• Tidak ada hasil yang ditemukan

Instrumen Pengukuran Gejala Depresi pada PPOK

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

2.5 Instrumen Pengukuran Gejala Depresi pada PPOK

Beck Depression Inventory (BDI), dibuat pada tahun 1961 oleh Dr. Aaron T. Beck, dan dikembangkan untuk menilai manifestasi depresi pada tingkah laku remaja dan orang dewasa. Dirancang untuk menstandarisasi penilaian keparahan depresi serta menggambarkan secara sederhana gejala depresi. Item-item BDI berasal dari observasi pasien-pasien depresi yang dibuat selama perjalanan psikoanalisis atau psikoterapi. Sikap dan gejala depresi tampak spesifik pada kelompok pasien ini, kemudian BDI digambarkan oleh pernyataan-pernyataan, dan penilaian numerik pada masing-masing pernyataan 14.

BDI merupakan instrumen yang paling banyak digunakan untuk menilai keparahan depresi. BDI yang asli, terdiri dari 21 pernyataan dalam bentuk multiple choice, 21 pernyataan merupakan manifestasi 21 tingkah laku, masing-masing area diwakili oleh empat atau lima pernyataan yang menggambarkan keparahan gejala depresi dari yang ringan sampai yang berat. Subjek diminta untuk mengidentifikasi pernyataan yang paling baik yang menggambarkan perasaannya ”saat ini”. Item-item kemudian ditentukan skornya dan dijumlahkan untuk memperoleh total skor. Total skor ini akan menggambarkan tingkat keparahan gejala depresi.

Pada tahun 1978, BDI kemudian direvisi menjadi BDI-IA, revisi ini dilakukan untuk menghilangkan pernyataan-pernyataan yang miripserta untuk menyusun kembali kata-kata pada item tertentu. Sebagai tambahan, batasan waktu untuk penilaian diperpanjang sampai ”seminggu yang lalu, termasuk hari ini”.

Pada tahun 1993, panduan untuk menentukan skor dimodifikasi, gunanya untuk menggambarkan data-data yang dikumpulkan pada Center for Cognitive Therapy.

Beberapa bukti melaporkan adanya bias, misalnya, skor yang lebih tinggidiperoleh pada wanita, remaja, usia lanjut, dan tingkat pendidikan yang rendah. Satu kelemahan pada BDI-IA bahwa ia dikembangkan terutama untuk menggambarkan gejala yang ditemukan pada depresi yang berat dan tidak

19

menyediakan cakupan yang lengkap pada gejala yang dipakai pada kriteria DSM-IV. Item-item seperti peningkatan selera makan, peningkatan frekuensi tidur, agitasi, dan retardasi psikomotor tidak termasuk di dalamnya.

Revisi BDI-I (BDI-II) memperpanjang jangka waktu sampai 2 minggu yang lalu, telah dikembangkan untuk memecahkan masalah ini. Tetapi kurang bermanfaat dalam penilaian ulang pada penelitian-penelitian yang bertujuan untuk mengetahui respons pengobatan. Keuntungan pada BDI yakni sangat mudah untuk digunakan (dapat dipakai sendiri), menggunakan bahasa yang sederhana, dan sangat mudah untuk menilai skor.

Kerugiannya adalah adanya bias yang dijumpai (misalnya, wanita, subjek yang tingkat pendidikannya rendah, remaja, usia lanjut, dan individudengan diagnosis psikiatrik tertentu yang cenderung menunjukkan skor yang lebih tinggi).

Pada tahun 1996, sebuah BDI versi baru (BDI-II) dengan modifikasi pada item-item untuk menggambarkan kriteria DSM-IV dan untuk menyederhanakan kata-kata yang dipakai pada versi sebelumnya. Batasan waktu untuk penilaian diperpanjang sampai ”dua minggu yang lalu, termasuk hari ini.”

Walaupun data-data psikometrik yang ada pada BDI-II sepertinya sangat menjanjikan dengan jangka waktu diperpanjang sampai dua minggu yang lalu, tapi membuat instrumen ini kurang bermanfaat untuk menilai pola perubahan gejala depresi sepanjang waktu 14.

