POTENSI SEDUHAN KOMPOS (
COMPOST TEA
) SEBAGAI
AGENS PENGENDALI BEBERAPA PENYAKIT PADA
KEDELAI (
Glycine max (L) Merril)
REDI PRIMASETIA
DEPARTEMEN PROTEKSI TANAMAN
FAKULTAS PERTANIAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
ABSTRAK
REDI PRIMASETIA. Potensi Seduhan Kompos Sebagai Agens Pengendali Beberapa Penyakit pada Kedelai Glycine max (L) Merril di bawah bimbingan ABDUL MUIN ADNAN.
Seduhan kompos berbahan kotoran sapi dan ayam diuji keefektifannya terhadap beberapa penyakit yang muncul pada tanaman kedelai. Seduhan kompos dicampur dengan molase dan diaerasi selama tiga hari, kemudian diaplikasikan dengan metode penyemprotan dan penyiraman. Aplikasi dilakukan 10 kali dengan interval satu minggu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa seduhan kompos berbahan kotoran sapi dan ayam pada tiga tingkat pengenceran (1 kali, 10 kali, 20 kali) yang diaplikasikan pada tajuk efektif mengendalikan penyakit bercak target oleh C. casiicola dan penyakit karat oleh P. pachyrizi, serta aplikasi dengan cara penyiraman di daerah perakaran efektif mengendalikan penyakit layu oleh S. rolfsii. Aplikasi kombinasi penyemprotan tajuk dan penyiraman akar efektif mengendalikan tiga penyakit tersebut. Penelitian lebih lanjut masih diperlukan pada musim penghujan ketika berbagai jenis penyakit kedelai terjadi dalam intensitas tinggi.
POTENSI SEDUHAN KOMPOS (
COMPOST TEA
) SEBAGAI
AGENS PENGENDALI BEBERAPA PENYAKIT PADA
KEDELAI (
Glycine max (L) Merril)
REDI PRIMASETIA
Skripsi
sebagai salah satu syarat untuk memperoleh
gelar Sarjana Pertanian
pada
Departemen Proteksi Tanaman
DEPARTEMEN PROTEKSI TANAMAN
FAKULTAS PERTANIAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
LEMBAR PENGESAHAN
Judul : Potensi Seduhan Kompos Sebagai Agens Pengendali Beberapa Penyakit pada Kedelai (Glycine max (L) Merril)
Nama : Redi Primasetia NRP : A34063474
Disetujui Pembimbing
Dr. Ir. Abdul Muin Adnan, MS 19521111 198003 1 006
Diketahui Ketua Program Mayor
Proteksi Tanaman
Dr. Ir. Dadang, MSc 19640204 199002 1 002
Penulis bernama lengkap Redi Primasetia, dilahirkan di Malang, 30 Juli 1988. Penulis merupakan anak sulung dari tiga bersaudara pasangan Suwignyo dan Rodiyah.
Penulis menempuh pendidikan sekolah dasar dan sekolah menengah di Malang. Pendidikan dasar diselesaikan di SDN Bandungrejosari 2 pada tahun 2000. Pendidikan menengah penulis tempuh di SMP Negeri 1 Malang, lulus pada tahun 2003, dan aktif sebagai Ketua BDI (Badan Dakwah Islam) dan anggota OSIS. Pendidikan kemudian dilanjutkan di SMA Negeri 8 Malang, lalu tahun 2006 penulis melanjutkan pendidikan di Institut Pertanian Bogor (IPB) melalui jalur SPMB (Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru). Penulis diterima di Departemen Proteksi Tanaman, Fakultas Pertanian dan Departemen Silvikultur sebagai program keahlian minor Perlindungan Hutan.
PRAKATA
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat serta hidayah-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang
berjudul “Potensi Seduhan Kompos Sebagai Agens Pengendali Beberapa Penyakit pada Kedelai (Glycine max (L) Merril)”. Skripsi ini disusun sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Pertanian Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor. Penelitian dilakukan pada bulan April sampai dengan Juni 2010 di Laboratorium Nematologi, Departemen Proteksi Tanaman Institut Pertanian Bogor. Dana penelitian berasal dari dana pribadi.
Penulis ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Bapak Dr. Ir. Abdul Muin Adnan, MS selaku dosen pembimbing skripsi atas bimbingan, arahan, waktu, dan kesabaran yang telah diberikan kepada penulis selama penyusunan skripsi ini, Dr. Ir. Rully Anwar, MSi selaku dosen penguji dalam sidang skripsi penulis yang berkenan memberikan kritik dan saran dalam perbaikan skripsi ini.
Penulis juga ucapkan terima kasih kepada Bapak dan Ibu Tercinta, Suwignyo dan Rodiyah, kedua adik Adi Setiawan dan Teja Wigjayanto atas segala perhatian, dukungan, motivasi dan doa yang tiada henti-hentinya, Emma Nurkusdiniati atas kasih sayang, semangat, dukungan selama penulis menempuh pendidikan hingga saat ini. Terima kasih kepada teman-teman Departemen Proteksi Tanaman atas inspirasi bagi penulis dalam penyusunan skripsi ini, terutama untuk Candra, Ibnu, anggota Nematers. Tak lupa ucapan terima kasih penulis ucapkan kepada teman-teman Rumah Fullhouse (Yoyok, Gangga, Syafiq, Purwanto, Suratman, Adde, Sandi) dan semua pihak yang telah membantu atas kelancaran penyelesaian skripsi ini.
Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih banyak yang harus dikoreksi, oleh karena itu penulis mengharapkan saran dan kritik yang bersifat membangun dari pembaca. Semoga skripsi ini dapat bermanfaat baik bagi penulis maupun para pembacanya.
Bogor, Januari 2011
Halaman
DAFTAR TABEL ... viii
DAFTAR GAMBAR ... ix
DAFTAR LAMPIRAN ... x
PENDAHULUAN ... 1
Latar Belakang ... 1
Tujuan ... 3
Manfaat ... 3
TINJAUAN PUSTAKA ... 4
Kedelai ... 4
Beberapa Penyakit Penting pada Kedelai ... 5
Layu Sclerotium (Sclerotium rolfsii Sacc.) ... 5
Karat (Phakopsora pachyrhizi Syd.) ... 6
Bercak Target (Corynespora cassiicola Berk. Et Curt) Wei. ... 7
Antraknosa (Colletotrichum truncatum (Schw.) ... 8
Bercak Daun Cercospora (Cercospora sojina Hara.) ... 9
Bercak Ungu Biji (Cercospora kikuchii Matsumoto et. Tomoyasu) 10 Busuk Batang, Rebah Semai (damping off), dan Hawar Daun Rhizoctonia (Rhizoctonia solani Keuhn.) ... 11
Embun Bulu (Peronospora manshurica (Naum) Syd.) ... 12
Pustul Bakteri (Xanthomonas campestris Smith.) ... 13
Seduhan Kompos (Compost Tea) ... 13
BAHAN DAN METODE ... 15
Tempat dan Waktu ... 15
Bahan dan Alat ... 15
Metode Penelitian ... 15
Pembuatan Seduhan Kompos ... 15
Penghitungan Kepadatan Mikroba dalam Filtrat Seduhan Kompos ... 16
Penyiapan Pertanaman Percobaan... 16
Aplikasi Seduhan Kompos ... 17
Pengamatan ... 18
HASIL DAN PEMBAHASAN ... 20
Kepadatan Mikroba dalam Seduhan Kompos ... 20
Penyakit Karat ... 23
Penyakit Layu Sclerotium ... 24
Pengaruh Seduhan Kompos Terhadap Bobot Basah Tanaman dan Polong 26
PENUTUP ... 27
Kesimpulan ... 27
Saran ... 27
DAFTAR PUSTAKA ... 28
Nomor Halaman
1. Jenis dan kepadatan mikroba dalam seduhan kompos ... 14 2. Kepadatan mikroba dalam filtrat seduhan kompos ... 20 3. Intensitas penyakit bercak target (C. cassiicola) dalam berbagai
perlakuan seduhan kompos pada tanaman kedelai umur 11 MST .... 21 4. Intensitas penyakit karat (P. pachyrizi) dalam berbagai perlakuan
seduhan kompos pada tanaman kedelai umur 11 MST ... 24 5. Intensitas penyakit layu (S. rolfsii) dalam berbagai perlakuan
seduhan kompos pada tanaman kedelai umur 11 MST ... 25 6. Bobot basah tanaman dan polong per plot pada berbagai perlakuan
Nomor Halaman
1 Skema pembuatan seduhan kompos hingga siap aplikasi ... 16 2 Tata letak petak-petak percobaan pengaruh seduhan kompos terhadap
Nomor Halaman
1 Deskripsi Varietas Merbabu ... 31
2 Foto Penelitian ... 32
Gejala Penyakit Bercak Target ... 32
Konidia Corynespora cassiicola ... 32
Gejala Penyakit Karat ... 32
Uredospora Phakopsora pachyrizi ... 33
Tanaman Kedelai Mati Akibat Serangan Patogen Akar ... 33
Latar Belakang
Kedelai merupakan tanaman yang tumbuh tegak dan berupa semak. Kedelai yang dikenal sekarang mempunyai nama latin Glycine max (L) Merril berasal dari Cina Utara di daerah Manshukuo. G. max merupakan hibridisasi antara Glycine ussuriensis (Regel.) yang terdapat liar di seluruh Asia bagian timur, dengan
Glycine tomentosa (Benth.) yang tumbuh liar di Cina bagian selatan (Prihatman 2000). Kedelai sangat penting sebagai sumber protein dalam rangka peningkatan gizi masyarakat, karena selain aman bagi kesehatan juga relatif lebih murah dibandingkan dengan protein hewani. Pemanfaatan kedelai dapat sebagai bahan makanan baik secara langsung seperti direbus, maupun dalam bentuk olahan seperti tahu, tempe, susu kedelai, kecap dan lainnya. Saat ini pemerintah telah menetapkan kedelai sebagai salah satu komoditas prioritas dan diharapkan tahun 2010 sekitar 60% kebutuhan kedelai dalam negeri dapat tercukupi serta mencapai swasembada kedelai pada tahun 2015 (Deptan 2008).
