• Tidak ada hasil yang ditemukan

iii

RINGKASAN

MUHAMMAD ANGGORO WIBISONO. Pengelolaan Sagu (Metroxylon sagu rottb.) di P.T. National Sago Prima, Selat Panjang, Riau, dengan Studi Kasus Pengaruh Teknik Persemaian dan Jenis Tanaman Induk Terhadap Pertumbuhan Bibit Sagu. (Di bawah bimbingan Prof. Dr. Ir. H. M. H. BINTORO DJOEFRIE, M. Agr.)

Kegiatan magang bertujuan untuk mempelajari teknik budidaya sagu dan meningkatkan pengetahuan serta wawasan mengenai pengelolaan perkebunan se-cara teknis maupun manajerial. Kegiatan magang dilaksanakan pada bulan Feb-ruari hingga bulan Agustus 2010 di Perkebunan sagu PT. National Sago Prima, Kabupaten Kepulauan Meranti, Riau. Aspek khusus yang diamati dalam magang ini adalah pengaruh teknik persemaian dan jenis tanaman induk terhadap pertumbuhan bibit sagu.

Metode yang digunakan dalam kegiatan magang yaitu metode langsung dan tidak langsung. Metode langsung dilakukan dengan melaksanakan kegiatan teknis di lapang yaitu pelorongan, pengendalian gulma secara teknis maupun kimia, sensus tanaman, penjarangan anakan (thinning out), kegiatan pembibitan yang meliputi kegiatan pembuatan rakit, pencarian bibit, persemaian, dan pe-nyulaman. Selain itu, dilakukan percobaan pengaruh teknik persemaian kanal, kolam, polibag, dan jenis tanaman induk berduri, tanaman induk tidak berduri ter-hadap pertumbuhan vegetatif bibit tersebut. Metode tidak langsung dilakukan me-lalui wawancara dan diskusi dengan staf serta studi pustaka untuk mendapatkan informasi yang mendukung. Data primer yang diperoleh dari percobaan persemai-an dipersemai-analisis dengpersemai-an uji DMRT pada taraf 5%.

PT. National Sago Prima menerapkan teknik persemaian bibit secara ter-apung pada kanal (saluran air berukuran lebar 3 m dengan kedalaman 2 m). Bibit disemai di kanal dengan menggunakan rakit berukuran panjang 3 m dan lebar 1 m, terbuat dari pelepah sagu yang sudah kering. Kriteria bibit sehat dan layak untuk disemai adalah bibit masih segar dengan pelepah masih hijau, bibit sudah tua yang dicirikan dengan bonggol sudah keras, pelepah dan pucuk masih hidup, tidak terserang hama dan penyakit, serta rata-rata bobot bibit 2-4 kg.

Pertumbuhan bibit sagu di persemaian dipengaruhi oleh perlakuan sebe-lum persemaian, lama penyimpanan bibit, teknik persemaian yang digunakan dan jenis tanaman induk. Terdapat berbagai teknik persemaian yaitu persemaian rakit, kolam dan polibag. Bobot bibit yang digunakan umumnya 2-4 kg. Berdasarkan hasil percobaan dengan parameter pertumbuhan panjang petiol, jumlah daun, jumlah anak daun, dan persentasi kematian, bibit dengan perlakuan teknik per-semaian rakit dari tanaman induk yang tidak berduri menghasilkan pertumbuhan yang paling baik dibandingkan dengan perlakuan yang lain.

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Saat ini, masyarakat Indonesia masih menggunakan beras sebagai bahan pangan utama. Produksi beras di Indonesia dengan rata-rata produksi 6 ton/ha tidak akan dapat memenuhi permintaan pangan penduduk Indonesia pada be-berapa tahun ke depan. Hal tersebut disebabkan oleh semakin meningkatnya jumlah penduduk di Indonesia. Oleh karena itu, diperlukan tanaman lain sebagai bahan pangan alternatif bagi masyarakat Indonesia.

