• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

3.5 Instrumen Penelitian

Menurut sugiyono (2009:102) meneliti adalah melakukan pengukuran, maka harus ada alat ukur yang baik. Alat ukur dalam penelitian biasanya

dinamakan instrument penelitian. Jadi instrument penelitian adalah suatu alat yang digunakan mengukur fenomena alam maupun sosial yang diamati. Dan secara spesifik semua fenomena ini disebut variabel penelitian.

Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini berbentuk kuesioner, dengan jumlah variabel sebanyak satu variabel sebagai variabel mandiri, yaitu efektivitas penerapan SISKOTKLN di Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (Studi pada BP3TKI, PPTKIS dan Dinas Ketenagakerjaan di Provinsi Banten). Adapun pengukuran yang digunakan peneliti untuk variabel skala pengukuran instrumen adalah skala likert. Menurut Hasan (2002:72) Skala Likert merupakan jenis skala yang digunakan untuk mengukur variabel penelitian (fenomena sosial spesifik) seperti sikap, pendapat, dan persepsi sosial seseorang atau sekelompok orang. Variabel penelitian yang diukur dengan skala likert ini, dijabarkan menjadi indikator variabel yang kemudian dijadikan sebagai titik tolak untuk penyusunan item-item instrumen, bisa berbentuk pernyataan atau pertanyaan. Jawaban dari setiap item instrumen tersebut memiliki gradiasi dari sangat positif sampai sangat negatif, maupun sebaliknya dari sangat negatif sampai sangat positif yang dapat berupa kata-kata. Berikut adalah contoh bentuk skala likert yang digunakan peneliti:

Tabel 3.2

Skor Tiap Indikator Menurut Likert

JAWABAN SKOR

Sangat Setuju 5

Setuju 4

Kurang Setuju 3

Tidak Setuju 2

Sangat Tidak Setuju 1

Berdasarkan jenis data yang dikumpulkan, dalam penelitian ini jenis data terdiri dari data primer dan sekunder. Data primer adalah data yang diperoleh dari sumber pertama secara langsung. Dalam hal ini data didapatkan dari responden penelitian dan observasi langsung peneliti. Sedangkan data sekunder merupakan data yang telah dikumpulkan, diolah dan telah tersedia, dalam hal ini data didapat dari perundang-undangan, buku, literatur, dan sumber bacaan lainnya yang dapat menjawab permasalahan yang ada.

Kemudian dalam penelitian mengenai Efektivitas Penerapan SISKOTKLN di Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (Studi pada BP3TKI, PPTKIS dan Dinas Ketenagakerjaan di Provinsi Banten) peneliti menggunakan teknik pengumpulan data sebagai berikut:

1. Kuesioner (angket)

Kuesioner menurut Sugiyono (2009:142) merupakan teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara memberikan seperangkat pertanyaan atau pernyataan tertulis kepada responden untuk dijawabnya.

2. Wawancara (interview)

Menurut Sugiyono (2009:137) wawancara digunakan sebagai teknik pengumpulan data apabila peneliti ingin melakukan studi pendahuluan untuk menemukan permasalahan yang harus diteliti, dan juga apabila peneliti ingin mengetahui hal-hal dari responden yang lebih mendalam dan jumlah respondennya sedikit/kecil. Wawancara dapat dilakukan secara terstruktur maupun tidak terstruktur. Wawancara terstruktur digunakan bila peneliti atau pengumpul data telah mengetahui dengan pasti tentang informasi apa yang akan

diperoleh, peneliti telah menyiapkan instrumen penelitian berupa pertanyaan-pertanyaan tertulis yang alternatif jawabannya pun telah disiapkan. Sedangkan wawancara tidak terstruktur adalah wawancara yang bebas di mana peneliti tidak menggunakan pedoman wawancara yang telah tersusun secara sistematis dan lengkap untuk pengumpulan datanya. Dalam penelitian ini peneliti menggunakan wawancara terstruktur yang berbentuk angket dan wawancara tidak terstruktur pada saat melakukan observasi.

3. Observasi

Sutrisno Hadi dalam Sugiyono (2009:145) mengemukakan bahwa, observasi merupakan suatu proses yang kompleks, suatu proses yang tersusun dari berbagai proses biologis dan psikologis. Dua diantara yang terpenting adalah proses-proses pengamatan dan ingatan.

4. Studi kepustakaan

Studi kepustakaan merupakan teknik pengumpulan data dengan cara mengumpulkan data yang bersumber dari berbagai referensi yang relevan dengan penelitian berdasarkan text book.

