• Tidak ada hasil yang ditemukan

Intensitas, yaitu ketajaman terhadap issue

4. Reasonableness atau suatu pertimbangan-pertimbangan yang tepat dan beralasan.

Dari tahapan-tahapan pembentukan pendapat tersebut dapatlah dibayangkan bahwa dalam proses itu telah timbul pro dan kontra atau setuju dan tidak setuju. Semua itu disebabkan oleh kerangka pengetahuan dan pengalaman masing-masing orang yang berada di dalam publik itu berbeda-beda. Disamping itu, sifat orang-orang yang bersangkutan pun berbeda-beda juga, belum lagi kemampuan yang menyangkut pengutaraan pendapat atau isi hatinya.

2.3.6 Faktor Pendapat Umum

Bernard Hennessy (1990) mengemukakan 5 faktor pendapat umum, diantaranya:

1. Adanya isu. Harus terdapat konsensus yang seungguhnya, opini publik berkumpul di sekitar isu. Isu dapat didefinisikan sebagai situasi kontemporer yang mungkin tidak terdapat kesepakatan, paling tidak unsur kontroversi terkandung di dalamnya dan juga isu mengandung konflik kontemporer.

2. Nature of publics. Harus ada kelompok yang dikenal dan berkepentingan dengan persoalan itu.

3. Pilihan yang sulit, mengacu pada totalitas opini para anggota masyarakat tentang suatu isu.

4. Suatu pernyataan/opini. Berbagai pernyataan bertumpuk disekitar isu.

sewaktu-waktu gerak-gerik, kepalan tinju, lambaian tangan, dan tarikan napas panjang, merupakan suatu pernyataan/opini.doop berbicara mengenai opini publik

“internal” dan “tersembunyi”. Apabila sikap publik tidak berkenan dengan isu tertentu “tidak diungkapkan”, menurutnya itulah opini publik yang internal.

Namun, pendapat internal tidak berifat publik. Mengenai opini publik yang tersembunyi, Doop mengemukakan pendapat ini mengaju kepada sikap rakyat mengenai seuatu isu, tidak menggugah atau memengaruhi perilakunya.

5. Jumlah orang terlibat. Opini publik adalah besarnya masyarakat yang menaruh perhatian terhadap isu. Definisi itu mengemukakan pertanyaan mengenai jumlah secara baik sekali dan dirangkum dalam ungkaopan “sejumlah orang penting”, dengan maksud mengesampingkan isu-isu kecil dengan pernyataan-pernyataan yang tidak begitu penting dari individu yang sifatnya sangat pribadi.

(Olii, 2007:20-21).

2.3.7 Faktor Komunikasi yang Mempengaruhi Opini Publik

Menurut Redi Panuju (2002), faktor-faktor komunikasi yang mempengaruhi terbentuknya opini publik meliputi:

1. Faktor psikologis.

Tidak ada kesamaan antara individu yang satu dengan lainnya, yang ada hanya kemiripan yang memiliki banyak perbedaan. Perbedaan-perbedaan atas individu bisa meliputi hobi, kepentingan, pengalaman, selera, dan juga kerangka berpikir, sehingga setiap individu berbeda dalam bentuk dan cara merespon stimulus atau rangsangan yang diterimanya. Perbedaan berdasarkan faktor psikologis yang menyebabkan pemaknaan terhadap kenyataan yang sama bisa menghasilkan penyandian yang berbeda-beda atau bisa saja output tidak sama dengan input karena beberapa unsur yang bekerja dalam seleksi internal bisa meliputi dimensi pemikiran (kognitif), bisa juga dimensi emosi (afeksi).

Hasil dari proses perubahan psikologi, bisa menghasilkan pergeseran makna. Itulah sebabnya, dalam opini publik seringkali simbol verbal tidak

berhubungan sama sekali dengan kenyataan, sebab dalam kenyataannya opini publik itu semata-mata merupakan hasil penyandian individu-individu.

2. Faktor sosiologis politik

Ada anggapan bahwa opini publik terlibat dalam interaksi sosial, misalnya pada:

a. Opini publik mewakili citra superioritas, artinya jika dapat menguasai opini publik, maka akan dapat mengendalikan orang lain. Apa yang disebut

“menguasai” tidaklah tepat karena opini publik bersifat dinamis, maka keberpihakannya pun bersifat relatif, dan cenderung berpihak pada kelompok atau individu yang memiliki keterdekatan hubungan.

b. Opini publik mewakili suatu kejadian, sehingga individu merasa keberadaanya dalam opini publik serta keterlibatan sebagai bagian anggota masyarakat.

c. Opini publik berhubungan dengan citra, rencana, dan operasi (action).

Kenneth R. Boulding (1969) menyatakan citra, rencana, dan operasi merupakan matriks dari tahap-tahap kegiatan dalam situasi yang selalu berubah. Matriks perilaku sangat tergantung pada citra, untuk itu opini publik memberi inspirasi bagaimana individu dalam kelompok bertindak agar terhindar dari pencitraan yang buruk.

d. Opini publik disesuaikan dengan kemauan banyak orang. Untuk itu, banyak orang berlomba memanfaatkan opini publik sebagai argumentasi atas alasan memutuskan sesuatu. Di dalam demokrasi, kebenaran normatif dapat digeser oleh kebenaran menurut “orang banyak”. Keputusan yang didasarkan pada dominasi opini publik belum tentu selaras dengan norma dan etika sosial yang berlaku.

e. Opini publik identik dengan dengan hegemoni ideologi. Jika kelompok atau pemerintahan ingin tetap terus berkuasa, maka mereka harus mampu menjadikan ideologi kekuasaan menjadi dominan dalam opini publik.

