ABSTRAK
NISSA FAWWAZ ADILAH. Ketahanan Enam Genotipe Cabai (Capsicum spp.) terhadap Begomovirus dan Pengaruhnya terhadap Perkembangan Vektor Kutukebul Bemisia tabaci Genn. (Hemiptera: Aleyrodidae). Dibimbing oleh SRI HENDRASTUTI HIDAYAT.
Sejak musim tanam 2003 telah dilaporkan peningkatan kejadian penyakit daun keriting kuning cabai di sebagian besar sentra penanaman cabai di Indonesia, terutama di Jawa Tengah. Penyakit yang disebabkan oleh Begomovirus tersebut ditularkan oleh serangga vektor yaitu kutukebul Bemisia tabaci (Gennadius) (Hemiptera: Aleyrodidae). Tujuan penelitian ini adalah untuk melakukan evaluasi ketahanan enam genotipe tanaman cabai [Meteor, Rimbun, Tornado, F1(12X14), IPBC12, dan 35C2] terhadap infeksi Begomovirus. Evaluasi juga dilakukan untuk mempelajari perkembangan serangga vektor kutukebul pada keenam genotipe tersebut. Evaluasi ketahanan dilakukan melalui penularan Begomovirus menggunakan serangga vektor kutukebul Bemisia tabaci. Pengamatan meliputi jenis gejala, periode inkubasi, kejadian penyakit, dan keparahan penyakit. Deteksi virus pada tanaman yang diinokulasi dilakukan menggunakan metode Polymerase Chain Reaction (PCR). Pengujian perkembangan kutukebul pada enam genotipe cabai dilakukan dengan pemeliharaan kutukebul pada masing-masing tanaman uji. Analisis dilakukan terhadap jumlah telur, nimfa, pupa, dan imago, serta menghitung persentase keberhasilan perkembangan kutukebul pada tiap stadia. Hasil evaluasi ketahanan enam genotipe cabai terhadap infeksi Begomovirus menunjukkan bahwa genotipe IPBC12 dapat dikelompokkan menjadi genotipe tahan dengan keparahan berkisar antara 0 – 9,17 %, dan gejala yang ringan. Lima genotipe lainnya yaitu Rimbun, Meteor, Tornado, F1(12X14), dan 35C2 dikelompokkan menjadi genotipe rentan dengan keparahan penyakit lebih dari 20%, dan gejala yang berat. Respon ketahanan genotipe IPBC12 dapat dihubungkan dengan perkembangan kutukebul pada genotipe tersebut. Jumlah telur kutukebul dan persentase keberhasilannya menjadi imago pada IPBC12 relatif lebih rendah dibandingkan lima genotipe lainnya.
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Cabai (Capsicum spp.) merupakan salah satu komoditas hortikultura yang cukup penting di Indonesia. Cabai memiliki kandungan gizi yang cukup tinggi, dan banyak digunakan sebagai bumbu masak, bahan baku industri makanan, minuman dan obat-obatan. Pada tahun 2008 produksi cabai mencapai 1,311 juta ton, terdiri dari jenis cabai merah besar 798,32 ribu ton dan cabai rawit 512,67 ribu ton. Daerah sentra produksi utama cabai besar dan cabai rawit tersebar di beberapa kota di wilayah Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur (Direktorat Jenderal Hortikultura 2008).
Organisme pengganggu tanaman (OPT) menjadi salah satu masalah dalam pertanaman cabai. Beberapa hama yang biasa menyerang tanaman cabai diantaranya thrips (Thrips parvispinus, Thysanoptera: Thripidae), tungau merah (Tetranichus bimaculatus, Acarina: Tetranychidae), kutu daun (Myzus persicae, Hemiptera: Aphididae), dan kutukebul (Bemisia tabaci, Hemiptera: Aleyrodidae), sedangkan penyakit pada cabai dapat disebabkan oleh bakteri (layu bakteri oleh Ralstonia solanacearum), cendawan (antraknosa oleh Colletothricum capsici), dan juga virus (penyakit kuning oleh Begomovirus). Menurut Pandey et al. (2009), Tomato yellow leaf curl virus merupakan salah satu penyakit dari genus Begomovirus yang membahayakan pertanaman dari Famili Solanaceae di wilayah Tropis dan Subtropis di dunia termasuk diantaranya tanaman cabai.
