ABSTRAK
REDI PRIMASETIA. Potensi Seduhan Kompos Sebagai Agens Pengendali Beberapa Penyakit pada Kedelai Glycine max (L) Merril di bawah bimbingan ABDUL MUIN ADNAN.
Seduhan kompos berbahan kotoran sapi dan ayam diuji keefektifannya terhadap beberapa penyakit yang muncul pada tanaman kedelai. Seduhan kompos dicampur dengan molase dan diaerasi selama tiga hari, kemudian diaplikasikan dengan metode penyemprotan dan penyiraman. Aplikasi dilakukan 10 kali dengan interval satu minggu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa seduhan kompos berbahan kotoran sapi dan ayam pada tiga tingkat pengenceran (1 kali, 10 kali, 20 kali) yang diaplikasikan pada tajuk efektif mengendalikan penyakit bercak target oleh C. casiicola dan penyakit karat oleh P. pachyrizi, serta aplikasi dengan cara penyiraman di daerah perakaran efektif mengendalikan penyakit layu oleh S. rolfsii. Aplikasi kombinasi penyemprotan tajuk dan penyiraman akar efektif mengendalikan tiga penyakit tersebut. Penelitian lebih lanjut masih diperlukan pada musim penghujan ketika berbagai jenis penyakit kedelai terjadi dalam intensitas tinggi.
Latar Belakang
Kedelai merupakan tanaman yang tumbuh tegak dan berupa semak. Kedelai yang dikenal sekarang mempunyai nama latin Glycine max (L) Merril berasal dari Cina Utara di daerah Manshukuo. G. max merupakan hibridisasi antara Glycine ussuriensis (Regel.) yang terdapat liar di seluruh Asia bagian timur, dengan
Glycine tomentosa (Benth.) yang tumbuh liar di Cina bagian selatan (Prihatman 2000). Kedelai sangat penting sebagai sumber protein dalam rangka peningkatan gizi masyarakat, karena selain aman bagi kesehatan juga relatif lebih murah dibandingkan dengan protein hewani. Pemanfaatan kedelai dapat sebagai bahan makanan baik secara langsung seperti direbus, maupun dalam bentuk olahan seperti tahu, tempe, susu kedelai, kecap dan lainnya. Saat ini pemerintah telah menetapkan kedelai sebagai salah satu komoditas prioritas dan diharapkan tahun 2010 sekitar 60% kebutuhan kedelai dalam negeri dapat tercukupi serta mencapai swasembada kedelai pada tahun 2015 (Deptan 2008).
Kebutuhan kedelai di Indonesia mencapai 1,9 juta ton pada tahun 2007, sedangkan produksi dalam negeri dalam 2007 hanya 775 ribu ton. Untuk memenuhi kebutuhan diperlukan impor dalam jumlah besar yaitu 1,3 juta ton. Produksi kedelai dalam negeri tahun 2007 adalah 775 ribu ton dengan luas areal penanaman 591 ribu ha dan pada tahun 2010 luas areal meningkat menjadi 672 ribu ha dengan produksi mencapai 905 ribu ton (BPS 2010). Konsumsi kedelai per kapita pada 1998 mencapai 9 kg/tahun, 2007 naik menjadi 10 kg/tahun. Jika rataan konsumsi per kapita 10 kg/tahun maka dengan jumlah penduduk 220 juta dibutuhkan kedelai 2.2 juta ton lebih per tahun (Deptan 2008).
