• Tidak ada hasil yang ditemukan

UNTUK PAKAN RUMINANSIA

INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2012

DAFTAR PUSTAKA

Anwar, A .1989. Nilai nutrisi ogrea (campuran onggok dan urea yang difermentasi dengan Aspergillus niger) pada ruminansia. Skripsi, Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor, Bogor.

Anggorodi, 1979. Ilmu Makanan Ternak Umum. PT Gramedia, Jakarta.

Arora, S. P. 1995. Pencernaan Mikroba pada Hewan Ruminansia. Terjemahan: R. Muwarni. Gajah Mada University Press, Yogyakarta.

Badan Pusat Statistik. 2009. Statistik Perkebunan Indonesia 2000-2009 (Kopi), Jakarta.

Braham, J. E. & R. Bressani. 1979. Coffee Pulp Composition, Technology and Utilization. International Development Research Center. Ottawa, Canada. Cullison, A. E, T.W. Perry & R. S. Lowrey. 2003. Feeds and Feeding. Sixth Edition.

Prentice Hall, New Jersey.

Gandjar, I. 1983. Perkembangan Mikrobiologi dan Bioteknologi di Indonesia. Jakarta: Mikrobiologi di Indonesia. PR HIMJ. PP. 422-424.

Hartadi, H., S. Reksohadiprodjo & A. D. Tillman. 1997. Tabel Komposisi Pakan untuk Indonesia. Gajah Mada University Press, Yogyakarta.

Indrayani, I. 1991. Koefisien cerna in vitro, produksi VFA total dan NH3 jerami padi yang difermentasikan dengan jamur Pleurotus ostreatus. Skripsi. Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor, Bogor.

Kaufmann, W. H., Hagemier & G. Dirksen. 1980. Adaptation to Changes in Dietary Compotition Level and Frequency of Feeding. Ct AVI publishing, Westport. Kementrian Pertanian. 2012. Statistik Pertanian 2011. Jakarta: Pusat Data dan

Informasi Pertanian.

Kuo M. 2005. Pleurotus ostreatus: The oyster mushroom.

http://www.mushroomexpert.com/pleurotus_ostreatus.html [30 Mei 2012]. Linko, M. 1997. Biological treatment of straw at commercial farm levels, pp.39-50.

Proc. Of New Feed Resources, In: FAO (Ed). New Feed Resources. Proc. of a Tech. Consultation, Rome 22-24 November. 1998. FAO, Rome.

Londra, I. M & K. B. Andri. 2007. Potensi pemanfaatan limbah kopi untuk pakan penggemukan kambing peranakan Etawah. Seminar Nasional Inovasi untuk Petani dan Peningkatan Daya Saing Produk Pertanian. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian: 536-542.

Makkar, H. P. S. 2004. Recent advances in the in vitro gas method for evaluation of nutritional quality of feed resources. In: Assessing Quality and Safety of Animal Feed. FAO Animal Production and Health Series 160. FAO, Rome, pp.55-58.

Mattjik, A. A & I. M. Sumertajaya. 2006. Perancangan Percobaan : dengan Aplikasi SAS dan Minitab. IPB Press, Bogor.

33 Mayasari, N, I. N. P. Aryantha, A. Rochana & T. Dhalika. 2009. Pengaruh

penambahan canephora) produk fermentasi jamur tiram putih (Pleurotus ostreatus) dalam ransum terhadap konsentrasi VFA dan NH3 (invitro). KPP ilmu hayati LPPM ITB. Fakultas Peternakan, Universitas Padjajaran, Bandung.

Mc Donald, P., R. A. Edward, J. F. D. Greenhalg & C. A. Morgan. 2002. Animal Nutrition, 6th Edition. Longman Scientific and Technical Co. Published in The United States with John Willey and Sons inc, New York.

National Research Council. 2001. Nutrient Requirements of Dairy Cattle. The 7th Resived Edition. National Academy Press, Washington DC.

Pamungkas, R. & R. Utomo. 2008. Kecernaan bahan kering in sacco tumpi jagung dan kulit kopi substrat tunggal dan kombinasi sebagai pakan basal sapi potong. Seminar Nasional Teknologi dan Veteriner. Fakultas Peternakan, Gadjah Mada, Yogyakarta.

