• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

3.5 Instrumen Penelitian

Dalam penelitian ini yang menjadi instrumen dalam penelitian adalah peneliti sendiri dengan menggunakan pedoman wawancara mendalam, daftar pertanyaan FGD dan Observasi, alat perekam, kamera foto, catatan lapangan.

3.6 Pengumpulan Data 3.6.1 Data Primer

Pengumpulan data primer penelitian ini menggunakan wawancara mendalam dan FGD sebanyak 2 kelompok mayarakat yang tidak memilki jamban.

adapun urutan wawancara mendalam dalam penelitian ini adalah sebagai berikut : 1 Melakukan wawancara mendalam dengan tenaga sanitarian puskesmas setelah

melakukan wawancara peneliti melakukantranskrip dan menganalisis hasil wawancara, bila ada yang kurang akan di tanyakan kembali kepada infoman 2 Melakukan wawancara kepada kepala Puskesmas Mendahara. Selanjutnya

20

hasil wawancara di transkrip dan di anlisis, bila ada yang kurang akan di tanyakan kembali kepada infoman.

3 Melakukan wawancara dengan Kepala Desa Sinar Kalimantan selanjutnya mentranskrip hasil wawancara dan meng analisis bila ada yang kurang akan di tanyakan kembali kepada infoman.

4 Melakukan wawancara dengan camat Mendahara. Selanjutnya mentranskrip hasil wawancara dan menganalisia, bila ada yangkurang akan di tanyakan kembali kepada infoman.

5 Melakukan FGD (Focus Group Discussion) kepada sebanyak 2 kelompok masyarakat masing-masing peserta terdiri dari 10 dan 12 orang. Dilengkapi dengan notulen dan pemandu diskusi, dengan ketentuan masyarakat yang tidak memiliki jamban mampu mengeluakan pendapat, pendengaran baik, dan mengerti dengan permasalahan mengapa tidak memiliki jamban. P eralatan dibutuhkan alat perekam, alat dokumentasi. Setelah dilakukan FGD perkelompok dilakukan transkrip hasil FGD dan di analisis

3.6.2 Data Sekunder

Dalam penelitian ini data sekunder didapatkan dari data seksi data pencatata pelaporan di puskesmas Mendahara, laporan tahunan desa Sinar Kalimantan dan data dari Kecamatan Mendahara

3.7 Pengolahan dan Analisis Data

Pada penelitian ini analisis data yang di gunakan dengan analisis isi (content Analisis) di tekankan peneliti melihat ke ajekan isi komunikas, memaknai isi komunikasi, membaca simbol-simbol dan memaknakan isi interaksi simbolis yang terjadi dalam komunikasi 18 :

1 Menemukan lambang atau simbol klasifikikasi lambang-lambang yang di pakai dalam komunikasi

2 Klasifikasi data berdasarkan lambang /simbol melakukan klasifikasi dari data-data berdasarkan simbol hasil penelitian .

klasifikasi berdasarkan

Menemukan Prediksi

/menganalisis data 3 Menganalisis data

Melakukan klarifikasi data dengan kriteria tertetentu serta melakukan prediksi dengan teknik tertentu pula. Secara ringkas dapat gambar tentang teknik content analysis sebagai berikut :

3.8 Kepercayaan Data a. Triangulasi

Pada penilitain ini peneliti menggunakan Triangulasi sumber yaitu dengan membandingkan data-data dari berabagi sumber Informan tenaga sanitarian dengan masyarakat, dan dari kepala desa, camat kepala puskesmas terhadap tujuan penelitian sehingga memperoleh kebenaran data .

b. Triangulasi metode yaitu melakukan uji kepercaaan adat anatara metode wawancara mendalam FGD dan data sekunder yang di dapat dari informan.

