• Tidak ada hasil yang ditemukan

19

DAFTAR PUSTAKA

Djamhuriyah, S.S., Haryani, G.S., 2011. Sistem Pengelolaan Habitat Ikan Hias Endemik Indonesia, di dalam: Prosiding Seminar Nasional Hari Lingkungan Hidup, ISBN 978-602-19161-0-0.

Hastuti. 2003. Respon Glukosa Darah Ikan Gurami (Osphronemus gouramy, LAC.) Terhadap Stres Perubahan Suhu Lingkungan. Jurnal Akuakultur Indonesia 2(2), 73-77.

Hidayat, S., Djamhuriyah, S., 2005. Kekerabatan Beberapa Spesies Ikan Pelangi irian (Famili Melanotaenidae) Berdasarkan Karyotipe. Jurnal lktiologi lndonesia, Volume 5, Nomor l.

Irwan. 2002. Pengaruh Kadar α-Starch Pakan yang Berbeda terhadap Kadar Glukosa Darah Ikan Gurame (Osphronemus gouramy, Lac). [Skripsi]. Jurusan Budidaya Perairan. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Institut Pertanian Bogor.

Liviawaty, E., Afrianto, E., 2005. Pakan Ikan. Yogyakarta: Penerbit Kanisius. Lukman. 2005. Uji Pemeliharaan Ikan Pelangi Irian (Melanotaenia boesmani) Di

Dalam Sistem Resirkulasi. Jurnal lktiologi Indonesia, Volune 5, Nomor 1. Nurfadhillah. 2010. Pemakaian Hasil Fermentasi Daun Mata Lele Azolla sp.

sebagai Bahan Baku Pakan Ikan Nila (Oreochromis sp.). [Skripsi]. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Institut Pertanian Bogor.

Nasution, S.H. 2000. Ikan Hias Air Tawar Rainbow. Bogor: Penebar Swadaya. Nugroho, S.A. 2010. Hubungan Antara Tingkat Stres Terhadap Kadar Gula Darah

Penderita Diabetes Melitus Di Wilayah Kerja Puskesmas Sukoharjo I Kabupaten Sukoharjo. [Skripsi]. Fakultas Ilmu Kesehatan. Universitas Muhammadiyah Surakarta.

Savoetra, R.A. 2012. Pengaruh Jumlah Pemberian Moina sp. Terhadap Kelangsungan Hidup dan Pertumbuhan Larva Ikan Rainbow Kurumoi (Melanotaenia parva). [Skripsi]. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Universitas Padjadjaran.

Sunarto. 2008. Pengaruh Pemberian Vitamin C Ascorbic Acid Terhadap Kinerja Pertumbuhan dan Respon Imun Ikan Betok Anabas testudineus Bloch. Jurnal Akuakultur Indonesia 7(2), 151–157.

Siregar, Y. I. 2009. Pengaruh Vitamin C terhadap Peningkatan Hemoglobin (Hb) Darah dan Kelulushidupan Benih Ikan Kerapu Bebek (Cromileptes altivelis). Jurnal Natur Indonesia 12(1), 75-81.

20 Takeuchi, T. 1988. Laboratory work chemical evaluation of dietary nutrients. In

Watanabe, T (ed.). Fish Nutrition and Mariculture. Departement of Aquatic Bioscience. Tokyo University of Fisheries.

Tappin R.A. 2010. Rainbow Fishes. Australia: Art Publication.

Yeniche. 2003. Akumulasi Vitamin C dalam Tubuh Daphnia Sp Yang Diperkaya dengan L-Ascorbyl-2-Magnesium Phosphate Pada Dosis Yang Berbeda. [Skripsi]. Program Studi Budidaya Perairan. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Institut Pertanian Bogor.

