• Tidak ada hasil yang ditemukan

LEMBANG-JAWA BARAT

INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2011

i RINGKASAN

Eneng Depi Kusmayanti. D14070084. 2011. Observasi Lama Siklus dan Periode Estrus pada Kuda (Equus Caballus ) di Detasemen Kavaleri Berkuda (Denkavkud) Parongpong, Lembang - Jawa Barat. Skripsi. Departemen Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan, Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor Pembimbing Utama : Prof. Dr. Ir. Pollung H. Siagian, MS. Pembimbing Anggota : Dr. Dra. R. Iis Arifiantini, M.Si

Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui gejala estrus yang tampak pada kuda dan menentukan lama siklus serta periode estrus di Detasemen Kavaleri Berkuda (Denkavkud) dalam upaya menentukan waktu optimal kawinnya. Penelitian ini dilaksanakan dengan metode observasi lapang, wawancara dan pengamatan secara langsung. Pengamatan meliputi manajemen reproduksi induk kuda, gejala-gejala estrus yang tampak, lama siklus estrus alamiah pada induk kuda yang pernah beranak dan lama periode estrus.

Induk kuda yang berada di Denkavkud Parongpong Lembang, Jawa Barat dipelihara secara semi intensif. Pemberian pakan dilakukan tiga kali sehari yaitu pagi, sore dan malam hari. Pada pagi hari induk kuda diberi ransum sebanyak 1,5 kg/e/h dan pada sore hari 2 kg/e/h. Rumput diberikan pada malam hari yaitu sekitar pukul 20.00 WIB sebanyak ± 25 kg/e/h. Pada siang hari induk kuda dibiarkan merumput hingga menjelang sore hari.

Gejala-gejala yang timbul selama kuda estrus adalah menurunnya nafsu makan, bersahutan suara dengan pejantan ataupun teaser, urinasi saat melihat pejantan dan winking (klitoris berdenyut-denyut). Gejala lain yang tampak adalah keluarnya lendir berwarna krem hingga putih yang terlihat pada bagian vulva, tidak menolak jika didekati pejantan dan berada dalam posisi siap kawin atau menghampiri pejantan dengan sendirinya serta memberikan bagian belakangnya pada teaser. Vulva kuda yang sedang estrus terlihat lebih besar jika dibandingkan dengan vulva yang tidak estrus, terlihat basah dan biasanya tertinggal lendir yang sudah mengering. Ciri lain yang teramati adalah terjadinya peningkatan urinasi pada saat di kandang sehingga kandang terlihat lebih basah dibandingkan dengan kandang kuda yang tidak estrus. Kuda yang sedang estrus selalu terlihat mengangkatkan ekornya dalam waktu yang relatif lama. Lama siklus estrus alamiah untuk induk kuda yang berada di Denkavkud dengan kisaran suhu lingkungan antara 23-27oC (siang) dan 17-20oC (malam), berkisar antara 14-23 hari dengan nilai rataan 19,21±3,67 hari, sedangkan untuk lama periode estrus berlangsung antara 4-6 hari dengan nilai rataan 4,95±0,5 hari.

ii ABSTRACT

Observation of Estrous Cycle and Estrus Period in Mare (Equus caballus) at Detasemen Kavaleri Berkuda (Denkavkud) Parongpong

Lembang-West Java

Kusmayanti. E.D, Siagian P.H dan Arifiantini R.I

The success of reproductive activity in horses is closely related to the estrous cycle and estrus period. This study reports the estrous cycle, estrus period as well as estrus behavior in the Detasemen Kavaleri Berkuda with the environmental temperature range between 23 to 27oC (day) and 17 to 20oC (night). The length of the estrous cycle was 19.21±3.67 days, with estrus itself lasting 4.95±0.5 days. The behavior arising during estrus was decreasing appetite, squealing with stallion, occasional urinating and aversion of the vulvae labia (winking), secreting of white to cream mucus at the vulva, mare do not refusing when approached by stallion or come to the stallion and squatting, went to stud by itself and give the back part or its rump. The vulva in estrus mare appear to be larger than non estrus mare, the vulva looks wet and dried mucus left on a part of the vulva. Other characteristic were the high frequent of urination during in the stable that makes the cage looks wetter than non estrus mare and estrus mare always raising the tail in a relatively long time.

