• Tidak ada hasil yang ditemukan

Tanaman kopi Robusta tumbuh baik di dataran rendah sampai ketinggian sekitar 1.000 meter diatas permukaan laut, daerah-daerah dengan suhu sekitar 20°C. Tanaman kopi mulai dapat menghasilkan buah kopi setelah umur 4-5 tahun tergantung pada pemeliharaan dan iklim setempat. Tanaman kopi dapat memberi hasil yang tinggi mulai umur 8 tahun dan dapat berbuah baik selama 15 -18 tahun. Pemeliharaan tanaman kopi yang baik akan menghasilkan sampai umur sekitar 30 tahun (Ridwansyah, 2003).

Buah kopi terdiri dari beberapa bagian, yaitu lapisan kulit luar (excocarp), lapisan daging buah (mesocarp), lendir (mucilage), kulit ari (spermoderm), dan biji kopi (endoscarp). Lapisan kulit luar (excocarp) yaitu lapisan yang pada buah muda bewarna hijau dan berangsur- angsur berubah menjadi hijau kuning, kuning dan akhirnya merah pada buah kopi yang sudah masak. Daging buah akan berlendir dalam keadaan yang sudah masak dan rasanya agak manis. Kulit bagian dalam, yaitu endocarp, cukup keras dan kulit ini biasanya disebut kulit tanduk (Ridwansyah, 2003). Pengolahan terhadap biji kopi bisa dilakukan dengan dua cara, yaitu cara basah dan cara kering. Pengolahan dengan cara kering bisa dilakukan dengan langsung menjemur buah kopi dibawah panas matahari, sedangkan cara basah melalui beberapa tahap pengolahan menghasilkan beberapa jenis limbah yang bisa dimanfaatkan sebagai pakan ternak, misalnya kulit buah kopi (coffee pulp) (Wirdah, 2000). Bentuk kulit buah kopi dapat dilihat pada Gambar 1.

Gambar 1. Kulit Buah Kopi

Sumber : Dokumentasi Penelitian (2011)

Pengolahan kulit buah kopi secara basah menghasilkan limbah kulit buah kopi sebanyak 29% dari buah (berdasarkan berat kering), cangkang 12% dan lendir

4 4%. Sementara biji kopi sebagai produk utama berjumlah sekitar 55% (Braham dan Bressani, 1979). Bagan alir proses pengolahan biji kopi dapat dilihat pada Gambar 2.

Gambar 2. Diagram Alir Pengolahan Biji Kopi Sumber: Ridwansyah (2003)

Potensi Kulit Buah Kopi sebagai Komponen Pakan Ternak

Proses pengolahan kopi menjadi kopi bubuk akan menghasilkan limbah berupa limbah kulit kopi dan belum dimanfaatkan secara optimal. Kulit buah kopi merupakan salah satu limbah industri secara potensial dapat digunakan sebagai bahan pakan alternatif untuk ternak ruminan. Menurut data statistik (BPS, 2009), produksi biji kopi di Indonesia mencapai 682.591 ton dan menghasilkan kulit kopi sekitar 307.165 ton, jika tidak dimanfaatkan akan menimbulkan pencemaran yang serius. Analisis secara fisik menunjukkan bahwa limbah dari buah kopi yaitu berupa daging buah sebesar 42,20 % dan kulit biji sebesar 5,90 % atau total produksi limbah sebesar 48,10 % dari produksi buah basah (Londra dan Andri, 2007). Produk kulit buah kopi mudah rusak karena kandungan kadar airnya cukup tinggi 53%, sedangkan jika diberikan dalam bentuk segar kurang disukai ternak. Teknologi fermentasi yang dikombinasikan dengan teknologi pakan komplit dapat mengatasi kendala tersebut, sehingga dapat meningkatkan fungsinya sebagai pakan ternak. Kandungan protein

5 kulit buah kopi tergolong rendah 10,6%, namun masih mampu memenuhi kebutuhan mikroba rumen untuk mencerna serat karbohidrat dan juga mengandung energi tinggi (Puslitbangnak, 2011).

