• Tidak ada hasil yang ditemukan

Nilai Ekonomi Penggunaan Trichoderma harzianum dalam Pengelolaan Penyakit Akar Gada (Plasmodiophora brassicae Wor.) pada Sayuran Kubis-Kubisan di Daerah Puncak, Cianjur

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Nilai Ekonomi Penggunaan Trichoderma harzianum dalam Pengelolaan Penyakit Akar Gada (Plasmodiophora brassicae Wor.) pada Sayuran Kubis-Kubisan di Daerah Puncak, Cianjur"

Copied!
101
0
0

Teks penuh

(1)

(Plasmodiophora brassicae Wor.) PADA SAYURAN

KUBIS-KUBISAN DI DAERAH PUNCAK, CIANJUR

SANDY SETIAWAN

DEPARTEMEN PROTEKSI TANAMAN

FAKULTAS PERTANIAN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

BOGOR

2011

(2)

SANDY SETIAWAN. Nilai Ekonomi Penggunaan Trichoderma harzianum dalam Pengelolaan Penyakit Akar Gada (Plasmodiophora brassicae Wor.) pada Sayuran Kubis-Kubisan di Daerah Puncak, Cianjur. Dibimbing oleh ALI NURMANSYAH dan AUNU RAUF.

Penyakit akar gada merupakan salah satu penyakit penting pada tanaman kubis-kubisan yang disebabkan oleh cendawan Plasmodiophora brassicae Wor. Cendawan tersebut merupakan patogen tular tanah dan dapat bertahan sangat lama di dalam tanah meskipun tidak terdapat tumbuhan inang di sekitar tanah terinfestasi. Berbagai upaya pengendalian telah banyak dilaporkan untuk mengurangi serangan P. brassicae, salah satunya ialah dengan memanfaatkan mikroorganisme antagonis T. harzianum. Penelitian bertujuan untuk mengetahui nilai ekonomi dari penggunaan T. harzianum dalam mengendalikan penyakit akar gada (P. brassicae Wor.) pada petani kubis-kubisan di daerah Puncak, Cianjur. Metode yang dilakukan ialah dengan wawancara langsung menggunakan daftar pertanyaan terstruktur terhadap petani brokoli, kubis kol, dan pak choy di dua kecamatan Kabupaten Cianjur, yaitu Kecamatan Cipanas (Desa Cimacan dan Sindang Jaya) dan Kecamatan Pacet (Desa Cipendawa dan Sukatani). Responden berjumlah 42 orang petani, terdiri atas 12 orang petani pengguna T. harzianum (petani Trichoderma) dan 30 orang petani bukan pengguna T. harzianum (petani non-Trichoderma). Tingkat serangan penyakit akar gada pertanaman kubis-kubisan yang dikelola oleh petani menunjukkan bahwa petani Trichoderma lebih rendah dibandingkan dengan petani non-Trichoderma. Berdasarkan data hasil panen, penerimaan, dan keuntungan yang diperoleh, petani Trichoderma lebih tinggi dibandingkan dengan petani non-Trichoderma. Analisis ekonomi rata-rata total nisbah manfaat-biaya (B/C ratio) menunjukkan bahwa petani Trichoderma memperoleh nilai lebih tinggi (2.39) dibandingkan dengan petani non-Trichoderma (1.11). Ini membuktikan bahwa penggunaan T. harzianum di pertanaman kubis-kubisan mempunyai manfaat yang besar untuk mengurangi tingkat serangan penyakit akar gada, serta meningkatkan hasil panen dan ekonomi petani sayuran kubis-kubisan.

(3)

(Plasmodiophora brassicae Wor.) PADA SAYURAN

KUBIS-KUBISAN DI DAERAH PUNCAK, CIANJUR

SANDY SETIAWAN

Skripsi

sebagai salah satu syarat untuk memperoleh

gelar Sarjana Pertanian

pada

Departemen Proteksi Tanaman

DEPARTEMEN PROTEKSI TANAMAN

FAKULTAS PERTANIAN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

BOGOR

(4)

Nama : Sandy Setiawan NRP : A34062697

Disetujui

Dosen Pembimbing I Dosen Pembimbing II

Dr. Ir. Ali Nurmansyah, M.Si Prof. Dr. Ir. Aunu Rauf, M.Sc NIP. 19630212 199002 1 001 NIP. 19500622 197703 1 001

Diketahui Ketua Departemen

Prof. Dr. Ir. Dadang, M.Sc NIP. 19640204 199002 1 002

(5)

Penulis bernama lengkap Sandy Setiawan, dilahirkan di Jakarta pada tanggal 27 Februari 1988. Penulis merupakan anak ke dua dari tiga bersaudara pasangan Lego Priyanto dan Iyan Rosmiati.

Penulis menempuh pendidikan sekolah dasar hingga menegah atas di Bekasi. Pendidikan sekolah dasar diselesaikan di SDN Teluk Angsan II pada tahun 2000. Pendidikan menengah penulis tempuh di SLTP Negeri 3 Bekasi, lulus pada tahun 2003. Pendidikan kemudian dilanjutkan di SMA Negeri 1 Bekasi selama tiga tahun dan lulus pada tahun 2006. Penulis melanjutkan pendidikan di IPB melalui jalur SPMB (Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru) pada tahun 2006, dan pada tahun 2007, penulis diterima sebagai mahasiswa Departemen Proteksi Tanaman, Fakultas Pertanian.

(6)

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas segala rahmat dan ridho-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi dengan judul “Nilai Ekonomi Penggunaan Trichoderma harzianum dalam Pengelolaan Penyakit Akar Gada (Plasmodiophora brassicae Wor.) pada Sayuran Kubis-Kubisan di Daerah Puncak, Cianjur”. Penyusunan ini dilakukan berdasarkan atas penelitian yang telah penulis lakukan pada bulan Maret hingga Mei 2011 di Kecamatan Cipanas dan Pacet, Kabupaten Cianjur.

Penulis ucapkan terima kasih kepada Dr. Ir. Ali Nurmansyah, M.Si dan Prof. Dr. Ir. Aunu Rauf, M.Sc atas bimbingan, nasihat, dan motivasi yang telah diberikan kepada penulis selama pelaksanaan penelitian hingga penyusunan skripsi ini, Dr. Ir. Tri Asmira Damayanti M.Agr selaku dosen penguji tamu pada sidang skripsi yang berkenan memberikan saran dan kritik yang membangun, Ir. Djoko Prijono, MAgrSc. selaku dosen pembimbing akademik yang telah memberikan bimbingan dan dorongan selama penulis menjadi mahasiswa di Departemen Proteksi Tanaman (DPT), dan juga dosen-dosen komisi pendidikan yang telah memberikan masukan dan dorongan secara moril agar penulis segera menyelesaikan skripsi ini.

Penulis juga ucapkan terima kasih kepada kedua orang tua khususnya almarhumah ibu Iyan Rosmiati atas segala perhatian, motivasi, dan doa yang selalu tercurah kepada penulis hingga akhir hayatnya. Ucapan terimakasih juga penulis ucapkan kepada kakak-adik (Defu Fuad Hasan dan Putri Damayanti) yang selalu memberikan semangat dan nasihat kepada penulis. Terima kasih kepada Juni Ermawati yang selalu memberikan dorongan semangat di saat susah. Terima kasih kepada sahabat-sahabat mahasiswa Departemen Proteksi Tanaman IPB atas semangat dan inspirasi yang diberikan kepada penulis dalam menyelesaikan penyusunan skripsi ini, serta rekan-rekan DPT lainnya (angkatan 42, 43, 44, dan 45) yang tidak dapat disebutkan satu persatu. Terima kasih kepada Pak Saodik, Pak Wawan, Pak Edi, Pak Usa, Pak Dadang, Pak Yusuf, dan semua pegawai di Departemen Proteksi Tanaman yang juga telah banyak membantu memberikan masukan kepada penulis. Terakhir tidak lupa penulis ucapkan terimakasih kepada para petani kubis-kubisan di Kabupaten Cianjur yang bersedia menyempatkan waktu untuk diwawancarai oleh penulis.

Penulis menyadari bahwa skripsi ini bukan merupakan suatu karya tulis ilmiah yang sempurna. Oleh sebab itu, penulis mengharapkan masukan berupa kritik dan saran yang bersifat membangun dari pembaca. Semoga skripsi ini dapat bermanfaat baik bagi penulis maupun para pembacanya.

(7)

DAFTAR ISI

Halaman

DAFTAR TABEL ... viii

DAFTAR GAMBAR ... ix

DAFTAR LAMPIRAN ... x

PENDAHULUAN ... 1

Latar Belakang ... 1

Tujuan Penelitian ... 3

Manfaat Penelitian ... 3

TINJAUAN PUSTAKA ... 4

Famili Kubis-Kubisan ... 4

Permasalahan OPT ... 4

Plasmodiophora brassicae Wor. ... 5

Trichoderma spp. ... 7

Analisis Usahatani ... 8

BAHAN DAN METODE ... 9

Tempat dan Waktu Penelitian ... 9

Metode Penelitian ... 9

Pengumpulan Data ... 9

Analisis Data ... 10

HASIL DAN PEMBAHASAN ... 11

Karakteristik Petani dan Praktek Budidaya ... 11

Permasalahan Penyakit Akar Gada ... 15

Analisis Ekonomi ... 17

Analisis Sosial ... 20

KESIMPULAN DAN SARAN ... 23

Kesimpulan ... 23

Saran ... 23

DAFTAR PUSTAKA ... 24

(8)

DAFTAR TABEL

Nomor Halaman 1. Rata-rata dan simpangan baku luas lahan yang diusahakan petani

sayuran kubis-kubisan daerah Puncak, Cianjur ... 14 2. Rata-rata dan simpangan baku tingkat serangan penyakit akar gada

pada tanaman kubis- kubisan yang diaplikasi dengan dan tanpa

penggunaan T. harzianum. ... 16 3. Rata-rata dan simpangan baku hasil panen pada tiga komoditas

sayuran kubis-kubisan antara petani pengguna dan bukan pengguna T. harzianum. ... 17 4. Rata-rata dan simpangan baku penerimaan, biaya produksi, dan

keuntungan usahatani petani brokoli, kubis kol, dan pak choy dengan dan tanpa penggunaan T. harzianum ... 18 5. Rata-rata dan simpangan baku penerimaan, biaya produksi, dan

keuntungan usahatani tanaman kubis-kubisan dengan dan tanpa

penggunaan T. harzianum. ... 19 6. Rata-rata dan simpangan baku nilai nisbah manfaat-biaya usahatani

