EFEKTIVITAS PROGRAM PEMBANGUNAN ZONA INTEGRITAS MENUJU WILAYAH BEBAS KORUPSI DAN WILAYAH BIROKRASI BERSIH MELAYANI (WBK/WBBM) PADA PELAYANAN PUBLIK DI KANTOR IMIGRASI KELAS I KHUSUS TEMPAT PEMERIKSAAN
IMIGRASI (TPI) MEDAN
SKRIPSI
Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Mendapatkan Gelar Sarjana Pada Program Studi Ilmu Administrasi Publik
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara
Oleh:
JUAN VIERE ADRIAN NIM : 160903070
PROGRAM STUDI ILMU ADMINISTRASI PUBLIK FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA 2020
ABSTRAK
Banyaknya maladministrasi dan korupsi di Indonesia mendorong pemerintah untuk mewujudkan tata pemerintahan yang baik dalam pelayanan publik. Oleh sebab itu dalam rangka mengakselerasi penyelenggaraan negara yang bebas korupsi, peningkatan kapasitas dan akuntabilitasnya, serta penguatan orientasinya ke arah perbaikan pelayanan publik, Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi RI mengeluarkan peraturan Menteri PAN dan RB Nomor 10 Tahun 2019 tentang Pedoman Pembangunan Zona Integritas Menuju Wilayah Bebas dari Korupsi dan Wilayah Birokrasi Bersih dan Melayani di Lingkungan Instansi Pemerintah.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan mendeskripsikan Efektivitas Pembangunan Zona Integritas (ZI) Menuju Wilayah Bebas dari Korupsi (WBK) dan Wilayah Birokrasi Bersih dan Melayani (WBBM) pada Pelayanan Publik di Kantor Imigrasi Kelas I Khusus Tempat Pemeriksaan Imigrasi (TPI) Medan.
Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan cara wawancara, observasi, dan dokumentasi. Data yang diperoleh kemudian dianalisis secara kualitatif dengan menelaah seluruh data yang telah dikumpulkan yang didukung oleh hasil wawancara dengan pendekatan teori Campbell yang mengemukakan bahwa efektivitas program dapat dilihat melalui keberhasilan program, keberhasilan sasaran, kepuasan terhadap program, tingkat input dan output dan pencapaian tujuan menyeluruh.
Dari hasil penelitian, dapat diketahui bahwa Efektivitas Program Pembangunan Zona Integritas Menuju Wilayah Bebas Korupsi dan Wilayah Birokrasi Bersih dan Melayani pada Pelayanan Publik di Kantor Imigrasi Kelas I Khusus Tempat pemeriksaan Imigrasi Medan efektif. Hal ini dilihat dari peningkatan dan perbaikan kualitas pelayanan publik serta budaya korupsi yang sudah ditinggalkan di Kantor Imigrasi Kelas I Khusus Tempat pemeriksaan Imigrasi Medan.
Kata Kunci : Efektivitas, Zona Integritas, Wilayah Bebas Korupsi dan Wilayah Birokrasi Bersih Melayani. Pelayanan Publik.
ABSTRACT
The large number of maladministration and corruption in Indonesia encourages the government to realize good governance in public services. Therefore, in order to accelerate the administration of a corruption-free state, increase its capacity and accountability, and strengthen its orientation towards improving public services, the Minister for Administrative Reform and Bureaucratic Reform of the Republic of Indonesia issued a regulation of the Minister of Administrative Reform and Bureaucratic Reform Number 10 of 2019 concerning Development Guidelines.
Integrity Zone Towards Areas Free of Corruption and Clean Bureaucratic Areas and Serving in Government Agencies. This study aims to determine and describe the effectiveness of the Integrity Zone Development Towards a Corruption-Free Area and Clean and Serving Bureaucratic Areas in Public Services at the Class I Immigration Office in the Special Immigration Checkpoint Medan.
The research method used is descriptive research method with a qualitative approach. Data collection techniques were carried out by means of interviews, observation, and documentation. The data obtained were then analyzed qualitatively by examining all data that had been collected which was supported by the results of interviews with the Campbell theory approach which suggested that program effectiveness could be seen through program success, target success, program satisfaction, input and output levels and achievement of overall goals.
From the research results, it can be seen that the Effectiveness of the Integrity Zone Development Program Towards Corruption-Free Areas and Clean Bureaucratic Areas and Serving Public Services at the Class I Immigration Office Special for Medan Immigration Checkpoints is effective. This can be seen from the improvement and improvement of public service quality and the culture of corruption that has been left behind at the Class I Immigration Office for the Medan Immigration Checkpoint
Keywords: Effectiveness, Integrity Zones, Corruption Free Areas and Clean Bureaucratic Serving Areas, Public service.
KATA PENGANTAR
Puji syukur dipanjatkan Tuhan Yang Maha Esa karena atas berkat rahmat dan karunia-Nya penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Efektivitas Pembangunan Zona Integritas Menuju Wilayah Bebas Korupsi (WBK) dan Wilayah Birokrasi Bersih Melayani (WBBM) pada pelayanan publik di Kantor Imigrasi Kelas I Khusus Tempat pemeriksaan Imigrasi (TPI) Medan”. Adapun penulisan skripsi ini diselesaikan sebagai salah satu syarat untuk menyelesaikan pendidikan Strata Satu (S1) pada Program Studi Ilmu Administrasi Publik Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara.
Penulis menyadari masih terdapat banyak kekurangan dalam penulisan skripsi ini. Namun, penulis mengharapkan kritik serta saran yang membangun demi perbaikan skripsi ini. Penyusunan dan penulisan skripsi ini tidak terlepas dari bantuan bimbingan serta dukungan dari berbagai pihak. Oleh karena itu dalam kesempatan ini penulis ingin menyampaikan rasa terima kasih kepada yang terhormat:
1. Bapak Prof. Dr. Runtung Sitepu, S.H., M.Hum. selaku Rektor Universitas Sumatera Utara.
2. Bapak Dr. Muryanto Amin, S.Sos., M.Si, selaku Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara.
3. Bapak Husni Thamrin, S.Sos., M.SP, selaku Wakil Dekan I Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara.
4. Bapak Dr. Tunggul Sihombing, M.A., selaku Ketua Program Studi Ilmu Administrasi Publik Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara.
5. Ibu Dra. Asima Yanty Sylvania Siahaan, M.A., Ph.D., selaku Sekretaris Program Studi Ilmu Administrasi Publik Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu
Politik Universitas Sumatera Utara, dan sekaligus sebagai Dosen Pembimbing Skripsi Penulis yang telah membimbing dan memberikan masukkan bagi penulis dalam melakukan penulisan skripsi ini dari awal hingga akhir.
6. Seluruh dosen pada Program Studi Ilmu Administrasi Publik Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik yang telah memberikan ilmu-ilmu yang relevan selama masa perkuliahan.
7. Pegawai administrasi pada Program Studi Ilmu Administrasi Publik Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik yang telah membantu pengurusan administrasi penulis selama masa perkuliahan.
8. Teruntuk Bapak Musa S.Pd, M.M, Ibu Martini S.Pd, Kakak Mikha Freundnika S.Pd, Kedua abang saya Yopie Yutama S.T, M.BA dan Heins Christian Trinalda S.T terima kasih sedalam-dalamnya untuk semua kasih sayang, doa, usaha, semangat yang telah Bapak, Ibu, Kakak dan Abang berikan untuk Juan sampai dengan sekarang ini. Skripsi ini Juan persembahkan untuk kalian. Doa Juan yang tiada hentinya untuk Bapak, Ibu, Kakak dan Kedua Abang saya.
9. Teman-teman Aulia Ayu, Muthiah Aprillia Khairunnisa, Figlia Forlana Sigit, Giovanni Anggita, Allen Diezel, Afifur Rahman dan Fransiskus Yonathan yang selama perkuliahan selalu mengisi hari-hari penulis setiap waktu dan terima kasih untuk segala manis pahit dunia kampus yang sudah kita lewati bersama selama ini.
10. XuYitong, Thah, Steven, Iza, Sueteng, Jancy, Aaron, Yanjing, Sherine and Danny terima kasih sudah menjadi partner dalam mengerjakan projek Aiesec di Bangkok University, Thailand dan Jinan University, China pada semester 2 (dua) dan 4 (empat).
11. Teman-teman seperjuangan AP 2016 yang tidak dapat disebutkan satu persatu yang telah menemani masa-masa perkuliahan ini, terima kasih.