Rendahnya produksi kedelai dapat disebabkan oleh beberapa faktor antara lain luas tanam, teknik budidaya, varietas yang digunakan dan adanya berbagai macam organisme pengganggu tanaman (OPT). Rendahnya produksi tersebut menyebabkan ketergantungan terhadap kedelai impor sulit untuk diatasi oleh produksi dalam negeri jika tetap mengandalkan luasan tanam kedelai saat ini. Peningkatan luas tanam yang disertai produktivitas per satuan luas perlu
OPT kedelai dapat menyebabkan penurunan kualitas dan kuantitas produksi. Beberapa OPT yang menyerang kedelai antara lain adalah serangga seperti lalat kacang (Ophiomyia phaseoli), ulat grayak (Spodoptera litura), kutu kebul (Bemisia tabaci), pemakan polong (Helicoverpa armigera), penggerek polong (Etiella zinckenella), penghisap polong (Riptortus linearis, Nezara viridula), kutu daun (Aphis glycines) sedangkan patogen penyebab penyakit antara lain adalah rebah kecambah/bibit (Rhizoctonia solani), karat (Phakopsora pachyrizi),
Sclerotium rolfsii dan Xanthomonas campestris (Balitkabi 2008). Berbagai macam pengendalian OPT pada kedelai telah dilakukan baik menggunakan pestisida berbahan kimia sintetik dan organik maupun memanfaatkan agens pengendali hayati. Penggunaan pestisida kimia sintetik dianggap paling efektif karena hasilnya langsung terlihat dalam waktu singkat jika dibandingkan dengan pengendalian lainnya. Akan tetapi penggunaan pestisida sintetik selain mahal juga memberikan dampak negatif yang membahayakan konsumen, lingkungan bahkan petani itu sendiri. Oleh karena itu, perlu dikembangkan suatu agens pengendali terhadap OPT yang ramah lingkungan mudah didapatkan, mudah dibuat, dan mudah diaplikasikan. Salah satunya adalah seduhan kompos (compost tea).
Seduhan kompos didefinisikan secara sederhana sebagai ekstrak cair dari bahan kompos yang mungkin mengandung bahan organik larut, dan sejumlah besar organisme termasuk bakteri, cendawan, protozoa, dan nematoda. Seduhan kompos mengkondisikan mikro organisme (cendawan, bakteri, nematoda) berkembang, sedangkan patogen-patogen tanaman mati. Sejauh ini seduhan kompos telah banyak dikembangkan di Australia dan Amerika, yang telah terbukti dapat mengendalikan patogen daun seperti embun tepung pada anggur yang disebabkan Uncinula nector, embun bulu anggur Plasmopara viticola, hawar daun kentang, bercak Septoria, patogen tanah seperti Rhizoctonia solani, Sclerotium, Pythium (ROU 2007).
Penelitian ini bertujuan mengetahui potensi seduhan kompos untuk pengendalian beberapa penyakit penting pada tanaman kedelai.
Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini memberikan informasi mengenai salah satu cara pengendalian penyakit pada kedelai dengan memanfaatkan seduhan kompos.
Tanaman Kedelai
Kedelai (Glycine max Merr.), di alam tidak terdapat sebagai tumbuhan liar, diduga berasal dari hibridisasi antara Glycine ussuriensis (Regel.) yang terdapat liar di seluruh Asia bagian timur, dan Glycine tomentosa (Benth.) yang tumbuh liar di Cina bagian selatan. Kedelai sudah lama dibudidayakan di indonesia, khususnya di Jawa dan Bali (Koens 1949, Purseglove 1969).
Menurut Hidayat (1985) kedelai (G. max) yang dibudidayakan di Indonesia merupakan tanaman semusim, tumbuh tegak dengan tinggi 40-90 cm, dapat bercabang sedikit atau banyak tergantung kultivar dan lingkungan hidup, memiliki daun tunggal dan daun bertiga; daunnya kebanyakan ditumbuhi bulu (trikoma) berwarna abu-abu atau coklat yang tidak telalu padat, walaupun ada yang tidak berbulu; bunganya berkelompok, terdapat 5 sampai 35 bunga tergantung kondisi lingkungan tumbuh dan varietas kedelai. Setiap polong matang berisi satu sampai lima biji; umur tanaman antara 72-90 hari. Kedelai introduksi umumya tidak memiliki atau memiliki sedikit percabangan dan sebagian bertrikoma padat baik pada daun maupun polong. Klasifikasi dari G. max menurut Merrill adalah:
Klas : Dycotyledone Ordo : Polypetales Famili : Leguminosae Genus : Glycine Subgenus : Soja Spesies : max
Komponen lingkungan yang menjadi penentu keberhasilan produksi kedelai adalah faktor iklim (suhu, sinar matahari, curah hujan, distribusi air), kesuburan tanah (fisiko-kimia dan biologi), sifat lain tanah (solum, tekstur, pH, ketersediaan hara, kelembaban, bahan organik, drainase dan aerasi), serta mikrobiologi tanah. Toleransi kemasaman tanah (pH tanah) bagi kedelai adalah 5.8-7.0. Kedelai dapat tumbuh pada pH dibawah itu, namun pertumbuhan sangat terhambat karena keracunan alumunium serta pertumbuhan bakteri bintil dan proses nitrifiksai akan berjalan kurang baik. Tanaman kedelai dapat tumbuh baik di daerah yang memiliki curah hujan sekitar 300-400 mm selama musim tanam. Suhu yang sesuai untuk pertumbuhan kedelai berkisar antara 22-270 C Perkecambahan optimum terjadi pada suhu 300 C. Pada kondisi lingkungan optimum biji kedelai dapat
berkecambah setelah empat hari ditanam. Tanaman kedelai dapat tumbuh baik sampai ketinggian 1.500 m dpl. Penelitian di Indonesia menunjukkan bahwa hasil kedelai lebih tinggi pada dataran tinggi dibandingkan dengan dataran rendah. Memasuki periode pengisian polong suhu harian yang baik untuk pertanaman kedelai adalah tidak melebihi 350 C dengan kelembaban nisbi yang relatif rendah (±70%) (Purwono & Purnamawati 2007).