BDI-II merupakan revisi dari BDI-IA, yang dikembangkan berdasarkan Diagnostic and Statistical Manual and Mental Disorders IV, Edisi keempat dari AmericanPsychiatric Association (DSM-IV). Item-item yang telah digantikan meliputi gambaran tubuh, hipokondriasis, dan kesulitan bekerja. Item kesulitan tidur dan item kehilangan selera makan, direvisi untuk menilai peningkatan maupun penurunan pola tidur dan selera makan. Ketiga item tersebut direvisi, hanya item yang berkaitan dengan perasaan merasa dihukum, pikiran bunuh diri, dan minat terhadap seks yang tetap dipertahankan. Akhirnya, subyek ditanyakan bagaimana perasaan mereka selama dua minggu terakhir ini. berbeda dengan BDI asli yang menanyakan hanya satu minggu terakhir saja. Seperti BDI, BDI-II juga mengandung 21 pernyataan, masing-masing jawaban dibuat skor dari 0 ke 3.

cutoff yang digunakan berbeda dari yang asli. Makin tinggi total skor mengindikasikan makin berat gejala depresi.

Berikut derajat gejala depresi menurut Beck,dkk tahun 2000:

a. Depresi Minimal : Skor 0 – 13 b. Depresi Ringan : Skor 14 – 19 c. Depresi Sedang : Skor 20 – 28 d. Depresi Berat : Skor 29 – 63

2.6 Derajat Obstruksi Saluran Napas pada PPOK

Pemeriksaan fungsi paru (fungsi pernapasan, fungsi ventilasi) lazim dilakukan dengan alat spirometri, baik spirometri konvensional maupun elektronik. Spirometri konvensional akan menghasilkan grafik yang disebut spirogram, sedangkan spirometri elektronik akan menunjukkan hasil pemeriksaan dalam bentuk angka. Dengan pemeriksaan spirometri dapat diketahui atau ditentukan semua volume pernapasan kecuali kapasitas pernapasan yang mengandung komponen volume residu seperti kapasitas paru total dan kapasitas residu fungsional.

Dari pemeriksaan spirometri dapat ditentukan gangguan fungsional ventilasi seseorang. Jenis gangguan dapat digolongkan menjadi dua yaitu gangguan fungsi paru obstruktif (hambatan aliran udara) dan restriktif (hambatan pengembangan paru) 7.

Hasil spirometri yakni minimal terdapat 3 hasil yang dapat diterima dengan syarat :

1. Inspirasi penuh sebelum pemeriksaan dimulai.

2. Awal ekspirasi dengan usaha maksimal dan tidak ragu –ragu.

3. Tidak batuk atau glotis menutup selama detik pertama.

4. Ekspirasi paksa minimal selama 6 detik atau sampai 15 detik.

5. Tidak terjadi kebocoran.

6. Tidak terjadi obstruksi pada mouthpiece.

21

Volume Ekspirasi Paksa (VEP) adalah volume maksimum udara yang dapat dikeluarkan dalam periode waktu spesifik. VEP1 adalah merupakan variabel spirometri paling penting. VEP1 adalah volume ekspirasi paksa dalam satu detik pertama. Akan lebih mudah mengganggap VEP1 sebagai rata-rata kecepatan aliran udara dalam detik pertama dari manuver kapasitas paksa.

Periode waktu yang paling sering dipergunakan adalah 1 detik. Periode waktu lainnya yang biasanya dipergunakan adalah 0.5 detik, 2 detik dan 3 detik (gambar 2.5). Persentase VEP yang dikeluarkan selama periode waktu ini adalah sebagai berikut ini : VEP0.5 = 60%; VEP1 = 83%; VEP2 = 94%; VEP3 = 97%.

Pada individu dewasa normal dapat mengeluarkan lebih dari 70% dari KVP dalam detik pertama (rasio ini menurun sesuai dengan pertambahan usia).

Gambar 2.5.Volume ekspirasi paksa berdasarkan waktu 9.

Penurunan VEP berdasarkan waktu dapat ditemukan pada penyakit paru obstruksi maupun penyakit paru restriksi. Pada kelainan restriktif penurunan VEP terjadi karena KV rendah yang berhubungan dengan penyakit tersebut.Dengan menggunakan VEP1 dapat ditentukan derajat obstruksi (ringan, sedang, atau berat) dan untuk perbandingan serial pada penderita asma atau PPOK, VEP1 menurun secara langsung sesuai dengan beratnya gejala klinis obstruksi saluran napas.