DAFTAR ISI
ABSTRAK ... ii
ABSRACT ... iii
KATA PENGANTAR ... iv
DAFTAR ISI ... vii
DAFTAR TABEL ... ix
DAFTAR GAMBAR ... x
DAFTAR LAMPIRAN ... xii
BAB I PENDAHULUAN ... 1
1.1. Latar Belakang ... 1
1.2. Rumusan Masalah ... 10
1.3. Tujuan Penelitian ... 11
1.4. Manfaat Penelitian ... 11
BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 13
2.1. Efektivitas ... 13
2.1.1 Pendekatan Efektivitas ... 15
2.1.2 Kriteria Keberhasilan Efektivitas ... 16
2.2. Definisi Program ... 18
2.3. Pembangunan Zona Integritas Menuju Wilayah Bebas Korupsi dan Wilayah Birokrasi Bersih Melayani ... 19
2.3.1 Integritas ... 19
2.3.2 Zona Integritas ... 24
2.3.3 Wilayah Bebas Korupsi (WBK) dan Wilayah Birokrasi Bersih Melayani (WBBM) ... 27
2.4. Pelayanan Publik Yang Bebas Korupsi dan Bersih Melayani ... 27
2.5. Tata Kelola Pemerintahan Yang Baik (Good Governance) ... 30
2.6. Reformasi Birokrasi ... 32
2.7. Definisi Konsep ... 34
2.8. Hipotesis Kerja ... 36
BAB III METODE PENELITIAN ... 37
3.1. Bentuk Penelitian ... 37
3.2. Lokasi Penelitian ... 37
3.3. Informan Penelitian ... 38
3.4. Teknik Pengumpulan Data ... 41
3.5. Teknik Analisis Data ... 42
3.6. Teknik Pemeriksaan Keabsahan Data ... 42
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN ... 44
4.1. Deskripsi Lokasi Penelitian ... 45
4.1.1 Sejarah singkat Kantor Imigrasi Kelas I Khusus Tempat Pemeriksaan Imigrasi Medan ... 45
4.1.2 Visi, Misi, Motto dan Janji layanan Kantor Imigrasi Kelas I Khusus Tempat Pemeriksaan Imigrasi Medan ... 47
4.1.3 Struktur Organisasi Kantor Imigrasi Kelas I Khusus Tempat Pemeriksaan Imigrasi Medan ... 50
4.2. Efektivitas Pembangunan Zona Integritas (ZI) Menuju Wilayah Bebas Korupsi (WBK) dan Wilayah Birokrasi Bersih Melayani (WBBM) pada Kantor Imigrasi Kelas I Khusus Tempat Pemeriksaan Imigrasi (TPI) Medan ... 53
4.2.1 Keberhasilan program ... 53
4.2.2 Keberhasilan Sasaran ... 90
4.2.3 Kepuasan terhadap program ... 96
4.2.4 Tingkat input dan output ... 104
4.2.5 Pencapaian tujuan menyeluruh ... 110
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ... 116
5.1 Kesimpulan ... 116
5.2 Saran ... 118
DAFTAR PUSTAKA ... 120
DAFTAR TABEL
Tabel 3.1 Matriks Informan Penelitian ... 39 Tabel 4.1 Bobot Penilaian Indeks Kepuasan Masyarakat (IKM) dan Nilai
yang diperoleh Kantor Imigrasi Kelas I Khusus Tempat
Pemeriksaan Imigrasi Medan ... 106
DAFTAR GAMBAR
Gambar 4.1 Struktur Organisasi Kantor Imigrasi Kelas I Khusus TPI Medan . 50
Gambar 4.2 Tahapan Dalam Memperoleh Predikat WBK dan WBBM ... 56
Gambar 4.3 Komponen Pembangun ZI ... 61
Gambar 4.4 Bentuk Sosialisasi ZI di Lingkungan Imigrasi Kelas I Khusus TPI Medan ... 65
Gambar 4.5 SOP Pelaksanaan Pengawasan Internal ... 69
Gambar 4.6 SOP Pelaksanaan Pengawasan Internal ... 70
Gambar 4.7 SOP Pelaksanaan Pengawasan Internal ... 71
Gambar 4.8 Spanduk Pos Pengaduan HAM ... 76
Gambar 4.9 Perbedaan Gedung Kantor Imigrasi Kelas I Khusus TPI Medan sebelum dan sesudah dilaksanakan Program Pembangunan Zona Integritas Menuju WBK dan WBBM ... 81
Gambar 4.10 Perbedaan tempat permohonan paspor di Kantor Imigrasi Kelas I Khusus TPI Medan sebelum dan sesudah dilaksanakan Program Pembangunan Zona Integritas Menuju WBK dan WBBM ... 82
Gambar 4.11 Perbedaan ruang tunggu pelayanan Kantor Imigrasi Kelas I Khusus TPI Medan sebelum dan sesudah dilaksanakan Program Pembangunan Zona Integritas Menuju WBK dan WBBM ... 83
Gambar 4.12 Perbedaan tempat pengambilan nomor antrian Kantor Imigrasi Kelas I Khusus TPI Medan sebelum dan sesudah dilaksanakan Program Pembangunan Zona Integritas Menuju WBK dan WBBM ... 84
Gambar 4.13 Perbedaan suasana antrian pelayanan Kantor Imigrasi Kelas I Khusus TPI Medan sebelum dan sesudah dilaksanakan Program Pembangunan Zona Integritas Menuju WBK dan WBBM ... 85
Gambar 4.14 Booth pelayanan disabilitas Perbedaan suasana antrian pelayanan Kantor Imigrasi Kelas I Khusus TPI Medan sebelum dan sesudah dilaksanakan Program Pembangunan Zona Integritas Menuju WBK dan WBBM ... 86
Gambar 4.15 Jumlah Pengaduan masyarakat pada bulan januari hingga juni 2020 ... 94 Gambar 4.16 Ruang Bermain anak di Kantor Imigrasi Kelas I Khusus Tempat
Pemeriksaan Imigrasi Medan ... 100 Gambar 4.17 Vending Machine di Kantor Imigrasi Kelas I Khusus TPI
Medan ... 100 Gambar 4.18 Cemilan dan minuman yang disediakan Kantor Imigrasi Kelas I
Khusus TPI Medan ... 101 Gambar 4.19 Ruang pojok game, pojok baca dan tempat charger gratis yang
disediakan Kantor Imigrasi Kelas I Khusus TPI Medan ... 102 Gambar 4.20 Halte Imigrasi yang disediakan Kantor Imigrasi Kelas I Khusus
TPI Medan ... 103 Gambar 4.21 Ruang menyusui yang disediakan Kantor Imigrasi Kelas I Khusus
TPI Medan ... 103
Daftar Lampiran Lampiran 1. Pedoman Observasi
Lampiran 2. Pedoman Dokumentasi Lampiran 3. Pedoman Wawancara Lampiran 4. Transkrip Observasi Lampiran 5. Transkrip Dokumentasi Lampiran 6. Transkrip Wawancara
Lampiran 7. Berita Acara Seminar Proposal
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
Pelayanan publik saat ini menjadi isu kebijakan yang semakin strategis karena perbaikan pelayanan publik di Indonesia sekarang cenderung “berjalan di tempat”, sedangkan implikasinya sangatlah luas dalam kehidupan ekonomi, politik, sosial budaya, dan lain-lain. Menjadi penting perbaikan pelayanan publik mutlak perlu dilakukan agar pandangan buruk masyarakat kepada pemerintah dapat diperbaiki, karena dengan perbaikan kualitas pelayanan publik yang semakin baik, dapat mempengaruhi kepuasan masyarakat sehingga kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah dapat dibangun kembali. Maka dari itu, pelayanan yang berkualitas dan bermutu menjadi perhatian utama dari organisasi publik maupun swasta. Memberikan pelayanan yang maksimal telah menjadi kewajiban bagi suatu organisasi, baik itu dalam bidang pemerintahan maupun swasta, dalam hal ini juga termasuk BUMN/BUMD.
Pelayanan publik dalam Undang-undang Republik Indonesia pasal 1 nomor 25 tahun 2009 tentang Pelayanan Publik, adalah kegiatan atau rangkaian kegiatan dalam rangka pemenuhan kebutuhan pelayanan sesuai dengan peraturan perundang- undangan bagi setiap warga negara dan penduduk atas jasa, barang, dan/atau pelayanan administratif yang disediakan oleh penyelenggara pelayanan publik.
Pelayanan publik berpijak pada prinsip-prinsip profesionalisme dan etika seperti akuntabilitas, efektivitas, efisiensi, integritas, netralitas dan keadilan bagi
semua penerima pelayanan seperti yang diatur dalam Undang-Undang. Tetapi sangat sulit memahami prosedur pelayanan publik yang dilaksanakan para birokrasi publik.
Akibatnya, masyarakat pengguna layanan menjadi sasaran karena seringkali dihadapkan pada masalah ketidakpastian pada saat mereka sedang berinteraksi dengan birokrasi. Masyarakat tidak bisa memperkirakan kapan urusannya dengan birokrasi pelayanan dapat terselesaikan. Ketidakpastian bukan hanya pada waktu, tetapi seringkali terjadi pada biaya pelayanan. Oleh sebab itu, perlu meningkatkan kualitas pelayanan publiknya agar pelayanan publik dapat berjalan dengan akuntabilitas, efektivitas, efisiensi, integritas, netralitas dan keadilan bagi semua penerima pelayanan sesuai dengan prinsip-prinsip profesionalisme dan etika.
Pelayanan publik merupakan salah satu tugas penting yang tidak dapat diabaikan oleh pemerintah daerah karena jika adanya komponen pelayanan berhenti ataupun terhambat maka semua sektor akan berdampak. Oleh sebab itu, dibutuhkan perencanaan yang baik dan bahkan perlu diformulasikan standar pelayanan pada masyarakat sesuai dengan kewenangan yang diberikan oleh pemerintah pusat pada pemerintah daerah.Menurut Sinambela (2011:5) pelayanan publik adalah pemenuhan keinginan dan kebutuhan masyarakat oleh penyelenggara negara. Negara didirikan oleh publik (masyarakat) tentu saja dengan tujuan agar dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Pada hakikatnya, dalam hal ini pemerintah (birokrat) harus dapat memenuhi kebutuhan masyarakat. Kebutuhan dalam hal ini bukanlah kebutuhan secara individual, akan tetapi berbagai kebutuhan yang sesungguhnya diharapkan oleh masyarakat.
