• Tidak ada hasil yang ditemukan

Achmad D. 2010. 9 Jenis makanan sehat yang menjebak. http://id.shvoong.com/ jenis makanan-sehat-yang menjebak. [19 Mei 2010].

Anwar F. 1990. Mempelajari sifat fisik, organoleptik dan nilai gizi protein makanan bayi dari campuran tepung beras, konsentrat protein jagung dan tepung tempe. Program Pasca Sarjana, Bogor : Institut Pertanian Bogor.

Apriyantono A. Fardiaz D, Puspitasari N, Budiyanto S.1989. Analisis Pangan. Bogor : PAU Pangan dan Gizi, Institut Pertanian Bogor.

Arisman. 2002. Gizi Dalam Daur Kehidupan. Jakarta: Kedokteran.

Arifin Z. 2008. Beberapa unsur mineral esensial mikro dalam sistem biologi dan metode analisisnya. Jurnal Litbang Pertanian, 27(3), 2008 Hlm 99-105. http://www.pustaka-deptan.go.id/publikasi [12 Juli 2010].

Astawan M. 2010. Snack kedelai hambat penuaan. http://www.cbn.net.id. [19 Mei 2010].

Asp. NG, Johansson CG, Hallmer H, Siljestrom M. 1983. Rapid enzimatic assay of insoluble and soluble dietary fiber. Journal Agricultural Food Chemistry. [BPOM] Badan Pengawas Obat dan Makanan. 2007. Acuan label gizi produk

pangan. http://www.pom.go.id/ [15 Januari 2011].

[BPPIS] Badan Penelitian Pengembangan Industri. 1989. Pembuatan prototipe alat uji derajat putih tepung tapioka. Surabaya: BPPIS.

Blanchfield JR. 2000. Food labelling. Cambridge England : Woodhead Publishing Limited.

Barasi M E. 2009. At a glace ilmu gizi. Jakarta : Penerbit Erlangga.

Budiman A. 2009. Ngemil tapi tetap langsing. http://www.wikimu.com. [19 Mei 2010].

Chandra F. 2010. Formulasi snack bar tinggi serat berbasis tepung sorghum, tepung maizena, dan tepung ampas tahu [skripsi]. Bogor : Fakultas Teknologi Pertanian, Institut Pertanian Bogor.

Deman JM. 1997. Kimia makanan. Bandung : Penerbit ITB.

[Depkes] Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 2008. Riset Kesehatan Dasar 2007. http://www.litbang.depkes.go.id [20 april 2010].

Dewi NS. 2000. Pengaruh substitusi tepung sorghum pada tepung terigu terhadap mutu wafel [tesis]. Bogor : Program Pasca Sarjana, Institut Pertanian Bogor. Fardiaz D, Andarwulan N, Wijaya H, Puspitasari NL. 1992. Teknik analisa sifat kimia

dan fungsional komponen pangan. Bogor : PAU Pangan dan Gizi, Institut Pertanian Bogor.

Fellows 2000. Food Processing Technology. Boca Raton: CRC Press.

[FDA] Food and Drugs Administration. 2009. Guidance for industry: A

food labeling guide. http://www.hhs.gov [26 Mei 2011].

Garwati A dan Wijayati I. 2010. Goodbye Lemak 3 Langkah Mudah membentuk Tubuh Ideal. Jakarta: Gelanggang press.

Hariyadi P. 2005. Mencermati label dan iklan pangan. http://web.ipb.ac.id. [4 Juni 2010]

Hartoyo A. 2008. Serat pangan. http://duniapangankita.wordpress.com [4 Mei 2010]. Hubeis M. 1984. Pengantar pengolahan tepung serealia dan biji-bijian. Bogor :

Fakultas Teknologi Pertanian, Institut Pertanian Bogor.

Irawan MA. 2007. Karbohidrat. http://www.pssplab.com [ 8 Juni 2011].

Jahari A, Sumarno I. 2002. Epidemiologi konsumsi serat di Indonesia. Symposium Seminar hasil Monika Jakarta III tahun 2000, Rumah Sakit Jantung Nasional Harapan Kita, 29 Oktober 2002.

Khumaidi. 1989. Gizi Masyarakat. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi. Bogor: Pusat Antar Universitas Pangan dan Gizi. Institut Pertanian Bogor.

Koeswara S. 2010. Manfaat serat makanan tidak larut. http://www.Ebookpangan.com [28 April 2010].

Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1593 Tahun 2005 Tentang Angka Kecukupan Gizi Bagi Orang Indonesia.

Laimeheriwa J. 1990. Teknologi budidaya sorghum. http://www.pustaka-deptan.go.id/agritek/ppua0162.pdf [28 April 2010].

Latunde D, Neale JR. 1986. Availability of iron from foods. Journal of Food Technology (1986) 21, Hlm 255-268. http://www.ifst.org. [18 juli 2010].

Leder I. 2004. Sorghum and millet. Hungary: Encyclopedia of Life Support Systems http://www.eolss.net [ 28 April 2010].

Lubis Z. 2009. Hidup Sehat dengan Makanan Kaya Serat. Bogor : IPB Press. Matz SA. 1977. Snack food technology, Third edition. Texas : Pan-Tech Intern. Muchtadi TR, Purwiyatno, Basuki A. 1988. Teknologi pemasakan ekstrusi. Bogor :

Pusat Antar Universitas Pangan Dan Gizi, Institut Pertanian Bogor.

__________, Sugiyono. 1989. Ilmu pengetahuan bahan pangan. Bogor : Pusat Antar Universitas Pangan Dan Gizi, Institut Pertanian Bogor.

_________, Palupi NS, Astawan M. 1992. Metoda kimia biokimia dan biologi dalam evaluasi nilai gizi pangan olahan. Bogor: Pusat Antar Universitas Pangan dan Gizi, Institut Pertanian Bogor.

__________, 2010. Teknik evaluasi nilai gizi protein. Bandung : Penerbit Alfabeta Bandung.

Marahastuti. 1993. Karakteristik tepung dan pati ubi jalar (Ipomea batatas L) serta pemanfataannya untuk pembuatan biskuit dalam upaya diversifikasi pangan [skripsi]. Bogor : Fakultas Pertanian, IPB.

Mar’at S. 2009. Desmita Psikologi Perkembangan. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Meiri ED. 2005. Mempelajari kandungan mineral dan ketersediaan biologis (bioavailabilitas) Fe secara in vitro pada sayuran lokal daerah Palangkaraya dan sekitarnya [skripsi]. Bogor : Fakultas Teknologi Pertanian, IPB.

Mudjisihono R. 1990. Zat Tanin dalam biji sorghum dan usaha untuk mengurangi kandungannya. Media Teknologi Pangan Vol 4 (1) Hal 59-66.

Novita N. 2010. Energi bar bukan makanan ajaib. http://www.femina-online.com/issue/issue_detail.asp?id=582&cid=2&views=54 [19 Mei 2010]. Parker. 2003. Introduction to Food Science. New York: Delmar.

Palupi NS, Zakaria FR, Prangdimurti E. Evaluasi nilai biologis vitamin dan mineral. http://xa.yimg.com/kq/groups/20875559/1523764269. [20 Juli 2010].

Persagi [Persatuan Ahli Gizi Indonesia]. 2009. Tabel komposisi pangan Indonesia. Jakarta : Elex Media Komputindo.

Purwani EY, Santosa BAS, Meihira KD dan Damardjati DS. 1996. Beberapa sifat biskuit dari campuran tepung beras kaya protein dan tepung kacang hijau untuk makanan tambahan bayi usia dibawah dua tahun. Agritech Vol.16 no. 2, Hal 1-5.

Rahayu WP. 1998. Penuntun praktikum penilaian organoleptik. Bogor : Fakultas Teknologi Pertanian, Institut Pertanian Bogor.

RoigMJ, Alegria A, Barbera R, Farre R, Legarda MJ. 1999. Calcium bioavailability in human milk, cow milk and infant formulas comparison between dialysis and solubility methods. Valencia : Nutrition and Food Chemistry 65, Hlm: 353-357.

Sarwono, S.W. 1993. Remaja, seks dan disiplin dalam menyorot dan memahami masalah remaja. Pustaka Antara, Jakarta.

Savige G, Farlane AM, Ball K, Worsley A, Kwarford D. 2007. Snacking behaviours of adolescents and their association with skipping meals. International Journal of Behavioral Nutrition and Physical Activity 2007, 4 : 36 Hlm 12-17. http://www.ijbnpa.org/content/4/1/36 [5 Juni 2010].

Setyaningsih D, Apriyantono A, Sari MP. 2010. Analisis sensori pangan untuk industri pangan dan agro. Bogor : IPB Press.

