• Tidak ada hasil yang ditemukan

2011

SANDY SETIAWAN. Nilai Ekonomi Penggunaan Trichoderma harzianum dalam Pengelolaan Penyakit Akar Gada (Plasmodiophora brassicae Wor.) pada Sayuran Kubis-Kubisan di Daerah Puncak, Cianjur. Dibimbing oleh ALI NURMANSYAH dan AUNU RAUF.

Penyakit akar gada merupakan salah satu penyakit penting pada tanaman kubis-kubisan yang disebabkan oleh cendawan Plasmodiophora brassicae Wor. Cendawan tersebut merupakan patogen tular tanah dan dapat bertahan sangat lama di dalam tanah meskipun tidak terdapat tumbuhan inang di sekitar tanah terinfestasi. Berbagai upaya pengendalian telah banyak dilaporkan untuk mengurangi serangan P. brassicae, salah satunya ialah dengan memanfaatkan mikroorganisme antagonis T. harzianum. Penelitian bertujuan untuk mengetahui nilai ekonomi dari penggunaan T. harzianum dalam mengendalikan penyakit akar gada (P. brassicae Wor.) pada petani kubis-kubisan di daerah Puncak, Cianjur. Metode yang dilakukan ialah dengan wawancara langsung menggunakan daftar pertanyaan terstruktur terhadap petani brokoli, kubis kol, dan pak choy di dua kecamatan Kabupaten Cianjur, yaitu Kecamatan Cipanas (Desa Cimacan dan Sindang Jaya) dan Kecamatan Pacet (Desa Cipendawa dan Sukatani). Responden berjumlah 42 orang petani, terdiri atas 12 orang petani pengguna T. harzianum (petani Trichoderma) dan 30 orang petani bukan pengguna T. harzianum (petani non-Trichoderma). Tingkat serangan penyakit akar gada pertanaman kubis-kubisan yang dikelola oleh petani menunjukkan bahwa petani Trichoderma lebih rendah dibandingkan dengan petani non-Trichoderma. Berdasarkan data hasil panen, penerimaan, dan keuntungan yang diperoleh, petani Trichoderma lebih tinggi dibandingkan dengan petani non-Trichoderma. Analisis ekonomi rata-rata total nisbah manfaat-biaya (B/C ratio) menunjukkan bahwa petani Trichoderma memperoleh nilai lebih tinggi (2.39) dibandingkan dengan petani non-Trichoderma (1.11). Ini membuktikan bahwa penggunaan T. harzianum di pertanaman kubis-kubisan mempunyai manfaat yang besar untuk mengurangi tingkat serangan penyakit akar gada, serta meningkatkan hasil panen dan ekonomi petani sayuran kubis-kubisan.

Kata kunci: Ekonomi, Trichoderma harzianum, Plasmodiophora brassicae, kubis-kubisan.

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Tanaman kubis-kubisan (Brassicaceae) merupakan salah satu komoditas sayuran yang penting dan memiliki banyak manfaat untuk kesehatan manusia. Manfaat yang dapat diperoleh dari jenis sayuran ini diantaranya adalah sebagai sumber vitamin (A, B1, dan C), sumber mineral (kalsium, kalium, klor, fosfor, sodium, dan sulfur), dan mengandung senyawa anti kanker (Adiyoga et al. 2004). Dengan banyaknya manfaat tersebut, komoditas sayuran ini banyak dibutuhkan sebagai sumber pangan manusia baik di Indonesia maupun negara lainnya seperti Singapura, Brunei Darussalam, China, dan Malaysia. Kebutuhan konsumsi domestik komoditas ini meningkat dari tahun ke tahun. Data Badan Pusat Statistik (BPS) (2010) menunjukkan produksi dan produktivitas tanaman kubis meningkat selama periode 2009 – 2010. Produksi kubis meningkat dari 1,358,113 ton pada tahun 2009 menjadi 1,384,656 ton pada tahun 2010, sedangkan produktivitas naik dari 20.03 ton/ha pada 2009 menjadi 20.55 ton/ha pada 2010. Selain untuk kebutuhan konsumsi domestik, produksi sayuran kubis-kubisan Indonesia ini juga diekspor ke negara tetangga seperti Singapura, Malaysia, dan Brunei Darussalam. Nilai ekspor tertinggi komoditas hortikultura ke Singapura adalah kubis. Hingga Agustus 2010, Indonesia telah mengekspor 6.07 ton kubis ke Singapura dengan nilai US$ 2,310,952 (Harismi 2011).

