BAB III METODELOGI PENELITIAN
F. Instrumen Pengumpulan Data
E. Teknik Pengumpulan Data
Penelitian ini meggunakan teknik pengumpulan data yaitu tes. Tes yang
digunakan adalah tes kemampuan komunikasi matematika dan pemecahan
masalah dengan soal berbentuk uraian dan tes dilakukan setelah perlakuan
diberikan kepada kelas eksperimen.
F. Instrumen Pengumpulan Data
Sesuai dengan teknik pengumpulan data yang digunakan, maka instrumen
yang digunakan dalam penelitian ini adalah berbentuk tes. “Tes adalah alat atau
prosedur yang digunakan untuk mengetahui atau mengukur sesuatu dalam
suasana, dengan cara dan aturan-aturan yang sudah ditentukan.”44Tes tersebut
terdiri dari tes kemampuan berpikir kritis dan tes kemampuan pemecahan masalah
yang berbentuk uraian masing-masing berjumlah 4 butir soal.Dimana soal di buat
berdasarkan indikator yang diukur pada masing-masing tes kemampuan berpikir
kritis dan tes kemampuan pemecahan masalah matematika siswa yang telah
dinilai.
Tabel 3.2
Kisi-kisi Tes Kemampuan Pemecahan Masalah Matematika
Langkah Pemecahan Masalah Matematika
Indikator yang diukur No.
Soal
Bentuk soal
1. memahami masalah
▪ Menuliskan yang diketahui ▪ Menuliskan cukup, kurang atau
berlebihan hal-hal yang diketahui
1, 2,
dan 3 Uraian 2. merencanakan
pemecahannya
▪ Menuliskan cara yang digunakan dalam pemecahan soal
44Suharsimi Arikunto, 2012, Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan, Jakarta: Bumi Aksara, h.67.
3. Pemecahan masalah sesuai rencana
▪ Melakukan perhitungan, diukur dengan melaksanakan rencana yang sudah dibuat serta
membuktikan bahwa langkah yang dipilih benar.
4. memeriksa kembali prosedur dan hasil
penyelesaian
Melakukan salah satu kegiatan berikut : ▪ Memeriksa penyelesaian (mengetes
atau menguji coba jawaban) ▪ Memeriksa jawaban adakah yang
kurang lengkap atau kurang jelas. Sumber : Dimodifikasi dari Setiawan (2008)45
Dari kisi-kisi dan indikator yang telah dibuat untuk menjamin validitas
dari sebuah soal maka selanjutnya dibuat pedoman penskoran yang sesuai
dengan indikator untuk menilai instrumen yang telah dibuat. Adapun kriteria
penskorannya dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 3.3
Rubrik Penskoran Tes Kemampuan Pemecahan Masalah Matematika
No Aspek Pemecahan Masalah Skor Keterangan 1 Memahami Masalah (Menuliskan Unsur Diketahui Dan Ditanya)
0 Tidak ada jawaban sama sekali
1 Menuliskan unsur yang diketahui dan ditanya namun tidak sesuai permintaan soal
2 Menuliskan salah satu unsur yang diketahui atau yang ditanya sesuai permintaan soal
3 Menuliskan unsur yang diketahui dan ditanya sesuai permintaan soal
2 Menyusun Rencana 0 Tidak menuliskan rumus sama sekali
45Setiawan. (2008). Prinsip-Prinsip Penilaian Pembelajaran Matematika SMA. Yogyakarta: Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Matematika. h.15
Penyelesaian
(Menuliskan Rumus) 1
Menuliskan rumus penyelesaian masalah namun tidak sesuai permintaan soal
2 Menuliskan rumus penyelesaian masalah sesuai permintaan soal
3
Melaksanakan Rencana Penyelesaian
(Prosedur/Bentuk Penyelesaian)
0 Tidak ada penyelesaian sama sekali
1 Bentuk penyelesaian singkat, namun salah
2 Bentuk penyelesaian panjang, namun salah
3 Bentuk penyelesaian singkat benar
4 Bentuk penyelesaian panjang benar
4
Memeriksa Kembali Proses Dan Hasil (Menuliskan Kembali Kesimpulan Jawaban)
0 Tidak ada kesimpulan sama sekali
1 Menuliskan kesimpulan namun tidak sesuai dengan konteks masalah
2 Menuliskan kesimpulan sesuai dengan konteks masalah dengan benar
Sumber : Dimodifikasi dari Setiawan (2008)46
Table 3.4
Kisi-kisi Tes Kemampuan Komunikasi matematis
Aspek Komunikasi Matematis
Indikator yang diukur No.