Soekarto ST. 1985. Penilaian organoleptik. Jakarta : Penerbit Bhatara Karya Aksara. Soeranto. 2010. Pemuliaan tanaman sorghum di Patir Batan.

http://www.batan.go.id/patir/sorgum.html.[20 Mei 2010].

Stang J. 2008. Krause’s food and nutritions therapy edition 12. Canada : Sauders Elsevier.

Sofia IR. 1998. Stuidi sifat fisiko kimia, fungsional dan daya terima tepung bekatul sebagai sumber serat makanan dan pemanfaatannya pada kue jajanan pasar [skripsi]. Bogor : Fakultas Pertanian, IPB.

Suarni. 2004. Pemanfaatan tepung sorghum untuk produk olahan. Jurnal Litbang Pertanian 23 (4) Hlm 145-150.

Suprapto, Mudjisihono R. 1987. Budidaya dan pengolahan sorghum. Surabaya : Penebar Swadaya.

Susilowati. 2010. Pengembangan pangan fungsional berbasis polisakarida dari sorghum untuk anti kolesterol. http://www.lipi.go.id/www.cgi. [22 April 2010] Taylor J, Tilman S, Bean S. 2006. Novel food and non-food uses for sorghum and

millets Hlm 1-43 .http://repository.up.ac.za/Taylor_Novel_2006_.pdf. [21 April 2010].

USDA. 2009. Nutrition facts sorghum. http://www.NutritionData.com. [ 1 Juni 2010]. _____. 2009. Nutrition facts rice. http://www.NutritionData.com. [ 1 Juni 2010].

_____. 2009. Nutrition facts corn. http://www.NutritionData.com. [ 1 Juni 2010]. _____. 2009. Nutrition facts wheat flour. http://www.NutritionData.com.[ 1 Juni 2010]. Wall JS. Ross WM. 1970. Sorghum production and utilization; mayor feed and food crope in agriculture and food series. Westport Connecticut. The Avi Publishing Company, Inc.

Wardlaw GM. Smith A. 2009. Contemporary nutrition. Americans : McGraw-Hill.

Wirakartakusumah MA, Abdullah K, Syarif AM. 1992. Sifat fisik pangan. Bogor: Pusat Antar Universitas Pangan dan Gizi IPB.

[WKNP] Widyakarya Nasional Pangan dan Gizi VIII. 2004. Ketahanan pangan dan gizi di era otonomi daerah dan globalisasi. LIPI.

[WHO] World Health Organization. 2005. Nutrition in adolescence Issue and Challenges for the Health Sector. Issues in Adolescent Health and Development.

Workman L. 2006. Wheat and gluten free home baking, delicious recipes for healthy high fibre bread and buns. Apple Press.

Winarno FG. 2008. Kimia pangan dan gizi. Bogor : Mbrio Press.

Yuanita L. 2008. Pengaruh derajat keasaman dan lama perebusan terhadap ketersediaan hayati Fe : pengikatan Fe oleh makromolekul serat pangan kacang panjang (Vigna sesqui pedalis (L) Fruhw). http://www.adln.lib.unair.ac.id. [4 Juni 2010]

Lampiran 1. Prosedur analisis sifat fisik (Muchtadi & Sugiono 1989) 1. Densitas Kamba

Masukkan bahan ke dalam gelas ukur sampai volumenya mencapai 100 ml. Usahakan pengisian sampai benar-benar padat. Keluarkan semua bahan dari gelas ukur dan timbang beratnya. Nyatakan densitas kamba bahan dalam gr/ml. Densitas kamba = Berat Contoh

Volume contoh 2. Derajat Putih

Alat Whiteness meter ditera. contoh dimasukkan ke dalam plat-plat tersedia. sampai padat dan rata. pembacaan derajat putih contoh dapat langsung dilakukan sesuai jarum penunjuk alat.

3. Analisis pH Tepung

Alat pH meter dikalibrasi dahulu dengan menggunakan larutan standar ber pH netral (pH 7). Elektoda kemudian dimasukkan ke dalam sampel tepung yang akan diukur pH nya sehingga dapat terbaca nilai pH tepung.

Lampiran 2. Prosedur analisis sifat fungsional (Fardiaz et al 1992)

1. Daya Serap Air (Sathe dan Salunka. 1981 dalam Fardiaz et al 1992)

Sebanyak 1 gram contoh ditimbang. kemudian dimasukkan ke dalam tabung reaksi (tabung sentrifuse). Selanjutnya ditambahkan 10 gr air dan dikocok dengan vortex mixer. Kemudian disentrifuse dengan kecepatan 3500 rpm selama 30 menit. Selanjutnya diukur volume supernatant dengan menggunakan gelas ukur 10 ml.