(9)

DAFTAR GAMBAR

Nomor Halaman 1 Sebaran tingkat pendidikan petani sayuran kubis-kubisan daerah

Puncak, Cianjur. ... 11 2 Sebaran usia petani sayuran kubis-kubisan derah Puncak,

Cianjur ... 12 3 Sebaran pengalaman bertani petani sayuran kubis-kubisan daerah

Puncak, Cianjur ... 13 4 Pola tanam yang dilakukan petani sayuran kubis-kubisan daerah

Puncak, Cianjur ... 15 5. Gejala penyakit akar gada tanaman kubis-kubisan bagian atas

permukaan tanah (a) dan bagian akar (b) ... 16 6. Keikutsertaan petani sayuran kubis-kubisan dalam kelompok tani dan pelatihan Trichoderma ... 21 7. Sebaran jumlah tanggungan keluarga petani sayuran kubis-kubisan

(10)

DAFTAR LAMPIRAN

Nomor Halaman 1 Hasil analisis uji t statistik rata-rata total luas lahan yang

diusahakan petani Trichoderma dan non-Trichoderma... 27 2 Hasil analisis uji t statistik rata-rata total tingkat serangan penyakit

akar gada petani Trichoderma dan non-Trichoderma ... 27 3. Hasil analisis uji t statistik rata-rata hasil panen komoditas brokoli

petani Trichoderma dan non-Trichoderma ... 28 4. Hasil analisis uji t statistik rata-rata hasil panen komoditas kubis

kol petani Trichoderma dan non-Trichoderma ... 28 5. Hasil analisis uji t statistik rata-rata hasil panen komoditas pak choy

petani Trichoderma dan non-Trichoderma ... 28 6. Hasil analisis uji t statistik rata-rata penerimaan yang diperoleh

petani Trichoderma dan non-Trichoderma ... 29 7. Hasil analisis uji t statistik rata-rata biaya produksi yang dikeluarkan

petani Trichoderma dan non-Trichoderma ... 29 8. Hasil analisis uji t statistik rata-rata keuntungan yang diperoleh

petani Trichoderma dan non-Trichoderma ... 29 9. Hasil analisis uji t statistik rata-rata total nilai B/C ratio petani

Trichoderma dan non-Trichoderma ... 30 10. Hasil analisis uji t statistik rata-rata penerimaan yang diperoleh

petani Trichoderma dan non-Trichoderma pada komoditas brokoli 30 11. Hasil analisis uji t statistik rata-rata biaya produksi yang dikeluarkan

petani Trichoderma dan non-Trichoderma pada komoditas brokoli .. 30 12. Hasil analisis uji t statistik rata-rata keuntungan yang diperoleh

petani Trichoderma dan non-Trichoderma pada komoditas brokoli 31 13. Hasil analisis uji t statistik rata-rata penerimaan yang diperoleh

petani Trichoderma dan non-Trichoderma pada komoditas kubis kol ... 31 14. Hasil analisis uji t statistik rata-rata biaya produksi yang dikeluarkan

petani Trichoderma dan non-Trichoderma pada komoditas kubis kol ... 31 15. Hasil analisis uji t statistik rata-rata keuntungan yang diperoleh

(11)

16. Hasil analisis uji t statistik rata-rata penerimaan yang diperoleh petani Trichoderma dan non-Trichoderma pada komoditas pak choy ... 32 17. Hasil analisis uji t statistik rata-rata biaya produksi yang dikeluarkan

petani Trichoderma dan non-Trichoderma pada komoditas pak choy 32 18. Hasil analisis uji t statistik rata-rata keuntungan yang diperoleh

petani Trichoderma dan non-Trichoderma pada komoditas pak choy ... 33 19. Gambar lahan pertanaman pak choy petani bukan pengguna

T. harzianum ... 34 20. Gambar lahan pertanaman pak choy petani pengguna T.harzianum 34 21. Komponen usahatani biaya produksi petani pengguna T. harzianum 35 22. Komponen usahatani penerimaan petani pengguna T.harzianum .... 36 23. Komponen usahatani biaya produksi petani bukan pengguna

T. harzianum ... 37 24. Komponen usahatani penerimaan petani pengguna T.harzianum .... 39 25. Kuisioner Nilai Ekonomi Penggunaan Trichoderma harzianum dalam

(12)

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Tanaman kubis-kubisan (Brassicaceae) merupakan salah satu komoditas sayuran yang penting dan memiliki banyak manfaat untuk kesehatan manusia. Manfaat yang dapat diperoleh dari jenis sayuran ini diantaranya adalah sebagai sumber vitamin (A, B1, dan C), sumber mineral (kalsium, kalium, klor, fosfor, sodium, dan sulfur), dan mengandung senyawa anti kanker (Adiyoga et al. 2004). Dengan banyaknya manfaat tersebut, komoditas sayuran ini banyak dibutuhkan sebagai sumber pangan manusia baik di Indonesia maupun negara lainnya seperti Singapura, Brunei Darussalam, China, dan Malaysia. Kebutuhan konsumsi domestik komoditas ini meningkat dari tahun ke tahun. Data Badan Pusat Statistik (BPS) (2010) menunjukkan produksi dan produktivitas tanaman kubis meningkat selama periode 2009 – 2010. Produksi kubis meningkat dari 1,358,113 ton pada tahun 2009 menjadi 1,384,656 ton pada tahun 2010, sedangkan produktivitas naik dari 20.03 ton/ha pada 2009 menjadi 20.55 ton/ha pada 2010. Selain untuk kebutuhan konsumsi domestik, produksi sayuran kubis-kubisan Indonesia ini juga diekspor ke negara tetangga seperti Singapura, Malaysia, dan Brunei Darussalam. Nilai ekspor tertinggi komoditas hortikultura ke Singapura adalah kubis. Hingga Agustus 2010, Indonesia telah mengekspor 6.07 ton kubis ke Singapura dengan nilai US$ 2,310,952 (Harismi 2011).

(13)

Kerugian tahunan yang diakibatkan oleh P. brassicae ini di seluruh dunia dapat mencapai 10 - 15% (Dixon 2009). Sementara itu di Indonesia, intensitas serangan yang diakibatkan oleh patogen ini pada tanaman caisin di Cipanas, Jawa Barat mencapai 19.83 - 89.91% (Djatnika 1989), sedangkan pada tanaman kubis sekitar 88.60% (Widodo dan Suheri 1995). Penyakit ini dapat bertahan selama 10 tahun atau lebih meskipun tidak terdapat tumbuhan inang di sekitar lahan yang terinfestasi, sehingga untuk mengatasi hal tersebut diperlukan upaya penanggulangan yang tepat.

Berbagai upaya pengendalian, termasuk penggunaan pestisida sintetik, telah dilakukan oleh petani untuk mengatasi masalah penyakit akar gada tersebut namun sampai saat ini tidak memberikan hasil yang menggembirakan. Salah satu alternatif pengendalian yang lebih ramah lingkungan dan sangat berpotensi dalam menekan perkembangan P. brassicae adalah cendawan antagonis Trichoderma spp. Cendawan ini selain dapat melindungi tanaman, juga dapat mengendalikan berbagai macam penyakit yang disebabkan oleh cendawan patogen (Navi dan Bandyopadhyay 2002). Patogen yang dapat dikendalikan oleh Trichoderma spp. diantaranya Pythium, Phytophthora, Fusarium, Rhizoctonia, Sclerotium, dan Verticillium (Nederhoff 2001; Agrios 2005; Arya dan Perello 2010). Cheah dan Page (1997) melaporkan bahwa agens antagonis Trichodema spp. berpotensi untuk mengendalikan penyakit akar gada yang disebabkan oleh P. brassicae. Penggunaan Trichoderma spp. dapat menurunkan serangan P. brassicae sekitar 25%, sedangkan pemberian bahan organik hasil dekomposisi kotoran hewan ternak bersama Trichoderma spp. dalam media tanam kubis dapat menurunkan serangan P. brassicae sebesar 51% (Legowo 2010).

(14)

(Posyanti) yang berkerjasama dengan IPM CRSP. Sementara itu, kegiatan yang dilakukan berupa pelatihan pembuatan biakan agens hayati T. harzianum yang siap pakai dengan bahan media dari jagung. Tujuan dari kegiatan ini ialah untuk menciptakan kemandirian petani dalam memproduksi dan mengembangbiakan T. harzianum, serta dapat mengaplikasikannya di pertanaman budidaya sayuran guna meningkatkan produksi tanaman.

Hasil-hasil penelitian tentang efektivitas dari agens pengendali hayati T. harzianum dalam pengelolaan penyakit akar gada baik di Indonesia maupun di negara lain telah banyak dipublikasikan. Namun demikian, penelitian tentang aspek ekonomi dari penggunaan agens pengendali hayati ini masih sangat kurang. Oleh karena itu, penelitian tentang nilai ekonomi dari penggunaan T. harzianum ini sangat perlu dilakukan.

Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui nilai ekonomi dari penggunaan T. harzianum dalam mengendalikan penyakit akar gada (P. brassicae Wor.) pada petani kubis-kubisan di daerah Puncak, Cianjur, Jawa Barat.

Manfaat Penelitian

(15)

TINJAUAN PUSTAKA

Famili Kubis-Kubisan

Kubis-kubisan adalah sayuran yang dimanfaatkan daunnya dan bernilai gizi tinggi. Tanaman ini tumbuh hampir di seluruh belahan bumi, biasanya ditanam untuk sayuran, penambah rasa, atau diambil minyaknya. Sayuran ini dapat ditanam di dataran rendah maupun di dataran tinggi dengan curah hujan rata-rata 850-900 mm. Daunnya bulat, oval, sampai lonjong, membentuk roset akar yang besar dan tebal, warna daun bermacam-macam, diantaranya putih (forma alba), hijau, dan merah keunguan (forma rubra) (www.iptek.net.id).

