• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV PRA DISAIN WADUK CILEUWEUNG

4.7. Instrumentasi

Instrumentasi Waduk Cileuweung adalah jenis peralatan yang dipasang pada tubuh atau pondasi waduk guna memantau kinerja atau perilaku waduk, baik selama masa konstruksi maupun pada tahap operasinya. Dengan demikian diharapkan bahwa segala bentuk penyimpangan dan perubahan yang terjadi dapat diketahui lebih awal, sehingga tindakan pencegahan terhadap hal-hal yang tidak diinginkan dapat dilakukan sedini mungkin, demi menjaga/menjamin keamanannya.

Maksud pemasangan instrumentasi waduk adalah sebagai berikut :

a). Selain sebagai alat pemantau, sekaligus untuk memperoleh rekaman time-series data waduk sebagai bahan kajian kesesuaian desain.

b). Membantu mencegah timbulnya efek negatif akibat ketidak sempurnaan desain, karena adanya faktor-faktor yang belum diketahui.

c). Data pembacaan instrumen di lapangan dapat dipakai sebagai alat bantu penerapan / modifikasi suatu metode dalam rangka uji kendali mutu.

d). Untuk mendiagnosa penyebab dan seluk-beluk terjadinya kerusakan atau kegagalan waduk.

Untuk keperluan tersebut diatas, instrumentasi yang dipasang di Waduk Cileuweung masing - masing antara lain adalah sebagai berikut :

 Piezometer dengan Stand-pipe : 16 lubang

 Sumur Pengamatan (Observation Well/OW) : 2 buah

 BM : 21 buah

 Inclinometer : 1 buah

 Settlement gauge : 1 buah

 V-notch : 1 buah

5. BAB V PRA DISAIN WADUK CIMULYA

5.1. Tipe Bendungan

Tipe bendungan ditentukan berdasarkan hal – hal sebagai berikut :

 Ketersediaan / kualitas dan kuantitas material timbunan/urugan yang tersedia

 Tinggi tubuh bendungan

 Kondisi geologi lapisan tanah pondasi

 Kondisi waktu pelaksanaan konstruksi

Berdasarakan pertimbangan stabilitas urugan dan pondasi, maka tipe Bendungan Cimulya dipilih tipe Earth-core rockfill dam dengan kemiringan 1:2 di bagian hulu dan 1:1,9 di bagian hilir. Ketersediaan material, yang berupa tanah urug (earthfill) dan batu urug (rockfill) cukup tersedia untuk mendukung pembangunan bendungan tipe ini. Letak quarry area berada di desa Cipakem (Gambar 5-1). Lokasi Borrow area terletak di sekitar 400 m ke arah utara-barat dari damsite (Gambar 5-2).

WADUK CIMULYA WADUK CINIRU

WADUK CIWARU CIPAKEM

CIPEDES

PINARA

MEKARSARI

GIRIWARINGIN

GALAHERANG

CILIMUSARI PADAMULYA

CI

LEBAKHERANG PAMUPUKAN

GARAH

GUNUNGACI

Gambar 5-1. Lokasi Quarry Area di Waduk Cimulya

Ds. CIMULYA SELEP PADI

CML.05

.000 +165.0

00 +175.0 00+170.000

+180.000

+260.000 +190.000

+200.000 +1 95.000

+180.0

00

+170.000 +175.0 00 +165.000

+155.000

Gambar 5-2. Lokasi Borrow area di Waduk Cimulya

Berikut ini adalah data waduk dan main dam yang akan dibangun di Waduk Cimulya : Waduk (Reservoir)

• Luas Daerah Aliran Sungai : 39,78 km2

• Tinggi hujan maksimum (1995-2003) : 3.400 mm

• PMP Cimulya : 31,49 mm

• Inflow tahunan 20% kering : 39,78 * 106 m3

• Volume Tampungan Kotor : 50.800.000 m3

• Volume Tampungan Efektif : 46.500.000 m3

• Volume Tampungan Mati : 4.300.000 m3

• Elevasi Muka Air Normal : + 185 m

• Elevasi Muka Air Banjir Q-1000 : + 221 m

• Luas Genangan pada MAN : 254 ha

• PMF : 586,8 m3/det.

