diangkat menjadi Pegawai Negeri Sipil pada Balai Penelitian Ternak Ciawi-Bogor, Badan Litbang Departemen Pertanian dan ditempatkan di Sub Balai Penelitian Sungai Putih Sumatera Utara sebagai peneliti. Selanjutnya pada tahun 1990 penulis kembali ke Balai Penelitian Ternak Ciawi-Bogor sebagai peneliti di Program Ruminansia Besar, khususnya meneliti tentang Teknologi Nutrisi dan Makanan Ternak Sapi Potong dan Sapi Perah sampai sekarang.
Selama bekerja di Balai Penelitian Ternak Ciawi-Bogor, penulis mendapat kesempatan pendidikan di Oestereigh University di Seibersdorf Vienna-Austria tahun 1995 dalam program Magíster, namun tidak selesai. Kemudian pada tahun 1997, penulis mendapat desempatan mengikuti Training Course on Improving The Productivity of Ruminant Livestock through on Farm Assessment of Nutrition, Production and Reproduction Interactios di Belgia selama 4 bulan. Pada tahun 2003 penulis kembali mendapatkan kesempatan mengikuti International Training on Animal Husbandry Nutrition, Production and Management di Nanhu Wuchang, Wuhan, Shanghai Province RRC selama 3 bulan.
Selama menjadi peneliti di Balai Penelitian Ternak Badan Litbang Depar- temen Pertanian, penulis telah mengikuti beberapa Seminar Nasional, Symposium dan Workshop di beberapa daerah di Indonesia seperti Bogor, Jakarta, Jogyakarta, Semarang, Surabaya, Bali, Makasar, Palembang, Jambi dan Padang Sumatera Barat, baik sebagai pemakalah maupun sebagai peserta. Beberapa makalah penulis telah diterbitkan antara lain di Jurnal Ilmu Ternak dan Veteriner, Wartazoa dan di beberapa prossiding di beberapa Universitas dan BPTP.
Penulis menikah dengan Drg. Gadis Sotyandillah pada tahun 1988 dan telah dikarunia dua orang putra yang bernama Mohammad Fidelio Omar Bestari lahir tahun 1990 dan Mohammad Aulia Putra Bestari lahir tahun 1994.
x
DAFTAR TABEL ……….……… xii
DAFTAR GAMBAR ……….………..……… xiii
DAFTAR LAMPIRAN ……….……….. xiv
PENDAHULUAN Latar Belakang ………... Tujuan Penelitian ………... Hipotesa ... Manfaat Penelitian ... 1 3 3 3 TINJAUAN PUSTAKA Mineral Kromium (Cr) ………...
Peranan Kromium dalam Sistim Transpor dan Metabolisme Nutrisi ...
Kebutuhan dan Bentuk Suplemen Kromium dalam Pakan ...
Pengaruh Suplementasi Kromium Terhadap Produksi Ternak ...
Pengaruh Suhu Lingkungan terhadap Sapi Perah ………...
Daerah Termonetral pada Sapi Perah …………...
Glukosa Darah dan Regulasinya …………...
Peranan Kromium Pikolinat pada Ternak …………...
Peranan Hormon T3 dan T4 terhadap Suhu Lingkungan Tinggi ………...
4 6 8 8 9 12 14 16 17 METODE PENELITIAN
Waktu dan Tempat ...
Bahan dan Alat Penelitian ...
Metode ...
Percobaan I : In – Vitro ...
Rancangan Percobaan ...
Kecernaan Bahan Kering (KCBK) dan Bahan Organik (KCBO) ..
Pengukuran Kadar VFA Total ...
Pengukuran Kadar N – NH3 ... Analisis Data ... 20 20 21 21 22 22 23 23 24 Percobaan II : In – Vivo ... Rancangan Percobaan ... Bobot Badan ... Konsumsi Ransum ... Konversi Ransum ...