Asal-usul tanaman kubis-kubisan diduga berasal dari tanaman kubis liar (Brassica oleracea var. sylvestris) yang tumbuh di sepanjang pantai Laut Tengah, Inggris, Denmark, dan sebelah utara Perancis Barat, serta pantai Glamorgan. Semula tanaman kubis liar tumbuh menahun (perennual) dan dua musim (biennual), kemudian oleh orang-orang Eropa dipanen bijinya dan selanjutnya ditanam kembali hingga akhirnya diketemukan turunan tanaman kubis-kubisan yang akar-akarnya membengkak dan daun-daunnya dapat dimanfaatkan sebagai bahan makanan (Rukmana 1994).

Keluarga kubis ternyata banyak sekali jenisnya, diantaranya yang dikenal adalah sawi hijau, sawi putih, kembang kol, kailan, kolrabi, salad air, dan brokoli. Semua keluarga kubis-kubisan merupakan sumber vitamin (A, B1, dan C) dan sumber mineral (kalsium, kalium, klor, fosfor, sodium, dan sulfur). Kandungan serat kasar pada kubis dapat memperkecil resiko penyakit kanker lambung dan usus (Adiyoga et al. 2004).

Permasalahan OPT

(16)

Hellula undalis (F.), Phyllotreta vittata F., dan Lipaphiserysimi Kalt. Sementara itu, Semangun (2007) menjelaskan bahwa jenis penyakit yang menyerang tanaman kubis-kubisan adalah akar gada atau akar pekuk (P. brassicae Wor.), bercak daun Alternaria (Alternaria brassicae (Berk.) Sacc. dan A. brassicicola (Schw.) Wiltsh.), kaki hitam (Phoma lingam (Tode ex Fr.) Desm.), tepung berbulu (Peronospora parasitica Pers. ex Fr.), busuk hitam (Xanthomonas campestris pv. campestris (Pamm.) Dye), busuk basah (Erwinia carotovora pv. carotovora (Jones) Dye), mosaik pada caisin (Turnip Mosaic Virus), dan rebah semai (Rhizoctonia solani Kühn, Pythium debaryanum Hesse, dan Fusarium spp.). Permasalahan yang terjadi akibat serangan OPT tersebut dapat menurunkan hasil baik kualitas maupun kuantitas, bahkan beberapa OPT dapat mengakibatkan kematian dan gagal panen pada tanaman kubis-kubisan.

Plasmodiophora brassicae Wor.

P. brassicae Wor. merupakan patogen tular tanah yang sangat penting dan dapat menyebabkan penyakit akar gada pada tanaman kubis-kubisan. Penyakit ini juga sering disebut penyakit akar pekuk atau penyakit akar bengkak. Agrios (2005) mengklasifikasikan patogen tersebut ke dalam kingdom Protozoa, filum Plasmodiophoromycota, kelas Plasmodiophoromycetes, dan ordo Plasmodiophorales.

(17)

Kerusakan yang diakibatkan oleh P. brassicae selain dapat menyebabkan bengkak pada akar, yang dapat mengganggu fungsi akar seperti translokasi zat hara dan air mineral dari dalam tanah ke daun, namun dapat juga menyebabkan tanaman layu, kerdil, kering, dan akhirnya mati (Cicu 2006). Dixon (2009) melaporkan bahwa kerugian tahunan yang diakibatkan P. brassicae di seluruh dunia dapat mencapai 10 - 15%. Sementara itu di Indonesia, intensitas serangan yang diakibatkan oleh patogen ini pada tanaman caisin di Cipanas, Jawa Barat mencapai 19.83 - 89.91% (Djatnika 1989), sedangkan pada tanaman kubis sekitar 88.60% (Widodo dan Suheri 1995).

Berbagai penanggulangan penyakit akar gada telah dilakukan, antara lain perbaikan drainase, perlakuan tanah, perlakuan benih, penggunaan varietas resisten, penggunaan bahan kimia, dan pemanfaatan mikroorganisme antagonis (Cicu 2006). Peningkatan pH tanah dengan cara pengapuran di lahan pertanaman kubis-kubisan dapat menekan serangan penyakit tersebut (Semangun 2007). Menurut Agrios (2005), tanaman kubis-kubisan yang ditanam di lahan yang cukup kering atau lahan yang diberikan pengapuran sehingga pH tanah menjadi 7.2 (sedikit lebih dari netral), dapat menghambat perkecambahan spora patogen tersebut.

(18)

ternak bersama Trichoderma spp. dalam media tanam kubis, dapat menurunkan serangan P. brassicae sebesar 51% (Legowo 2010).

Trichoderma spp.

Trichoderma spp. merupakan cendawan yang berada hampir di semua tanah dan habitat lainnya yang beragam. Cendawan tersebut sering disebut sebagai cendawan yang paling umum membudaya di dalam tanah. Novizan (2002) mengungkapkan bahwa, cendawan Trichoderma spp. merupakan agens hayati yang paling banyak diteliti oleh para ahli tentang kemampuannya untuk mengendalikan cendawan dan bakteri perusak tanaman. Cendawan ini merupakan cendawan saprofit yang hidup di tanah dan mudah diproduksi masal dengan media buatan. Cendawan Trichoderma spp. dapat menjadi hiperparasit pada beberapa spesies cendawan patogen, pertumbuhannya sangat cepat, dan tidak menjadi penyakit untuk tanaman tingkat tinggi. Spesies yang umum adalah T. viride, T. hamatum, dan T. harzianum.

Agrios (2005) dan Mohiddin et al. (2010) mengklasifikasikan cendawan Trichoderma spp. ke dalam kingdom Fungi, filum Ascomycota, sub division Pezizomycotina, kelas Sordariomycetes, ordo Hypocreales, famili Hypocreaceae, dan genus Trichoderma.

Trichoderma spp. biasa digunakan sebagai agens antagonistik terhadap banyak cendawan patogenik tumbuhan. Patogen yang dapat dikendalikan oleh Trichoderma spp. diantaranya Pythium, Phytophthora, Fusarium, Rhizoctonia, Sclerotium, dan Verticillium (Nederhoff 2001; Agrios 2005; Arya dan Perello 2010). Mekanisme antagonistik cendawan antagonis terjadi melalui kompetisi, antibiosis, dan hiperparasitisme. Menurut Soenandar et al. (2010), sifat antagonistik Trichoderma meliputi tiga tipe sebagai berikut: (1) Trichoderma menghasilkan sejumlah enzim ekstraseluler β (1,3) glukonase dan kitinase yang dapat melarutkan dinding sel patogen; (2) beberapa anggota Trichoderma spp. menghasilkan trichodermin. Toksin

tersebut dapat menghancurkan propagul yang berisi spora-spora patogen di sekitarnya; (3) jenis T. viride menghasilkan antibiotik gliotoksin dan viridin yang

(19)

Trichoderma spp. biasa digunakan pada budidaya sayuran, budidaya bunga, budidaya anggrek, budidaya anggur, rumput lapangan olahraga, dan lansekap.

Analisis Usahatani

Dalam melakukan suatu usaha, termasuk usahatani, diperlukan suatu alat analisis atau kajian dalam mempertimbangkan kelayakan dari usaha atau proyek tersebut. Analisis yang dapat dilakukan salah satunya dengan melalui analisis biaya – manfaat (costbenefit analysis). Nas (1996) mengungkapkan bahwa terdapat tiga jenis aturan yang umum digunakan dalam analisis biaya – manfaat, diantaranya net presentvalue (NPV), benefitcostratio (BCR), dan internalrateofreturn (IRR).

(20)

BAHAN DAN METODE

Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian dilaksanakan di dua kecamatan di Kabupaten Cianjur, yaitu Kecamatan Cipanas (Desa Cimacan dan Sindang Jaya) dan Kecamatan Pacet (Desa Cipendawa dan Sukatani), yang merupakan daerah sentra produksi sayur-sayuran di Kabupaten Cianjur. Penelitian ini dimulai dari bulan Maret 2011 hingga Mei 2011.

Metode Penelitian

Pengumpulan Data

(21)

Analisis Data

Data hasil survei dianalisis dengan menghitung persentase dan nilai rataan yang kemudian disajikan dalam bentuk diagram batang dengan menggunakan program Microsoft Office Excel 2007. Pembandingan nilai rataan untuk kedua kelompok petani (petani Trichoderma dan petani non-Trichoderma) dilakukan dengan uji t menggunakan program Minitab 16. Data ekonomi dianalisis dengan pendekatan nisbah manfaat terhadap biaya (benefit cost ratio), dihitung dengan rumus:

(22)

HASIL DAN PEMBAHASAN

Karakteristik Petani dan Praktek Budidaya

Sebagian besar (75% - 77%) petani sayuran kubis-kubisan di daerah Puncak, Cianjur berpendidikan rendah dan sisanya (23% - 25%) hanya berpendidikan menengah (SMP dan SMA). Di antara kedua kelompok petani, proporsi petani Trichoderma berpendidikan SD lebih banyak daripada proporsi petani non-Trichoderma yang berpendidikan sama. Petani yang tidak tamat SD lebih banyak didominasi oleh petani non-Trichoderma daripada petani Trichoderma. Sementara pada pendidikan menengah, petani Trichoderma lebih banyak yang berpendidikan SMP sedangkan petani non-Trichoderma lebih banyak yang berpendidikan SMA (Gambar 1). Kendala ekonomi keluarga merupakan faktor utama yang menyebabkan petani tidak dapat menempuh pendidikan tingkat menengah dan tinggi. Akibatnya mereka lebih memilih bekerja sebagai petani yang juga merupakan profesi turun-temurun di keluarga.

0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 100

Tidak Tamat SD SD SMP SMA

Jum

lah Petani

(%)

Tingkat Pendidikan

Petani Trichoderma Petani Non-Trichoderma

(23)

Usia petani relatif heterogen antara kelompok petani Trichoderma dan kelompok petani non-Trichoderma. Petani Trichoderma lebih banyak yang berusia di atas 40 tahun, sedangkan petani non-Trichoderma sebaliknya, lebih banyak yang berusia 40 tahun ke bawah. Persentase petani yang berusia 40 tahun ke bawah adalah 33% petani Trichoderma dan 56% petani non-Trichoderma. Sementara itu petani yang berusia 40 tahun ke atas adalah 67% petani Trichoderma dan 44% petani non-Trichoderma (Gambar 2). Data ini menunjukkan bahwa faktor usia berpengaruh terhadap penggunaan agens pengendali hayati T. harzianum dalam pengelolaan penyakit akar gada. Semakin tinggi usia yang dimiliki oleh petani, menyebabkan perbedaan dalam pola pikir mereka. Pola pikir petani yang berusia 40 tahun ke atas umumnya mempunyai tingkat kematangan yang lebih tinggi dalam berpikir, sehingga proses keputusan petani dalam menggunakan T. harzianum di pertanaman juga didasarkan pada hasil panen yang diperoleh.