Tanaman sagu sangat potensial untuk dikembangkan sebagai bahan pa-ngan alternatif dan bahan baku industri baik industri papa-ngan maupun nonpapa-ngan. Sagu merupakan tanaman penghasil karbohidrat tertinggi per satuan luasnya. Dalam satu batang sagu terdapat 200-400 kg pati kering. Selain itu, sagu mampu menghasilkan pati kering hingga 25 ton/ha. Kadar pati kering dalam sagu diatas kadar pati beras yang hanya 6 ton per ha. Djoefrie (1999) menyatakan bahwa pati sagu dapat digunakan sebagaimana tepung beras, jagung, gandum, tapioka, dan kentang sebagai bahan baku industri pangan. Sagu digunakan sebagai bahan baku pembuatan makanan seperti kue kukus, kue bolu, kue lapis, papeda, dan cendol. Sagu juga dapat digunakan sebagai bahan baku pembuatan roti, biskuit, mie, sohun, bihun, dan kerupuk. Sebagai bahan baku industri nonpangan, pati sagu dapat digunakan sebagai bahan baku pembuatan plastik organik yang dapat terurai dan bahan perekat dalam industri kayu lapis. Selain itu, sagu dapat dimanfaatkan sebagai bahan energi dengan mengolah pati sagu menjadi etanol (Baker, 1980

dalamHaryanto dan Pangloli, 1992).

Sebenarnya sampai saat ini luas areal sagu di Indonesia belum diketahui secara pasti. Berdasarkan perkiraan Haryanto dan Pangloli (1992) luas areal sagu di Indonesia sekitar 716 000 ha. Sementara itu, menurut Flach (1997) areal sagu di Indonesia merupakan areal sagu terbesar di dunia, yaitu sekitar 1.2 juta ha atau 51.3 % dari 2.201 juta ha areal sagu dunia.

Tanaman sagu sangat menguntungkan secara ekologis karena tanaman sagu dapat tumbuh dengan baik pada lahan-lahan marjinal seperti lahan tergenang dan lahan gambut. Sagu dapat tumbuh pada tanah yang bersifat asam dan sangat

toleran terhadap pH 3.5-6.5. Menurut Flachet al (1986) tanaman sagu tahan ter-hadap salinitas sampai 10 ms/cm. Sagu juga dapat tumbuh di tanah bergambut. Tampubolon dan Hamzah (1987) menambahkan bahwa top soil tempat tumbuh sagu merupakan lapisan gambut yang berwarna coklat sampai coklat ke hitam-hitaman dengan kedalaman 80 – 110 cm dengan pH 3.5 serta selama musim peng-hujan tidak tergenang tetapi air tanah dangkal.

Teknik budidaya yang baik sangat diperlukan dalam perkebunan sagu. Teknik budidaya pada perkebunan sagu meliputi persiapan tanam dan pemelihara-an tpemelihara-anampemelihara-an. Persiappemelihara-an tpemelihara-anam meliputi pembukapemelihara-an lahpemelihara-an dpemelihara-an persiappemelihara-an bahpemelihara-an tanaman. Pemeliharaan pada perkebunan sagu meliputi pembuatan kanal, pem-berantasan gulma, pemupukan, pemangkasan, pempem-berantasan hama dan penyakit, serta penjarangan anakan. Salah satu kegiatan yang harus diperhatikan untuk men-dapatkan tanaman sagu yang baik adalah persemaian.

Kegiatan persiapan bahan tanaman meliputi kegiatan persiapan bibit dan persemaian. Bahan tanaman dapat diperoleh melalui perbanyakan generatif mau-pun vegetatif. Pada umumnya bahan tanaman sagu diperoleh secara vegetatif me-lalui anakan, hal ini dikarenakan bahan tanaman vegetatif mudah diperbanyak dan bibit yang diperoleh dari anakan lebih cepat pertumbuhannya dibandingkan bibit dari proses generatif. Penyeleksian bibit bertujuan untuk memperoleh bibit yang sehat dan mempunyai daya tumbuh yang tinggi. Dari bibit hasil seleksi tersebut dilakukan kegiatan persemaian yang bertujuan untuk menyeleksi ulang bibit yang akan ditanam. Bibit hasil persemaian harus mempunyai daya tahan hidup yang baik sehingga tidak mudah mati saat dipindahkan ke lapang. Menurut Watanabe (1986) tanaman sagu dapat berkembang biak alami secara vegetatif dengan mem-bentuk tunas-tunas yang nantinya akan menjadi tanaman sagu yang lainnya. Hal ini mengakibatkan panen sagu dapat berkelanjutan tanpa melakukan penanaman ulang.