Pelayanan dapat dikategorikan efektif apabila masyarakat mendapatkan kemudahan pelayanan dengan prosedur yang singkat, cepat, tepat dan memuaskan.
Keberhasilan meningkatkan efektifitas pelayanan umum ditentukan oleh faktor kemampuan pemerintah dalam meningkatkan disiplin kerja aparat pelayanan
Dalam meningkatkan kualitas disiplin kerja dalam pelayanan publik, maka etika merupakan satu dasar yang sangat penting untuk dipahami oleh birokrat ketika berhadapan dengan masyarakat. Etika harus dimiliki oleh seluruh pejabat negara yang bersumber dari diri individu masing-masing dengan bermodalkan tahu, mau, dan mampu. Etika yang telah tertanam pada pejabat publik sangat berdampak pada kualitas pelayanan publik.
Etika yang telah tertanam pada pejabat publik dapat berdampak pada pelayanan publik yang dapat meningkatkan kualitas pelayanan publik. Etika berkembang dari keprihatinan terhadap pelayanan publik yang buruk karena konflik kepentingan dan korupsi. Konflik kepentingan dipahami sebagai konflik antara tanggung jawab publik dan kepentingan pribadi atau kelompok. Pejabat publik menyalahgunakan kekuasaan untuk kepentingan diri atau kelompok sehingga membusukkan kinerjanya dalam tugas pelayanan publik.
Konflik kepentingan tidak hanya mendapatkan uang, materi, atau fasilitas untuk dirinya. Juga semua bentuk kegiatan (penyalahgunaan kekuasaan) untuk kepentingan keluarga, perusahaan, partai politik, ikatan alumni, atau organisasi keagamaannya. Konflik kepentingan mendorong pengalihan dana publik. Modus operansinya beragam: korupsi pengadaan barang atau jasa, penjualan saham, penalangan, proyek fiktif, manipulasi pajak, dan parkir uang di bank dengan menunda pembayaran untuk memperoleh bunga. Konflik kepentingan yang mencolok (pendanaan ilegal parpol, penguasa yang pengusaha), dan yang tersamar (calo anggaran, cari posisi pasca-jabatan) membentuk kejahatan struktural yang merugikan kepentingan publik.
(https://money.kompas.com/etika publik dan konflik kepentingan, diakses pada 18 Agustus 2020 pukul 21.00 wib).
Kurangnya nilai etika yang dimiliki oleh pejabat publik dapat menimbulkan persoalan dalam pelayanan publik, contohnya ialah timbulnya praktek korupsi pada institusi pemerintah dan juga timbulnya sifat arogan para pejabat publik. Pelayaan publik yang seharusnya diberikan kepada masyarakat kini tidak lagi menjadi prioritas utama. Korupsi pada penyelenggaraan pemerintah dianggap sebagai kejahatan yang luar biasa.
Korupsi masih menjadi salah satu masalah terbesar yang dihadapi Indonesia, hingga sekarang ini belum terlihat tanda-tanda jika masalah korupsi dapat segera diatasi. Indonesia tetap menjadi negara yang tingkat korupsinya tinggi di seluruh dunia. Menurut Klitgaard (2001:29) Korupsi adalah ajakan dari seorang pejabat politik dengan pertimbangan yang tidak semestinya (misalnya suap) untuk melakukan pelanggaran tugas.
Berdasarkan data dari Indonesia Coruption Watch (ICW), kasus korupsi tahun 2018 mengalami penurunan dibandingkan pada tahun 2015-2018. Di tahun 2015 terdapat 550 perkara kasus korupsi, jumlah tersangka sebanyak 1.124 orang dengan kerugian negara sebesar Rp. 3,1 triliun. Di tahun 2016 lalu, terdapat 482 kasus korupsi, jumlah tersangka sebanyak 1.101 orang dengan kerugian negara sebesar Rp. 1,5 triliun. Sedangkan di tahun 2017, terdapat 576 kasus korupsi, jumlah tersangka sebanyak 1.298 dengan kerugian negara sebesar Rp. 6,5 triliun. Korupsi di tahun 2018 menurun, terdapat 454 kasus korupsi, jumlah tersangka sebanyak 1.087 dengan jumlah kerugian negara, yaitu sekitar Rp 2,3 triliun. (https://nasional.kontan.co.id “ICW: Sebanyak 454 kasus korupsi ditangani sepanjang tahun 2018”, diakses pada 28 Januari 2020 pukul 08.00 wib).
Berdasarkan data ICW yang tercantum dalam laporan kasus korupsi di atas pada 2015 hingga 2018, kasus korupsi di Indonesia masih tinggi dengan jumlah
tersangka yang bisa dilihat dalam kurun waktu 4 (empat) tahun berada di atas angka 1000 pertahunnya dan membuat kerugian yang besar bagi negara Indonesia. Hal ini menunjukkan jika masalah korupsi masih tinggi dan tentunya akan menghambat pelayanan publik yang akan diberikan kepada masyarakat. Dugaan maladministrasi pada lingkungan pemerintahan juga semakin meningkat pada tahun 2019 terbukti dengan laporan yang masuk pada Ombudsman Republik Indonesia.
Dugaan maladministrasi yang dilakukan oleh penyelenggara negara dan pemerintahan juga semakin meningkat. Ombudsman Republik Indonesia banyak menerima laporan mengenai masalah tersebut. Ombudsman RI menerima 11.087 aduan selama 2019. Jumlah itu meningkat dari 10.985 laporan pada tahun 2018. (https://Ombudsman.go.id, Pemda paling banyak dilaporkan publik ke Ombudsman sepanjang 2019, diakses pada 16 Maret 2018 pukul 17.34 wib).
Jumlah laporan di atas menunjukkan bahwa tingkat maladministrasi maupun korupsi di Indonesia pada tahun 2015 hingga 2019 masih tinggi khususnya dalam birokrasi. Maladministrasi maupun korupsi dapat menyebabkan pelayanan publik kepada masyarakat tidak berjalan maksimal. Maladministrasi maupun korupsi pada penyelenggaraan pemerintah dianggap sebagai kejahatan yang luar biasa. Maraknya pejabat publik yang melakukan maladministrasi maupun korupsi kini dianggap sebagai perilaku yang telah membudaya dan mendarah daging.
Maka dari itu, pemerintah mengeluarkan berbagai peraturan dalam tubuh birokrasi salah satunya dengan meluncurkan Grand Design reformasi birokrasi nasional melalui Perpres Nomor 81 Tahun 2010 agar upaya reformasi birokrasi dapat lebih terarah dan berkesinambungan. Peraturan tersebut menargetkan tercapainya tiga
sasaran hasil utama, yaitu peningkatan kapasitas dan akuntabilitas organisasi, pemerintah yang bersih dan bebas KKN, serta peningkatan pelayanan publik.
Dalam rangka mengakselerasi pencapaian sasaran hasil tersebut, Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi RI mengeluarkan peraturan Menteri PAN dan RB Nomor 10 Tahun 2019 tentang Pedoman Pembangunan Zona Integritas Menuju Wilayah Bebas dari Korupsi dan Wilayah Birokrasi Bersih dan Melayani di Lingkungan Instansi Pemerintah. Peraturan ini merupakan pengganti peraturan Menteri PAN dan RB Nomor 52 Tahun 2014.
Zona Integritas (ZI) adalah predikat yang diberikan kepada instansi pemerintah yang pimpinan dan jajarannya mempunyai komitmen untuk mewujudkan WBK/WBBM melalui reformasi birokrasi, khususnya dalam hal pencegahan korupsi dan peningkatan kualitas pelayanan publik. Menuju Wilayah Bebas Korupsi (Menuju WBK) adalah predikat yang diberikan kepada suatu unit kerja yang memenuhi sebagian besar manajemen perubahan, penataan tata laksana, penataan sistem manajemen SDM, penguatan pengawasan, dan penguatan akuntabilitas kinerja.
Menuju Wilayah Birokrasi Bersih dan Melayani (Menuju WBBM) adalah predikat yang diberikan kepada suatu unit kerja yang memenuhi sebagian besar manajemen perubahan, penataan tata laksana, penataan sistem manajemen SDM, penguatan pengawasan, penguatan akuntabilitas kinerja, dan penguatan kualitas pelayanan publik.
Dalam mewujudkan keefektifan pelayanan pada suatu administrasi, administrator perlu banyak mendengar daripada memberitahu, melayani daripada
mengendalikan. Berarti mewujudkan efektivitas organisasi, dalam mencapai tujuan diperlukan adanya pelayanan publik. Ini menunjukkan bahwa pelayanan menjadi penting dan utama di dalam melayani publik. sebagai pemberi pelayanan dan publik sebagai penerima pelayanan. Tuntutan efektivitas pelayanan menjadi penting untuk diterapkan sesuai dengan dimensi pelayanan yang sederhana, jelas dan pasti, terbuka, efisien, ekonomis dan adil, sebagai perwujudan pelayanan yang diterapkan oleh instansi pemerintah seperti imigrasi.