Demikian juga VEP1 meningkat apabila pengobatan obstruksi saluran napas berhasil.

Tabel 2.1 Derajat Obstruksi Menurut Hasil Spirometri 2. Pada Pasien dengan VEP1/KVP <0,70

GOLD 1 Ringan VEP1 ≥ 80 % pediksi

GOLD 2 Sedang 50%≤VEP1<80 % prediksi

GOLD 3 Berat 30%≤VEP1<50 % prediksi

GOLD 4 Sangat Berat VEP1 <30 % prediksi

Rasio VEP1/ KVP adalah jumlah udara yang dikeluarkan dalam 1 detik pertama selama manuver KVP. Karena rasio VEP1/ KVP adalah persentase yang cepat diperoleh maka disebut sebagai persentase volume ekspirasi paksa detik pertama (VEP1%) atau rasio VEP1/KVP. Walaupun rasio VEP1/KVP bermanfaat untuk menegakkan diagnosis obstruksi aliran udara, namun nilai VEP1 paling tepat menilai derajat obstruksi 9.

Kunci untuk membedakan antara kelainan obstruksi dan restriksi adalah berdasarkan VEP1 dan rasio VEP1/KVP. Pada obstruksi VEP1 dan dan rasio VEP1/KVP keduanya menurun. Sedangkan pada kelainan restriktif VEP1 menurun tetapi rasio VEP1/ KVP normal atau meningkat.Rasio VEP1/ KVP pada umumnya bermanfaat dalam tahap awal untuk mendeteksi obstruksi saluran napas yang ringan. Namun penentuan obstruksi saluran pernapasan berdasarkan rasio VEP1/ KVP kurang bermanfaat ketika nilai KVP juga menurun dengan semakin meningkatnya obstruksi 7.

Biasanya terdapat perubahan bertahap antara fungsi saluran napas normal dengan obstruksi saluran napas yang ringan. Ahli fisiologi telah mencari pemeriksaan yang lebih sensitif dari VEP1 untuk mendeteksi obstruksi saluran napas stadium dini. Hasilnya tidak satupun terbukti lebih baik daripada rasio VEP1/KVP atau % VEP1. Pada orang dewasa muda normal memiliki % VEP1 sekitar 85%. Ahli fisiologi secara tradisional menyatakan bahwa %VEP1 70%

batas bawah yang masih normal.

23

Penilaian obstruksi pada spirometri dijumpai penurunan volume ekspirasi paksa detik pertama (VEP1) dan penurunan kapasitas vital paksa (KVP) yang nilainya kurang dari 70%. Penilaian derajat obstruksi dijumpai pada nilai VEP1, meliputi derajat ringan, sedang, dan berat 2.

2.7 Derajat Sesak Napas pada PPOK

Sesak napas merupakan pengalaman subjektif seseorang dan pasien sering merasa tercekik, napas pendek, atau berat didada. Hingga 50% pasien yang menjelang ajal mengalami dipsnea berat, khusunya mereka yang menderita tumor paru (primer atau metastatik), penyakit paru restriktif, atau efusi pleura. Sesak napas, terutama pada saat melakukan aktivitas, seringkali pasien sudah mengalami adaptasi dengan sesak napas yang bersifat progresif lambat sehingga sesak napas ini tidak dikeluhkan. Anamnesis harus dilakukan dengan teliti, gunakan ukuran sesak napas sesuai skala sesak napas16.

Menurut Gunawan (2018), sesak napas merupakan perasaan sesak dan berat pada saat bernapas. Sesak napas dapat disebabkan karena perubahan kadar gas dalam darah atau jaringan, kerja berat atau berlebih, serta karena faktor psikologis. Tanda keparahan PPOK yang perlu di ketahui antara lain penggunaan otot bantu pernapasan, pergerakan paradoksal dinding dada, perburukan gejala sianosis atau munculnya sianosis sentral, edema perifer, ketidakstabilan hemodinamik, dan perburukan status mental 12.

Modified medical research council (mMRC) merupakan instrumen pengukuran sesak napas berupa kuesioner yang mengandung 5 pertanyaan dengan jawaban yang harus dipilih pada pasien PPOK yang mengalami sesak napas. Pada kuesioner ini derajat pengukuran terdiri dari 0 sampai 4, dimana derajat 0 menunjukkan tidak ada gejala dan derajat 4 menunjukkan adanya gejala berat.