Soal Bentuk soal 1. Menuliskan ide matematika dengan kata - kata sendiri
▪ Menuliskan informasi yang diketahui
▪ Menuliskan ide – ide matematika yang ditanyakan
▪ Menyederhanakan informasi dengan bahasa sendiri jika memungkinkan 1, 2, dan 3 Uraian 1. Menuliskan ide matematika
▪ Menuliskan informasi penting yang dapat digunakan dalam masalah ini ▪ Menuliskan model matematika
kedalam model matematika
yang dapat disederhanakan
▪ Menuliskan persamaan matematika yang dapat disederhanakan
2. Menuliskan prosedur penyelesaian
▪ Melaksanakan perhitungan berdasarkan model/ persamaan
(Sumber : Qasim Nurhidayat,2014)
Table 3.5
Pedoman Penskoran Tes Kemampuan Komunikasi Matematis Aspek yang
dinilai Skor Keterangan
Menyusun ide matematika dengan kata-kata sendiri
0 Tidak ada jawaban sama sekali
1 Menyusun ide matematika ke dalam kata-kata sendiri dengan informasi yang salah
2 Menyusun ide matematika dengan kata-kata sendiri namun belum benar dan belum lengkap
3 Menyusun ide matematika ke dalam kata-kata sendiri dengan benar tetapi kurang lengkap
4 Menyusun ide matematika ke dalam kata-kata sendiri dengan benar dan lengkap
Menjelaskan ide, situasi, dan
relasi secara lisan maupun
tulisan
0 Tidak ada jawaban sama sekali
1 Menjelaskan ide dengan informasi yang salah
2 Menjelaskan ide namun belum benar dan belum lengkap 3 Menjelaskan ide dengan benar tetapi kurang lengkap 4 Menjelaskan ide dengan benar dan lengkap
Aspek yang
dinilai Skor Keterangan
Menuliskan prosedur penyelesaian
0 Tidak ada jawaban sama sekali
1 Menuliskan prosedur penyelesaian yang masih salah 2 Menuliskan prosedur penyelesaian dengan belum benar
dan belum lengkap.
3 Menuliskan prosedur penyelesaian dengan benar tetapi belum lengkap.
4 Menuliskan prosedur penyelesaian dengan benar dan lengkap
(Sumber : Fitriah Ulfa, 2010)
Agar memenuhi kriteria alat evaluasi penilaian yang baik yakni mampu
mencerminkan kemampuan yang sebenarnya dari tes yang dievaluasi, maka alat
evaluasi tersebut harus memiliki kriteria sebagai berikut:
a. Validitas Tes
Validitas suatu isntrumen menunjukkan adanya tingkat kevalidan atau
kesahihan suatu isntrumen. Suatu instrument dikatakan valid apabila mampu
mengukur apa yang hendak diukur, artinya instrument itu dapat mengungkap
data dari variable yang akan dikaji secara tepat.
Validitas dalam instrumen penelitian ini adalah validitas isi yaitu tes sebuah
pengukuran tujuan khusus tertentu yang sejajar dengan materi atau isi pelajaran
yang diberikan mencari validitas instrumen. Dalam hal ini validitas yang
diinginkan yaitu menunjukkan arah perbedaan kemampuan komunikasi matematis
siswa dan pemecahan masalah terhadap model Contextual Teaching and Learning
dan Kooperatif tipe Two Stay Two Stray.
