BAB II LANDASAN TEORI
A. Teori Pendukung
3. Intellectual Capital
a. Definisi Intellectual Capital
Intellectual capital umumnya diidentifikasikan sebagai perbedaan antara nilai pasar perusahaan dan nilai buku dari aset perusahaan tersebut atau dari financial capital perusahaan. Hal ini berdasarkan suatu observasi bahwa sejak akhir 1980-an, nilai pasar dari bisnis kebanyakan dan secara khusus adalah bisnis yang berdasar pengetahuan telah menjadi lebih besar dari nilai yang dilaporkan dalam laporan keuangan berdasarkan perhitungan yang dilakukan oleh akuntan (Roslender & Fincham, 2004).
Menurut Bontis (1998), IC sulit dipahami tetapi setelah itu ditemukan dan dieksploitasi, itu dapat memberikan sebuah organisasi dengan basis sumber daya baru yang bersaing dan menang. Salah satu definisi IC yang banyak digunakan adalah definisi yang ditawarkan oleh Organisation for Economic Cooperation and Development (OECD, 1999) yang menjelaskan IC sebagai nilai ekonomi dari dua kategori aset tak berwujud: (1) organisational (structural) capital; dan (2) human capital.
Intellectual Capital seringkali didefinisikan sebagai sumber daya pengetahuan dalam bentuk karyawan, pelanggan, proses atau teknologi yang mana perusahaan dapat menggunakannya dalam proses penciptaan nilai bagi perusahaan (Bukh et al., 2002). Petty and Guthrie (2000), mengemukakan bahwa aset intelektual dapat dianggap sebagai IC.
Ulum (2009) menyatakan bahwa IC dapat dihubungkan dengan disiplin-disiplin yang lain seperti corporate strategy dan the production of measurement tools. Jika dilihat dari perspektif stratejik, maka IC dapat digunakan untuk menciptakan dan menggunakan pengetahuan (knowledge) untuk memperluas kinerja keuangan perusahaan. Jika dilihat dari sisi pengukuran (measurement), maka fokus pada bagaimana suatu mekanisme pelaporan baru dapat dibangun yang dapat mengukur informasi non-keuangan, kualitatis, dan item-item IC disamping tradisional dapat dikuantifikasi dan data keuangan (Ulum, 2009).
b. Komponen-komponen Intellectual Capital 1) Human Capital
Human capital mencerminkan kemampuan kolektif perusahaan untuk menghasilkan solusi terbaik berdasarkan pengetahuan yang dimiliki orang-orang yang ada di perusahaan (Sawarjuwono dan Kadir, 2003). Human capital akan meningkat jika perusahaan mampu menggunakan pengetahuan
yang dimiliki oleh karyawan. Menurut Edvinsson (1997), human capital adalah kombinasi dari pengetahuan, keterampilan, inovasi dan kemampuan individu perusahaan.
Ulum (2009) menyatakan bahwa human capital adalah kemampuan menyerap tenaga kerja untuk memberikan solusi kepada pelanggan, untuk inovatif dan memperbaharui, juga mencakup dinamika organisasi yang cerdas (belajar) dalam lingkungan yang kompetitif, kreatifitas, dan inovasi. Human capital sebagai sumber daya yang dapat terus dikembangkan memerlukan berbagai usaha guna mengoptimalkan keahlian dan pengetahuan karyawan (Widyaningrum , 2014).
2) Structural Capital
Menurut Edvinsson (1997), structural capital adalah infrastruktur perusahaan yang mendukung produktivitas karyawan. Komponen dari structural capital dapat berupa sistem teknologi informasi, gambaran perusahaan, serta konsep dan dokumentasi organisasi.
Ulum (2009) menyimpulkan bahwa structural capital adalah nilai dari apa yang tersisa ketika karyawan telah pulang ke rumah. Structural capital penting bagi perusahaan dalam hal menciptakan nilai tambah bagi perusahaan yang pada akhirnya akan menciptakan keunggulan kompetitif. Manfaat IC secara penuh tidak akan dapat dicapai apabila structural capital yang
dimiliki oleh perusahaan buruk. Menurut Ulum (2009), structural capital diperoleh dari selisih value added dengan beban yang dikeluarkan dalam meningkatkan kemampuan karyawan (HC).
3) Capital Employed
Capital employed (CE) didefinisikan sebagai semua sumber daya yang terkait dengan hubungan eksternal perusahaan (Ulum, 2009) . Hubungan eksternal tersebut antara lain hubungan dengan pelanggan, pemasok, maupun mitra riset dan pengembangan. Capital employed merupakan hubungan yang harmonis yang dimiliki oleh perusahaan dengan mitra perusahaan, baik yang berasal dari para pemasok yang andal dan berkualitas, berasal dari hubungan perusahaan dengan pemerintah maupun dengan masyarakat sekitar (Sawarjuwono dan Kadir, 2003). Menurut Ulum (2009), capital employed diperoleh dari dana yang tersedia (ekuitas dijumlah dengan laba bersih).
c. Pengukuran Intellectual Capital
Metode pengukuran intelectual capital dapat dikelompokkan ke dalam dua kategori, yaitu: pengukuran non monetary dan pengukuran monetary (Tan et al., 2007). Hartono (2001) menguraikan beberapa keunggulan menggunakan pengukuran
nonmoneter dalam mengukur intangible asset perusahaan. Keunggulan tersebut adalah sebagai berikut.
1) Pengukuran secara non moneter akan mudah untuk menunjukkan unsur-unsur yang membangun intellectual capital dalam perusahaan, sedangkan secara moneter hal itu akan sulit dilakukan.