Berikut derajat sesak napas menurut mMRC 2 :

a. Derajat 0 : tidak ada sesak kecuali dengan aktivitas berat

b. Derajat 1 : sesak mulai timbul bila berjalan cepat di bidang datar atau naik tangga 1 tingkat

c. Derajat 2 : berjalan lambat karena merasa sesak atau harus berhenti sejenak untuk mengambil napas saat berjalan di bidang datar

d. Derajat 3 : sesak timbul bila berjalan 100m atau setelah beberapa menit berjalan

e. Derajat 4 : sesak bila mandi atau berpakaian hinggaterlalu sesak untuk meninggalkan rumah

2.8 Kerangka Teori

Paparan rokok, biomass, dan partikel gas berbahaya

Hiperplasia sel goblet dan remodelling airway

Inflamasi Sistemik

Atrofi otot, Dekondisi dan Rasa tidak berguna

Destruksi epitel alveolus dan parenkim

PPOK

Obstruksi Aliran Udara

Sesak Napas Air Trapping

mMRC % VEP1 (GOLD)

Hipoksia, Hiperkapnia, Penurunan Aktivitas Harian

Dampak langsung pada neuron otak

Depresi pada PPOK Gambar2.6. Kerangka Teori

25

2.9 Kerangka Konsep

Variabel bebas Variabel terikat

Gambar 2.7.Kerangka Konsep

Derajat sesak napas Depresi pada

Pasien PPOK Stabil Derajat obstruksi

saluran napas

BAB 3

METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Desain Penelitian

Penelitian ini merupakan studi analitik dengan desain cross sectional (potong lintang) yang bertujuan untuk mengetahui hubungan antara derajat sesak napas dan derajat obstruksi aliran udara dengan gejaladepresi pada penderita PPOK. Dengan satu kali pengamatan, akan diperoleh data mengenai derajat sesak napas, derajat obstruksi aliran udara serta depresi pada subjek penelitian.

3.2 Tempat dan Waktu Penelitian.

Penelitian ini dilaksanakan di Poliklinik Asma/PPOK di RSUP H Adam Malik Medan. Penelitian ini direncanakan berlangsung selama 9 bulan dari bulan Maret 2020 hingga November 2020.

3.3 Populasi Penelitian

Populasi target dalam penelitian ini adalah seluruh penderita Penyakit Paru Obstruktif Kronis. Sedangkan populasi terjangkau dalam penelitian ini adalah seluruh penderita Penyakit Paru Obstruktif Kronis yang menjalani pengobatan di Poliklinik Asma/PPOK di RSUP H Adam Malik Medan, dari bulan Maret hingga November 2020.

27

3.4 Sampel Penelitian

Sampel penelitian adalah bagian dari populasi yang memenuhi kriteria inklusi tetapi tidak termasuk dalam kriteria eksklusi. Pengukuran besar sampel yang dipakai untuk penelitian ini menggunakan rumus:

Di mana tingkat kemaknaan ( sebesar 95%, P adalah koefisien korelasi antara derajat obstruksi aliran udara (%VEP1 prediksi) dengan simptom depresi berdasarkan studi terdahulu, sebsar 0.43 (Gunawan, 2018), Q adalah nilai 1-P dan d adalah tingakt ketetapan absolut sebesar 10%.

Adapun besar sampel yang dibutuhkan adalah:

Berdasarkan rumus tersebut, maka besar sapel yang dibutuhkan dalam penelitian ini adalah sebanyak 94,15 orang, dan digenapkan menjadi 94 orang.

3.5 Teknik Pengambilan Sampel.

Sampel dipilih secara non probability sampling dengan teknik consecutive sampling, dengan kriteria inklusi dan eksklusi sebagai berikut:

Kriteria Inklusi 1. Usia 40 - 70 tahun

2. Telah didiagnosis PPOK selama sekurang-kurangnya 1 bulan (termasuk gruping dan derajat GOLD PPOK nya)

3. Bersedia ikut penelitian dan menandatangani informed consent.

Kriteria Eksklusi

1. Memiliki riwayat gejala depresi sebelum didiagnosis PPOK 2. Penderita PPOK dengan komorbid penyakit keganasan.

3. Penderita PPOK dengan TB Paru Lesi Luas 4. Penderita PPOK dengan TB-MDR

5. Penderita Sequele TB /Sindrom Obstruksi Pasca TB Paru 6. Penderita TB Paru Kronis

3.6 Variabel Penelitian

Variabel yang akan dinilai pada penelitian ini adalah:

a. Variabel bebas (independen)

