• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kualitas air ikan rainbow praecox selama 40 hari masa pemeliharaan disajikan pada Tabel 4. Pada tabel tersebut suhu media pemeliharaan berkisar antara 25,40 – 27,40 °C. Kandungan oksigen terlarut berkisar antara 4,57 - 5,61 ppm. Nilai pH selama pemeliharan berkisar antara 6,69 - 7,55. Nilai alkalinitas media pemeliharaan ikan rainbow berkisar antara 22,66 – 50,97 ppm.

Tabel 4. Kisaran kualitas air penelitian ikan rainbow praecox dengan dosis A (Vitamin C 0 mg/kg pakan), B (Vitamin C 50 mg/kg pakan), C (Vitamin C 100 mg/kg pakan), D (Vitamin C 150 mg/kg pakan), dan E (Vitamin C 200 mg/kg pakan).

Tabel 4. Kualitas air selama pemeliharaan

Parameter Perlakuan Nilai Kisaran Optimal Suhu ( °C ) A 25,55 - 27,00

B 25,40 - 26,70

C 25,55 - 27,00 24 0C – 27 0C D 25,70 - 27,30 (Nasution, 2000) E 25,85 - 27,40

12 Tabel 4. Lanjutan

Parameter Perlakuan Nilai Kisaran Optimal

pH A 7,22 – 7,55 B 7,37 - 7,45 C 7,29 - 7,40 6 – 8 D 7,15 - 7,50 (Nasution, 2000) E 6,69 - 7,55 DO A 5,16 - 5,29 B 5,43 C 5,31 - 5,47 > 5ppm D 5,44 - 5,61 (Tappin, 2010) E 4,57 - 5,14 Alkalinitas (ppm) A 22,66 - 50,97 B 22,66 - 50,97 C 22,66 - 50,97 50 – 200 ppm D 22,66 - 39,65 (Tappin, 2010) E 33,98 - 50,97 Kesadahan A 43,89 - 53,90 B 45,43 - 63,14 C 52,36 - 71,61 50 – 250 ppm D 44,66 - 61,60 (Tappin, 2010) E 43,89 - 61,60 NH3 (ppm) A 0,01 - 0,04 B 0,01 - 0,05 C 0,03 - 0,05 < 0,2 ppm D 0,02 - 0,08 (Effendi, 2003) E 0,03 - 0,06 NO2 (ppm) A 0,03 - 0,06 B 0,05 - 0,08 C 0,12 - 0,13 D 0,05 - 0,13 E 0,08 3.2 Pembahasan

Dalam penelitian ini dilakukan suatu rekayasa melalui pakan terhadap benih ikan rainbow praecox dengan penambahan vitamin C yang berbeda dosis terhadap masing-masing perlakuan. Dosis vitamin C yang digunakan dalam penelitian ini yaitu A (0 mg/kg pakan), B (50 mg/kg pakan), C (100 mg/kg pakan), D (150 mg/kg pakan) dan E (200 mg/kg pakan).

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan selama 40 hari, memperlihatkan bahwa penambahan vitamin C yang berbeda dosis pada tiap

13 perlakuan memberikan nilai jumlah konsumsi pakan yang berbeda pula. Pada Gambar 1 terlihat bahwa perlakuan dosis vitamin C 0 mg/kg pakan berbeda nyata terhadap perlakuan dosis vitamin C 50, 100, 150 dan 200 mg/kg pakan. Hal ini dapat diketahui bahwa penambahan vitamin C secara tidak langsung dapat meningkatkan nafsu makan pada ikan. Sesuai menurut Siregar (2009), Vitamin merupakan senyawa organik yang berperan penting dalam proses metabolisme makanan dan fisiologi ikan. Walaupun vitamin C ini bukan sebagai sumber tenaga tetapi vitamin C dibutuhkan sebagai katalisator terjadinya metabolisme di dalam tubuh.