1

21 Lampiran 1. Hasil analisis proksimat pakan komersil (% bobot kering)

perlakuan proksimat (% bobot kering)

Protein Lemak Abu Serat kasar Kadar air BETN Pakan komersil 40,1376 1,4009 16,3450 7,4173 14,8320 19,8672 Lampiran 2. Hasil analisis kualitas air hari pertama

Perlakuan Parameter Suhu (oC) pH DO (mg/l) Alkalinitas (ppm) Kesadahan NH3 (ppm) NO2 (ppm) Media pemeliharaan 26,7 8,1 8,07 45,31 40,04 0,085 0,02 Lampiran 3. Hasil analisis kualitas air selama pemeliharaan (Hari 20)

Parameter A B C D E suhu (ºC) 27 26,7 27 27,3 27,4 pH 7,55 7,45 7,4 7,5 7,55 DO (mg/l) 5,16 5,43 5,47 5,43 5,14 Alkalinitas (ppm) 50,97 50,97 50,98 39,65 50,97 Kesadahan 43,89 45,43 52,36 44,66 43,89 NH3 (ppm) 0,04 0,05 0,05 0,08 0,06 NO2 (ppm) 0,03 0,05 0,12 0,05 0,08 Lampiran 4. Hasil analisis kualitas air selama pemeliharaan (Hari 40)

Parameter A B C D E suhu (ºC) 25,55 25,4 25,55 25,7 25,85 pH 7,22 7,37 7,29 7,15 6,69 DO (mg/l) 5,29 5,43 5,31 5,61 4,57 Alkalinitas (ppm) 22,66 22,66 22,66 22,66 33,98 Kesadahan 53,9 63,14 71,61 61,6 61,6 NH3 (ppm) 0,01 0,01 0,03 0,02 0,03 NO2 (ppm) 0,06 0,08 0,13 0,13 0,82

Lampiran 5. Prosedur analisis proksimat (Takeuchi, 1988) A. Kadar Protein (metode Kjedahl)

1. Sampel ditimbang seberat 0,5-1,0 gram dan dimasukkan ke dalam labu

kjedahl,

2. Katalis berupa K2SO4,5H2O dengan rasio 9 : 1 ditimbang sebanyak 3 gram dan dimasukkan ke dalam labu kjedahl,

3. Selanjutnya ditambahkan 10 ml H2SO4 pekat ke dalam labu tersebut dan kemudian labu dipanaskan selama 3-4 jam sampai cairan dalam labu berwarna hijau,

22 4. Lalu larutan didinginkan, lalu ditambahkan air destilata 30 ml, Kemudian masukkan larutan tersebut ke dalam labu takar dan diencerkan dengan akuades sampai larutan tersebut mencapai volume 100 ml (larutan A), 5. Labu erlenmeyer diisi 10 ml H2SO4 0,05 N dan ditambahkan 2-3 tetes

indikator methylen blue atau methyl red (larutan B),

6. Larutan A diambil sebanyak 5 ml dan ditambahkan 10 ml NaOH 30% yang dimasukkan ke dalam labu kjedahl, Lalu dilakukan pemanasan dan kondensasi selama 10 menit mulai saat tetesan pertama pada larutan B, 7. Larutan dalam labu erlenmeyer dititrasi dengan 0,05 N larutan NaOH

sampai terjadi perubahan warna dari merah muda menjadi hijau tua,

8. Kadar protein (%) = Keterangan :

Vs = ml 0,05 N nitran NaOH untuk sampel Vb = ml 0,05 N nitran NaOH untuk blanko F = faktor koreksi dari 0,05 N larutan NaOH S = bobot sampel (gram)

* = setiap ml 0,05 N NaOH ekuivalen dengan 0,0007 gram nitrogen ** = faktor nitrogen

B.Kadar Lemak (metode ether ekstraksi Sochlet)

1. Labu ekstraksi dipanaskan pada suhu 1100C selama satu jam, kemudian didinginkan selama 30 menit dalam eksikator dan ditimbang bobot labu tersebut (A),

2. Kemudian dimasukkan petroleum benzen sebanyak 150-250 ml ke dalam labu reaksi,

3. Bahan ditimbang sebanyak 5 g (a), dimasukkan ke dalam selongsong, kemudian selongsong dimasukkan ke dalam sochlet serta diletakkan pemberat di atasnya,

4. Labu ekstraksi yang telah dihubungkan dengan sochlet di atas hotplate dengan air mendidih pada suhu 1000C didiamkan sampai cairan yang merendam bahan dalam sochlet menjadi bening,