Daya serap air = Volume air awal - Volume supernatant Berat kering contoh

2. Daya Serap Minyak

Contoh ditimbang sebanyak 1 gram. kemudian dicampur dan dikocok dengan 10 gr minyak menggunakan pengaduk magnetic. Kemudian disentrifuse dengan kecepatan 3500 rpm selama 30 menit. Selanjutnya diukur volume supernatant.

Daya serap minyak = Volume minyak awal – Volume supernatant Berat kering contoh

Lampiran 3. Prosedur analisis kimia

1. Penetapan kadar air dengan metode Oven (Apriyantono et al 1989)

Cawan kosong dan tutupnya dikeringkan dalam oven selama 15 menit dan didinginkan dalam desikator. kemudian ditimbang (untuk cawan alumunium didinginkan selama 10 menit dan cawan porselen didinginkan selama 20 menit). Kemudian timbang dengan cepat kurang lebih 5 gram sampel yang sudah dihomogenkan dalam cawan. Angkat tutup cawan dan tempatkan cawan beserta isi dan tutupnya di dalam oven selama 6 jam. Hindari kontak antara cawan dengan dinding oven. Untuk produk yang tidak mengalami dekomposisi dengan pengeringan yang lama. dapat dikeringkan selama 1 malam (16 jam).

Selanjutnya pindahkan cawan ke desikator. tutup dengan penutup cawan. lalu didinginkan. Setelah dingin timbang kembali. Keringkan kembali ke dalam oven sampai di peroleh berat yang tetap.

Berat sampel (gram) = W1

Berat sampel setelah dikeringkan (gram) = W2 Kehilangan berat (gram) =W3

Persen kadar air (dry basis) = W3 X 100 W2

Persen kadar air (wet basis) = W3 X 100 W1

Total Padatan (%) = W2 X 100 W1

2. Penetapan total abu (Apriyantono et al 1989)

Siapkan cawan pengabuan. kemudian bakar dalam tanur. didinginkan dalam desikator. dan ditimbang. Timbang sebanyak 3–5 gram sampel dalam cawan tersebut. kemudian letakkan dalam tanur pengabuan. bakar sampai didapat abu berwarna abu-abu atau sampai beratnya tetap. Pengabuan dilakukan dalam dua tahap : pertama pada suhu sekitar 400oC dan kedua pada suhu 550oC. Didinginkan kemudian ditimbang.

% Abu = Berat abu (g) X 100 Berat sampel (g)

3. Penetapan kadar protein dengan metode Mikro Kjeldahl (Apriyantono et al 1989)

Timbang sampel kira-kira akan membutuhkan 3-10 ml HCl 0.01 N atau 0.02 N ). pindahkan ke dalam labu kjeldahl 30 ml. Tambahkan 1.9 ± 0.1 g K2SO4. 40 ± 10 mg HgO. dan 2.0 ± 0.1 ml H2SO4 untuk setiap 10 mg bahan organik diatas 15 mg. Kemudian tambahkan beberapa butir batu didih. Didihkan sampel selama 1-1.5 jam sampai cairan jernih. Dinginkan. tambahkan sejumlah kecil air secara perlahan-lahan (hati-hati tabung menjadi panas). kemudian dinginkan. Pindahkan isi labu ke dalam alat destilasi. Cuci dan bilas labu 5-6 kali dengan 1-2 ml air. pindahkan air cucian ini ke dalam alat destilasi.

Letakkan erlenmeyer 125 ml yang berisi 5 ml larutan H2BO3 dan 2-4 tetes indikator (campuran 2 bagian metil merah 0.2% dalam alkohol dan 1 bagian metilen blue 0.2% dalam alkohol) dibawah kondensor. Ujung tabung kondensor harus terendam di bawah larutan H3BO3. Lalu. tambahkan 8-10 ml larutan NaOH-Na2S2O3. kemudian lakukan destilasi sampai tertampung kira-kira 15 ml destilat dalam erlenmeyer. Bilas tabung kondenser dengan air. dan tampung bilasannya dalam erlenmeyer yang sama. Encerkan isi erlenmeyer sampai kira-kira 50 ml kemudian titrasi dengan HCl 0.02 N sampai terjadi perubahan warna menjadi abu-abu. Lakukan juga penetapan blanko.

