STUDI MORFOMETRIK UKURAN TUBUH KUDA DELMAN DI SULAWESI UTARA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2011
RINGKASAN
FUAD HASAN HARAHAP D14070013. 2011. Studi Morfometrik Ukuran Tubuh Kuda Delman di Sulawesi Utara. Skripsi. Departemen Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan, Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor.
Pembimbing Utama : Prof. Dr. Ir. Ronny R. Noor, M. Rur. Sc Pembimbing Anggota : Ir. Rini H. Mulyono, M. Si
Penggunaan kuda sebagai alat transportasi (delman/bendi) sudah dikenal masyarakat sejak dahulu. Kuda masih tetap digunakan sebagai alat transportasi (delman/bendi) di beberapa wilayah Indonesia sampai saat ini. Penelitian kuda delman berdasarkan morfometrik masih sedikit dilakukan di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk menggolongkan kuda delman Sulawesi Utara yang meliputi beberapa lokasi berdasarkan variabel pembeda ukuran-ukuran tubuh dan menentukan ketidakserupaan morfometrik dari berbagai lokasi pengamatan tersebut. Data ukuran-ukuran tubuh kuda delman berasal dari Manado, Minahasa, Minahasa Selatan dan Tomohon yang berada di Sulawesi Utara. Ukuran-ukuran tubuh kuda delman yang digunakan meliputi lebar dada, dalam dada, tinggi pundak, tinggi pinggul, lebar pinggul, panjang badan, panjang paha, panjang leher, lebar kepala dan panjang kepala.
Pengolahan data ukuran-ukuran tubuh kuda delman menggunakan analisis deskriptif, uji T2-Hotelling, analisis diskriminan Fisher, Wald-Anderson dan jarak minimum D2-Mahalanobis. Berdasarkan hasil analisis deskriptif ukuran tubuh kuda delman betina lebih besar dibandingkan kuda delman jantan. Hasil uji T2-Hotelling menunjukkan adanya perbedaan ukuran tubuh antara kuda delman jantan dan betina pada setiap lokasi pengamatan (P<0,05) dan antara dua lokasi pengamatan pada masing-masing jenis kelamin (P<0,05).
Berdasarkan hasil analisis diskriminan Fisher ditemukan lima variabel pembeda, yaitu lebar dada (X1), tinggi pundak (X3), lebar pinggul (X5), panjang badan (X6) dan panjang paha (X7) pada kuda delman jantan Manado vs Minahasa; enam variabel pembeda, yaitu lebar dada (X1), dalam dada (X2), tinggi pundak (X3), tinggi pinggul (X4), lebar pinggul (X5) dan panjang paha (X7) pada kuda delman jantan Manado vs Tomohon dan enam variabel pembeda, yaitu lebar dada (X1), dalam dada (X2), tinggi pundak (X3), tinggi pinggul (X4), lebar pinggul (X5) dan panjang paha (X7) pada kuda delman jantan Minahasa vs Tomohon. Berdasarkan hasil analisis diskriminan Fisher ditemukan satu variabel pembeda, yaitu panjang kepala (X10) pada kuda delman betina MinahasavsMinahasa Selatan; empat variabel pembeda, yaitu lebar dada (X1), tinggi pundak (X3), tinggi pinggul (X4) dan panjang paha (X7) pada kuda delman betina Minahasa Selatan vs Tomohon. Variabel pembeda tidak ditemukan pada kuda delman jantan Manado vs Minahasa Selatan, Minahasa vs Minahasa Selatan, Minahasa Selatan vs Tomohon dan kuda delman betina Manado vs Minahasa, Manado vs Minahasa Selatan, Manado vs Tomohon, MinahasavsTomohon.
Hasil analisis Wald-Anderson menemukan kesalahan penggolongan secara statistik dengan faktor koreksi 78,68% pada kuda delman jantan Manado vs
Minahasa; 87,95% pada kuda delman jantan Manado vs Tomohon; 76,68% pada kuda delman jantan Minahasa vs Tomohon. Hasil analisis Wald-Anderson
ii menemukan kesalahan penggolongan secara statistik dengan faktor koreksi 79,33% pada kuda delman betina Minahasavs Minahasa Selatan; 91,43% pada kuda delman betina Minahasa SelatanvsTomohon.