Kebutuhan kedelai di Indonesia mencapai 1,9 juta ton pada tahun 2007, sedangkan produksi dalam negeri dalam 2007 hanya 775 ribu ton. Untuk memenuhi kebutuhan diperlukan impor dalam jumlah besar yaitu 1,3 juta ton. Produksi kedelai dalam negeri tahun 2007 adalah 775 ribu ton dengan luas areal penanaman 591 ribu ha dan pada tahun 2010 luas areal meningkat menjadi 672 ribu ha dengan produksi mencapai 905 ribu ton (BPS 2010). Konsumsi kedelai per kapita pada 1998 mencapai 9 kg/tahun, 2007 naik menjadi 10 kg/tahun. Jika rataan konsumsi per kapita 10 kg/tahun maka dengan jumlah penduduk 220 juta dibutuhkan kedelai 2.2 juta ton lebih per tahun (Deptan 2008).
OPT kedelai dapat menyebabkan penurunan kualitas dan kuantitas produksi. Beberapa OPT yang menyerang kedelai antara lain adalah serangga seperti lalat kacang (Ophiomyia phaseoli), ulat grayak (Spodoptera litura), kutu kebul (Bemisia tabaci), pemakan polong (Helicoverpa armigera), penggerek polong (Etiella zinckenella), penghisap polong (Riptortus linearis, Nezara viridula), kutu daun (Aphis glycines) sedangkan patogen penyebab penyakit antara lain adalah rebah kecambah/bibit (Rhizoctonia solani), karat (Phakopsora pachyrizi),
Sclerotium rolfsii dan Xanthomonas campestris (Balitkabi 2008). Berbagai macam pengendalian OPT pada kedelai telah dilakukan baik menggunakan pestisida berbahan kimia sintetik dan organik maupun memanfaatkan agens pengendali hayati. Penggunaan pestisida kimia sintetik dianggap paling efektif karena hasilnya langsung terlihat dalam waktu singkat jika dibandingkan dengan pengendalian lainnya. Akan tetapi penggunaan pestisida sintetik selain mahal juga memberikan dampak negatif yang membahayakan konsumen, lingkungan bahkan petani itu sendiri. Oleh karena itu, perlu dikembangkan suatu agens pengendali terhadap OPT yang ramah lingkungan mudah didapatkan, mudah dibuat, dan mudah diaplikasikan. Salah satunya adalah seduhan kompos (compost tea).
Penelitian ini bertujuan mengetahui potensi seduhan kompos untuk pengendalian beberapa penyakit penting pada tanaman kedelai.
Manfaat Penelitian
Tanaman Kedelai
Kedelai (Glycine max Merr.), di alam tidak terdapat sebagai tumbuhan liar, diduga berasal dari hibridisasi antara Glycine ussuriensis (Regel.) yang terdapat liar di seluruh Asia bagian timur, dan Glycine tomentosa (Benth.) yang tumbuh liar di Cina bagian selatan. Kedelai sudah lama dibudidayakan di indonesia, khususnya di Jawa dan Bali (Koens 1949, Purseglove 1969).
Menurut Hidayat (1985) kedelai (G. max) yang dibudidayakan di Indonesia merupakan tanaman semusim, tumbuh tegak dengan tinggi 40-90 cm, dapat bercabang sedikit atau banyak tergantung kultivar dan lingkungan hidup, memiliki daun tunggal dan daun bertiga; daunnya kebanyakan ditumbuhi bulu (trikoma) berwarna abu-abu atau coklat yang tidak telalu padat, walaupun ada yang tidak berbulu; bunganya berkelompok, terdapat 5 sampai 35 bunga tergantung kondisi lingkungan tumbuh dan varietas kedelai. Setiap polong matang berisi satu sampai lima biji; umur tanaman antara 72-90 hari. Kedelai introduksi umumya tidak memiliki atau memiliki sedikit percabangan dan sebagian bertrikoma padat baik pada daun maupun polong. Klasifikasi dari G. max menurut Merrill adalah:
Klas : Dycotyledone
Ordo : Polypetales
Famili : Leguminosae
Genus : Glycine
Subgenus : Soja
Spesies : max
berkecambah setelah empat hari ditanam. Tanaman kedelai dapat tumbuh baik sampai ketinggian 1.500 m dpl. Penelitian di Indonesia menunjukkan bahwa hasil kedelai lebih tinggi pada dataran tinggi dibandingkan dengan dataran rendah. Memasuki periode pengisian polong suhu harian yang baik untuk pertanaman kedelai adalah tidak melebihi 350 C dengan kelembaban nisbi yang relatif rendah (±70%) (Purwono & Purnamawati 2007).
Beberapa Penyakit Penting pada Kedelai
Penurunan produksi tanaman kedelai disebabkan oleh beberapa hal. Satu di antaranya adalah penyakit, jenis penyakit dibagi menjadi dua yaitu penyakit tidak menular yang disebabkan oleh faktor abiotik seperti kekurangan unsur hara, kekurangan cahaya, suhu ekstrim, pH yang tidak sesuai, dan penyakit yang disebabkan oleh biotik (patogen) yang dapat menular. Berbagai jenis patogen dari golongan cendawan, bakteri dan virus didapatkan menyerang kedelai di lapangan dan beberapa di antaranya merupakan patogen kunci yang dapat menurunkan produktivitas tanaman kedelai.
Layu Sclerotium (Sclerotium rolfsii Sacc.)
Penyakit layu ini pertama ditemukan pada kedelai di Amerika tahun 1924, selanjutnya ditemukan di Brasil, Kanada, India. Pada tanaman yang sudah tua dapat menyebabkan layu, yang diikuti oleh mengeringnya daun dan membusuknya pangkal batang, akhirnya tanaman mati. Kelayuan dapat terjadi pada tanaman stadia vegetatif hingga stadia generatif. Gejala ketika kecambah belum muncul di permukaan tanah disebut preemergence damping-off dan ketika kecambah sudah muncul di permukaan tanah disebut postemergencedamping-off. Penyakit ini sangat berbahaya jika terjadi pada biji kedelai di penyimpanan atau dalam pengiriman, karena satu dapat berkembang pada biji yang masih sehat.
Penyebab layu ini adalah cendawan Sclerotium rolfsii (Semangun 1991) dan diklasifikasikan oleh Alexopoulos & Mims (1996) sebagai berikut:
Klas : Basidiomycetes
Ordo : Agaricales
Famili : Typhulaceae
Genus : Sclerotium
Patogen ini termasuk cendawan penghuni tanah dan mempunyai miselia bewarna putih terlihat pada pangkal batang. Sklerotia cendawan ini terbentuk pada miselia-miselia yang tumbuh, berwarna putih yang kemudian mengeras bewarna hitam kecoklatan. Patogen ini biasa menyerang tanaman pada umur 2-3 minggu; cendawan dapat tumbuh pada suhu 1-320 C, optimal pada suhu 240 C; sklerotia (diameter 0,5-2 mm) dapat bertahan di dalam tanah hingga satu tahun, sangat resisten terhadap fungisida, tahan panas sampai 700 C dan tahan pembekuan (INTSOY 1982).
Karat (Phakopsora pachyrhizi Syd.)
Penyakit karat kedelai tersebar luas di seluruh Indonesia dan telah dilaporkan sejak tahun 1899 di Yogyakarta dan Surakarta. Pada tahun 1949 Boedjin (1960) menemukan penyakit karat pada kedelai, yang cendawannya diidentifikasi sebagai Phakopsora pachyrhizi (Syd.). Penyakit ini tersebar luas di Asia Tenggara dan Asia Timur, juga terdapat di Australia dan Afrika, Amerika Tengah dan Amerika Selatan. Karena dianggap merugikan, penyakit karat kedelai mendapat perhatian internasional yang cukup besar.
Gejala tampak pada daun, tangkai daun dan kadang-kadang pada batang. Mula-mula terjadi bercak-bercak kecil kelabu atau bercak yang sedikit demi sedikit berubah menjadi coklat atau coklat tua. Bercak bersudut-sudut, karena dibatasi oleh pertulangan daun dekat tempat infeksi. Umumnya gejala karat mula-mula tampak pada daun bagian bawah, lalu berkembang ke daun-daun yang lebih muda; cendawan karat dapat menginfeksi keping biji dan tanaman yang terserang berat daunnya lebih cepat gugur, sehingga hasil berkurang (Hsu & Wu 1968).
Cendawan P. pachyrhizi mempunyai bentuk uredium agak bervariasi, berkisar dari putih suram, kuning kelam, atau coklat sampai coklat merah jambu tergantung faktor-faktor lingkungan, seperti cahaya, kelembaban, dan suhu. Uredospora bergerigi berbentuk bulat telor bewarna kuning keemasan sampai coklat muda. P. pachyrhizi menurut Alexopoulos & Mims (1996) diklasifikasikan sebagai berikut:
Klas : Basidiomycetes
Ordo : Uredinales
Famili : Uromyces
Genus : Phakopsora
Patogen dapat dipencarkan melalui bantuan angin dan percikan air hujan, dengan uredospora yang bertindak sebagai inokulum dari musim ke musim. Jika cuaca menguntungkan, uredospora akan berkecambah dan menginfeksi tanaman sehat. Uredospora akan berkecambah dan masuk langsung (penetrasi) ke dalam jaringan daun jika pada permukaan daun terdapat air bebas. Suhu optimum untuk perkecambahan uredospora adalah 15-25o C dengan embun selama 10-12 jam; infeksi tidak terjadi apabila suhu lebih dari 27,50 C (Marcheti et al. 1975). Jika satu bercak rata-rata dapat memproduksi lebih dari 12.000 uredospora dalam 4-6 minggu, dengan lebih dari 400 bercak mungkin akan terjadi serangan yang berat (Semangun 1991).