 Derajat sesak napas

 Derajat obstruksi aliran udara b. Variabel terikat (dependen)

 Gejala depresi pada penderita PPOK

3.7 Definisi Operasional

29

Lanjutan Tabel 3.1

Penderita PPOK yang memenuhi kriteria penelitian

Penilaian gejala depresi dengan kuesioner BDI - II

Pemeriksaan spirometri Penentuan derajat sesak napas

Analisis data

31

3.9 Prosedur Penelitian

Adapun prosedur penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Sebelum penelitian dimulai, peneliti meminta keterangan lulus kaji etik (ethical clearance) dari Komite Etik Penelitian Kesehatan Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara

2. Setiap penderita yang diikutsertakan dalam penelitian memahami dan menandatangani lembar persetujuan setelah penjelasan (informed consent) 3. Penderita PPOK yang ditegakkanberdasarkan anamnesis, pemeriksaan

fisik dan pemeriksaan penunjang yang memenuhi kritria inklusi serta tidak termasuk ke dalam kriteria eksklusi diikutsertakan dalam penelitian

4. Penderita PPOK yang menjadi subjek penelitian dilakukan penilaian derajat sesak napas dengan menggunakan kuesioner mMRC

5. Penderita PPOK yang menjadi subjek penelitian menjalani pemeriksaan spirometri untuk mendapatkan nilai VEP1 persen prediksi yang mencerminkan nilai derajat obstruksi aliran udara.

6. Penderita PPOK yang menjadi subjek penelitian kemudian mengisi kuesioner BDI-II untuk mengetahui gejala depresi.

3.10 Analisis Data

Data yang telah dikumpulkan akan diolah dengan menggunakan aplikasi software SPSS (Statistical Package for Social Science). Analisis univariat yang dilakukan adalah untuk menentukan nilai mean dan medianderajat sesak napas dan derajat obstruksi aliran udara yang dialami subjek penelitian

Analisis dilanjutkan dengan analisis multivariat yang menguji hubungan antara derajat sesak napas, derajat obstruksi aliran udara dan derajat gejala depresi. Data yang diperoleh dilakukan uji Chi Square .

3.11 Jadwal Penelitian

Tabel 3.2 Jadwal Penelitian

3.12 Perkiraan Biaya Penelitian

Adapun biaya yang dikeluarkan dalam penelitian ini meliputi

1. Penyusunan dan penggandaan proposal Rp. 1.000.000,-

BAB 4

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Penelitian

4.1.1 Karakteristik Demografis Subjek Penelitian

Penelitian ini merupakan suatu studi analitik dengan melibatkan penderita penyakit paru obstruktif kronik (PPOK) stabil sebagai subjek dalam penelitian.

Diagnosis PPOK ditegakkan dari hasil anamnesis dan pemeriksaan fisik serta dikonfirmasi dengan pemeriksaan spirometri.

Sebanyak 94 orang penderita PPOK yang memenuhi kriteria dilibatkan dalam penelitian ini. Adapun karakteristik demografis subjek penelitian dapat dilihat pada tabel 4.1 berikut:

Tabel 4.1 Karakteristik demografis subjek penelitian

Karakteristik n %

Minang 2 2.1

Sebanyak 94 orang subjek penderita PPOK terlibat dalam penelitian ini.

Mayoritas subjek penelitian yaitu sebanyak 68 orang (72.3%) berjenis kelamin laki-laki, dan 26 orang (27.7%) berjenis kelamin perempuan.

Karakteristik subjek penelitian berdasarkan usia didapati bahwa usia termuda pasien yang menjadi subjek penelitian adalah 40 tahun, sedangkan usia tertua adalah 70 tahun. Sebanyak 28 orang subjek (29.8%) berada dalam rentang usia kurang dari 50 tahun. Selanjutnya sebanyak 36 orang subjek (38.3%) berada dalam rentang usia 50 – 59 tahun, kemudian 30 orang subjek (28.7%) berada dalam rentang usia 60 – 70 tahun.