Sejak musim tanam 2003 telah dilaporkan peningkatan kejadian penyakit daun keriting kuning cabai di sebagian besar sentra penanaman cabai di Indonesia, terutama di Jawa Tengah. Hasil pengamatan di beberapa daerah tersebut menunjukkan bahwa luas serangan sudah mencapai 100% dengan intensitas serangan yang cukup tinggi (Hidayat dan Sujiprihati 2007). Penyakit yang disebabkan oleh Begomovirus ini ditularkan oleh serangga vektor yaitu kutukebul yang populasinya sangat melimpah saat musim kemarau yang sangat panjang (Sulandari et al. 2006). Sulandari et al. (2001) melaporkan terjadinya peningkatan intensitas serangan Begomovirus pada cabai rawit dan cabai besar di daerah Sleman, Bantul, Kulon Progo, dan Gunung Kidul, yaitu mencapai 50-100%.
Gejala utama yang ditimbulkan berupa pemucatan tulang daun yang kemudian berkembang menjadi warna kuning yang sangat jelas, penebalan tulang daun, dan penggulungan daun. Infeksi lanjut dari Begomovirus menyebabkan daun-daun mengecil dan berwarna kuning terang, serta tanaman menjadi kerdil (Sulandari et al. 2006).
Begomovirus merupakan salah satu genus dalam famili Geminiviridae yang mempunyai anggota paling banyak dan menginfeksi banyak tanaman dibandingkan 3 genus lainnya, yaitu Mastrevirus, Curtovirus, dan Topocuvirus (ICTV 2009). Begomovirus banyak menimbulkan kerusakan pada berbagai tanaman termasuk diantaranya adalah cabai.
Penularan atau pemencaran Begomovirus dibantu oleh serangga vektor yaitu kutukebul Bemisia tabaci (Gennadius) (Hemiptera: Aleyrodidae). Semakin tinggi populasi kutukebul menyebabkan semakin tinggi pula penyebaran Begomovirus. Kutukebul dapat menularkan virus secara persisten, yaitu sekali makan pada tanaman yang mengandung virus, maka virus akan selalu ada dalam tubuh serangga selama hidupnya, virus bahkan masih tetap dapat ditularkan setelah vektor ganti kulit (Akin 2006). Jumlah kutukebul pada saat penularan mempengaruhi tingginya kejadian penyakit dan masa inkubasi virus (Mehta et al. 1994). Kepadatan populasi kutukebul pada suatu pertanaman bergantung pada kemampuan imago dalam peletakan telur dan juga aktifitas makan. Peletakan telur dan aktifitas makan dipengaruhi oleh karakteristik dan morfologi daun seperti bentuk daun, warna daun, trikoma pada daun, dan senyawa-senyawa kimia yang dihasilkan dari proses metabolisme sekunder (Schoonhoven et al. 2005). Selain itu, jumlah, panjang, dan tipe trikoma pada daun dapat mempengaruhi kepadatan populasi kutukebul pada tanaman (Hendrival 2010).
Untuk menghindari terjadinya penurunan produksi akibat serangan Begomovirus, perlu dilakukan pengendalian terhadap penyakit keriting. Pengendalian penyakit ini bukan ditujukan untuk menyembuhkan tanaman yang terinfeksi, namun lebih mengutamakan kepada pengelolaan ekosistem yang dapat mencegah dan mengurangi terjadinya infeksi virus pada tanaman lainnya, atau dengan kata lain mencegah penyebaran penyakit ke tanaman yang belum terinfeksi. Selain itu, tindakan sebelum tanam (preventif) juga dapat dilakukan
3 untuk mencegah terjadinya serangan Begomovirus pada fase awal pertumbuhan tanaman.
