METODOLOGI PENELITIAN
C. Instrumen Penelitian
Kualitas data hasil penelitian dipengaruhi oleh dua hal yaitu kualitas instrument penelitian dan kualitas pengumpulan data.Instrumen utama dalam penelitian kualitatif adalah peneliti itu sendiri, peneliti kualitatif sebagai human instrument berfungsi menetapkan data dan membuat kesimpulan. Fungsi peneliti dalam penelitian kualitatif menurut Nasution (2003 : 223) dinyatakan bahwa:
“Dalam penelitian kualitatif tidak ada pilihan lain selain menjadikan manusia sebagai instrumen penelitian utama, alasannya ialah bahwa segala sesuatunya belum mempunyai bentuk yang pasti. Masalah, fokus penelitian, prosedur penelitian, hipotesis yang digunakan, bahkan hasil yang diharapkan, itu semuanya tidak dapat ditentukan secara pasti dan jelas sebelumnya. Segala sesuatu masih perlu di kembangkan sepanjang penelitian itu. Dalam keadaan yang serba tidak pasti dan tidak jelas itu, tidak ada pilihan lain dan hanya peneliti itu sendiri sebagai alat satu-satunya yang dapat mencapainya”.
Dijadikannya peneliti sebagai human instrument tentu memiliki keunggulan tersendiri. Lincoln dan Guba (1985:199) menyatakan bahwa “...the human-as-instrument is inclined toward methods that are extensions of normal human activities: looking, listening, speaking, reading, and the like”. Dari pernyataan ini semakin jelas bahwa keunggulan manusia sebagai instrumen dalam penelitian naturalistik karena alat ini dapat melihat, mendengar, membaca, merasa, dan sebagainya yang biasa dilakukan manusia umumnya. Selanjutnya Moleong (2008 : 169) menjelaskan, beberapa alasan mengapa manusia dijadikan
1. Manusia sebagai instrumen responsif terhadap lingkungan dan terhadap pribadi-pribadi yang menciptakan lingkungan.
2. Manusia sebagai instrumen hampir tidak terbatas dapat menyesuaikan diri pada keadaan dan situasi pengumpulan data.
3. Manusia sebagai instrumen memanfaatkan imajinasi dan kreativitasnya dan memandang dunia sebagai suatu keutuhan, jadi sebagai konteks yang berkesinambungan di mana mereka memandang dirinya sendiri dan kehidupannya sebagai sesuatu yang riil, benar, dan mempunyai arti.
4. Manusia sebagai instrumen mendasarkan diri atas perluasan pengetahuan. 5. Manusia sebagai instrumen ialah memproses data secepatnya setelah
diperolehnya, menyusunnya, mengubah arah inkuiri atas dasar penemuannya.
6. Manusia sebagai instrumen memiliki kemampuan lainnya, yaitu kemampuan untuk menjelaskan sesuatu yang kurang dipahami responden. Peneliti sebagai human instrument berarti peneliti berfungsi juga sebagai alat penelitian. Sebagai alat penelitian, peneliti tentunya mempunyai ciri khas tersendiri. Menurut Nasution (2003 : 55-56) ciri tersebut adalah :
1. Peneliti sebagai alat, peka, dan dapat bereaksi terhadap segala stimulus dari lingkungan yang harus diperkirakannya bermakna atau tidak bagi penelitian.
2. Peneliti sebagai alat, dapat menyesuaikan diri terhadap semua aspek keadaan dan dapat mengumpulkan angka ragam data sekaligus.
3. Tiap situasi merupakan suatu keseluruhan.
4. Suatu situasi yang melibatkan interaksi manusia, dipahami dengan merasakan dan menyelaminya berdasarkan penghayatan.
5. Peneliti sebagai instrumen dapat segera menganalisis data yang diperoleh. 6. Hanya manusia sebagai instrumen dapat mengambil kesimpulan
berdasarkan data yang dikumpulkan pada suatu saat dan segera menggunakannya sebagai balikan untuk memperoleh penegasan,
7. Dengan manusia sebagai instrumen, respon yang lain dari pada yang lain dipakai untuk mempertinggi tingkat kepercayaan dan tingkat pemahaman mengenai aspek yang diselidiki
Selanjutnya LincolndanGuba(1985: 193) mengemukakansejumlahalasan mengapa manusia sebagai alat pengumpuldata, yaitu:
1. Responsivenes; Manusia dapat merasakan dan memberikan tanggapan terhadap petunjuk-petunjuk baik perorangan maupun lingkungan.
