HASIL PENELITIAN
6.1 Karakteristik Subjek
6.2.3 Intensitas Penerangan
Penerangan ruang kelas mendapatkan rerata 353,40±10,59 lux untuk periode 1 dan 351,20 lux untuk periode 2, setelah diuji komparabilitas antara periode 1 dan periode 2, tingkat kebisingan tidak berbeda secara signifikan (p>0,05). Penelitian tentang penerangan pada penelitian Padmanaba (2005) mendapatkan intensitas penerangan studio Interior FSRD ISI Denpasar pada subjek mahasiswa yang sedang
membuat gambar desain interior dengan rerata 407,85±49,52 lux. Penelitian Ardana (2005) mendapatkan intensitas penerangan di Lab Komputer dan ruang Perpustakaan Kedokteran Universitas Udayana dengan rerata 352,50±0,71 lux. Sesuai dengan rekomendasi intensitas penerangan untuk membaca dan menulis adalah 350-700 lux (Grandjean 2000).
Intensitas penerangan pada penelitian ini sesuai dengan penelitian Padmanaba pada ruang kelas studio interior FSRD ISI Denpasar dan Ardana di Laboratorium Komputer dan Ruang Perpustakaan Universitas Udayana. Hal ini menunjukkan bahwa intensitas penerangan pada ruang kelas kondisinya nyaman untuk proses pembelajaran karena masih berada dalam batas yang direkomendasikan.
6.3 Kelelahan Mata
Kelelahan mata subjek dihitung berdasakan hasil pengisian kuisioner keluhan mata skala Likert pada periode 1 dan periode 2. Semakin tinggi angka skor total keluhan mata maka makin tinggi tingkat keluhan mata pada subjek penelitian. Pada periode 1 sebelum mulai pelajaran menunjukkan skor rerata 15,75±3,39, sesudah selesai pelajaran adalah 22,25±3,47. Pada periode 2 sebelum mulai pelajaran adalah14,83±2,75 dan sesudah selesai pelajaran 18,10±3,49. Hasil uji beda skor rerata periode 1 dengan periode 2 dengan uji t-paired, menunjukkan p = 0,000 artinya ada perbedaan secara signifikan (p<0,05). Hal itu menunjukkan adanya penurunan tingkat kelelahan mata setelah periode 2 yang mencapai 3,32 atau 27%.
Menurut Grandjean (2000) gejala kelelahan pada mata terjadi khususnya karena hal-hal yang berat seperti: membaca teks yang tidak tercetak dengan baik,
cahaya yang tidak cukup, pencahayaan dengan lampu berkedip-kedip atau penyimpangan optik seperti hypermetropi. Dengan ukuran huruf yang ergonomis di papan tulis dalam proses mengajar berarti teks tercetak dengan baik sehingga dapat mengurangi kelelahan mata.
Grafik data kelelahan mata subjek pada periode 1 dan periode 2 dapat dilihat pada Gambar 6.1. 6,42 3,10 0 1 2 3 4 5 6 7 Periode 1 Periode 2 R e ra ta S k o r K e le la h a n M a ta Gambar 6.1
Grafik Kelelahan Mata Subjek pada Periode 1 dan Periode 2.
Gambar 6.1 menunjukkan beda skor rerata kelelahan mata periode 1 dan periode 2. pada periode 1 menunjukkan angka 6,42 dan pada periode 2 menunjukkan angka 3.10 yang menggambarkan adanya penurunan rerata kelelahan mata karena penggunaan ukuran huruf yang ergonomis pada proses mengajar.