% N = (ml HCl-ml blanko) X normalitas X 14.007 X 100 mg sampel

% Protein = % N X faktor konversi atau

Protein (%) = (Vol titrasi x 0.014 x N HCl x 6.25 x 100)/Berat sampel

3. Penetapan kadar lemak dengan metode Ekstraksi Soxhlet (Apriyantono et al

1989)

Ambil labu lemak yang ukurannya sesuai dengan alat ekstrasi Soxhlet yang akan digunakan. dikeringkan dalam oven. didinginkan dalam desikator dan ditimbang. Kemudian timbang 5 gram sampel dalam bentuk tepung langsung dalam saringan tibel. yang sesuai ukurannya. kemudian tutup dengan kapas-wool yang bebas lemak. Sebagai alternatif sampel dapat dibungkus dengan kertas

saring. Letakkan timbel atau kertas saring yang berisi sampel tersebut dalam alat ekstrasi Soxhlet. kemudian pasang alat kondenser diatasnya dan labu lemak di bawahnya.

Tuangkan pelarut dietil eter atau petroleum eter ke dalam labu lemak secukupnya. sesuai dengan ukuran soxhlet yang digunakan. Lakukan refluks selam minimum 5 jam sampai pelarut yang turun kembali ke labu lemak berwarna jernih. Distilasi pelarut yang ada di dalam labu lemak. tampung pelarutnya. Selanjutnya labu lemak yang berisi lemak hasil ekstraksi dipananskan dalam oven pada suhu 105oC. Setelah dikeringkan sampai berat tetap dan didinginkan dalam desikator. timbang labu beserta lemaknya tersebut. Kemudian berat lemak dapat dihitung.

% Lemak = Berat lemak (g) X 100 Berat sampel

4. Penetapan kadar karbohidrat dengan metode Karbohidrat by difference

(Winarno 1995)

% Karbohidrat = 100% - % (protein + lemak + abu + air)

5. Penetapan serat pangan dengan metode Enzimatis ( Asp et al 1983)

Sebanyak 1 gram sampel dimasukkan ke dalam erlenmeyer. ditambahkan 25 ml larutan buffer Na-fosfat 0.1 M pH 6 dan dibuat menjadi suspensi kemudian diaduk. Selanjutnya ditambahkan 0.1 ml enzim termamyl. erlenmeyer kemudian ditutup dengan alumunium foil. dan diinkubasi dalam penangas air bersuhu 100oC selama 15 menit sambil sesekali diaduk.

Sampel diangkat dan didinginkan ditambahkan 20 ml air destilata. pH diatur 1.5 dengan menggunakan HCl. Selanjutnya ditambahkan 100 mg enzim pepsin. erlenmeyer ditutup dan diingkubasikan dalam penangas air bergoyang bersuhu 40oC selama 60 menit. Kemudian ditambahakan 20 ml air destilata. pH diatur menjadi 6.8 dengan NaOh lalu tambahkan 20 ml air destilata. pH diatur menjadi 6.8 dengan NaOH lalu tambahkan 100 mg pankreatin. tutup Erlenmeyer dan diingkubasikan dalam penangas air bergoyang pada suhu 40oC selama 60 menit. Kemudian pH diatur menjadi 4.5 menggunakan HCl. Larutan sampel disaraing

melalui crucible kering yang telah ditimbang beratnya (porositas 1) dan ditambahkan 0.5 gram celite kering (berat tepat diketahui). Pada penyaringan dilakukan pencucian dengan 2x10 ml air destilata.

1) Residu (serat tidak larut)

Cuci dengan 2x10 ml etanol 95% dan 2x10 ml aseton. Kemudian dikeringkan pada suhu 105oC sampai mencapai berat konstan (semalam). Setelah didinginkan dalam desikator kemudian ditimbang (D1). Diabukan pada suhu 550oC selama 5 jam. Setelah didinginkan dalam desikator. ditimabang (I1). 2) Filtrar (serat larut)

Volume filtrate diatur menjadi 100 ml. Kemudian ditambahkan 400 ml etanol 95% hangat (60oC). Biarkan mengendap selama 1 jam. Disaring dengan

crucible kerin yang telah ditimbang beratnya (porositas 2) dan ditambahkan 0.5 gram celite kering (berat tepat diketahui). Dicuci dengan 2x10 ml etanol 78%. 2x10 ml etanol 95%. dan 2x10 ml aseton. Dikeringkan pada suhu 105oC sampai mencapai berat konstan (semalam). Setelah didinginkan dalam desikator kemudian ditimbang (D2). Diabukan pada suhu 550oC selama 5 jam. Setelah didinginkan dalam desikator. ditimbang (I2)