3.9 Etika Penelitan

Dalam penelitian nanti etika penelitian yang akan ditekankan oleh peneliti meliputi hal-hal sebagai berikut :

1. Lembar persetujuan menjadi responden/narasumber

Peneliti akan memberikan penjelasan tentang maksud dan tujuan peneliti datang untuk melakukan penelitian dan membutuhkan informasi dari narasumber, dan jika narasumber bersedia memberikan informasi, maka peneliti akan memberikan lembar persetujuan menjadi responden atau narasumber untuk diisi.

2. Tanpa nama

Nama responden atau narasumber tidak dicantumkan didalam lembar pengumpulan data tetapi hanya diberikan kode berupa nomor untuk pengganti nama responden. Maksud dengan tidak dicantumkannya nama agar informasi yang disampaikan oleh responden terjaga kerahasiaannya.

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil

4.1.1 Gambaran Lokasi penelitian

Desa Sinar Kalimantan adalah desa yang berada di wilayah kecamatan Mendahara Kabupaten Tanjung Jabung Timur dengan dasar hukum pembentukan desa mealui Peraturan Daerah Nomor 121. Wilayah Desa Sinar Kalimantan sebelah Utara berbatasan dengan : Desa Pangkal Duri dan Desa Pangkal Duri Ilir, Sebelah Selatan berbatasan dengan Sungai Mendahara (Kelurahan Mendahara Ilir) Sebelah Timur berbatasan dengan Laut Cina Selatan (Selat Berhala) dan Sebelah Barat berbatasan dengan Desa Mendahara Tengah. Jumlah penduduk desa Sinar Kalimantan terdiri dari 303 KK dengan Komposisi 501 jiwa laki-laki dan 486 jiwa perempuan. Mata pencaharian penduduk sebagain besar adalah buruh nelayan sebanyak 298 orang buruh tani 291 orang, nelayan 112 orang selebihnya mempunyai pekerjaan beragam. Pendidikan penduduk desa Sinar Kalimantan diantaranya pendidikan sekolah dasar 148 jiwa, SLTP 83 jiwa, SLTA sederajat 92 jiwa tidak bersekolah 27 jiwa. Sarana dan Prasarana air bersih yang ada di desa Sinar Kalimantan adalah sebagai berikut : hidran umum 4 buah, penampuan air 2 buah sumur gali 2 buah, tangki air bersih 3 buah hidran umum 4 buah, sedangkan sarana dan prasarana sanitasi yang memiliki jamban keluarga hanya 30 buah.

Kondisi desa Sinar Kalimantan berada di pesisir pantai sehingga wilayah desa Sinar Kalimantan mengalami kejadian pasang surut.

4.1.2 Karakteristik Informan

Informan penelitian ini adalah berdasarkan pada kebutuhan data yang diperlukan dalam penelitian adapun Informan penelitian ini adalah sebagai berikut:

22

Tabel. 4. 2 Karakteristik Informan penelitian No Kode

Informan Jenis Kelamin Usia teknik pengambilan

data Pekerjaan

1 P-1 Perempuan 30 Tahun wawancara Tenaga Puskesmas 2 P-2 laki-laki 45 Tahun wawancara tenaga Puskesmas

3 CM Laki-laki 43 tahun wawancara Kecamatan

4 KD Laki –laki 48 Tahun wawancara Pemerintah

desa

5 RS Perempuan 42 Tahun FGD 1 warga desa

6 NA Perempuan 40 Tahun FGD1 warga desa

7 JM Perempuan 37 Tahun FGD 1 warga desa

8 SR Perempuan 31 Tahun FGD 1 warga Desa

9 PL Perempuan 36 Tahun FGD 1

10 KJ perempuan 29 Tahun FGD 1 warga desa

11 PM perempuan 37 tahun FGD 1 warga desa

12 RS Perempuan 39 tahun FGD 1 warga desa

13 TN perempuan 42 tahun FGD 1 warga desa

14 JM Perempuan 40 tahun FGD 1 warga desa

15 KU perempuan 38 tahun FGD 2 warga desa

16 LL perempuan 36 tahun FGD 2 warga desa

17 BI perempuan 42 tahun FGD 2 warga desa

18 RK perempuan 29 tahun FGD 2 warga desa

19 SA perempuan 38 Tahun FGD 2 warga desa

20 PP perempuan 44 Tahun FGD 2 warga desa

21 WH perempuan 46 Tahun FGD 2 warga desa

22 TS perempuan 39 Tahun FGD 2 warga desa

23 DV perempuan 26 Tahun FGD 2 warga desa

24 RA perempuan 32 Tahun FGD 2 warga desa

25 CC perempuan 30 tahun FGD 2 warga desa

26 KT perempuan 43 tahun FGD 2 warga desa

24

Gambar FGD 1

7 11

5

Notulen FGD

12 13

10 14

TAPE MODERATOR

TAPE 6

9

21

18 20

17 26 22 23

TAPE MODERATOR

TAPE 15

19 16

Gambar Posisi duduk dalam pelaksanaan FGD dilapangan :

Gambar FGD 2

8

25

24

Notulen FGD

4.1.3 Motivasi

Data Profil desa Sinar Kalimantan menunjukkan bahwa dari 303 KK yang ada di desa tersebut terdapat 30 jamban keluarga. Hal ini tentu menjadi pertanyaan yang mendasar, apa sebenarnya motivasi warga terhadap kepemilikan jamban. Dari hasil wawancara mendalam dengan petugas Puskesmas bahwa masalah yang mendasar warga desa Sinar Kalimantan adalah kemampuan mereka untuk membangun jamban sangat rendah atau lebih jelasnya masalah ekonomi. Dari 1 kelurahan dan 6 (enam) desa di wilayah kerja puskesmas Mendahara, desa Sinar Kalimantan termasuk desa dengan ekonomi yang rendah. Hal ini bisa terlihat dari pekerjaan dan kondisi rumah – rumah yang ada di desa Sinar Kalimantan. Selain itu dengan adanya desa dengan pendapatan yang sangat rendah tentunya banyak bantuan- bantuan pemerintah yang masuk untuk membangun desa. Program-program pemerintah ini menjadikan warga desa Sinar Kalimantan sangat tergantung pada bantuan-bantuan yang di berikan pemerintah. hal ini di sampaikan oleh informan :

“...kalau kendalanya didesa sinar Kalimantan itu ini masyarakatnya masih terapa terfokus mendapatkan bantuan gituna. Jadi dia mengharapkan bantuan dari pemerintah jadi kalau untuk apa membuat jamban sendiri kalaunantinya dapat bantuan kebanyakan.”(P-1)

hal ini juga di sampaikan oleh informan lainya :

“…Masyarakat masih mengharaplah dari pememrintah karena biaya besar…”

(KD)

hal juga di sampaikan oleh informan lainya:

“ada buk kalau penyuluhan itu ada dari puskesmas pun ade kan istilahnya itu cuman itulah tadi itu ekonomi kita yang anak nganukan buk jadi dak biso kito bikin, dak mampulah kita buk untuk sehari-hari kesulitan apo lagi anak membanguntuh umpamakalau ada bantuan dari kepala desa kita terimekan kalau dak ado dari mano kita meu membikin jamban ahh wc.”( TS)

Dari hasil FGD informan mengatakan bahwa pendapatan mereka habis digunakan untuk keperluan sehari-hari sehingga mereka tidak bisa menyisihkan unag untuk

26

membangun jamban. Keinginan mereka untuk memiliki jamban ada hanya kemampuan untuk membangun itu menjadi permasalahan karena model kondisi pasang ini membuat mereka kesulitan kaena cukup memerlukan biaya yang besar.

hal ini di sampiakan oleh informan :

“...aaa yang pertama mungkin dari tingkat ekonomi, dari tingkat ekonomi kemudian kerena disitukan daerah yang termasuk aaa terendah dari beberapa desa itu yang paling terendah sosial ekonominya aah jadi kan banyak bantuan-bantuan yang masuk nah jadi warga itu Cuma mengahrapkan bantuan gitu.”(P-1)