Salah satu instansi yang sudah mulai menerapkan zona integritas di Indonesia adalah kantor imigrasi. Kantor imigrasi menjadi salah satu instansi yang menerapkan pembangunan zona integritas karena banyaknya kasus-kasus permasalahan yang berkaitan dengan zona integritas menuju wilayah bebas korupsi dan wilayah birokrasi bersih dan melayani dalam rangka pelaksanaan upaya pencegahan dan percepatan pemberantasan korupsi serta untuk memperbaiki pelayanan menjadi lebih baik di wilayah kantor imigrasi di Indonesia.
Sebagai suatu instansi, kantor imigrasi memiliki tujuan yang hendak dicapai dalam penerapan zona integritas menuju wilayah bebas korupsi dan wilayah birokrasi bersih dan melayani. Oleh sebab itu, dalam hal pencapaian tujuan tentu harus mengerahkan seluruh kemampuan yang dimiliki instansi tersebut. Steers (1980:5) menyebutkan bahwa kemampuan yang dimaksud adalah kemampuan mengorganisasi dan kemampuan memanfaatkan sumber daya yang tersedia dalam tugas mencapai dan memelihara suatu tingkat operasi yang efektif. Kata efektif disini berarti keberhasilan organisasi mencapai sasaran atau tujuannya. Namun, dalam menerapkan zona
integritas menuju wilayah bebas korupsi dan wilayah birokrasi bersih dan melayani masih ditemukan tindakan kecurangan dilingkungan kantor imigrasi.
Salah satu tindakan kecurangan pada kantor imigrasi di Indonesia ialah terjadi di Singkawang, adanya oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab pada pendaftaran palsu terhadap pemohon paspor secara online. Dari 120 pemohon yang ditargetkan dalam satu hari, justru yang datang ke kantor hanya sekitar 50 hingga 60 pemohon. Sementara pendaftar yang lainnya kosong.
Berdasarkan hasil diskusi pihak imigrasi Singkawang, diduga ada sejumlah oknum tertentu yang sengaja mendaftarkan diri untuk membuat space 120 pemohon menjadi penuh. Hal itu menimbulkan masyarakat umum kesulitan bahkan tidak bisa mendaftar sehingga seolah-olah pengurusan paspor di Kantor Imigrasi Singkawang cukup sulit (http://www.jubi.co.id, Singkawang bentuk Timsus antisipasi calo imigrasi, diakses pada 25 Januari 2020 pukul 11.00 wib).
Penyelewengan seperti tingginya pendaftaran palsu terhadap permohonan secara online ini menjadi salah satu masalah yang terjadi pada kantor Imigrasi di Indonesia. Pendaftaran palsu terhadap permohonan palsu ini sangat menggangu kepuasan masyarakat kepada pelayanan.
Selanjutnya kecurangan-kecurangan pendaftaran palsu pemohon paspor online tidak hanya terjadi di kantor imigrasi Singkawang. Bahkan, pendaftaran palsu pemohon paspor online ini juga terjadi pada kantor imigrasi yang telah menerapkan zona integritas menuju wilayah bebas korupsi dan wilayah birokrasi bersih dan melayani. Seperti pada Kantor Imigrasi Bandung ditemukannya pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab yang memborong nomor antrean pemohon paspor secara online (https://www.tribunnews.com, Masyarakat Sulit Dapat Antrean untuk Buat Paspor Ternyata karena Ada Jual Nomor Antrean, diakses pada 18 maret 2020 pukul 20.14 wib).
Hal ini dapat berdampak langsung kepada masyarakat karena masyarakat menjadi sulit mendapatkan nomor antrean pendaftaran pemohon paspor online.
Dengan demikian, dapat dilihat bahwa masih ditemukannya tindakan maladministrasi pada kantor imigrasi yang telah menerapkan zona integritas menuju wilayah bebas korupsi dan wilayah birokrasi bersih dan melayani.
Selain hal di atas, permasalahan-permasalahan terhadap keefektifan pada Kantor Imigrasi juga terjadi di Sumut. Pada Kantor Imigrasi Kelas I Khusus Tempat Pemeriksaan Imigrasi Medan yang berkaitan dengan zona integritas menuju wilayah bebas korupsi dan wilayah birokrasi bersih dan melayani masih menunjukkan masalah terhadap keefektifannya.
Jika dilihat dari ulasan-ulasan kepuasan masyarakat pada website Imigrasi Kelas I Khusus Tempat Pemeriksaan Imigrasi Medan di laman google yakni masih ditemuiadanya keluhan-keluhan yang terdengar dari masyarakat yaitu pelayanan yang berbelit-belit, tidak tepat waktu pelayanan, terjadinya ketidakadilan dalam pelayanan dan sikap arogan yang dimiliki petugas imigrasi. (https://google.com/search Imigrasi Kelas I Medan, Ulasan pelayanan Kantor Imigrasi kelas I Medan, diakses pada 18 maret 2020 pukul 20.00 wib).
Dengan adanya Program Pembangunan Zona Integritas Menuju Wilayah Bebas Korupsi dan Wilayah Birokrasi Bersih dan Melayani seharusnya tercipta pelayanan yang baik pada Kantor Imigrasi Kelas I Khusus Tempat Pemeriksaan Imigrasi Medan. Namun merujuk dari kutipan di atas, nyatanya kerap kali ditemukan berbagai permasalahan dalam penyelenggaraan pelayanan publik di Kantor Imigrasi Kelas I Khusus Tempat Pemeriksaan Imigrasi Medan seperti pelayanan yang berbelit- belit, tidak tepat waktu pelayanan, ketidakadilan dalam pelayanan dan sikap arogan yang dimiliki petugas imigrasi dan selain itu, dari pengamatan penulis kendala sarana dan prasarana yang kurang memadai seperti tempat parkir yang terbatas dan belum tersedianya tempat fotocopy di dalam Kantor Imigrasi Kelas I Khusus Tempat Pemeriksaan Imigrasi Medan. Permasalahan dalam penyelenggaraan pelayanan publik dapat mempengaruhi keefektivitasan Program Pembangunan Zona Integritas Menuju Wilayah Bebas Korupsi dan Wilayah Birokrasi Bersih dan Melayani di
Kantor Imigeasi Kelas I Khusus Tempat Pemeriksaan Imigrasi Medan karena dapat menghambat tercapainya tujuan dari program tersebut.
Oleh karena itu, diharapkan pada kantor imigrasi mampu menjalankan program pembangunan zona integritas sesuai dengan pedoman zona integritas.
Diharapkan juga agar Kantor Imigrasi Kelas I Khusus Tempat Pemeriksaan Imigrasi Medan dapat memahami permasalahan yang berkaitan dengan pelayanan sehingga kantor imigrasi bukan hanya dapat mempertahankan predikat zona integritas wilayah bebas dari korupsi (WBK) dan wilayah birokrasi bersih dan melayani (WBBM) namun juga diharapkan dapat memberikan pelayanan maksimal dan memuaskan kepada masyarakat.
Melihat masalah tersebut di atas maka peneliti merasa perlu untuk melakukan penelitian terkait dengan efektivitas pelaksanaan zona integritas tersebut di lingkungan Kantor Imigrasi Kelas I Khusus Tempat Pemeriksaan Imigrasi Medan.
Maka peneliti tertarik mengadakan penelitian untuk melihat dan mengetahui
“Efektivitas Program Pembangunan Zona Integritas Menuju Wilayah Bebas Korupsi dan Wilayah Birokrasi Bersih Melayani pada Pelayanan Publik di Kantor Imigrasi Kelas I KhususTempat Pemeriksaan Imigrasi Medan”.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan pemaparan latar belakang yang telah dikemukakan di atas, penulis tertarik untuk melakukan penelitian terkait:
“Bagaimana Efektivitas Program Pembangunan Zona Integritas (ZI) Menuju Wilayah Bebas Korupsi (WBK) dan Wilayah Birokrasi Bersih Melayani (WBBM)
pada Pelayanan Publik di Kantor Imigrasi Kelas I Khusus Tempat Pemeriksaan Imigrasi (TPI) Medan?”
1.3 Tujuan Penelitian
Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui dan mendeskripsikan Efektivitas Program Pembangunan Zona Integritas (ZI) Menuju Wilayah Bebas dari Korupsi (WBK) dan Wilayah Birokrasi Bersih dan Melayani (WBBM) pada Pelayanan Publik di Kantor Imigrasi Kelas I Khusus Tempat Pemeriksaan Imigrasi (TPI) Medan.
1.4 Manfaat Penelitian
Dengan adanya penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat antara lain :
1. Bagi penulis, menambah pengalaman dan pengetahuan terutama di bidang Program Pembangunan di Zona Integritas Menuju Wilayah Bebas Korupsi dan Wilayah Birokrasi Bersih Melayani dan dapat mengaplikasikan teori dalam menyelesaikan masalah-masalah yang terjadi, selain itu dapat memperoleh tambahan wawasan, pengetahuan, dan keterampilan untuk meningkatkan kecerdasan intelektual, sebagai sarana untuk menetapkan dan mengembangkan disiplin ilmu pengetahuan yang telah diperoleh selama masa perkuliahan.
2. Bagi Kantor Imigrasi Kelas I Khusus Tempat Pemeriksaan Imigrasi Medan, dapat digunakan sebagai bahan acuan perbandingan dalam Efektivitas
Program Pembangunan Zona Integritas Menuju Wilayah Bebas Korupsi dan Wilayah Birokrasi Bersih Melayani.