Upaya pengendalian secara preventif dapat dilakukan dengan menggunakan varietas tahan karena varietas tahan dapat menekan serangan virus. Sanitasi lingkungan dengan membersihkan lahan dari gulma yang merupakan inang alternatif kutukebul, dan juga membersihkan lahan dari tanaman yang menunjukkan gejala Begomovirus merupakan tindakan penting untuk mengurangi sumber inokulum (Swanson dan Harrison 1993). Pengendalian hama terpadu dengan upaya pemanfaatan musuh alami seperti Menochilus sexmaculatus (Coleoptera: Coccinelidae), atau cendawan entomopatogen Beauveria bassiana dapat menekan populasi serangga vektor (Duriat 2009). Rotasi atau pergiliran tanaman dengan tanaman bukan inang virus (terutama bukan dari famili Solanaceae seperti tomat, cabai, kentang, tembakau, dan famili Leguminosae seperti kacang hijau) dapat mengurangi sumber inokulum (Holt et al. 1999). Rotasi tanaman tersebut akan lebih berhasil apabila dilakukan paling sedikit dalam satu hamparan,dan dilakukan serentak tiap satu musim tanam serta dilakukan pada lahan seluas mungkin (Setiadi 2008).
Penggunaan varietas tahan merupakan salah satu strategi pengendalian yang disarankan. Pembentukan varietas cabai tahan Begomovirus memerlukan program pemuliaan tanaman yang antara lain diawali dengan pengujian ketahanan beberapa genotipe cabai. Ganefianti (2010) telah melakukan uji ketahanan beberapa galur cabai terhadap infeksi Begomovirus dan mendapatkan beberapa genotipe potensial tahan Begomovirus diantaranya IPBC12. Galur-galur potensial tersebut perlu dievaluasi lebih lanjut. Apabila hasil evaluasi ketahanan sesuai dengan uji ketahanan sebelumnya, maka galur tersebut dapat digunakan dalam perakitan varietas tahan. Varietas tahan yang berhasil dikembangkan selanjutnya dapat disebarluaskan ke petani.
Tujuan Penelitian
Melakukan evaluasi ketahanan enam genotipe tanaman cabai [Meteor, Rimbun, Tornado, F1(12X14), IPBC12, dan 35C2] terhadap infeksi Begomovirus. Evaluasi juga dilakukan untuk mempelajari perkembangan serangga vektor kutukebul pada enam genotipe cabai tersebut.
Manfaat Penelitian
Melalui penelitian ini akan diketahui respon genotipe cabai terhadap infeksi Begomovirus dan kemampuannya dalam mendukung perkembangan serangga kutukebul. Genotipe yang memperlihatkan respon ketahanan dapat digunakan sebagai bahan tetua (plasma nutfah) dalam perakitan varietas tahan.
5 TINJAUAN PUSTAKA
Taksonomi Begomovirus
Famili Geminiviridae dapat dibedakan menjadi empat genus berdasarkan struktur genom, jenis serangga vektor dan jenis tanaman inang yaitu Mastrevirus, Curtovirus, Topocuvirus, dan Begomovirus (Valverde et al. 2003). Genus Mastrevirus memiliki genom berukuran 2,6-2,8 kb, ditularkan oleh wereng hijau (leafhopper) ke tanaman monokotil, salah satu anggota dari genus itu adalah Maize streak virus. Genus Curtovirus merupakan virus dengan genom berukuran 2,9-3,0 kb, ditularkan juga oleh wereng hijau (leafhopper) ke tanaman dikotil, dengan contoh spesies Beet curly top virus. Genus Topocuvirus mempunyai ukuran genom yang sama dengan Curtovirus, namun virus ini ditularkan oleh wereng pohon (treehopper) ke tanaman dikotil, anggota genus ini hanya satu yaitu Tomato pseudo-curly top virus. Genus Begomovirus mempunyai genom berukuran 2,5-2,9 kb, menyerang tanaman dikotil dan ditularkan oleh kutukebul (whitefly, Bemisia tabaci Genn.), dengan contoh spesies yaitu Bean golden yellow mosaic virus (pada awalnya Bean golden mosaic virus – Puerto Rico) (Fauquet et al. 2003). Begomovirus mempunyai spesies yang paling banyak dibandingkan 3 genus yang lainnya. Berdasarkan data ICTV tahun 2009 anggota Begomovirus, Curtovirus, Mastrevirus, dan Topocuvirus berturut-turut adalah 196, 7, 14 dan 1 spesies.