Namun, bila dilihat dari laju pertumbuhan harian pada pemeliharaan benih ikan rainbow praecox pada Gambar 2, penambahan pemberian vitamin C tidak memberikan pengaruh yang berbeda. Vitamin C dapat diketahui berfungsi dalam meningkatkan laju pertumbuhan ikan. Hal ini sesuai dengan pendapat Lovell (1989) dalam Sunarto (2008) bahwa vitamin C berfungsi untuk meningkatkan pertumbuhan normal, mencegah kelainan bentuk tulang, kesehatan benih atau mengurangi stres, mempercepat penyembuhan luka dan meningkatkan pertahanan atau kekebalan tubuh melawan infeksi bakteri.

Laju pertumbuhan spesifik pada benih ikan rainbow praecox yang diberi perlakuan penambahan vitamin C melalui pakan tidak memberikan pengaruh yang berbeda terhadap perlakuan yang tidak diberi penambahan vitamin C, hal ini dapat dikarenakan lama pemeliharaan dalam penelitian ini yang kurang cukup untuk melihat secara signifikan perbedaan laju pertumbuhan spesifik dan dalam penelitian ini, pemeliharaan benih ikan rainbow praecox dilakukan selama empat puluh hari. Pertumbuhan ikan rainbow praecox mencapai penambahan sekitar 3 cm selama pemeliharaan enam bulan (Tappin, 2010).

Nilai efisiensi pakan selama pemeliharaan benih ikan rainbow praecox, dapat dilihat pada Gambar 3, dimana penambahan pemberian vitamin C tidak memberikan pengaruh yang berbeda. Nilai efisiensi pakan berkaitan dengan jumlah konsumsi pakan dan laju pertumbuhan spesifik. Penambahan vitamin C tidak memberikan nilai yang berbeda terhadap nilai laju pertumbuhan spesifik, hal ini dapat menjadi penyebab pemberian vitamin C pada penelitian ini tidak memberikan pengaruh terhadap nilai efisiensi pakan. Penambahan vitamin C yang

14 tidak memberikan pengaruh terhadap efisiensi pakan dapat dikarenakan lama pemeliharaan dalam penelitian ini yang kurang optimal, sehingga belum dapat melihat perbedaan nilai yang signifikan pada nilai laju pertumbuhan spesifik, sehingga pada akhirnya mempengaruhi nilai efisiensi pakan. Nilai efisiensi pakan yang didapatkan pun relatif rendah, hal ini diduga dapat disebabkan kadar vitamin C yang diberikan belum optimal. Sesuai dengan pendapat Sunarto (2008) untuk memacu pertumbuhan dan efisiensi penggunaan pakan yang tinggi diperlukan vitamin C yang optimal dalam pakan dan kekurangan vitamin C dapat menyebabkan efisiensi pemanfaatan pakan rendah.

Data kelangsungan hidup pada ikan hias rainbow praecox dapat dilihat pada Gambar 4, dimana penambahan pemberian vitamin C memberikan pengaruh terhadap kelangsungan hidup benih ikan rainbow praecox. Nilai kelangsungan hidup tertinggi terdapat pada perlakuan dosis vitamin C 200 mg/kg pakan dengan nilai rata-rata 100%. ikan rainbow praecox merupakan ikan hias yang cukup sensitif terhadap lingkungan yang kurang baik. Berdasarkan ciri perairan tempat asalnya, sebagian besar spesies ikan rainbow hidupnya di daerah danau, dan dapat diduga bahwa ikan rainbow sangat peka terhadap oksigen rendah, kekeruhan dan perubahan suhu (Nasution, 2000).