3. Bagi pembaca, sebagai penambah ilmu pengetahuan dan dapat digunakan sebagai bahan acuan atau referensi.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Efektivitas
Menurut Emerson (dalam Handayaningrat 2006:16), efektivitas adalah
“pengukuran dalam tercapainya sasaran atau tujuan yang telah ditentukan sebelumnya”. Sedangkan menurut Pasolong (2010:9), efektivitas pada dasarnya berasal dari kata “Efek” dan digunakan dalam istilah ini dalam sebuah hubungan sebab akibat. Efektivitas dapat dipandang sebagai suatu sebab dari variabel lain.
Efektivitas berati tujuan yang telah direncanakan sebelumnya dapat tercapai atau dengan kata sasaran tercapai karna adanya proses kegiatan.
Kurniawan (2005:109) mengemukakan efektivitas adalah kemampuan melaksanakan tugas, fungsi (operasi kegiatan program atau misi) daripada suatu organisasi atau sejenisnya yang tidak adanya tekanan atau ketegangan di antara pelaksanaannya. Sedangkan Mulyadi (2009:50) menyatakan efektivitas merupakan tahapan untuk mencapai sutau tujuan sebagaimana yang diharapkan. Adapun Susanto (2005:156) yang menyatakan efektivitas merupakan daya pesan untuk mempengaruhi atau tingkat kemampuan pesan untuk mempengaruhi publik atau orang lain yang terkait.
Kemudian menurut Sedarmayanti (2006:61), efektivitas merupakan suatu ukuran yang memberikan gambaran seberapa jauh target dapat tercapai. Pendapat tersebut menyatakan bahwa efektivitas merupakan suatu ukuran yang memberikan gambaran seberapa jauh target yang telat ditetapkan sebelumnya oleh lembaga dapat
tercapai. Hal tersebut sangat penting perannya di dalam setiap lembaga dan berguna untuk melihat perkembangan dan kemajuan yang dicapai oleh suatu lembaga.
Efektivitas digunakan sebagai tolak ukur untuk membandingkan antara rencana dan proses yang dilakukan dengan hasil yang dicapai. Sehingga untuk menetukan efektif atau tidaknya suatu program maka diperlukan ukuran-ukuran efektivitas. Menurut Campbell (1989:121) bahwa terdapat 5 (lima) indikator penilaian efektivitas secara umum dan yang paling menonjol adalah sebagai berikut:
1. Keberhasilan program
Efektivitas program dapat dijalankan dengan kemampuan operasional dalam melaksanakan program-program kerja yang sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya. Keberhasilan program dapat ditinjau dari proses dan mekanisme suatu kegiatan dilakukan di lapangan.
2. Keberhasilan sasaran
Efektivitas ditinjau dari sudut pencapaian tujuan dengan memusatkan perhatian terhadap aspek output, artinya efektivitas dapat dideskripsikan dengan seberapa jauh tingkat output dalam kebijakan dan prosedur dari organisasi untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
3. Kepuasan terhadap program
Kepuasan merupakan kriteria efektivitas yang mengacu pada keberhasilan program dalam memenuhi kebutuhan pengguna. Kepuasan dirasakan oleh para pengguna terhadap kuliatas produk atau jasa yang dihasilkan. Semakin berkualitas produk dan jasa yang diberikan, maka kepuasan yang dirasakan oleh pengguna semakin tinggi, maka dapat menimbulkan keuntungan bagi lembaga.
4. Tingkat input dan output
Pada efektivitas tingkat input dan output dapat dilihat dari perbandingan antara masukan (input) dengan keluaran (output). Jika output lebih besar dari input, maka dapat dikatakan efisien dan sebaliknya jika input lebih besar dari output maka dapat dikatakan tidak efisien.
5. Pencapaian tujuan menyeluruh
Sejauh mana organisasi melaksanakan tugasnya untuk mencapai tujuan.
Dalam hal ini merupakan penilaian umum dengan sebanyak mungkin kriteria tunggal dan menghasilkan penilaian umum efektivitas organisasi.
Efektivitas program dapat dijalankan berdasarkan dengan kemampuan operasionalnya dalam melaksanakan program yang sesuai dengan tujuan yang telah tetapkan sebelumnya. Secara komprehensif, efektivitas dapat diartikan sebagai tingkat kemampuan suatu lembaga untuk mencapai sasaran atau tujuan yang telah ditentukan sebelumnya (Campbell, 1989:47).
2.1.1 Pendekatan Efektivitas
Pendekatan efektifitas digunakan untuk mendeskripsikan dan menjelaskan aktivitas tersebut efektif. Lebih lanjut Strawaji (2009:121) menyebutkan terdapat beberapa pendekatan yang digunakan terhadap efektifitas yaitu:
1. Pendekatan sumber (resorce approach), yakni pendekatan ini mengukur efektifitas berdasarkan keberhasilan suatu lembaga dalam memperoleh berbagai macam sumber yang dibutuhkannya dan juga memelihara keadaan serta sistem, hal ini dilakukan agar dapat berjalan efektif. Pendekatan ini berdasarkan pada teori mengenai keterbukaan sistem suatu lembaga terhadap lingkungannya, karena suatu lembaga mempunyai hubungan yang merata dengan lingkungannya dimana dari lingkungan dapat diperoleh sumber-sumber yang merupakan input lembaga tersebut dan output yang dihasilkan juga dikasihkan pada lingkungannya.
2. Pendekatan proses (proses approach), yakni pendekatan ini digunakan sebagai efisiensi dari suatu lembaga internal. Pada lembaga yang efektif, proses internal berjalan dengan lancar dimana kegiatan bagianbagian yang ada dapat berjalan secara terkoordinasi.
Pendekatan ini tidak memperhatikan lingkungan melainkan memusatkan perhatian terhadap kegiatan yang dilakukan terhadap sumber-sumber yang dimiliki lembaga yang menggambarkan tingkat efisiensi lembaga.
3. Pendekatan sasaran (goals approach), pendekatan ini digunakan untuk mengukur sejauh mana suatu lembaga berhasil merealisasikan sasaran yang ingin dicapai. Dalam pendekatan ini pendekatan sasaran mengunakan pengukuran efektifitas yang dimulai dengan identifikasi sasaran organisasi dan mengukur tingkat keberhasilan organisasi dalam mencapai sasaran tersebut.
Selain tercapainya tujuan/sasaran, faktor waktu pelaksanaan juga selalu di gunakan dalam pengukuran efektifitas. Oleh karena itu dalam efektifitas selalu mengandung unsur waktu pelaksanaan.
Tujuan tercapai dengan waktu yang tepat maka program tersebut efektif
Berdasarkan tiga pendekatan tersebut, dapat dipahami bahwa efektivitas merupakan konsep yang mampu memberikan gambaran tentang keberhasilan suatu lembaga dalam mencapai sasarannya.
2.1.2 Kriteria Keberhasilan Efektivitas
Adapun kriteria mengenai pencapaian tujuan secara efektif atau tidak, sebagaimana yang dikemukakan oleh Siagian (2004:77), yaitu:
1. Tujuan yang hendak dicapai, hal ini dimaksudkan supaya dalam pelaksanaan tugas mencapai sasaran yang terarah dan tujuan organisasi dapat tercapai.
2. Strategi pencapaian tujuan, telah diketahui bahwa strategi adalah pada jalan yang diikuti dalam melakukan berbagai upaya dalam mencapai sasaran-sasaran yang ditentukan agar para implementer tidak tersesat dalam pencapaian tujuan organisasi.
3. Proses analisis dan perumusan kebijaksanaan yang mantap, berkaitan dengan tujuan yang hendak dicapai dan strategi yang telah ditetapkan.
4. Penyusunan program yang tepat, suatu rencana yang baik masih perlu dijabarkan dalam program-program pelaksanaan yang tepat sebab apabila tidak, para pelaksana akan kurang memiliki pedoman bertindak dan bekerja.
5. Tersedianya sarana dan prasarana, salah satu indikator efektivitas organisasi adalah kemampuan bekerja secara produktif.
6. Pelaksanaan efektif dan efisien, bagaimana pun baiknya suatu program apabila tidak dilaksanakan secara efektif dan efisien, maka organisasi tersebut tidak akan mencapai sasarannya, karena dengan pelaksanaan organisasi semakin didekatkan dengan tujuan.
7. Sistem pengawasan dan pengendalian yang bersifat mendidik, mengingat sifat manusia yang tidak sempurna, maka efektivitas organisasi menuntut terdapatnya sistem pengawasan dan pengendalian.
Berdasarkan kriteria mengenai pencapaian tujuan secara efektif atau tidak di atas, maka dapat dikatakan bahwa untuk tercapainya tujuan secara efektif atau tidaknya bukan hanya dilandaskan pada satu kriteria saja, melainkan melalui tujuh kriteria yaitu, tujuan yang hendak dicapai, strategi pencapaian tujuan,proses analisis dan perumusan kebijaksanaan yang mantap, penyusunan program yang tepat, tersedianya sarana dan prasarana, pelaksanaan efektif dan efisien serta sistem pengawasan dan pengendalian yang bersifat mendidik.