Kisaran Inang Begomovirus
Begomovirus banyak menimbulkan kerusakan dan kehilangan hasil pada berbagai tanaman yang dibudidayakan termasuk diantaranya cabai, tomat, singkong, dan kapas di daerah tropik maupun subtropik di dunia (Rusli et al. 1999; Xie et al. 2010). Selain itu, Begomovirus juga ditemukan pada tanaman gulma spesies Ageratum conyzoides (Swanson dan Harrison 1993). Mansour dan AL-Musa (1992) melaporkan beberapa tanaman yang menjadi inang Begomovirus diantaranya tomat (Lycopersicon esculentum), Datura stramonium, Nicotiana glutinosa, dan N. tabacum. Sulandari et al. (2006) melaporkan bahwa tanaman dari famili Solanaceae, Compositae, dan beberapa dari famili Leguminosae merupakan inang Begomovirus.
Berbagai Begomovirus telah dilaporkan di beberapa wilayah di berbagai negara. Diantaranya yaitu Sweet potato leaf curl virus (SPLCV) menginfeksi tanaman ubi di Mexico (Valverde et al. 2003), Bean golden yellow mosaic virus (pada awalnya Bean golden mosaic virus) meninfeksi tanaman buncis di Puerto Rico (Fauquet et al. 2003), Tomato golden mosaic virus (TGMV) menginfeksi tanaman tomat di Brazil (Green dan Kalloo 2004).
Gejala Penyakit yang Disebabkan oleh Begomovirus
Gejala yang timbul karena infeksi Begomovirus sangat bervariasi, tergantung pada strain virus dan spesies tanaman inangnya. Gejala umum yang ditimbulkan berhubungan dengan kerusakan daun seperti mengeriting, berkerut-kerut, menguning, dan pola mosaik serta kerdil. Infeksi Begomovirus pada tanaman yang masih muda pada umumnya menyebabkan pertumbuhan tanaman terhambat, daun menjadi melengkung dan berkerut-kerut dengan ukuran yang lebih kecil dari ukuran normal (Pacheco et al. 1996).
Infeksi Begomovirus pada tanaman cabai umumnya menimbulkan gejala berupa pemucatan tulang daun yang kemudian berkembang menjadi warna kuning yang sangat jelas, penebalan tulang daun, dan penggulungan daun. Infeksi lanjut dari Begomovirus menyebabkan daun-daun mengecil dan berwarna kuning terang, serta tanaman menjadi kerdil. Di lapangan, gejala yang ditimbulkan pada pertanaman cabai menunjukkan gejala yang beragam. Keragaman gejala tersebut dapat dibedakan atas: a) keseluruhan daun berwarna kuning, b) daun mengalami belang berwarna kuning dan hijau, c) daun berwarna kuning dengan tepi daun melengkung ke atas (cupping) atau keriting, d) tanaman mengalami kekerdilan dengan daun belang berwarna kuning dan hijau. Penyebaran gejala tersebut di lapangan dapat bersifat sporadis atau merata (Sulandari et al. 2006; Rusli et al. 1999).
7 Penularan Begomovirus
Penularan dan pemencaran virus di lapangan sangat ditentukan oleh serangga vektor. Menurut Rusli et al. (1999) Begomovirus asal cabai tidak dapat ditularkan secara mekanis melalui cairan perasan daun tanaman sakit, tetapi dapat dilakukan penularan dengan serangga vektor B. tabaci dan penyambungan samping. Efisiensi penularan dengan serangga vektor lebih tinggi dibanding penyambungan, sehingga pada penelitian yang berkaitan dengan infeksi Begomovirus, metode penularan dengan menggunakan serangga vektor yang sering digunakan (Ganefianti 2010).
Dalam hubungan antar tumbuhan, virus, dengan vektor terutama dari golongan serangga dikenal beberapa istilah umum yaitu periode makan akuisisi, periode makan inokulasi, periode laten, dan persistensi. Periode makan akuisisi adalah periode yang diperlukan serangga untuk memperoleh cairan sel tumbuhan. Periode makan inokulasi adalah periode yang diperlukan serangga untuk mengisap cairan sel dan memindahkan virus ke tanaman sehat. Periode laten yaitu periode setelah makan akuisisi selesai sampai serangga mampu menularkan virus ke tumbuhan sehat. Persistensi yaitu periode yang diperlukan serangga untuk tetap infektif menularkan virus setelah meninggalkan sumber virus, yang dibagi menjadi tiga kategori yaitu non persisten, semi persisten, dan persisten (Wahyuni 2005).