Perhitungan validitas butir tes menggunakan rumus Product Moment
angka kasar yaitu:
𝑟
𝑥𝑦=
𝑁 ∑ 𝑥𝑦−(∑ 𝑥)(∑ 𝑦)√{(𝑁 ∑ 𝑥2)−(∑ 𝑥)2}{(𝑁 ∑ 𝑦2}−(∑ 𝑦)2} ...(1)
x = Skor butir y = Skor total
𝑟𝑥𝑦 = Koefisien korelasi antara skor butir dan skor total
N = Banyak siswa 47
Kriteria pengujian validitas adalah setiap item valid apabila 𝑟𝑥𝑦>
𝑟𝑡𝑎𝑏𝑒𝑙 (𝑟𝑡𝑎𝑏𝑒𝑙 diperoleh dari nilai kritis r Product Moment).
b. Reliabilitas Tes
Suatu alat ukur disebut memiliki reabilitas yang tinggi apabila instrumen
itu memberikan hasil pengukuran yang konsisten. Untuk menguji reliabilitas tes
bebentuk uraian, digunakan rumus alpha yang dikemukakan oleh Arikunto yaitu48
− − = 2 11 2 1 1 t i n n r ...(2) Keterangan :
r11 : Reliabilitas yang dicari
∑𝜎i2 : Jumlah varians skor tiap-tiap item 𝜎t2 : Varians total
n : Jumlah soal
N : Jumlah responden
Untuk mencari varians total digunakan rumus sebagai berikut:
47 Indra Jaya, 2010. Statistik Penelitian Untuk Pendidikan (Bandung : Citapustaka Media Perintis), h.122.
48 Suharsimi Arikounto, Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan (Jakarta : Bumi Aksara, 2009) h.108.
𝑆𝑡
2=
∑ 𝑌 2−(∑ 𝑌)2 𝑁 𝑁 ...(3) Keterangan:𝑆𝑡
2=
Varians total yaitu varians skor total ∑ 𝑌 = Jumlah skor total (seluruh item)Kriteria reliabilitas tes sebagai berikut: ▪ 0,00 - 0,20 Reliabilitas sangat rendah ▪ 0,21 - 0,40 Reliabilitas rendah ▪ 0,41 - 0,60 Reliabilitas sedang ▪ 0,61 - 0,80 Reliabilitas tinggi
▪ 0,81 - 1,00 Reliabilitas sangat tinggi49
c. Tingkat Kesukaran
Soal yang baik adalah soal yang tidak terlalu mudah atau tidak terlalu
sukar. Untuk mendapatkan indeks kesukaran soal digunakan rumus yaitu:
𝑃 =
𝐵𝐽𝑆 ...(4)
Dimana :
P = Tingkat kesukaran tes
B = Banyaknya siswa yang menjawab soal dengan benar
49 Indra Jaya, 2010. Statistik Penelitian Untuk Pendidikan (Bandung : Citapustaka Media Perintis), h.124.
JS = Jumlah seluruh siswa peserta tes 50
Hasil perhitungan indeks kesukaran soal dikonsultasikan dengan
ketentuan dan diklasifikasikan sebagai berikut:
0,00 ≤ P < 0,30 : soal sukar 0,31 ≤ P < 0,70 : soal sedang 0,71 ≤ P ≤ 1,00 : soal mudah
d. Daya Pembeda Soal
Untuk menentukan daya pembeda, terlebih dahulu skor dari peserta tes
diurutkan dari skor tertinggi sampai skor terendah. Kemudian diambil 50 % skor
teratas sebagai kelompok atas dan 50 % skor terbawah sebagai kelompok bawah.
Untuk menghitung daya pembeda soal digunakan rumus yaitu:
𝐷 =
𝐵𝐴𝐽𝐴
−
𝐵𝐵𝐽𝐵
= 𝑃
𝐴− 𝑃
𝐵 ...(5) Dimana :D = Daya pembeda soal
𝐵𝐴 = Banyaknya subjek kelompok atas yang menjawab dengan benar
𝐵𝐵= Banyaknya subjek kelompok bawah yang menjawab dengan
benar
𝐽𝐴 = Banyaknya subjek kelompok atas
𝐽𝐵 = Banyaknya subjek kelompok bawah
𝑃𝐴 = Proporsi subjek kelompok atas yang menjawab benar
50 Indra Jaya, 2010. Statistik Penelitian Untuk Pendidikan (Bandung : Citapustaka Media Perintis), h.125.
𝑃𝐵 = Proporsi subjek kelompok bawah yang menajawab benar
Klasifikasi daya pembeda soal yaitu: 0,00 ≤ D < 0,20 : Buruk
0,21 ≤ D < 0,40 : Cukup 0,41 ≤ D < 0,70 : Baik 0,71 ≤ D ≤ 1,00 : Baik sekali