Kemudian menurut Steers (1985:53) mengatakan 3 (tiga) indikator yang mempengaruhi keberhasilan efektivitas adalah sebagai berikut:
1. Pencapaian tujuan
Pencapaian adalah keseluruhan upaya pencapaian tujuan harus dipandang sebagai suatu proses. Oleh karena itu, agar pencapaian tujuan akhir semakin terjamin, diperlukan pentahapan, baik dalam arti pentahapan pencapaian bagian-bagiannya, maupun pentahapan dalam arti periodisasinya. Pencapaian tujuan terdiri dari beberapa faktor, yaitu kurun waktu dan sasaran yang merupakan target kongkrit.
2. Integrasi
Integrasi yaitu pengukuran terhadap tingkat kemampuan suatu organisasi untuk mengadakan sosialisasi, pengembangan konsensus, dan komunikasi dengan berbagai macam organisasi lainnya. Integrasi terdiri dari beberapa faktor, yaitu proseduran proses sosialisasi.
3. Adaptasi
Adaptasi adalah proses penyesuaian diri yang dilakukan untuk menyelaraskan suatu individu terhadap perubahan-perubahan yang terjadi di lingkungannya. Adaptasi terdiri dari beberapa faktor, yaitu peningkatan kemampuan, sarana, dan prasarana.
Berdasarkan tiga indikator yang mempengaruhi keberhasilan efektivitas di atas, dapat dipahami bahwa untuk melihat keberhasilan
efektivitas dapat dilihat lebih dari satu indikator keberhasilan. Untuk indikator keberhasilan pencapaian tujuan terdiri dari beberapa faktor, yaitu kurun waktu dan sasaran yang merupakan target kongkrit. Selanjutnya, untuk indikator keberhasilan integrasi terdiri dari beberapa faktor, yaitu proseduran proses sosialisasi. Dan untuk indikator keberhasilan Adaptasi terdiri dari beberapa faktor, yaitu peningkatan kemampuan, sarana, dan prasarana.
2.2 Definisi Program
Program merupakan bagian dari kebijakan dalam melaksanakan serangkaian kegiatan untuk mencapai tujuannya. Program-program yang telah diciptakan oleh pemerintah harus mampu memberikan dampak yang positif bagi masyarakat. Oleh sebab itu, pemerintah harus mampu merencanakan program dengan sebaik mungkin, agar dapat berjalan dengan baik.
Sementara itu menurut Herman (dalam Tayipnapis, 2008:9) bahwa program sebagai segala sesuatu yang dilakukan oleh seseorang dengan harapan akan mendatangkan hasil atau pengaruh. Kemudian Siagian (2006:1:17) mengatakan perumusan program kerja merupakan perincian daripada suatu rencana. Dalam hubungannya dengan pembangunan nasional program kerja itu berwujud berbagai macam bentuk dan kegiatan.
Berdasarkan definisi di atas dapat diketahui bahwa program adalah serangkaian tindakan atau aktivitas untuk dapat melaksanakan sesuai dengan target rencana yang telah ditetapkan. Oleh sebab itu, dalam suatu program terdapat tujuan kegiatan yang akan dicapai, kegiatan yang diambil dalam mencapai tujuan, aturan yang harus dipegang dan prosedur yang harus dilalui dan strategi pelaksanaan agar program tersebut dapat berjalan efektif.
Suatu program yang baik menurut Tjokroamidjojo (1984:181) harus memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
1. Tujuan yang dirumuskan secara jelas
2. Penentuan peralatan yang terbaik untuk mencapai tujuan tersebut
3. Suatu kerangka kebijaksanaan yang konsisten atau proyek yang saling berkaitan untuk mencapai tujuan program seefektif mungkin
4. Pengukuran dengan ongkos-ongkos yang diperkirakan dan keuntungan- keuntungan yang diharapkan akan dihasilkan program tersebut
5. Hubungan dalam kegiatan lain usaha pembangunan dan program pembangunan lainnya
6. Berbagai upaya dalam bidang manajemen, termasuk penyediaan tenaga, pembiayaan, dan lain-lain untuk melaksanakan program tersebut.
Dengan demikian, dalam menentukan suatu program harus dirumuskan secara matang sesuai dengan kebutuhan agar dapat mencapai tujuan melalui partisipasi dari masyarakat.
2.3 Pembangunan Zona Integritas Menuju Wilayah Bebas Korupsi dan Wilayah Birokrasi Bersih Melayani
2.3.1 Integritas
Menurut Mulyadi dalam Sukmana & Indarto (2018:131) integritas ialah bobot yang didasarkan pada keyakinan publik dan menjadi patokan dalam mengevaluasi seluruh keputusan yang diambil. Integritas mewajibkan sesorang untuk berlaku jujur dan terbuka. Dalam hal ini, integritas merupakan kondisi yang diperlukan untuk mencapai kinerja yang maksimum. Artinya, jika suatu integritas dapat dilaksanakan secara utuh, lengkap, dan tak terputus, maka tentu hal tersebut akan memiliki dampak workability yang maksimum.
Integritas adalah keselarasan antara apa yang diucapkan dan apa yang dilakukan oleh seseorang. Tindakannya sesuai dengan tuntutan moral dan prinsip-prinsip etika serta sesuai dengan aturan hukum dan tidak menzalimi kepentingan umum. Integritas merujuk pada sifat layak dipercaya dalam diri seorang manusia yang di dalamnya terdapat kualitas-kualitas individu seperti karakter jujur, amanah, tanggung jawab, kedewasaan, sopan, kemauan bersikap baik dan sebagainya.
Menurut Cloud (2007:28), ketika berbicara mengenai integritas, maka tidak akan terlepas dari upaya untuk menjadi orang yang utuh, yang bekerja dengan baik, dan menjalankan fungsinya sesuai dengan apa yang telah dirancang sebelumnya. Integritas sangat terkait dengan keutuhan dan keefektifan seseorang sebagai insan manusia.
Integritas juga menekankan konsistensi moral, keutuhan pribadi, atau kejujuran. Kejujuran seakan menjadi bagian tak terpisahkan dari bahasan tentang integritas. Di dalam literatur tentang organisasi dan sumber daya manusia, integritas paling sering dikaitkan dengan kejujuran individu (Yukl &
Van Fleet, 1992:426). Hal yang sama juga dilakukan oleh Butler dan Cantrell (dalam Hosmer, 1995:381) yang mengartikan integritas sebagai reputasi dapat dipercaya dan jujur dari seseorang untuk menjelaskan istilah “kepercayaan” di dalam konteks organisasi. Integritas juga ditempatkan sebagai inti etika keutamaan yang digagas oleh Solomon (1992:154) dengan menyebut integritas tidak hanya tentang otonomi individu dan kebersamaan, tetapi juga
loyalitas, keserasian, kerjasama, dan dapat dipercaya. Oleh karena itu, integritas sering dipahami dalam konteks perilaku, dan perilaku integritas pada umumnya dipahami dalam kaitannya dengan etika dan moral. Etika sangat berperan penting dalam lingkungan sosial dimana terdapat nilai-nilai yang dianut oleh lingkungan tersebut. Menurut Bertens (dalam Keban 2008:176),
“etika merupakan sebagai nilai-nilai moral dan norma-norma moral yang menjadi pegangan bagi seseorang atau suatu kelompok dalam mengatur tingkah lakunya, atau disebut dengan “sistem nilai”, sebagai kumpulan asas atau nilai moral yang sering dikenal dengan “kode etik”, dan sebagai ilmu tentang yang baik atau buruk, yang acapkali disebut filsafat moral”.
Etika menurut bahasa Sansekerta lebih berorientasi kepada dasar- dasar, prinsip, aturan hidup yang lebih baik. Etika disebut juga “moral philosophy” atau “philosophia moralitas”. Menurut Solomon (dalam Kumorotomo 2011:7),
“etika merujuk pada dua hal, pertama etika berkenaan dengan disiplin ilmu yang mempelajari nilai-nilai yang dianut oleh manusia beserta pembenarannya dan dalam hal ini etika merupakan salah satu cabang filsafat. Kedua, etika merupakan pokok permasalahan di dalam disiplin ilmu itu sendiri, yaitu nilai-nilai hidup dan hukum-hukum yang mengatur tingkah laku manusia”.
Dengan demikian, etika itu mempelajari perbuatan-perbuatan tertentu dan jenis-jenis tingkah laku manusia tentang baik dan buruk, benar dan salah yang mempergunakan norma-norma atau ukuran nilai sebagai kriterianya.
Spillane (dalam Labolo 2016:19) mendefenisikan bahwa etika atau ethics mempertimbangkan dan memperhatikan tingkah laku manusia dalam pengambilan moral. Menurut Suseno (dalam Labolo, 2016:11) berkaitan
moral dimana moral berkaitan dengan ajaran-ajaran wejangan, khotbah- khotbah, patokan-patokan, kumpulan peraturan dan ketetapan baik tulisan maupun lisan. Tentang bagaimana manusia harus hidup dan bertindak agar ia bisa menjadi manusia yang baik. Begitu juga yang diutarakan oleh Kumorotomo (2011:7) dimana etika merupakan penuntun tindakan untuk seluruh pola tingkah laku yang disebut bermoral. Oleh karena itu didalam etika terdapat nilai dan norma moral yang bertujuan untuk menuntun perilaku hidup.