Begitu Pula Informan lainya :

“...iya bisa jadi kesimpulan dari mesyarakat dari sinar Kalimantan kalau saya tangkap itu kebanyakan warganya mempunyai pola pikir mengharapkan bantuan jadi dia untuk bergerak sendiri itu rasanya jadi malas karena untuk apa dia membangun jamban secara peribadi kalau ada bantuan gitu karena banyak sekali bantuan yang masuk kedesa sinar Kalimantan.” (KD)

Hal ini di sampaiakan oleh Informan

“...kalau respon masyarakat pada saat kita mau mengadakan kegiatan itu sih mau Cuma itu tadi balek dia berpikir aa karena tahun ini mau ada bantuan yang masuk lagi jadi kendor lagi gitu aaa masyarakatnya mengharapkan bantuan apa kita membangun jamban secara swadaya peribadi sementara ada bantuan.”(P-2)

pendapat lain di sampaiakan ketika FGD oleh informan :

“...Menurut kami buk kemungkinan besar masalahnyakan ekonomi buk pencaharian ekonominya tak seimbang.” ( FG-1)

Dari hasil wawancara perilaku warga membuang kotoran di sungai di sebabkan oleh bebrapa hal diantaranya, kalau di wc tertutup mereka merasa tidak nyaman. Sedangakan bila di jamban terbuka ada udara bebas sehingga warga merasa nyaman untuk membuang air besar di jamban. Disamping itu warga tidak merasakan dampak negatif langsung bila membuang air besar di sungai, sehingga hal ini tidak memberikan efek jera atau permasalahan terhadap pembuangan tinja sembarangan. Faktor lain yang menyebabkan warga masih membuang air besar di sungai adalah karena wilayah pasang surut, warga beranggapan bila nanti air pasang maka kotoran yang ada akan di bawa air dan akan hilang.

“kalau pinggir laut ini ke pantai hanyut kalau di darat ini dak bise, kalau lah pasang di bawa lah bu kotoran kite.” (KT)

hal ini juga di sampikan oleh Informan :

“tidak di sadari, kemudian ada juga disinikan daerah pasang surut jadi kotoran yangsudah keluar itu nanti pada saat air pasang dia akan hilang jadi mereka bertahan dengan kondisi jamban yang seperti itu.” (P-1)

Desa Sinar Kalimantan adalah desa dengan wilayah laut sehingga untuk mendapatkan air tawar sangat sulit, hal ini juga menyebabkan warga enggan untuk membuat jamban sehat karena memerlukan banyak air untuk menyiram kotoran sehabis BAB. Selain itu warga merasa dari dulu orang tua mereka tidak memiliki jamban juga menjadi motivasi untuk tidak membangun jamban sehat. Hal ini di dukung oleh pernyataan Informan :

“Kemudian dengan jamban cemplung itu masyarakat itu juga tidak mempelukan banyak air untuk menyiram, karena tinja langsung jatuh kebawah. Kemudian disitukan untuk air bersih terutama itu salah satu daerah yang sulit air bersih.” (KD)

“Dari dulu kami di sini tidak memiliki jamban tidak apa-apa, seperti orang tua kami” (RA)

peryataan lain di sampaiakan oleh informan

“kalau dak punyo sumur ngangkut buk, beli, ngangkuti, kalau berak pakai itu mungkin lah hhahahaha nah kan yang beli aek kami lambat nian yang masuk” (RA)

“ooo tempat anu banyak siram banyak siram heheheheh orang sebelah ehhehehe suruh nyemplung budak die hehehehe, mungkin dak kerana aek pasang surut terus bak itu mungkin penuh aek jadi mungkin lambat turun nyo sibuk budak tuh” (DV)

“yang udah punyo beh suruh berak cemplung , payah bu , macam mano cerite lambat turuneek itu payah.” (CC)

