• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.3. Pembangunan Zona Integritas Menuju Wilayah Bebas Korupsi

2.3.1 Integritas

Menurut Mulyadi dalam Sukmana & Indarto (2018:131) integritas ialah bobot yang didasarkan pada keyakinan publik dan menjadi patokan dalam mengevaluasi seluruh keputusan yang diambil. Integritas mewajibkan sesorang untuk berlaku jujur dan terbuka. Dalam hal ini, integritas merupakan kondisi yang diperlukan untuk mencapai kinerja yang maksimum. Artinya, jika suatu integritas dapat dilaksanakan secara utuh, lengkap, dan tak terputus, maka tentu hal tersebut akan memiliki dampak workability yang maksimum.

Integritas adalah keselarasan antara apa yang diucapkan dan apa yang dilakukan oleh seseorang. Tindakannya sesuai dengan tuntutan moral dan prinsip-prinsip etika serta sesuai dengan aturan hukum dan tidak menzalimi kepentingan umum. Integritas merujuk pada sifat layak dipercaya dalam diri seorang manusia yang di dalamnya terdapat kualitas-kualitas individu seperti karakter jujur, amanah, tanggung jawab, kedewasaan, sopan, kemauan bersikap baik dan sebagainya.

Menurut Cloud (2007:28), ketika berbicara mengenai integritas, maka tidak akan terlepas dari upaya untuk menjadi orang yang utuh, yang bekerja dengan baik, dan menjalankan fungsinya sesuai dengan apa yang telah dirancang sebelumnya. Integritas sangat terkait dengan keutuhan dan keefektifan seseorang sebagai insan manusia.

Integritas juga menekankan konsistensi moral, keutuhan pribadi, atau kejujuran. Kejujuran seakan menjadi bagian tak terpisahkan dari bahasan tentang integritas. Di dalam literatur tentang organisasi dan sumber daya manusia, integritas paling sering dikaitkan dengan kejujuran individu (Yukl &

Van Fleet, 1992:426). Hal yang sama juga dilakukan oleh Butler dan Cantrell (dalam Hosmer, 1995:381) yang mengartikan integritas sebagai reputasi dapat dipercaya dan jujur dari seseorang untuk menjelaskan istilah “kepercayaan” di dalam konteks organisasi. Integritas juga ditempatkan sebagai inti etika keutamaan yang digagas oleh Solomon (1992:154) dengan menyebut integritas tidak hanya tentang otonomi individu dan kebersamaan, tetapi juga

loyalitas, keserasian, kerjasama, dan dapat dipercaya. Oleh karena itu, integritas sering dipahami dalam konteks perilaku, dan perilaku integritas pada umumnya dipahami dalam kaitannya dengan etika dan moral. Etika sangat berperan penting dalam lingkungan sosial dimana terdapat nilai-nilai yang dianut oleh lingkungan tersebut. Menurut Bertens (dalam Keban 2008:176),

“etika merupakan sebagai nilai-nilai moral dan norma-norma moral yang menjadi pegangan bagi seseorang atau suatu kelompok dalam mengatur tingkah lakunya, atau disebut dengan “sistem nilai”, sebagai kumpulan asas atau nilai moral yang sering dikenal dengan “kode etik”, dan sebagai ilmu tentang yang baik atau buruk, yang acapkali disebut filsafat moral”.

Etika menurut bahasa Sansekerta lebih berorientasi kepada dasar-dasar, prinsip, aturan hidup yang lebih baik. Etika disebut juga “moral philosophy” atau “philosophia moralitas”. Menurut Solomon (dalam Kumorotomo 2011:7),

“etika merujuk pada dua hal, pertama etika berkenaan dengan disiplin ilmu yang mempelajari nilai-nilai yang dianut oleh manusia beserta pembenarannya dan dalam hal ini etika merupakan salah satu cabang filsafat. Kedua, etika merupakan pokok permasalahan di dalam disiplin ilmu itu sendiri, yaitu nilai-nilai hidup dan hukum-hukum yang mengatur tingkah laku manusia”.

Dengan demikian, etika itu mempelajari perbuatan-perbuatan tertentu dan jenis-jenis tingkah laku manusia tentang baik dan buruk, benar dan salah yang mempergunakan norma-norma atau ukuran nilai sebagai kriterianya.