1 PENDAHULUAN

Latar Belakang

Kuda yang dikenal sebagai hewan herbivora-non ruminansia memiliki manfaat cukup banyak bagi kehidupan manusia. Dalam sejarah tercatat bahwa kuda dapat digunakan sebagai bahan pangan melalui pemanfaatan daging dan susu. Selain itu kuda juga dapat dimanfaatkan untuk olahraga atau rekreasi, keperluan pertanian secara luas dan sebagai alat pengangkutan bahkan sebagai kuda perang seperti yang berada di Detasemen Kavaleri Berkuda (Denkavkud) Lembang, Jawa Barat. Melalui peranannya ini maka penting untuk dilakukan pelestarian melalui budidaya yang intensif.

Selain pengawinan secara alamiah, inseminasi buatan (IB) merupakan salah satu teknologi reproduksi yang digunakan untuk peningkatan produksi dan perbaikan mutu genetik ternak dan sebagai alat dalam pelaksanaan kebijakan pemuliaan secara nasional. Di Indonesia IB pada kuda telah dilaksanakan sejak tahun 2000-an, meskipun demikian sampai saat ini belum menunjukkan hasil yang optimal, dibandingkan dengan IB pada ternak lainnya.

Tingkat keberhasilan pengawinan kuda yang masih rendah baik secara inseminasi maupun kawin alam di Indonesia sudah selayaknya menjadi suatu titik perhatian. Beberapa hal yang menyebabkan rendahnya tingkat keberhasilan pengawinan ini adalah minimnya informasi mengenai lama siklus dan periode estrus pada kuda, sehingga peternak tidak mampu untuk menentukan waktu optimal kawin pada kuda. Hal ini berbeda jika dibandingkan dengan ternak lainnya seperti pada sapi, kambing, domba dan babi tingkat keberhasilan pengawinannya relatif lebih tinggi.

Observasi mengenai lama siklus dan periode estrus secara intensif sangat dibutuhkan untuk memperoleh tingkat efisiensi reproduksi. Hal ini dapat dicerminkan melalui tingkat keberhasilan pengawinan yang tinggi. Detasemen Kavaleri Berkuda merupakan satuan operasional dibawah pusat kesenjataan kavaleri yang menyelenggarakan peternakan kuda serta menyelenggarakan tugas-tugas protokoler dan pengembangan olah raga berkuda nasional. Hal ini dapat dijadikan

2 dasar sebagai suatu sarana untuk dilakukannya observasi mengenai lama siklus dan periode estrus pada kuda.

Tujuan

Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari lama siklus dan periode estrus serta gejala-gejala estrus kuda di Detasemen Kavaleri Berkuda (Denkavkud) Parongpong-Lembang Jawa Barat, sehingga waktu optimal kawin dapat ditentukan dengan tepat agar dapat meningkatkan keberhasilan pengawinan kuda baik secara alami maupun buatan.

Manfaat

Manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah meningkatkan produktivitas kuda yang berada di Denkavkud Parongpong-Lembang Jawa Barat, melalui upaya perbaikan manajemen reproduksi berupa penanggulangan dan penanganan yang tepat dalam proses pengawinan kuda baik secara alami maupun buatan.

3 TINJAUAN PUSTAKA

Kuda (Equus caballus)

Kuda merupakan salah satu jenis ternak herbivora-non ruminansia yang telah terkenal luas. Kuda bersifat nomadik dan kuat serta memiliki tingkat kecerdasan yang tinggi dan memiliki kemampuan belajar yang baik dalam mengenal suatu obyek (Kilgour dan Dalton, 1984), dengan klasifikasi zoologis menurut Blakely dan Bade (1991) adalah :

Kingdom : Animalia (hewan)

Phylum : Chordata (bertulang belakang) Class : Mammalia (menyusui)

Ordo : Perissodactyla (berteracak tidak memamahbiak) Family : Equidae

Genus : Equus

Spesies : Equus caballus

Selain kuda, keledai juga termasuk kedalam famili Equidae, yang membedakannya adalah pada spesiesnya yaitu Equus asinus. Keledai merupakan hewan jinak yang digunakan untuk alat transportasi dan binatang kesayangan. Banyak persamaan kondisi fisiologis reproduksi antara keledai dengan kuda (Blanchard dan Taylor, 2005).