Bendungan Utama (Main Dam)

• Tipe Bendungan : Earth-core rockfill dam

• Filter : Double filter zone

• Tinggi bendungan (dari dasar pondasi) : 85 m

• Elevasi Mercu : + 225,00 m

• Panjang : 246,20 m

• Lebar Puncak : 10,00 m

• Kemiringan Hulu : 1 V: 2 H

• Kemiringan Hilir : 1 V: 1,9 H

Lokasi Borrow Area

5.2. Stabilitas Bendungan

Bendungan tipe urugan mengalami kegagalan terutama diakibatkan oleh perencanaan yang tidak tepat, kesalahan investigasi, kerusakan dalam konstruksi dan pemeliharaan yang tidak baik. Penyebab kegagalan bendungan tipe urugan dapat di kelompokkan menjadi 3 golongan, yaitu :

4) Kegagalan hidroulik 5) Kegagalan rembesan 6) Kegagalan struktur

(1) Kegagalan hidroulik dapat terjadi karena salah satu atau beberapa penyebab berikut :

Over topping (limpasan)

Erosi bagian hilir (Downstream foce)

Erosi bagian depan (Upstream foce)

 Erosi bagian tumit hilir

(2) Kegagalan rembesan dapat terjadi oleh beberapa sebab berikut :

 Piping melalui tubuh bendungan

 Piping melalui pondasi

Rembesan konduit (Conduit Leakage)

Sloughing of downstream toe

(3) Kegagalan struktur bendungan tipe urugan biasanya terjadi akibat kegagalan tegangan geser yang menyebabkan keruntuhan (slinding) timbunan atau pondasi.

Ada empat jenis kegagalan lereng (slope) yaitu :

 Kegagalan lereng depan pada saat konstruksi (Fs > 1,5)

 Kegagalan lereng belakang ketika terjadi rembesan tunak (Fs > 1,5)

 Kegagalan lereng/depan ketika terjadi drawdown (Fs > 1,5)

 Kegagalan lereng dengan memperhitungkan gempa (Fs > 1) Stabilitas lereng dapat dirumuskan sebagai berikut :

 Kegagalan lereng depan pada saat konstruksi (Fs > 1,5)

 

 

T cL N

Fs tan

 Kegagalan lereng belakang ketika terjadi rembesan tunak (Fs > 1,5)

 

 

T cL N

Fs tan

 Kegagalan lereng/depan ketika terjaadi drawdown (Fs > 1,5)

 

 

 

T

La . c U N Fs tan

 Kegagalan lereng dengan memperhitungkan gempa (Fs > 1)

 

 

 

 

hN T

cL hT U N Fs tan

Dimana :

Fs = Angka keamanan terhadap sliding

= Sudut geser dalam tanah

N = komponen normal gaya berat terhadap bidang geser

= W cos 

U = Tekanan air pori

= u.b sec  c = Kohesi

L = Panjang bidang geser

= b sin 

T = Komponen tangensial gaya berat terhadap bidang geser

= W sin

Karakteristik Bahan Bendungan

Karakteristik material yang akan digunakan dalam analisis stabilitas diperoleh dari hasil penyelidikan geologi dan meknaika tanah dengan hasil sebagai berikut :

a Bahan Inti Bendungan

No Parameter Satuan Nilai

1 Average Specific Gravitiy (Gs) kN/m3 27,2

2 Average Natural Moisture Content (W) % 12,6

3 Dry Density (γd) kN/m3 18

4 Wet Density (γt) kN/m3 21,1

5 Saturated Density (γwet) kN/m3 21,9

6 Effective Internal Friction Angle (Φ) o 25,0

7 Effective Cohesion (C) kN/m2 10,0

b Bahan Drainasi

No Parameter Satuan Nilai

1 Average Specific Gravitiy (Gs) kN/m3 25,6

2 Average Natural Moisture Content (W) % 1,60

No Parameter Satuan Nilai

3 Dry Density (γd) kN/m3 20,8

4 Wet Density (γt) kN/m3 21,1

5 Saturated Density (γwet) kN/m3 22,7

6 Effective Internal Friction Angle (Φ) o 35,0

7 Effective Cohesion (C) kN/m2 0,00

c Material Rockfill

No Parameter Satuan Nilai

1 Average Specific Gravitiy (Gs) kN/m3 25,4

2 Average Natural Moisture Content (W) % 1,00

3 Dry Density (γd) kN/m3 19,2

4 Wet Density (γt) kN/m3 19,4

5 Saturated Density (γwet) kN/m3 21,6

6 Effective Internal Friction Angle (Φ) o 35,0

7 Effective Cohesion (C) kN/m2 0,00

d Material Pondasi Dasar

No Parameter Satuan Nilai

1 Average Specific Gravitiy (Gs) kN/m3 25,4

2 Average Natural Moisture Content (W) % 1,00

3 Dry Density (γd) kN/m3 19,2

4 Wet Density (γt) kN/m3 19,4

5 Saturated Density (γwet) kN/m3 21,6

6 Effective Internal Friction Angle (Φ) o 37,0

7 Effective Cohesion (C) kN/m2 0,00

Hasil Analisis

Analisa stabilitas lereng dilakukan dengan menggunakan software Geoslope, hasilnya dirangkum sebagai berikut :