Analisa Kadar Glukosa Darah ...
Analisa Hormon Triiodotironine (T3) ...
Analisa Hormon Tetraiodotironine (T4) ...
Suhu Rektal ... Denyut Jantung ... Pernafasan ... Analisis Data ... 25 26 26 27 27 27 28 28 29 29 29 29
xi
Indikator Fermentasi Rumen ...
Bobot Badan, Konsumsi dan Konversi Ransum ...
Suhu Tubuh Ternak ...
Denyut Jantung Ternak ...
Frekuensi Pernafasan Ternak ...
Kadar Glukosa darah ...
Konsentrasi Hormon Tyroksin ...
Respon Ternak Terhadap Kromium Pikolinat Murni ………...
32 33 36 38 39 40 42 46 SIMPULAN DAN SARAN ………... 48
DAFTAR PUSTAKA ………... 49
xii Halaman
1. Nilai indek suhu kelembaban (ISK) dan tingkat kenyamanan ……….. 11
2. Suhu rectal, denyut jantung dan frekuensi pernafasan sapi FH dalam
kondisi suhu lingkungan berbeda ……….………... 12
3. Komposisi dan nilai gizi pakan konsentrat dan rumput gajah ……….. 21
4. Rataan suhu lingkungan, kelembaban udara dan indek suhu
kelembaban (ISK) di lokasi penelitian ……….………... 31
5. Rataan nilai kecernaan bahan kering (KCBK), bahan organik (KCBO),
NH3 dan VFA sapi-sapi perlakuan ……….………... 32
6. Rataan pertambahan bobot badan, konsumsi dan konversi ransum sapi- sapi perlakuan ... 34
7. Rataan suhu tubuh sapi-sapi perlakuan pada waktu pagi dan siang hari 37 8. Rataan denyut jantung sapi-sapi perlakuan pada waktu pagi dan siang
hari ... 38
9. Rataan frekuensi pernafasan sapi-sapi perlakuan pada waktu pagi dan
siang hari ... 39
10. Rataan kandungan glukosa darah sapi-sapi perlakuan sebelum dan
sesudah diber makan ... 41
11. Rataan konsentrasi hormon T3 dan T4 dalam serum darah sapi-sapi
xiii Halaman
1. Struktur faktor toleransi glukosa (Linder 1972) ………... 6
2. Daerah termonetral hewan homeotermik (Yousef 1985a) ………... 13
3. Mekanisme umpan balik sekresi hormon tiroksin akibat perubahan suhu
xiv
1. Hasil Anova kecernaan bahan kering (KCBK) (%) Ransum Perlakuan ... 58
2. Hasil Anova kecernaan bahan organik (KCBO) (%) Ransum Perlakuan ... 59
3. Hasil Anova N-NH3 (mM) Ransum Perlakuan ... 60
4. Hasil Anova VFA (mM) Ransum Perlakuan ... 61
5. Hasil Anova pertambahan bobot badan (kg/ekor/hr) sapi perah PFH
yang dipelihara di dataran rendah ... 62
6. Hasil Anova pertambahan bobot badan harian (g/ekor/hr) sapi perah
PFH yang dipelihara di dataran rendah ... 63
7. Hasil Anova konsumsi ransum bahan kering (g/ekor/hr) sapi perah PFH
yang dipelihara di dataran rendah kecernaan ... 64
8. Hasil Anova konversi ransum BK (gBK ransum/PBBH) sapi perah PFH yang dipelihara di dataran rendah ...
65 9. Hasil Anova suhu tubuh pagi (0C/8menit) sapi perah PFH yang
dipelihara di dataran rendah ...
66 10. Hasil Anova suhu tubuh siang (0C/8menit) sapi perah PFH yang
dipelihara di dataran rendah ...
67 11. Hasil Anova denyut jantung pagi (kali/menit) sapi perah PFH yang
dipelihara di dataran rendah ...