Berhubung belum ditemukan penelitian sejenis, sehingga penelitian ini dibandingkan dengan objek penelitian kelelahan mata yang objeknya berbeda tetapi prinsipnya sama yaitu: pada operator komputer oleh peneliti Ardana (2005) yang dilakukan di ruang Lab Komputer dan Ruang Perpustakaan Kedokteran Universitas
Udayana memperoleh rerata tingkat kelelahan mata pada penggunaan monitor di bawah meja 8,00±0,00 (sebelum mulai bekerja) dan 14,76±1,06 (sesudah bekerja), pada monitor di atas meja rerata kelelahan mata 8,12±0,33 (sebelum bekerja dan 13,10±1,55 (sesudah bekerja). Hal itu menunjukkan bahwa tingkat kelelahan mata lebih berat pada saat bekerja dengan monitor di bawah meja. Penelitian Antarini (2005) pada operator Komputer di ”Rental X” Denpasar menunjukkan keluhan subjektif mata sebelum perlakuan berturut- turut untuk jarak 45, 65, dan 75 cm adalah 27,44±0,27, 26,94±0,61, dan 27,00±0,55, sedangkan rerata keluhan subjektif mata setelah perlakuan 29,72±0,25, 17,50±0,28 dan 13,89±0,27, hasil yang didapat adalah penurunan terbanyak pada jarak 45 ke 75 cm yaitu sebesar 15,38. Penelitian Wahyu (2005) pada mahasiswa UKM Komputer Politeknik Negeri Bali dengan pengaturan monitor komputer kriteria sedang ,mendapat rerata tingkat keluhan subjektif mata pada periode 1 22,06±1,65 dan pada perlakuan 10,44±1,79, menunjukkan penurunan tingkat keluhan subjektif mata pada penggunaan monitor kriteria sedang sebesar 11,65 atau 53%. Pada penelitian Darmadi (2009) mendapatkan tingkat kelelahan mata pada periode 1 dengan rerata 19,00±2,41 sebelum pembelajaran dan sesudah pembelajaran 22,22±2,28, pada Periode 2 sebelum pembelajaran 17,28±2,77 dan sesudah pembelajaran 20,33±2,76.
Penelitian ini mendapatkan perbedaan bermakna pada beda rerata periode 1 dan periode 2, sesuai dengan penelitian kelelahan mata yang dilakukan: Ardana pada operator komputer di Laboratorium Komputer dan Ruang perpustakaan Universitas Udayana, penelitian Wahyu mengenai pengaturan monitor komputer pada mahasiswa UKM Komputer Politeknik Negeri Bali, penelitian Antarini mengenai pengaturan
jarak monitor pada operator Komputer di ”Rental X” Denpasar dan penelitian Darmadi pada pengaturan monitor LCD projektor di ruang kuliah mahasiswa Jurusan Kesehatan Lingkungan Poltekkes Denpasar. Dapat disimpulkan bahwa dengan menerapkan ergonomi yaitu penggunaan ukuran huruf yang ergonomis di papan tulis untuk proses mengajar dapat mengurangi kelelahan mata.
6.4 Konsentrasi
Pada saat guru sedang mengajar, siswa harus dalam keadaan konsentrasi yang baik sehingga siswa dapat menerima pelajaran dengan baik. Kelelahan mata pada siswa dapat mengurangi konsentrasi pada siswa dalam mengikuti pelajaran yang sedang diajarkan oleh siswanya. Pada penelitian ini, alat yang dipakai mengukur konsentrasi adalah Bourdon Wiersma Test yang dapat menunjukkan angka kumulatif satuan detik kecepatan, ketelitian dan konstansi.
Hasil uji beda rerata tingkat kecepatan, ketelitian dan konstansi setelah proses pembelajaran menunjukkan bahwa, rerata skor tingkat kecepatan pada periode 1 berbeda bermakna dengan rerata skor tingkat kecepatan pada periode 2 dengan nilai p= 0,000 (p<0,05). Rerata skor tingkat ketelitian periode 1 berbeda bermakna dengan rerata skor tingkat ketelitian periode 2 dengan nilai p=0,001 (p<0,05). Rerata skor tingkat konstansi periode 1 berbeda bermakna dengan rerata skor tingkat konstansi periode 2 dengan nilai p=0,000 (p<0,05).