No Kondisi Fs Syarat

A Tanpa memperhitungkan gempa

1 Lereng hulu waduk kosong 1,939 > 1,5

2 Lereng hilir waduk kosong 1,825 > 1,5

3 Lereng hulu waduk penuh 2,091 > 1,5

4 Lereng hilir waduk penuh 1,773 > 1,5

5 Lereng hulu draw down 1,293 > 1,0

B Dengan memperhitungkan gempa

1 Lereng hulu waduk kosong 1,855 > 1,0

2 Lereng hilir waduk kosong 1,805 > 1,0

3 Lereng hulu draw down 1,887 > 1,0

C. Tanpa memperhitungkan gempa 1. Lereng hulu waduk kosong

2.000

2. Lereng hilir waduk kosong

1.850

3. Lereng hulu waduk penuh

2.100 2.100

2.150 2.1502.250 2.250

4. Lereng hilir waduk penuh

1.8001.850 1.9001.9502.000 2.150

5. Lereng hulu draw down

1.400

D. Dengan memperhitungkan gempa 1. Lereng hulu waduk kosong

1.900

2. Lereng hilir waduk kosong

3. Lereng hulu draw down

2.000

1 10 100 1.000 10.000 100.000

Periode ulang T (tahun)

koefisiengempa(k)

Gambar 5-3. Grafik hubungan antara periode ulang (T) dan koefisien gempa (k)

Stabilitas pondasi terhadap tegangan horizontal

Jika pondasi bendungan urugan tanah terdiri dari batuan keras, seperti gravel kompak.

Pasir kasar, lempung terkonsolidasi, yang mempunyai tegangan gerak tinggi, biasanya aman terhadap tegangan horizontal. Sebaliknya, jika pondasi terdiri dari material halus, pasir lepas, lempung tidak terkonsolidasi dengan tegangan gerak rendah, maka perlu di check stabilitas terhadap tegangan horizontal.

Stabilitas pondasi di bawah lereng hulu dapat di hitung sebagai berikut :

s s

Fs 1.5

= tegangan geser

WF = berat satuan material pondasi (kN/m3) WD = berat satuan material bendungan (kN/m3)

Angka keamanan terhadap tegangan geser maksimum.

Fs' 1

Data material bendungan :

Berdasarkan data diatas maka stabilitas pondasi di Waduk Cimulya terhadap tegangan horizontal adalah

45 /2

c W' htan

Smax m

2 o

max 0 15,59*56tan35 610,91 kN/m

S   

a max 1 ,4

2 max 1,4*64,7190,59kN/m

max

Smax

' Fs 

aman

1 74 , 59 6 , 90

91 , ' 610

Fs   

Stabilitas Terhadap Aliran Filtrasi

Tubuh bendungan maupun pondasinya harus mampu menahan gaya-gaya yang ditimbulkan oleh adanya air filtrasi yang mengalir melalui celah-celah antara butiran tanah pembentuk tubuh bendungan dan pondasi tersebut.

Pada perencanaan bendungan Cimulya untuk stabilitas bendungan terhadap aliran filtrasi selain menggunakan metode biasa yaitu dengan teori Casagrande juga dikaji dengan menggunakan program bantu SEEP/W yang metode pendekatan perhitungannya menggunakan metode finite elemen (FEM).

Kapasitas aliran filtrasi dapat diperkirakan berdasarkan pada jaringan trayektori aliran filtrasi dengan rumus :

Np

=Nf

Qf . k . H . L

dimana :

Qf = Kapasitas aliran filtrasi (m3/detik) Nf = Jumlah garis trayektori

Np = Jumlah garis eqipotensial k = Koefisien filtrasi (meter/detik) H = Tinggi tekanan air total (meter) L = Panjang tubuh bendungan.

1.9996e-006

6.7671e-007

JARAK

-30 -20 -10 0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 100 110 120 130 140 150 160 170 180 190 200 210 220 230 240 250 260 270 280 290 300 310 320 330 340 350

ELEVASI

-20 -15 -10 -5 0 5 10 15 20 25 30 35 40 45 50 55 60 65 70 75 80

Gambar 5-4. Hasil analisa rembesan

Debit rembesan = 6,77*10-7x 135 x 2 = 1,83 x 10-4m3/dt = 15,81 m3/hari

5.3. Bangunan Pengelak

5.3.1. Cofferdam

Penentuan tinggi cofferdam sangat erat hubungannya dengan penentuan ukuran dari terowongan pengelak. Makin kecil bangunan pengelak maka diperlukan cofferdam yang lebih tinggi.