Berkaitan dengan beberapa definisi di atas, Bartens (2000:6) mengungkapkan bahwa etika dipakai dalam arti nilai-nilai dan norma-norma moral yang menjadi pegangan bagi seorang atau suatu kelompok dalam mengatur tingkah laku. Arti ini dapat juga disebut sistem nilai dalam hidup manusia perseorangan atau hidup bermasyarakat, etika dipakai dalam arti kumpulan asas dan nilai moral, yang dimaksud di sini adalah kode etik dan etika dipakai dalam arti ilmu tentang yang baik atau yang buruk. Makna ini berkenaan dengan filsafat moral.
Etika merefleksikan mengapa seseorang harus mengikuti moralitas tertentu atau bagaimana kita mengambil sikap yang bertanggung jawab ketika berhadapan dengan berbagai moralitas. Oleh sebab itu dikatakan etika sebagai alat yang digunakan dalam kehidupan bermasyarakat supaya dapat membimbing segala tingkah laku manusia dan terhindar dari tindakan- tindakan yang tidak baik serta memiliki moral atau akhlak yang baik. Etika
dapat dikaitkan dengan filsafat dimana ada tiga cakupan yang membahas kaitan dengan etika yaitu, pertama etika berkaitan dengan logika, berkaitan dengan benar dan salah, kedua etika berkaitan dengan perilaku juga baik dan buruk dan ketiga etika berkaitan dengan estetika yaitu selaras dan tak selaras, indah atau jelek.
Berdasarkan pengertian tersebut maka etika dapat dikatakan sebagai nilai-nilai yang dapat diterima serta dipandang sebagai sebuah norma yang dapat dijadikan pegangan atau tuntunan untuk menilai baik dan buruk, patut atau tidak patut, terpuji atau tidak terpuji dalam melakukan segala aktivitas kehidupan seseorang atau kelompok masyarakat. Pada uraian di atas bahwa pengertian etika adalah norma-norma moral yang menjadi pegangan bagi setiap orang atau kelompok dalam mengatur tingkah lakunya atau kumpulan asas atau nilai moral. Begitu juga dalam organisasi yang didirikan secara resmi dan dibentuk untuk memaksimumkan efisiensi pelayanan oleh pemerintahan dalam melaksanakan kegiatan demi kepentingan publik atau masyarakat.
Dalam lingkup pelayanan publik, etika administrasi publik (Pasolong, 2007:193) diartikan sebagai filsafat dan profesional standar (kode etik) atau right rules of conduct (aturan berperilaku yang benar) yang seharusnya dipatuhi oleh pemberi pelayanan publik atau administrasi publik. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa etika administrasi publik adalah aturan atau standar pengelolaan, arahan moral bagi anggota organisasi atau pekerjaan
manajemen, aturan atau standar pengelolaan yang merupakan arahan moral bagi administrator publik dalam melaksanakan tugasnya melayani masyarakat. Aturan atau standar dalam etika administrasi negara tersebut terkait dengan kepegawaian, perbekalan, keuangan, ketatausahaan, dan hubungan masyarakat.
Penggambaran dari seseorang yang berintegritas adalah dengan menggambarkan perilaku orang tersebut. Perilaku yang berintegritas di antaranya jujur, konsisten antara ucapan dan tindakan, mematuhi peraturan dan etika berorganisasi, memegang teguh komitmen dan prinsip-prinsip yang diyakini benar, bertanggung jawab atas tindakan, keputusan, dan resiko yang menyertainya, kualitas individu untuk mendapatkan rasa hormat dari orang lain, kepatuhan yang konsisten pada prinsip-prinsip moral yang berlaku di masyarakat dan kearifan dalam membedakan benar dan salah serta mendorong orang lain untuk melakukan hal yang sama. Oleh sebab itu, dapat dikatakan bahwa Integritas merupakan suatu hal yang sangat dibutuhkan bagi seluruh Aparatur Sipil Negara (ASN) terutama dalam hal pelayanan rakyat.
Dengan integritas yang tinggi maka para ASN dapat meningkatkan kinerja.
Dengan kata lain, ketiadaan integritas pada diri seorang aparatur sipil negara akan memicu kepada penurunan kinerja.
2.3.2 Zona Integritas (ZI)
Dalam Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Republik Indonesia Nomor 10 Tahun 2019 tentang
Pedoman Pembangunan Zona Integritas Menuju Wilayah Bebas Korupsi dan Wilayah Birokrasi Bersih Melayani di Lingkungan Instansi Pemerintah menyebutkan bahwa, Zona Integritas (ZI) merupakan predikat yang diberikan kepada instansi pemerintah yang pimpinan dan jajarannya mempunyai komitmen untuk mewujudkan wilayah bebas korupsi dan wilayah birokrasi bersih melayani melalui reformasi birokrasi, khususnya dalam hal pencegahan korupsi dan peningkatan kualitas pelayanan publik, serta reformasi birokrasi di lingkungan kerja yang menjadi tanggung jawabnya, yang diawali dengan penandatanganan pakta integritas oleh seluruh pegawainya.
Adapun pencanangan pembangunan zona integritas berdasarkan Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Republik Indonesia Nomor 10 Tahun 2019 tentang Pedoman Pembangunan Zona Integritas Menuju Wilayah Bebas Korupsi dan Wilayah Birokrasi Bersih Melayani di Lingkungan Instansi, meliputi sebagai berikut:
a. Pencanangan pembangunan zona integritas adalah deklarasi atau pernyataan dari pimpinan suatu instansi pemerintah bahwa instansinya telah siap membangun zona integritas;
b. Pencanangan pembangunan zona integritas dilakukan oleh instansi pemerintah yang pimpinan dan seluruh atau sebagian besar pegawainya telah menandatangani dokumen pakta integritas.
Penandatanganan dokumen pakta integritas dapat dilakukan secara massal/serentak pada saat pelantikan, baik sebagai CPNS, PNS, maupun pelantikan dalam rangka mutasi kepegawaian horizontal atau vertikal. Bagi instansi pemerintah yang belum seluruh pegawainya menandatangani dokumen pakta integritas, dapat melanjutkan/melengkapi setelah pencanangan pembangunan zona integritas;
c. Pencanangan pembangunan zona integritas beberapa instansi pusat yang berada di bawah koordinasi Kementerian dapat dilakukan bersama-bersama. Sedangkan pencanangan pembangunan zona
integritas di instansi daerah dapat dilakukan oleh kabupaten/kota bersama-bersama dalam satu provinsi;
d. Pencanangan pembangunan zona integritas dilaksanakan secara terbuka dan dipublikasikan secara luas dengan maksud agar semua pihak termasuk masyarakat dapat memantau, mengawal, mengawasi dan berperan serta dalam program kegiatan reformasi birokrasi khususnya di bidang pencegahan korupsi dan peningkatan kualitas pelayanan publik;
e. Penandatanganan piagam pencanangan pembangunan zona integritas untuk instansi pusat dilaksanakan oleh pimpinan instansi pemerintah;
f. Penandatanganan piagam pencanangan pembangunan zona integritas untuk instansi daerah dilaksanakan oleh pimpinan instansi pemerintah daerah; dan
g. KPK, ORI, unsur masyarakat lainnya (perguruan tinggi, tokoh masyarakat/LSM, dunia usaha) dapat juga menjadi saksi pada saat pencanangan zona integritas untuk instansi pusat dan instansi daerah.
Proses pembangunan zona integritas difokuskan pada penerapan program manajemen perubahan, penataan tatalaksana, penataan manajemen SDM, penguatan pengawasan, penguatan akuntabilitas kinerja, dan peningkatan kualitas pelayanan publik yang bersifat konkret. Dalam membangun zona integritas, pimpinan instansi pemerintah menetapkan satu atau beberapa unit kerja yang diusulkan sebagai WBK dan WBBM dengan memperhatikan beberapa syarat yang telah ditetapkan, di antaranya :
(1) Dianggap sebagai unit yang penting/strategis dalam melakukan pelayanan publik;
(2) Mengelola sumber daya yang cukup besar, serta
(3) Memiliki tingkat keberhasilan reformasi birokrasi yang cukup tinggi di unit tersebut.
Dalam proses pencanangan pembangunan zona integritas menuju wilayah bebas birokrasi dan wilayah birokrasi bersih melayani perlunya dilakukan pembinaan dan pengawasan yang efektif agar tetap menjaga terpeliharanya predikat WBK dan WBBM.
2.3.3 Wilayah Bebas Korupsi (WBK) dan Wilayah Birokrasi Bersih Melayani (WBBM)
Dalam Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Dan Reformasi Birokrasi Republik Indonesia Nomor 10 Tahun 2019 Tentang Pedoman Pembangunan Zona Integritas Menuju Wilayah Bebas Korupsi (WBK) dan Wilayah Birokrasi Bersih Dan Melayani (WBBM) Di Lingkungan Instansi Pemerintah menjelaskan bahwa WBK adalah predikat yang diberikan kepada satuan kerja yang memenuhi sebagian besar program manajemen perubahan, penataan tata laksana, penataan sistem manajemen SDM, penguatan pengawasan, dan penguatan akuntabilitas kinerja sedangkan WBBM adalah predikat yang diberikan kepada satuan kerja yang memenuhi sebagian besar program manajemen perubahan, penataan tata laksana, penataan sistem manajemen SDM, penguatan pengawasan, penguatan akuntabilitas kinerja, dan penguatan kualitas pelayanan publik.