Dalam penelitian ini, pemeliharaan ikan rainbow dilakukan dalam wadah baskom, dimana air pada wadah pemeliharaan tidak mengalir serta kepadatan ikan yang cukup tinggi. Kepadatan dalam penelitian ini yaitu 5 ekor/liter, hal ini dapat dikatakan padat karena bila dilihat dari penelitian Savoetra (2012) dimana dalam pemeliharaan larva ikan rainbow kurumoi berumur 15 hari dilakukan dengan kepadatan 5 ekor/liter. Dengan kepadatan yang cukup tinggi ini, maka dapat memacu tingkat stres ikan rainbow praecox dimana pada habitat aslinya berada pada lingkungan air mengalir serta kepadatan yang rendah. Berdasarkan data kelangsungan hidup yang diperoleh dalam penelitian ini, dapat diketahui bahwa vitamin C memberikan peran yang baik untuk kelangsungan hidup ikan rainbow, hal ini sesuai dengan pendapat (Ikeda, 1991) dalam (Yeniche, 2003) bahwa vitamin C berperan menormalkan fungsi kekebalan, mengurangi stres dan mempercepat penyembuhan pada luka.

15 Selama penelitian terjadi kualitas air yang dihasilkan masih layak untuk kegiatan pembesaran ikan rainbow praecox. Kandungan oksigen terlarut dalam wadah ikan rainbow praecox selama pemeliharaan berkisar antara 4,57 - 5,61 ppm (Tabel 4). Kandungan oksigen membantu di dalam proses oksidasi bahan buangan serta pembakaran makanan untuk menghasilkan energi bagi kehidupan dan pertumbuhan benih ikan rainbow praecox. Kandungan oksigen terlarut yang didapatkan sampai akhir pemeliharan masih berada pada kisaran nilai yang baik untuk kehidupan dan pertumbuhan benih ikan rainbow praecox dengan derajat kelangsungan hidup yang masih diatas 70%.

Semakin tinggi suhu, maka laju metabolisme semakin tinggi. Suhu media pemeliharaan selama penelitian berkisar antara 25,40 – 27,40 °C (Tabel 4) sehingga masih dapat ditoleransi oleh ikan rainbow praecox dimana menurut Nasution (2000), suhu yang optimal untuk pertumbuhan ikan rainbow praecox yaitu 24 0C – 27 0C .

Nilai pH selama pemeliharaan berkisar antara 6,69 - 7,55 (Tabel 4). Selama masa pemeliharaan tersebut terdapat kecenderunagan turunnya nilai pH. Penurunan nilai dapat pH disebabkan oleh peningkatan CO2 akibat respirasi. Tetapi untuk mengatasinya, selama pemeliharaan setiap wadah pemeliharaan ditambahkan kerang dan karang untuk meningkatkan nilai pH. Nilai pH dalam penelitian ini masih dalam kisaran toleransi ikan rainbow praecox, dimana menurut Nasution (2000) nilai pH yang baik untuk ikan rainbow praecox adalah 6-8.

Setelah pemeliharaan selama 40 hari dengan penambahan vitamin C yang berbeda dosis pada benih ikan rainbow praecox, dilakukan uji nilai glukosa pada tubuh ikan rainbow praecox pada setiap perlakuan. Nilai uji glukosa pada tubuh ikan rainbow praecox dapat dilihat pada Gambar 5, dimana nilai kadar glukosa tertinggi terdapat pada perlakuan A dengan nilai 1,69 mg/100 ml sedangkan nilai terendah terdapat pada perlakuan E dengan nilai 0,22 mg/100 ml. Bila diurutkan nilai glukosa dari yang tertinggi hingga terendah yaitu berada pada perlakuan A (1,69 mg/100ml), B (0,86 mg/100ml), C (0,85 mg/100ml), D (0,68 mg/100ml) dan E (0,22 mg/100ml). Nilai glukosa pada tubuh ikan rainbow praecox dari setiap perlakuan, membuktikan bahwa vitamin C dapat mengurangi stres pada

16 ikan. Stres merupakan respon fisiologis yang terjadi pada saat hewan berusaha mempertahankan kondisi tubuhnya dari kondisi lingkungan dan stres dapat berasal dari perubahan lingkungan dan respon organisme lain (Subyakto, 2000) dalam

(Sunarto, 2008).