Beberapa Penyakit Penting pada Kedelai
Penurunan produksi tanaman kedelai disebabkan oleh beberapa hal. Satu di antaranya adalah penyakit, jenis penyakit dibagi menjadi dua yaitu penyakit tidak menular yang disebabkan oleh faktor abiotik seperti kekurangan unsur hara, kekurangan cahaya, suhu ekstrim, pH yang tidak sesuai, dan penyakit yang disebabkan oleh biotik (patogen) yang dapat menular. Berbagai jenis patogen dari golongan cendawan, bakteri dan virus didapatkan menyerang kedelai di lapangan dan beberapa di antaranya merupakan patogen kunci yang dapat menurunkan produktivitas tanaman kedelai.
Layu Sclerotium (Sclerotium rolfsii Sacc.)
Penyakit layu ini pertama ditemukan pada kedelai di Amerika tahun 1924, selanjutnya ditemukan di Brasil, Kanada, India. Pada tanaman yang sudah tua dapat menyebabkan layu, yang diikuti oleh mengeringnya daun dan membusuknya pangkal batang, akhirnya tanaman mati. Kelayuan dapat terjadi pada tanaman stadia vegetatif hingga stadia generatif. Gejala ketika kecambah belum muncul di permukaan tanah disebut preemergence damping-off dan ketika kecambah sudah muncul di permukaan tanah disebut postemergencedamping-off. Penyakit ini sangat berbahaya jika terjadi pada biji kedelai di penyimpanan atau dalam pengiriman, karena satu dapat berkembang pada biji yang masih sehat.
Penyebab layu ini adalah cendawan Sclerotium rolfsii (Semangun 1991) dan diklasifikasikan oleh Alexopoulos & Mims (1996) sebagai berikut:
Klas : Basidiomycetes
Ordo : Agaricales
Famili : Typhulaceae
Genus : Sclerotium
Patogen ini termasuk cendawan penghuni tanah dan mempunyai miselia bewarna putih terlihat pada pangkal batang. Sklerotia cendawan ini terbentuk pada miselia- miselia yang tumbuh, berwarna putih yang kemudian mengeras bewarna hitam kecoklatan. Patogen ini biasa menyerang tanaman pada umur 2-3 minggu; cendawan dapat tumbuh pada suhu 1-320 C, optimal pada suhu 240 C; sklerotia (diameter 0,5-2 mm) dapat bertahan di dalam tanah hingga satu tahun, sangat resisten terhadap fungisida, tahan panas sampai 700 C dan tahan pembekuan (INTSOY 1982).
Karat (Phakopsora pachyrhizi Syd.)
Penyakit karat kedelai tersebar luas di seluruh Indonesia dan telah dilaporkan sejak tahun 1899 di Yogyakarta dan Surakarta. Pada tahun 1949 Boedjin (1960) menemukan penyakit karat pada kedelai, yang cendawannya diidentifikasi sebagai Phakopsora pachyrhizi (Syd.). Penyakit ini tersebar luas di Asia Tenggara dan Asia Timur, juga terdapat di Australia dan Afrika, Amerika Tengah dan Amerika Selatan. Karena dianggap merugikan, penyakit karat kedelai mendapat perhatian internasional yang cukup besar.
