• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

H. Instrumen Penelitian

Dalam suatu penelitian pengumpulan data dengan biasanya menggunakan suatu alat yang disebut instrumen pengumpulan data. Menurut Sugiyono ( 2010: 102) instrumen penelitian adalah “suatu alat yang digunakan untuk mengukur baik fenomena alam maupun sosial yang diamati”. Dari penelitian tersebut dapat diketahui bahwa instrumen penelitian merupakan bagian yang penting dalam penelitian. Instrumen penelitian berfungsi sebagai sarana untuk mengumpulkan data yang banyak menentukan keberhasilan suatu penelitian, sehingga dalam penyusunannya berpedoman pada pendekatan yang digunakan agar data yang terkumpul dapat dijadikan dasar untuk mengetahui hipotesis serta data yang terkumpul. Selain itu, data terkumpul tersebut dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Berdasarkan hal tersebut penting adanya instrumen penelitian atau alat ukur yang baik dan cermat sehingga data yang diperoleh valid, akurat dan memenuhi tujuan diadakannya penelitian. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini yaitu panduan observasi dan tes kemampuan subjek dalam mengenal konsep bilangan, menentukan nilai tempat bilangan dan penjumlahan dua.

1. Instrumen Tes a. Pengertian tes

Tes bertujuan untuk mengungkapkan kemampuan penjumlahan yang dilaksanakan pada fase baseline-I, fase intervensi, dan fase baseline-II. Tes dilakukan secara lisan dan tindakan. Penyusunan instrumen tes berdasarkan pada kurikulum yang digunakan sekolah yaitu Kurikulum

70

KTSP dengan memperhatikan kemampuan subjek. Kemampuan subjek setara dengan kelas I SD karena selain mengalami hambatan fisik subjek tersebut juga disertai dengan hambatan intelektual sehingga materi yang digunakan adalah materi kelas I SD. Kemampuan awal subjek sudah mengenal konsep 1-20 dan lambang operasi bilangan (= dan +). Tes yang digunakan dalam pengumpulan data penelitian ini yaitu tes dengan jumlah 20 item soal. Tes penjumlahan dibatasi pada penjumlahan dengan hasil maksimal dari penjumlahan adalah 20. Hal ini di sesuaikan dengan kemampuan awal subjek yaitu mengenal konsep angka 1-20.

b. Langkah-langkah penyusunan tes

Prosedur penyusunan alat tes yang dilakukan yaitu berdasarkan pada validitas isi atau kurikuler berdasarkam kurikulum Pembelajaran Matematika untuk kelas I SDLB D. Pada penelitian ini langkah-langkah penyusunan instrumen pengukuran kemampuan penjumlahan sebagai berikut:

1) Menentukan standar kompetensi

Standar Kompetensi Mata Pelajaran Matematika kelas I SDLB D adalah melakukan penjumlahan dan pengurangan bilangan sampai dua angka dalam pemecahan masalah (Depdiknas, 2006).

2) Menentukan Kompetensi Dasar

Kompetensi Dasar Mata Pelajaran Matematika kelas I SDLB D adalah membilang banyaknya benda, menentukan nilai tempat

71

bilangan puluhan dan satuan serta melakukan penjumlahan bilangan dua angka (Depdiknas, 2006).

3) Menentukan Indikator

Indikator yang digunakan untuk Kompetensi Dasar tersebut adalah subjek dapat membilang banyakya benda. Subjek dapat menentukan nilai tempat bilangan puluhan dan satuan. Subjek dapat melakukan penjumlahan bilangan dua angka.

4) Menuliskan butir- butir tes

5) Menentukan kisi- kisi instrumen tes

Tabel 3. Kisi- Kisi Pedoman Tes Pengaruh Penggunaan Media Gambar Upin IpinTerhadap Kemampuan Penjumlahan Anak Cerebral PalsyKelas III di SLB N 1 Bantul

Standar Kompetensi

Kompetensi

Dasar Indikator No. Item

Jumlah Butir 4. Melakukan penjumlahan dan pengurangan bilangan sampai dua angka dalam pemecahan masalah. 4.1.Membilang banyaknya benda Subjek dapat menghitung banyaknya gambar Upin dan Ipin hingga 20. 1,2.3,4,5,6,7,8,9,10 10 4.4.Melakukan penjumlahan Subjek dapat melakukan penjumlahan dua angka 11,12,13,14,15, 16,17,18,19,20 10 c. Skoring Tes

Tes yang diberikan kepada subjek pada penelitian ini berupa tes pilihan isian singkat atau jawab pendek dan pilihan ganda. Adapun prosedurnya yakni subjek harus memberikan jawaban yang benar mengikuti instruksi soal yang dibacakan oleh guru atau peneliti. Pelaksanaan

72

scoring dalam penelitian ini menggunakan skala rating (rating scale). Kriteria pemberian skor:

Skor 4 : Jika subyek menjawab benar tanpa bantuan

Skor3 :Jika subyek menjawab benar dengan bantuan verbal Skor 2 : Jika subyek menjawab benar dengan bantuan tindakan

Skor 1 : Jika subyek menjawab salah setelah mendapat bantuan verbal dan bantuan tindakan.