Untuk menentukan tinggi cofferdam dilakukan penelusuran banjir dengan periode ulang 25 tahun (Q25th). Penentuan periode ulang banjir didasarkan pada besarnya risiko yang masih bisa ditanggulangi serta nilai ekonomi bangunan cofferdam yaitu umur cofferdam.

Kapasitas terowongan pengelak dan tinggi muka air maksimum di hulu terowongan dihitung dengan menggunakan software HEC – HMS. Hasilnya seperti pada Gambar 5-5.

Gambar 5-5. Hasil analisis Hydroulik Terowongan Pengelak dengan HEC-HMS berdasarkan Q25

Kapasitas Maksimum : 143,2 m3/dt Tinggi Muka Air Maksimum : 167,3 m

Tinggi muka air maksimum di terowongan pengelak jika banjir dengan kala ulang 25 -tahunan terjadi adalah elevasi 167,3 m, dan debit limpasannya adalah 143,2 m3/det maka Tinggi cofferdam agar mempunyai tinggi jagaan 2,7 adalah elevasi +170 m

Berikut ini adalah data cofferdam yang akan dibangun di Waduk Cimulya : Upstream Cofferdam :

Elevasi puncak Panjang Puncak

Kemiringan Hulu Kemiringan Hilir Downstream Cofferdam :

Elevasi puncak Panjang Puncak

Kemiringan Hulu Kemiringan Hilir Cofferdam :

Elevasi puncak Panjang Puncak

Kemiringan Hulu Kemiringan Hilir

: : : :

: : : :

: : : :

+ 170 m.

30,9 m.

1 V : 3,0 H.

1 V : 2,5 H.

+ 165 m.

71 m.

1 V : 3,0 H.

1 V : 2,5 H.

+ 183 m.

195,5 m.

1 V : 2,0 H.

1 V : 1,9 H.

5.3.2. Terowongan Pengelak

Kecepatan aliran pada terowongan dalam kondisi aliran bebas dan aliran tertekan ditentukan berdasarkan debit air yang harus dialirkan. Sedangkan tinggi muka air pada bagian hulu dan besarnya debit yang dialirkan ditentukan dengan penelusuran banjir.

Berikut ini adalah data saluran pengelak yang akan dibangun di Waduk Cimulya : Saluran Pengelak :

Tipe : Tapal Kuda 2r

Jari – jari terowongan (r) : 2,5 m

Panjang : 542,4 m

Elevasi Inlet : + 157 m

Elevasi Outlet : + 145 m

Kemiringan terowongan (S) : 12/542,4 Koefisien kekasaran manning (n) : 0,015 (beton) Luas penampang basah (A) : 20,73 m2

Keliling basah (P) : 16,34 m Debit Rencana (Q25th) : 143,2 m3/dt

r

2 r 2r

Gambar 5-6. Bentuk Melintang Terowongan Pengelak

5.4. Spillway

Pelimpah direncanakan untuk menjaga elevasi Muka Air Normal (maksimum Operasional) agar tetap terjaga. Sehingga volume air untuk memenuhi kebutuhan air baku, irigasi dan konservasi dapat tercukupi. Apabila terjadi aliran masuk disertai banjir maka air tersebut secara otomatis akan melimpah melalui bangunan pelimpah. Sedangkan volume air yang tertampung di waduk terjaga dalam jumlah yang direncanakan, sedangkan kelebihannya karena banjir dapat dialirkan melalui pelimpah.

Lokasi spillway berada di sebelah kanan abutment yang berupa perbukitan sehingga diperlukan galian yang cukup dalam. Berdasarkan data geologi yang ada diketahui bahwa kondisi geologi cukup mantap. Namun demikian direkomendasikan untuk dilakukan penyelidikan geologi yanng lebih rinci.

Pada Waduk Cimulya Spillway yang digunakan adalah pelimpah saluran samping, dengan ambang berbentuk ogee dengan panjang mercu 34 m. Spillway berada di sebelah kanan bendung dengan menggali tanah asli (Gambar 5-7 & 5-8). Hasil routing PMF melalui spillway ini di hasilkan tinggi banjir 3,5 m dengan bendungan tipe urugan batu, di perlukan freeboard minimum 0,5 m dari PMF, sehingga puncak bendungan berada pada EL + 223,0 m.

Analisa penulusuran banjir dilakukan dengan menggunakan software HEC-HMS untuk PMF dan debit rencana 1000 tahun. Keluaran dar analisis ditunjukkan pada Gambar 5-9 dan 5-10.