Gejala tampak pada daun, tangkai daun dan kadang-kadang pada batang. Mula-mula terjadi bercak-bercak kecil kelabu atau bercak yang sedikit demi sedikit berubah menjadi coklat atau coklat tua. Bercak bersudut-sudut, karena dibatasi oleh pertulangan daun dekat tempat infeksi. Umumnya gejala karat mula- mula tampak pada daun bagian bawah, lalu berkembang ke daun-daun yang lebih muda; cendawan karat dapat menginfeksi keping biji dan tanaman yang terserang berat daunnya lebih cepat gugur, sehingga hasil berkurang (Hsu & Wu 1968).
Cendawan P. pachyrhizi mempunyai bentuk uredium agak bervariasi, berkisar dari putih suram, kuning kelam, atau coklat sampai coklat merah jambu tergantung faktor-faktor lingkungan, seperti cahaya, kelembaban, dan suhu. Uredospora bergerigi berbentuk bulat telor bewarna kuning keemasan sampai coklat muda. P. pachyrhizi menurut Alexopoulos & Mims (1996) diklasifikasikan sebagai berikut: Klas : Basidiomycetes Ordo : Uredinales Famili : Uromyces Genus : Phakopsora Spesies : pachyrhizi
Patogen dapat dipencarkan melalui bantuan angin dan percikan air hujan, dengan uredospora yang bertindak sebagai inokulum dari musim ke musim. Jika cuaca menguntungkan, uredospora akan berkecambah dan menginfeksi tanaman sehat. Uredospora akan berkecambah dan masuk langsung (penetrasi) ke dalam jaringan daun jika pada permukaan daun terdapat air bebas. Suhu optimum untuk perkecambahan uredospora adalah 15-25o C dengan embun selama 10-12 jam; infeksi tidak terjadi apabila suhu lebih dari 27,50 C (Marcheti et al. 1975). Jika satu bercak rata-rata dapat memproduksi lebih dari 12.000 uredospora dalam 4-6 minggu, dengan lebih dari 400 bercak mungkin akan terjadi serangan yang berat (Semangun 1991).
Bercak Target (Corynespora cassiicola Berk. Et Curt) Wei.
Penyakit ini tidak menimbulkan kerugian berarti di Indonesia (Hardaningsih 1990). Tetapi, di Amerika kerugian dapat mencapai 18-32 % saat intensitas hujan tinggi sekitar bulan Agustus dan September (INTSOY 1982).
Menurut Boosalis & Hamilton (1957) gejala penyakit dapat terjadi pada daun, tangkai daun, batang, polong, biji, bahkan akar. Pada daun terdapat bercak besar, cenderung bundar sampai tidak beraturan, bewarna coklat kemerahan dengan diameter 10-15 mm, dikelilingi halo hijau pucat sampai kekuningan, jika bercak sudah tua dapat pecah menjadi lubang pada daun. Pada tangkai dan batang bewarna coklat tua, berbentuk bintik hingga memanjang, pada polong berbentuk bulat berdiameter sekitar 1 mm bewarna coklat pada pinggirnya dan coklat keunguan pada tengahnya. Jika serangan menembus polong akan terbentuk bercak coklat kehitaman pada biji.
Penyebab penyakit ini adalah cendawan Corynespora cassiicola (Semangun 1991). Cendawan ini mempunyai miselium lurus memanjang putih pada awalnya dan berubah menjadi abu-abu gelap, terdiri dari 1 sampai 20 sekat dengan ukuran 44-350 μm x 4-11 μm pada sekat ketiga sampai lima dengan rata-rata panjang
sekat 125 sampai 200 μm x 8 μm dan dapat bertahan di tanah sampai 2 tahun; konidiofor bewarna coklat, tumbuh tunggal atau mengumpul dalam kelompok dengan banyak cabang; konidia biasanya halus, kecoklatan, mempunyai berbagai macam bentuk dengan silindris sebagai bentuk dasar; konidia dapat tumbuh
optimal pada suhu 18-210 C (Seaman et al. 1965). Alexopoulos & Mims (1996) mengklasifikasikan cendawan C. cassiicola sebagai berikut:
Klas : Ascomycetes
Ordo : Pleosporales
Famili : Corynesporascaceae
Genus : Corynespora
Spesies: cassiicola
Antraknosa (Colletotrichum truncatum (Schw.)