Mekanisme terjadinya perubahan kadar glukosa darah selama stres dimulai dari diterimanya informasi penyebab faktor stres oleh organ reseptor. Selanjutnya, informasi tersebut disampaikan ke otak bagian hipotalamus melalui sistem syaraf. Kemudian hipotalamus memerintahkan sel kromafin untuk mensekresikan hormon katekolamin melalui serabut syaraf simpatik. Ketersediaan vitamin C yang cukup dalam tubuh dimanfaatkan untuk digunakan dalam proses sintesis katekholamin. Adanya katekolamin ini akan mengaktivasi enzim - enzim yang terlibat dalam katabolisme simpanan glikogen, sehingga kadar glukosa darah mengalami peningkatan. Pada saat yang bersamaan hipotalamus otak mensekresikan CRF (corticoid releasing factor) yang meregulasi kelenjer pituitari untuk mensekresikan ACTH (adreno corticotropic hormone). Hormon tersebut akan direspon oleh sel interenal dengan mensekresikan kortisol. kortisol adalah suatu hormon yang melawan efek insulin dan menyebabkan kadar gula darah tinggi, jika seseorang mengalami stress berat yang dihasilkan dalam tubuhnya, maka kortisol yang dihasilkan akan semakin banyak, ini akan mengurangi sensifitas tubuh terhadap insulin. Kortisol merupakan musuh dari insulin sehingga membuat glukosa lebih sulit untuk memasuki sel dan meningkatkan gula dalam darah (Watkins, 2010) dalam (Nugroho, 2010).

Selain melakukan uji kadar glukosa pada tubuh ikan di akhir pemeliharaan, dilakukan juga uji stres untuk mengetahui pengaruh daya tahan pada ikan rainbow praecox yang diberi perlakuan penambahan vitamin C yang berbeda dosis. Uji stres dilakukan dengan menurunkan suhu pada media pemeliharaan dengan kisaran suhu 15 – 16 0C dan kepadatan lima ekor/liter. Pada uji stres ini menggunakan suhu rendah dengan kisaran suhu 15 – 16 0C karena menurut Nasution (2000) suhu yang optimal untuk kehidupan ikan rainbow praecox yaitu 24 0C – 27 0C. Hasil uji stres pada Tabel 3 dapat diketahui bahwa kematian didapatkan pada perlakuan A (pemberian vitamin C 0 mg/kg pakan) yaitu kematian ikan berjumlah 12 ekor, sedangkan jumlah kematian terendah

17 didapatkan pada perlakuan E dengan dosis vitamin C (200 mg/kg pakan) tertinggi, kematian pada perlakuan E berjumlah 5 ekor. Berdasarkan jumlah angka kematian dalam uji stres yang terdapat pada Tabel 3, dapat diketahui bahwa vitamin C memberikan peran yang baik terhadap ketahanan ikan rainbow praecox dalam kondisi yang tidak optimal.

Perubahan suhu lingkungan (guncangan suhu dingin) akan menyebabkan stres yang menginduksi pada tingginya tingkat glukosa darah, selanjutnya menganggu pertumbuhan bahkan mematikan. Kebutuhan energi dari glukosa untuk menangani stres dapat terpenuhi apabila glukosa dalam darah dapat segera masuk ke dalam sel target. Keberhasilan pasok glukosa ke dalam sel ditentukan oleh kinerja insulin. Sedangkan selama stres terjadi inaktivasi insulin sehingga menutup penggunaan glukosa oleh sel (Wendelaar, 1997) dalam (Hastuti, 2003). Selanjutnya apabila ketersediaan vitamin dalam tubuh optimal maka pada kondisi lingkungan yang tidak baik proses sintesis katekolamin dapat berlangsung dengan baik, sehingga ikan mampu bertahan dari perubahan fisiologis dalam tubuhnya atau tidak terjadi stres.