3) Blanko

Blanko diperoleh dengan cara seperti prosedur untuk sampel tetapi tanpa sampel (B1 dan B2). Perhitungan :

% Serat tidak larut (IDF) = (D1-I1-B1) x 100%

Berat sampel

% Serat larut (SDF) = (D2-I2-B2) x 100%

Berat sampel

% Serat pangan (TDF) = %IDF + % SDF

Keterangan :

D = berat setelah pengeringan I = berat setelah pengabuan B = berat blanko bebas abu

7. Bioavailability zat besi dengan metode in vitro (Roig et al 1999) a. Bahan dan alat

Semua peralatan gelas dicuci. direndam dalam larutan HNO3 10% (v/v) selama 24 jam dan dibilas dengan air bebas ion sebelum digunakan. Bahan dan alat yang digunakan meliputi :

1. HCl 37%

2. Suspensi Pepsin :

1.6 pepsin didispersikan ke dalam 0.1 M HCl dan ditepatkan volumenya menjadi 10 ml. suspense ini dibuat sewaktu akan digunakan.

3. Campurkan pankreatin : Sebanyak 1 g pankreatin dan 6.25 g ekstrak bile

didispersikan dalam 0.1 M NaHCO dan tepatkan volumenya menjadi 250 ml. Campuran ini dibuat sewaktu akan digunakan.

4. Kantung Dialisis :

Kantung dialisis dipotong dengan panjang 20 cm dan kemudian direndam dalam air bebas ion sampai akan digunakan.

5. Botol-botol gelas :

Botol-botol gelas dengan ukuran yang sesuai dan mencukupi. digunakan untuk tempat sampel dan kantung dialisis.

b. Persiapan sampel (Gambar )

Formula snack bar diblender kering sampai menyerupai bubuk

Ditimbang setara 2 gram protein

Analisis ketersediaan zat besi Gambar. Tahap-tahap persiapan sampel c. Prinsip analisis

Zat besi (Fe) pada sampel dihidrolisis dari ikatannya dengan protein menggunakan enzim-enzim penernaan yang terdapat di lambung dan usus halus. Fe bebas yang terdapat dalam larutan sampel akan berdifusi melalui membran semipermeabel ke dalam kantung dialysis yang berisi buffer NaHCO3. Fe dalam dialisat menunjukkan jumlah Fe yang diserap tubuh. dalam alat pencuci gelas. dibilas dengan air destilata dan direndam dalam HCL 1 N selama 4 jam.

b. Persiapan sampel

Timbang sampel sedemikian rupa sehingga kandungan proteinnya sekitar 2 gr. Selanjutnya tambahkan air bebas ion hingga volumenya mencapi 75 ml. kemudian blender sampai halus. Siapkan sampel tersebut duplo.

Suspensi pepsin. Masukkan 1 gr pepsin ( sigma P7000) ke dalam labu takar 25 ml. Kemudian tepatkan volumenya dengan HCL 0.1 N. Digunakan dalam bentuk segar atau siapkan segera sebelum digunakan.

Pankreatin bile. Campurkan 2 gr pankreatin (Sigma P1750) dan 12.5 gr ekstrak bile (Sigma B8631). kemudian larutkan dalam NaHCO3 0.1 M dan buat volumenya menjadi 1 liter dengan NaHCO3 0.1 M.

Larutan protein presipitan. Larutkan 100 gr asam triklor asetat (TCA. Sigma T4885) dan 50 gram hidroksil amonium klorida (Sigma H9876) dalam air. Kemudian tambahkan 100 ml HCL pekat dan tepatkan volume larutan menjadi 1 liter menggunakan air bebas ion.

Larutan standar Fe. Buat larutan dengan konsentrasi 0. 0.25. 0.5. 1.0. 2.0. dan 4.0 ug/ml Fe sebagai FeCl3 dalam HCl 0.1 N.

Katong dialisis. Potong kantong dialisis (Spectrapor 1. 6000-8000 MWCO. Fisher 3 8700) sepanjang 15 cm dan rendam dalam air bebas ion. sekurang-kurangnya 1 jam.

Vial. Siapkan vial (tabung dialisis) (Fisher 3-335-10D) lengkap dengan penutupnya. Buat lubang kecil pada tutup untuk mengeluarkan gas.