Antraknosa pada kedelai sudah cukup lama dikenal dan tersebar luas di Indonesia. Meskipun penyakit ini dianggap kurang merugikan, namun dalam cuaca lembab kerugian yang ditimbulkan cukup berarti. Semua stadia kedelai baik vegetatif maupun generatif dapat terserang. Gejala penyakit biasa tampak pada batang, tangkai polong, dan polong. Daun juga dapat terserang namun tidak menimbulkan gejala atau kemungkinan gejala yang tidak jelas. Penyakit ini dapat meningkat pesat pada cuaca lembab, jika musim hujan intensitasnya dapat sangat tinggi; cabang dan daun bagian bawah akan mati, polong akan bewarna coklat kehitaman dan biji bebercak hitam, bewarna coklat gelap; bagian yang terserang dapat ditutupi tubuh buah hitam (aservuli) yang dilengkapi dengan seta bewarna hitam yang dapat dilihat dengan mata telanjang; serangan pada benih menyebabkan benih gagal berkecambah (busuk benih), preemergence damping- off dan postemergence damping-off (Tiffany & Gilman 1954).
Penyebab penyakit antraknosa adalah Colletotrichum truncatum atau
Colletotrichum dematium var. truncatum yang mempunyai aservulus bewarna hitam dengan bentuk yang tidak teratur dengan seta bewarna coklat kehitaman dengan panjang 60-300 μm x 3-8 μm (Semangun 1991). Klasifikasi cendawan C. truncatum menurut Alexopoulos & Mims (1996) adalah:
Klas : Ascomycetes
Ordo : Phyllachorales
Famili : Phyllachoraceae
Genus : Colletotrichum
Spesies : truncatum
Menurut Tiffany (1951) cendawan ini merupakan parasit lemah dan dapat bertahan pada sisa tanaman sedangkan konidia hanya dapat bertahan sebentar pada udara bebas karena sensitif terhadap kekeringan. Lima jam pengeringan dapat mengurangi perkecambahan konidia sampai 98%. Satu konidia dibentuk pada satu konidiofor, konidia hialin, satu sel, bengkok, ujung tumpul dengan
ukuran 17-31 μm x 3-4,5 μm. Konidia cendawan dapat tumbuh pada suhu 28-340 C, pemencaran konidia dibantu dengan air karena konidia terikat oleh massa lendir.
Bercak Daun Cercospora (Cercospora sojina Hara.)
Penyakit ini juga disebut bercak mata katak (frog eye spot). Penyakit ini pertama dilaporkan di Jepang tahun 1915 kemudian di Amerika tahun 1924 dan mulai tersebar di Indonesia tahun 1985; kehilangan ekonomi dapat mencapai 15% disebabkan oleh penyakit ini, kualitas benih menurun karena perubahan warna dan persentase perkecambahan rendah (INTSOY 1982).
Bercak mata katak ini merupakan penyakit primer pada daun meskipun infeksi dapat terjadi pada batang, polong dan benih. Bercak bewarna coklat muda sampai keabu-abuan, dengan tepi coklat kemerahan, sedangkan pada daun tua bercak bewarna coklat tua dengan bagian tengah yang lebih tua. Di sekitar bercak tidak terdapat zona klorosis, dengan diameter bercak 1-5 mm. Gejala pada batang sangat sedikit dan sangat terlihat jelas dengan mata pada saat menjelang panen; bercak bewarna merah tua dengan pinggiran coklat tua sampai hitam; pada polong bercak berbentuk bundar lonjong berwarna coklat kemerahan dengan pinggiran bewarna coklat tua (Semangun 1991).