0,0007 * x (Vb-Vs) x F x 6,25** x 20 x 100 % S

23 5. Setelah larutan petroleum benzen bening, labu ekstraksi dilepaskan dari rangkaian dan tetap dipanaskan hingga petroleum benzen menguap semua, 6. Labu dan lemak tersisa dipanaskan dalam oven selama 16-60 menit,

dieksikator dan ditimbang (B), 7. Kadar Lemak (%) =

C.Kadar Air

1. Timbang sampel sebanyak X gram, lalu masukkan ke dalam cawan (Y), 2. Masukkan cawan ke dalam oven dengan suhu 1100C selama 2-3 jam, 3. Dinginkan cawan ke dalam eksikator selama 30 menit, lalu ditimbang (Z), 4. Panaskan lagi dalam oven dengan suhu yang sama selama 1-1,5 jam, 5. Dinginkan lagi cawan ke dalam eksikator selam 30 menit, lalu ditimbang, 6. Kadar air (%) =

D. Kadar Abu

1. Cawan porselen dipanaskan pada suhu 105 0C selama 1 jam ke dalam oven, lalu cawan porselin dikeluarkan dan disimpan dalam desikator selama 30 menit dan selanjutnya ditimbang (X1), Cawan porselen dipanaskan seperti prosedur nomor 1, lalu ditimbang,

2. Sampel sebanyak 1-2 gram ditimbang (A), lalu dimasukkan ke dalam cawan porselen,

3. Cawan dan bahan dipanaskan di dalam tanur dengan suhu 600 0C, lalu didinginkan dalam desikator selama 30 menit dan ditimbang (X2)

4. Kadar Abu (%) = E. Serat Kasar

1. Kertas saring dipanaskan dalam oven 1100C selama satu jam, lalu didinginkan dalam desikator selama 30 menit, dan ditimbang (X1)

2. Bahan ditimbang 0,5 gram (A), lalau dimasukkan ke dalam Erlenmeyer 250 ml dan ditambahkan 50 ml H2SO4 0,3 N, kemudian dipanaskan selama 30 menit di atas hotplate, setelah 30 menit ditambahakan 25 ml NaOH 1,5 N kemudian dipanaskan kembali di atas hotplate,

B – A x 100 % a Z – Y x 100 % X X2 – X1 x 100 % A

24 3. Kertas saring yang telah dipanaskan sebelumnya dihubungkan dengan vacuum pump, kemudian larutan yang sebelumnya dipanaskan di atas hotplate disaring dan dilakukan pembilasan secara berurutan, yaitu :1, 50 ml air panas, 2, 50 ml H2SO4, 3, 50 ml air panas, 4, 25 ml aceton

4. Cawan porselen dipanaskan pada suhu 105-110 0C selama satu jam dan didinginkan,

5. Kertas saring hasil penyaringan dimasukkan ke dalam cawan porselen, 6. Kemudian cawan dan kertas saring dipanaskan pada suhu 105-110 0C

selama satu jam, didinginkan dalam desikator 30 menit, dan ditimbang (X2), kemudian dipanaskan dalam tanur pada suhu 600 0C hingga berwarna putih, didinginkan dan ditimbang (X3),

7. Kadar Serat Kasar =

Lampiran 6. Prosedur pengukuran uji glukosa tubuh berdasarkan metode Wedemeyer-Yasutake (Wedemeyer dan Yasutake, 1981) dalam (Irwan, 2002)

Pembuatan gula standar

Sebanyak 100 mg glukosa dilarutkan dalam akuades menjadi 100 ml, Kemudian diukur absorbannya dengan spektrofotometer dengan panjang gelombang 635nm (abs stanndar).

Persiapan sampel

Karena sampel berupa tubuh ikan, maka sebelumnya dilakukan uji glikogen (pengganti plasma darah), Kemudian plasma diambil sebanyak 0,05 ml lalu ditambahkan 3,5 ml campuran acetic acid glacial dan O-Toluidin dengan perbandingan 47:3, Campuran tersebut dipanaskan dalam water bath 100 0C selama 10 menit, Kemudian diukur dengan spektrofotometer dengan panjang gelombang 635 nm (abs sampel), Glukosa darah dihitung dengan rumus

( /100 ) = / ×

Keterangan: Au = Abs Sampel

Cs = Konsentrasi sampel Abs = Absorbansi Standar

X2 - X1 - X3 x 100 % A

25 Lampiran 7. Jumlah konsumsi pakan (JKP), laju pertumbuhan spesifik (LPS), efisiensi pakan (EP), survival rate (SR) selama 40 hari pemeliharaan Ikan Rainbow Praecox.