Skor persentase keberhasilan subjek di ubah menjadi nilai dengan menggunakan rumus:

Keterangan:

S : Nilai pencapaian hasil tes subjek yang ingin di ketahui (dalam %) R : Skor hasil tes subjek yang di peroleh

N : Skor maksimum 100 : Bilangan tetap

Apabila subjek dapat memperoleh nilai pencapaia hasil tes di atas KKM yaitu 70 % secara konsisten, maka kemampuan penjumlahan subjek benar dan tepat. Maka dari itu, penggunaan media gambar Upin Ipin

dalam proses pembelajaran berpengaruh positif terhadap kemampuan penjumlahan pada subjek.

73

2. Instrumen Observasi

a. Pengertian pedoman observasi

Pedoman observasi berisi jenis kegiatan dan respon subjek yang muncul selama pengamatan dilakukan yaitu pada fase intervensi pada saat subjek mengerjakan tes atau tugas. Pedoman observasi berguna agar pengamatan terhadap subjek lebih tertata dan terprogram sehingga fokus pada aspek-aspek perilaku yang terlihat dan berkaitan dengan variabel penelitian. Instrumen pedoman observasi berfungsi sebagai instrumen pelengkap dan instrumen penguat dalam membuat kesimpulan.

b. Langkah-langkah penyusunan pedoman observasi

Penyusunan pedoman observasi berdasarkan pada aspek yang akan diamati pada perilaku subjek selama masa intervensi dilaksanakan yaitu penggunaan media gambar Upin Ipin terhadap kemampuan penjumlahan pada subjek Cerebral Palsy tipe spastik kelas III.

1) Mendefinisikan pengertian partisispasi subjek

Partisipasi subjek dalam Pembelajaran Matematika materi konsep bilangan, nilai tempat bilangan dan penjumlahan dengan menggunakan media gambar Upin Ipin adalah keaktifan subjek selama proses pembelajaran. Aspek yang di amati adalah mengenal, memperhatikan dan mencoba menyelesaikan soal penjumlahan menggunakan media gambar Upin Ipin.

74

2) Menetapkan indikator instrumen partisipasi subjek (a) Mengenal media gambar Upin Ipin.

(b) Mencoba menggunakan media gambar Upin Ipin.

(c) Menirukan contoh peneliti menyelesaikan soal penjumlahan menggunakan media gambar Upin Ipin.

(d) Subjek mencoba mengerjakan soal penjumlahan menggunakan media gambar Upin Ipin.

(e) Subjek menjawab secara lisan dan tindakan soal yang telah dikerjakan.

3) Menetapkan butir partisipasi subjek 4) Menyusun kisi- kisi

Tabel 4. Kisi- Kisi Pedoman Observasi Pengaruh Penggunaan Media Gambar Upin IpinTerhadap Kemampuan Penjumlahan Anak Cerebral PalsyKelas III di SLB N 1 Bantul

Partisipasi subjek Indikator No butir Keaktifan subjek

1. Mengenal media gambar Upin Ipin

2. Menggunakan media gambar Upin Ipin

3. Menirukan contoh peneliti menyelesaikan soal penjumlahan menggunakan media gambar Upin Ipin

4. Subjek mengerjakan soal penjumlahan menggunakan media gambar Upin Ipin

5. Subjekmenjawab secara lisan soal yang telah dikerjakan 1 2 3 4 5 Jumlah butir 5

Kriteria pemberian skor:

a. Mengenal media gambar Upin Ipin .

Skor 3: Apabila subjek mampu mengenal media gambar Upin Ipin.

Skor2 :Apabila subjek kurang mampu mengenal gambar Upin Ipin.

75

b. Mencoba menggunakan media gambar Upin Ipin.

Skor 3 : Apabila subjek mampu menggunakan media gambar Upin Ipin.

Skor 2 : Apabila subjek kurang mampu menggunakan media gambar

Upin Ipin

Skor 1 : Apabila subjek tidak mampu menggunakan media gambar

Upin Ipin.

c. Menirukan contoh peneliti menyelesaikan soal penjumlahan menggunakan media gambar Upin Ipin.