18

IV. KESIMPULAN

Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan vitamin C dengan dosis 200 mg/kg pakan adalah yang terbaik dapat mengurangi tingkat stres pada ikan rainbow praecox dengan nilai glukosa 0,22 mg/100ml dan kelangsungan hidup 100%, tetapi tidak memberikan pengaruh terhadap laju pertumbuhan spesifik untuk semua perlakuan.

19

DAFTAR PUSTAKA

Djamhuriyah, S.S., Haryani, G.S., 2011. Sistem Pengelolaan Habitat Ikan Hias Endemik Indonesia, di dalam: Prosiding Seminar Nasional Hari Lingkungan Hidup, ISBN 978-602-19161-0-0.

Hastuti. 2003. Respon Glukosa Darah Ikan Gurami (Osphronemus gouramy, LAC.) Terhadap Stres Perubahan Suhu Lingkungan. Jurnal Akuakultur Indonesia 2(2), 73-77.

Hidayat, S., Djamhuriyah, S., 2005. Kekerabatan Beberapa Spesies Ikan Pelangi irian (Famili Melanotaenidae) Berdasarkan Karyotipe. Jurnal lktiologi lndonesia, Volume 5, Nomor l.

Irwan. 2002. Pengaruh Kadar α-Starch Pakan yang Berbeda terhadap Kadar Glukosa Darah Ikan Gurame (Osphronemus gouramy, Lac). [Skripsi]. Jurusan Budidaya Perairan. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Institut Pertanian Bogor.

Liviawaty, E., Afrianto, E., 2005. Pakan Ikan. Yogyakarta: Penerbit Kanisius. Lukman. 2005. Uji Pemeliharaan Ikan Pelangi Irian (Melanotaenia boesmani) Di

Dalam Sistem Resirkulasi. Jurnal lktiologi Indonesia, Volune 5, Nomor 1. Nurfadhillah. 2010. Pemakaian Hasil Fermentasi Daun Mata Lele Azolla sp.

sebagai Bahan Baku Pakan Ikan Nila (Oreochromis sp.). [Skripsi]. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Institut Pertanian Bogor.

Nasution, S.H. 2000. Ikan Hias Air Tawar Rainbow. Bogor: Penebar Swadaya. Nugroho, S.A. 2010. Hubungan Antara Tingkat Stres Terhadap Kadar Gula Darah

Penderita Diabetes Melitus Di Wilayah Kerja Puskesmas Sukoharjo I Kabupaten Sukoharjo. [Skripsi]. Fakultas Ilmu Kesehatan. Universitas Muhammadiyah Surakarta.

Savoetra, R.A. 2012. Pengaruh Jumlah Pemberian Moina sp. Terhadap Kelangsungan Hidup dan Pertumbuhan Larva Ikan Rainbow Kurumoi (Melanotaenia parva). [Skripsi]. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Universitas Padjadjaran.

Sunarto. 2008. Pengaruh Pemberian Vitamin C Ascorbic Acid Terhadap Kinerja Pertumbuhan dan Respon Imun Ikan Betok Anabas testudineus Bloch. Jurnal Akuakultur Indonesia 7(2), 151–157.

Siregar, Y. I. 2009. Pengaruh Vitamin C terhadap Peningkatan Hemoglobin (Hb) Darah dan Kelulushidupan Benih Ikan Kerapu Bebek (Cromileptes altivelis). Jurnal Natur Indonesia 12(1), 75-81.

20 Takeuchi, T. 1988. Laboratory work chemical evaluation of dietary nutrients. In

Watanabe, T (ed.). Fish Nutrition and Mariculture. Departement of Aquatic Bioscience. Tokyo University of Fisheries.

Tappin R.A. 2010. Rainbow Fishes. Australia: Art Publication.

Yeniche. 2003. Akumulasi Vitamin C dalam Tubuh Daphnia Sp Yang Diperkaya dengan L-Ascorbyl-2-Magnesium Phosphate Pada Dosis Yang Berbeda. [Skripsi]. Program Studi Budidaya Perairan. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Institut Pertanian Bogor.