Bercak Target (Corynespora cassiicola Berk. Et Curt) Wei.
Penyakit ini tidak menimbulkan kerugian berarti di Indonesia (Hardaningsih 1990). Tetapi, di Amerika kerugian dapat mencapai 18-32 % saat intensitas hujan tinggi sekitar bulan Agustus dan September (INTSOY 1982).
Menurut Boosalis & Hamilton (1957) gejala penyakit dapat terjadi pada daun, tangkai daun, batang, polong, biji, bahkan akar. Pada daun terdapat bercak besar, cenderung bundar sampai tidak beraturan, bewarna coklat kemerahan dengan diameter 10-15 mm, dikelilingi halo hijau pucat sampai kekuningan, jika bercak sudah tua dapat pecah menjadi lubang pada daun. Pada tangkai dan batang bewarna coklat tua, berbentuk bintik hingga memanjang, pada polong berbentuk bulat berdiameter sekitar 1 mm bewarna coklat pada pinggirnya dan coklat keunguan pada tengahnya. Jika serangan menembus polong akan terbentuk bercak coklat kehitaman pada biji.
Penyebab penyakit ini adalah cendawan Corynespora cassiicola (Semangun 1991). Cendawan ini mempunyai miselium lurus memanjang putih pada awalnya dan berubah menjadi abu-abu gelap, terdiri dari 1 sampai 20 sekat dengan ukuran 44-350 μm x 4-11 μm pada sekat ketiga sampai lima dengan rata-rata panjang
optimal pada suhu 18-210 C (Seaman et al. 1965). Alexopoulos & Mims (1996) mengklasifikasikan cendawan C. cassiicola sebagai berikut:
Klas : Ascomycetes
Ordo : Pleosporales
Famili : Corynesporascaceae
Genus : Corynespora
Spesies: cassiicola
Antraknosa (Colletotrichum truncatum (Schw.)
Antraknosa pada kedelai sudah cukup lama dikenal dan tersebar luas di Indonesia. Meskipun penyakit ini dianggap kurang merugikan, namun dalam cuaca lembab kerugian yang ditimbulkan cukup berarti. Semua stadia kedelai baik vegetatif maupun generatif dapat terserang. Gejala penyakit biasa tampak pada batang, tangkai polong, dan polong. Daun juga dapat terserang namun tidak menimbulkan gejala atau kemungkinan gejala yang tidak jelas. Penyakit ini dapat meningkat pesat pada cuaca lembab, jika musim hujan intensitasnya dapat sangat tinggi; cabang dan daun bagian bawah akan mati, polong akan bewarna coklat kehitaman dan biji bebercak hitam, bewarna coklat gelap; bagian yang terserang dapat ditutupi tubuh buah hitam (aservuli) yang dilengkapi dengan seta bewarna hitam yang dapat dilihat dengan mata telanjang; serangan pada benih menyebabkan benih gagal berkecambah (busuk benih), preemergence damping-off dan postemergence damping-off (Tiffany & Gilman 1954).
Penyebab penyakit antraknosa adalah Colletotrichum truncatum atau
Colletotrichum dematium var. truncatum yang mempunyai aservulus bewarna hitam dengan bentuk yang tidak teratur dengan seta bewarna coklat kehitaman dengan panjang 60-300 μm x 3-8 μm (Semangun 1991). Klasifikasi cendawan C. truncatum menurut Alexopoulos & Mims (1996) adalah:
Klas : Ascomycetes
Ordo : Phyllachorales
Famili : Phyllachoraceae
Genus : Colletotrichum
Spesies : truncatum
ukuran 17-31 μm x 3-4,5 μm. Konidia cendawan dapat tumbuh pada suhu 28-340 C, pemencaran konidia dibantu dengan air karena konidia terikat oleh massa lendir.
Bercak Daun Cercospora (Cercospora sojina Hara.)
Penyakit ini juga disebut bercak mata katak (frog eye spot). Penyakit ini pertama dilaporkan di Jepang tahun 1915 kemudian di Amerika tahun 1924 dan mulai tersebar di Indonesia tahun 1985; kehilangan ekonomi dapat mencapai 15% disebabkan oleh penyakit ini, kualitas benih menurun karena perubahan warna dan persentase perkecambahan rendah (INTSOY 1982).
Bercak mata katak ini merupakan penyakit primer pada daun meskipun infeksi dapat terjadi pada batang, polong dan benih. Bercak bewarna coklat muda sampai keabu-abuan, dengan tepi coklat kemerahan, sedangkan pada daun tua bercak bewarna coklat tua dengan bagian tengah yang lebih tua. Di sekitar bercak tidak terdapat zona klorosis, dengan diameter bercak 1-5 mm. Gejala pada batang sangat sedikit dan sangat terlihat jelas dengan mata pada saat menjelang panen; bercak bewarna merah tua dengan pinggiran coklat tua sampai hitam; pada polong bercak berbentuk bundar lonjong berwarna coklat kemerahan dengan pinggiran bewarna coklat tua (Semangun 1991).
Penyebab penyakit ini adalah Cercospora sojina Hara. (Syn. C. Daizu, Miura) (Lehman 1928). Alexopoulos & Mims (1996) mengklasifikasikan cendawan C. sojina sebagai berikut:
Klas : Ascomycetes
Ordo : Mycosphaerellales
Famili : Mycosphaerellaceae
Genus : Cercospora
Spesies : sojina
mengurangi kemampuan perkecambahan biji; bercak pada kotiledon merupakan sumber inokulum primer untuk infeksi pada daun muda (Lehman 1928).
Bercak Ungu Biji (Cercospora kikuchii Matsumoto et. Tomoyasu)
Menurut INTSOY (1982) bercak ungu telah menyebar di seluruh dunia. Penyakit ini tidak mengurangi hasil tetapi jika intensitas tinggi dapat menyebabkan pewarnaan pada biji. Perubahan warna tidak merusak biji untuk diproses karena warnanya menghilang pada saat pemanasan. Perubahan warna bervariasi dari merah muda atau ungu pucat ke ungu tua. Daerah perubahan warna mempunyai berbagai ukuran dari bintik sampai bercak tidak teratur atau dapat menutupi seluruh permukaan kulit biji. Benih yang terinfeksi mengurangi persentase perkecambahan dan sering menghasilkan bibit yang sakit. Kotiledon yang terinfeksi menjadi keriput, berubah warna menjadi ungu tua. Infeksi ini dapat menyebar ke batang membentuk daerah nekrotik pada korset batang dan mematikan tanaman yang masih muda. Bibit dapat bertahan hidup jika intensitas serangan rendah, tapi pertumbuhannya akan terhambat.
Penyebab penyakit bercak ungu adalah Cercospora kikuchii Matsumoto et. Tomoyasu (Semangun 1991). Cendawan ini mempunyai konidia hialin, sebagian besar seperti jarum atau ramping, lurus sampai melengkung dengan banyak variasi lengkungan, sering mengerucut di bagian ujung, dengan septa samar sepanjang 0-22 μm, berukuran dari 40-445 μm x 1-6 μm; konidiofor cendawan ini bewarna coklat muda sampai coklat tua, sering bening (hialin) di bagian atas, biasanya sederhana, jarang bersepta, membengkok pada bagian konidia terbentuk, dan dapat terjadi secara tunggal tetapi lebih sering dalam kumpulan tiga sampai 20 atau lebih; konidiofor muncul dari stroma yang terdiri dari kumpulan sel bulat padat tidak teratur dan sebuah konidiofor berkembang pada akhir setiap rantai stroma (Lehman 1950). Klasifikasi cendawan Cercospora kikuchii menurut Alexopoulos & Mims (1996) adalah:
Klas : Ascomycetes
Ordo : Mycosphaerellales
Famili : Mycosphaerellaceae
Genus : Cercospora
Spesies : kikuchii
kurun waktu satu atau dua minggu setelah tanam di bawah kondisi hangat yang lembab, konidiofor dan konidia muncul pada bagian kotiledon, dan batang yang terinfeksi bertekstur beludru, dengan warna putih keabu-abuan (Lehman 1950).
Busuk Batang, Rebah Semai (damping off), dan Hawar Daun Rhizoctonia (Rhizoctonia solani Keuhn.)
Berbagai macam penyakit yang disebabkan oleh Rhizoctonia, yaitu busuk akar dan batang, damping-off dan hawar daun, telah dilaporkan di semua daerah di dunia yang menanam kedelai. Penyakit ini biasanya terjadi di pembibitan dan tanaman muda. Pada lapisan kortikal luar pangkal batang, tajuk dan akar yang sudah tua muncul gejala khas bewarna coklat kemerahan; gejala tersebut dapat berkembang menjadi kanker, cekung berwarna coklat kemerahan; busuk akar dan batang adalah serangan di tanah yang paling parah dan dapat terjadi pada drainase tanah yang buruk; suhu optimum untuk perkembangan penyakit adalah antara 22-290 C; penyakit busuk akar pada kedelai meningkat ketika tanaman tumbuh di tanah kekurangan kalsium, besi, magnesium, nitrogen, fosfor, belerang atau kombinasi dari mineral-mineral tersebut (Semangun 1991).
Penyebab penyakit ini adalah Rhizoctonia solani yang merupakan cendawan saprofit penghuni tanah; pertumbuhan cendawan ini tergantung pada pasokan nutrisi, kelembaban tanah, suhu, pH, dan persaingan dengan mikroorganisme di dalam tanah lainnya (INTSOY 1982). Klasifikasi cendawan
Rhizoctonia solani menurut Alexopoulos & Mims (1996) adalah: Klas : Basidiomycetes
Ordo : Ceratobasidiales
Famili : Ceratobasidiaceae
Genus : Rhizoctonia
Spesies : solani
Embun Bulu (Peronospora manshurica (Naum) Syd.)