Di Indonesia teknik persemaian yang masih banyak digunakan adalah teknik persemaian dengan menggunakan rakit. Teknik persemaian rakit mem-punyai kemampuan hidup yang tinggi yaitu sekitar 90% saat di persemaian tetapi lebih dari 40% bibit mati pada saat dipindahtanamkan. Oleh karena itu, perlu di-gunakan teknik persemaian lain yang lebih efisien. Menurut Rostiwati (1991) sifat

3

tanaman sagu yang sulit berkembang biak dengan cepat serta daur hidupnya yang panjang, diperlukan tindakan pengadaan bahan tanam yang efisien untuk men-dapatkan kualitas dan kuantitas batang sagu yang diharapkan. Salah satu teknik persemaian yang mungkin dilakukan yaitu teknik persemaian dengan polibag. Selain itu juga mungkin dilakukan teknik persemaian kolam dengan meng-gunakan polibag sebagai modifikasi dari teknik kolam lumpur yang ada pada Departemen Pertanian Malaysia khususnya di Serawak. Persemaian anakan sagu yang dilakukan Lembaga Pembangunan dan Lindungan Tanah (Pelita) Serawak, Malaysia menggunakan teknik kolam yang berlumpur. Persemaian dilakukan kurang lebih 3-5 bulan. Sucker yang dapat dipindahkan ke lahan merupakan

suckeryang telah memiliki 3-5 daun yang terbuka sempurna (Flachet al., 1992).

Tujuan

Tujuan umum pelaksanaan magang ini adalah :

1. memperoleh keterampilan kerja, pengalaman, wawasan, dan penge-tahuan dalam pengelolaan perkebunan khususnya perkebunan sagu. 2. menambah kemampuan manajerial khususnya dalam pengelolaan

se-buah perkebunan.

3. sebagai studi perbandingan antara pengetahuan yang diperoleh pada saat kuliah dengan keadaan sebenarnya di lapang.

Tujuan khusus pelaksanan magang ini adalah :

1. untuk memperoleh informasi teknik budidaya tanaman sagu ( Metro-xylonspp.) khususnya aspek pembibitan.

2. untuk mempelajari pengaruh teknik persemaian bibit sagu dan jenis tanaman induk sagu, serta interaksi keduanya terhadap pertumbuhan vegetatif bibit sagu di persemaian.

Botani Tanaman Sagu

Lima marga palma yang kandungan patinya banyak dimanfaatkan, yaitu

Metroxylonspp, Arengasp, Coriphasp, Euqeissonasp,danCariotasp (Ruddleet al., 1976). Sagu (Metroxylon sagu Rottb.) termasuk tanaman monokotil dari famili Palmae, genusMetroxylon dan ordo Spadiciflorae merupakan jenis tanam-an ytanam-ang menyimptanam-an pati pada bagitanam-an battanam-angnya (Harytanam-anto dtanam-an Ptanam-angloli, 1992). Tanaman sagu secara botani digolongkan menjadi dua, yaitu tanaman sagu yang berbunga dan berbuah satu kali (Hapaxanthic) dan tanaman sagu yang berbunga dan berbuah dua kali atau lebih (Pleonanthic). Golongan yang pertama sangat penting nilai ekonominya karena kandungan patinya tinggi (Haryanto dan Pangloli, 1992). Jenis sagu yang termasuk dalam golongan tersebut adalah M. rumphii Mart., M. sagu Rottb., M. silvester Mart., M. longispinumMart., danM. micracantum Mart. Pada perkebunan sagu PT Nasional Sago Prima, tanaman yang ada diduga berasal dari jenis M. rumphiiMart. danM. saguRottb.