Fisiologi Reproduksi Kuda Betina Anatomi Reproduksi

Organ genitalia kuda betina terdiri atas dua buah ovarium, dua buah tuba fallopii, uterus, vagina dan vulva. Organ reproduksi kuda betina selengkapnya diperlihatkan pada Gambar 1.

Gambar 1 Organ Reproduksi Kuda Betina

4 Ovarium adalah suatu organ primer reproduksi pada betina. Ovarium dapat bersifat endokrin atau sitogenik karena mempunyai kemampuan menghasilkan hormon yang akan disalurkan ke dalam peredaran darah, dan juga penghasil ovum (sel telur) yang diovulasikan oleh ovarium. Ovarium berfungsi dalam pembentukan dan pematangan folikel menjadi ovum, ovulasi (egg release) sintesis dan sekresi hormon-hormon steroid (steroidogenesis) (Hafez dan Hafez, 2000a; Morel, 2008). Pada saat musim kawin ovarium memiliki ukuran panjang 6-8 cm dan lebar 3-4 cm, pada saat itu kondisi ovarium terasa lebih lembut hal ini terjadi karena adanya sekresi cairan akibat perkembangan sel folikel. Lain halnya ketika bukan musim kawin ukuran ovarium cenderung lebih kecil yaitu dengan panjang 2-4 cm dan lebar 2-3 cm, dalam kondisi seperti ini ovarium akan terasa tidak lembut hal ini disebabkan tidak adanya perkembangan folikel (Morel, 2008).

Tuba falopii atau oviduct adalah saluran yang berpasangan dan berkonvulasi yang berfungsi mengantarkan ovum yang diovulasikan dari ovarium menuju cornua uteri. Ovum yang diovulasikan oleh ovarium akan diterima oleh infundibulum menuju ampula tempat terjadinya proses pembuahan (fertilisasi). Lapisan dalam tuba falopii merupakan membran mukosa yang berlipat-lipat dilapisi oleh epitel silia kolumner sederhana. Selama masa estrus dan sebelum kelahiran epitel bersilia tersebut bersifat sekretoris aktif (Manan, 2002). Panjang rataan dari tuba falopii ini adalah 25-30 cm (Morel, 2008).

Uterus merupakan organ yang berperan pada saat kebuntingan berfungsi sebagai tempat implantasi, retensi (pemeliharaan) dan nutrisi konseptus. Uterus terdiri dari carpus uteri (badan uterus) dan cornua uteri (tanduk uterus). Corpus uteri berfungsi sebagai tempat deposisi semen pada saat IB, sedangkan cornua uteri berfungsi sebagai tempat menempelnya zigot, lalu berkembang menjadi embrio dan fetus. Secara anatomis dan histologis, cornua dan corpus uteri memiliki struktur yang sama yaitu terdiri dari myometrium (otot), perimetrium (selaput serosa/peritonium), endometrium (mukosa/selaput lendir) (Manan, 2002). Corpus uteri normalnya mempunyai rataan panjang 18-20 cm dengan diameter 8-12 cm, sedangkan untuk cornua uteri memiliki panjang hingga 25 cm dengan diameter 4-6 cm mengerucut hingga 1-2 cm mendekati tuba falopii. Uterus pada kuda dinamakan dengan simplex bipartitus, hal ini disebabkan oleh ukuran corpus uteri yang lebih

5 besar dibandingkan dengan cornua uteri (Gambar 2), berbeda dengan ternak lainnya dimana cornua uteri cenderung lebih besar dan mendominasi (Morel, 2008).