Spillane (dalam Labolo 2016:19) mendefenisikan bahwa etika atau ethics mempertimbangkan dan memperhatikan tingkah laku manusia dalam pengambilan moral. Menurut Suseno (dalam Labolo, 2016:11) berkaitan

moral dimana moral berkaitan dengan ajaran-ajaran wejangan, khotbah-khotbah, patokan-patokan, kumpulan peraturan dan ketetapan baik tulisan maupun lisan. Tentang bagaimana manusia harus hidup dan bertindak agar ia bisa menjadi manusia yang baik. Begitu juga yang diutarakan oleh Kumorotomo (2011:7) dimana etika merupakan penuntun tindakan untuk seluruh pola tingkah laku yang disebut bermoral. Oleh karena itu didalam etika terdapat nilai dan norma moral yang bertujuan untuk menuntun perilaku hidup.

Berkaitan dengan beberapa definisi di atas, Bartens (2000:6) mengungkapkan bahwa etika dipakai dalam arti nilai-nilai dan norma-norma moral yang menjadi pegangan bagi seorang atau suatu kelompok dalam mengatur tingkah laku. Arti ini dapat juga disebut sistem nilai dalam hidup manusia perseorangan atau hidup bermasyarakat, etika dipakai dalam arti kumpulan asas dan nilai moral, yang dimaksud di sini adalah kode etik dan etika dipakai dalam arti ilmu tentang yang baik atau yang buruk. Makna ini berkenaan dengan filsafat moral.

Etika merefleksikan mengapa seseorang harus mengikuti moralitas tertentu atau bagaimana kita mengambil sikap yang bertanggung jawab ketika berhadapan dengan berbagai moralitas. Oleh sebab itu dikatakan etika sebagai alat yang digunakan dalam kehidupan bermasyarakat supaya dapat membimbing segala tingkah laku manusia dan terhindar dari tindakan-tindakan yang tidak baik serta memiliki moral atau akhlak yang baik. Etika

dapat dikaitkan dengan filsafat dimana ada tiga cakupan yang membahas kaitan dengan etika yaitu, pertama etika berkaitan dengan logika, berkaitan dengan benar dan salah, kedua etika berkaitan dengan perilaku juga baik dan buruk dan ketiga etika berkaitan dengan estetika yaitu selaras dan tak selaras, indah atau jelek.

Berdasarkan pengertian tersebut maka etika dapat dikatakan sebagai nilai-nilai yang dapat diterima serta dipandang sebagai sebuah norma yang dapat dijadikan pegangan atau tuntunan untuk menilai baik dan buruk, patut atau tidak patut, terpuji atau tidak terpuji dalam melakukan segala aktivitas kehidupan seseorang atau kelompok masyarakat. Pada uraian di atas bahwa pengertian etika adalah norma-norma moral yang menjadi pegangan bagi setiap orang atau kelompok dalam mengatur tingkah lakunya atau kumpulan asas atau nilai moral. Begitu juga dalam organisasi yang didirikan secara resmi dan dibentuk untuk memaksimumkan efisiensi pelayanan oleh pemerintahan dalam melaksanakan kegiatan demi kepentingan publik atau masyarakat.

Dalam lingkup pelayanan publik, etika administrasi publik (Pasolong, 2007:193) diartikan sebagai filsafat dan profesional standar (kode etik) atau right rules of conduct (aturan berperilaku yang benar) yang seharusnya dipatuhi oleh pemberi pelayanan publik atau administrasi publik. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa etika administrasi publik adalah aturan atau standar pengelolaan, arahan moral bagi anggota organisasi atau pekerjaan

manajemen, aturan atau standar pengelolaan yang merupakan arahan moral bagi administrator publik dalam melaksanakan tugasnya melayani masyarakat. Aturan atau standar dalam etika administrasi negara tersebut terkait dengan kepegawaian, perbekalan, keuangan, ketatausahaan, dan hubungan masyarakat.

Penggambaran dari seseorang yang berintegritas adalah dengan menggambarkan perilaku orang tersebut. Perilaku yang berintegritas di antaranya jujur, konsisten antara ucapan dan tindakan, mematuhi peraturan dan etika berorganisasi, memegang teguh komitmen dan prinsip-prinsip yang diyakini benar, bertanggung jawab atas tindakan, keputusan, dan resiko yang menyertainya, kualitas individu untuk mendapatkan rasa hormat dari orang lain, kepatuhan yang konsisten pada prinsip-prinsip moral yang berlaku di masyarakat dan kearifan dalam membedakan benar dan salah serta mendorong orang lain untuk melakukan hal yang sama. Oleh sebab itu, dapat dikatakan bahwa Integritas merupakan suatu hal yang sangat dibutuhkan bagi seluruh Aparatur Sipil Negara (ASN) terutama dalam hal pelayanan rakyat.

Dengan integritas yang tinggi maka para ASN dapat meningkatkan kinerja.

Dengan kata lain, ketiadaan integritas pada diri seorang aparatur sipil negara akan memicu kepada penurunan kinerja.

Dokumen terkait