Menurut Londra dan Andri (2007), fermentasi dengan Aspergillus niger mampu meningkatkan nilai gizi limbah kopi. Hal tersebut dapat dilihat dari kemampuan dalam meningkatkan kadar protein kasar (PK), dari persentase 6,67% menjadi 12,43%, dan mampu menurunkan kadar serat kasar (SK), dari persentase 18,82% menjadi 11,05%. Komposisi nutrien kulit buah kopi tanpa fermentasi dan fermentasi dapat dilihat pada Tabel 1.

Tabel 1. Komposisi Nutrien Kulit Buah Kopi Tanpa Fermentasi dan Fermentasi

Nutrien Tanpa Fermentasi Fermentasi

Protein Kasar (%) 6,11 12,56 Serat Kasar (%) 18,69 36,10 Tanin (%) 2,47 0,32 Kafein (%) 1,36 0,16 Lignin (%) 52,59 47,03 Sumber : Mayasari et al. (2007)

Braham dan Bressani (1979) menyimpulkan bahwa efek yang ditimbulkan oleh penggunaan kulit buah kopi dalam ransum beberapa ternak pada tikus menyebabkan konsumsi pakan yang lebih rendah, iritasi kulit dan kematian pada penggunaan diatas 30%. Penggunaan sampai taraf 30% pada ayam tidak menyebabkan kematian jika diimbangi dengan kualitas protein ransum yang baik, namun juka penggunaan diatas 30% dapat menyebabkan kematian yang tinggi. Penggunaan kulit buah kopi yang direkomendasikan dalam ransum ayam maksimal sebesar 10%. Penggunaan kulit buah kopi direkomendasikan dalam ransum babi sebesar 15-20%. Penggunaan kulit buah kopi dalam ransum sapi dan kambing menyebabkan konsumsi pakan menurun, terjadi iritasi kulit, peningkatan pengeluaran urin, dan juga kerontokan bulu. Taraf pemberian yang dianjurkan pada ransum sapi dan kambing adalah sebesar 20%, karena pada taraf tersebut sudah terlihat efek peningkatan ekskresi urin sebagai efek dari kandungan kafein kulit buah kopi.

6

Jamur Tiram (Pleurotus ostreatus)

Tubuh buah jamur tiram memiliki tangkai yang tumbuh menyamping

(pleurotus) dan bentuknya seperti tiram (ostreatus) sehingga jamur tiram mempunyai nama binomial Pleurotus ostreatus (Volk, 1998). Bagian tudung dari jamur tersebut berubah warna dari hitam, abu-abu, coklat, hingga putih, dengan permukaan yang hampir licin, diameter 5-20 cm yang bertepi tudung mulus sedikit berlekuk. Jamur tiram juga memiliki spora berbentuk batang berukuran 8-11 x 3-4μm serta miselia berwarna putih yang bisa tumbuh dengan cepat (Parlindungan, 2000). Media yang umum dipakai untuk membiakkan jamur tiram adalah serbuk gergaji kayu yang merupakan limbah dari penggergajian kayu (Gunawan dan Agustina, 2009).

Kerajaan : Fungi Filum : Basidiomycota Kelas : Homobasidiomycetes Ordo : Agaricales Famili : Tricholomataceae Genus : Pleurotus Spesies : P. ostreatus

Jamur tiram (Pleurotus ostreatus) merupakan bahan makanan bernutrisi dengan kandungan protein tinggi, kaya vitamin dan mineral, rendah karbohidrat, lemak dan kalori. Jamur ini memiliki kandungan nutrisi seperti vitamin, fosfor, besi, kalsium, karbohidrat, dan protein. Kandungan proteinnya cukup tinggi, yaitu sekitar 10,5-30,4%. Serat jamur sangat baik untuk pencernaan. Kandungan seratnya mencapai 7,4-24,6%, sehingga cocok untuk para pelaku diet. Mineral mikroelemen yang bersifat logam dalam jamur tiram kandungannya rendah, sehingga jamur ini aman dikonsumsi setiap hari (Sumarmi, 2006).