Jarak minimum D2-Mahalanobis pada kuda delman jantan Manado dan Minahasa ditemukan sebesar 1,6458; Manado dan Tomohon 3,0353; Minahasa dan Tomohon 1,6151. Jarak minimum D2-Mahalanobis pada kuda delman betina Minahasa vs Minahasa Selatan ditemukan sebesar 1,3314; Minahasa Selatan dan Tomohon 3,4642. Dendogram ketidakserupaan morfometrik yang dihasilkan, menunjukkan titik percabangan 1,1703 yang membagi kuda delman jantan menjadi dua kelompok, yaitu kuda delman jantan Minahasa dan Tomohon yang membentuk satu kelompok (kelompok A) dan kelompok kuda delman jantan Manado (kelompok B). Kelompok A yang meliputi kuda delman jantan Minahasa dan Tomohon dipisahkan pada titik percabangan 0,8075. Kesimpulan yang diperoleh adalah kuda delman jantan Minahasa dan Tomohon memiliki morfometrik tubuh yang lebih dekat daripada antara kuda delman jantan Minahasa dan Manado berdasarkan variabel-variabel pembeda yang ditemukan.
Kata-kata kunci: kuda delman, statistik deskriptif, analisis diskriminan Fisher, Wald-Anderson, D2-Mahalanobis, dendogram ketidakserupaan
ABSTRACT
Morphometric Study of Horse Wagon in Sulawesi Utara Harahap, F.H., R. R. Noor and R. H. Mulyono
This research use secondary data obtained from Takaendengan, B. J. (Samratulangi University). The study was conducted from February to May 2011. The data were analized at the Laboratory of Genetics and Animal Breeding Section, Faculty of Animal Science, Bogor Agricultural University. North Sulawesi horses allegedly is the result of crosses between some of European and local horses. Genetic information on North Sulawesi, especially horse wagon is limited so that the genetic approach through morphometric study were done. Morphometric traits include chest width, chest depth, shoulder height, hip height, hip width, body length, thigh length, neck length, head width and head length analized. The data were analized using descriptive analyse to determine the diversity of the horse population, Fisher discriminant analysis was used in order to identify variables that distinguish the character of the horse population.
Result shows that the body size of female is larger than male. The results show differences in body size based on T-Hotelling test. The classification of male and female horse wagon in Manado, Minahasa, Minahasa Selatan and Tomohon based on observed body size was found. Based on Fisher discriminant analysis it was found that the difference in body size of male and female in Minahasa, male and female in Minahasa Selatan, male in Manado vs Minahasa, male in Manado vs Tomohon, male and female Minahasa vs Tomohon, male and female in Minahasa Selatan vs Tomohon, female in Manado vs Minahasa Selatan and female Minahasa vs Minahasa Selatan. Male in Manado vs Minahasa Selatan, Male in Minahasa vs Minahasa Selatan, female in Manado vs Minahasa and female in Manado vs Tomohon didn’t differbased on Fisher Discriminant analysis.
Based on the Wald-Anderson’s analysis, it is found the statistical error in placement in male Manado vs Minahasa, male in Manado vs Tomohon, male in Minahasa vs Tomohon, female in Minahasa vs Minahasa Selatan and female in Minahasa Selatan vs Tomohon. Result obtained from analysis of the minimum D2 Mahalanobis distance of body measurement only found in male. The minimum D2 Mahalanobis distance of body measurement in male Minahasa and Tomohon is lower. Base on the study, it can be conducted that the classification of horse wagon can be done based on body measurement.
Keywords: horse wagon, descriptive analysis, Fisher discriminant analysis, Wald-Anderson, D2-Mahalanobis, dendogram unsimilarity
PENDAHULUAN