• Tidak ada hasil yang ditemukan

ABSTRAK

FAHRUDIN SURAHMAT. Pengelolaan Tanaman Cabai Keriting Hibrida TM 999 (Capsicum annuum) secara Konvensional dan Pengendalian Hama Terpadu (PHT). Dibimbing oleh HERMANU TRIWIDODO.

Pengelolaan tanaman cabai keriting hibrida TM 999 secara konvensional dan PHT dilaksanakan di Desa Cibatok I, Kecamatan Cibungbulang, Bogor dengan tujuan untuk mengkaji pengaruh pengelolaan tanaman cabai keriting TM 999 secara konvensional dan PHT. Penelitian ini merupakan sebuah observasi mengenai pertumbuhan tanaman, kelimpahan hama dan penyakit, serta produktivitas tanaman cabai keriting hibrida TM 999 pada budidaya konvensional dan PHT. Budidaya konvensional merupakan praktik pengelolaan tanaman cabai yang umum dilakukan oleh petani, pengendalian hama dan penyakit pada budidaya ini dilakukan dengan menerapkan aplikasi pestisida secara intensif. Budidaya PHT merupakan strategi pengelolaan tanaman yang menerapkan pendekatan alami dan meminimalisir penggunaan pestisida kimia. Budidaya PHT dan konvensional memberikan hasil yang hampir sama terhadap pertumbuhan dan perkembangan tanaman cabai. Pertumbuhan dan produktivitas tanaman cabai keriting hibrida TM 999 terlihat lebih baik pada budidaya PHT, sedangkan budidaya konvensional memberikan hasil yang sedikit lebih baik dalam menekan keberadaan hama dan penyakit. Nilai rata-rata tinggi tanaman, tinggi cabang dikotom, diameter, jumlah cabang dan produksi cabai keriting pada budidaya PHT sebesar 67.33 cm, 32.99 cm, 0.96 cm, 51.53 dan 1.85 kg, sedangkan pada budidaya konvensional 57.67 cm, 26.19 cm, 0.81 cm, 45.29 dan 1.45 kg. Budidaya PHT mendukung perkembangan organisme lain yang berguna bagi tanaman, sehingga tanaman cabai berkembang dengan optimal. Keberadaan hama dan penyakit pada tanaman cabai seperti, Empoasca sp., lalat buah, puru, bercak daun, antraknosa dan virus kuning lebih banyak terlihat pada budidaya PHT daripada konvensional, namun tidak terdapat perbedaan yang signifikan diantara kedua pengendalian tersebut. Penelitian lebih lanjut mengenai peluang dan tantangan budidaya PHT dalam budidaya cabai masih perlu untuk dilakukan, sebagai upaya penyempurnaan konsep budidaya PHT pada tanaman cabai.

Kata kunci : Budidaya, cabai keriting, pengendalian hama terpadu (PHT), budidaya konvensional, pertumbuhan tanaman, kelimpahan hama dan penyakit, produktivitas tanaman.

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Cabai merupakan salah satu komoditas penting pertanian di Indonesia, tanaman ini memiliki tingkat permintaan dan nilai ekonomis yang cukup tinggi. Luas lahan produksi cabai di Indonesia mencapai 237 520 ha, dengan tingkat produksi cabai sebesar 1 332 356 ton (Deptan 2010). Budidaya cabai dapat dilakukan di dataran rendah maupun tinggi, tantangan terbesar dalam budidaya cabai adalah keberadaan hama dan penyakit. Keberadaan hama dan penyakit tanaman menurunkan tingkat kualitas dan kuantitas produksi cabai. Beberapa hama dan penyakit penting yang menyerang tanaman cabai adalah thrips, kutu daun, antraknosa dan bercak daun (Pracaya 1999).