Gambar 2 Uterus Sumber: Mottershead (1999)

Serviks (Gambar 3) atau leher uterus adalah suatu urat daging sphincter tubular yaitu otot polos yang sangat kuat yang terletak antara uterus dan vagina. Serviks mempunyai panjang antara 5-10 cm dengan diameter antara 1,5-1,7 cm. Saluran serviks dikenal dengan nama Canalis cervicalis, mempunyai bentuk berkelok-belok karena dibentuk oleh Annulus cervicalis. Annulus cervicalis yaitu suatu cincin yang melingkar di Canalis cervicalis. Cairan mukus yang dikenal sebagai lendir serviks dapat menutupi lumen pada saat hewan dalam keadaan bunting, tetapi akan kembali mencair pada saat estrus atau saat proses kelahiran berlangsung. Adapun fungsi serviks adalah sebagai gerbang yang kuat, melindungi uterus dari infeksi lingkungan luar (Manan, 2002). Serviks dalam kondisi tidak estrus akan tertutup rapat dan kuat, berwarna pucat dan mempunyai ukuran panjang rataan 6-8 cm dengan diameter 4-5 cm, sedangkan dalam kondisi estrus otot serviks akan mengalami relaksasi yang akan memudahkan penis masuk kedalamnya, selain itu serviks berwarna merah muda dan terlihat menonjol sehingga vagina kuda yang sedang estrus akan terlihat lebih besar dan tidak terdapat lipatan (Morel, 2008). Serviks adalah barier fisik bagi pergerakan mikroorganisme kedalam saluran reproduksi. Fungsi serviks difasilitasi oleh sekresi lendir yang kental dan dapat

Vagina serviks

6 menutupi lumen serviks selama terjadi kebuntingan. Sekresi lendir pada serviks ini juga mengandung bahan yang disebut lactoferin yang dapat menghambat pertumbuhan bakteri (Lestari, 2006).

Gambar 3 Serviks Sumber: Mottershead (1999)

Vagina termasuk kedalam organ reproduksi bagian luar dan merupakan gerbang bagi mikroorganisme memasuki tubuh ternak betina. Vagina memiliki diameter 10 -15 cm dan panjang rata-rata 18 - 23 cm. Dinding vagina yang elastis ini merupakan otot yang dilapisi oleh mukosa dan dengan keelastisannya dapat membantu dalam proses kelahiran. Vagina merupakan perlindungan pertama dalam sistem dan saluran reproduksi yang memiliki pH asam sehingga dapat membunuh bakteri (Morel, 2008). Vagina mempunyai fungsi sebagai tempat terjadinya pengawinan, tempat peletakan semen pada pengawinan alam, dan juga sebagai tempat penyimpanan vaginal pessary atau spons vaginal pada saat sinkronisasi estrus. Vestibula adalah bagian tubular dari saluran reproduksi antara vagina dan labia vulva. Vestibula vagina memiliki beberapa urat daging sirkuler atau serupa sphincter yang menutup saluran kelamin dari lingkungan luar sehingga dapat memperkecil kemungkinan masuknya mikroorganisme kedalam vagina (Lestari, 2006).

Vulva berada kurang lebih tujuh cm dibawah anus termasuk ke dalam organ reproduksi bagian luar, yang akan dilalui pada saat kopulasi sebelum vagina. Otot sphincter vulva memperkecil kemungkinan masuknya mikroorganisme ke dalam vagina, demikian pula otot sphincter vestibula memperkecil pergerakan mikroba menuju arah anterior vagina (Lestari, 2006). Vulva terletak lurus secara vertikal terhadap anus dan hal ini memberikan peluang untuk terjadinya kontaminasi yang

7 berasal dari kotoran. Vulva kuda yang normal tidak boleh memiliki kemiringan lebih dari 10o dari kondisi vertikal yang sewajarnya (Gambar 4 dan 5), kondisi bibir vulva harus rapat dan normal (England, 2004).