Jamur tiram memiliki berbagai manfaat yaitu sebagai makanan, menurunkan kolesterol, sebagai antibakterial dan antitumor, serta dapat menghasilkan enzim hidrolisis dan enzim oksidasi (Widiastui dan Panji, 2008). Jamur tiram ini mengandung senyawa pleuran yang berkhasiat sebagai antitumor, menurunkan kolesterol, serta bertindak sebagai antioksidan. Polisakarida pada jamur tiram, khususnya Beta-D-glucans, mempunyai efek positif sebagai antitumor, antikanker, antivirus (termasuk AIDS), melawan kolesterol, antijamur, antibakteri, dan dapat

7 meningkatkan sistem imun (Sumarmi, 2006). Jamur tiram juga mengandung plovastin yang di pasaran berupa suplemen penurun kolesterol. Komponen aktif dari plovastin adalah statin yang bisa menghambat metabolisme atau pembentukan kolesterol di dalam tubuh (Widyastuti dan Koesnandar, 2005).

Jamur tiram sebaiknya ditempatkan dalam ruangan yang gelap pada masa pertumbuhan misellium, tetapi pada masa pertumbuhan badan buah memerlukan adanya rangsangan sinar.Tubuh buah tidak dapat tumbuh pada tempat yang sama sekali tidak ada cahaya, oleh karena itu pada masa terbentuknya tubuh buah pada permukaan media harus mulai mendapat sinar dengan intensitas penyinaran 60-70 %. Suhu udara memegang peranan yang penting pada budidaya jamur tiram untuk mendapatkan pertumbuhan badan buah yang optimal. Umumnya, syarat rumah jamur suhu ruangan tidak lebih dari 28° C dan kelembaban ruangan 80-90%. Miselium tumbuh optimal pada suhu 23-25° C, sedangkan pertumbuhan tubuh buah optimum pada suhu 18-20° C (Sumarmi, 2006). Aerasi memliki dua komponen penting dalam udara yang berpengaruh pada pertumbuhan jamur yaitu oksigen (O2) dan karbondioksida (CO2). Oksigen merupakan unsur penting respirasi sel. Sumber energi dalam sel dioksidasi menjadi karbondioksida. Konsentrasi karbondioksida (CO2) yang terlalu banyak dalam kumbung menyebabkan pertumbuhan jamur tidak normal. Di dalam kumbung jamur konsentrasi CO2 tidak boleh lebih dari 0,02% (Susilawati dan Raharjo, 2010). Tingkat keasaman media juga sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan jamur tiram.Pertumbuhan jamur akan terhambat apabila pH terlalu rendah atau terlalu tinggi, bahkan mungkin akan tumbuh jamur lain yang akan mergganggu pertumbuhan jamur tiram itu sendiri.Keasaman pH media perlu diatur antara pH 6-7 dengan menggunakan kapur (Calsium carbonat) (Kuo, 2005).

Rumput Gajah

Berdasarkan taksonominya, rumput gajah digolongkan ke dalam division Spermatophita, subdivisio Angiospermae, kelas Monocotyledonea, ordo Glumifora, famili Gramineae, subfamili Panicodea, genus Pennisetum dan species Pennisetum purpureum. Nilai gizi rumput gajah sebagai hijauan makanan ternak ditentukan oleh zat-zat makanan yang terdapat di dalamnya dan kecernaannya. Menurut Hartadi et al. (1997), rumput gajah umumnya mengandung bahan kering (BK) yang rendah yaitu 16%. Serat kasar sekitar 29,3%, bahan ekstrak tanpa nitrogen (BETN) sekitar 40,1%,

8 lemak kasar 3,2% dan protein kasar sekitar 11,5%. Kandungan TDN berkisar antara 40-67 % dengan kecernaan BK sekitar 48-71%. Menurut Tilman et al. (1989), kandungan lignin rumput gajah berkisar 13- 16%, kadar lignin tanaman meningkat bertambah dengan bertambahnya umur tanaman.