Begomovirus merupakan virus yang ditularkan secara persisten atau sirkulatif. Virus tetap bertahan dalam tubuh vektor sedikitnya selama satu minggu, bahkan dapat menularkan virus selama hidup vektor (Akin 2006). Menurut penelitian Mehta et al. (1994)periode makan akuisisi (pma) dan periode makan inokulasi (pmi) minimal bagi B. tabaci masing-masingadalah 15 menit.
Serangga Vektor Begomovirus: Bemisia tabaci Genn. (Hemiptera: Aleyrodidae)
Kutukebul atau B. tabaci digolongkan ke dalam ordo Hemiptera, subordo Sternorrhyncha, family Aleyrodidae (Borror 1996). Umumnya serangga tersebar di daerah tropik dan subtropik, bersifat polifag, dan diketahui sebagai vektor virus yang dapat menyebabkan penyakit pada tanaman (Kalshoven 1981).
Siklus hidup B. tabaci terdiri dari telur, nimfa, pupa dan imago. Telur berbentuk bulat panjang dengan tangkai yang pendek pada salah satu ujungnya, berwarna kekuningan dan biasanya tertutup lilin, serta menjadi berwarna coklat setelah 24 jam. Masa inkubasi telur bergantung pada keadaan lingkungan, yaitu sekitar 4-5 hari. Nimfa instar satu berbentuk bulat panjang, berwarna hijau cerah, dan aktif bergerak. Nimfa instar dua berwarna hijau gelap dengan antena sangat pendek dan tungkai yang tereduksi. Nimfa instar tiga mirip dengan instar 2 hanya dengan ukuran yang sedikit lebih besar, nimfa instar 2 dan instar 3 tidak aktif bergerak. Stadia nimfa secara keseluruhan berlangsung selama 12-15 hari. Pupanya berbentuk bulat panjang, di bagian toraks agak melebar, cembung, dan abdomen tampak jelas. Lama stadium pupa adalah 2-4 hari. Imago berwarna kuning dengan sayap tertutup oleh tepung berwarna putih, ukuran serangga betina bisanya berukuran lebih besar dari pada serangga jantan. Lama hidup imago berkisar 6 hari (Kalshoven 1981; Gameel 1977).
B. tabaci merupakan serangga hama yang dapat secara langsung menyebabkan kerusakan pada tanaman dan secara tidak langsung merupakan vektor tanaman (Brown 1994). Menurut Berlinger (1986) ada tiga bentuk kerusakan yang disebabkan oleh B. tabaci. Pertama adalah kerusakan langsung, yaitu kerusakan yang disebabkan oleh bekas tusukan stiletnya. Akibatnya tanaman akan menjadi lemah dan layu, menurunkan pertumbuhan tanaman, dan hasil. Kedua adalah kerusakan tidak langsung, yaitu disebabkan akumulasi embun madu yang dihasilkan oleh kutukebul. Embun madu merupakan substrat untuk pertumbuhan cendawan embun jelaga pada daun dan buah. Akibatnya dapat menurunkan efisiensi fotosintesis dan menurunkan mutu buah yang akan dijual. Ketiga adalah kerusakan karena kutukebul dapat menularkan virus tanaman, sehingga populasi kutukebul yang sedikit sudah dapat menimbulkan kerusakan pada tanaman.
Pengendalian Penyakit oleh Begomovirus
Duriat (2009) menyatakan bahwa inti pengendalian penyakit kuning keriting pada tanaman cabai adalah upaya terpadu untuk menghalangi terjadinya infeksi terutama pada waktu tanaman masih muda atau yang dikenal dengan istilah pengendalian secara preventif.
9 Upaya pengendalian secara preventif dilakukan dengan sanitasi lingkungan yaitu membersihkan lahan dari gulma yang merupakan inang alternatif kutukebul, dan juga membersihkan lahan dari tanaman yang menunjukkan gejala Begomovirus merupakan tindakan penting untuk mengurangi sumber inokulum (Swanson dan Harrison 1993). Pengendalian hama terpadu dengan upaya pemanfaatan musuh alami seperti Menochilus sexmaculatus dan Coccinella transfertalis (Coleoptera: Coccinelidae), atau cendawan entomopatogen Beauveria bassiana dapat menekan populasi serangga vektor. Menginduksi ketahanan tanaman cabai dengan Vir-001 (ekstrak bunga pukul empat konsentrasi 50%) atau Vir-002 (bayam duri konsentrasi 25%) pada semaian cabai berdaun sejati 3-4 lembar dapat meningkatkan ketahanan tanaman dari serangan virus (Duriat 2009). Rotasi atau pergiliran tanaman dengan tanaman bukan inang virus (terutama bukan dari famili solanaceae seperti tomat, cabai, kentang, dan tembakau) dapat mengurangi sumber inokulum (Holt et al. 1999). Rotasi tanaman tersebut akan lebih berhasil apabila dilakukan paling sedikit dalam satu hamparan, dan dilakukan serentak tiap satu musim tanam serta dilakukan pada lahan seluas mungkin (Setiadi 2008).