Gambar 4 Konformasi Vulva Normal dan Abnormal

Sumber : England (2004)

(a) (b)

Gambar 5 Vulva Kuda Normal (a) dan Vulva Kuda Abnormal (b)

Sumber : Morel, 2008

Pada bagian dalam vulva terdapat klitoris dan tiga sinus yang menghasilkan lingkungan yang tidak diinginkan oleh pertumbuhan bakteri yang menyebabkan penyakit (Morel, 2008). Vulva terdiri dari dua labia (commissural dorsalis dan ventralis). Klitoris terdiri dari dua krura atau akar, badan dan kepala (glans). Klitoris terdiri dari jaringan erektil yang tertutup oleh ephitel dan dengan sempurna memperoleh inervansi dari ujung-ujung saraf sensori (Manan, 2002).

Pubertas

Pubertas atau dewasa kelamin didefinisikan sebagai kondisi dimana organ-organ reproduksi mulai berfungsi dan perkembangbiakan dapat terjadi. Menurut

8 England (2004) dan Morel (2002)pubertas pada kuda terjadi pada umur kurang lebih 18-24 bulan, sedangkan menurut Hafez dan Hafez (2000c) umur pubertas pada kuda dapat dicapai antara 15 hingga 18 bulan. Pada hewan jantan, pubertas ditandai dengan kesanggupannya berkopulasi dan menghasilkan spermatozoa yang motil diikuti dengan perubahan-perubahan kelamin sekunder lainnya. Pubertas pada kuda betina ditandai oleh terjadinya estrus (England, 2004)

Kuda yang memiliki kerja berat, dewasa kelaminnya akan tertunda hingga umur 3 – 4 tahun (Laing, 1979). Kuda betina yang sudah mengalami pubertas sebaiknya tidak dikawinkan sebelum mencapai umur dua tahun dan bahkan sebaiknya setelah berumur tiga tahun. Kuda betina yang dikawinkan pada umur yang lebih muda, biasanya tingkat kebuntingannya rendah (Blackely dan Bade, 1991). Siklus Estrus

Siklus estrus merupakan satu periode dari satu estrus ke estrus berikutnya at a u interval antara timbulnya satu periode estrus ke permulaan periode estrus berikutnya (Slusher et al., 2004). Kuda betina digolongkan kedalam "seasonally polyestrus" yang berarti kuda betina mengalami siklus estrus dalam waktu yang tertentu setiap tahunnya (pada musim semi dan panas). Hal ini bertujuan untuk menghindari kelahiran anak kuda dalam kondisi cuaca yang tidak baik atau ekstrim (Mottershead, 2001). Lama siklus estrus kuda bervariasi yaitu antara 21 hingga 23 hari (Slusher et al, 2004; England, 2004). Beberapa kuda memperlihatkan keinginan kawin yang besar pada awal musim kawin selama periode estrus yang panjang tetapi tidak terjadi ovulasi. Kuda ini mungkin tidak akan subur sampai periode estrusnya menjadi lebih pendek dan lebih teratur. Kuda lain mungkin hanya mengalami estrus tenang atau silent heat dimana terjadi ovulasi tetapi tidak memperlihatkan keinginan untuk kawin. Banyak kuda semacam ini akan dapat bunting apabila saat estrus dapat diidentifikasi melalui palpasi rektal serta diamati perubahan-perubahan fisik yang terjadi pada vulva, vagina dan serviksnya (Frandson, 1992).

Fase awal dari siklus estrus ini dianggap sebagai fase penumpukan atau pemantapan dimana folikel ovarium yang berisi ovum membesar terutama karena meningkatnya cairan folikel yang berisi cairan estrogenik. Estrogen yang diserap dari folikel kedalam aliran darah merangsang peningkatam vaskularisasi dan

9 pertumbuhan sel gamet dalam persiapan untuk estrus dan kebuntingan yang terjadi (Frandson, 1992).