4.1.4 Peran Petugas

Peran petugas puskesmas dalam mengatasi masalah kepemilikan jamban di laksanakan dengan program yang sudah di tetapkan, salah satunya adalah dengan melakukan pemicuan ke desa - desa. Dari hasil wawancara mendalam didapatkan

28

bahwa masyarakat pada saat di lakukan pemicuan mereka sangat bersemangat tetapi jika di evaluasi dari kegiatan yang dilakukan belum menghasilkan apa yang diharapkan, yaitu masyarakat mampu membangun jamban secara mandiri. Warga belum berkomitmen untuk memiliki atau membangun jamban baik secara bergotong royong maupun secara perorangan. Ketergantungan terhadap bantuan membuat warga hanya menunggu bantuan yang akan diberikan oleh pemerintah Provinsi melalui pemerintahan desa Sinar Kalimantan. Program yang dikerjakan petugas Puskesmas adalah program sanitasi berbasis masyarakat (STBM) yang dilakukan di desa Sinar Kalimantan sesuai dengan anggaran yang di sediakan oleh puskesmas.

“...Dari puskes kalau dari puskesmas kayak pemicuan STBM sudah berjalan Cuma itu tadi pada saat melaksanaan pemicuan warganya semangat kemudian pada saat dilakukan monitoring yaa hasilnya tidak sesuai dengan harapan.”(P-1)

“saya sangat mengapresiasi petugas puskesmas rutin turun kesini kususnya bagian kesling. Kemarin kan sudah ada sosialisasi dengan masyarakat untuk arisan jamban, terus juga penyuluhan-penyuluhan aaa di beberapa acarasosialisasi stunting selalu kita sampaikan hanya saja karena itu lagi balik lagi aa kondisi ekonomi masyarkat yang jauh di bawah dari daerah lain dan kondisi alam juga yang di sini harus membangun wc sehat itu cukup besar biayanya. Biasanya program STBM sangat membantu meningkatkan pengetahuan. (KD)

Dari hasil wawancara di dapatkan bahwa biaya yang di siapkan oleh petugas puksesmas berasal dari dan BOK dan itu diperuntukkan untuk transpor petugas.

Biaya BOK tentunya sangat terbatas karena harus berbagi dengan program-program yang ada di puskesmas, sedangnkan biaya untuk stimulan bagi desa tidak ada penganggaran dana dari puskesmas. Dana pembangunan jamban sehat berasal dari pemerintah provinsi sedangkan desa Sinar Kalimantan tidak bisa membiayai pembangunannya karena tidak tertuang dalam RPJM des.

“..dana dana ada kegiatan STBM di desa sinar kalimantan untuk dana dari BOK.”(P-2)

“samapai saat ini belum, kenapa aa karena disini saya baru, jadi semua

pembangunan itu terkendala di RPJMDES. RPJMDES kita belum ada mencantumkan untuk membuat jamban sehat artinya kita tidak boleh mebangun tidak sesuai dengan RPJMDES itu untuk 6 tahun nanti setelah 2024 mungkin bisa dimasukan lagi siapapun kepala desanya bisa mengarah hal-hal yang sangat urgen” (KD)

dari hasil wawancara dengan kepala puskesmas peran yang dilakukan adalah dengan mengajak pihak-pihak terkait dalam minilokakarya untuk mengatasi permasalahan di desa Sinar Kalimantan .

“..kalau kami biasanya selalau melakukan koordinasi dengan lintas sektor dalam upaya menyeesaikan masalah di puskesmas. salah satunya dengan minilokakarya kami menyampaikan bagaimana kondisi kesehatan di wilayah kerja. Tetapai untuk kelanjutannya tentunya kita tidak bisa memakasa..tetapi upaya kearah itu terus kami kerjakan.”(P-2)

“kegiatan koordinasi sering dilakukan diantaranya ada rapat- rapat di kecamatan atau di desa .Kalau di puskesmas kami juga kadang di undang untuk rapat mendengarkan permaslahan di wilayah kerja puskesmas.”