Sebagian besar petani cabai di Indonesia masih menggunakan pestisida kimia dalam menggendalikan keberadaan hama dan penyakit. Survei yang dilakukan oleh Klinik Tanaman, Departemen Proteksi Tanaman, Fakultas Pertanian IPB di Tegal, Garut, Pengalengan, Magelang, Nganjuk dan Blitar, menunjukkan bahwa petani masih menggunakan pestisida kimia secara rutin dalam mengendalikan keberadaan hama dan penyakit. Aplikasi pestisida kimia dilakukan setiap seminggu sekali atau kurang lebih sekitar 20 kali selama satu musim tanam. Pemilihan jenis dan aplikasi pestisida kimia yang digunakan dilakukan dengan kurang bijaksana dan tidak sesuai dengan aturan yang berlaku. Petani masih menggunakan pestisida berkategori sangat berbahaya dan prior infrom concern (PIC), kategori PIC merupakan pestisida yang tingkat persistensi di alam yang tinggi, berdasarkan konvensi Stockholm (2004) pestisida jenis ini secara internasional dilarang atau dibatasi penggunaannya.

Pestisida kimia memang terbukti efektif dan efisien dalam mengendalikan hama dan penyakit, namun aplikasi pestisida kimia yang dilakukan mampu menimbulkan dampak negatif yang besar bagi tanaman, lingkungan dan manusia (Igbedioh 1991). Penggunaan pestisida kimia menimbulkan kematian pada musuh alami, resistensi dan menyebabkan munculnya hama dan penyakit baru. Aplikasi pestisida kimia juga menyebabkan kematian pada organisme selain hama dan penyakit, kondisi ini menyebabkan hilangnya kemampunan alami lingkungan dalam menekan serangan hama dan penyakit tanaman (natural control). Selain itu, residu pestisida yang tersisa pada buah cabai membahayakan kesehatan konsumen.

Mengingat besarnya dampak negatif yang ditimbulkan dari penggunaan pestisida kimia maka perlu adanya alternatif lain dalam mengendalikan hama dan penyakit pada tanaman cabai. Pengendalian hama terpadu (PHT) merupakan strategi budidaya tanaman yang mampu meminimalisir penggunaan bahan-bahan kimia dalam meningkatkan produktifitas tanaman. Pengendalian hama dan penyakit tanaman dilakukan dengan menggabungkan pengendalian secara biologi dan kimia, pengendalian kimia dilakukan sesuai dengan nilai ambang ekonomi (Gray et al. 2009). Minimnya penggunaan pestisida kimia dalam budidaya cabai

memungkinkan perkembangan mikroorganisme yang berguna bagi tanaman cabai, sehingga pertumbuhan dan perkembangan tanaman cabai menjadi optimal.

Konsep PHT mulai dikembangkan pada tahun 1976, setelah banyak laporan mengenai dampak negatif yang ditimbulkan dari penggunaan pestisida kimia. Program PHT semakin gencar dilaksanakan pada tahun 1989 dengan fokus utama pada tanaman padi. Sosialisasi budidaya PHT kepada petani dilakukan melalui program sekolah lapang PHT (SLPHT), program ini merupakan serangkaian kegiatan pelatihan dan praktik budidaya PHT pada tanaman padi. Namun, sampai saat ini kegiatan budidaya PHT masih belum memasyarakat di kalangan petani, tingginya tingkat kekhawatiran petani mengenai kemungkinan gagal panen menyebabkan pestisida kimia masih tetap digunakan dalam mengendalikan keberadaan hama dan penyakit. Disamping itu, penerapan budidaya PHT di lapangan cukup berat dan tidak semudah budidaya konvensional. Budidaya PHT perlu ditunjang dengan berbagai pengetahuan mengenai siklus hidup tanaman, bioekologi hama dan penyakit, informasi dasar mengenai morfologi, fisiologi dan genetik dari masing-masing hama dan penyakit, interaksi antara hama dan penyakit dengan tanaman dan lingkungan, dan potensi munculnya kerugian secara ekonomi (Gray et al. 2009).

Tujuan Penelitian

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengkaji pengaruh pengelolaan tanaman cabai keriting TM 999 secara konvensional dan PHT terhadap pertumbuhan tanaman, kelimpahan hama dan penyakit, serta produktivitas tanaman.

Manfaat Penelitian

Memberikan informasi dan data mengenai pertumbuhan tanaman, kelimpahan hama dan penyakit, serta produktivitas tanaman cabai keriting hibrida TM 999 pada pengelolaan secara konvensional dan PHT. Sehingga dapat menjadi gambaran mengenai kegiatan budidaya PHT yang mampu menjawab berbagai permasalahan yang terdapat pada budidaya cabai.

Dokumen terkait