Berikut ini adalah data spillway yang akan dibangun di Waduk Cimulya : Spillway :

Tipe

Debit Rencana

Elevasi Mercu Pelimpah

: : :

Side Channel Spillway PMF =586,8 m3/det + 220

Elevasi Muka Air Banjir (Q100)

Elevasi Muka Air Banjir (PMF)

Elevasi Lantai dasar Hulu

Panjang Mercu

Panjang Saluran Transisi

Lebar Saluran Transisi (Hulu)

Lebar Saluran Transisi (Hilir)

Panjang Saluran Peluncur

Lebar Saluran Transisi

Elevasi Dasar Saluran Peluncur

Panjang Stilling Basin

Lebar Saluran Stilling Basin

Elevasi Dasar Stilling Basin

:

129,00 m.

15,00 m.

+ 145 m.

73,27 m.

15,00 m.

+ 14

Ds. CIMULYA

CML.03

Gambar 5-7. Spillway Tampak Atas

Gambar 5-8. Spillway Tampak Samping

Gambar 5-9. Hasil analisis HEC-HMS berdasarkan PMF

Gambar 5-10. Hasil analisis HEC-HMS berdasarkan Q100

5.5. Bangunan outlet

Bangunan outlet permanent akan memanfaatkan terowongan pengelak. Bangunan intake tower dibuat pada dasar elevasi MOL (+185 m), dengan vertical shaft yang tersambung dengan terowongan pengelak. Penutupan permanen dari beton di buat di sebelah hulu dari sambungan dengan shaft tunnel. Intake tower di lengkapi dengan pintu, sehingga outlet dapat dikeringkan untuk kepentingan inspeksi dan pemeliharaan.

Berikut ini adalah data bangunan outlet yang akan dibangun di Waduk Cimulya :

Tipe : Circular

Bentuk : Lingkaran

Diameter : 1,4 m

Jumlah : 1 buah

Debit Rencana Maks. : 4,0 m3/det

Debit Rencana Min. : 2,0 m3/det

Struktur Bangunan intake : vertical shaft

Pintu Opreasional : 2 x 1,4 m2

Pintu Emergensi : 2 x 1,4 m2

5.6. Pembangkit Listrik

Waduk Cimulya akan mensuplai air irigasi pada DI. Ciberes hilir (2.909 ha) dan DI.

Cipaku (70 ha) melalui Bendung Cikeusik sedang DI. Manungteung (7.611 ha) melalui Bendung Maneungteung. Kapasitas outlet maksimum 4,0 m3/dt dan minimumnya 2,0 m3/dt.

H hf

h

z FSL +220

MOL +185

ELv : +148

Gambar 5-11. Skema Pembangkit listrik

h Q P  

 = Total efisiensi = 75 %

 = Berat jenis air = 9,81 Kn/m3 Q = Debit (m3/s)

h = Tinggi efektif (m) h = H – Z – hf

H = Tinggi total (m) = 1 m

Z = Tinggi sudu – sudu pelton dari fail race (m) Elevasi muka air waduk

 Muka air banjir (FSL) = + 220,00 m

 Muka air rendah (MOL) = + 185,00 m

Muka air tailrace

 Muka air normal (Q = 4,0 m3/dt) = + 148 m

Tinggi Statik

 Tinggi kotor maksimum = 220 - 148 = 72 m

 Tinggi kotor minimum = 185 – 148 = 37 m

 Kehilangan tinggi tekan = 1,037 m

Tinggi efektif

 Tinggi efektif maksimum = 72 – 1,037 = 70,96 m

 Tinggi efektif minimum = 37 – 1,037 = 35,96 m

 Tinggi efektif rata – rata = 53,46 m

h Q P  

P = 0,75 x 9,81 x 4 x 53,46 = 1.573 kW

Tampungan efektif = 46.518.186 m3

Total energi listrik tahunan yang dikeluarkan = 5,08 Gwh

5.7. Instrumentasi

Instrumentasi Waduk Cimulya adalah jenis peralatan yang dipasang pada tubuh atau pondasi waduk guna memantau kinerja atau perilaku waduk, baik selama masa konstruksi maupun pada tahap operasinya. Dengan demikian diharapkan bahwa segala bentuk penyimpangan dan perubahan yang terjadi dapat diketahui lebih awal, sehingga tindakan pencegahan terhadap hal-hal yang tidak diinginkan dapat dilakukan sedini mungkin, demi menjaga/menjamin keamanannya.