2) Pengaruh internal development dalam pembentukan intellectual capital tidak dapat diukur dengan atribut moneter. 3) Pengkapitalisasian biaya menjadi aset akan mengakibatkan
adanya manipulasi terhadap laba.
Metode value added intellectual coefficient (VAICTM) dikembangkan oleh Pulic pada tahun 1997 yang didesain untuk menyajikan informasi tentang value creation efficiency dari aset berwujud (tangible asset) dan aset tidak berwujud (intangible asset) yang dimiliki perusahaan. VAICTM merupakan instrumen untuk mengukur kinerja intellectual capital perusahaan. Pendekatan ini relatif mudah dan sangat mungkin untuk dilakukan, karena konstruksi dari akun-akun dalam laporan keuangan perusahaan (neraca, laba rugi). Metode VAICTM inilah yang akan digunakan oleh peneliti untuk mengukur intellectual capital dalam penelitian ini.
Perhitungan VAICTM dilakukan terhadap tiga komponen intellectual capital sebagai berikut (Pulic, 1999) dalam Ulum (2009).
1) Value Added Capital Employed (VACA).
VACA adalah indikator untuk VA yang diciptakan oleh satu unit dari physical capital. Rasio ini menunjukkan kontribusi yang dibuat oleh setiap unit dari CE terhadap value added organisasi. Pengukuran VACA dilakukan dengan cara membandingkan value added dengan capital employed.
2) Value Added Human Capital (VAHU).
VAHU menunjukkan berapa banyak VA yang dapat dihasilkan dengan dana yang dikeluarkan untuk tenaga kerja. Rasio ini menunjukkan kontribusi yang dibuat oleh setiap rupiah yang diinvestasikan dalam HC terhadap value added organisasi. VAHU menunjukkan berapa banyak VA dapat dihasilkan dengan dana yang dikeluarkan untuk tenaga kerja. Pengukuran VAHU dilakukan dengan cara membandingkan value added dengan human capital.
3) Structural Capital Value Added (STVA).
Rasio ini mengukur jumlah SC yang dibutuhkan untuk menghasilkan satu rupiah dari VA dan merupakan indikasi bagaimana keberhasilan SC dalam penciptaan nilai. STVA merupakan kemampuan organisasi atau perusahaan dalam
memenuhi proses rutinitas perusahaan dan strukturnya yang mendukung usaha karyawan untuk menghasilkan kinerja intelektual yang optimal serta kinerja bisnis secara keseluruhan. Pengukuran STVA dilakukan dengan cara membandingkan structural capital terhadap value added.
Menurut Ulum (2009), formulasi dan tahapan perhitungan VAICTM adalah sebagai berikut:
1) Menghitung Value Added (VA). Value added adalah indikator paling objektif untuk menilai keberhasilan bisnis dan menunjukkan kemampuan perusahaan dalam penciptaan nilai value creation). Value added dihitung sebagai selisih antara output dan input (Pulic, 1999).
VA = OUT – IN Keterangan:
OUT = Output: total penjualan dan pendapatan lain. IN = Input: beban penjualan dan biaya lain-lain (selain
Value added (VA) juga dapat dihitung dari akun-akun perusahaan sebagai berikut:
VA = OP + EC + D + A Keterangan:
OP = operating profit (laba operasi) EC = employee costs (beban karyawan) D = depreciation (depresiasi)
A = amortisation (amortisasi)
2) Menghitung Value Added Capital Employed (VACA). VACA adalah indikator untuk VA yang diciptakan oleh satu unit dari physical capital. Rasio ini menunjukkan kontribusi yang dibuat oleh setiap unit dari CE terhadap value added organisasi.
VACA = VA/CE Keterangan:
VACA = Value Added Capital Employed: rasio dari VA terhadap CE
VA = Value Added
CE = Capital Employed: dana yang tersedia (ekuitas, laba bersih)
3) Menghitung Value Added Human Capital (VAHU). VAHU menunjukkan berapa banyak VA yang dapat dihasilkan dengan
dana yang dikeluarkan untuk tenaga kerja. Rasio ini menunjukkan kontribusi yang dibuat oleh setiap rupiah yang diinvestasikan dalam HC terhadap value added organisasi.
VAHU = VA/HC Keterangan:
VAHU = Value Added Human Capital: rasio dari VA terhadap HC.
VA = Value Added
HC = Human Capital: beban karyawan.
4) Menghitung Structural Capital Value Added (STVA). Rasio ini mengukur jumlah SC yang dibutuhkan untuk menghasilkan satu rupiah dari VA dan merupakan indikasi bagaimana keberhasilan SC dalam penciptaan nilai.
STVA = SC/VA Keterangan:
STVA = Structural Capital Value Added: rasio dari SC terhadap VA.
SC = Structural Capital: VA – HC VA = value added
5) Menghitung Value Added Intellectual Coefficient (VAICTM). VAICTM mengindikasikan kemampuan intelektual organisasi yang dapat juga dianggap sebagai BPI (Business Performance Indicator). VAICTM merupakan penjumlahan dari 3 komponen sebelumnya, yaitu: VACA, VAHU, dan STVA.
VAICTM = VACA + VAHU + STVA
Menurut Kamath (2007), kinerja bank berdasarkan intellectual capital dikelompokkan ke dalam empat kategori di mana value added intellectual coefficient yang dijadikan dasar untuk mengelompokkan bank, yaitu:
1) Bad performers, untuk bank dengan nilai value added intellectual coefficient di bawah 2,5;
2) Common performers, untuk bank dengan nilai value added intellectual coefficient antara 2,5 dan 4;
3) Good performers, untuk bank dengan nilai value added intellectual coefficient antara 4 dan 5;
4) Top performers, untuk bank dengan nilai value added intellectual coefficient di atas 5.