Siklus estrus pada kuda terdiri dari estrus dan diestrus. Diestrus adalah periode terakhir dan terlama pada siklus estrus, yaitu suatu kondisi dimana sel-sel granulosa dari folikel yang berovulasi pada akhir estrus berubah menjadi sel lutein dan membentuk corpus luteum (CL). Selanjutnya CL menjadi matang dan konsentrasi progesteron semakin meningkat. Progesteron ini menghambat sekeresi Follicle stimulating hormone (FSH) oleh hipofisa anterior sehingga menghambat pertumbuhan folikel ovarium dan mencegah terjadinya estrus. Jika kuda itu tidak bunting, CL akan teregresi dan terjadi perkembangan folikel yang baru. Diestrus biasanya berlangsung selama 15 sampai dengan 19 hari (Slusher et al., 2004). Menurut Hafez dan Hafez (2000b) dan (England, 2004) diestrus pada kuda terjadi masing-masing selama 14 hari dan 14-16 hari. Lama diestrus yang bervariasi ini, dapat disebabkan oleh tiga hal yaitu, terjadinya ovulasi akan tetapi tidak terlihat gejala estrus atau yang dinamakan dengan silent ovulasi, adanya keberadaan CL yang persisten yang tidak dapat dilisis oleh PGF2α atau PGF2α yang dihasilkan tidak cukup untuk melisis CL dan yang terakhir adalah adanya ovarium yang tidak aktif baik pada masa transisi maupun bukan musim kawin. Beberapa hal tersebut dapat menyebabkan perhitungan lama diestrus yang bervariasi (Morel, 2002).

Siklus estrus terbagi menjadi dua fase yaitu fase luteal dan fase folikuler. Fase luteal dapat disebut juga dengan diestrus merupakan suatu kondisi dimana CL dominan, sedangkan fase folikuler (estrus) adalah fase disaat terjadi perkembangan folikel dominan. Kuda betina merupakan ternak yang efisien, dia dapat estrus selama laktasi, tidak seperti ternak lainnya yaitu domba yang sama-sama tergolong kedalam seasonally polyestrus. Kuda betina bahkan mampu bunting dan laktasi dalam satu waktu yang sama. Kuda betina akan terlihat estrus 4-10 hari setelah beranak yang dinamakan dengan “foal heat”. Setelah itu kuda betina akan kembali pada siklus estrus yang regular yaitu 21 hari (Morel, 2002). Kuda betina dapat dikawinkan kembali 2-3 minggu setelah beranak (Reilas, 2001).

10 Periode Estrus

Periode estrus pada kuda rata-rata adalah tujuh hari dengan kisaran 4-8 hari. Ovulasi biasanya terjadi secara spontan menjelang akhir estrus. Ovulasi akan terjadi pada 24 hingga 48 jam menjelang akhir estrus dan sebaiknya kuda dikawinkan dua hari menjelang akhir estrus dan diteruskan pada hari terakhir sebelum masa estrus berakhir (Hafez dan Hafez, 2000c). Lamanya periode estrus bervariasi antara 4-7 hari (England, 2004) dan 5-6 hari (Malinowski, 2008) bahkan dapat mencapai 2-10 hari (Morel, 2002).

Hafez dan Hafez (2000c), menyatakan lama dan siklus estrus dapat berbeda antar individu kuda betina. Selama estrus vulva kuda betina terlihat lebih besar dan lipatan pada vulva melonggar dan akan mudah jika ingin dilakukan pemeriksaan. Selaput mukosa vulva membengkak, memerah, basah dan mengkilap karena dilapisi oleh lendir yang transparan. Selain itu kuda yang sedang estrus selalu berdiri dalam keadaan seperti akan urinasi, mengangkatkan ekornya dan terjadi kontraksi pada klitoris. Kuda betina estrus pada saat didekati kuda jantan akan urinasi, terdiam, ekor diangkat dan mengambil posisi siap untuk kawin dengan kondisi vulva yang menutup dan membuka (Morel, 2008).

Peranan Hormon Selama Siklus Estrus

Hormon yang berperan dalam siklus estrus meliputi: gonadotropin releasing hormone (GnRH), follicle stimulating hormone (FSH) dan luteinizing hormone (LH), estrogen, progesteron, prostaglandin F2α, serta inhibin dan activin (Mottershead, 2001). Level hormon dan aktivitas ovarium dalam siklus estrus dapat dilihat secara lengkap pada Gambar 6.