2. Holistic emphasi; Holistik dalam lingkungan sekeliling, akan memerlukan manusia sebagai instrumen yang mampu menangkap gejala lingkungan alamiah yang menyeluruh.
3. Adaptability; Daya guna manusia untuk menyesuaikan diri sangat tinggi sehingga dapat mengumpulkan informasi mengenai banyak aspek pada berbagai tingkatan secara simultan.
4. Knowledge base expansion; Berkemampuan menjalankan fungsi secara simultan dalam pengetahuan proposisional dan dalam pengetahuan yang dikumpulkan berdasarkan pengalaman.
5. Processual immediacy; Kemampuan manusia sebagai instrumen untukmemproses datasegerasetelahterkumpul,dandapat segeramengembangkannya
6. Opportunities to explore typical or idiosyncratic response; Mempunyai kemampuan untuk menyelidiki jawaban-jawaban sumber data dan informasi sampai pada tingkat pemahaman yang lebih tinggi.
7. Opportunities for clarification and summarization; Mempunyai kemampuan yang unik dalam menyimpulkan data serta meminta perbaikan dan penjelasaan secara langsung dari sumber informasi.
Berdasarkan beberapa pemahaman diatas, terdapat beberapa pertimbangan yang melandasi pemilihan pendekatan kualitatif dan metode etnografi yaitu :
2. Dalam penelitian ini peneliti memiliki kedudukan yang sama dengan subjek penelitian, baik di saat melakukan wawancara, maupun di saat mengamati sejumlah fenomena sesuai dengan fokus penelitian yang terjadi secara holistik;
3. Proses kerja penelitian dilakukan dengan mengutamakan pandangan dan pendirianinforman/partisipan terhadap situasi yang dihadapi;
4. Data penelitian dianalisis secara induktif untuk mendapatkan makna dari kondisi alami yang ada;
5. Pemaknaan dalam penelitian dilakukan oleh peneliti serta atas interpretasi bersama antara peneliti dengan sumber data dan fokus masalah tentang pembelajaran sejarah berbasis nilai religi untuk mengembangkan solidaritas sosial peserta didik.
6. Tingkat keterpercayaan data yang diperoleh dilakukan melalui verifikasi data dengan metode dan subjek yang berbeda-beda, kemudian dilakukan penyesuaian-penyesuaian.
Pelaksanaan penelitian dilapangan tentunya akan menemui beberapa kesulitan terutama dalam usaha mengumpulkan data. Solusi dari hal tersebut tentunya diperlukan alat bantu untuk mengumpulkan data penelitian. Beberapa alat bantu yang dapat digunakan yaitu :
1. Buku catatan berfungsi untuk mencatat semua percakapan dengan sumber data atau informan. Buku catatan ini digunakan selama peneliti mewawancarai informan di SMA Terpadu Riyadlul U’lum Condong Kota Tasikmalaya terutama peserta didik, guru sejarah, dan kepala sekolah. 2. Tape Recorder berfungsi untuk merekam semua percakapan atau
pembicaraan selama peneliti mewawancarai informan atau sumber data. 3. Handy Cam digunakan untuk merekam dan digunakan sebagai kamera
untuk mengumpulkan data pada saat kegiatan pembelajaran sejarah di kelas juga pada kehidupan keseharian peserta didik SMA Terpadu Riyadlul U’lum Condong Kota Tasikmalaya.
dengan adanya bantuan alat penelitian ini maka keabsahan penelitian lebih terjamin karena disertai bukti-bukti dalam melakukan pengumpulan data. D. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data dalam penelitian kualitatif dilakukan pada natural setting (kondisi alamiah) sumber data primer. Teknik pengumpulan data lebih banyak pada observasi berperan serta (participation observation), wawancara mendalam (in depth interview) dan dokumentasi (Sugiyono, 2007 : 309). Data yang dihimpun dalam penelitian ini berupa kata-kata, tindakan dan dokumen, situasi, dan peristiwa yang dapat diobservasi. Nasution (2003:56) mengatakan bahwasumber data yang dimaksud adalah :
“Kata-kata diperoleh secara langsung atau tidak langsung melalui wawancara, dan observasi. Dokumen berupa kurikulum, satuan pembelajaran, rencana pelajaran, buku paket, dan hal-hal yang berkaitan dengan masalah penelitian. Situasi yang berhubungan dengan kegiatan subjek penelitian dan masalah penelitian seperti dalam proses belajar mengajar, situasi belajar di perpustakaan dan situasi di lingkungan sekolah”
Sumber dan teknik pengumpulan data penelitian di SMA Terpadu Riyadlul U’lum Condong Kota Tasikmalaya ini dilakukan melalui beberapa teknik seperti: observasi partisipatif, wawancara mendalam, dokumentasi dan triangulasi/gabungan.