Kecernaan Pakan

Kecernaan pakan dapat didefinisikan sebagai zat makanan yang tidak dikeluarkan melalui feses dengan asumsi zat makanan tersebut dapat diserap oleh saluran pencernaan. Kecernaan pakan biasanya dinyatakan berdasarkan bahan kering, dan sebagai suatu koefisien atau persentase. Faktor-faktor yang mempengaruhi kecernaan, yaitu komposisi bahan pakan, perbandingan komposisi antara bahan pakan satu dengan bahan pakan lainnya, perlakuan pakan, suplementasi enzim dalam pakan, ternak dan taraf pemberian pakan (McDonald et al., 2002). Terdapat dua teknik dalam mengukur kecernaan pada ruminansia, yaitu teknik in vivo dan in vitro. Kecernaan in vitro (kecernaan pada rumen) dipengaruhi beberapa hal yaitu pencampuran pakan, cairan rumen dan inokulan, pH kondisi fermentasi, pengaturan suhu fermentasi, lamanya waktu inkubasi, ukuran partikel sampel dan buffer (Selly, 1994). Menurut penelitian Prayitno (2008), hasil analisis konsentrasi VFA dan NH3 kulit buah kopi setelah difermentasi dengan Trichoderma viride adalah 106,6-130 mM dan 8,16-10,3 mM, sedangkan rataan kecernaan bahan kering dan kecernaan bahan organik adalah 50,6-55-3% dan 64,57-71,1%.

Konsentrasi Amonia

Sumber nitrogen utama bagi mikroba rumen adalah amonia yang sebagian dimanfaatkan oleh mikroba rumen untuk sintesis protein mikroba (Arora, 1995). Enzim proteolitik mikroba rumen akan menghidrolisis protein menjadi oligopeptida yang kemudian menjadi asam amino dan diserap melalui dinding rumen yang secara cepat mengalami deaminasi menjadi amonia, metan dan CO2 (Sutardi, 1979). Amonia yang tidak terpakai dalam rumen akan dibawa ke hati diubah menjadi urea, sebagian dikeluarkan melalui urin dan yang lainnya dibawa ke kelenjar saliva. Konsentrasi amonia yang optimum untuk menunjang sintesis protein mikroba dalam cairan rumen sangat bervariasi berkisar antara 6-21 Mm (McDonald et al., 2002). Mikroba dapat memanfaatkan NH3 yang harus disertai dengan sumber energi yang

9 mudah difermentasi (Sutardi, 1977). Proses metabolisme protein pada rumen dapat dilihat pada Gambar 3.

Gambar 3. Proses Metabolisme Protein dalam Rumen Ternak Ruminansia Sumber: Mc. Donald et al. (2002)

Umumnya proporsi protein yang didegradasi dalam rumen sekitar 70-80% atau 30-40% untuk protein yang sulit dicerna dan merupakan protein by pass yang akan dimanfaatkan oleh ternak ruminansia. Kelarutan nitogen asal protein di dalam larutan buffer menunjukkan ketahanan protein tersebut terhadap degradasi mikroba rumen (McDonald et al., 2002).

Konsentrasi VFA

Sebagian besar ransum yang diberikan kepada ternak ruminansia merupakan karbohidrat. Polisakarida dihidrolisa di dalam rumen menjadi monosakarida oleh enzim-enzim mikroba rumen, kemudian monosakarida tersebut, seperti glukosa, difermentasi menjadi VFA (Volatile Fatty Acid) berupa propionat, asetat dan butirat serta CO2 dan CH4. Gas CO2 dan CH4 akan hilang melalui eruktasi sedangkan VFA akan diserap melalui dinding rumen (McDonal et al., 2002). Proses fermentasi karbohidrat pada rumen ternak dapat dilihat pada Gambar 4.