Lampiran 4. Lembar uji organoleptik snack bar sorghum

Lembar Uji Hedonik (Kesukaan)

Nama Panelis : Tanggal Pengujian:

Jenis Kelamin : L/P

Nama Produk : Snack bar Sorghum

Uji Kesukaan (Hedonic Test)

Dihadapan saudara disajikan 4 macam snack bar sorghum dengan kode tertentu. Saudara diminta untuk memberikan penilaian terhadap keempat sampel sesuai dengan tingkat kesukaan saudara. dengan ketentuan di bawah ini.

Pengisian dilakukan dengan cara membuat garis vertikal pada setiap mistar sesuai dengan ketentuan dan kode produk. Cantumkan kode sesuai dengan label pada setiap garis vertikal yang diberikan. Diharapkan Saudara berkumur terlebih dahulu dengan air mineral sebelum mencoba ke formula lainnya.

Warna : I---I---I---I---I---I---I---I---I

Amat Sangat Biasa Amat Sangat suka tidak suka

Tekstur : I---I---I---I---I---I---I---I---I

Amat Sangat Biasa Amat Sangat suka tidak suka

Aroma : I---I---I---I---I---I---I---I---I

Amat Sangat Biasa Amat Sangat suka tidak suka

Rasa : I---I---I---I---I---I---I---I---I

Amat Sangat Biasa Amat Sangat suka tidak suka

Keseluruhan : I---I---I---I---I---I---I---I---I Amat Sangat Biasa Amat Sangat suka tidak suka

Komentar:... ... ...

Lembar Uji Mutu Hedonik (Kesukaan)

Nama Panelis : Tanggal Pengujian: Jenis Kelamin : L/P

Nama Produk : Snack bar sorghum

Uji Mutu Hedonik (Kesukaan)

Dihadapan saudara disajikan 4 macam snack bar sorghum dengan kode tertentu. Saudara diminta untuk memberikan penilaian terhadap keempat sampel dengan ketentuan di bawah ini.

Pengisian dilakukan dengan cara membuat garis vertikal pada setiap mistar sesuai dengan ketentuan dan kode produk. Cantumkan kode sesuai dengan label pada setiap garis vertikal yang diberikan. Diharapkan Saudara berkumur terlebih dahulu dengan air mineral sebelum mencoba ke formula lainnya.

Warna : I---I---I---I---I---I---I---I---I Coklat Coklat Putih Kehitaman Kekuningan Gading

Tekstur : I---I---I---I---I---I---I---I---I Sangat padat keras Padat Renyah

1 2 3 4 5 6 7 8 9 Coklat kehitam an Coklat tua Cokl at Cokl at mud a Coklat Kekunin gan Kuning kecoklat an Kuni ng ema s Kuning keputihan Putih gadi ng 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Sangat padat sangat keras Padat sangat keras Padat keras Padat agak keras Padat Agak padat empuk Empuk Empuk renyah Renyah

Aroma : I---I---I---I---I---I---I---I---I Amat Netral Amat Sangat Sangat Apek Harum 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Amat sangat apek Sangat apek Apek Agak apek Netral (tidak berbau) Agak harum Harum Sangat harum Amat sangat harum Rasa : I---I---I---I---I---I---I---I---I Pahit Hambar Asam Manis Komentar:... ... ... ... 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Pahit Pahit asam Pahit manis Agak pahit Hambar Agak manis Manis Agak manis Asam manis

Lampiran 5. Gambar bahan dan analisis snack bar

Adonan snack bar sebelum dipanggang Pemanggangan produk snack bar

Analisis zat besi

Alat analisis serat pangan

Lampiran 6. Hasil Analisis Sifat Fisik dan Fungsional Tepung Sorghum

Sifat fisik

1. Densitas kamba

Sampel Berat Volume (ml) densitas kamba rata-rata Sorghum 1 19.3577

25 0.7743 0.79

Sorghum 2 20.1212 0.8048

Contoh perhitungan :

Densitas kamba = Berat Contoh /Volume contoh

2. Derajat putih

Sampel Derajat putih Kadar % rata-rata Sorghum 1 55.3 50.27 50.33 Sorghum 2 55.6 50.18 Sorghum 3 55.2 50.54 3. pH Sampel pH rata-rata Sorghum 1 6.100 6.142 Sorghum 2 6.152 Sorghum 3 6.174 Sifat Fungsional