Maksud pemasangan instrumentasi waduk adalah sebagai berikut :

a). Selain sebagai alat pemantau, sekaligus untuk memperoleh rekaman time-series data waduk sebagai bahan kajian kesesuaian desain.

b). Membantu mencegah timbulnya efek negatif akibat ketidak sempurnaan desain, karena adanya faktor-faktor yang belum diketahui.

c). Data pembacaan instrumen di lapangan dapat dipakai sebagai alat bantu penerapan / modifikasi suatu metode dalam rangka uji kendali mutu.

d). Untuk mendiagnosa penyebab dan seluk-beluk terjadinya kerusakan atau kegagalan waduk.

Untuk keperluan tersebut diatas, instrumentasi yang dipasang di Waduk Cimulya masing -masing antara lain adalah sebagai berikut :

 Piezometer dengan Stand-pipe : 16 lubang

 Sumur Pengamatan (Observation Well/OW) : 2 buah

 BM : 20 buah

 Inclinometer : 1 buah

 Settlement gauge : 1 buah

 V-notch : 1 buah

6. BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

6.1. Kesimpulan

Berdasarkan hasil studi komparatif waduk – waduk di DAS Cisanggarung maka dapat disimpulkan hal – hal sebagai berikut :

1. Berdasarkan analisis prioritas keseluruhan waduk berdasarkan scoring dan parameter ekonomi adalah sbb.:

No. Waduk Skor x Bobot Ranking

1 Cimulya 3,98 1

2 Cileuweung 3.83 2

3 Cihirup 3.55 3

4 Ciniru 3.45 4

5 Haur Kuning 3.38 5

6 Cigalagah 3.38 5

7 Cimara 3.38 5

8 Dukuhbadag 3.15 8

9 Gunung Karung 2.98 9

10 Ciwaru 2.75 10

11 Cihowe 2.58 11

12 Peucang 2.55 12

13 Seuseupan 2.33 13

14 Masigit 2.10 14

15 Manungteung 2.08 15

2. ketersediaan air di Waduk Cimulya dan Waduk Cileuweung cukup berlimpah, inflow tahunan untuk kemungkinan 20% kering berturut – turut sebesar 39,78 juta m3dan 81,39 juta m3.

3. Berdasarkan analisa peta topografi di lokasi Waduk Cimulya diperoleh daya tampung yang realistik sebesar 50,80 juta m3 dengan luas genangan 254 ha. Untuk menampung kapasitas tersebut diperlukan bendungan setinggi 85 m. Pada Waduk Cileuweung diperoleh daya tampung yang realistik sebesar 32 juta m3 dengan luas

genangan 220 ha. Untuk menampung kapasitas tersebut diperlukan bendungan setinggi 49 m.

4. Berdasarkan analisa kesimbangan air, Waduk Cimulya mampu menyediaan air baku sebesar 1500 lt/dt dan menyediakan air irigasi seluas 7.611 ha (DI. Maneungteung), 2.909 ha (DI Ciberes Hilir), 70 ha (DI. Cipaku) dengan intensitas tanam 300% (padi – padi – palawija). Disamping itu mampu membangkitkan energi listrik dengan kapasitas 1.573 Kw, dengan energi listrik tahunan yang dikeluarkan sebesar 5,08 GWh. Sedangkan pada Waduk Cileuweung mampu menyediaan air baku sebesar 1500 lt/dt dan menyediakan air irigasi seluas 7.151 ha (DI. Cijangkelok Bawah) dengan intensitas tanam 300% (padi – padi – palawija). Disamping itu mampu membangkitkan energi listrik dengan kapasitas 491Kw, dengan energi listrik tahunan sebesar 1,58 GWh.

5. Berdasarkan kondisi geologi dan ketersediaan material maka untuk Bendungan Cimulya direncanakan menggunakan tipe Earth-core rockfill dam sedangkan Bendungan Cileuweung Modified homogeneous earthfill dam.

6. Spillway pada Waduk Cimulya dan Cileuweung diletakkan di sebelah kanan abutment dengan tipe side channel spillway, lebar cresh untuk Waduk Cimulya 25 m dengan kapasitas maksimum berdasarkan PMF 187,8 m3/dt dan berdasarkan Q100

sebesar 39,1 m3/dt. Sedangkan Waduk Cileuweung lebar cresh 20 m dengan kapasitas maksimum 114,6 m3/dt.

7. Fungsi utama waduk adalah wadah penyediaan air baku dan irigasi sedangkan pembangkit listrik merupakan fungsi sekunder, sehingga pengeluaran air disesuaikan dengan kebutuhan air baku & air irigasi.