10 Gambar 4. Proses Metabolisme Karbohidrat dalam Rumen Ternak Ruminansia Sumber: Mc. Donald et al. (2002)

Produksi VFA memiliki peranan penting sebagai sumber energi bagi ternak dan merupakan produk akhir fermentasi gula (Arora, 1995). Konsentrasi VFA tergantung pada jenis ransum yang dikonsumsi. Ransum dengan komposisi 40% hijauan dan 60% konsentrat akan menghasilkan VFA total sebesar 96 mM pada sapi, sedangkan pada domba akan menghasilkan VFA total sebesar 76 mM (McDonald et al., 2002). Menurut Sutardi (1979), konsentrasi VFA yang dibutuhkan untuk pertumbuhan optimal mikroba rumen, yaitu 80-160 mM.

Koefisien Cerna Bahan Kering dan Bahan Organik (KCBK dan KCBO)

Kecernaan adalah bagian yang tidak diekskresikan dalam feses, bagian tersebut diasumsikan diserap oleh tubuh hewan. Koefisien cerna biasanya dinyatakan dalam satuan persen dari bahan kering (Cullison et al., 2003). Setiap jenis ternak ruminansia memiliki mikroba rumen dengan kemampuan yang berbeda-beda dalam mendegradasi pakan (Sutardi, 1979). Nilai KCBK dan KCBO dapat dijadikan salah satu indikator untuk menentukan kualitas pakan dan seberapa besar zat makanan dalam pakan dapat dimanfaatkan oleh mikroba rumen (Sutardi, 1977).

11 Kecernaan bahan organik merupakan faktor penting yang dapat menentukan nilai pakan (McDonald et al., 2002). Sebagian besar komponen bahan kering terdiri atas bahan organik sehingga faktor-faktor yang mempengaruhi tinggi rendahnya KCBK akan mempengaruhi tinggi rendahnya KCBO ransum. Semakin tinggi KCBK maka semakin tinggi pula peluang nutrisi yang dapat dimanfaatkan ternak untuk pertumbuhannya. Kecernaan bahan organik dan kecernaan bahan kering sangat dipengaruhi oleh kandungan serat kasar karena serat merupakan komponen dari bahan organik pakan. Kandungan serat kasar tinggi maka bahan organik yang tercerna akan semakin rendah karena pencernaan serat kasar sangat tergantung pada mikroba rumen.

Faktor-faktor yang mempengaruhi kecernaan, yaitu komposisi bahan pakan, perbandingan komposisi antara bahan pakan satu dengan bahan pakan lainnya, perlakuan pakan, suplementasi enzim dalam pakan, ternak dan taraf pemberian pakan (McDonald et al., 2002). Menurut Selly (2004), kecernaan in vitro dipengaruhi oleh pencampuran ransum, cairan rumen, pH, pengaturan suhu fermentasi, lamanya waktu inkubasi, larutan penyangga dan ukuran partikel sampel. Menurut Kaufman et al (1980), faktor yang mempengaruhi degradasi pakan di dalam saluran pencernaan ruminansia adalah struktur makanan, ruminasi, pH optimum dan produksi saliva.

MATERI DAN METODE Lokasi dan Waktu

Penelitian dilaksanakan pada bulan September 2011 sampai Maret 2012 di Laboratorium Ilmu Nutrisi Ternak Perah, Departemen Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan, Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor.

Materi Bahan

Asam borat berindikator, larutan Na2CO3 jenuh, aquadest, larutan HgCl2, H2

SO4 0,005 N, larutan HCl 0,5 N, larutan H2SO4 15%, larutan NaOH 0,5 N, larutan indikator PP (Phenol Phtalein 0,1%) dan larutan McDougall dengan temperatur 390C dengan 6,5-6,9 (pH diturunkan dengan cara memberikan gas CO2), cairan rumen segar dan sampel ransum yang akan digunakan.