68 12. Hasil Anova denyut jantung siang (kali/menit) sapi perah PFH yang
dipelihara di dataran rendah ...
69 13. Hasil Anova pernafasan pagi (kali/menit) sapi perah PFH yang
dipelihara di dataran rendah ...
70 14. Hasil Anova pernafasan siang (kali/menit) sapi perah PFH yang
dipelihara di dataran rendah ...
71 15. Hasil Anova glukosa darah pagi (mg/dl) sapi perah PFH yang dipelihara
di dataran rendah ...
72 16. Hasil Anova glukosa darah siang (mg/dl) sapi perah PFH yang
dipelihara di dataran rendah ...
73 17. Hasil Anova hormon triiodotironine (T3) pagi (ng/dl) sapi perah PFH
yang dipelihara di dataran rendah ...
74 18. Hasil Anova hormon triiodotironine (T3) siang (ng/dl) sapi perah PFH
yang dipelihara di dataran rendah ...
75 19. Hasil Anova hormon tetraiodotironine (T4) pagi (ng/dl) sapi perah PFH
yang dipelihara di dataran rendah ...
76 20. Hasil Anova hormon tetraiodotironine (T4) siang (ng/dl) sapi perah PFH
yang dipelihara di dataran rendah ...
77
Latar Belakang
Populasi sapi perah dalam negeri masih harus dipacu peningkatannya agar permintaan konsumen akan susu sapi secara bertahap dapat dipenuhi. Selama periode tahun 2001 – 2005, kemampuan produksi susu baru mencapai 59.8% per tahun dari kebutuhan Nasional (Ditjennak 2004). Upaya peningkatan produksi susu dalam negeri dapat dilakukan dengan meningkatkan populasi sapi perah. Populasi sapi perah pada tahun 2005 berjumlah 374000 ekor dengan produksi susu seba- nyak 596303 ton dan jumlah ini masih jauh di bawah permintaan konsumen susu yang sudah mencapai 997 850 ton (Ditjennak 2004).
Sapi perah di Indonesia cendrung dipelihara di dalam dua wilayah ekstrim, yang pertama wilayah dengan ekosistim baik namun kondisi sosial ekonominya rendah yaitu di daerah pedesaan di lereng pergunungan yang memiliki suhu sejuk dan yang kedua wilayah dengan keadaan ekosistim buruk namun memiliki sosial ekonomi yang cukup tinggi yaitu daerah dataran rendah di sekitar kota besar yang bersuhu lingkungan tinggi (Sutardi 1981). Kondisi lingkungan Indonesia yang merupakan daerah tropis dimana suhu dan kelembaban udaranya cukup tinggi akan memberikan pengaruh yang merugikan seperti terjadinya cekaman panas pada ternak sapi perah.
Peningkatan populasi sapi perah dalam upaya peningkatan produksi susu tidak terlepas dari faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan dan kemampuan berproduksi sapi perah umumnya. Selain faktor genetik dan gizi makanan (kuantitas dan kualitas), lingkungan merupakan faktor yang tidak dapat diabaikan dalam mempengaruhi pertumbuhan dan kemampuan berproduksi sapi perah. Diantara faktor lingkungan yang mempunyai aspek terhadap kemampuan berproduksi sapi perah adalah suhu dan kelembaban udara. Hasil penelitian menunjukan bahwa, sapi yang di datangkan dari daerah suhu udara rendah ke daerah suhu udara tinggi akan mengalami stress, suhu udara merupakan stressor yang besar sekali pengaruhnya terhadap kemampuan berproduksi.
Suhu lingkungan dapat secara langsung maupun tidak langsung mempe- ngaruhi pertumbuhan dan kemampuan berproduksi sapi perah. Pengaruh ataupun aspek secara tidak langsung adalah melalui kuantitas dan kualitas penyediaan hijauan pakan ternak (Stobbs 1975). Oleh karena itu antara suhu udara dengan
gizi pakan terjalin suatu interaksi yang berakibat pada pertumbuhan dan kemampuan berproduksi sapi perah.