Penyebab penyakit ini adalah Cercospora sojina Hara. (Syn. C. Daizu, Miura) (Lehman 1928). Alexopoulos & Mims (1996) mengklasifikasikan cendawan C. sojina sebagai berikut:
Klas : Ascomycetes
Ordo : Mycosphaerellales
Famili : Mycosphaerellaceae
Genus : Cercospora
Spesies : sojina
Cendawan ini mempunyai konidiofor yang keluar dari stroma tipis, bewarna coklat muda hingga coklat tua berukuran 52-120 μm x 4-6 μm dengan 1-4 septa yang jelas; konidia tumbuh pada ujung konidiofor secara vialid; satu konidiofor menghasilkan 1-11 konidia; konidia mempunyai 0-10 septa, hialin, lonjong dengan ujung meruncing; konidia mempunyai ukuran 40-60 μm x 6-8 μm; variasi bentuk konidia dan konidiofor tergantung pada jenis substrat tempat cendawan tersebut tumbuh (INTSOY 1982). Cendawan dapat bertahan dalam biji dan
mengurangi kemampuan perkecambahan biji; bercak pada kotiledon merupakan sumber inokulum primer untuk infeksi pada daun muda (Lehman 1928).
Bercak Ungu Biji (Cercospora kikuchii Matsumoto et. Tomoyasu)
Menurut INTSOY (1982) bercak ungu telah menyebar di seluruh dunia. Penyakit ini tidak mengurangi hasil tetapi jika intensitas tinggi dapat menyebabkan pewarnaan pada biji. Perubahan warna tidak merusak biji untuk diproses karena warnanya menghilang pada saat pemanasan. Perubahan warna bervariasi dari merah muda atau ungu pucat ke ungu tua. Daerah perubahan warna mempunyai berbagai ukuran dari bintik sampai bercak tidak teratur atau dapat menutupi seluruh permukaan kulit biji. Benih yang terinfeksi mengurangi persentase perkecambahan dan sering menghasilkan bibit yang sakit. Kotiledon yang terinfeksi menjadi keriput, berubah warna menjadi ungu tua. Infeksi ini dapat menyebar ke batang membentuk daerah nekrotik pada korset batang dan mematikan tanaman yang masih muda. Bibit dapat bertahan hidup jika intensitas serangan rendah, tapi pertumbuhannya akan terhambat.
Penyebab penyakit bercak ungu adalah Cercospora kikuchii Matsumoto et. Tomoyasu (Semangun 1991). Cendawan ini mempunyai konidia hialin, sebagian besar seperti jarum atau ramping, lurus sampai melengkung dengan banyak variasi lengkungan, sering mengerucut di bagian ujung, dengan septa samar sepanjang 0- 22 μm, berukuran dari 40-445 μm x 1-6 μm; konidiofor cendawan ini bewarna coklat muda sampai coklat tua, sering bening (hialin) di bagian atas, biasanya sederhana, jarang bersepta, membengkok pada bagian konidia terbentuk, dan dapat terjadi secara tunggal tetapi lebih sering dalam kumpulan tiga sampai 20 atau lebih; konidiofor muncul dari stroma yang terdiri dari kumpulan sel bulat padat tidak teratur dan sebuah konidiofor berkembang pada akhir setiap rantai stroma (Lehman 1950). Klasifikasi cendawan Cercospora kikuchii menurut Alexopoulos & Mims (1996) adalah:
Klas : Ascomycetes
Ordo : Mycosphaerellales
Famili : Mycosphaerellaceae
Genus : Cercospora
Spesies : kikuchii
Penyebaran konidia melalui bantuan angin dan percikan air, penyebaran seperti ini yang memerlukan cuaca hangat dengan kelembaban tinggi; dalam
kurun waktu satu atau dua minggu setelah tanam di bawah kondisi hangat yang lembab, konidiofor dan konidia muncul pada bagian kotiledon, dan batang yang terinfeksi bertekstur beludru, dengan warna putih keabu-abuan (Lehman 1950).
Busuk Batang, Rebah Semai (damping off), dan Hawar Daun Rhizoctonia (Rhizoctonia solani Keuhn.)
Berbagai macam penyakit yang disebabkan oleh Rhizoctonia, yaitu busuk akar dan batang, damping-off dan hawar daun, telah dilaporkan di semua daerah di dunia yang menanam kedelai. Penyakit ini biasanya terjadi di pembibitan dan tanaman muda. Pada lapisan kortikal luar pangkal batang, tajuk dan akar yang sudah tua muncul gejala khas bewarna coklat kemerahan; gejala tersebut dapat berkembang menjadi kanker, cekung berwarna coklat kemerahan; busuk akar dan batang adalah serangan di tanah yang paling parah dan dapat terjadi pada drainase tanah yang buruk; suhu optimum untuk perkembangan penyakit adalah antara 22- 290 C; penyakit busuk akar pada kedelai meningkat ketika tanaman tumbuh di tanah kekurangan kalsium, besi, magnesium, nitrogen, fosfor, belerang atau kombinasi dari mineral-mineral tersebut (Semangun 1991).