Rerata tingkat kecepatan periode 1 dan periode 2 menunjukkan perbedaan rerata kecepatan sebesar 1,150 artinya terjadi penurunan rerata jangka waktu yang diperlukan dalam mengerjakan kuisioner, hal tersebut menunjukkan bahwa adanya
peningkatan kecepatan sebesar 57%. Tingkat ketelitian pada periode 1 dan periode 2 menunjukkan perbedaan ketelitian sebesar 0,54 artinya terjadi penurunan rerata kesalahan tingkat ketelitian dalam mengerjakan kuisioner sebesar 45 %. Tingkat konstansi pada periode 1 dan periode 2 menunjukkan perbedaan rerata tingkat konstansi sebesar 1,38 artinya terjadi penurunan tingkat konstansi waktu yang diperlukan dalam mengerjakan kuisioner, yang menunjukkan adanya peningkatan konstansi sebesar 42%.
Selama ini belum ada penelitian yang sejenis sehingga peneliti membandingkan penelitian ini dengan penelitian yang objek penelitiannya berbeda tetapi prinsipnya sama. Pada penelitian tentang konsentrasi oleh: Ardana (2005) di Laboratorium Komputer dan Ruang Perpustakaan Universitas Udayana mendapatkan rerata tingkat kecepatan pada monitor di bawah meja 7,66±0,82 dan monitor di atas meja 2,24±1,35, tingkat konstansi monitor di bawah meja 4,97±1,53 dan monitor di atas meja 2,71±0,51. Penelitian Wahyu (2005) pada mahasiswa UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa) Komputer Politeknik Negeri Bali tentang pengaturan monitor kriteria sedang mendapatkan tingkat kecepatan pada periode 1 sebesar 1,68±0,99 dan periode 2 sebesar 0,68±0,99 menunjukkan perbedaan sebesar 0,99 atau 58,93%, tingkat ketelitian pada periode 1 sebesar 11,39±2,32 dan periode 2 sebesar 4,73±1,66 menunjukkan perbedaan sebesar 6,66 atau 58,4%, tingkat konstansi pada periode 1 sebesar 2,67±1,76 dan periode 2 sebesar 41,53±0,97 menunjukkan perbedaan sebesar 1,14 atau 42,67%. Ariati (2008) terhadap mahasiswa Jurusan Gizi Poltekkes Denpasar tahun akademik 2007/2008 didapatkan tingkat kecepatan pada periode 1 menurun sebesar 16,4% dan periode 2 sebesar 1,51%, tingkat ketelitian pada periode 1
menurun sebesar 28,72% dan pada periode 2 menurun sebesar 18,32%, dan tingkat konstansi pada periode 1 menurun sebesar 19,41% dan periode 2 menurun sebasar 12,57%. Pada penelitian Darmadi (2009) mahasiswa Jurusan Kesehatan Lingkungan Poltekkes Denpasar didapatkan perbedaan tingkat kecepatan periode 1 dan periode 2 menurun sebesar 0,83 atau penurunan rerata sebesar 10,75%, perbedaan tingkat ketelitian periode 1 dan periode 2 sebesar 2,89 atau 35,94% dan perbedaan tingkat konstansi periode 1 dan periode 2 sebesar 0,80 atau 20,78%. Dibandingkan penelitian Darmadi (2009), penelitian ini mendapatkan peningkatan konsentrasi dengan tingkat kecepatan, ketelitian dan konstansi lebih besar yaitu peningkatan kecepatan sebesar 57%, peningkatan ketelitian sebesar 45 %, dan peningkatan konstansi sebesar 42%.