Adapun berdasarkan pekerjaan, mayoritas subjek penelitian bekerja sebagai buruh dan petani (masing masing 37% dan 36%). Berdasarkan karakteristik pendidikan mayoritas subjek penelitian memiliki jenjang pendidikan tertinggi adalah SD (71.3%). Alamat pasien mayoritas tinggal di Medan (55,3%) dengan suku terbanyak adalah Karo dan Toba (masing-masing 36,2% dan 22,3%)

4.1.2 Karakteristik Klinis Subjek Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan derajat sesak napas dan derajat obstruksi saluran napas dengan gejala depresi pada pasien PPOK stabil di Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik Medan. Seluruh pasien yang menjadi subjek penelitian dilakukan penilaian spiromteri untuk menilai derajat

35

obstruksi berdasarkan kriteria GOLD. Selain itu seluruh pasien juga dilakukan anamnesis untuk menilai skor mMRC untuk menilai derajat sesak napas yang dialami pasien. Adapun untuk penilaian gejala depresi, dilakukan dengan menggunakan kuesioner Beck Depression Index (BDI).

Karakteristik klinis pasien yang menjadi subjek penelitian ini dapat dilihat pada tabel 4.2 sebagai berikut:

Tabel 4.2 Karakteristik Klinis Subjek Penelitian

Karakteristik n %

Gejala Depresi Minimal- Ringan

Seluruh pasien yang menjadi subjek penelitian dilakukan pengelompokan berdasarkan sistem grouping menurut kriteria GOLD. Dijumpai mayoritas subjek penelitian berada dalam grup D yaitu sebanyak 37 orang (39.8%) dan grup B

sebanyak 29 orang (30.9%). Terdapat 28 orang (29.8%) subjek yang tergolong dalam kriteria C, dan tidak dijumpai pasien yang tergolong dalam Grup A.

Adapun berdasarkan derajat obstruksi saluran napas yang dinilai dengan menggunakan spirometri, didapati bahwa mayoritas pasien tergolong dalam derajat obstruksi GOLD 4 yaitu sebanyak 34 orang (36.2%) dan GOLD 3 sebanyak 32 orang (34.0%). Sebanyak 28 orang subjek yang berada dalam GOLD 2 (29.8%). Penilaian selanjutnya dilakukan dengan skoring mMRC, dimana didapati bahwa mayoritas pasien tergolong dalam skor mMRC 3 (36.2%) dan mMRC 2 (34,0%).

Penilaian depresi dilakukan dengan menggunakan kuesioner Beck Depression Inventory Index (BDI) versi II dimana dijumpai bahwa 43,6 % subjek tergolong dalam gejala depresi minimal-ringan, 56.4% pasien tergolong dalam gejala depresi sedang-berat

4.1.3 Hubungan Derajat Sesak Napas dengan Gejala Depresi

Tujuan utama dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan derajat sesak napas dengan gejala depresi pada pasien PPOK yang menjadi subjek penelitian ini dengan hasil sebagai berikut:

Tabel 4.3 Hubungan derajat sesak napas dengan gejala depresi

Derajat MMRC Gejala Depresi

p value

Signifikan dengan Uji Chi Square

Analisis statistik menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara derajat sesak napas dengan derajat depresi (p<0.05).

37

4.1.4 Hubungan Derajat Obstruksi Saluran Napas dengan Gejala Depresi Tujuan selanjutnya dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan derajat obstruksi saluran napas yang diukur dengan spirometri dengan gejala depresi yang dialami pasien, dengan hasil sebagai berikut:

Tabel 4.4 Hubungan derajat obstruksi dengan gejala depresi Derajat GOLD Gejala Depresi

p value

Signifikan dengan uji Chi Square

Hasil analisis statistik menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara derajat obstruksi saluran napas dengan derajat depresi (p<0.05).

4.2 Pembahasan

Telah dilaksanakan penelitian yang bertujuan untuk mengetahui hubungan antara derajat sesak napas dan derajat obstruksi saluran napas dengan simptom depresi pada penderita PPOK di RSUP H Adam Malik Medan.