Mineral kromium (Cr) telah lama diketahui perannya dalam metabolisme karbohidrat, khususnya dalam meningkatkan entri glukosa ke dalam sel melalui peningkatan potensi aktivitas insulin (Schwarz & Mertz 1959). Hasil-hasil penelitian kromium menunjukan bahwa selain esensial dalam metabolisme karbohidrat, kromium juga dibutuhkan dalam metabolisme lemak dan protein. Defisiensi kromium dapat menyebabkan hiperkolesterolemia dan arterosklerosis serta rendahnya inkorporasi asam amino pada protein hati. Ditambahkan bahwa asam amino yang dipengaruhi oleh kromium adalah metionin, glisin dan serin (Anderson 1987). Burton (1995) menambahkan bahwa kromium berperan dalam sistem kekebalan tubuh dan konversi tiroksin (T4) menjadi triiodotironin (T3), yaitu hormon yang berperan dalam meningkatkan laju metabolisme karbohidrat, lemak dan protein dalam hati, ginjal, jantung dan otot serta meningkatkan sintesa protein.
Suplementasi kromium ke dalam pakan akan lebih menguntungkan apabila diberikan dalam bentuk komplek organik. Hal ini karena dalam bentuk an-organik. Kromium bersifat racun terutama yang berbentuk heksavalen (Cr6+), walaupun tingkat penyerapannya di usus tinggi, sedangkan bentuk trivalen (Cr3+) yang tidak beracun sangat sulit diserap. Dalam beberapa kasus kromium an-organik yang dikonsumsi manusia lewat makanan 98% tidak diserap dan dikeluarkan lewat faeses (Offenbacher et al. 1986). Sebaliknya ketersediaan kromium organik cukup tinggi, tercatat 25 sampai 30 persen (Mordenti et al. 1997).
Moonsie & Mowat (1993) melaporkan bahwa penambahan kromium ragi pada anak sapi yang mengalami stress dengan mempergunakan beberapa tingkatan suplementasi (0.2; 0.5 dan 1 ppm) diperoleh peningkatan berat badan dan konsumsi pakan masing-masing sebesar 29 dan 15% dibandingkan dengan kontrol selama 30 hari pertama di feedlot.
Hasil penelitian Jayanegara (2003) dalam uji in vitro ransum yang disuplementasi kromium organik dan an-organik pada level 1; 2; 3 dan 4 ppm dapat meningkatkan total VFA dan menurunkan konsentrasi NH3. Suplementasi kromium
organik lebih efisien dari pada suplementasi dalam bentuk an-organik. Level terbaik pada penelitian ini adalah suplementasi dalam bentuk an-organik 4 ppm. Astuti (2005) pada penelitiannya mendapatkan bahwa fungi yang mempunyai nilai efisiensi inkorporasi kromium tertinggi dalam pembuatan kromium organik adalah
Rhizopus orizae dan penggunaannya dalam ransum sebesar 1 dan 3 mg/kg memberikan hasil tertinggi pada kecernaan bahan kering dan bahan organik (secara
in-vitro) dan menyarankan bahwa penggunaan kromium organik murni dalam
ransum adalah sebesar 4 ppm. Menindak lanjuti hasil penelitian Jayanegara (2003) dan Astuti (2005) serta penelitian lain tentang kromium, maka penelitian ini perlu dilaksanakan pada sapi perah dara yang dipelihara di daerah dataran rendah untuk mendapatkan hasil yang berguna bagi perkembangan peternakan sapi perah di Indonesia.
Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh suplementasi kromium organik murni (Chromium Pikolinate Pure) terhadap fermentasi rumen, kondisi fisiologis (suhu rectal, denyut jantung dan pernafaan), kandungan glukosa darah, hormon triiodotironine (T3) dan hormon tetraiodotironine (T4) serta tingkat pertumbuhan fase pembesaran sapi perah (PFH) dara yang dipelihara di daerah dataran rendah.