Penggunaan varietas tahan digunakan sebagai salah satu bentuk pengendalian preventif karena varietas tahan dapat menekan serangan virus. Tanaman memiliki respon ketahanan yang berbeda terhadap serangan virus, salah satu penyebab pebedaan tersebut adalah adanya ketahanan dari dalam tubuh tumbuhan tersebut. Menurut Agrios (1996) secara umum terdapat dua jenis mekanisme ketahanan yang dimiliki oleh tumbuhan, yaitu ketahanan struktural dan ketahanan biokimia. Ketahanan struktural yaitu sifat-sifat struktural yang berfungsi sebagai penghalang fisik dan menghambat patogen mendapatkan peluang masuk dan menyebar di dalam tumbuhan. Struktur-struktur tersebut meliputi antara lain jumlah dan kualitas lilin serta kutikula yang menutupi sel epidermis, struktur dinding sel epidermis, ukuran, letak, dan bentuk stomata dan lentisel, kerapatan trikoma, dan jaringan dinding sel yang tebal yang menghambat gerak maju patogen. Ketebalan dan kekuatan dinding bagian luar sel-sel epidermis merupakan faktor penting dalam ketahanan beberapa jenis tanaman terhadap
beberapa patogen tertentu. Sel-sel epidermis yang berdinding kuat dan tebal akan membuat penetrasi secara langsung mengalami kesulitan (Agrios 1996).
Ketahanan biokimia merupakan reaksi-reaksi biokimia yang terjadi di dalam sel dan jaringan tumbuhan yang menghasilkan zat beracun bagi patogen atau menciptakan kondisi yang menghambat pertumbuhan patogen pada tumbuhan tersebut (Agrios 1996). Perubahan biokimia dapat terjadi antara lain melalui sintesis dan akumulasi asam salisilat (Wobbe dan Klessig 1996) atau fitoaleksin (Beynon 1997), yaitu senyawa hasil metabolit sekunder yang toksik bagi virus, bakteri, maupun cendawan yang menyerupai asam lemak (Lowton et al 1992), dan dikeluarkannya elisitor berupa oligosakarida oleh tanaman (Nothnagel et al 1983). Senyawa-senyawa ini dapat melindungi tanaman secara menyeluruh terhadap serangan patogen namun dapat juga menekan perkembangan patogen sehingga tidak menurunkan produksi. Mekanisme yang lain adalah tidak adanya faktor pengenal pada tanaman yang dapat digunakan patogen untuk menentukan inang yang sesuai. Tanaman ini juga dapat mempertahankan diri dengan tidak memproduksi senyawa metabolit yang diperlukan oleh patogen sehingga patogen tidak berkembang.
Varietas Tahan Begomovirus
Tanaman yang tahan terhadap virus adalah tanaman yang mampu menghambat replikasi dan penyebaran virus di dalam tanaman. Ketahanan ini dapat diwujudkan sebagai kemampuan tanaman untuk membatasi perkembangan virus tertentu sehingga virus tersebut tidak menyebar ke sel-sel lainnya (Greenleaf 1986).
Varietas tahan Begomovirus telah ditemukan pada tanaman tomat dan buncis. Tomat varietas komersial pertama yang tahan adalah “TY20” (Rom et al. 1993). Saat ini tomat galur H24 telah dirilis sebagai varietas tahan yang komersial karena memperlihatkan ketahanan yang sangat baik terhadap strain TYLCV dari Taiwan dan India selatan (Hanson et al. 2000). Pada tanaman buncis, persilangan dilakukan terhadap Ras Mesoamerika dengan landraces Porillo Sintetico dan Turrialba I yang menghasilkan ketahanan terhadap infeksi BGYMV. Selain itu terdapat galur yang memiliki ketahanan tinggi yaitu A429 (Singh et al. 2000).