5. Studi dokumentasi

Studi dokumentasi menurut Hasan (2002:87) adalah teknik pengumpulan data yang tidak langsung ditujukan pada subyek penelitian, namun melalui dokumen. Dokumen yang digunakan dapat berupa prosedur, peraturan-peraturan, surat-surat, serta berupa foto ataupun dokumen.

Dari beberapa teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian, kuesioner merupakan instrumen yang utama (primer) karena data pada kuesioner

merupakan data yang akan diperlakukan dalam pengujian hipotesis penelitian. Sedangkan, teknik pengumpulan data yang lainnya tetap relevan untuk digunakan dalam menunjang penelitian.

Selanjutnya untuk teknik penentuan kualitas instrumen yaitu uji validitas, uji reliabilitas dan uji normalitas akan dijelaskan sebagai berikut:

1. Uji Validitas

Validitas menurut Hasan (2002:79) adalah suatu ukuran yang menunjukkan tingkat kesahihan suatu instrument. Sugiyono (2009:121) mengatakan valid berarti instrumen tersebut dapat digunakan untuk mengukur apa yang seharusnya diukur. Instrumen yang dapat mengukur apa yang hendak diukur akan menghasilkan penelitian yang valid. Uji validitas digunakan untuk mengukur sah atau tidaknya suatu kuesioner atau instrumen. Pada penelitian ini, pengujian validitas dilakukan dengan menggunakan rumus korelasi pearson product moment dengan bantuan piranti lunak Statistic Program For Social Science(SPSS) versi 16. Berikut ini rumus dari korelasi product moment:

Keterangan:

r = Koefisien Korelasi Product Moment Σx = Jumlah skor dalam sebaran x

Σy = Jumlah skor dalam sebaran y

Σxy = Jumlah hasil kali skor x dan y yang berpasangan Σx2 = Jumlah skor yang dikuadratkan dalan sebaran x Σy2 = Jumlah skor yang dikuadratkan dalam sebaran y n = Jumlah sampel

kriteria pengujian validitas:

n∑xy – (∑x)( ∑y)

rxy =

rhitung > rtabel berarti valid rhitung < rtabel berarti tidak valid

2. Uji Reliabilitas

Menurut Hasan (2002:77) reliabilitas (keandalan, dapat dipercaya) adalah tingkat ketepatan, ketelitian atau keakuratan sebuah instrumen. Sugiyono (2009:121) menjelaskan Instrumen yang reliabel adalah instrumen yang bila digunakan beberapa kali untuk mengukur obyek yang sama, akan menghasilkan data yang sama. Reliabilitas instrumen merupakan syarat untuk pengujian validitas instrumen.

Reliabilitas menunjukkan konsistensi suatu alat pengukur di dalam mengukur gejala yang sama. Menurut Sugiyono (2009:130) pengujian reliabilitas instrumen dapat dilakukan secara eksternal maupun internal. Secara eksternal pengujian dapat dilakukan dengan test-retest (stability), equivalent, dan gabungan keduanya. Sedangkan secara internal reliabilitas instrumen dapat diuji dengan menganalisis konsistensi butir-butir yang ada pada instrumen dengan teknik tertentu.

Pengujian reliabilitas instrumen pada penelitian ini dilakukan secara internal dengan menggunakan teknik Alpha Cronbach yaitu penghitungan yang dilakukan dengan menghitung rata-rata interkolerasi di antara butir-butir pertanyaan dalam kuesioner, variabel di katakan reliabel jika nilai alphanya lebih dari 0.7. Pengujian reliabilitas dibantu dengan piranti lunak Statistic Program For Social Science (SPSS) versi 16. Berikut ini rumus Alpha Cronbach yang digunakan untuk menguji reliabilitas:

Keterangan:

r = reliabilitas instrumen

k = banyaknya butir pertanyaan atau banyaknya soal

∑σb² = jumlah varians butir

σ1² = varians total

3. Uji Normalitas

Uji normalitas sampel disini dimaksudkan untuk menguji normal tidaknya sampel. Pengujian diadakan dengan maksud untuk melihat normal tidaknya sebaran data yang akan dianalisis. Dalam penelitian ini, Pengujian normalitas data dibantu dengan piranti lunak Statistic Program For Social Science (SPSS) versi 16 yang berdasarkan uji skewness dan kurtosis. Skewness adalah ukuran kecondongan suatu kurva sedangkan kurtosis adalah untuk keruncingan puncak kurva.

Dokumen terkait