( KD)

Melakukan advokasi kepada kepala desa untuk memberikan bantuan dana desa dalam penanganan permasalahan kepemilikan jamban. Advokasi dilakukan oleh tenaga sanitarian, sehingga di hasilkan bantuan dana desa untuk kepemilikan jamban sehat dengan kriteria jika ada anak balita, ibu hamil dan anak stunting.

“kalo dari puskesmas sih sudah mengadakan semacam aa komitment, itu sudah melakukan komitment dengan semua kepala desa sih tidak hanya dari Sinar Kalimantan saja tapi dari semua kepala desajuga sudah melakukan komitment untuk mendukung semua kegiatan puskesmas termasuk salah satunya kegiatan sanitasi.”(P-1)

“Puskesmas selalu menyarankan khususnya petugas puskesmas agar memasukkan dana desa untuk menyelesaikan masalah jamban tetapi karena kondisi pandemik ya ..bagaimana lagi.” (KD)

4.1.5 Peran Pemerintah Desa

Peran kepala desa dalam meningkatkan cakupan kepemilikan jamban di desa Sinar Kalimantan sangat tergantung pada bantuan dari program pemerintah Provinsi yaitu dinas PUPR. Dari hasil wawancara dikatakan bahwa bantuan tahun 2020 ada 25 bilik atau jamban sehat yang telah di bangun, dan pada tahun 2021

30

sudah mendapatkan alokasi sebanyak 100 bilik, sehingga di harpakan agar warga dapat memilki jamban sehat.

“..iya PUPR provinsi dan insyaallah pada tahun ini 2021 kita dapat lagi 100 rumah. 100 rumah yang bakal kita bangun dari program juga, yang dari program DAK insyaallah tahun ini kita ini dan kalau itu nanti terwujud artinya sudah sekitar 80 % untuk rumah yang ada disini sudah terpernuhi untuk toilet sanitasi.” (KD)

“bantuan di perioritaskan pada warga yang stunting atau mempunyai balita dan jauh dari laut…”(LL)

hasil wawancara mendalam didapatkan bahwa dari dana desa tidak dapat digunakan untuk membangun jamban karena dari RPJM-DES tidak ada tercantum pogram tersebut sedangkan kepala desa Sinar Kalimantan baru di lantik sehingga bila ingin program jamban dapat di masukkan maka harus dilakukan perubahan RPJMDES, selain itu di masa pandemi maka program tersebut tidak bisa dijalankan dengan baik, hal ini disampaikan oleh informan :

“samapai saat ini belum kenapa aa karena disini saya baru jadi semua pembangunan itu terkendala di RPJMDES RPJMDES kita belum ada mencantumkan untuk membuat jamban sehat artinya kita tidak boleh mebangun tidak sesuai dengan RPJMDES itu untuk 6 tahun nanti setelah 2024 mungkin bisa dimasukan lagi siapapun kepala desanya bisa mengarah hal-hal yang sangat urgen.” ( KD)

Program pemberdayaan yang dilakukan oleh pemerintah desa dan puskesmas dengan upaya mengadakan arisan jamban tidak mendapat dukungan oleh masyarakat hal ini di sebabkan oleh ekonomi masyarakat yang sangat rendah sehingga sangat menyulitkan masyarakat dalam membangun jamaban secara mandiri.