Metroxylon rumphiiMartius

Jenis sagu Metroxylon rumphii Martius biasa disebut dengan sagu tuni. Menurut Haryanto dan Pangloli (1992) di Pulau Seram dan Ambon, sagu tersebut dikenal dengan namaLapia Tuniyang berarti sagu murni. Menurut penduduk se-tempat jenis sagu tuni adalah yang asli. Menurut Bintoro (2008) sagu tuni me-miliki ciri-ciri sebagai berikut: tinggi batangnya 10-18 m, daunnya berwarna hijau tua, panjang pelepah daunnya 5-9 m, memiliki duri dengan panjang 1-4 cm, warna patinya putih, dan setiap pohon dapat menghasilkan sekitar 500 kg pati basah. Sagu tuni merupakan jenis sagu yang paling besar ukuran batangnya dibanding-kan dengan jenis yang lainnya.

Metroxylon saguRottbol

Jenis sagu Metroxylon sagu Rottbol terdapat di seluruh Indonesia. Masyarakat Maluku Tengah menyebut jenis sagu tersebut dengan sebutan Lapia Molat atau sagu betina karena tidak memiliki duri (Haryanto dan Pangloli, 1992).

5

Di Ternate, sagu ini dikenal dengan nama hanai putih, sedangkan di Sulawesi Tenggara dikenal dengan namasago roe.

Sagu molat memiliki ciri-ciri sebagai berikut: tinggi batangnya sekitar 10-14 m, tidak memiliki duri pada kulit batangnya, bunganya bunga majemuk yang berwarna sawo matang kemerah-merahan, dan setiap pohon menghasilkan pati basah sekitar 800 kg atau 200 kg pati kering (Haryanto dan Pangloli, 1992).

Syarat Tumbuh Sagu

Sagu merupakan palma penting penghasil tepung dan pati yang secara alami tanaman sagu tersebar dari Melanesia di Pasifik Selatan di sebelah Timur sampai ke India di sebelah Barat (90º-180º BT) dan dari Mindanau di sebelah Utara sampai di Pulau Jawa di sebelah Selatan (10º LU- 10ºLS) (Johnson dalam

Djoefrie, 1999).

Sagu umumnya tumbuh baik di daerah 10o LS- 15o LU dan 90º-180º BT pada ketinggian 0-700 m dpl. Pertumbuhan optimum sagu terjadi pada ketinggian 400 m dpl ke bawah (Manan dan Supangkat, 1984). Hutan sagu ditemukan di lahan-lahan di sepanjang dataran rendah tepi pantai hingga ketinggian 1000 m di atas permukaan laut (m dpl), di sepanjang tepi sungai, dan di sekitar danau atau rawa (Djoefrie, 1999). Jika ketinggian tempat lebih dari 400 m dpl maka pertumbuhannya akan terhambat dan produksinya rendah (Bintoro et al., 2010). Derajat kemasaman (pH) yang dikehendaki oleh tanaman sagu berkisar antara 3.7-6.5.

Kisaran keadaan hidrologi tempat tumbuh tanaman sagu sangat luas, jika hanya dilihat dari kemungkinan hidup, tanaman sagu dapat hidup pada daerah yang tergenang sampai yang tidak tergenang asalkan kelembaban tanah cukup tinggi. Pertumbuhan sagu pada daerah tergenang tetap pada tahap semai masih baik, akan tetapi pada tahap pembentukan batang laju pertumbuhannya sangat lambat (Djoefrie, 1999).

Tanaman sagu menghendaki tanah berlumpur dan kaya dengan mineral dan bahan organik. Sagu juga dapat hidup pada tanah berpasir asalkan mempunyai kandungan bahan organik yang tinggi. Sagu dapat tumbuh dengan baik pada tanah vulkanik, latosol, andosol, podzolik merah kuning, grumosol, alluvial, dan

hidro-morfik. Secara alami tanaman sagu merupakan vegetasi yang mendominasi lahan berawa (Djoefrie, 1999).

Suhu udara terendah bagi pertumbuhan tanaman sagu yaitu 15o C dan pertumbuhan terbaik terjadi pada suhu 25o C dengan kelembaban udara sekitar 90% dan intensitas penyinaran matahari sekurang-kurangnya 900 joule/cm2/hari (Bintoroet al., 2010)

Budidaya Sagu Pembibitan

Bibit yang diambil sebagai bahan tanaman adalah bibit yang telah matang atau tua. Bibit sagu umumnya dapat ditemukan pada kebun yang sudah dipanen 3-4 kali terhadap pohon induknya. Bibit yang baik dengan berat 2-5 kg, sedangkan bentuk yang baik dengan bonggol bentuk ”L”.