Embun bulu adalah penyakit umum yang terjadi di mana pun kedelai ditanam; gejala penyakit muncul di permukaan atas daun, bewarna hijau pucat dengan bintik-bintik kuning; bentuk lesio tergantung pada usia tanaman, lesio kemudian berubah kelabu coklat sampai coklat tua dengan pinggiran hijau-kekuningan; pada permukaan daun yang lebih rendah dan dalam kondisi cuaca lembab, lesio tertutup dengan gumpalan sporangiofor pucat kelabu atau ungu sehingga mudah dibedakan dari penyakit daun kedelai lainnya (Semangun 1991). Penyakit ini berhubungan sangat erat dengan tanaman kedelai sehingga mampu merubah genetiknya dengan cepat dalam merespon perubahan genetik pada kedelai; tiga puluh tiga ras sudah tersebar luas di dunia (Dunleavy 1971).
Penyebab penyakit ini adalah Peronospora manshurica (Naum) Syd. Patogen ini bersifat biotrofik atau parasit obligat. Sumber inokulum patogen ini adalah benih terinfeksi dan residu vegetasi kedelai baik yang dibudidayakan maupun tumbuh liar (Semangun 1991). Alexopoulos & Mims (1996) mengklasifikasikan P. manshurica sebagai berikut:
Kingdom : Chromista
Klas : Oomycetes
Ordo : Peronosporales
Famili : Peronosporaceae
Genus : Peronospora
Spesies : manshurica
Patogen ini mempunyai sporangiofor dengan percabangan dikotom, sporangium tidak berwarna (hialin). Patogen ini dapat bertahan hidup sampai 1,5 tahun pada benih dan 1 tahun pada sisa pertanaman; sporulasi patogen terjadi pada suhu 18-200 C dan kelembaban udara 95-100%; cuaca panas dan kering dapat menghambat perkembangan dari penyakit ini (INTSOY 1982).
Pustul Bakteri (Xanthomonas campestris Smith.)
berwarna kecoklatan (nekrosis) dengan tepi bercak dikelilingi areal berwarna kuning; pustul dapat bergabung satu sama lain menghasilkan pustul yang lebih lebar, daun menguning dan menyebabkan daun gugur lebih awal sehingga pengisian polong menjadi terganggu; gejala pada polong terdiri dari lesio yang umumnya melingkar, sedikit cekung, dan merah-coklat gelap (INTSOY 1982).
Patogen penyebab penyakit ini adalah bakteri Xanthomonas campestris pv sojensis Smith. Bakteri ini dapat bertahan hidup selama 6-18 bulan pada sisa tanaman di permukaan tanah (Semangun 1991). Penyebaran bakteri melalui percikan hujan, irigasi, aliran air diatas permukaan tanah, dan mesin pertanian; bakteri masuk tanaman melalui lubang alami atau luka yang disebabkan oleh serangga, atau bahkan menyertai penyakit lain seperti karat; setelah di dalam saluran xylem, bakteri dapat bergerak secara sistemik ke daun, batang, dan polong dan ke benih (Lehman 1945).
Seduhan Kompos (Compost Tea)
Mekanisme yang mungkin terjadi dalam pengendalian patogen oleh mikroorganisme menguntungkan adalah mengisi ruang di permukaan daun yang dapat membatasi ruang tumbuh patogen, mampu berkompetisi dalam mencari nutrisi yang dibutuhkan patogen, mengeluarkan senyawa metabolit sekunder, dapat memarasitik patogen secara langsung, serta menstimulasi kekebalan alami tanaman; hal ini dapat didukung karena adanya keanekaragaman hayati yang tinggi terkandung dalam seduhan kompos menurut BBC Laboratories (2001) yaitu:
Tabel 1 Jenis dan kepadatan mikroba dalam seduhan kompos
Jenis mikroba Kepadatan dalam seduhan kompos
Bakteri Aerob >10 juta Colony Forming Units/milliliter (CFU/ml)
Bakteri Anaerob Seperlima dari jumlah bakteri aerob
Cendawan >1000 CFU/ml
Actinomiset >100 CFU/ml
Psudomonas >1 juta CFU/ml
Pemfiksasi Nitrogen >100,000 CFU/ml
BAHAN DAN METODE
Tempat dan Waktu
Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Nematologi Departemen Proteksi Tanaman, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor dan kebun milik petani di Desa Benteng Kecamatan Ciampea Kabupaten Bogor. Penelitian dilaksanakan mulai bulan April 2010 sampai dengan Juni 2010.
Bahan dan Alat
Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah kedelai varietas Merbabu (keterangan varietas pada lampiran 1), pupuk kandang sapi dan ayam yang diperoleh di peternakan sekitar kampus IPB Dramaga, molase (tetes tebu), pupuk urea, KCl, Sp-18.
Alat yang dipakai adalah aerator Resun tipe LP-20 dengan output maksimal 1500 L/jam, ember berkapasitas isi 5 liter, gelas ukur, kain saringan, pengaduk, alat semprot dengan volume 5 liter terbuat dari plastik dengan jenis
hand pressure sprayer.
Penelitian dilaksanakan pada lahan kering dengan persediaan air untuk penyiraman cukup memadai dan dalam musim sebelumnya telah ditanami ubi jalar.
Metode Penelitian
Penelitian dilakukan dengan 4 tahap yaitu; 1) Pembuatan seduhan kompos, 2) Uji kepadatan mikroba dalam filtrat seduhan kompos 3) Penyiapan pertanaman percobaan, 4) Aplikasi, 5) Pengamatan. Penelitian ini disusun dalam rancangan acak kelompok (RAK), tiga ulangan dan 25 perlakuan. Data yang diperoleh diolah sidik ragamnya dengan menggunakan program SAS 9.1.
Pembuatan Seduhan Kompos
perbandingan satu bagian kompos kotoran sapi atau ayam dicampur dengan 4 bagian volume air, ditambah 2 ml molase, diaduk sampai merata dan diaerasi menggunakan aerator Resun LP20 selama 3 hari. Seduhan kompos yang diperoleh kemudian disaring dengan kain kasa. Filtratnya siap digunakan dalam percobaan selanjutnya. Proses pembuatan seduhan kompos secara skematis dikemukakan dalam Gambar 1.
Penghitungan Kepadatan Mikroba dalam Filtrat Seduhan Kompos
Pengamatan dilakukan dengan mencawankan filtrat seduhan kompos berbahan kotoran ayam dan sapi yang ditambah molase dan tidak ditambah molase pada media PDA (potatos dextrose agar). Filtrat seduhan kompos diencerkan dengan menggunakan aquades steril sampai dengan tingkat pengenceran 10-6. Pengamatan dilakukan dengan cara menghitung koloni mikroba yang tumbuh pada pengenceran tersebut dan dihitung populasinya setelah 24 jam.
Penyiapan Pertanaman Percobaan
Percobaan dilakukan pada 25 petak masing-masing berukuran 0.75 m x 1.8 m dengan jarak antar petak 0.5 m. Tata letak petak-petak percobaan diatur
Aerator
Diaerasi Selama 3 hari
Aplikasi Semprot
Aplikasi Siram
Seduhan Kompos Setelah Disaring
Disaring Campuran
Bahan Seduhan Kompos
Ember (6-7 l) Selang
sedemikian rupa (Gambar 2) sehingga pada awal percobaan persebaran penyakit pada pertanaman kedelai percobaan relatif merata.
B1 a3 Bb3 Ab1 A2 Ab3 A1 B3 Ba3 Aa1 b1 A3 b3 B2 Aa3 b2 Ab2 K Ba2 Bb2 a2 Aa2 Bb1 A1 Ba1
Aa1 Bb1 A2 A1 Ab1 Bb3 Ba3 Bb2 B3 b2 Ba1 Ab2 Ba2 b3 Aa2 A1 Ab3 a2 B1 a3 B2 Aa3 b1 K
A3
A1 Ba1 b2 A1 Aa1 b3 Ba3 Ab2 a2 b1 Aa2 Bb2 Ab1 Ba2 A3 Ab3 K Bb1 A2 B3 a3 Bb3 Aa3 B2
B1
Pengolahan tanah dilakukan sampai siap tanam dengan menggunakan cangkul. Pemupukan dilakukan tiga tahap, yaitu pupuk dasar dan pupuk susulan pertama dan susulan ke-2. Pupuk dasar merupakan pupuk kandang terbuat dari kotoran sapi dengan dosis 2 ton/ha diberikan sebelum tanam dan disusul pupuk urea 75kg/ha, SP-18 300kg/ha, KCL 150 kg/ha diberikan ketika tanaman berumur 1 dan 2 bulan setelah benih ditanam.
Benih ditanam dengan cara tugal, 2 biji per lubang tanam dengan jarak tanam 40 cm x 20 cm. Tanaman percobaan dirawat sesuai standar perawatan tanaman kedelai, yaitu penyiangan gulma dan penyiraman, tanpa menggunakan pestisida sintetis.