Alat

Peralatan yang digunakan selama fermentasi kulit buah kopi antara lain timbangan digital, laminar air flow, autoclave, sprayer, botol selai, plastik, kapas, karet, baskom, label dan lampu spirtus. Fermentasi in vitro digunakan seperangkat rumen tiruan, timbangan, dan peralatan untuk analisis KCBK, KCBO, VFA, dan NH3 dan termos.

Inokulum. Inokulum yang digunakan adalah cairan rumen yang berasal dari rumen sapi potong yang dipotong di rumah pemotongan hewan di Bubulak.

Komposisi Ransum. Bahan pakan yang digunakan pada pembuatan ransum adalah rumput gajah, dedak, onggok, bungkil kelapa, bungkil kedele, kapur, kulit buah kopi yang difermentasi dengan jamur tiram (Pleurotus ostreatus) selama 2 bulan. Ransum penelitian disusun berdasarkan kebutuhan zat makanan sapi perah pertengahan laktasi, direkomendasikan mengandung TDN < 68% dan protein 11-13% (NRC, 2001) dengan rasio hijauan dan konsentrat 60% berbanding 40% di dalam ransum. Level penggunaan komposisi bahan pada hijauan perlakuan tidak sama jumlahnya, karena ingin dilihat rasio penggunaan kulit kopi fermentasi yang optimal dalam beberapa macam level penggunaan komposisi bahan pengganti hijuan. Komposisi dan level pemakian kulit kopi fermentasi dan hasil perhitungan kandungan nutrisi ransum penelitian dapat dilihat pada Tabel 2 dan Tabel 3.

13 Tabel 2. Susunan dan Kandungan Nutrien Ransum

Bahan Pakan R0 R1 R2 R3 R4

...(%)...

Rumput gajah 60 50 40 30 20

Kulit Buah Kopi Fermentasi (KKf) 0 10 20 30 40 Bungkil Kelapa 5 0 0 0 0 Onggok 15 13 12 12 10 Pollard 5 8 8 8 10 Bungkil Kedele 6 6 5 5 5 Dedak 8 12 14 14 14 Kapur 1 1 1 1 1 100 100 100 100 100

Keterangan : Perhitungan menggunakan Trial and Eror.

Tabel 3.Hasil Perhitungan Kandungan Nutrien Ransum Penelitian Berdasarkan Bahan Kering Kandungan Nutrien Perlakuan R0 R1 R2 R3 R4 BK (%) 44,52 51,49 58,48 65,39 72,43 Abu (%) 9,85 10,26 10,56 10,70 10,91 PK (%) 13,22 13,23 13,03 13,06 13,42 SK(%) 33,34 33,34 33,30 33,02 32,76 LK (%) 4,04 3,36 3,34 3,18 3,09 BETN (%) 46,33 45,20 43,96 42,93 41,41 TDN (%) 61,00 61,70 62,84 64,24 65,46

Keterangan : Kandungan nutrien adalah hasil perhitungan dengan menggunakan Trial and Eror

Prosedur Pembuatan Rumah Jamur

Pembuatan rumah jamur dilakukan di Laboratorium Nutrisi Ternak Perah Fakultas Peternakan IPB. Pembuatan rumah jamur ini disesuaikan dengan keadaan budidaya di lapang. Rumah jamur terdiri dari rak-rak bertingkat, ruang untuk inokulasi dan pendinginan.