Hipotesa
1. Suplementasi Cr-pikolinat murni dalam ransum dapat memberikan tingkat fermentasi rumen, kandungan glukosa darah, hormon triiodotironine (T3), hormon tetraiodotironine (T4) dan pertumbuhan yang lebih baik pada sapi perah dara yang dipelihara di daerah dataran rendah.
2. Suplementasi Cr-pikolinat murni dapat menekan tingkat stress akibat cekaman panas pada sapi perah dara yang dipelihara di daerah dataran rendah dengan suhu lingkungan dan kelembaban tinggi sehingga tidak mengganggu pertum- buhan.
Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan infomasi tentang pengaruh suplementasi Cr-pikolinat murni dalam ransum sapi perah dara khususnya yang dipelihara di daerah dataran rendah, sehingga memberikan manfaat yang besar bagi pengembangan peternakan sapi perah di Indonesia.
TINJAUAN PUSTAKA
Mineral Kromium
Kromium merupakan mineral yang tergolong dalam unsur transisi yang mempunyai bilangan oksidasi 0; 2+; 3+; 4+ dan 6+, namun umumnya bervalensi tiga merupakan bentuk yang stabil (Stoecker 1990). Kromium bervalensi empat bersifat toksit, tetapi dalam saluran pencernaan dapat ditransformasikan menjadi bentuk bervalensi tiga (Wenk 1995).
Kromium pertama kali ditemukan oleh ahli kimia Perancis bernama Vaugel pada tahun 1797 ketika menyelidiki batu-batuan yang kaya akan lead chromate. Namun kromium diambil dari nama Yunani chroma yang artinya warna, karena unsur ini berada dalam beberapa warna yang berbeda. Komponen ini telah lama digunakan untuk mewarnai dan menyamak kulit. Pada tahun 1900 kromium merupakan bahan yang penting sebagai pelindung logam dari korosi dan terus digunakan hingga kini (Ensminger et al. 1990). Mineral kromium pertama kali dilaporkan sebagai mineral jarang esensial pada tahun 1959 (Mc Donald at al. 1988).
Menurut Anderson dan Kozlovsky (1988) penyerapan kromium dalam bentuk organik 5-10 kali lebih baik dibandingkan dengan kromium klorida (hanya 2-3%). Linder (1992) melaporkan bahwa, kemungkinan sistim pengangkutan kromium adalah, setelah diserap, kromium diangkut pada protein pengangkut Fe (iron carrier
protein) dari plasma darah, yakni transferin. Tidak diketahui apakah faktor glukosa
yang diserap melalui usus akan masuk ke dalam darah tanpa perubahan bentuk atau juga terikat dengan transferin. Dari usus, hampir semua kromium masuk ke dalam hati dan akan digabungkan ke dalam faktor toleransi glukosa. Sejumlah faktor toleransi glukosa tertentu disekresi ke dalam plasma dan akan tersedia untuk membantu aktivitas insulin. Kalau kadar gula darah meningkat, insulin akan disekresi dan peningkatan insulin akan meningkatkan aliran faktor toleran glukosa atau kromium ke dalam plasma. Faktor toleran glukosa akan meningkatkan pengaruh insulin yang disekresi tersebut dan kemudian keluar melalui urin.
Akhir-akhir ini muncul produksi kromium pikolinat dan kromium nikotinat. Asam pikolinat dan asam nikotinat keduanya merupakan isomer yang hanya berbeda pada posisi penempelan asam karboksilat pada cincin piridin. Pada asam pikolinat gugus karboksil menempel pada posisi tiga sedangkan asam nikotinat pada
posisi dua. Kedua bentuk tersebut sama efektifnya. Pada keadaan alami kromium