Aplikasi Seduhan Kompos
Seduhan kompos diaplikasikan dengan penyiraman dan penyemprotan, menggunakan embrat (gembor) dan penyemprotan tajuk menggunakan alat semprot tipe gendong dengan kapasitas isi lima liter. Penyiraman dilakukan pada tanah di daerah perakaran, sedang penyemprotan dilakukan pada tajuk pertanaman
Blok 1
Gambar 2 Tata letak petak-petak percobaan pengaruh seduhan kompos terhadap penyakit pada kedelai
Blok 2
kedelai secara merata. Percobaan dilakukan dalam 25 macam perlakuan, termasuk kontrol. Rincian macam perlakuan dengan masing-masing sandinya adalah sebagai berikut:
1. Disemprot dan disiram seduhan kompos ayam diencerkan 1 kali (Aa1) 2. Disemprot dan disiram seduhan kompos ayam diencerkan 10 kali (Aa2) 3. Disemprot dan disiram seduhan kompos ayam diencerkan 20 kali (Aa3) 4. Disemprot seduhan kompos ayam dan disiram seduhan kompos sapi
diencerkan 1 kali (Ab1)
5. Disemprot seduhan kompos ayam dan disiram seduhan kompos sapi diencerkan 10 kali (Ab2)
6. Disemprot seduhan kompos ayam dan disiram seduhan kompos sapi diencerkan 20 kali (Ab3)
7. Disemprot seduhan kompos ayam diencerkan 1 kali (A1) 8. Disemprot seduhan kompos ayam diencerkan 10 kali (A2) 9. Disemprot seduhan kompos ayam diencerkan 20 kali (A3)
10.Disemprot seduhan kompos sapi dan disiram seduhan kompos ayam diencerkan 1 kali (Ba1)
11.Disemprot seduhan kompos sapi dan disiram seduhan kompos ayam diencerkan 10 kali (Ba2)
12.Disemprot seduhan kompos sapi dan disiram seduhan kompos ayam diencerkan 20 kali (Ba3)
13.Disemprot dan disiram seduhan kompos sapi diencerkan 1 kali (Bb1) 14.Disemprot dan disiram seduhan kompos sapi diencerkan 10 kali (Bb2) 15.Disemprot dan disiram seduhan kompos sapi diencerkan 20 kali (Bb3) 16.Disemprot seduhan kompos sapi diencerkan 1 kali (B1)
17.Disemprot seduhan kompos sapi diencerkan 10 kali (B2) 18.Disemprot seduhan kompos sapi diencerkan 20 kali (B3) 19.Disiram seduhan kompos ayam diencerkan 1 kali (a1) 20.Disiram seduhan kompos ayam diencerkan 10 kali (a2) 21.Disiram seduhan kompos ayam diencerkan 20 kali (a3) 22.Disiram seduhan kompos sapi diencerkan 1 kali (b1) 23.Disiram seduhan kompos sapi diencerkan 10 kali (b2) 24.Disiram seduhan kompos sapi diencerkan 20 kali (b3)
25.Disemprot dan disiram air tanpa seduhan kompos Kontrol (K)
Penyiraman dan penyemprotan dilakukan 10 kali dengan interval satu minggu sekali. Penyiraman dilakukan pada tanah di daerah perakaran dengan dosis 5000 liter per ha, sedangakan penyemprotan dilakukan pada tajuk secara merata dengan dosis 1000 liter per ha.
Pengamatan
menunjukkan gejala parsial, intensitas penyakit dihitung berdasarkan persentase luasan daun yang menunjukkan gejala penyakit per plot.
Untuk penyakit layu atau mati akibat patogen dihitung kejadian penyakit tiap plotnya dengan rumus:
KP =
Keterangan :
KP = Kejadian penyakit
n = Tanaman terserang
N = Tanaman yang diamati
Keefektifan pengendalian relatif terhadap kontrol (TE) dari hasil aplikasi seduhan kompos ditentukan berdasarkan intensitas penyakit pada pengamatan terakhir (6 hari setelah perlakuan terakhir) dengan menggunakan formula Abbot sebagai berikut :
Keterangan :
TE = Keefektifan pengendalian relatif terhadap kontrol
I = Intensitas penyakit
HASIL DAN PEMBAHASAN
Kepadatan Mikroba dalam Seduhan Kompos
[image:31.595.113.396.448.555.2]Hasil pengamatan kepadatan mikroba pada seduhan kompos dengan metode pencawanan pengenceran 10-6 pada media PDA menunjukkan bahwa antara seduhan kompos berbahan kotoran sapi dan ayam baik diberi molase maupun tanpa molase menunjukkan perbedaan yang signifikan. Kepadatan mikroba dalam seduhan kompos berbahan kotoran sapi jauh lebih tinggi dibandingkan dengan seduhan kompos berbahan kotoran ayam (Tabel 2). Dalam Tabel 2 juga dapat dilihat bahwa penambahan molase yang bertujuan meningkatkan kepadatan mikroba dalam seduhan kompos tidak selalu memberikan hasil yang konsisten. Pada seduhan kompos berbahan kotoran sapi yang ditambah molase kepadatan mikrobanya sangat padat dibandingkan dengan tidak ditambah molase. Di pihak lain, pada seduhan kompos berbahan kotoran ayam, pemberian molase justru menurunkan jumlah mikroba. Fenomena hasil pengamatan ini sepenuhnya tidak dipahami.
Tabel 2 Kepadatan mikroba dalam filtrat seduhan kompos Perlakuan a) Jumlah (106 cfu/ml b)) Kotoran Ayam (tanpa molase) 11
Kotoran Ayam + Molase 7 Kotoran Sapi (tanpa molase) 36,67 Kotoran Sapi + Molase 362
a)
Data didapatkan 24 jam setelah pencawanan. b)
cfu = coloni forming unit.
Intensitas Beberapa Jenis Penyakit yang Dominan
faktor abiotik yang kurang mendukung perkembangan penyakit. Percobaan dilaksanakan dalam musim kemarau sehingga kelembaban sangat rendah, tidak mendukung perkembangan penyakit. Selain faktor abiotik, faktor yang mungkin menyebabkan rendahnya serangan patogen adalah rendahnya jumlah inokulum. Areal pertanaman di sekitar lahan percobaan tidak ada tanaman kedelai, atau tanaman lain yang dapat menjadi inang alternatif dari patogen yang menyerang kedelai.
Penyakit Bercak Target
[image:32.595.98.518.400.630.2]Penyakit bercak target yang disebabkan oleh C. cassiicola mulai muncul pada tanaman kedelai berumur dua minggu setelah tanam. Penyakit ini berkembang lambat sehingga sampai pada akhir pengamatan intensitasnya hanya berkisar antara 0.7%, untuk perlakuan yang paling efektif, hingga 2,31 % untuk kontrol.
Tabel 3 Intensitas penyakit bercak target (C. cassiicola) dalam berbagai perlakuan seduhan kompos pada tanaman kedelai umur 11 MST
Sandi a) Bercak Target (C. cassiicola) Intensitas (%) b) TE (%) c)
Aa1 0,90de 61,04
Aa2 0,87de 62,34
Aa3 0,90de 61,04
Ab1 0,83de 64,07
Ab2 1,03cde 55,41
Ab3 0,90de 61,04
A1 1,07cde 53,68
A2 0,87de 62,34
A3 1,10bcde 52,38
Ba1 0,97cde 58,01
Ba2 0,97cde 58,01
Ba3 0,93cde 59,74
Bb1 0,83de 65,37
Sandi Bercak Target (C. cassiicola) Intensitas (%) b) TE (%) c)
Bb2 0,73de 69,70
Bb3 0,77de 66,67
B1 0,70e 69,70
B2 0,77de 66,67
B3 1,10bcde 52,38
a1 1,90ab 17,75
a2 2,00a 13,42
a3 1,77abc 23,38
b1 1,57abcd 32,03
b2 1,77abc 23,38
b3 1,57abcd 32,03
Kontrol 2,31a -
Keterangan : a)
disemprot seduhan kompos ayam dan disiram seduhan kompos sapi diencerkan 10 kali, Bb2 disemprot dan disiram seduhan kompos sapi diencerkan 10 kali, b2 disiram seduhan kompos sapi diencerkan 10 kali, A2 disemprot seduhan kompos ayam dan disiram air diencerkan 10 kali, B2 disemprot seduhan kompos sapi dan disiram air diencerkan 10 kali, Aa3 disemprot dan disiram seduhan kompos ayam diencerkan 20 kali, Ba3 disemprot seduhan kompos sapi dan disiram seduhan kompos ayam diencerkan 20 kali, a3 disiram seduhan kompos ayam diencerkan 20 kali , Ab3 disemprot seduhan kompos ayam dan disiram seduhan kompos sapi diencerkan 20 kali, Bb3 disemprot dan disiram seduhan kompos sapi diencerkan 20 kali, b3 disiram seduhan kompos sapi diencerkan 20 kali, A3 disemprot seduhan kompos ayam dan disiram air diencerkan 20 kali, B3 disemprot seduhan kompos sapi dan disiram air diencerkan 20 kali, K disemprot dan disiram air tanpa seduhan kompos.
b)
Angka sekolom diikuti huruf yang sama tidak berbeda nyata berdasarkan uji Duncan. c)
Keefektifan pengendalian relatif terhadap kontrol.
Intensitas penyakit bercak target, C. cassiicola, pada semua perlakuan yang dikombinasikan dengan penyemprotan seduhan kompos pada tajuk tanaman pada semua tingkat konsentrasi uji, secara nyata lebih rendah dibandingkan dengan kontrol. Hasil ini menunjukkan bahwa semua perlakuan penyemprotan dengan seduhan kompos secara nyata dapat menekan intensitas penyakit bercak target, dengan tingkat efikasi yang cukup tinggi, berkisar antara 52,38 – 69,70 % tergolong agak efektif hingga cukup efektif menurut kategori yang telah ditentukan. Sementara itu, perlakuan penyiraman seduhan kompos tanpa penyemprotan pada tajuk (a dan b), tidak menunjukkan perbedaan nyata dalam intensitas penyakit dibandingkan dengan kontrol.
Penyakit Karat
Penyakit karat mulai muncul pada tanaman kedelai umur dua minggu setelah tanam. Intensitas penyakit ini paling tinggi pada kontrol hanya mencapai 2,77% pada pengamatan terakhir (6 hari setelah aplikasi terakhir).