Lampiran 7.1 Jumlah Konsumsi Pakan Ulangan

Jumlah Konsumsi Pakan (%)

Perlakuan A Perlakuan B Perlakuan C Perlakuan D Perlakuan E

1 6,00 9,40 8,80 8,70 7,80 2 7,70 9,90 7,90 9,00 9,20 3 7,70 7,00 8,70 9,40 8,70 Rata-rata 29,57 33,50 33,60 34,80 34,40 Standar Deviasi 1,97 1,55 0,62 1,10 1,47 TABEL ANOVA Jumlah Kuadrat

df Kuadrat Tengah F hitung F tabel,

Jumlah Konsumsi Pakan Antara kelompok 52,343 4 13,086 6,515 ,008 Dalam kelompok 20,087 10 2,009 Total 72,429 14

Uji Lanjut (Tukey)

Perlakuan Pasangan untuk α = 0,05 N 1 2 Vitamin C 0 mg/kg pakan 3 29,57 Vitamin C 50 mg/kg pakan 3 33,5 Vitamin C 100 mg/kg pakan 3 33,6 Vitamin C 150 mg/kg pakan 3 34,8 Vitamin C 200 mg/kg pakan 3 34,4 Sig, 1 0,791

Keterangan: Kelompok yang homogen terdapat dalam kolom yang sama Lampiran 7.2 Laju Pertumbuhan Spesifik

Ulangan Laju Pertumbuhan Spesifik Individu (%)

Perlakuan A Perlakuan B Perlakuan C Perlakuan D Perlakuan E

1 0,67 0,90 0,91 0,86 0,92

2 0,44 0,65 0,60 0,91 0,92

3 0,41 0,33 0,38 0,75 0,83

Rata-rata 0,50 0,63 0,63 0,84 0,89 Standar Deviasi 0,14 0,29 0,27 0,05 0,08

26 TABEL ANOVA

Jumlah Kuadrat df Kuadrat Tengah F hitung F tabel, Laju Pertumbuhan Spesifik Antara kelompok ,310 4 ,078 2,127 ,152 Dalam kelompok ,364 10 ,036 Total ,674 14

Lampiran 7.3 Efisiensi Pakan

Ulangan Efisiensi Pakan (%)

Perlakuan A Perlakuan B Perlakuan C Perlakuan D Perlakuan E

1 5,49 6,62 6,29 5,96 7,19 2 3,65 4,36 4,64 6,68 6,87 3 2,94 2,43 2,71 4,94 5,89 Rata-rata 4,03 4,47 4,54 5,86 6,65 Standar Deviasi 1,32 2,09 1,79 0,87 0,68 TABEL ANOVA

Jumlah Kuadrat df Kuadrat Tengah F hitung F tabel, Efisiensi Pakan Antara kelompok 14,504 4 3,626 1,716 ,222 Dalam kelompok 21,128 10 2,113 Total 35,632 14

Lampiran 7.4 Kelangsungan Hidupikan Rainbow Praecox Ulangan Survival Rate (%)

Perlakuan A Perlakuan B Perlakuan C Perlakuan D Perlakuan E

1 76 96 100 100 100

2 92 96 92 100 100

3 80 88 92 96 100

Rata-rata 82,67 93,33 94,67 98,67 100,00 Standar Deviasi 8,33 4,62 4,62 2,31 0,00

27 TABEL ANOVA

Jumlah Kuadrat df Kuadrat Tengah F hitung F tabel, Kelangsungan hidup Antara kelompok 561,067 4 140,267 5,977 ,010 Dalam kelompok 234,667 10 23,467 Total 795,733 14 Uji Lanjut (Tukey)

Perlakuan Pasangan untuk α = 0,05 N 1 2 Vitamin C 0 mg/kg pakan 3 82,6667 Vitamin C 50 mg/kg pakan 3 93,3333 93,3333 Vitamin C 100 mg/kg pakan 3 94,6667 94,6667 Vitamin C 150 mg/kg pakan 3 98,6667 Vitamin C 200 mg/kg pakan 3 100 Sig, 0,074 0,483

Dokumen terkait