11 Galur ini mengekspresikan gejala yang lemah, tetapi karakter agronominya tidak komersial.
Pada tanaman cabai belum banyak informasi mengenai galur yang tahan terhadap Begomovirus. Percobaan yang dilakukan Ganefianti (2010) dengan menggunakan 27 genotipe cabai menunjukkan bahwa IPBC12 tahan terhadap Begomovirus dengan keparahan penyakit kurang dari 5%.
BAHAN DAN METODE
Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian dilakukan di rumah kaca Cikabayan dan Laboratorium Virologi Tumbuhan, Departemen Proteksi Tanaman, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor. Penelitian dilaksanakan dari bulan Februari sampai Desember 2010.
Metode Penelitian Perbanyakan Serangga Vektor
Imago kutukebul (B. tabaci) yang digunakan sebagai vektor berasal dari tanaman kapas. Serangga vektor tersebut merupakan koleksi dari laboratorium Virologi Tumbuhan, Departemen Proteksi Tanaman, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor, yang sengaja dikembangbiakkan dan diperbanyak untuk kepentingan penelitian. Perbanyakan serangga vektor B. tabaci tersebut dilakukan di rumah kaca Departemen Proteksi Tanaman di Cikabayan. Serangga ini dipelihara pada tanaman kapas dalam sebuah kurungan kasa kedap serangga. Pembuatan Preparat Mikroskop dan Identifikasi Serangga Vektor
Puparium yang dikoleksi dari tanaman kapas dipindahkan ke dalam alkohol 95% yang ditempatkan dalam tabung reaksi, kemudian dipanaskan selama 5-10 menit. Setelah itu cairan tubuh yang masih tersisa pada pupa dibersihkan dengan cara menusuk bagian tubuh pupa secara hati-hati dengan menggunakan jarum, kemudian dipindahkan secara hati-hati ke dalam tabung reaksi yang telah berisi larutan KOH 10%, lalu dipanaskan kembali selama 5-10 menit (hingga transparan). Pupa selanjutnya dicuci dengan akuades sebanyak dua kali, kemudian dimasukkan ke dalam cawan syracus yang telah diisi dengan alkohol 50% selama 10 menit. Tahap selanjutnya adalah menambahkan acid fuchsin dan glacial acetic acid masing-masing sebanyak satu tetes, kemudian didiamkan selama 20 menit. Setelah itu puparium dimasukkan ke dalam alkohol 80% selama 5-10 menit, lalu diganti dengan alkohol absolut selama 10 menit. Selanjutnya puparium dimasukkan ke dalam minyak cengkeh selama 10 menit, kemudian ditempatkan pada gelas objek dengan menggunakan canada balsam. Preparat mikroskop yang
13 telah jadi, dikeringkan di atas pemanas dan diidentifikasi dengan menggunakan kunci identifikasi Dooley (2006).
Perbanyakan Inokulum Begomovirus
Sumber inokulum awal dari penelitian ini adalah isolat Begomovirus yang merupakan isolat koleksi Laboratorium Virologi Tumbuhan, yang dipelihara di rumah kaca di Cikabayan, Bogor. Perbanyakan inokulum Begomovirus tersebut dilakukan pada tanaman tomat melalui penularan dengan kutukebul. Kutukebul diberi periode makan akuisisi pada tanaman cabai sumber inokulum awal selama 24 jam (pma), kemudian dipindahkan ke tanaman tomat sehat yang berumur 6 MST sebanyak 10 ekor setiap tanaman dan dibiarkan selama 24 jam (pmi). Tanaman tomat dipelihara untuk digunakan sebagai sumber inokulum pada pengujian ketahanan varietas cabai.
Penanaman Tanaman Uji
Tanaman uji yang digunakan adalah tanaman cabai yang terdiri dari tiga galur yaitu F1(12X14), IPBC12, dan 35C2, serta tiga varietas komersial yaitu varietas Meteor, Rimbun, dan Tornado. Benih-benih cabai disemai pada media semai komersial berupa campuran pupuk kandang, kompos, dan sekam. Bibit yang tumbuh dipelihara hingga berdaun 3-4 helai atau berumur 3-5 minggu