Tabel 4 Intensitas penyakit karat (P. pachyrizi) dalam berbagai perlakuan seduhan kompos pada tanaman kedelai umur 11 MST
Sandi a) Karat (P. pachyrhizi) Intensitas (%) b) TE (%) c)
Aa1 0,70fg 74,73
Aa2 0,93defg 66,43
Aa3 0,73fg 73,65
Ab1 0,67fg 75,81
Ab2 1,10defg 60,29 Ab3 0,97defg 64,98 A1 1,57bcdef 43,32
A2 0,50g 81,95
A3 0,70fg 74,73
Ba1 1,00defg 63,90 Ba2 1,17cdefg 57,76 Ba3 0,93defg 66,43 Bb1 1,03defg 62,82
Sandi Karat (P. pachyrhizi) Intensitas (%) b) TE (%) c) Bb2 1,07defg 61,37
Bb3 0,80efg 71,12
B1 0,70fg 74,73
B2 0,93defg 66,43
B3 0,57fg 79,42
a1 1,87abcd 32,49
a2 2,17ab 21,66
a3 1,77bcde 36,10
b1 1,43bcdefg 48,38
b2 2,20ab 20,58
b3 2,07abc 25,27
Kontrol 2,77a -
Keterangan : a)
Keterangan sandi perlakuan sama dengan keterangan Tabel 3. b)
Angka sekolom diikuti huruf yang sama tidak berbeda nyata berdasarkan uji Duncan. c)
Keefektifan pengendalian relatif terhadap kontrol.
Penyakit Layu Sclerotium
Gejala penyakit layu mulai muncul pada tanaman kedelai umur tiga minggu setelah tanam. Penyakit ini terus berkembang dengan laju yang sangat bervariasi tergantung perlakuan. Intensitas penyakit paling tinggi (31,20%) pada kontrol dan paling rendah (0 %) pada beberapa perlakuan, Aa1, Aa3, Ba1, Ba3, Bb1 dan a2, semuanya dikombinasikan dengan penyiraman seduhan kompos berbahan kotoran sapi atau ayam.
kontrol, walaupun tingkat efikasi dua perlakuan disebutkan terakhir, B1 dan B2, mencapai nilai efikasi berturut-turut 55,74 % dan 51,92 %.
Tabel 5 Intensitas penyakit layu (S. rolfsii) dalam berbagai perlakuan seduhan kompos pada tanaman kedelai umur 11 MST
Sandi a) Layu (S. rolfsii) Intensitas (%) b) TE (%) c)
Aa1 0c 100
Aa2 2,77bc 91,12
Aa3 0c 100,00
Ab1 2,77bc 91,12
Ab2 2,08c 93,33
Ab3 2,77bc 91,12
A1 21,06ab 32,50
A2 4,17bc 86,63
A3 2,08c 93,33
Ba1 0c 100
Ba2 5,56bc 82,18
Ba3 0c 100
Bb1 0c 100
Sandi a) Layu (S. rolfsii) Intensitas (%) b) TE (%) c)
Bb2 5,93bc 80,99
Bb3 6,67bc 78,62
B1 13,81abc 55,74
B2 15,00abc 51,92
B3 30,00a 3,85
a1 7,64bc 75,51
a2 0c 100
a3 5,13bc 83,56
b1 0c 100
b2 0c 100
b3 4,46bc 85,71
Kontrol 31,20a -
Keterangan : a)
Keterangan sandi perlakuan sama dengan keterangan Tabel 3. b)
Angka sekolom diikuti huruf yang sama tidak berbeda nyata berdasarkan uji Duncan. c)
Keefektifan pengendalian relatif terhadap kontrol.
Pengaruh Seduhan Kompos Terhadap Bobot Basah Tanaman dan Polong
Bobot tanaman pada kontrol dan semua perlakuan yang mendapat seduhan kompos tidak menunjukkan perbedaan nyata (Tabel 6). Tidak berbedanya bobot basah tanaman dan polong dari hasil penelitian salah satunya disebabkan rendahnya intensitas penyakit yang muncul sehingga belum mempengaruhi bobot tanaman dan polong. Umumnya bobot basah tanaman dan polong pada perlakuan seduhan kompos relatif lebih tinggi dibandingkan dengan kontrol, hanya beberapa perlakuan yang lebih rendah yaitu : a1, Aa1, Bb3, a2, B3.
Tabel 6 Bobot basah tanaman dan polong per plot dalam berbagai perlakuan seduhan kompos pada tanaman kedelai
Sandi a) Bobot Basah (g) Tanaman b) Polong b) Aa1 232,9a 107,61a Aa2 351,7a 221,09a Aa3 309,9a 164,17a Ab1 296a 202,79a Ab2 322,4a 151,49a Ab3 265,3a 141a A1 381,2a 197,41a A2 284,7a 120,77a
A3 379,3a 221a
Ba1 336,9a 198,16a Ba2 448,1a 216,08a Ba3 263,3a 141,49a Bb1 265,5a 164,12a
Sandi Bobot Basah (g) Tanaman b) Polong b) Bb2 426,7a 209,99a Bb3 228,2a 114,47a
B1 277a 145,95a
B2 335,8a 175,35a B3 207,3a 111,17a a1 251,4a 118,90a
a2 220a 108,33a
a3 332,9a 165,84a b1 368,1a 169,51a b2 297,6a 166,31a
b3 439a 220,07a
Kontrol 262,2a 124,54a
Keterangan : a)
Keterangan sandi perlakuan sama dengan keterangan Tabel 2. b)
PENUTUP
Kesimpulan
Seduhan kompos berbahan kotoran sapi dan ayam pada tiga tingkat pengenceran yang diuji (1 kali, 10 kali dan 20 kali) efektif dan memiliki prospek untuk pengendalian penyakit bercak target yang disebabkan oleh Corynespora cassiicola, penyakit karat yang disebabkan oleh Phakopsora pachyrizi dan penyakit layu yang disebabkan oleh Sclerotium rolfsii pada tanaman kedelai.
Untuk pengendalian penyakit bercak target oleh C. cassiicola dan karat oleh
P. pachyrizi seduhan kompos perlu diaplikasikan dengan penyemprotan pada tajuk, sedang untuk pengendalian penyakit layu oleh S. rolfsii perlu diaplikasikan dengan cara penyiraman pada daerah perakaran. Aplikasi dapat dilakukan secara tunggal maupun dikombinasikan dengan penyemprotan. Aplikasi kombinasi penyemprotan tajuk dan penyiraman di daerah perakaran efektif untuk pengendalian tiga macam penyakit tersebut secara bersamaan.
Saran
DAFTAR PUSTAKA
Alexopoulos CJ, Mims CW. 1996. Introductory Mycology(4th). John Mildew and Sons. New York.
Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. 2007. Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai Ed 2. Jakarta. 77 hal.
BPS (Badan Pusat Statistik). 1999. Produksi tanaman padi dan palawija di Indonesia. Jakarta. 108 hal.
_________________________. 2010. Data Kedelai 2005-2010. http://www.bps. go.id. [14 Oktober 2010].
Balitkabi. 2003. Perkembangan dan Deskripsi Varietas Unggul Kedelai 1918 2002. http://www. deptan.go.id. [16 Oktober 2010]
BBC Laboratories. 2001. Compost tea microbial quality guide. BBC Laboratories Inc.http://www.p2pays.org/compost/BBCcompostteaguide.pdf.
Boedijn KB. 1960. The Uredinales of Indonesia. Nova Hedwigia 1: 463-495. Boosalis MG. 1950. Studies on parasitism of Rhizoctonia solani Keuhn on
soybean . Phytopatholgy 40:820-831.
Boosalis MG, Hamilton RI. 1957. Root and stem rot of soybean caused by
Corynespora casiicola . Plant Disease Reporter 41:696-698.
Deptan (Departemen Pertanian). 2007. Prospek dan Arah Pengembangan Produksi Kedelai. http://www. litbang.deptan. go.id. [10 Agustus 2010]. ___________________________. 2008. Konsumsi Kedelai Nasional.
http://www.deptan. go.id. [14 Oktober 2010].
___________________________. 2010. Perkiraan Kebutuhan Kedelai Nasional. http://www.deptan. go.id. [14 Oktober 2010].
Dunleavy JM. 1971. Races of Peronospora manshurica in the United States. Am. J. Bot. 58.
Hardaningsih SN. 1990. Penyakit-penyakit baru yang disebabkan jamur pada tanaman kacang-kacangan di Jawa Timur. Seminar Hasil Penelitian Tanaman Pangan, Balittan, Malang, Maret 1990, 12 hlm.
Hardanigsih SN, Pusposendjojo, Sudarmadi. 1986. Hubungan antara serangan jamur karat (Phakopsora pachyrhizi syd) dengan hasil kedelai. Penelitian Pertanian 1(2):72-78.
Hidayat OO. 1985. Morfologi tanaman kedelai, hal 73-84. Dalam S Somaatmadja, M Ismunadji, Sumarno, M Syam, O Manurung, Yuswadi (Eds.). Kedelai. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Tanaman Pangan Bogor. Bogor.
Ingham ER. 2000. The Compost Tea Brewing Manual. Unisun Communications, Corvallis, OR.
_________. 2003. The Compost Tea Brewing Manual, 3rd Edition. Soil Food Web, Inc., Corvallis, OR.
INTSOY (Internatinol Soybean Program). 1982. Compendium of Soybean Disease. J.B. Sinclair (Ed.). The American Phytophatology Society. Koens AJ. 1949. Dalam CJJ van Hall en C van de Koppel (Ed.). Landbouw in
den Indische Archipel, IIA: 258-274.
Lehman SG. 1928. Frog-eye Leaf Spot of Soybean. NC. Agric. Exp. Stn. Bull. 369.