“kita sudah coba kemarin dengan masyarakat, sosialisasi stanting dan kita cetuskan untukarisan wc dan masyarakat menyambut baik. Hanya saja karena kita sudah terdaftar dan kita lihat ada hasilnya untuk program 2020 maka itu kita pending dulu kalupun nanti program yang 100 wc 2021 masih belum mencukupi nah itu akan kita cari trobosan lagi aa dari dana desa mungkin di tambah swadaya karena cukup besar swadaya masyarakatnya.” (KD)

Upaya dalam melakukan penyadaran kepada masyarakat, dalam penerimaan program jamban yang di berikan oleh pemerintah adalah dengan cara sosialisasi terhadap program stunting sehingga warga akan sadar pentingnya jamban sehat.

beberapa syarat bagi penerima jamban sehat adalah warga masyarakat yang

memiliki anak dengan kondisi stunting ,memilki anak bayi dan balita serta yang letak rumahnya jauh dari laut. Ini merupakan prioritas terhadap penerima jamban dari pemerintah.

“bantuan di perioritaskan pada warga yang stunting atau mempunyai balita dan jauh darilaut…”(RK)

dari hasil wawancara dan FGD didapatkan upaya lain yang dilakukan dalam menyadarkan masyarakat yaitu dengan dengan penyuluhan kepada kader, memberikan sosialisai terhadap manfaat jamban dan meyakinkan kepada masyarakat untuk menerima program jamban yang di berikan oleh pemerintah.

Masyarakat akan dapat memahami setelah di bangunkan jamban oleh pemerintah, bagaimana jamban sehat itu berdampak terhadap kesehatan. Hal ini di sampiakan oleh informan :

“pertama kita mensosialisasikan pemahaman kepada masyarakat tentang aa penyebab dan kondisi stanting saat ini setelah masyarakat mengerti apa itu stunting, masyarakat terpacu animonya terpacu kenginginanya untuk membuat wcyang higien yang memenuhi syarat standar kesehatan.”(KD)

“kalau dari pak kadesnya sendiri sih pada saat kami datang dia sangat memfasilitasi untukkegiatan-kegiatan yang berhubungan jamban STBM pak kadesnya juga sangat open sangat mendukung kalau tempat kamis sih seperti itu responnya bagus.” (P-1)

4.1.6 Strategi Kepemilikan Jamban Sehat

Dari hasil wawancara dengan informan di ketahui bahwa startegi yang di gunakan adalah melalui upaya edukasi, agar masyarakat memahamai apa pentingnya jamban sehat bagi keluarga. Kerjasama lintas sektor merupakan strategi yang harus dilakukan mengingat banyak masalah yang di hadapi di desa Sinar Kalimantan Hal ini disampakan oleh informan :

“...ini semuanya ? Cuma di desa kalau untuk semua sih aaa kita melibatkan pihak desa, kemudian kalau dari puskesmas sendiri kita aaaa melaksanakan kegiatan STBM itu. Kemudian dari pihak desa kita juga minta dukungan dari pak kadesnyo” (P-1)

“...aa sekarang kerena sudah ada program aa kita menyambut baik program pemerintah yang dikucurkan kesini khusunya program PUPR dengan dana DAK tahun ini, dan sekarang yang kita himbau kemasyarakat penerima program itu untuk merawat, mengunakan dan memeliharanya dengan baik .

32

Kerjasama lintas sektor untuk menyelesaikan masalah di desa Sinar Kalimantan. memberi kesadaran kepada warga ..sehingga mau secara swadaya membangun jamban.” (KD)

Hasil wawancara mendalam, peran petugas puskesas sangat baik dalam mendukung kesadaran masyarakat untuk memiliki jamban sehat. Program puskesmas yang dilakukan melalui program STBM, namun terkendala kwantitas pembinaan dari puskesmas yang masih sangat kurang. Sehingga masyarakat kurang terpicu untuk memiliki jamban sehat. Hal ini dinyatakan oleh informan :

Hasil wawancara mendalam, peran petugas puskesas sangat baik dalam mendukung kesadaran masyarakat untuk memiliki jamban sehat. Program puskesmas yang dilakukan melalui program STBM, namun terkendala kwantitas pembinaan dari puskesmas yang masih sangat kurang. Sehingga masyarakat kurang terpicu untuk memiliki jamban sehat. Hal ini dinyatakan oleh informan :