Parrakasi, A. 1999. Ilmu Nutrisi dan Makanan Ternak Ruminansia. Universitas Indonesia Press, Jakarta. Hal: 75-226.

Prayitno, C. H. 2008. Suplementasi mikromineral pada limbah agroindustri yang difermentasi Trichoderma viridae yang ditinjau dari konsentrasi VFA dan NH3 secara in vitro. Seminar Nasional Teknologi dan Veteriner. Fakultas Peternakan, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto.

Parlindungan, A. K. 2000. Pengaruh konsentrasi urea dan TSP di dalam air rendaman baglog alang- alang terhadap pertumbuhan dan produksi jamur Tiram Putih (Pleurotus ostreatus). Prosiding Seminar Hasil Penelitian Dosen UNRI, Pekanbaru.

Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan. 2011. Kulit buah kopi yang difermentasi sebagai pakan kambing. http://www.puslitbangnak.html. [18 Juni 2012].

Puls, J & K. Poutanen. 1981. Mechanism of Enzyme Hidrolisid of Hemiselulosa (xylan) and Procedure for Determination of the Enzyme Activities Involved. BFH Institut of Wood Chestry Leuchnecster, Hamburg.

Ridwansyah, 2003. Teknologi Pertanian : Pengolahan Kopi. Universitas Sumatera Utara Press, Medan.

Sangadji, I. 2009. Mengoptimalkan pemanfaatan ampas sagu sebagai pakan ruminansia melalui biofermentasi dengan jamur tiram (Pleurotus ostreatus) dan amoniasi. Disertasi. Sekolah Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor, Bogor.

Sannia, G., P. Limoggi, E. Cocca, F. Buonocore, G. Niti & P. Giardina. 1991. Purification and Characterization of Veratryl-Alcohol Oxidase Enzyme from the Lignin Degrading Basidiomycetes Pleurotus ostreatus. Biochim. Biophys. Acta. 1073.114-119.

Selly. 1994. Peningkatan kualitas pakan serat bermutu rendah dengan amoniasi dan inokulan digesta rumen. Skripsi. Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor, Bogor.

34 Sumarmi. 2006. Botani dan tinjauan gizi jamur tiram putih. Jurnal Inovasi Pertanian

4 (2) : 124-130.

Susilawati & B. Raharjo. 2010. Budidaya Jamur Tiram (Pleurotus ostreatus var florida) yang ramah lingkungan. BTPP Sumatera Selatan, Palembang. Sutardi, T. 1977. Ikhtisar Ruminologi. Bahan Kursus Peternakan Sapi Perah. Kayu

Ambon, Lembang. Direktorat Jenderal Peternakan- FAO, Bandung.

Sutardi, T. 1979. Ketahanan protein bahan makanan terhadap degradai oleh mikroba rumen dan manfaatnya bagi peningkatan produktivitas ternak. Proceeding Seminar dan Penunjang Peternakan. Lembaga Penelitian Peternakan, Bogor. Taram. 1995. Pengaruh lama fermentasi dan jenis kapang terhadap perubahan

kandungan onggok zat-zat makanan onggok. Skripsi. Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor, Bogor.

Tilman, A. D., H. Hartadi, S. Reksohadiprodjo, S. Prawirokusumo & S. Lebdosoekojo. 1989. Ilmu Makanan Ternak Dasar. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.

Tripathi, J.P & J.S. Yadaw. 1992. Optimation of Solid Substrate Fermentation of Wheat Straw Into Animal Feed by Pleurotus ostreatus: A Pillot Effort. In: Blan R and Van Soest PJ (Ed) J. Anim. Feed Sci. Tech. 37.59-72.

Trubus. 2007. Pijakan anyar jamur tiram. Jakarta: Trubus Swadaya. Hal. 21-27. Tilley, J. M. A. & R. A. Terry. 1963. A two stage technique for the in vitro digestion

of forage crops. J. Of British Grassland 18 : 104-111.

Van Soest, P. J. 1994. Nutritional Ecology of The Ruminant. Cornell University Press, Ithaca, New York, 476 pp.

