• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN

C. Pembahasan Hasil Penelitian

matematis diajar melalui pembelajaran Contextual Teaching and Learning dan pembalajaran Two Stay Two Stray

Two Stray pembelajaran

Kooperatif tipe Two Stay Two Stray 2 𝐻0∶ 𝜇𝐴1𝐵2= 𝜇𝐴2𝐵2 𝐻𝑎∶ 𝜇𝐴1𝐵2≥𝜇𝐴2𝐵2 Terima Ho, jika : Fhitung<Ftabel • 𝐻0: tidak terdapat perbedaan kemampuan pemecahan masalah yang diajar melalui pembelajaran Contextual Teaching and Learning dan model pembalajaran Two Stay Two Stray • 𝐻𝑎: terdapat

perbedaan kemampuan

pemecahan masalah yang diajar melalui pembelajaran Contextual Teaching and Learning dan model pembalajaran Two Stay Two Stray

Terdapat perbedaan kemampuan pemecahan masalah siswa yang diajar dengan model pembelajaran Contextual Teaching and Learning dan model pembelajaran Kooperatif tipe Two Stay Two Stray Secara keseluruhan kemampuan pemecahan masalah siswa yang diajar dengan model pembelajaran Contextual Teaching and Learning lebih baik daripada siswa yang diajar dengan model pembelajaran Kooperatif tipe Two Stay Two Stray

C. Pembahasan Hasil Penelitian

Penelitian kuantitatif eksperimen mengenai perbedaan kemampuan

komunikasi matematis dan kemampuan pemecahan masalah yang diajar dengan

model pembelajaran Contextual Teaching and Learning dan kooperatif tipe Two

Pondok Pesantren Modern Darul Hikmah TPI Medan T.A 2019/2020 ditinjau dari

penilaian tes kemampuan siswa yang menghasilkan skor rata-rata hitung yang

berbeda-beda.

Temuan hipotesis pertama memberikan kesimpulan bahwa: terdapat

perbedaan kemampuan komunikasi matematis yang diajar dengan model

pembelajaran Contextual Teaching and Learning dan model pembelajaran

Kooperatif tipe Two Stay Two Stray di kelas X Pondok Pesantren Modern Darul

Hikmah TPI Medan. Dengan temuan secara keseluruhan kemampuan komunikasi

matematis yang diajar dengan model Contextual Teaching and Learning lebih

baik dari siswa yang diajar dengan model Two Stay Two Stray.

Hal ini sejalan dengan yang dikemukakan Ngalimun bahwa Model

pembelajaran Contextual Teaching and Learning merupakan suatu model

pembelajaran yang melibatkan siswa untuk memecahkan suatu masalah melalui

tahap-tahap metode ilmiah sehingga siswa dapat mempelajari pengetahuan yang

berhubungan dengan masalah tersebut dan sekaligus memiliki keterampilan untuk

memecahkan masalah. Hal ini menunjukkan bahwa siswa harus memiliki

kemampuan awal untuk melakukan proses penyelesaian masalah, untuk

membangun dan meningkatkan kemampuan komunikasi matematis siswa dan

kemampuan pemecahan masalah dengan modal kognitif yang telah dimiliki

sebelumnya. Sehingga siswa dapat menyelesaikan masalah yang diberikan dengan

lebih baik.

Model pembelajaran Contextual Teaching and Learning merupakan model

bekerja sama agar dapat menyelesaikan masalah yang diberikan dalam kehidupan

sehari-hari dan dalam prosesnya juga mampu mengembangkan kemampuan

komunikasi matematis siswa dan kemampuan pemecahan masalah.

Temuan hipotesis kedua memberikan kesimpulan bahwa: terdapat

perbedaan kemampuan pemecahan masalah yang diajar dengan model

pembelajaran Contextual Teaching and Learning dan model pembelajaran

Kooperatif tipe Think Two Stay Two Stay di kelas X Pondok Pesantren Modern

Darul Hikmah TPI Medan. Dengan temuan secara keseluruhan kemampuan

pemecahan masalah yang diajar dengan model Contextual Teaching and Learning

lebih baik dari siswa yang diajar dengan model Two Stay Two Stray.