1. Pengumpulan Data dengan Obervasi
Menurut Sugiyono (2007 : 145) teknik pengumpulan data dengan observasi digunakan bila penelitian berkenaan dengan perilaku manusia, proses kerja, gejala-gejala alam dan bila responden yang diamati tidak terlalu besar. Selanjutnya Faisal (1990) mengklarifikasikan observasi menjadi observasi partisipasi (participant observation), observasi yang secara terang terangan atau tersamar (overt observation and cover observation), dan observasi yang tak berstruktur (unstructured observation). Terkait dengan hal tersebut di atas, maka dalam penelitian di SMA Terpadu Riyadlul U’lum Condong Kota Tasikmalaya ini
aktivitas semua komponen sekolah, namun peneliti tidak ikut terlibat dalam kegiatan tersebut. Observasi dilakukan untuk mengamati dua proses utama yang menjadi pokok permasalahan penelitian yaitu :
1. Mengamati secara langsung proses pembelajaran sejarah berbasis nilai religi untuk mengembangkan solidaritas sosial peserta didik. Observasi dimulai dengan telaah dokumen perangkat pembelajaran yang dimiliki guru sejarah, kemudian implementasi proses pembelajaran dimulai dari apersepsi, kegiatan inti pembelajaran dan penutup. Dalam kegiatan ini observasi ditujukan kepada semua peserta didik dan guru sejarah. Adapun guru sejarah yang diobservasi adalah bapak T pada hari senin tanggal 6 April 2015 di kelas XI IPS lanjutan A, XI IPS intensif A, XI IPA lanjutan A dan XI IPA lanjutan B. Guru kedua yang diobservasi dalam proses pembelajaran adalah ibu R pada selasa tanggal 7 April 2015 di kelas X IPS intensif B.
2. Mengamati aktualisasi solidaritas sosial baik di dalam dan luar kelas serta di kehidupan keseharian peserta didik di lingkungan sekolah. Observasi dilakukan terutama untuk melihat penerapan nilai religi yaitu : ta’awun (tolong-menolong), ukhuwah (persaudaraan) dan ittihad (persatuan). Dalam kegiatan ini observasi ditujukan kepada peserta didik sebagai objek utama dan komponen sekolah lainnya sebagai objek pendukung. Observasi mengenai aktualisasi solidaritas sosial peneliti lakukan kurang lebih selama 5 bulan dari tanggal 18 Februari 2015 sampai 20 Juni 2015 dengan pemilihan hari dan waktu disesuaikan dengan kebutuhan. Hal ini disebabkan karena sekolah yang peneliti observasi menerapkan sistem pembelajaran terpadu selama 24 jam (pesantren). Supaya lebih akurat penulis melakukan observasi pada siang ataupun malam hari, baik hari efektif belajar (Sabtu-Kamis) maupun hari libur (Jumat).
Sebagai salah satu teknik pengumpulan data dalam sebuah penelitian, pelaksanaan observasi tentunya memberikan manfaat yang cukup besar bagi
1. Peneliti akan lebih mampu memahami konteks data dalam keseluruhan situasi sosial, jadi akan dapat diperoleh pandangan yang holistik (menyeluruh),
2. Diperoleh pengalaman langsung, sehingga memungkinkan peneliti menggunakan pendekatan induktif, jadi tidak dipengaruhi oleh konsep atau pandangan sebelumya. Pendekatan induktif membuka kemungkinan melakukan penemuan atau discovery,
3. Peneliti dapat melihat hal-hal yang kurang atau tidak diamati orang lain, khusunya orang yang berada dalam lingkungan itu, karena telah dianggap “biasa” dan karena itu tidak akan terungkapkan dalam wawancara,
4. Peneliti dapat menemukan hal-hal yang tidak akan terungkapkan oleh responden dalam wawancara karena bersifat sensitif atau ingin ditutupi karena dapat merugikan nama lembaga,
5. Peneliti dapat menemukan hal-hal diluar persepsi responden, sehingga peneliti memperoleh gambaran yang lebih komprehensif,
6. Peneliti tidak hanya mengumpulkan data yang kaya, tetapi juga memperoleh kesan-kesan pribadi, dan merasakan suasana situasi sosial yang diteliti.