14

Pembuatan Media Tumbuh dan Baglog Pleurotus ostreatus

Kulit kopi yang kering selanjutnya dikompos selama satu malam terlebih dahulu dengan ditambahkan air (700 ml), dedak (15%) , kapur (1%) dan gips (1,5%) sebagai bahan isi media. Penggunaan kulit buah kopi, dedak, kapur dan gips dinamakan pembuatan baglog yang dimasukkan kedalam plastik berukuran 500 gram. Baglog yang telah dibuat lalu di autoclave untuk sterilisasi pada suhu 121°C selama 60 menit, kemudian baglog didinginkan selama 24 jam dan diinokulasi dengan bibit jamur Pleurotus ostreatus sebanyak 4 % dari berat baglog. Baglog yang sudah diinokulasi dengan bibit, kemudian disimpan diruangan inkubasi sampai semua kulit buah kopi di dalam baglog dipenuhi oleh miselium yang ditandai dengan memutihnya seluruh bagian kulit buah kopi di dalam baglog. Selama inkubasi proses perawatan dilakukan agar tempat tumbuh tetap sejuk, lembab dan bersih dengan suhu 25-30°C dan kelembaban 60-80% dengan cara pemberian karung goni basah dan penyemprotan dengan air setiap hari. Baglog kulit buah kopi fermentasi dengan jamur tiram (Pleurotus ostreatus) pada Gambar 5.

Gambar 5. Baglog Kulit Buah Kopi Fermentasi Sumber : Dokumentasi Penelitian (2011)

Pengambilan Inokulum

Inokulum merupakan cairan rumen yang mengandung mikroba yang hidup di dalam rumen ruminansia dan berfungsi sebagai pendegradasi pakan yang dikonsumsi ternak. Cairan rumen yang digunakan dalam penelitian ini diambil dari ternak sapi yang dipotong di rumah potong hewan (RPH) di Bubulak. Tahap pengambilan cairan rumen adalah pertama-tama termos diisi dengan air panas kira-kira mencapai suhu 39°C kemudian dibawa ke rumah potong hewan Bubulak. Air

15 didalam termos tidak boleh dibuang hingga cairan rumen didapatkan dengan suhu dipertahankan pada 39°C. Setelah perut rumen dipilih, dinding rumen dirobek dengan pisau kemudian isi rumen diperas dengan menggunakan kain dan dimasukkan ke dalam termos yang baru saja dikeluarkan air panasnya, setelah itu termos ditutup agar suhunya tetap terjaga. Termos yang digunakan sebanyak 3 buah dan setiap termos diisi dengan satu jenis cairan rumen. Kemudian cairan rumen yang berada di dalam termos tersebut harus segera dibawa ke Laboratorium Ilmu Nutrisi Ternak Perah dan segera dialiri CO2, setelah itu dilakukan fermentasi in vitro dengan menggunakan alat rumen tiruan.

Fermentasi In vitro

Metode ini diawali dengan pencernaan fermentatif, yaitu 0,5 gram sampel dimasukkan ke dalam tabung fermentor kemudian ditambahkan 40 ml larutan McDougall dan 10 ml cairan rumen, dimasukkan ke dalam shaker bath dengan suhu 390C (Tilley and Terry, 1963). Setelah itu, cairan rumen dialiri gas CO2 selama 30 detik kemudian ditutup dengan karet berventilasi dan difermentasi selama 4 jam, kemudian tutup karet tabung fermentor dibuka dan diteteskan 2-3 tetes HgCl2 untuk membunuh mikroba. Tabung fermentor dimasukkan ke dalam sentrifuge, lakukan sentrifuge dengan kecepatan 3000 rpm selama 10 menit. Substrat akan terpisah menjadi endapan di bagian bawah dan supernatan yang bening berada di bagian atas. Supernatan diambil untuk melakukan berbagai analisis (NH3 dan VFA). Supernatan dimasukkan ke botol film, apabila tidak dilakukan analisis segera, sampel dapat disimpan di freezer .