Penelitian ini mendapatkan perbedaan bermakna pada rerata periode 1 dan periode 2, sesuai dengan penelitian konsentrasi yang dilakukan oleh: Ardana yang membandingkan operator komputer monitor diatas dan di bawah meja di Laboratorium Komputer dan Ruang Perpustakaan Universitas Udayana, penelitian Wahyu pada mahasiswa UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa) Komputer Politeknik Negeri Bali tentang pengaturan monitor, penelitian Ariati pada mahasiswa Jurusan Gizi Poltekkes Denpasar, penelitian Darmadi mengenai pengaturan monitor LCD
projektor di ruang kuliah mahasiswa Jurusan Kesehatan Lingkungan Poltekkes
Denpasar. Dapat disimpulkan bahwa konsentrasi siswa meningkat disebabkan oleh penggunaan ukuran huruf yang ergonomis di papan tulis untuk proses mengajar.
Grafik tingkat kecepatan, ketelitian dan konstansi pada periode 1 dan periode 2 dapat dilihat pada Gambar 6.2.
2,04 0,89 1,21 0,67 2,15 0,77 0 0.5 1 1.5 2 2.5 R e ra ta S k o r K o n s e n tr a s i Kecepatan Periode 1 Kecepatan Periode 2 Ketelitian Periode 1 Ketelitian Periode 2 Konstansi Periode 1 Konstansi Periode 2 Gambar 6.2
Grafik Skor Kecepatan, Ketelitian dan Konstansi pada Periode 1 dan Periode 2
Gambar 6.2 menunjukkan rerata tingkat kecepatan, ketelitian dan konstansi pada periode 1 dan periode 2. Pada periode 1 rerata kecepatan 2.04. rerata ketelitian 1,21, rerata konstansi 2,15 dan periode 2 menunjukkan rerata kecepatan 0,90, rerata ketelitian 0,67, rerata konstansi 0,77. Beda rerata periode 1 dan 2 menunjukkan angka menurun yang berarti konsentrasi dapat ditingkatkan.
Perubahan gerakan juga dapat dipakai sebagai acuan melihat keadaan konsentrasi. Perubahan gerakan dicatat selama berlangsungnya penelitian , gerakan yang berubah meliputi gerakan kepala, bahu, badan, tangan, pantat, kaki dan lainnya khususnya pergeseran bangku, setiap subjek memiliki jumlah gerakan yang bervariasi. Jumlah gerakan periode 1 merupakan rerata dari semua perubahan gerakan subjek pada saat periode 1, demikian juga pada saat periode 2. Pada periode 1 mendapatkan rerata 87,10±8,68 dan periode 2 mendapatkan rerata 81,79±9,54. hal ini
menunjukkan terjadi penurunan gerakan subjek dan dapat disimpulkan bahwa subjek lebih merasa nyaman karena penggunaan ukuran huruf yang ergonomis di papan tulis untuk proses mengajar. Grafik data perubahan gerakan dapat di lihat pada Gambar 6.3. 87,10 81,79 79 80 81 82 83 84 85 86 87 88 Periode 1 Periode 2 R e ra ta S k o r P e ru b a h a n G e ra k a n Gambar 6.3
Grafik Perubahan Gerakan Subjek
Gambar 6.3 menunjukkan beda rerata perubahan gerakan pada subjek penelitian. Pada periode 1 menunjukkan rerata 87,10 dan periode 2 menunjukkan rerata 81,79. Antara periode 1 dan periode 2 terjadi penurunan perubahan gerakan. Artinya gerakan subjek dapat dikurangi yang menunjukkan konsentrasi siswa untuk mengikuti proses belajar mengajar dapat ditingkatkan karena penggunaan ukuran huruf yang ergonomis di papan tulis pada proses belajar mengajar.
Dengan mengajar menggunakan ukuran huruf ergonomis di papan tulis akan menurunkan kelelahan mata dan meningkatkan konsentrasi siswa. Jika dilakukann setiap hari di kelas oleh guru maka bukan tidak mungkin kualitas hasil proses belajar mengajar akan lebih baik.