Penyebab penyakit ini adalah Rhizoctonia solani yang merupakan cendawan saprofit penghuni tanah; pertumbuhan cendawan ini tergantung pada pasokan nutrisi, kelembaban tanah, suhu, pH, dan persaingan dengan mikroorganisme di dalam tanah lainnya (INTSOY 1982). Klasifikasi cendawan
Rhizoctonia solani menurut Alexopoulos & Mims (1996) adalah: Klas : Basidiomycetes
Ordo : Ceratobasidiales
Famili : Ceratobasidiaceae
Genus : Rhizoctonia
Spesies : solani
Cendawan ini sangat bervariasi dalam karakter, patogenisitas dan respon terhadap perubahan lingkungan; miselium muda R. solani tidak bewarna (hialin), tetapi koloni yang lebih tua warnanya bervariasi dari putih atau coklat; hifa yang dihasilkan berupa rantai sederhana atau percabangan dari sel moniliform, hialin sampai coklat, seperti gentong, pyriform, tidak teratur atau lobate dengan rasio panjang/lebar sekitar 3:1; cendawan memiliki kisaran inang yang luas dan bertahan jika tidak ada inang sebagai miselium istirahat atau sklerotia (Boosalis 1950).
Embun Bulu (Peronospora manshurica (Naum) Syd.)
Embun bulu adalah penyakit umum yang terjadi di mana pun kedelai ditanam; gejala penyakit muncul di permukaan atas daun, bewarna hijau pucat dengan bintik-bintik kuning; bentuk lesio tergantung pada usia tanaman, lesio kemudian berubah kelabu coklat sampai coklat tua dengan pinggiran hijau- kekuningan; pada permukaan daun yang lebih rendah dan dalam kondisi cuaca lembab, lesio tertutup dengan gumpalan sporangiofor pucat kelabu atau ungu sehingga mudah dibedakan dari penyakit daun kedelai lainnya (Semangun 1991). Penyakit ini berhubungan sangat erat dengan tanaman kedelai sehingga mampu merubah genetiknya dengan cepat dalam merespon perubahan genetik pada kedelai; tiga puluh tiga ras sudah tersebar luas di dunia (Dunleavy 1971).
Penyebab penyakit ini adalah Peronospora manshurica (Naum) Syd. Patogen ini bersifat biotrofik atau parasit obligat. Sumber inokulum patogen ini adalah benih terinfeksi dan residu vegetasi kedelai baik yang dibudidayakan maupun tumbuh liar (Semangun 1991). Alexopoulos & Mims (1996) mengklasifikasikan P. manshurica sebagai berikut:
Kingdom : Chromista Klas : Oomycetes Ordo : Peronosporales Famili : Peronosporaceae Genus : Peronospora Spesies : manshurica
Patogen ini mempunyai sporangiofor dengan percabangan dikotom, sporangium tidak berwarna (hialin). Patogen ini dapat bertahan hidup sampai 1,5 tahun pada benih dan 1 tahun pada sisa pertanaman; sporulasi patogen terjadi pada suhu 18-200 C dan kelembaban udara 95-100%; cuaca panas dan kering dapat menghambat perkembangan dari penyakit ini (INTSOY 1982).
Pustul Bakteri (Xanthomonas campestris Smith.)
Pustul bakteri merupakan penyakit merugikan pada tanaman kedelai di Indonesia; serangan patogen dapat terjadi sejak fase daun unifoliat hingga fase pembentukan polong (Semangun 1991). Gejala awal berupa bercak-bercak kecil, terpisah satu sama lain, berwarna kuning hingga kecoklatan; secara sepintas gejala tersebut mirip penyakit karat, namun pada pustul tidak terdapat spora cendawan; pada tingkat lanjut, gejala pustul berukuran lebih besar, bagian tengah pustul
berwarna kecoklatan (nekrosis) dengan tepi bercak dikelilingi areal berwarna kuning; pustul dapat bergabung satu sama lain menghasilkan pustul yang lebih