0

(24)

dalam pengelolaan penyakit akar gada pada sayuran kubis-kubisan. Petani non-Trichoderma yang berpengalaman di bawah 10 tahun umumnya didominasi petani muda yang berumur 20 - 40 tahun dan bahkan ada beberapa orang yang beralih profesi menjadi petani karena tidak menyukai profesi sebelumnya yaitu sebagai pedagang.

1-10 11-20 21-30 31-40 41-50 > 50

Jum

Gambar 3 Sebaran pengalaman bertani petani sayuran kubis-kubisan daerah Puncak, Cianjur.

(25)

luas lebih memilih komoditas kubis kol karena komoditas tersebut dapat memberikan hasil panen yang lebih banyak dibandingkan dengan hasil panen brokoli dan pak choy.

Petani Trichoderma yang menanam komoditas kubis kol memiliki luas lahan cukup luas dibandingkan dengan petani lainnya karena petani Trichoderma kubis kol beranggapan bahwa dengan menggunakan T. harzianum di pertanaman dapat menyelamatkan produksi dari serangan penyakit akar gada. Sebelumnya hal ini tidak dilakukan oleh petani mengingat serangan penyakit akar gada yang menyerang komoditas kubis kol menunjukkan kerusakan yang lebih parah dibandingkan dengan komoditas brokoli dan pak choy, bahkan dapat menyebabkan gagal panen. Namun setelah petani mengintroduksi penggunaan T. harzianum di pertanaman, petani Trichoderma yang menanam komoditas kubis kol lebih berani untuk menggunakan komoditas tersebut di pertanaman.

Tabel 1 Rata-rata dan simpangan baku luas lahan yang diusahakan petani sayuran kubis-kubisan daerah Puncak, Cianjur

Komoditas Luas lahan (ha)

Petani Trichoderma Petani Non-Trichoderma Brokoli 0.090 ± 0.036 0.234 ± 0.222 Kubis kol 0.790 ± 0.420 0.139 ± 0.096 Phak choy 0.056 ± 0.027 0.069 ± 0.026 Total* 0.309 ± 0.418 a 0.179 ± 0.184 a *Angka pada baris yang sama diikuti huruf yang sama menunjukkan tidak berbeda nyata menurut uji t dengan α = 0.05.

(26)

menggambarkan kondisi petani Indonesia umumnya yang berusahatani secara subsisten dengan luas lahan tidak lebih dari 0.25 ha. Terlebih lagi, sebagian besar lahan yang diusahakan petani merupakan lahan sewa dan lahan garapan milik orang lain.

Dalam melakukan usahataninya, baik petani Trichoderma maupun non-Trichoderma lebih banyak yang memilih pola tanam cara tumpang sari daripada monokultur. Sebanyak 75% petani Trichoderma dan 57% petani non-Trichoderma menanam tanaman sayurannya secara tumpangsari dengan komoditas cabai, bawang daun, dan wortel. Sementara sisanya (25% petani Trichoderma dan 43% petani non-Trichoderma) menanam tanamannya secara monokultur (Gambar 4). Alasan petani menggunakan pola tanam tumpang sari adalah untuk efisiensi lahan dan biaya produksi, serta untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga petani.

0

Gambar 4 Pola tanam yang dilakukan petani sayuran kubis-kubisan daerah Puncak, Cianjur.

Permasalahan Penyakit Akar Gada

(27)

pembengkakan akar yang mirip dengan batang (gada) sehingga mengganggu fungsi pengangkutan air dan hara dari dalam tanah.

(a) (b)

Gambar 5 Gejala penyakit akar gada tanaman kubis-kubisan bagian atas permukaan tanah (a) dan bagian akar (b).

Serangan penyakit akar gada pada lahan yang diaplikasi T. harzianum jauh lebih rendah daripada serangan penyakit tersebut pada lahan yang tidak diaplikasi T. harzianum. Hasil survei memperlihatkan bahwa tingkat serangan penyakit akar gada pada ketiga komoditas sayuran kubis-kubisan jauh lebih rendah pada petani yang menggunakan T. harzianum daripada petani yang tidak menggunakan T. harzianum. Secara rata-rata untuk ketiga komoditas tersebut, tingkat serangan penyakit akar gada pada lahan petani Trichoderma nyata lebih rendah daripada tingkat serangan penyakit tersebut pada lahan petani non-Trichoderma. Rata-rata tingkat serangan pada lahan petani Trichoderma adalah 8.75%, sedangkan rata-rata tingkat serangan pada lahan petani non-Trichoderma adalah 40.17% (Tabel 2). Tabel 2 Rata-rata dan simpangan baku tingkat serangan penyakit akar gada pada

tanaman kubis-kubisan yang diaplikasi dengan dan tanpa penggunaan T. harzianum

Komoditas Tingkat serangan penyakit akar gada (%) Petani Trichoderma Petani Non-Trichoderma Brokoli 5.00 ± 5.00 37.06 ± 22.30 Kubis kol 16.25 ± 9.46 44.29 ± 28.60 Pak choy 5.00 ± 5.00 44.17 ± 19.60 Total* 8.75 ± 8.29 a 40.17 ± 22.90 b

(28)

Analisis Ekonomi

Tabel 3 memperlihatkan hasil panen pada ketiga komoditas sayuran kubis-kubisan yang diaplikasi dan tidak diaplikasi T. harzianum untuk luas lahan sebesar 2000 m2. Secara numerik, hasil panen ketiga komoditas pada petani Trichoderma lebih tinggi daripada hasil panen pada petani non-Trichoderma. Hasil uji t terhadap nilai rata-rata hasil panen menunjukkan hanya pada komoditas pak choy yang memperlihatkan perbedaan yang nyata pada taraf nyata 5%, yaitu hasil panen pada petani Trichoderma sebesar 4.5 ton sedangkan hasil panen pada petani non-Trichoderma sebesar 1.8 ton per 0.2 ha (Tabel 3). Data ini mengisyaratkan bahwa penggunaan T. harzianum mampu menekan perkembangan penyakit akar gada di pertanaman secara efektif terutama pada komoditas pak choy sehingga mampu mengurangi kehilangan hasil panen. Akibatnya, lahan yang terserang penyakit akar gada dan diaplikasikan T. harzianum dapat memberikan hasil yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan lahan yang tidak diaplikasikan T. harzianum.

Tabel 3 Rata-rata dan simpangan baku hasil panen pada tiga komoditas sayuran kubis-kubisan antara petani pengguna dan bukan pengguna T. harzianum Komoditas Hasil panen (kg/2000 m

2

)*

Petani Trichoderma Petani Non-Trichoderma Brokoli 1278 ± 631 a 898 ± 592 a Kubis Kol 5890 ± 1683 a 5730 ± 1196 a Pak Choy 4464 ± 1445 a 1794 ± 1129 b *Angka pada baris yang sama diikuti huruf yang sama menunjukkan tidak berbeda nyata menurut uji t dengan α = 0.05.

(29)

ini disebabkan petani Trichoderma lebih banyak mengeluarkan biaya untuk tenaga kerja dalam pengolahan lahan daripada petani non-Trichoderma. Teknik pengolahan lahan yang khusus menyebabkan petani Trichoderma membutuhkan tenaga kerja yang banyak sehingga biaya yang dikeluarkan pun juga lebih tinggi. Dibandingkan dengan besarnya penerimaan, besarnya biaya produksi yang dikeluarkan oleh kedua kelompok petani ini masih lebih rendah sehingga petani masih memperoleh keuntungan dari usahatani sayuran kubis-kubisan ini. Secara umum pada ketiga komoditas yang dianalisis, keuntungan yang diperoleh petani Trichoderma jauh lebih tinggi dibandingkan dengan keuntungan yang diperoleh petani non-Trichoderma dan keuntungan tertinggi terlihat pada komoditas pak choy (Tabel 4).

Tabel 4 Rata-rata dan simpangan baku penerimaan, biaya produksi, dan keuntungan usahatani petani brokoli, kubis kol, dan pak choy dengan dan tanpa penggunaan T. harzianum

Komponen usahatani Jumlah uang (Rp)*

Petani Trichoderma Petani Non-Trichoderma Brokoli

Penerimaan 18,888,889 ± 14,878,520 a 10,141,974 ± 7,155,411 a Biaya Produksi 7,698,444 ± 3,580,792 a 7,224,107 ± 6,167,507 a Keuntungan 11,190,444 ± 11,853,216 a 2,917,867 ± 3,590,817 b Kubis Kol

Penerimaan 16,625,160 ± 8,797,556 a 6,129,934 ± 5,010,563 b Biaya Produksi 7,323,319 ± 4,317,862 a 5,534,510 ± 2,737,291 a Keuntungan 9,301,841 ± 5,680,009 a 595,424 ± 5,647,050 b Pak Choy

Penerimaan 31,472,425 ± 13,108,146 a 13,736,706 ± 12,632,637 b Biaya Produksi 7,820,667 ± 3,471,113 a 4,658,360 ± 4,123,123 a Keuntungan 23,651,758 ± 13,796,856 a 9,078,347 ± 11,916,587 b *Angka pada baris yang sama diikuti huruf yang sama menunjukkan tidak berbeda nyata menurut uji t dengan α = 0.05.

(30)

tahun dan memperoleh rata-rata penerimaan sebesar Rp 23,377,452.- per tahun. Ini berarti petani pengguna T. harzianum memperoleh rata-rata keuntungan sebesar Rp 15,753,124.- per tahun. Sementara untuk petani yang tidak menggunakan T. harzianum, rata-rata biaya produksi yang dikeluarkan adalah sebesar Rp 6,316,718.- per tahun dan rata-rata penerimaan yang diperolehnya adalah sebesar Rp 9,924,778.- per tahun. Ini menghasilkan keuntungan bagi petani rata-rata sebesar Rp 3,608,060.- per tahun. Hasil uji t dengan α = 0.05 menunjukkan bahwa rata-rata penerimaan dan keuntungan yang diperoleh petani pengguna T. harzianum nyata lebih tinggi daripada rata-rata penerimaan dan keuntungan yang diterima petani bukan pengguna T. harzianum (Tabel 5). Hasil ini membuktikan bahwa penggunaan T. harzianum di pertanaman kubis-kubisan mampu menekan serangan penyakit akar gada secara signifikan. Sebagai akibatnya, produksi tanaman yang dapat dipanen tetap tinggi sehingga petani memperoleh keuntungan yang tinggi dari hasil panen tersebut.