_________. 1945. Three important foliage disease of soybeans. Research and Farming, N. C. Agric. Exp. Stn. 4.
_________. 1950. Purple stain of soybean caused by Cercospora. J. Agric Res. 36.
Marchetti MA, Uecker FA, Bromfield KR. 1975. Uredial development of
Phakopsora pachyrizi on soybean. Phytopathology 65.
Mattjik AA, dan Sumertajaya IM. 2006. Perancangan Percobaan. IPB Press. Bogor.
Prihatman K. 2000. Kedelai (Glycine max). http://www.ristek.go.id. [14 Oktober 2010].
Purseglove JW. 1968. Tropical Crops: Dicotyledons. Longmans Green & Co., Ltd., London, 719 hlm.
Purwono dan Purnamawati H. 2007. Budidaya 8 Jenis Tanaman Unggul. Penebar Swadaya. Jakarta. 139 hal.
ROU (Recycle Organics Unit). 2006. Compost tea use for pest and disease suppression in NSW, 2th. http://www.recycledorganics.com. [15 April 2008].
__________________________. 2007. Overview of Compost Tea Use in New South Wales, 2th. http://www.recycledorganics.com. [15 April 2008]. Scheuerell S, Mahaffee W. 2002. Compost tea: principles and prospectfor plant
disease control. Compost Science and Utilization 10(4):313-338.
Seaman WL, Shoemaker RA, Peterson EA. 1965. Pathogenicity of Corynespora casiicola on soybean. Canada. J. Bot.
Semangun H. 1991. Penyakit-Penyakit Tanaman Pangan di Indonesia. Gajah Mada University Press. Yogyakarta.
Sudjono MS. 1984. Epidemiologi dan pengendalian penyakit karat kedelai [Disertasi]. Bogor: Fakultas Pertanian, IPB, 151 hlm.
Tiffany LH. 1951. Delayed sporulation of Colletotrichum on soybean.
Tiffany LH, Gilman JC. 1954. Species of Colletotrichum from legumes.
Mycologia 46. 52-75
LAMPIRAN
Lampiran 1 Deskripsi varietas Merbabu
Asal : persilangan Orba/Si Nyonya Hasil rata-rata : 1,6t/ha
Warna hipokotil : ungu Warna batang : hijau Warna daun : hijau tua Warna bulu : coklat Warna bunga : ungu Warna polong tua : coklat tua Warna kulit biji : kuning
Warna hilum : coklat kehitaman Tipe tumbuh : semi determinit Umur berbunga : 36 hari
Umur matang : 85 hari Tinggi tanaman : 50-80 cm Berat 100 biji : 10,0 gram Kadar protein : 45% Kadar lemak : 20%
Sifat-sifat lain : -tahan rebah, agak tahan terhadap penyakit karat Dilepas tahun : 1986
Diseleksi oleh : Balittan Bogor
Gambar 3 Gejala penyakit bercak target
Gambar 4 Konidia Corynespora cassiicola
(Perbesaran 2 x 104 kali) Lampiran 2 Foto penelitian
[image:43.595.204.384.339.484.2]Gambar 6 Uredospora Phakopsora pachyrizi
[image:44.595.179.410.285.494.2](Perbesaran 3 x 104 kali)
Gambar 8 Sklerotia dari Sclerotium rolfsii
[image:44.595.179.408.549.723.2]POTENSI SEDUHAN KOMPOS (
COMPOST TEA
) SEBAGAI
AGENS PENGENDALI BEBERAPA PENYAKIT PADA
KEDELAI (
Glycine max (L) Merril)
REDI PRIMASETIA
DEPARTEMEN PROTEKSI TANAMAN
FAKULTAS PERTANIAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
ABSTRAK
REDI PRIMASETIA. Potensi Seduhan Kompos Sebagai Agens Pengendali Beberapa Penyakit pada Kedelai Glycine max (L) Merril di bawah bimbingan ABDUL MUIN ADNAN.
Seduhan kompos berbahan kotoran sapi dan ayam diuji keefektifannya terhadap beberapa penyakit yang muncul pada tanaman kedelai. Seduhan kompos dicampur dengan molase dan diaerasi selama tiga hari, kemudian diaplikasikan dengan metode penyemprotan dan penyiraman. Aplikasi dilakukan 10 kali dengan interval satu minggu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa seduhan kompos berbahan kotoran sapi dan ayam pada tiga tingkat pengenceran (1 kali, 10 kali, 20 kali) yang diaplikasikan pada tajuk efektif mengendalikan penyakit bercak target oleh C. casiicola dan penyakit karat oleh P. pachyrizi, serta aplikasi dengan cara penyiraman di daerah perakaran efektif mengendalikan penyakit layu oleh S. rolfsii. Aplikasi kombinasi penyemprotan tajuk dan penyiraman akar efektif mengendalikan tiga penyakit tersebut. Penelitian lebih lanjut masih diperlukan pada musim penghujan ketika berbagai jenis penyakit kedelai terjadi dalam intensitas tinggi.
Latar Belakang
Kedelai merupakan tanaman yang tumbuh tegak dan berupa semak. Kedelai yang dikenal sekarang mempunyai nama latin Glycine max (L) Merril berasal dari Cina Utara di daerah Manshukuo. G. max merupakan hibridisasi antara Glycine ussuriensis (Regel.) yang terdapat liar di seluruh Asia bagian timur, dengan
Glycine tomentosa (Benth.) yang tumbuh liar di Cina bagian selatan (Prihatman 2000). Kedelai sangat penting sebagai sumber protein dalam rangka peningkatan gizi masyarakat, karena selain aman bagi kesehatan juga relatif lebih murah dibandingkan dengan protein hewani. Pemanfaatan kedelai dapat sebagai bahan makanan baik secara langsung seperti direbus, maupun dalam bentuk olahan seperti tahu, tempe, susu kedelai, kecap dan lainnya. Saat ini pemerintah telah menetapkan kedelai sebagai salah satu komoditas prioritas dan diharapkan tahun 2010 sekitar 60% kebutuhan kedelai dalam negeri dapat tercukupi serta mencapai swasembada kedelai pada tahun 2015 (Deptan 2008).
Kebutuhan kedelai di Indonesia mencapai 1,9 juta ton pada tahun 2007, sedangkan produksi dalam negeri dalam 2007 hanya 775 ribu ton. Untuk memenuhi kebutuhan diperlukan impor dalam jumlah besar yaitu 1,3 juta ton. Produksi kedelai dalam negeri tahun 2007 adalah 775 ribu ton dengan luas areal penanaman 591 ribu ha dan pada tahun 2010 luas areal meningkat menjadi 672 ribu ha dengan produksi mencapai 905 ribu ton (BPS 2010). Konsumsi kedelai per kapita pada 1998 mencapai 9 kg/tahun, 2007 naik menjadi 10 kg/tahun. Jika rataan konsumsi per kapita 10 kg/tahun maka dengan jumlah penduduk 220 juta dibutuhkan kedelai 2.2 juta ton lebih per tahun (Deptan 2008).
OPT kedelai dapat menyebabkan penurunan kualitas dan kuantitas produksi. Beberapa OPT yang menyerang kedelai antara lain adalah serangga seperti lalat kacang (Ophiomyia phaseoli), ulat grayak (Spodoptera litura), kutu kebul (Bemisia tabaci), pemakan polong (Helicoverpa armigera), penggerek polong (Etiella zinckenella), penghisap polong (Riptortus linearis, Nezara viridula), kutu daun (Aphis glycines) sedangkan patogen penyebab penyakit antara lain adalah rebah kecambah/bibit (Rhizoctonia solani), karat (Phakopsora pachyrizi),
Sclerotium rolfsii dan Xanthomonas campestris (Balitkabi 2008). Berbagai macam pengendalian OPT pada kedelai telah dilakukan baik menggunakan pestisida berbahan kimia sintetik dan organik maupun memanfaatkan agens pengendali hayati. Penggunaan pestisida kimia sintetik dianggap paling efektif karena hasilnya langsung terlihat dalam waktu singkat jika dibandingkan dengan pengendalian lainnya. Akan tetapi penggunaan pestisida sintetik selain mahal juga memberikan dampak negatif yang membahayakan konsumen, lingkungan bahkan petani itu sendiri. Oleh karena itu, perlu dikembangkan suatu agens pengendali terhadap OPT yang ramah lingkungan mudah didapatkan, mudah dibuat, dan mudah diaplikasikan. Salah satunya adalah seduhan kompos (compost tea).
Penelitian ini bertujuan mengetahui potensi seduhan kompos untuk pengendalian beberapa penyakit penting pada tanaman kedelai.
Manfaat Penelitian
Tanaman Kedelai
Kedelai (Glycine max Merr.), di alam tidak terdapat sebagai tumbuhan liar, diduga berasal dari hibridisasi antara Glycine ussuriensis (Regel.) yang terdapat liar di seluruh Asia bagian timur, dan Glycine tomentosa (Benth.) yang tumbuh liar di Cina bagian selatan. Kedelai sudah lama dibudidayakan di indonesia, khususnya di Jawa dan Bali (Koens 1949, Purseglove 1969).
Menurut Hidayat (1985) kedelai (G. max) yang dibudidayakan di Indonesia merupakan tanaman semusim, tumbuh tegak dengan tinggi 40-90 cm, dapat bercabang sedikit atau banyak tergantung kultivar dan lingkungan hidup, memiliki daun tunggal dan daun bertiga; daunnya kebanyakan ditumbuhi bulu (trikoma) berwarna abu-abu atau coklat yang tidak telalu padat, walaupun ada yang tidak berbulu; bunganya berkelompok, terdapat 5 sampai 35 bunga tergantung kondisi lingkungan tumbuh dan varietas kedelai. Setiap polong matang berisi satu sampai lima biji; umur tanaman antara 72-90 hari. Kedelai introduksi umumya tidak memiliki atau memiliki sedikit percabangan dan sebagian bertrikoma padat baik pada daun maupun polong. Klasifikasi dari G. max menurut Merrill adalah:
Klas : Dycotyledone
Ordo : Polypetales
Famili : Leguminosae
Genus : Glycine
Subgenus : Soja
Spesies : max
berkecambah setelah empat hari ditanam. Tanaman kedelai dapat tumbuh baik sampai ketinggian 1.500 m dpl. Penelitian di Indonesia menunjukkan bahwa hasil kedelai lebih tinggi pada dataran tinggi dibandingkan dengan dataran rendah. Memasuki periode pengisian polong suhu harian yang baik untuk pertanaman kedelai adalah tidak melebihi 350 C dengan kelembaban nisbi yang relatif rendah (±70%) (Purwono & Purnamawati 2007).