Aktivitas Ovarium Ovulasi folikel Perkembangan CL Pematangan CL CL Beregresi Hari Ovulasi folikel Ovulasi Ovulasi

Gambar 6 Level Hormon dan Aktivitas Ovarium pada Siklus Estrus Sumber : Mottershead (2001)

11 Gambar 6 memperlihatkan ovulasi terjadi pada hari ke-0 menunjukkan adanya peningkatan LH. Apabila tidak terjadi kebuntingan maka CL akan mulai teregresi. Corpus luteum teregresi sempurna pada hari ke-18. Level progesteron akan menurun seiring dengan teregresinya CL (hari ke-13). Level FSH akan meningkat yang akan berperan penting dalam pertumbuhan folikel untuk mempersiapkan terjadinya ovulasi kembali (hari ke 19-22 terhitung dari estrus sebelumnya) (Slusher et al., 2004). Hormon FSH ini akan menurun setelah sel folikel matang, hal ini terjadi karena adanya inhibin yang dihasilkan oleh sel folikel tersebut sebagai negatif feedback (umpan balik negatif) terhadap produksi FSH melalui respon yang disampaikan pada hipofisa anterior. Selain itu terdapat activin yang dihasilkan oleh cairan folikel sebagai positif feedback (umpan balik positif) untuk dihasilkannya FSH setelah terjadi ovulasi, untuk mempersiapkan perkembangan folikel berikutnya (Morel, 2002).

Gonadotropin releasing hormone (GnRH), disekresikan oleh hipotalamus dan mempengaruhi kegiatan hormon reproduksi. Sekresi dari GnRH akan merangsang produksi hormon lain (FSH, LH). Pada kuda yang sedang estrus GnRH disekresikan secara terus-menerus setiap dua jam pada diestrus dan dua kali per jam selama estrus (Mottershead, 2001). Gonadotropin releasing hormone (GnRH) ini 20% nya berperan dalam mengatur tingkah laku kuda yang sedang estrus dan 80% lainnya berperan dalam menstimulasi pelepesan FSH dan LH pada hipofisa anterior (Morel, 2002).

Hormon estrogen dihasilkan dari folikel yang berfungsi mengatur tingkah laku yang ditimbulkan selama siklus estrus berlangsung. Hormon estrogen ini akan meningkat menjelang estrus. Hal ini menyebabkan terjadinya perubahan tingkah laku kuda betina yang dapat menerima pejantan (Slusher et al, 2004).

Hormon lainnya seperti FSH dan LH, kedua hormon ini diproduksi di kelenjar hipofisa dan diatur oleh GnRH. FSH berfungsi merangsang pematangan sel telur dan pembentukan hormon estrogen dan LH berfungsi untuk merangsang terjadinya ovulasi (Mottershead, 2001; Slusher et al, 2004). Menurut Slusher et al. (2004) konsentrasi LH terendah adalah selama fase luteal dari pertengahan estrus,

12 naik hanya beberapa hari sebelum estrus atau segera setelah ovulasi, untuk kemudian kembali turun ketingkat sebelumnya selama beberapa hari berikutnya.

Hormon progesteron yang dihasilkan oleh CL adalah hormon utama yang bertanggungjawab terhadap kebuntingan (Mottershead, 2001). Progesteron berperan dalam mempertahankan kebuntingan hingga menjelang 150 hari kebuntingan. Sejak 150 hari hingga masa akhir kebuntingan yang mempertahankan kebuntingan adalah plasenta (Slusher et al.,2004). Level progesteron meningkat 24-48 jam setelah ovulasi. Progesteron dapat menghambat pelepasan LH (Morel, 2002).

Prostaglandin F2α bertanggungjawab terhadap proses luteolisis dari CL sehingga level progesteron akan turun hal ini dilakukan untuk melanjutkan proses

Dokumen terkait