Tabel 5 Rata-rata dan simpangan baku penerimaan, biaya produksi, dan keuntungan usahatani tanaman kubis-kubisan dengan dan tanpa penggunaan T. harzianum

Komponen usahatani Jumlah uang (Rp)*

Petani Trichoderma Petani Non-Trichoderma Penerimaan 23,377,453 ± 13,255,133 a 9,924,778 ± 8,213,830 b Biaya Produksi 7,624,328 ± 3,442,278 a 6,316,718 ± 5,164,028 a Keuntungan 15,753,124 ± 12,358,397 a 3,608,060 ± 6,845,180 b *Angka pada baris yang sama diikuti huruf yang sama menunjukkan tidak berbeda nyata menurut uji t dengan α = 0.05.

(31)

Hasil analisis nisbah manfaat terhadap biaya (B/C ratio) menunjukkan bahwa pelaksanaan usahatani tanaman kubis-kubisan yang menggunakan T. harzianum dapat menghasilkan nilai nisbah keuntungan terhadap biaya produksi lebih tinggi daripada usahatani yang tidak menggunakan T. harzianum. Rata-rata nisbah keuntungan terhadap biaya produksi usahatani dengan T. harzianum melebihi dua kali lipat rata-rata nisbah yang sama pada usahatani tanpa T. harzianum (Tabel 6). Ini menunjukkan bahwa nilai ekonomi dari penggunaan T. harzianum sebagai agens pengendali hayati patogen P. brassicae adalah dua kali nilai ekonomi usahatani secara konvensional yang sangat bergantung pada penggunaan pestisida sintetik. Tabel 6 Rata-rata dan simpangan baku nilai nisbah manfaat-biaya usahatani tanaman

kubis-kubisan dengan dan tanpa penggunaan T. harzianum Komoditas Nisbah manfaat-biaya

Petani Trichoderma Petani Non-Trichoderma Brokoli 1.35 ± 0.98 0.59 ± 0.80 Kubis kol 1.56 ± 1.38 0.53 ± 1.28 Pak choy 3.67 ± 3.03 3.29 ± 2.81 Total* 2.39 ± 2.31 a 1.11 ± 1.81 b *Angka pada baris yang sama diikuti huruf yang sama menunjukkan tidak berbeda nyata menurut uji t dengan α = 0.05.

Analisis Sosial

(32)

kelompok tani hanya 47%. Petani non-Trichoderma yang pernah mengikuti pelatihan pembuatan T. harzianum hanya 23% (Gambar 6). Ini menunjukkan bahwa kelembagaan petani sangat berperan penting dan berpengaruh terhadap peningkatan pengetahuan dan keterampilan petani dalam budidaya tanaman, termasuk dalam pengambilan keputusan penggunaan T. harzianum. Di samping itu, petani mendapatkan informasi tentang T. harzianum karena mendapatkan pelatihan khusus T. harzianum yang dilakukan di dalam kelompoknya.

Sebagian besar petani non-Trichoderma tidak mengetahui tentang T. harzianum karena kurang mendapatkan informasi di luar pengetahuan petani dalam melakukan budidaya, sehingga pada umumnya petani non-Trichoderma menangani masalah hama dan penyakit berdasarkan pengalaman pribadi dari petani tersebut. Sementara itu, petani non-Trichoderma yang pernah mengikuti pelatihan pembuatan T. harzianum namun belum mempraktekkannya dalam budidaya disebabkan pola pikir mereka yang ingin mengendalikan penyakit akar gada dengan cara yang sederhana dan mudah untuk diaplikasikan di pertanaman. Penggunaan T. harzianum membutuhkan waktu dan tenaga yang lebih banyak dibandingkan dengan yang menggunakan pestisida sintetik.

Gambar 6 Keikutsertaan petani sayuran kubis-kubisan dalam kelompok tani dan pelatihan Trichoderma.

(33)

(mulai dari nol hingga sembilan orang jumlah tanggungan keluarga). Petani Trichoderma dan non-Trichoderma lebih banyak memiliki jumlah tanggungan hingga 4 orang (76% dan 78%), sedangkan sisanya (24% dan 22%) memiliki jumlah tanggungan 5 - 9 orang (Gambar 7). Secara rata-rata, jumlah tanggungan yang dimiliki petani Trichoderma berjumlah 3.25 orang, hampir sama dengan jumlah tanggungan yang dimiliki petani non-Trichoderma berjumlah 3.17 orang. Data ini menunjukkan bahwa tanggungan keluarga yang dimiliki petani tidak mempengaruhi terhadap cara budidaya dan keputusan petani dalam menggunakan T. harzianum di pertanaman kubis-kubisan. Umumnya petani memenuhi kebutuhan keluarganya dengan bekerja sebagai tenaga tambahan di lahan milik orang lain. Ini dilakukan petani yang hasil panennya tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarganya maupun untuk modal tanam musim selanjutnya.

0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 100

0 1 2 3 4 5 6 7 8 9

Jum

lah Petani

(%)

Jumlah Tanggungan (orang)

Petani Trichoderma Petani Non-Trichoderma

(34)

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

Penggunaan T. harzianum di pertanaman kubis-kubisan efektif dapat menurunkan serangan penyakit akar gada yang disebabkan oleh patogen P. brassicae. Serangan penyakit akar gada pada lahan yang diaplikasi T. harzianum jauh lebih rendah daripada serangan penyakit tersebut pada lahan yang tidak diaplikasi T. harzianum. Faktor usia dan pengalaman bertani berpengaruh terhadap penggunaan T. harzianum di pertanaman kubis-kubisan. Selain itu, keikutsertaan petani dalam kelompok tani dan partisipasi dalam pelatihan pembuatan T. harzianum juga menentukan keputusan petani dalam menggunakan T. harzianum tersebut.

Kelebihan penggunaan T. harzianum juga terlihat dalam hasil panen dan nilai ekonomi yang diperoleh petani (penerimaan dan keuntungan). Hasil analisis nisbah manfaat terhadap biaya (B/C ratio) menunjukkan bahwa petani pengguna T. harzianum menghasilkan nilai B/C ratio lebih dari dua kalinya nilai B/C ratio petani bukan pengguna T. harzianum.

Saran

(35)

DAFTAR PUSTAKA

Adiyoga W, Ameriana M, Suherman R, Soetiarso TA, Jaya B, Udiarto BK, Rosliani R, Mussadad D. 2004. Profil Komoditas Kubis. Bandung: Balitsa.

Agrios GN. 2005. Plant Pathology. Fifth edition. Burlington, California, London: Elsevier Academic Press.

Anonim. 2005. Kubis. http://www.iptek.net.id/ind/pd_tanobat/view.php?id=229. [13 Juli 2011].

Arya A, Perello AE. 2010. Management of Fungal Plant Pathogens. London: CAB Internasional.

[BPSRI] Badan Pusat Statistik Republik Indonesia. 2010. Luas Panen, Produksi dan Produktivitas Kubis, 2009-2010. Jakarta. http://www.bps.go.id/tab_sub/ view.php?tabel=1&daftar=1&id_subyek=55&notab=16. [22 Juni 2011].

Cheah LH, Page BBC. 1997. Trichoderma spp. for potential of clubroot of vegetable brassicas. Proceeding 50th N.Z. Plant Protection Conf; 1997; New Zealand. New Zealand Plant Protection Society. Hlm 150-153.

Cicu. 2006. Penyakit Akar Gada (Plasmodiophora brassicae WOR.) pada Kubis-Kubisan dan Upaya Pengendaliannya. Jurnal Litbang Pertanian. 25(1):16-21. Djatnika I. 1989. Upaya pengendalian Plasmodiophora brassicae Wor. Penyebab

penyakit akar bengkak pada Brassica spp. [Disertasi]. Bogor(ID): Fakultas Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor.

Dixon GR. 2009. The occurrence and economic impact of Plasmodiophora brassicae and clubroot disease. Journal of Plant Growth Regulation. [internet]. 28(3):194-202. Tersedia pada: http://www.springerlink.com/content/ 8732331703n867u2/. DOI:10.1007/s00344-009-9090-y.

Harismi A. 2011. Singapura minta Indonesia ekspor holtikultura tak terbatas. Jakarta: Media Indonesia. http://www.mediaindonesia.com/read/2011/02/02/200285/4/ 2/Singapura-Minta-Indonesia-Ekspor-Holtikultura-tak-Terbatas. [24 Agustus 2011].

Kalshoven LGE. 1981. The Pests of Crops in Indonesia. Laan PA van der, penerjemah. Jakarta (ID): Ichtiar Baru- van Hoeve. Terjemahan dari: De Plagen vande Cultuurgewassen in Indonesie.

(36)

Legowo DA. 2010. Pengaruh penggunaan bahan organik dan jamur antagonis Trichoderma spp. terhadap penyakit akar bengkak (Plasmodiophora brassicae Worr.) pada tanaman kubis [abstrak tesis]. Malang: Program Pascasarjana Universitas Brawijaya. Tersedia pada: http://ppsub.ub.ac.id/perpustakaan/ abstraksi/tesis/2-02-19.PDF. [30 Juni 2011].

Mohiddin FA, Khan MR, Khan SM, Bhat BH. 2010. Why Trichoderma is considered super hero (super fungus) against the evil parasites?. Plant Pathology Journal.9(3):92-102.

Nas TF. 1996. Cost - Benefit Analysis Theory and Application.California: Sage Publications.

Navi SS, Bandyopadhyay R. 2002. Biological control of fungal plant pathogens. Di dalam Waller et al, editor. Plant Pathologist’s Pocketbook. Ed ke-3. London: CABI. Hlm 354-365.

Nederhoff E. 2001. Biological control of root diseases – especially with Trichoderma. Grower [internet]. 56(5):24-25. Tersedia pada: http://www.crophouse.co.nz/ files/GR_W15-Biological_control-view.pdf. [14 Agustus 2011].

Novizan. 2002. Membuat dan Memanfaatkan Pestisida Ramah Lingkungan. Jakarta: PT AgroMedia Pustaka.