Mayoritas subjek penelitian yaitu sebanyak 68 orang (72.3%) berjenis kelamin laki-laki, dan hanya 27.7% saja yang berjenis kelamin perempuan. Hal ini sejalan dengan kondisi di lapangan yang menyatakan bahwa laki-laki merupakan jumlah terbanyak penderita PPOK. Tingginya penderita PPOK yang berjenis kelamin laki-laki ini berkaitan dengan fakta bahwa angka prevalensi perokok 16 kali lebih tinggi pada laki-laki (65,9%) dibandingkan perempuan (4,2%) 17. Adat

dan kebiasaan yang berlaku di dunia belahan timur termasuk Indonesia menganggap bahwa perempuan kurang pantas merokok. Selain itu, laki-laki lebih banyak beraktivitas di luar rumah dibandingkan perempuan, yang dengan demikian juga akan meningkatkan risiko paparan biomass di lingkungan, seperti polusi di tempat kerja maupun polusi di jalan raya 7.

Penelitian observasional multisenter selama 3 tahun yang dilakukan oleh Hanania dkk di 12 negara mendapatkan prevalens depresi pada 2018 pasien PPOK sebesar 26%. Penelitian kohort prospektif yang dilakukan oleh Xu dkk di Cina pada 491 pasien PPOK stabil dan Ng dkk di Singapura pada 189 pasien mendapatkan prevalens depresi sebesar 22,8%. Prevalens depresi yang lebihbesar didapatkan dari penelitian yang dilakukanoleh Ng dkk pada 376 pasien PPOK eksaserbasi yang dirawat di rumah sakit yaitu sebesar 44,4%. Penelitian potong lintang yang dilakukan oleh Ryu dkk di Korea pada 84 pasien PPOK rawat jalan mendapatkan prevalens depresi sebesar 55%, lebih tinggi dibandingkan penyakit jalan napas kronik lainnya seperti asma, bronkiektasis dan populasiumum.

Penelitian kohort prospektif yang dilakukan oleh Wagena dkk di Belanda pada 4520 responden dengan bronkitis kronik mendapatkan prevalens depresi sebesar 14%. Hasil yang didapatkan dari penelitian ini lebih kecil dibandingkan penelitian terdahulu. Van Ede dkk meninjau berbagai hasil penelitian mendapatkan prevalens depresi yang cukup bervariasi pada pasien PPOK yaitu 6–42%. Tinjauan lain melaporkan gangguan depresi atau gejala depresi pada 16 – 74% pasien PPOK. Prevalens depresi yang berbeda pada populasi yang berbeda berhubungan dengan perbedaan etnis, latar belakang budaya, demografi populasi penelitianyang heterogen dan perbedaan alat penapisan17.

Hanania dkk. Menjelaskan bahwa subyek yang berusia lebih muda memiliki status sebagai perokok saat penelitian dilakukan sehingga disimpulkan bahwa status merokok memiliki kontribusi terhadap meningkatnya prevalens depresi pada kelompok usia lebih muda. Dalam penelitian ini juga disebutkan bahwa orang tua lebih beradaptasi dengan kondisi penyakitnya karena sudah menderita penyakit lebih lama. Subyek yang lebih tua mengantisipasi penyakit sebagai stressor di akhi rkehidupan sebagai bagian dari menjadi tua sehingga tidak

39

menghasilkan reaksi yang sama seperti subyek berusia lebih muda meskipun dampaknya dapat mempengaruhi. Sementara subyek berusia lebih muda mendapatkan stressor ini sebagai suatuhal yang dapat mengubah gaya hidup sehinggamenyebabkan dampak psikologis.

Penelitian yang dilakukan oleh Ng dkk mendapatkan risiko depresi 1,48 kali lebih tinggi pada pasien PPOK derajat 2 dan 1,64 kali pada PPOK derajat 3 dibandingkan PPOK derajat 1 (p =0,028). Penelitian yang dilakukan oleh Chavannes dkk mendapatkan risiko depresi pada pasiendengan rerata VEP1 63,9

± 15,2% prediksi adalah1,0 (CI 95%: 0,98–1,02). Penelitian yang dilakukan oleh Xu dkk mendapatkan prevalens depresi lebih besar pada pasien PPOK derajat 3

± 15,2% prediksi adalah1,0 (CI 95%: 0,98–1,02). Penelitian yang dilakukan oleh Xu dkk mendapatkan prevalens depresi lebih besar pada pasien PPOK derajat 3

Dokumen terkait