Beberapa Penyakit Penting pada Kedelai
Penurunan produksi tanaman kedelai disebabkan oleh beberapa hal. Satu di antaranya adalah penyakit, jenis penyakit dibagi menjadi dua yaitu penyakit tidak menular yang disebabkan oleh faktor abiotik seperti kekurangan unsur hara, kekurangan cahaya, suhu ekstrim, pH yang tidak sesuai, dan penyakit yang disebabkan oleh biotik (patogen) yang dapat menular. Berbagai jenis patogen dari golongan cendawan, bakteri dan virus didapatkan menyerang kedelai di lapangan dan beberapa di antaranya merupakan patogen kunci yang dapat menurunkan produktivitas tanaman kedelai.
Layu Sclerotium (Sclerotium rolfsii Sacc.)
Penyakit layu ini pertama ditemukan pada kedelai di Amerika tahun 1924, selanjutnya ditemukan di Brasil, Kanada, India. Pada tanaman yang sudah tua dapat menyebabkan layu, yang diikuti oleh mengeringnya daun dan membusuknya pangkal batang, akhirnya tanaman mati. Kelayuan dapat terjadi pada tanaman stadia vegetatif hingga stadia generatif. Gejala ketika kecambah belum muncul di permukaan tanah disebut preemergence damping-off dan ketika kecambah sudah muncul di permukaan tanah disebut postemergencedamping-off. Penyakit ini sangat berbahaya jika terjadi pada biji kedelai di penyimpanan atau dalam pengiriman, karena satu dapat berkembang pada biji yang masih sehat.
Penyebab layu ini adalah cendawan Sclerotium rolfsii (Semangun 1991) dan diklasifikasikan oleh Alexopoulos & Mims (1996) sebagai berikut:
Klas : Basidiomycetes
Ordo : Agaricales
Famili : Typhulaceae
Genus : Sclerotium
Patogen ini termasuk cendawan penghuni tanah dan mempunyai miselia bewarna putih terlihat pada pangkal batang. Sklerotia cendawan ini terbentuk pada miselia-miselia yang tumbuh, berwarna putih yang kemudian mengeras bewarna hitam kecoklatan. Patogen ini biasa menyerang tanaman pada umur 2-3 minggu; cendawan dapat tumbuh pada suhu 1-320 C, optimal pada suhu 240 C; sklerotia (diameter 0,5-2 mm) dapat bertahan di dalam tanah hingga satu tahun, sangat resisten terhadap fungisida, tahan panas sampai 700 C dan tahan pembekuan (INTSOY 1982).
Karat (Phakopsora pachyrhizi Syd.)
Penyakit karat kedelai tersebar luas di seluruh Indonesia dan telah dilaporkan sejak tahun 1899 di Yogyakarta dan Surakarta. Pada tahun 1949 Boedjin (1960) menemukan penyakit karat pada kedelai, yang cendawannya diidentifikasi sebagai Phakopsora pachyrhizi (Syd.). Penyakit ini tersebar luas di Asia Tenggara dan Asia Timur, juga terdapat di Australia dan Afrika, Amerika Tengah dan Amerika Selatan. Karena dianggap merugikan, penyakit karat kedelai mendapat perhatian internasional yang cukup besar.
Gejala tampak pada daun, tangkai daun dan kadang-kadang pada batang. Mula-mula terjadi bercak-bercak kecil kelabu atau bercak yang sedikit demi sedikit berubah menjadi coklat atau coklat tua. Bercak bersudut-sudut, karena dibatasi oleh pertulangan daun dekat tempat infeksi. Umumnya gejala karat mula-mula tampak pada daun bagian bawah, lalu berkembang ke daun-daun yang lebih muda; cendawan karat dapat menginfeksi keping biji dan tanaman yang terserang berat daunnya lebih cepat gugur, sehingga hasil berkurang (Hsu & Wu 1968).
Cendawan P. pachyrhizi mempunyai bentuk uredium agak bervariasi, berkisar dari putih suram, kuning kelam, atau coklat sampai coklat merah jambu tergantung faktor-faktor lingkungan, seperti cahaya, kelembaban, dan suhu. Uredospora bergerigi berbentuk bulat telor bewarna kuning keemasan sampai coklat muda. P. pachyrhizi menurut Alexopoulos & Mims (1996) diklasifikasikan sebagai berikut:
Klas : Basidiomycetes
Ordo : Uredinales
Famili : Uromyces
Genus : Phakopsora
Patogen dapat dipencarkan melalui bantuan angin dan percikan air hujan, dengan uredospora yang bertindak sebagai inokulum dari musim ke musim. Jika cuaca menguntungkan, uredospora akan berkecambah dan menginfeksi tanaman sehat. Uredospora akan berkecambah dan masuk langsung (penetrasi) ke dalam jaringan daun jika pada permukaan daun terdapat air bebas. Suhu optimum untuk perkecambahan uredospora adalah 15-25o C dengan embun selama 10-12 jam; infeksi tidak terjadi apabila suhu lebih dari 27,50 C (Marcheti et al. 1975). Jika satu bercak rata-rata dapat memproduksi lebih dari 12.000 uredospora dalam 4-6 minggu, dengan lebih dari 400 bercak mungkin akan terjadi serangan yang berat (Semangun 1991).
Bercak Target (Corynespora cassiicola Berk. Et Curt) Wei.
Penyakit ini tidak menimbulkan kerugian berarti di Indonesia (Hardaningsih 1990). Tetapi, di Amerika kerugian dapat mencapai 18-32 % saat intensitas hujan tinggi sekitar bulan Agustus dan September (INTSOY 1982).
Menurut Boosalis & Hamilton (1957) gejala penyakit dapat terjadi pada daun, tangkai daun, batang, polong, biji, bahkan akar. Pada daun terdapat bercak besar, cenderung bundar sampai tidak beraturan, bewarna coklat kemerahan dengan diameter 10-15 mm, dikelilingi halo hijau pucat sampai kekuningan, jika bercak sudah tua dapat pecah menjadi lubang pada daun. Pada tangkai dan batang bewarna coklat tua, berbentuk bintik hingga memanjang, pada polong berbentuk bulat berdiameter sekitar 1 mm bewarna coklat pada pinggirnya dan coklat keunguan pada tengahnya. Jika serangan menembus polong akan terbentuk bercak coklat kehitaman pada biji.
Penyebab penyakit ini adalah cendawan Corynespora cassiicola (Semangun 1991). Cendawan ini mempunyai miselium lurus memanjang putih pada awalnya dan berubah menjadi abu-abu gelap, terdiri dari 1 sampai 20 sekat dengan ukuran 44-350 μm x 4-11 μm pada sekat ketiga sampai lima dengan rata-rata panjang
optimal pada suhu 18-210 C (Seaman et al. 1965). Alexopoulos & Mims (1996) mengklasifikasikan cendawan C. cassiicola sebagai berikut:
Klas : Ascomycetes
Ordo : Pleosporales
Famili : Corynesporascaceae
Genus : Corynespora
Spesies: cassiicola
Antraknosa (Colletotrichum truncatum (Schw.)
Antraknosa pada kedelai sudah cukup lama dikenal dan tersebar luas di Indonesia. Meskipun penyakit ini dianggap kurang merugikan, namun dalam cuaca lembab kerugian yang ditimbulkan cukup berarti. Semua stadia kedelai baik vegetatif maupun generatif dapat terserang. Gejala penyakit biasa tampak pada batang, tangkai polong, dan polong. Daun juga dapat terserang namun tidak menimbulkan gejala atau kemungkinan gejala yang tidak jelas. Penyakit ini dapat meningkat pesat pada cuaca lembab, jika musim hujan intensitasnya dapat sangat tinggi; cabang dan daun bagian bawah akan mati, polong akan bewarna coklat kehitaman dan biji bebercak hitam, bewarna coklat gelap; bagian yang terserang dapat ditutupi tubuh buah hitam (aservuli) yang dilengkapi dengan seta bewarna hitam yang dapat dilihat dengan mata telanjang; serangan pada benih menyebabkan benih gagal berkecambah (busuk benih), preemergence damping-off dan postemergence damping-off (Tiffany & Gilman 1954).
Penyebab penyakit antraknosa adalah Colletotrichum truncatum atau
Colletotrichum dematium var. truncatum yang mempunyai aservulus bewarna hitam dengan bentuk yang tidak teratur dengan seta bewarna coklat kehitaman dengan panjang 60-300 μm x 3-8 μm (Semangun 1991). Klasifikasi cendawan C. truncatum menurut Alexopoulos & Mims (1996) adalah:
Klas : Ascomycetes
Ordo : Phyllachorales
Famili : Phyllachoraceae
Genus : Colletotrichum
Spesies : truncatum
ukuran 17-31 μm x 3-4,5 μm. Konidia cendawan dapat tumbuh pada suhu 28-340 C, pemencaran konidia dibantu dengan air karena konidia terikat oleh massa lendir.
Bercak Daun Cercospora (Cercospora sojina Hara.)
Penyakit ini juga disebut bercak mata katak (frog eye spot). Penyakit ini pertama dilaporkan di Jepang tahun 1915 kemudian di Amerika tahun 1924 dan mulai tersebar di