Peng G, McGregor L, Lahlali R, Gossen BD, Hwang SF, Adhikari KK, Strelkov SE, McDonald MR. 2010. Potential biological control of clubroot on canola and crucifer vegetable crops [abstrak]. Plant Pathology. [internet]. 60(3):566-574. Tersedia pada: http://onlinelibrary.wiley.com/doi/10.1111/j.1365-3059.2010.02400.x/abstract. DOI: 10.1111/j.1365-3059.2010.02400.x.

Rukmana R. 1994. KUBIS. Yogyakarta: Kanisius.

Semangun H. 2007. Penyakit-Penyakit Tanaman Hortikultura di Indonesia. Edisi Kedua. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Soeharto I. 1999. Manajemen Proyek (Dari Konseptual Sampai Operasional) Jilid 1. Edisi Kedua. Jakarta: Erlangga.

Soenandar M, Aeni MN, Raharjo A. 2010. Petunjuk Praktis Membuat Pestisida Organik. Jakarta: PT AgroMedia Pustaka.

(37)

Wang J, Huang Y, Lin S, Liu F, Song Q, Peng Y, Zhao L. 2011. A strain of Streptomyces griseoruber isolated from rhizospheric soil of Chinese cabbage as antagonist to Plasmodiophora brassicae [abstrak]. Annals of Microbiology [internet]. Tersedia pada: http://www.springerlink.com/content/ 71u226h152217888/. DOI: 10.1007/s13213-011-0253-2.

(38)

LAMPIRAN

Lampiran 1 Hasil analisis uji t statistik rata-rata total luas lahan yang diusahakan petani Trichoderma dan non-Trichoderma

Two-Sample T-Test and CI: Trichoderma, Non Trichoderma

Two-sample T for Trichoderma vs Non Trichoderma

N Mean StDev SE Mean Trichoderma 12 0.309 0.418 0.12 Non Trichoderma 30 0.179 0.184 0.034

Difference = mu (Trichoderma) - mu (Non Trichoderma) Estimate for difference: 0.1305

95% lower bound for difference: -0.0246

T-Test of difference = 0 (vs >): T-Value = 1.42 P-Value = 0.082 DF = 40 Both use Pooled StDev = 0.2696

Lampiran 2 Hasil analisis uji t statistik rata-rata total tingkat serangan penyakit akar gada petani Trichoderma dan non-Trichoderma

Two-Sample T-Test and CI: Trichoderma_1, Non Trichoderma_1

Two-sample T for Trichoderma_1 vs Non Trichoderma_1

N Mean StDev SE Mean Trichoderma_1 12 8.75 8.29 2.4 Non Trichoderma_1 30 40.2 22.9 4.2

Difference = mu (Trichoderma_1) - mu (Non Trichoderma_1) Estimate for difference: -31.42

95% upper bound for difference: -19.94

(39)

Lampiran 3 Hasil analisis uji t statistik rata-rata hasil panen komoditas brokoli petani Trichoderma dan non-Trichoderma

Two-Sample T-Test and CI: P_B_Tricho, P_B_Non Tricho

Two-sample T for P_B_Tricho vs P_B_Non Tricho

N Mean StDev SE Mean P_B_Tricho 3 1278 631 364 P_B_Non Tricho 17 898 592 144

Difference = mu (P_B_Tricho) - mu (P_B_Non Tricho) Estimate for difference: 380

95% lower bound for difference: -268

T-Test of difference = 0 (vs >): T-Value = 1.02 P-Value = 0.161 DF = 18 Both use Pooled StDev = 596.6529

Lampiran 4 Hasil analisis uji t statistik rata-rata hasil panen komoditas kubis kol petani Trichoderma dan non-Trichoderma

Two-Sample T-Test and CI: P_K_Tricho, P_K_Non Tricho

Two-sample T for P_K_Tricho vs P_K_Non Tricho

N Mean StDev SE Mean P_K_Tricho 4 5890 1683 841 P_K_Non Tricho 7 5730 1196 452

Difference = mu (P_K_Tricho) - mu (P_K_Non Tricho) Estimate for difference: 160

95% lower bound for difference: -1423

T-Test of difference = 0 (vs >): T-Value = 0.19 P-Value = 0.429 DF = 9 Both use Pooled StDev = 1377.6866

Lampiran 5 Hasil analisis uji t statistik rata-rata hasil panen komoditas pak choy petani Trichoderma dan non-Trichoderma

Two-Sample T-Test and CI: P_P_Tricho, P_P_Non Tricho

Two-sample T for P_P_Tricho vs P_P_Non Tricho

N Mean StDev SE Mean P_P_Tricho 5 4464 1445 646 P_P_Non Tricho 6 1794 1129 461

Difference = mu (P_P_Tricho) - mu (P_P_Non Tricho) Estimate for difference: 2670

95% lower bound for difference: 1250

(40)

Lampiran 6 Hasil analisis uji t statistik rata-rata penerimaan yang diperoleh petani Trichoderma dan non-Trichoderma

Two-Sample T-Test and CI: Pend_Tricho, Pend_Non Tricho

Two-sample T for Pend_Tricho vs Pend_Non Tricho

N Mean StDev SE Mean Pend_Tricho 12 23377453 13255133 3826427 Pend_Non Tricho 30 9924778 8213830 1499633

Difference = mu (Pend_Tricho) - mu (Pend_Non Tricho) Estimate for difference: 13452675

95% lower bound for difference: 7781426

T-Test of difference = 0 (vs >): T-Value = 3.99 P-Value = 0.000 DF = 40 Both use Pooled StDev = 9860561.7844

Lampiran 7 Hasil analisis uji t statistik rata-rata biaya produksi yang dikeluarkan petani Trichoderma dan non-Trichoderma

Two-Sample T-Test and CI: Biaya_Tricho, Biaya_Non Tricho

Two-sample T for Biaya_Tricho vs Biaya_Non Tricho

N Mean StDev SE Mean Biaya_Tricho 12 7624328 3442278 993700 Biaya_Non Tricho 30 6316718 5164028 942818

Difference = mu (Biaya_Tricho) - mu (Biaya_Non Tricho) Estimate for difference: 1307610

95% lower bound for difference: -1426128

T-Test of difference = 0 (vs >): T-Value = 0.81 P-Value = 0.213 DF = 40 Both use Pooled StDev = 4753131.8519

Lampiran 8 Hasil analisis uji t statistik rata-rata keuntungan yang diperoleh petani Trichoderma dan non-Trichoderma

Two-Sample T-Test and CI: Keunt_Tricho, Keunt_Non Tricho

Two-sample T for Keunt_Tricho vs Keunt_Non Tricho

N Mean StDev SE Mean Keunt_Tricho 12 15753124 12358397 3567562 Keunt_Non Tricho 30 3608060 6845180 1249753

Difference = mu (Keunt_Tricho) - mu (Keunt_Non Tricho) Estimate for difference: 12145064

95% lower bound for difference: 7132004

(41)

Lampiran 9 Hasil analisis uji t statistik rata-rata total nilai B/C ratio petani Trichoderma dan non-Trichoderma

Two-Sample T-Test and CI: Trichoderma_2, Non Trichoderma_2

Two-sample T for Trichoderma_2 vs Non Trichoderma_2

N Mean StDev SE Mean Trichoderma_2 12 2.39 2.31 0.67 Non Trichoderma_2 30 1.11 1.81 0.33

Difference = mu (Trichoderma_2) - mu (Non Trichoderma_2) Estimate for difference: 1.272

95% lower bound for difference: 0.144

T-Test of difference = 0 (vs >): T-Value = 1.90 P-Value = 0.032 DF = 40 Both use Pooled StDev = 1.9605

Lampiran 10 Hasil analisis uji t statistik rata-rata penerimaan yang diperoleh petani Trichoderma dan non-Trichoderma pada komoditas brokoli

Two-Sample T-Test and CI: Pend_B_Tricho, Pend_B_non Tricho

Two-sample T for Pend_B_Tricho vs Pend_B_non Tricho

N Mean StDev SE Mean Pend_B_Tricho 3 18888889 14878520 8590118 Pend_B_non Tricho 17 10141974 7155411 1735442

Difference = mu (Pend_B_Tricho) - mu (Pend_B_non Tricho) Estimate for difference: 8746915

95% lower bound for difference: -345472

T-Test of difference = 0 (vs >): T-Value = 1.67 P-Value = 0.056 DF = 18 Both use Pooled StDev = 8373036.0021

Lampiran 11 Hasil analisis uji t statistik rata-rata biaya produksi yang dikeluarkan petani Trichoderma dan non-Trichoderma pada komoditas brokoli

Two-Sample T-Test and CI: BP_B_Tricho, BP_B_non Tricho

Two-sample T for BP_B_Tricho vs BP_B_non Tricho

N Mean StDev SE Mean BP_B_Tricho 3 7698444 3580792 2067371 BP_B_non Tricho 17 7224107 6167507 1495840

Difference = mu (BP_B_Tricho) - mu (BP_B_non Tricho) Estimate for difference: 474338

95% lower bound for difference: -5971664

(42)

Lampiran 12 Hasil analisis uji t statistik rata-rata keuntungan yang diperoleh petani Trichoderma dan non-Trichoderma pada komoditas brokoli

Two-Sample T-Test and CI: K_B_Tricho, K_B_non Tricho

Two-sample T for K_B_Tricho vs K_B_non Tricho

N Mean StDev SE Mean K_B_Tricho 3 11190444 11853216 6843458 K_B_non Tricho 17 2917867 3590817 870901

Difference = mu (K_B_Tricho) - mu (K_B_non Tricho) Estimate for difference: 8272577

95% lower bound for difference: 2622461

T-Test of difference = 0 (vs >): T-Value = 2.54 P-Value = 0.010 DF = 18 Both use Pooled StDev = 5203102.6571

Lampiran 13 Hasil analisis uji t statistik rata-rata penerimaan yang diperoleh petani Trichoderma dan non-Trichoderma pada komoditas kubis kol

Two-Sample T-Test and CI: Pend_K_Tricho, Pend_K_non Tricho

Two-sample T for Pend_K_Tricho vs Pend_K_non Tricho

N Mean StDev SE Mean Pend_K_Tricho 4 16625160 8797556 4398778 Pend_K_non Tricho 7 6129934 5010563 1893815