1. Daya serap air

Sampel B.sampel B.Tabung B.air B.total Berat kering Daya serap air rata-rata Sorghum 1 1.0084 13.4754 10.0133 14.4838 16.006 1.5095 1.51 Sorghum 2 1.0036 9.1925 10.2480 10.1961 11.721 1.5192 Contoh perhitungan :

Daya serap air = (berat kering - berat tabung) – berat sampel Berat sampel

= (16.006-13.4754) – 1.0084 = 1.5095 1.0084

2. Daya serap minyak

Sampel B.sampel B.Tabung B.minyak B.total Berat kering Daya serap minyak rata-rata Sorghum 1 1.0081 13.3963 10.0523 24.4567 15.4725 1.06 0.98 Sorghum 2 1.0094 13.3104 10.0278 24.3476 15.2347 0.91 Contoh perhitungan :

Daya serap minyak = (berat kering - berat tabung) – berat sampel Berat sampel

Lampiran 7. Hasil Analisis Sifat KimiaSnack Bar Sorghum 1. Hasil analisis kadar air

Kode

Sampel Protein Lemak Kadar

abu KH

kadar air dry

kadar

air wet SMTL SML SMTOT Fe

F 1 9,19 3,98 1,50 89,09 19,03 15,99 11,55 1,50 13,05 4,22 9,75 4,22 1,53 88,17 18,01 15,26 11,74 1,44 13,18 3,88 9,54 4,26 1,53 88,60 19,44 16,28 11,41 1,54 12,95 3,75 9,30 3,99 1,60 88,81 18,88 15,88 11,44 1,78 13,22 3,79 F 2 7,18 3,58 1,43 91,45 18,73 15,77 8,29 2,22 10,51 4,15 7,82 3,91 1,46 90,28 18,30 15,47 8,00 2,11 10,11 3,52 6,29 3,81 1,54 91,61 17,74 15,06 8,12 2,50 10,61 3,74 6,84 3,80 1,45 91,07 17,49 14,89 8,09 2,34 10,43 3,44 F 3 13,38 11,56 1,90 76,18 17,13 14,62 10,18 3,43 13,61 4,93 12,76 11,46 2,10 76,73 17,22 14,69 10,39 3,61 13,99 5,52 13,13 11,45 2,21 76,25 17,17 14,65 10,10 3,77 13,87 4,36 12,64 11,40 2,45 76,53 17,11 14,61 9,96 3,83 13,79 4,68 F 4 14,00 14,74 2,11 70,78 12,65 11,23 9,56 4,29 13,85 4,80 14,34 14,84 1,89 70,57 12,69 11,26 9,83 3,97 13,80 3,83 14,67 14,65 1,84 70,60 13,16 11,63 9,60 4,14 13,73 3,63 13,38 14,30 2,15 71,73 12,43 11,05 10,31 3,98 14,29 4,24

2. Hasil analisiskadar bioavailabilitas zat besi

Kurva Standard Fe Konsentrasi (ppm) Puncak (mm) 0 0 0.5 3.7 1 8 2 14.5 3 21 4 28

Sampel protein kadar (%) Berat setara 2 % protein (g) Berat sampel Bio (g) Kadar Fe sampel (ppm) Total Fe sampel (mg) Berat Dialisat (g) Peak (mm) Aliquot ml a b kadar Fe dialisat (ppm) Fe Dialisat (mg) Bioavai labilitas (%) Tp.Sorg hum 10.15 19.690 3.947 1043.84 4.120 29.94 1.8 50 6.926 0.412 0.347 0.0100 2.1508 Tp.Sorg hum 10.15 19.690 3.946 1021.63 4.031 37.61 1.9 50 0.286 0.0107 2.3568 Formula 4 12.23 16.162 3.238 320.56 1.038 33.52 2.0 50 0.342 0.0115 8.2074 Formula 4 12.52 16.162 3.232 308.72 0.998 32.53 2.0 50 0.352 0.0115 9.0141

Contoh perhitungan :

 Berat setara 2 gram protein = (2 g/kadar protein sampel g) X 100g = (2 g/10.15g) X 100 g = 19.70 g

 Perkiraan berat sampel bio per 20 g suspensi

= 19.70 g + 75 ml H2O bebas ion + 3.75 ml HCl = 80.45 g

(asumsi. sampel membutuhkan ± 3.75 ml HCl untuk membuat pH nya menjadi 2). suspense di tera menjadi 100 gr dg H20 bebas ion

= 20 g X 19.70 g = 3.94 g 100 g

 Total Fe sampel bio = penimbangan sampel bio x kadar Fe (ppm)

Dokumen terkait