Analisis Koefisien cerna Bahan Kering (KCBK) dan Bahan Organik (KCBO)

Tabung fermentor yang diisi dengan 0,5 gram sampel, ditambahkan 40 ml larutan McDougall dan 10 ml cairan rumen dimasukkan ke dalam shaker bath dengan suhu 39°C. Setelah itu, cairan rumen dialiri gas CO2 selama 30 detik kemudian ditutup dengan karet berventilasi dan difermentasi selama 48 jam. Setelah 48 jam dibuka tutup karet tabung fermentor dan diteteskan 2-3 tetes HgCl2 untuk membunuh mikroba. Tabung fermentor dimasukkan ke dalam sentrifuge, lakukan sentrifuge dengan kecepatan 3000 rpm selama 10 menit. Substrat akan terpisah menjadi endapan di bagian bawah dan supernatan yang bening berada di bagian atas. Supernatan dibuang dan endapan hasil sentrifuge ditambahkan 50 ml larutan pepsin

16 HCl 0,2%. Campuran ini kemudian diinkubasi kembali selama 48 jam tanpa tutup karet. Sisa pencernaan disaring dengan kertas saring Whatman no 41 (yang sudah diketahui bobotnya) dengan bantuan pompa vakum. Endapan yang ada di kertas saring dimasukkan ke dalam cawan porselen, setelah itu dimasukkan ke dalam oven 1050C selama 24 jam, kemudian cawan porselen dikeluarkan dan dimasukkan ke dalam eksikator lalu ditimbang untuk mengetahui kadar bahan keringnya. Selanjutnya bahan dalam cawan diabukan dalam tanur listrik selama 6 jam pada suhu 450-6000C, kemudian ditimbang untuk mengetahui kadar bahan organiknya. Sebagai blanko digunakan cairan rumen dan larutan Mc Dougall tanpa sampel.

KCBK (%) =BKsampel (g)− (BKresidu(g)− BKblanko (g))

BK sampel (g) x100%

KCBO (%) = BOsampel (g)− (BOresidu (g)− BOblanko (g))

BOsampel (g) x100%

Analisis NH3 (Metode Mikrodifusi Cawan Conway)

Bibir cawan Conway dan tutupnya diolesi dengan vaselin, supernatan yang berasal dari proses fermentasi diambil 1 ml kemudian ditempatkan pada salah satu ujung alur cawan Conway. Larutan Na2CO3 jenuh sebanyak 1 ml ditempatkan pada salah atu ujung cawan conway bersebelahan dengan supernatan (tidak boleh dicampur). Larutan asam borat berindikator sebanyak 1 ml ditempatkan dibagian tengan cawan Conway. Cawan Conway yang sudah diolesi vaselin ditutup rapat hingga kedap udara, larutan Na2CO3 dicampur dengan supernatan hingga merata dengan cara menggoyang-goyangkan dan memiringkan cawan tersebut. Setelah itu dibiarkan selama 24 jam dalam suhu kamar, kemudian suhu kamar dibuka, asam borat berindikator dititrasi dengan H2SO4 0,005 N sampai terjadi perubahan dari biru menjadi merah (Tilley dan Terry, 1963).

NNH (mM) = ml H SO x NH SO x 1000 (g)sampel x BKsampel Analisis VFA (Steam Destilation Method)

Presscooker diisi dengan aquadest sampai tanda maksimum kemudian

dipastikan air dari keran mengalir yang berfungsi sebagai pendingin. Kompor gas dinyalakan, sehingga aquadest yang ada didalam presscooker tersebut mendidih dan

17 menghasilkan uap yang akan masuk ke tabung-tabung destilasi, hal ini menandakan bahwa kita bisa memulai analisis VFA. Supernatan yang sama dengan analisis NH3

diambil sebanyak 5 ml, kemudian dimasukkan ke dalam tabung destilasi. Erlemeyer yang berisi 5 ml NAOH 0,5 N ditempatkan dibawah selang tampungan 1 ml H2SO4

15% ditambahkan ke tabung destilasi yang sudah ada larutan sampel, kemudian segera tutup penutup kacanya, dibilas dengan aquadest secukupnya. Uap air panas akan mendesak VFA dan akan terkondensasi dalam pendinginan. Air yang terbentuk

Dokumen terkait