Difference = mu (Pend_K_Tricho) - mu (Pend_K_non Tricho) Estimate for difference: 10495226

95% lower bound for difference: 3001709

T-Test of difference = 0 (vs >): T-Value = 2.57 P-Value = 0.015 DF = 9 Both use Pooled StDev = 6521974.8676

Lampiran 14 Hasil analisis uji t statistik rata-rata biaya produksi yang dikeluarkan petani Trichoderma dan non-Trichoderma pada komoditas kubis kol

Two-Sample T-Test and CI: BP_K_Tricho, BP_K_non Tricho

Two-sample T for BP_K_Tricho vs BP_K_non Tricho

N Mean StDev SE Mean BP_K_Tricho 4 7323319 4317862 2158931 BP_K_non Tricho 7 5534510 2737291 1034599

Difference = mu (BP_K_Tricho) - mu (BP_K_non Tricho) Estimate for difference: 1788809

95% lower bound for difference: -2058046

(43)

Lampiran 15 Hasil analisis uji t statistik rata-rata keuntungan yang diperoleh petani Trichoderma dan non-Trichoderma pada komoditas kubis kol

Two-Sample T-Test and CI: K_K_Tricho, K_K_non Tricho

Two-sample T for K_K_Tricho vs K_K_non Tricho

N Mean StDev SE Mean K_K_Tricho 4 9301841 5680009 2840005 K_K_non Tricho 7 595424 5647050 2134384

Difference = mu (K_K_Tricho) - mu (K_K_non Tricho) Estimate for difference: 8706417

95% lower bound for difference: 2205510

T-Test of difference = 0 (vs >): T-Value = 2.46 P-Value = 0.018 DF = 9 Both use Pooled StDev = 5658057.7019

Lampiran 16 Hasil analisis uji t statistik rata-rata penerimaan yang diperoleh petani Trichoderma dan non-Trichoderma pada komoditas pak choy

Two-Sample T-Test and CI: Pend_P_Tricho, Pend_P_non Tricho

Two-sample T for Pend_P_Tricho vs Pend_P_non Tricho

N Mean StDev SE Mean Pend_P_Tricho 5 31472425 13108146 5862141 Pend_P_non Tricho 6 13736706 12632637 5157253

Difference = mu (Pend_P_Tricho) - mu (Pend_P_non Tricho) Estimate for difference: 17735719

95% lower bound for difference: 3476430

T-Test of difference = 0 (vs >): T-Value = 2.28 P-Value = 0.024 DF = 9 Both use Pooled StDev = 12846147.6426

Lampiran 17 Hasil analisis uji t statistik rata-rata biaya produksi yang dikeluarkan petani Trichoderma dan non-Trichoderma pada komoditas pak choy

Two-Sample T-Test and CI: BP_P_Tricho, BP_P_non Tricho

Two-sample T for BP_P_Tricho vs BP_P_non Tricho

N Mean StDev SE Mean BP_P_Tricho 5 7820667 3471113 1552329 BP_P_non Tricho 6 4658360 4123123 1683258

Difference = mu (BP_P_Tricho) - mu (BP_P_non Tricho) Estimate for difference: 3162307

95% lower bound for difference: -1107891

(44)

Lampiran 18 Hasil analisis uji t statistik rata-rata keuntungan yang diperoleh petani Trichoderma dan non-Trichoderma pada komoditas pak choy

Two-Sample T-Test and CI: K_P_Tricho, K_P_non Tricho

Two-sample T for K_P_Tricho vs K_P_non Tricho

N Mean StDev SE Mean K_P_Tricho 5 23651758 13796486 6169976 K_P_non Tricho 6 9078347 11916587 4864926

Difference = mu (K_P_Tricho) - mu (K_P_non Tricho) Estimate for difference: 14573412

95% lower bound for difference: 380593

(45)

Lampiran 19 Gambar lahan pertanaman pak choy petani bukan pengguna T. harzianum

Lampiran 20 Gambar lahan pertanaman pak choy petani pengguna T.harzianum

(46)

a

Pengendalian berupa komponen biaya penggunaan pestisida dan biaya pengendalian lainnya yang dikeluarkan petani dalam menanggulangi penyakit akar gada.

Brokoli

Petani 1 0.050 - - 330,000.00 1,248,000.00 1,296,000.00 11,496,000.00

Petani 2 0.120 - - 780,000.00 1,370,000.00 480,000.00 4,383,333.33 Petani 3 0.100 - - 396,000.00 812,000.00 2,400,000.00 7,216,000.00 Rata-rata 0.090 - - 502,000.00 1,143,333.33 1,392,000.00 7,698,444.44 Kubis Kol

Petani 4 1.000 2,000,000.00 - 1,800,000.00 20,160,000.00 10,800,000.00 6,952,000.00 Petani 5 1.000 2,000,000.00 - 2,400,000.00 13,140,000.00 10,800,000.00 5,668,000.00 Petani 6 1.000 14,000,000.00 - 1,650,000.00 22,122,000.00 29,160,000.00 13,386,400.00 Petani 7 0.160 - - 600,000.00 1,717,500.00 312,000.00 3,286,875.00 Rata-rata 0.790 4,500,000.00 - 1,612,500.00 14,284,875.00 12,768,000.00 7,323,318.75

Pak Choy

Petani 8 0.030 - - 102,000.00 372,000.00 300,000.00 5,160,000.00

Petani 9 0.040 - - 153,000.00 291,000.00 924,000.00 6,840,000.00

Petani 10 0.050 - - 108,000.00 330,000.00 2,475,000.00 11,652,000.00 Petani 11 0.060 - - 128,000.00 764,000.00 2,496,000.00 11,293,333.33 Petani 12 0.100 - - 102,000.00 525,000.00 1,452,000.00 4,158,000.00 Rata-rata 0.056 - - 118,600.00 456,400.00 1,529,400.00 7,820,666.67

Rata-rata Total 0.309 1,500,000.00 - 712,416.67 5,237,625.00 5,241,250.00 7,624,328.47

b

Untuk luasan 2000 m2.

(47)

36 Brokoli

Petani 1 0.050 500 6,000.00 3 36,000,000.00

Petani 2 0.120 500 3,500.00 4 11,666,666.67

Petani 3 0.100 500 4,500.00 2 9,000,000.00

Rata-rata 0.090 500.00 4,666.67 3 18,888,888.89

Kubis Kol

Petani 4 1.000 40,000 622.22 3 14,933,280.00

Petani 5 1.000 20,806 622.22 3 7,767,358.93

Petani 6 1.000 32,000 1,500.00 3 28,800,000.00

Petani 7 0.160 4,000 1,000.00 3 15,000,000.00

Rata-rata 0.790 24,201.38 936.11 3.00 16,625,159.73

Pak Choy

Petani 8 0.030 800 1,562.50 6 50,000,000.00

Petani 9 0.040 1,200 1,000.00 6 36,000,000.00

Petani 10 0.050 700 1,562.50 6 26,250,000.00

Petani 11 0.060 1,542 1,500.00 4 30,840,000.00

Petani 12 0.100 1,522 1,562.50 3 14,272,125.00

Rata-rata 0.056 1,152.87 1,437.50 5.00 31,472,425.00

Rata-rata Total 0.309 8,672.49 2,077.66 23,377,452.55

a

Untuk luasan 2000 m2.

 

(48)

37 Brokoli

Petani 1 0.900 900,000.00 - 600,000.00 5,525,666.67 3,070,000.00 2,243,481.48

Petani 2 0.050 50,000.00 - 65,000.00 200,000.00 - 1,260,000.00

Petani 3 0.050 - - 390,000.00 1,125,000.00 - 6,060,000.00

Petani 4 0.100 600,000.00 - 495,000.00 513,000.00 1,327,500.00 5,871,000.00 Petani 5 0.200 150,000.00 - 378,000.00 2,142,000.00 - 2,670,000.00 Petani 6 0.200 2,500,000.00 - 513,000.00 1,372,500.00 - 4,385,500.00 Petani 7 0.200 - - 660,000.00 1,887,000.00 1,470,000.00 4,017,000.00 Petani 8 0.500 500,000.00 - 1,650,000.00 3,141,000.00 3,240,000.00 3,412,400.00 Petani 9 0.025 125,000.00 - 390,000.00 2,040,000.00 - 20,440,000.00

Petani 10 0.080 - - 390,000.00 1,287,000.00 - 4,192,500.00

Petani 11 0.100 100,000.00 - 567,000.00 3,375,000.00 1,680,000.00 11,444,000.00 Petani 12 0.120 2,000,000.00 - 585,000.00 2,313,000.00 1,890,000.00 11,313,333.33 Petani 13 0.150 - - 585,000.00 750,000.00 1,260,000.00 3,460,000.00 Petani 14 0.200 - - 1,296,000.00 12,501,000.00 4,860,000.00 18,657,000.00 Petani 15 0.300 500,000.00 - 1,820,000.00 6,860,000.00 16,320,000.00 17,000,000.00

Petani 16 0.300 - - 975,000.00 4,128,000.00 - 3,402,000.00

Petani 17 0.500 250,000.00 - 1,040,000.00 5,184,000.00 980,000.00 2,981,600.00

Rata-rata 0.234 451,470.59 - 729,352.94 3,196,715.69 2,123,382.35 7,224,106.75 Kubis Kol

Petani 18 0.060 - - 110,000.00 483,000.00 280,000.00 2,910,000.00

(49)

38 Petani 23 0.300 200,000.00 - 110,000.00 1,045,000.00 380,000.00 1,156,666.67

Petani 24 0.120 - - 315,000.00 2,307,000.00 1,110,000.00 6,220,000.00 Rata-rata 0.139 39,285.71 - 220,428.57 1,710,000.00 1,169,428.57 5,534,509.52

Pak Choy

Petani 25 0.050 - - 144,000.00 336,000.00 - 1,920,000.00

Petani 26 0.100 - - 270,000.00 1,430,000.00 3,750,000.00 10,900,000.00

Petani 27 0.030 - - 24,000.00 99,000.00 - 820,000.00

Petani 28 0.070 - - 144,000.00 645,000.00 480,000.00 3,625,714.29

Petani 29 0.075 - - 120,000.00 120,000.00 525,000.00 2,040,000.00

Petani 30 0.090 - 1,400,000.00 270,000.00 540,000.00 1,680,000.00 8,644,444.44 Rata-rata 0.069 233,333.33 162,000.00 528,333.33 1,072,500.00 4,658,359.79 Rata-rata Total 0.179 265,000.00 46,666.67 497,133.33 2,316,138.89 1,690,616.67 6,316,718.01 a

Pengendalian berupa komponen biaya penggunaan pestisida dan biaya pengendalian lainnya yang dikeluarkan petani dalam menanggulangi penyakit akar gada.