Volk T. J. 1998. This month's fungus is Pleurotus ostreatus, the Oyster mushroom. http://botit.botany.wisc.edu/toms_fungi/oct98.html [30 Mei 2012].

Widiastui, H. & T. Panji. 2008. Pola aktivitas enzim ligninolitik Pleurotus ostreatus pada limbah sludge pabrik kertas. Menara Perkebunan 76 (1) : 47-60.

Widyastuti, N. & Koesnandar. 2005. Shitake dan jamur tiram : penghambat tumor dan penurun kolesterol. Cetakan pertama, Jakarta: Agro Media Pustaka. Winarni. I. & U. Rahayu. 2002. Pengaruh formulasi media tanam dengan bahan

dasar serbuk gergaji terhadap produksi jamur tiram putih (Pleurotus ostreatus). Jurnal Matematika Sains dan Teknologi, 3 (2) : 20-27.

Winarno, F. G. 2010. Enzim Pangan. Mbrio Press, Bogor.

Wirdah, R. H. 2000. Evaluasi nilai energi metabolisme ransum yang mengandung kulit buah kopi pada ayam kampung. Skripsi. Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor, Bogor.

36 Lampiran 1. Hasil Sidik Ragam Ransum terhadap KCBK

SK db JK KT Fhit F0,05 F0,01

Total 14 662,071 47,290

Perlakuan 4 637,936 159,484 121,172 3,837 7,006

Kelompok 2 13,605 6,802 5,168 4,450 8,649

Galat 8 10,529 1,316

Lampiran 2. Hasil Uji Duncan Ransum terhadap KCBK

Perlakuan N Subset 1 2 3 4 5 3 47,510 4 3 52,220 3 3 56,220 2 3 59,193 1 3 66,806

Lampiran 3. Hasil Sidik Ragam Ransum terhadap KCBO

SK db JK KT Fhit F0,05 F0,01

Total 14 883,428 59,530

Perlakuan 4 811,894 202,973 217,844 3,837 7,006

Kelompok 2 14,08 7,040 7,555 4,459 8,649

Galat 8 7,453 0,931

Lampiran 4. Hasil Uji Duncan Ransum terhadap KCBO

Perlakuan N Subset 1 2 3 4 5 5 3 46,183 4 3 50,950 3 3 55,567 2 3 58,843 1 3 67,856

37 Lampiran 5 . Hasil Sidik Ragam Ransum terhadap VFA

SK db JK KT Fhit F0,05 F0,01

Total 14 7895,454 563,961

Perlakuan 4 4433,253 1108,313 4,216 3,837 7,006

Kelompok 2 1359,284 679,642 2,585 4,459 8,649

Galat 8 2102,917 262,864

Lampiran 6. Hasil Uji Duncan Ransum terhadap VFA

Perlakuan N Subset 1 2 5 3 107,474 4 3 117,704 3 3 121,257 2 3 125,026 1 3 158,285

Lampiran 7. Hasil Sidik Ragam Ransum terhadap NH3

SK db JK KT Fhit F0,05 F0,01

Total 14 33,351 2,382

Perlakuan 4 3,291 0,822 1,244 3,837 7,006

Kelompok 2 24,770 12,385 18,733 4,459 8,649

38 Lampiran 8. Data Suhu dan Kelembaban Ruangan Jamur Tiram

Waktu (hari) Suhu (°C) RH (%)

1 29,9 59 2 30,6 54 3 31,3 63 4 31,3 53 5 31,3 55 6 30,7 64 7 30,6 53 8 31,6 56 9 31,1 55 10 31,3 56

39

Dokumentasi Penelitian

Cawan Conway Pompa Vakum

Shaker Water Bath Destilasi VFA

Alat Titrasi NH3 Bibit untuk Inokulasi

RINGKASAN

HANNA FRISKA ROULY MARPAUNG. D24080120. 2012. Evaluasi In vitro Kulit Buah Kopi yang Difermentasi dengan Jamur Tiram (Pleurotus ostreatus) untuk Pakan Ruminansia. Skripsi. Departemen Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan, Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor.