2.4 Pelayanan Publik Yang Bebas Korupsi dan Bersih Melayani
Pelayanan publik adalah suatu pelayanan atau pemberian terhadap masyarakat yang berupa penggunaan fasilitas-fasilitas umum, baik jasa maupun non jasa, yang dilakukan oleh organisasi publik dalam suatu pemerintahan. Dalam pemerintahan, pihak yang memberikan pelayanan adalah aparatur pemerintahan beserta segenap kelengkapan kelembagaannya (Ahmad Ainur Rohman, 2010:3). Dengan demikian, pelayanan publik dapat diartikan sebagai pemberian layanan atau melayani keperluan
orang atau masyarakat yang mempunyai kepentingan pada organisasi itu sesuai dengan aturan pokok dan tata cara yang telah ditetapkan.
Pelayanan publik yang bebas korupsi dan bersih melayani sama halnya dengan pelayanan publik yang bebas dari KKN (Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme).
Korupsi berasal dari kata Latin corrumpere, corruption, atau corruptus. Arti harfiah dari kata ini adalah penyimpangan dari kesucian, tindakan tak bermoral, kebejatan, kebusukan, kerusakan, ketidakjujuran, atau kecurangan. Menurut Shah & Schacter (2004:40) korupsi bisa meliputi tiga jenis kategori luas:
“(a) grand corruption, yaitu sejumlah kecil pejabat melakukan pencurian atau penyalahgunaan sejumlah besar sumber daya publik, (b) state or regulatory capture, yaitu kolusi yang dilakukan oleh lembaga publik dengan swasta untuk memperoleh keuntungan pribadi, dan (c) bureaucratic or petty corruption, yaitu keterlibatan sejumlah besar pejabat publik dalam menyalahgunakan jabatan untuk mendapatkan sogokan kecil atau uang semir”.
Grand corruption dan state/regulatory capture biasanya dilakukan oleh para elit politik atau pejabat pemerintah senior yang merancang kebijakan atau perundang- undangan untuk keuntungan diri mereka sendiri dengan memungkinkan mereka untuk menyalahgunaan sejumlah besar pendapatan dan fasilitas umum serta menerima suap dari perusahaan-perusahaan nasional atau transnasional. Sementara itu, bureaucratic/petty corruption biasanya dilakukan oleh pegawai negeri sipil biasa sebagai bagian dari pelaksanaan kebijakan. Korupsi seperti ini biasanya terjadi pada titik pelayanan publik, misalnya, terjadi di layanan imigrasi, polisi, rumah sakit, pajak, sekolah, atau perizinan.
Pemerintah memandang bahwa masalah korupsi dapat menghambat kelancaran tugas-tugas pemerintah dan merugikan ekonomi negara, maka dirumuskan
peraturan khusus tentang korupsi sehingga pengertian korupsi menjadi perbincangan masalah kenegaraan. Untuk pertama kalinya korupsi menjadi yuridis dalam Peraturan Penguasa Militer PRT/PM/06/1957 tentang pemberantasan korupsi (Kumorotomo, 2011:207). Di dalam peraturan ini, korupsi diartikan sebagai perbuatan yang merugikan keuangan dan perekonomian negara.
Sinambela (2010:5) menjelaskan secara teoritis tujuan pelayanan publik pada dasarnya adalah memuaskan masyarakat, untuk mewujudkan hal tersebut, maka kualitas pelayanan yang mencerminan kualitas yang transpransi, akuntabilitas, kondisional, partisipatif, kesamaan hak, keseimbangan hak dan kewajiban merupakan elemen penting yang harus ada dalam pelayanan publik.
Lebih lanjut Zeithaml (dalam Saleh, 2010:103) mengungkapkan adapun faktor-faktor yang terkait dengan kualitas pelayanan antara lain:
1. Reliability, mencakup dua hal pokok, yaitu konsistensi kerja dan kemampuan untuk dipercaya.
2. Responsiviness, yaitu kemauan atau kesiapan para karyawan untuk memberikan jasa yang dibutuhkan pelanggan.
3. Competence, artinya setiap orang dalam suatu perusahaan memiliki keterampilan dan pengetahuan yang dibutuhkan agar dapat memberikan jasa tertentu.
4. Accesibility, meliputi kemudahan untuk dihubungi dan ditemui.
5. Courtesy, meliputi sikap sopan santun, respek, perhatian, dan keramahan yang dimiliki para contact personel, seperti operator telepon dan lain sebagainya.
6. Communication, artinya memberikan informasi kepada pelanggan dalam bahasa yang dapat mereka pahami serta selalu mendengarkan saran dan keluhan pelanggan.
7. Credibility, yaitu sifat jujur dan dapat dipercaya.
8. Security, yaitu aman dari bahaya, resiko, atau keragu-raguan. Aspek ini meliputi keamanan secara fisik, keamanan financial, dan kerahasiaan.
9. Understanding, yaitu usaha untuk memahami kebutuhan pelanggan.
10.Tangibles, yaitu bukti fisik dari jasa, bisa berupa fasilitas fisik, peralatan yang dipergunakan, atau penampilan dari personil.
Faktor-faktor reliability, responsiveness, competence, accesibility, communication, credibility, security, understanding, dan tangibles menjadi alat untuk mengukur pelayanan publik yang berkualitas. Hal ini berarti, pemerintah melalui aparat dalam memberikan pelayanan publik kepada masyarakat harus memperhatikan faktor-faktor tersebut.
2.5 Tata Kelola Pemerintahan Yang Baik (Good Governance)
Pembangunan Zona Integritas merupakan bagian dari pembaharuan tata pemerintahan Indonesia ke arah yang lebih baik. Tata kelola pemerintahan yang baik berarti terdapat kualitas pelayanan publik yang semakin baik, angka korupsi menjadi semakin rendah, dan pemerintah menjadi semakin peduli dengan kepentingan masyarakat sejalan dengan pengertian good governance menurut World Bank dan OECD adalah penyelenggaraan manajemen pembangunan yang solid dan bertanggung jawab, sejalan dengan demokrasi dan pasar yang efisien, penghindaran salah alokasi dana, dan pencegahan korupsi baik secara politik maupun administratif.
Good governance sebagai penyelenggaraan pemerintah negara yang solid dan bertanggung jawab, serta efisien dan efektif dengan menjaga "kesinergisan" interaksi yang konstruktif di antara domain negara sektor swasta dan masyarakat (society).
Pada tataran ini, good governance berorientasi pada 2 (dua) hal pokok, yakni;
pertama, orientasi ideal negara yang diarahkan pada pencapaian tujuan nasional. Pada tatanan ini, good governance mengacu pada demokratisasi dalam kehidupan bernegara dengam elemen-elemen konstituennya, seperti legitimacy, accountability,
securing of human right, autonomy and devolution of power dan assurance of civillian control; kedua, pemerintahan yang berfungsi secara ideal yaitu secara efektif dan efisien dalam melakukan upaya mencapai tujuan nasional. Dalam konteks ini, good governance tergantung pada sejauh mana struktur serta mekanisme politik dan administratif berfungsi secara efektif dan efisien.
Terdapat beberapa prinsip dalam penyelenggaraan tata kelola pemerintahan yang baik seperti disampaikan oleh Santosa (2008:131) diantaranya:
1. Partisipasi masyarakat (participation), setiap warga negara mempunyai suara dalam pembuatan keputusan/kebijakan, baik secara langsung maupun melalui intermediasi institusi legitimasi yang mewakili kepentingannya. Partisipasi masyarakat ini bermaksud menjamin agar setiap kebijakan yang diambil mencerminkan aspirasi masyarakat.
2. Tegaknya supremasi hukum (rule of law), kerangka hukum harus adil dan dilaksanakan tanpa pandang bulu, terutama hukum untuk hak asasi manusia.
3. Transparansi (tranparency), transparansi dibangun atas dasar kebebasan arus informasi. Proses-proses, lembaga-lembaga, dan informasi secara langsung dapat dipahami dan dapat dimonitor. Jadi, semua tindakan pemerintah harus terbuka dan mudah diakses.
4. Daya tanggap (responsiveness), setiap lembaga-lembaga pemerintahan harus melayani setiap pihak dengan tanggap yang berkepentingan demi terciptanya good governance.
5. Berorientasi pada konsensus (consensus orientation), berperan sebagai penengah atau perantara kepentingan yang berbeda untuk memperoleh pilihan terbaik bagi kepentingan yang lebih luas baik dalam hal kebijakan- kebijakan maupun prosedur-prosedur.
6. Kesetaraan (equity), seluruh warga negara, baik laki-laki maupun perempuan mempunyai kesempatan yang sama untuk meningkatkan atau menjaga kesejahteraan mereka.
7. Efektivitas dan efisiensi (effectiveness and efficiency), segala proses dan lembaga yang diarahkan untuk menghasilkan sesuatu yang benar-benar dibutuhkan dan sesuai dengan sumber daya yang dimiliki sehingga membuahkan hasil sesuai kebutuhan warga masyarakat.
8. Akuntabilitas (accountability), para pembuat keputusan dalam pemerintahan atau para pejabat, sektor swasta, dan masyarakat madani bertanggung jawab kepada publik dan lembaga-lembaga yang telah