8. Pengambilan air irigasi di lakukan melalui pipa pesat yang di pasang di dekat terowongan pengelak. Bangunan pengambilan berupa shift tower yang dilengkapi pintu.

6.2. Rekomendasi

Rekomendasi usulan terhadap rencana pembangunan Waduk Cimulya dan Cileuweung meliputi sebagai berikut :

1. Perlu dilakukan penyelidikan secara rinci mengenai kondisi geologi di sekitar lokasi Waduk Cimulya dan Cileuweung, tepatnya pada jalur lokasi bendung, sepanjang jalur terowongan pengelak, sepanjang jalur spillway

2. Perlu dilakukan pengukuran di lokasi Waduk Cimulya dan Cileuweung sampai pada daerah sabuk hijau, sepanjang jalur terowongan pengelak, sepanjang jalur spillway, sekitar daerah basecamp, dan sekitar lokasi borrow area.

3. Perlu dilakukan pengamatan hidrometri / sample sediment

7. DAFTAR PUSTAKA

1. Snowy Mountains Engineering Corporation Cooma, N.S.W. Australia in Association with Persero PT. Virama Karya, Jakarta, Indonesia, June 1984, Cisanggarung River Basin Development Project, Feasibility Study Report Annex 5, Cileuweung Dam, Republic of Indonesia, Ministry of Public Work Directorate General of Water Resources Development.

2. Snowy Mountains Engineering Corporation Cooma, N.S.W. Australia in Association with Persero PT. Virama Karya, Jakarta, Indonesia, October 1983, Cisanggarung River Basin Development Project, Materplan Draft Report Annex D, Water Storage, Republic of Indonesia, Ministry of Public Work Directorate General of Water Resources Development.

3. Snowy Mountains Engineering Corporation Cooma, N.S.W. Australia in Association with Persero PT. Virama Karya, Jakarta, Indonesia, May 1984, Cisanggarung River Basin Development Project, Masterplan Final Report Main Report, Republic of Indonesia, Ministry of Public Work Directorate General of Water Resources Development.

4. K.R. Arora, 2001, Irrigation Water Power and Water Resources Engineering, Standard Publishers Distributors.

5. NSPM Kimpraswil, Desember 2002, Metode, Spesifikasi dan Tata Cara bagian 8 Bendung, Bendungan, Sungai, Irigasi, Pantai, Departemen Permukiman dan Prasarana Wilayah Badan Penelitian dan Pengembangan.

6. Snowy Mountains Engineering Corporation Cooma, N.S.W. Australia in Association with Persero PT. Virama Karya, Jakarta, Indonesia, February 1984, Cisanggarung River Basin Development Project, Ciniru and Cileuweung Damsite Report on Geology, Republic of Indonesia, Ministry of Public Work Directorate General of Water Resources Development.

7. Snowy Mountains Engineering Corporation Cooma, N.S.W. Australia in Association with Persero PT. Virama Karya, Jakarta, Indonesia, June 1983, Cisanggarung River Basin Development Project, Part D Potential Water Storage Development, Republic of Indonesia, Ministry of Public Work Directorate General of Water Resources Development.

8. Snowy Mountains Engineering Corporation Cooma, N.S.W. Australia in Association with Persero PT. Virama Karya, Jakarta, Indonesia, May 1984, Feasibility Study Draft Report Annex 8 Catchmanet Rehabilitation, Republic of Indonesia, Ministry of Public Work Directorate General of Water Resources Development.

9. Tingkat Keamanan Bendungan di Jawa Volume I : Jawa Timur, Bandung Jawa Barat Indonesia, 2006, Pusat Penelitian dan Pengembangan Sumber Daya Air.

10. Japan International Cooperation Agency (JICA), August 2000, The Detail Desaign of Flood Control, urban drainage and water resources Development in Semarang in The Republic of Indonesia, Final Report, Component B : Jatibarang Multipurpose Dam Construction Volume I Main Report.