   

b

Untuk luasan 2000 m2.

(50)

Brokoli

Petani 1 0.900 3,000.00 4,000.00 2 5,333,333.33

Petani 2 0.050 50.00 3,950.00 1 790,000.00

Petani 3 0.050 282.05 3,950.00 3 13,369,170.00

Petani 4 0.100 230.77 3,950.00 3 5,469,249.00

Petani 5 0.200 230.77 3,950.00 3 2,734,624.50

Petani 6 0.200 346.15 3,950.00 3 4,101,877.50

Petani 7 0.200 923.08 3,950.00 3 10,938,498.00

Petani 8 0.500 2,000.00 3,000.00 3 7,200,000.00

Petani 9 0.025 300.00 3,500.00 3 25,200,000.00

Petani 10 0.080 600.00 2,000.00 3 9,000,000.00

Petani 11 0.100 584.64 3,950.00 3 13,855,968.00

Petani 12 0.120 1,000.00 3,500.00 3 17,500,000.00

Petani 13 0.150 300.00 3,950.00 3 4,740,000.00

Petani 14 0.200 1,200.00 3,950.00 3 14,220,000.00

Petani 15 0.300 1,750.00 5,000.00 4 23,333,333.33

Petani 16 0.300 1,000.00 6,000.00 3 12,000,000.00

Petani 17 0.500 831.49 3,950.00 2 2,627,508.40

Rata-rata 0.234 860.53 3,911.76 2.82 10,141,974.24

Kubis Kol

Petani 18 0.060 1,500.00 1,000.00 2 10,000,000.00

Petani 19 0.080 2,000.00 150.00 3 2,250,000.00

Petani 20 0.080 2,000.00 150.00 3 2,250,000.00

Petani 21 0.250 5,350.00 622.22 2 5,326,203.20

(51)

40

Petani 23 0.300 10,000.00 500.00 1 3,333,333.33

Petani 24 0.120 4,000.00 200.00 3 4,000,000.00

Rata-rata 0.139 3,978.57 474.60 2.43 6,129,933.79

Pak Choy

Petani 25 0.050 450.00 1,562.50 6 16,875,000.00

Petani 26 0.100 800.00 600.00 5 4,800,000.00

Petani 27 0.030 150.00 1,562.50 3 4,687,500.00

Petani 28 0.070 450.00 1,562.50 6 12,053,571.43

Petani 29 0.075 400.00 1,200.00 5 6,400,000.00

Petani 30 0.090 1,805.00 1,562.50 6 37,604,166.67

Rata-rata 0.069 675.83 1,341.67 5.17 13,736,706.35

Rata-rata Total 0.179 1,551.13 2,595.74 9,924,777.89

a

(52)

NILAI EKONOMI PENGGUNAAN Trichoderma harzianum DALAM PENGELOLAAN 

an tersebut dilaksanakan?  

11. )*  

n PHT? 

I. PRAKTEK BUDIDAYA  Pembibitan  

1. Jenis tanaman kubis

Sumber be 10. ti pelatihan Trichoderma ? (Pernah/Belum pernah)* 

Jika “Pernah”, kapan pelatih

Siapa orang atau instansi yang melaksanakan pelatihan tersebut?  Sudahkah mempraktekkan metode PHT ? (Sudah/Belum

Kapan mulai mempraktekkannya? 

12. Alasan utama melaksanakan PHT atau belum mempraktekka

  Berapa biaya yang dikeluarkan untuk membeli

Jumlah benih yang ditanam:        tanaman/ha 

(53)

Sistem  6. penanaman di lahan (monokultur/tumpangsari)* 

Ji tumpangsari,  tan 4. Berapa biaya yang dikeluarkan untuk irigasi? 

gendali

Persen  di lahan: ...%  Penggunaan

• Apakah kar gada? (Ya/Tidak)* 

Sejak kapan menggunakan Trichoderma?  a kali menggunakannya? 

• Berapa

apatkan Trichoderma tersebut? 

[A] ian/petani)*  

1.  tingkat serangan penyakit akar gada 2.  Trichoderma 

 menggunakan Trichoderma dalam pengendalian a

• Sudah berap

 persen tingkat penekanan oleh Trichoderma? 

• Dimana mend

   Membeli (perusahaan/toko pertan

(54)

 pakai? 

Berapa biaya yang dikeluarkan untuk produksi hingga siap Apakah Tricho tersebut diperjualbelikan? (Ya/T

Berapa pendapatan yang dihasilkan per bulannya?  Berapa kali penggunaannya dalam satu musim tanam?  Dosisnya berapa? 

 

gendalian fisik‐mekanik  (Ya/Tidak)* 

Cara Pengendalian   OPT sasaran 

     

     

     

4.

)* 

Pengendalian  hayati:  penggunaan  musuh  alami  dan/atau  pestisida  nabati  (Ya/Tidak

7. Biaya yang dikeluarkan?   

III.PRODUKSI DAN PEMASARAN 

1.  jumlah panen  ng dihasilkan? ____________ ___ per ha  Jumlah

 panen yang dikonsumsi: _______________ kg 

4. mlah hasil panen yang diberikan ke pemilik lahan atau bagi hasil: ___________ kg  5. Berapa jumlah produksi tahun/musim lalu? _________________ per ha 

Berapa ya _

2.  hasil panen yang dijual: _________ , dengan harga Rp _________per ____  3. Jumlah hasil

(55)

Bagaimana gkan dengan petani lain?   (selalu berbeda/bervariasi/sama)* 

7. Dalam an? (tinggi/rendah/umum)* 

IV.TEN taan dalam pelatihan/training/workshop? (Pernah/Tidak pernah)* 

g pernah diterima! 

 

aan tenaga penyuluh pertanian: seberapa sering penyuluh memberikan 

 Penyuluh Pertanian: ... km  6.  kestabilan panen tersebut dibandin

 2 tahun terakhir, tingkat produksi tanam 8. Jarak dari pasar terdekat: ______________ km 

9. Prospek masa depan: apakah punya rencana menambah lahan usaha? (Ya/Tidak)*   Berapa luas?       (ha/m2)* 

Alasan menambah/tidak menambah luas lahan? 

 

 modal usaha diperoleh? (keluarg [Ket: Peminjaman meliputi teman, kop . Khusus untuk peminjaman modal: bera

 

Cara pembayaran? 

VI.ASPEK SOSIAL 

1. Keikutsertaan dalam organisasi formal dan non‐formal tani: HKTI, SPI, Kelompok tani, dll? 

2. Keaktifan dalam kegiatan organisasi tersebut? (aktif/kadang‐kadang/tidak akti 3. Keikutser

Sebutkan materi yan

(56)

(Plasmodiophora brassicae Wor.) PADA SAYURAN

KUBIS-KUBISAN DI DAERAH PUNCAK, CIANJUR

SANDY SETIAWAN

DEPARTEMEN PROTEKSI TANAMAN

FAKULTAS PERTANIAN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

BOGOR

2011

(57)

SANDY SETIAWAN. Nilai Ekonomi Penggunaan Trichoderma harzianum dalam Pengelolaan Penyakit Akar Gada (Plasmodiophora brassicae Wor.) pada Sayuran Kubis-Kubisan di Daerah Puncak, Cianjur. Dibimbing oleh ALI NURMANSYAH dan AUNU RAUF.

Penyakit akar gada merupakan salah satu penyakit penting pada tanaman kubis-kubisan yang disebabkan oleh cendawan Plasmodiophora brassicae Wor. Cendawan tersebut merupakan patogen tular tanah dan dapat bertahan sangat lama di dalam tanah meskipun tidak terdapat tumbuhan inang di sekitar tanah terinfestasi. Berbagai upaya pengendalian telah banyak dilaporkan untuk mengurangi serangan P. brassicae, salah satunya ialah dengan memanfaatkan mikroorganisme antagonis T. harzianum. Penelitian bertujuan untuk mengetahui nilai ekonomi dari penggunaan T. harzianum dalam mengendalikan penyakit akar gada (P. brassicae Wor.) pada petani kubis-kubisan di daerah Puncak, Cianjur. Metode yang dilakukan ialah dengan wawancara langsung menggunakan daftar pertanyaan terstruktur terhadap petani brokoli, kubis kol, dan pak choy di dua kecamatan Kabupaten Cianjur, yaitu Kecamatan Cipanas (Desa Cimacan dan Sindang Jaya) dan Kecamatan Pacet (Desa Cipendawa dan Sukatani). Responden berjumlah 42 orang petani, terdiri atas 12 orang petani pengguna T. harzianum (petani Trichoderma) dan 30 orang petani bukan pengguna T. harzianum (petani non-Trichoderma). Tingkat serangan penyakit akar gada pertanaman kubis-kubisan yang dikelola oleh petani menunjukkan bahwa petani Trichoderma lebih rendah dibandingkan dengan petani non-Trichoderma. Berdasarkan data hasil panen, penerimaan, dan keuntungan yang diperoleh, petani Trichoderma lebih tinggi dibandingkan dengan petani non-Trichoderma. Analisis ekonomi rata-rata total nisbah manfaat-biaya (B/C ratio) menunjukkan bahwa petani Trichoderma memperoleh nilai lebih tinggi (2.39) dibandingkan dengan petani non-Trichoderma (1.11). Ini membuktikan bahwa penggunaan T. harzianum di pertanaman kubis-kubisan mempunyai manfaat yang besar untuk mengurangi tingkat serangan penyakit akar gada, serta meningkatkan hasil panen dan ekonomi petani sayuran kubis-kubisan.

Gambar

Gambar 1  Sebaran tingkat pendidikan petani sayuran kubis-kubisan daerah Puncak,
Tabel 1 Rata-rata dan simpangan baku luas lahan yang diusahakan petani sayuran
Tabel 5 Rata-rata dan simpangan baku penerimaan, biaya produksi, dan keuntungan
Tabel 6  Rata-rata dan simpangan baku nilai nisbah manfaat-biaya usahatani tanaman
+7

Referensi

Dokumen terkait