2. Pengumpulan Data dengan Wawancara
Teknik wawancara digunakan untuk mendialogkan dan menggali informasi yang dibutuhkan dalam penelitian, baik wawancara terstruktur dengan bantuan pedoman wawancara maupun yang tidak terstruktur. Wawancara terstruktur dilakukan untuk memperoleh data tentang implementasi pembelajaran sejarah berbasis nilai religi untuk mengembangkan solidaritas sosial peserta didik dan problematika yang dihadapi. Sedangkan wawancara tidak terstruktur dilakukan untuk memperoleh data dari beberapa informan kunci untuk melengkapi data tersebut diatas dengan pertanyaan yang bersifat menggali pengetahuan informan.
pengumpulan data di atas telah dikembangkan menjadi instrumen pengumpulan data berupa pedoman-pedoman, meliputi: pedoman wawancara untuk guru sejarah, peserta didik, kepala sekolah, ketua yayasan, stakeholderdan pedoman observasi proses pembelajaran sejarah.
Adapun pertanyaan yang diajukan peneliti kepada informan berbeda satu sama lain karena disesuaikan dengan informasi yang ingin peneliti dapatkan. Untuk guru sejarah secara garis besar meliputi semua pertanyaan penelitian yaitu:
1. Rancangan pembelajaran sejarah berbasis nilai religi
2. Implementasi pembelajaran sejarah berbasis nilai religi untuk mengembangkan solidaritas sosial peserta didik
3. Aktualisasi solidaritas sosial peserta didik
Untuk peserta didik secara garis besar pertanyaan yang diajukan yaitu : 1. Proses pembelajaran sejarah berbasis nilai religi
2. Aktualisasi solidaritas sosial dalam kehidupan sehari-hari disekolah baik di dalam maupun luar kelas
3. Keterkaitan antara pembelajaran sejarah berbasis nilai religi dengan pengembangan solidaritas sosial peserta didik
Untuk kepala sekolah secara garis besar pertanyaan yang diajukan yaitu :
1. Kebijakan secara umum mengenai pembelajaran semua mata pelajaran berbasis nilai religi
2. Pola pengasuhan peserta didik
3. Rencana strategis pengembangan sekolah
Untuk ketua yayasan secara garis besar pertanyaan yang diajukan yaitu : 1. Sejarah berdirinya sekolah
2. Pola hubungan sekolah dengan masyarakat sekitar
Untuk stakeholder (orang tua dan masyarakat sekitar) secara garis besar pertanyaan yang diajukan yaitu :
1. Motivasi menyekolahkan anak ke SMA Terpadu Riyadlul U’lum Condong Kota Tasikmalaya
3. Pengumpulan Data dengan Dokumentasi
Studi dokumentasi merupakan pelengkap dalam metode observasi dan wawancara pada penelitian kualitatif. Lincon dan Guba, (1985: 276-277) mengatakan bahwa dokumentasi dan catatan digunakan sebagai pengumpulan data didasarkan pada beberapa hal yakni:
1. Dokumen dan catatan ini selalu dapat digunakan terutama karena mudah diperoleh dan relatif lebih murah.
2. Merupakan informasi yang mantap baik dalam pengertian merefleksikan situasi secara akurat maupun dapat dianalisis ulang tanpa melalui perubahan didalamnya.
3. Dokumen dan catatan merupakan sumber informasi yang kaya.
4. Keduanya merupakan sumber resmi yang tidak dapat disangkal, yang menggambarkan kenyataan formal.
5. Tidak seperti pada sumber manusia, baik dokumen maupun catatan non kreatif, tidak memberikan reaksi dan respon atau perlakuan kepada peneliti.
Dalam penelitian di SMA Terpadu Riyadlul U’lum Condong Kota Tasikmalaya ini, dokumen yang peneliti perlukan adalah dokumen-dokumen resmi sekolah maupun guru sejarah berupa profil sekolah, tujuan, visi dan misi, serta rencana pelaksanaan pembelajaran sejarah. Selain itu studi dokumentasi yang dibutuhkan penulis dalam penelitian ini adalah tulisan-tulisan tentang pembelajaransejarah dalam bentuk buku, jurnal, dan artikel. Tulisan tentang nilai religi, solidaritas sosial, etnografi baik berupa penelitian terdahulu maupun artikel serta peraturan kebijakan tentang pendidikan sejarah. Media massa juga dijadikan sebagai bahan studi dokumentasi terutama media cetak maupun online. Hasil studi dokumentasi dan kepustakaan ini dikembangkan sebagai deskripsi penelitian dan diinterpretasikan sehingga mencapai sebuah kesimpulan.