Bibit yang digunakan dapat berasal dari biji (generatif) dan bibit yang ber-asal dari tunas atau anakan sagu (vegetatif). Perbanyakan tanaman secara generatif belum optimal keberhasilannya, terutama dalam perkecambahan biji (Flachdalam

Haryanto dan Pangloli, 1992). Bahan tanam (sucker) yang digunakan untuk pem-biakan secara vegetatif harus berasal dari tunas atau anakan sagu dari induk yang mempunyai produksi pati yang tinggi.

Teknik pembibitan yang dilaksanakan pada bibit sagu adalah pesemaian rakit. Pesemaian rakit dilaksanakan pada parit dengan air mengalir. Rakit bisa terbuat dari bambu atau pelepah tua tanaman dewasa. Keuntungan menggunakan teknik persemaian rakit adalah kemampuan tumbuh bibit tinggi serta pemelihara-an tpemelihara-anampemelihara-an spemelihara-angat sedikit. Dalam satu rakit berukurpemelihara-an 3 x 1 meter dapat disemai-kan 60 – 100 anadisemai-kan sagu tergantung pada ukuran bonggolnya dan anadisemai-kan sagu diatur searah dengan rakit. Selain menggunakan rakit, persemaian juga bisa dilakukan dengan menggunakan teknik kolam dan polibag. Pada persemaian dengan menggunakan polibag digunakan tanah gambut ke dalam polibag tersebut (Bintoro, 2008).

Waktu dan lamanya bibit di persemaian selama tiga bulan. Persemaian yang terlalu lama akan menyebabkan bibit menjadi besar dan akan menyulitkan dalam proses pengangkutan. Persemaian yang terlalu lama juga menyebabkan

7

bibit dalam rakit akan tenggelam dalam air karena terlalu berat sehingga me-nyebabkan kematian pada bibit.

Penanaman di Lapang

Sebelum bibit ditanam, terlebih dahulu pelepah daun dipangkas untuk me-ngurangi penguapan daun. Dalam pengangkutan, bibit yang akan ditanam dibawa dengan tidak menggenggam ujung pelepah muda (daun tombak) untuk meng-hindari luka/patah pada bibit sehingga menyebabkan bibit tersebut mati. Teknik penanaman bibit adalah segi empat dengan jarak tanam 8 m x 8 m atau 10 m x 10 m, dengan ukuran lubang tanam 30 cm x 30 cm x 30 cm. Penanaman sebaiknya dilakukan pada musim hujan.

Pemeliharaan

Pemeliharaan tanaman sagu di perkebunan adalah pemupukan, pe-ngendalian hama dan penyakit tanaman, penyulaman, penjarangan anakan, dan penanggulangan kebakaran (Irawan, 2004). Selain itu, penting untuk dilakukan pengendalian gulma karena keberadaan gulma diperkebunan sagu sangat merugi-kan karena amerugi-kan berkompetisi dengan tanaman sagu dalam hal mendapatmerugi-kan sinar matahari terutama pada saat awal pertumbuhan (Jong, 2007).

Pemupukan

Flach et al (1986) menyatakan jika tanaman sagu setiap tahun dipanen sekitar 136 batang per ha unsur hara yang akan terkuras pada areal kebun sebanyak 100 kg N, 30 kg P, 200 kg K, 200 kg Ca, dan 50 kg Mg. Untuk mengembalikan kondisi kesuburan tanah yang baik agar tetap memberikan hasil optimum, perlu dilakukan pemupukan setiap tahun. Bintoro (2008) menambahkan bahwa tanaman sagu rakyat tidak pernah dipupuk. Kebanyakan tanaman sagu yang mempunyai pertumbuhan dan produksi yang rendah disebabkan adanya defisiensi berbagai macam hara yang dikarenakan keadaan tanah yang tidak subur (Jong, 2007). Unsur hara yang dibutuhkan untuk pertumbuhan tanaman sagu, yaitu Kalsium, Kalium dan Magnesium.