Produksi dan produktivitas komoditas kubis-kubisan di atas masih dapat ditingkatkan apabila permasalahan yang terjadi pada usahatani komoditas tersebut dapat dikurangi, seperti cara budidaya yang baik dan benar dan pengelolaan organisme pengganggu tanaman (OPT) yang tepat sasaran, sehingga kehilangan hasil dapat ditekan. Salah satu OPT yang menjadi masalah utama pada tanaman kubis-kubisan adalah Plasmodiophora brassicae Wor yang menimbulkan penyakit dengan gejala berupa bintil-bintil yang bersatu menjadi bengkakan memanjang yang mirip dengan batang (gada), sehingga dinamakan penyakit akar gada (Semangun 2007).

Kerugian tahunan yang diakibatkan oleh P. brassicae ini di seluruh dunia dapat mencapai 10 - 15% (Dixon 2009). Sementara itu di Indonesia, intensitas serangan yang diakibatkan oleh patogen ini pada tanaman caisin di Cipanas, Jawa Barat mencapai 19.83 - 89.91% (Djatnika 1989), sedangkan pada tanaman kubis sekitar 88.60% (Widodo dan Suheri 1995). Penyakit ini dapat bertahan selama 10 tahun atau lebih meskipun tidak terdapat tumbuhan inang di sekitar lahan yang terinfestasi, sehingga untuk mengatasi hal tersebut diperlukan upaya penanggulangan yang tepat.

Berbagai upaya pengendalian, termasuk penggunaan pestisida sintetik, telah dilakukan oleh petani untuk mengatasi masalah penyakit akar gada tersebut namun sampai saat ini tidak memberikan hasil yang menggembirakan. Salah satu alternatif pengendalian yang lebih ramah lingkungan dan sangat berpotensi dalam menekan perkembangan P. brassicae adalah cendawan antagonis Trichoderma spp. Cendawan ini selain dapat melindungi tanaman, juga dapat mengendalikan berbagai macam penyakit yang disebabkan oleh cendawan patogen (Navi dan Bandyopadhyay 2002). Patogen yang dapat dikendalikan oleh Trichoderma spp. diantaranya Pythium, Phytophthora, Fusarium, Rhizoctonia, Sclerotium, dan Verticillium (Nederhoff 2001; Agrios 2005; Arya dan Perello 2010). Cheah dan Page (1997) melaporkan bahwa agens antagonis Trichodema spp. berpotensi untuk mengendalikan penyakit akar gada yang disebabkan oleh P. brassicae. Penggunaan Trichoderma spp. dapat menurunkan serangan P. brassicae sekitar 25%, sedangkan pemberian bahan organik hasil dekomposisi kotoran hewan ternak bersama Trichoderma spp. dalam media tanam kubis dapat menurunkan serangan P. brassicae sebesar 51% (Legowo 2010).

Informasi mengenai keunggulan Trichoderma spp. dalam mengendalikan penyakit akar gada diharapkan dapat diterapkan oleh petani khususnya dalam budidaya tanaman kubis-kubisan. Informasi tersebut dapat diperoleh petani melalui kegiatan penyuluhan yang diberikan oleh penyuluh baik dari instansi pemerintahan maupun swasta. Berbagai penyuluhan telah dilakukan guna meningkatkan wawasan petani dalam budidaya, salah satunya ialah penyuluhan yang diberikan oleh dosen IPB Prof. Dr. Ir. Meity Suradji Sinaga, M.Sc. Penyuluhan tersebut diberikan kepada petani sayuran di Kabupaten Cianjur melalui kegiatan pos pelayanan agens hayati

(Posyanti) yang berkerjasama dengan IPM CRSP. Sementara itu, kegiatan yang dilakukan berupa pelatihan pembuatan biakan agens hayati T. harzianum yang siap pakai dengan bahan media dari jagung. Tujuan dari kegiatan ini ialah untuk menciptakan kemandirian petani dalam memproduksi dan mengembangbiakan T. harzianum, serta dapat mengaplikasikannya di pertanaman budidaya sayuran guna meningkatkan produksi tanaman.

Hasil-hasil penelitian tentang efektivitas dari agens pengendali hayati T. harzianum dalam pengelolaan penyakit akar gada baik di Indonesia maupun di negara lain telah banyak dipublikasikan. Namun demikian, penelitian tentang aspek ekonomi dari penggunaan agens pengendali hayati ini masih sangat kurang. Oleh karena itu, penelitian tentang nilai ekonomi dari penggunaan T. harzianum ini sangat perlu dilakukan.

Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui nilai ekonomi dari penggunaan T. harzianum dalam mengendalikan penyakit akar gada (P. brassicae Wor.) pada petani kubis-kubisan di daerah Puncak, Cianjur, Jawa Barat.

Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi tentang arti penting penggunaan T. harzianum sebagai agens pengendali hayati penyakit akar gada pada tanaman kubis-kubisan.

Dokumen terkait