Skor 3 : Apabila subjek mampu menirukan contoh menyelesaikan soal penjumlahan menggunakan media gambar Upin Ipin.

Skor 2 : Apabila subjek kurang mampu menirukan contoh menyelesaikan soal penjumlahan menggunakan media gambar Upin Ipin.

Skor 1 : Apabila subjek tidak mampumenirukan contoh menyelesaikan soal penjumlahan menggunakan media gambar Upin Ipin.

d. Subjek mencoba mengerjakan soal penjumlahan menggunakan media gambar Upin Ipin.

Skor 3 : Apabila subjek mampu mengerjakan soal penjumlahan menggunakan media gambar Upin Ipin.

Skor 2 : Apabila subjek kurang mampu mengerjakan soal penjumlahan menggunakan media gambar Upin Ipin.

76

Skor 1 : Apabila subjek tidak mampu mengerjakan soal penjumlahan menggunakan media gambar Upin Ipin.

e. Subjek mencoba menjawab secara lisan dan tindakan soal tes penjumlahan

Skor 3 : Apabila subjek mampu menjawab secara lisan soal penjumlahan.

Skor 2 : Apabila subjek kurang mampu menjawab secara lisan soal penjumlahan.

Skor 1 : Apabila subjek tidak mampu menjawab secara lisan soal penjumlahan.

Hasil skor observasi partisipasi subjek di ubah menjadi nilai dengan menggunakan rumus:

Keterangan:

S: Nilai pencapaian hasil observasi partisipasi subjek yang ingin di ketahui R : Skor hasil observasi partisipasi subjek yang di peroleh

N : Skor maksimum

Tabel 5. Kriteria yang Digunakan dalam Menilai Partisipasi Subjek Tingkat penguasaan Nilai Huruf Kriteria

86-100 76-85 60-75 55-59 ≤ 54 A B C D TL Sangat Baik Baik Cukup Kurang Kurang sekali ( Ngalim Purwanto, 2012: 112) S = x 100 %

77

I. Validitas Instrumen

Suatu instrumen yang akan digunakan dalam penelitian tentunya harus melalui uji validitas untuk mengetahui valid tidaknya instrumen tersebut. Menurut Hamid Darmadi (2011: 87), “validitas berarti sejauh mana ketepatan dan kecermatan suatu instrumen dalam melakukan fungsi ukurnya”. Menurut Suharsimi (2006: 168), validitas adalah suatu ukuran yang menunjukkan tingkat kevalidan atau kesyahan sesuatu instrumen. Valid artinya suatu instrumen dapat digunakan untuk mengukur sesuatu yang akan diukur oleh peneliti. Validitas merupakan salah satu syarat dalam membuat instrumen. Menurut Sugiyono (2010: 121) validasi instrumen penting dilakukan agar alat ukur data dalam penelitian valid dan sesuai dengan ketepatan tujuan penelitian, valid berarti instrumen tersebut dapat mengukur data yang seharusnya diukur. Ronny Kountour (2004: 152) mengemukakan bahwa validasi data atau ketepatan alat ukur dalam meneliti dan memperoleh data dapat dengan menggunakan beberapa cara atau langkah-langkah.

Pada penelitian ini, peneliti menggunakan validitas isi. Pengujian validitas isi instrumen berbentuk tes dapat dilakukan dengan membandingkan antara kesesuaian isi instrumen dengan materi pelajaran yang telah diajarkan (Sugiyono, 2009: 129).

Uji validitas isi yaitu mengetahui suatu instrumen penelitian dengan logika atau penalaran, instrumen yang memenuhi persyaratan valid berdasarkan hasil penalaran dan sudah dirancang dengan baik sesuai dengan teori dan ketentuan yang berlaku. Instrumen tes dan observasi divalidasi

78

menggunakan validasi isi melalui penilaian dari profesional, dalam penelitian ini yaitu guru kelas III di SLB Negeri 1 Bantul Yogyakarta. Cara validasinya yaitu melalui diskusi dan saran tertulis ataupun lisan mengenai isi dan kejelasan instrumen serta kerelevanan instrumen dengan materi pelajaran yang diajarkan di sekolah. Apabila instrumen telah divalidasi, maka selanjutnya instrumen di revisi berdasarkan saran, kritik dan pendapat dari validator. Pada media gambar Upin Ipin yang akan digunakan dalam pembelajaran penjumlahan akan divalidasi oleh pakar atau ahli yaitu guru kelas III di SLB Negeri 1 Bantul Yogyakarta.

Dokumen terkait