Pengendalian Hama dan Penyakit

Menurut pengamatan yang dilaksanakan oleh Gumbek dan Jong dalam

Djoefrie (1999) pada tanaman sagu yang diusahakan secara intensif di Serawak dijumpai Botryionopa grandis Baly yang menyerang daun muda, Coptotermes

spp. (rayap) di kawasan gambut dan seranggaRhyncoporus spp. yang menyerang daun dan batang sagu. Hama lain yang menyerang adalah tikus, kera, dan babi yang seringkali menyerang tanaman sagu muda. Meskipun demikian, keberadaan hama dan penyakit tidak terlalu mengganggu pertumbuhan tanaman sagu.

Pemangkasan (Pruning) dan Penjarangan Anakan Sagu (Thinning out)

Pemangkasan adalah pemotongan bagian tanaman seperti cabang dan tunas atau bagian tanaman yang sudah mati. Pemangkasan berfungsi untuk men-jaga kesehatan dan vigor pertumbuhan bagi tanaman baru, membentuk tanaman, memelihara ukuran tanaman, dan mengoptimalkan hasil metabolisme bagi per-tumbuhan dan perkembangan tanaman (Bintoro, 2008). Kegiatan pemangkasan yang biasa dilakukan di kebun sagu yaitu kegiatan pemotongan pelepah yang sudah tua. Kegiatan tersebut dilakukan karena pelepah tersebut menyebabkan kondisi kebun menjadi kurang rapi sehingga susah untuk dilakukan pemeliharaan lanjutan. Pelepah yang dipotong diletakkan di lorongan kotor.

Suryana (2007) menyatakan bahwa salah satu bentuk pemeliharaan tanam-an ytanam-ang dilakuktanam-an pettanam-ani adalah penjartanam-angtanam-an tanam-anaktanam-an. Pertumbuhtanam-an tanam-anaktanam-an sagu yang terlalu banyak menyebabkan rumpun menjadi semak sehingga dapat meng-ganggu pertumbuhan dan perkembangan pohon induk. Hal ini terjadi karena ada-nya kompetisi baik kompetisi antar anakan maupun kompetisi pohon induk dengan anakan dalam pengambilan unsur hara, air, sinar matahari, dan ruang tumbuh. Persaingan tersebut dapat menyebabkan kandungan pati dalam batang sagu berkurang dan menghambat pertumbuhan pohon induk. Penjarangan anakan sagu berfungsi untuk mengurangi persaingan pertumbuhan antar anakan untuk meningkatkan produktivitasnya. Jong (2007) menambahkan penjarangan anakan juga berfungsi untuk mendukung pertumbuhan induk tanaman.

9

Suryana (2007) menyatakan bahwa penjarangan anakan dilakukan dengan mengeluarkan anakan yang tidak produktif dan mengurangi anakan yang kurang produktif, sehingga dalam satu rumpun hanya tumbuh satu pohon induk dan empat anakan sagu. Penjarangan anakan yang dilakukan pada tanaman sagu yang berumur kurang dari 2 tahun yaitu semua anakannya dibuang atau dipotong de-ngan menggunakan parang/ dodos. Penjarade-ngan anakan yang dilakukan pada tanaman sagu yang berumur 2 tahun yaitu anakan yang ada disisakan 1 anakan selebihnya dipotong, sedangkan yang berumur lebih dari 2 tahun setiap 2 tahun berikutnya disisakan 1 anakan sehingga diperkirakan jumlah anakan yang ada sampai pohon induk sebanyak 5 sampai 6 anakan. Dengan demikian, dalam setiap rumpun sagu dapat dipanen sekali dalam 2 tahun. Kriteria anakan yang ditinggal-kan adalah anaditinggal-kan yang baik dan letaknya berjauhan dengan pohon induk.

Waktu dan Tempat

Kegiatan magang dilaksanakan di perkebunan sagu milik PT. National Sago Prima, Selat Panjang, Kecamatan Tebingtinggi, Kabupaten Kepulauan Meranti, Propinsi Riau (Lampiran 1). Kegiatan magang dilaksanakan selama 6 bulan mulai bulan Februari hingga Agustus 2010.