Sebagaimana yang dikemukakan Duch bahwa Contextual Teachimg and

Learning adalah model pengajaran yang bercirikan adanya permasalahan nyata sebagai konteks untuk para peserta didik belajar keterampilan memecahkan

masalah serta memperoleh pengetahuan. Hal ini berarti bahwa model

pembelajaran Contextual Teaching and Learning merupakan model pembelajaran

yang menggunakan masalah nyata sebagai sarana bagi siswa untuk

mengembangkan kerja sama agar dapat menyelesaikan masalah yang diberikan

dalam kehidupan sehari-hari sehingga siswa dapat menerapkan ilmu yang telah

didapatkan kedalam kehidupan sehari-hari.

Model pembelajaran Contextual Teachimg and Learning menerapkan

proses belajar yang tersistematis, dalam menyelesaikan masalah yang diberikan

menentukan proses penyelesaian, dan melakukan evaluasi di akhir penyelesaian

soal.

Berdasarkan Indikator kemampuan komunikasi matematis lainnya

dikemukakan Kementrian Pendidikan Ontario yaitu, Written text, drawing,

mathematical expression. Berdasarkan indikator kemampuan komunikasi matematis diatas yaitu siswa diminta untuk written text atau menuliskan jawaban

dengan bahasa sendiri dan menulis bahasa matematika, lalu drawing atau

menggambarkan atau merefleksikan dalam ide-ide matematika, kemudian

mathematical expression atau mengekspresikan konsep matematika denganmenyatakan perisiwa dalam bahasa atau simbol matematika.

Pada kemampuan komunikasi matematis yang diajarkan menggunakan

model pembelajaran contextual teaching and learning pada kelas eksperimen 1

memiliki nilai rata-rata post-test 77,593, sedangkan kemampuan komunikasi

matematis yang diajarkan dengan model kooperatif tipe two stay two stray pada

kelas eksperimen 2 memiliki rata-rata post-test 75,129. Hal ini menunjukkan

bahwa kemampuan komunikasi matematis yang di ajarkan dengan model

pembelajaran contextual teaching and learning lebih baik daripada yang diajarkan

dengan model pembelajaran kooperatif tipe two stay two stray. Hal tersebut

sejalan dengan penelitian Yumi Sarrasanti, Doni Sabroni, dengan judul

pembelajaran model contextual teaching and learning untuk meningkatkan

kemampuan komunikasi matematis siswa, dengan hasil kemampuan komunikasi

matematis siswa lebih baik diajarkan dengan model pembelajaran contextual

Terdapat indikator dalam pemecahan masalah menurut Badan Standar

Nasional Pendidikan (BSNP) yaitu mampu menunjukkan pemahaman masalah,

mengorganisasi data dan menulis informasi yang relevan dalam pemecahan

masalah, menyajikan masalah secara matematika dalam berbagai bentuk, memilih

pendekatan secara tepat, mengembangkan strategi pemecahan masalah,

menyelesaikan masalah.

Setelah diberikannya post-test di masing-masing kelas, diperoleh

kemampuan pemecahan masalah dengan nilai rata-rata di kelas eksperimen 1 yang

berjumlah 30 siswa yaitu 79,8438 dan dikelas eksperimen 2 yang berjumlah 30

siswa memiliki nilai rata-rata yaitu 74,8871. Dapat dilihat bahwa terdapat

perbedaan rata-rata post-test kelas yang di ajar dengan model pembelajaran

contextual teaching and learning dengan rata-rata hasil post-test yang di ajarkan dengan model pembelajaran two stay two stray. Pada kemampuan pemecahan

masalah yang diajarkan dengan model pembelajaran CTL pada kelas eksperimen

1 memiliki nilai rata-rata post-test 82,0938, sedangkan kemampuan pemecahan

masalah yang diajarkan dengan model pembelajaran pada kelas eksperimen 2

memiliki nilai rata-rata post-test 75,5161. Hal ini menunjukkan bahwa

kemampuan pemecahan masalah yang diajarkan dengan model pembelajaran

contextual teaching and learning lebih baik daripada kemampuan pemecahan masalah yang diajarkan dengan model pembelajaran two stay two stray. Hal ini

sejalan dengan penelitian Wilda Yulia Rusyida dengan yang berjudul komparasi

model contextual teaching and learning dan MEA terhadap kemampuan

diajarkan dengan model pembelajaran contextual teaching and learning daripada

yang diajarkan dengan model pembelajaran MEA dan konvensional.

Berdasarkan paparan di atas dapat di lihat dari nilai rata-rata post-test dan

penelitian relevan yang mendukung bahwa model pembelajaran contextual

teaching and learning lebih baik untuk meningkatkan kemampuan komunikasi matematis dan pemecahan masalah daripada model pembelajaran kooperatif tipe

two stay two stray.

Dokumen terkait