TGL. KONTRAK NO. KONTRAK LEMBAR

JUDUL GAMBAR KONSULTAN MENGETAHUI TANGGAL

TANGGAL MENYETUJUI

DIPERIKSA TANGGAL TANGGAL DIGAMBAR

STUDY KOMPARATIF WADUK - WADUK DI DAS CISANGGARUNG

KETERANGAN PEKERJAAN DEPARTEMEN PEKERJAAN UMUM DIREKTORAT JENDRAL SUMBER DAYA AIR

SATUAN KERJA BALAI BESAR WILAYAH SUNGAI CIMANUK-CISANGGARUNG

PPK-02 : PERENCANAAN DAN PROGRAM

Jl. Pemuda No. 40 telp. (0231)205875 - 205876 Cirebon - 45132

PEMILIK PROYEK

PETA TOPOGRAFI DAS CISANGGARUNG

SKALA : 0 5 10 15 Kilometers

210000 220000 230000 240000 250000 260000 270000

9210000 9210000

9220000 9220000

9230000 9230000

9240000 9240000

9250000 9250000

926 00

JALENGKA

KOTA CIREBON

CIAMIS

CIREBON BARAT

KALIMANGGIS LEMAHABANG

NUSAHERANG

KRAMAT MULYA

PABEDILAN CIREBON SELATAN

DUKUPUNTANG

Dayeuh Luhur

Salem

CIM ARA CIPAKEM

HUTAN

Lim bangnan

CIUYAH

CIANGIR CIM ULYA

Negla

PINAR A CIWARU

KOREAK

Cikuya

Waduk Malahayu

Buara

MARGACINA SUKASAR I KALIMATI

Pengaradan CIBUNTU

BAOK

CITUN DUN

Cikakak CIMAHI

SUKADANA

KARANGKANCANA

Cigadung Parereja Banjarharjo

SU MBERJAYA

Bojong Sari

CILEUYA

Dukuhjeruk

Sarireja Prapag Lor

Blandongan Tanjung

PATALA PASAWAHAN

SEGON G

MARGAMUKTI Prapag Kidul

GALAH ER ANG

CIKEUSIK

CIBINGBIN BU NIGEULIS

CILIMU SARI

KANANGA

PADAMULYA SEDA

BEBER

Cipajang DUKU HBADAG

LEGOK

Blubuk

Kalibuntu

CIR UKEM

Karang Sam bung

SITUGEDE CIJEMIT

PUNCAK

CILAYUNG SUKAMUKTI

CIBEU REUM

CARACAS

JATIMU LYA

CIGUGUR

Karang Dempel

RAND USARI

Rungkang AM BULU

Tiwulandu CIGOBANG

Tegalreja

CIN IRU

TANJUNGKERTA PUTAT

T U K

GUNU NGSARI

Jati Sawit CENGAL

Luw ung Bata SUMBER

PENPEN

BLEN DER

CIGAR UKGAK SEDONG LOR

JATIPIRING

CIKELENG

BAKOM

ANDAMU I

MALAKASARI

DANAU/WADU K

Kubangjero

SUKAJAYA S U C I

JATIPANCU R

Mundu

CIKAN DANG

KALIRAHAYU

Cigedong SAM PORA

WAR UGEDE

TARAJU

Banjar Lor KALISARI

SILEBU

GUNU NGMANIK CILEULEUY

TANJUNGAN OM

Cimunding

BEN DUNGAN

TIMBANG

PAM ULIHAN

MULYAJAYA

CIPAN CUR

Cibendung Kedungneng

Luwung Gede Karang Junti

Sidakaton

Karangmaja KARANGTEN GAH

SU KARAPIH SILIH ASIH

TUDAGAN(TUNDAGAN)

ASTANAMUKTI

PASURUAN

PAMUPUKAN GR EGED

KALIAREN

CIRAHAYU

Losari Lor BARISAN

CAGEUR

CILIMU S

LOSARI LOR KLAYAN

BAGAWAT BOBOS

KARANGBARU PADARAMA

PATAPAN KANCI

KAD UAGUNG KENANGA

JAMBUGEU LIS

WILANAGARA SARAJAYA

CANGKUAN G

LINGGAJATI

KER AMATM ULYA

Losari Kidul

CIPETIR CIH AUR

KER TAYUGA

L U W U N G

BANDORASA KULON

CIKONDANG

KALIGAWE

CIKULAK KIDUL

TERSANA

DOMPYONG KULON

KARANGMAN GGU

Pengabean

RAJADANU SAYANA

BABAKAN

Cikandang SAM PIRAN

WIND UJAYA

SINDANG PAJAMBON

NANGKA

LONGKEWAN G

SUMU RKONDANG CEMPAKA

Kubang Putat MANDALA

CIPINAN G

GAR AHAJI

GUNUNGKARUNG WATUBELAH

KALITENGAH

LINGGASANA

SAM PIH

CIGOBANGWANGI KARANGMUNCANG

KADATUAN

Karang Reja GETRAKMOYAN

WALEDKOTA SERANG

CIKULAK SAREWU

KALIMANGGIS KULON JALAKSANA

BABAKANM ULYA

SARABAU

KARANGSEMBUN G WAR UDUWUR

SU MURWIRU JATIRENGGAN G TEGALSARI

TARIKOLOT

TARIKOLOT

Dokumen terkait