Metode Magang

Kegiatan magang dilaksanakan selama enam bulan dengan menggunakan dua metode yaitu metode langsung dan metode tidak langsung. Metode langsung yaitu melaksanakan kegiatan teknis budidaya sagu di lapangan. Kegiatan teknis budidaya yang dilakukan yaitu pelorongan, pengendalian gulma secara teknis maupun kimia, sensus tanaman, penjarangan anakan (thinning out), kegiatan pem-bibitan yang meliputi kegiatan pembuatan rakit, pencarian bibit, persemaian, dan penyulaman. Data yang didapatkan adalah prestasi kerja standar perusahaan, karyawan, mahasiswa, serta hambatan dalam pelaksanaan kegiatan teknis tersebut. Metode tidak langsung dilakukan dengan studi pustaka dan wawancara terhadap karyawan perusahaan untuk memperoleh informasi yang mendukung. Adapun informasi yang didapatkan adalah lokasi, letak geografis kebun, keadaan tanah, iklim, luas areal, norma kerja di lapang dan organisasi perusahaan serta manajerialnya.

Pada saat magang dilakukan, fokus kegiatan perusahaan adalah penyulam-an. Hal ini dikarenakan dari 12.000 ha kebun yang sudah ditanami, kurang lebih hanya 4000 ha kebun yang tanamannya tumbuh dengan baik. Dengan adanya pe-nyulaman, diharapkan kebun bisa berproduksi secara berkelanjutan. Salah satu ke-giatan yang harus dilaksanakan untuk memenuhi jumlah bibit yang akan diguna-kan untuk penyulaman adalah pembibitan. Teknik pembibitan rakit yang ada sekarang ini dinilai kurang efektif karena lebih dari 40% bibit mati saat dipindah-tanam ke lapang sehingga dalam kegiatan magang ini dilakukan penelitian khusus

11

tentang pengaruh jenis tanaman induk dan teknik persemaian terhadap partum-buhan bibit sagu.

Penelitian ini menggunakan Rancangan Kelompok Lengkap Teracak (RKLT) dua faktor dengan tiga ulangan. Faktor pertama adalah teknik persemaian dengan tiga taraf yaitu Rakit, Kolam, dan Polibag biasa (Gambar 2, 3, dan 4). Faktor kedua jenis tanaman induk dengan dua taraf yaitu tanaman sagu berduri dan tanaman sagu tidak berduri.

Pada percobaan ini terdapat enam kombinasi perlakuan dengan tiga ulang-an sehingga terdapat 18 satuulang-an percobaulang-an. Setiap satuulang-an percobaulang-an terdiri atas 20 bibit sagu. Jadi percobaan ini dilakukan dengan menggunakan 360 bibit sagu. Susunan perlakuan sebagai berikut:

R1 = bibit tidak berduri di kanal R2 = bibit berduri di kanal K1 = bibit tidak berduri di kolam K2 = bibit berduri di kolam P1 = bibit tidak berduri di polibag P2 = bibit berduri di polibag

Model linear yang digunakan adalah sebagai berikut: Yijk= µ + Ui+ Kj+ Pk+ (KP)jk+ åijk Keterangan :

Yijk = Respon perlakuan µ = Nilai tengah umum

Ui = Pengaruh ulangan ke-i (i=1,2,3)

Kj = Pengaruh teknik persemaian ke-j (j=1,2,3) Pk = Pengaruh jenis tanaman induk ke-k (k=1,2)

(KP)jk = Pengaruh interaksi teknik persemaian ke-j, jenis tanaman induk ke-k åijk = Pengaruh galat ulangan ke-i, teknik persemaian ke-j, jenis tanaman

induk ke-k

Dalam melakukan analisis hasil percobaan/ penelitian, asumsi-asumsi yang mendasari analisis ragam haruslah terpenuhi. Asumsi-asumsi yang perlu di-perhatikan agar pengujian menjadi sahih yaitu : galat percobaan memiliki ragam yang homogen, galat percobaan saling bebas, dan galat percobaan menyebar

normal. Galat percobaan memiliki ragam yang homogen yaitu komponen galat yang berasal dari perlakuan harus menduga ragam populasi yang sama. Galat

Dokumen terkait