1

21 Lampiran 1. Hasil analisis proksimat pakan komersil (% bobot kering)

perlakuan proksimat (% bobot kering)

Protein Lemak Abu Serat kasar Kadar air BETN Pakan komersil 40,1376 1,4009 16,3450 7,4173 14,8320 19,8672 Lampiran 2. Hasil analisis kualitas air hari pertama

Perlakuan Parameter Suhu (oC) pH DO (mg/l) Alkalinitas (ppm) Kesadahan NH3 (ppm) NO2 (ppm) Media pemeliharaan 26,7 8,1 8,07 45,31 40,04 0,085 0,02 Lampiran 3. Hasil analisis kualitas air selama pemeliharaan (Hari 20)

Parameter A B C D E suhu (ºC) 27 26,7 27 27,3 27,4 pH 7,55 7,45 7,4 7,5 7,55 DO (mg/l) 5,16 5,43 5,47 5,43 5,14 Alkalinitas (ppm) 50,97 50,97 50,98 39,65 50,97 Kesadahan 43,89 45,43 52,36 44,66 43,89 NH3 (ppm) 0,04 0,05 0,05 0,08 0,06 NO2 (ppm) 0,03 0,05 0,12 0,05 0,08 Lampiran 4. Hasil analisis kualitas air selama pemeliharaan (Hari 40)

Parameter A B C D E suhu (ºC) 25,55 25,4 25,55 25,7 25,85 pH 7,22 7,37 7,29 7,15 6,69 DO (mg/l) 5,29 5,43 5,31 5,61 4,57 Alkalinitas (ppm) 22,66 22,66 22,66 22,66 33,98 Kesadahan 53,9 63,14 71,61 61,6 61,6 NH3 (ppm) 0,01 0,01 0,03 0,02 0,03 NO2 (ppm) 0,06 0,08 0,13 0,13 0,82

Lampiran 5. Prosedur analisis proksimat (Takeuchi, 1988) A. Kadar Protein (metode Kjedahl)

1. Sampel ditimbang seberat 0,5-1,0 gram dan dimasukkan ke dalam labu

kjedahl,

2. Katalis berupa K2SO4,5H2O dengan rasio 9 : 1 ditimbang sebanyak 3 gram dan dimasukkan ke dalam labu kjedahl,

3. Selanjutnya ditambahkan 10 ml H2SO4 pekat ke dalam labu tersebut dan kemudian labu dipanaskan selama 3-4 jam sampai cairan dalam labu berwarna hijau,

22 4. Lalu larutan didinginkan, lalu ditambahkan air destilata 30 ml, Kemudian masukkan larutan tersebut ke dalam labu takar dan diencerkan dengan akuades sampai larutan tersebut mencapai volume 100 ml (larutan A), 5. Labu erlenmeyer diisi 10 ml H2SO4 0,05 N dan ditambahkan 2-3 tetes

indikator methylen blue atau methyl red (larutan B),

6. Larutan A diambil sebanyak 5 ml dan ditambahkan 10 ml NaOH 30% yang dimasukkan ke dalam labu kjedahl, Lalu dilakukan pemanasan dan kondensasi selama 10 menit mulai saat tetesan pertama pada larutan B, 7. Larutan dalam labu erlenmeyer dititrasi dengan 0,05 N larutan NaOH

sampai terjadi perubahan warna dari merah muda menjadi hijau tua,

8. Kadar protein (%) = Keterangan :

Vs = ml 0,05 N nitran NaOH untuk sampel Vb = ml 0,05 N nitran NaOH untuk blanko F = faktor koreksi dari 0,05 N larutan NaOH S = bobot sampel (gram)

* = setiap ml 0,05 N NaOH ekuivalen dengan 0,0007 gram nitrogen ** = faktor nitrogen

Dokumen terkait