Pembimbing Utama : Dr. Ir. Dwierra Evvyernie A., M.S.,M.Sc Pembimbing Anggota : Prof. Dr. Ir. Toto Toharmat, M.Agr.Sc

Kulit buah kopi merupakan hasil ikutan dari pengolahan buah kopi. Limbah ini terdapat 48,10% dalam satu ton buah kopi yang dipanen. Kandungan serat kasar pada kulit buah kopi tergolong tinggi, namun karena memiliki kandungan lignin dan tanin yang tinggi (65,42% dan 2,47%) serta komposisi nutrisi yang rendah, pemanfaatannya belum optimal untuk ruminansia, kecuali setelah melalui proses pengolahan seperti fermentasi dengan kapang atau jamur. Penelitian ini dilakukan dengan proses fermentasi yang menggunakan jamur tiram (Pleurotus ostreatus) terhadap kulit buah kopi. Tujuan dari penelitian ini adalah mempelajari sejauhmana kulit buah kopi hasil fermentasi (KKf) dapat berperan sebagai pengganti rumput gajah didalam ransum sapi perah yang memiliki rasio hijauan dan konsentrat 60% berbanding 40% melalui pengamatan in vitro.

Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 5 jenis perlakuan ransum dan 3 ulangan yang berupa periode pengambilan cairan rumen. R0 = ransum kontrol (60% RG + 40% konsentrat), R1 = 50% RG + 10% KKf + 40% konsentrat, R2 = 40% RG + 20% KKf+ 40% konsentrat, R3 = 30% RG + 30% KKf + 40% konsentrat, R4= 20% RG + 40% KKf + 40% konsentrat. Data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan ANOVA (Analysis of Variance) dan jika berbeda nyata dilanjutkan dengan uji jarak Duncan. Parameter yang diamati adalah fermentabilitas di dalam rumen (VFA dan NH3) dan koefisien cerna bahan kering (KCBK) dan bahan organik (KCBO).

Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan kulit buah kopi fermentasi sampai 40% di dalam ransum menurunkan (P<0,01) KCBK dan KCBO serta (P<0,05) VFA, sedangkan NH3 tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan dengan kontrol. Data menunjukkan bahwa nilai KCBK dan KCBO sebesar 56,22% dan 55,56%, VFA sebesar 121,25 mM serta NH3 sebesar 12,14 mM, maka kulit buah kopi hanya dapat menggantikan peran rumput gajah sebesar 20% rumput gajah di dalam ransum. Kesimpulan dari penelitian ini adalah kulit buah kopi hasil fermentasi dengan jamur tiram (Pleurotus ostreatus) dapat menggantikan peran rumput gajah sebesar 20%.

ABSTRACT

Evaluation In vitro of Coffee Husk Fermented with Oyster Mushrooms (Pleurotus ostreatus) for Ruminant Feed

Marpaung, H. F. R., Evvyernie, D., Toharmat, T.

An in vitro experiment was conducted to evaluate the nutritive value of coffee husk fermented by oyster mushrooms (Pleurotus ostreatus) for ruminant. A randomized block design was used to alocate the three of rumen fluid as blocks and five experimental rations formulated acording to a diet for a dairy cow yealding 10 kg of milk. Experimental rations composed of forage and concentrate as follows: R0 = control (60% Pennisetum purpureum + 40% concentrate), R1 = 50% Pennisetum

purpureum + 10% fermented coffee husk + 40% concentrate, R2 = 40% Pennisetum

purpureum + 20 fermented coffee husk + 40% concentrate, R3 = 30% Pennisetum

purpureum + 30% fermented coffee husk + 40% concentrate, and R4 = 20%

Pennisetum purpureum + 40% fermented coffee husk + 40% concentrate. Variables

observed were coefficient digestibility of dry (CDDM) and organic matter (CDOM), concentration of VFA and NH3. The result showed that dietary inclution of fermented coffee husk significantly decreased the coeffcient digestibiilty of dry and organic matter (P<0.01) and VFA (P<0.05), but did not affect NH3 concentration. The value of CDDM and CDMO, VFA and NH3 was 56.22%, 55.56%, 121.25 mM and 12.14 mM, respectively. The results indicated that the coffee husk could be included up to 20% in the diet to replace Pennisetum purpureum. The conclusion from this experiment was that the fermented coffee husk could be used to replace dietary forage component as much as 20%.

Dokumen terkait