3. Faktor budaya

Budaya mempunyai pengertian yang beragam.Budaya diartikan sebagai seperangkat nilai yang digunakan untuk mengelola kehidupan manusia, memelihara hidupnya, menjaga dari gangguan internal maupun eksternal, dan mengembangkan kehidupan manusia.Nilai-nilai yang terhimpun dalam sistem budaya tersebut, oleh individu dijadikan identitas sosialnya atau dijadikan ciri-ciri dari anggota komunitas budaya tertentu.

4. Faktor media massa

Menurut Redi Panuju, mengutip Meyer, interaksi anara media dengan institusi masyarakat menghasilkan produk isi media (media content). Oleh audiens, isi media diubah menjadi gugusan-gugusan makna, apakah yang dihasilkan dari poses penyandian pesan itu, menurut Meyer, sangat ditentukan oleh norma-norma yang berlaku dalam masyarakatnya, pengalaman yang lalu, kepribadian, dan selektivitas dalam penafsiran.

Pendapat umum bekerja atau melaksanakan tugasnya dalam konteks, sebagai berikut:

a. Membentuk citra baru,

b. Mempertahankan citra yang sudah terbangun, c. Memperbaiki citra yang terpuruk,

d. Menguatkan citra karena kekuatan pesaing, serta

e. Menguatkan atau mempertahankan citra ketika berada di puncak.

2.3.8 Pengukuran Opini Publik

Menurut Cutlip, ada beberapa pengukuran mengenai opini. Pengukuran yang paling sering digunakan adalah pengukuran arah opini.Pengukuran opini digunakan untuk mengukur ke mana arah opini melangkah.Arah opini biasa dilihat dari positive, negative, dan netral atau dengan suka-benci-netral. Opini tidak memiliki tingkatan, namun memiliki arah, yaitu:

1. Opini positif, jika responden memberikan jawaban setuju pada item pertanyaan.

2. Opini netral atau pasif, jika responden memberikan jawaban ragu-ragu pada item pertanyaan.

3. Opini negatif, jika responden memberikan jawaban tidak setuju pada item pertanyaan. (Effendy (1990) dalam http://repository.usu.ac.id/handle/123456789/1 4815)

2.3.9 Kekuatan Opini Publik

Telah dikemukakan bahwa opini publik atau pendapat publik sebagai suatu kesatuan pernyataan tentang suatu hal yang bersifat kontroversial, merupakan suatu penilaian sosial atau social judgement. Oleh karena itu, maka pada pendapat publik melekat beberapa kekuatan yang sangat diperhatikan:

1. Opini publik dapat menjadi suatu hukuman sosial terhadap orang atau sekelompok orang yang terkena hukuman tersebut. Hukuman sosial menimpa seseorang atau kelompok orang dalam bentuk rasa malu, rasa dikucilkan, rasa dijauhi, rasa rendah diri, rasa tak berarti lagi di dalam masyarakat, menimbulkan frustasi sehingga putus asa, dan bahkan ada yang karena itu lalu bunuh diri atau mengundurkan diri dari jabatannya.

2. Opini publik sebagai pendukung bagi keberlangsungan berlakunya norma sopan santun dan susila, baik antara yang muda dengan yang lebih tua maupun antara yang muda dengan sesamanya.

3. Opini publik dapat mempertahankan eksistensi suatu lembaga dan bahkan juga bisa menghancurkan suatu lembaga.

4. Opini publik dapat mempertahankan atau menghancurkan suatu kebudayaan.

5. Opini publik dapat pula melestarikan norma sosial.

2.4 Kerangka Konsep

Teori-teori yang dijadikan landasan pada kerangka teori harus dapat menghasilkan beberapa konsep yang disebut dengan kerangka konsep.Suwardi Lubis mengemukakan bahwa kerangka konsep merupakan kemampuan peneliti menyusun konsep operasional peneliti yang bertitik tolak pada kerangka teori dan tujuan penelitian.Dalam kerangka konsep harus bisa menunjukkan sistematis variabel-variabel penelitian yang menunjukkan kerangka operasional (Lubis, 1998:110-111).

Berdasarkan kerangka teoritis yang mendasari penelitian ini, selanjutnya disusun suatu kerangka konsep yang didalamnya terdapat variabel-variabel dan indikator yang tujuannya menjelaskan masalah penelitian.

Berdasarkan kerangka teori dan kerangka konsep diatas, maka dapat dibuat operasional variabel yang berfungsi untuk kesamaan dan kesesuaian dalam penelitian, yaitu sebagai berikut:

Gambar 2.1 Kerangka Konsep

2.5 Operasional Variabel

Berdasarkan kerangka konsep yang telah diuraikan di atas, maka dapat dibentuk operasional variabel yang berfungsi untuk kesamaan dan kesesuaian dalam penelitian sebagai berikut:

Variabel Teoritis Variabel Operasional

Kebijakan Satu Harga BBM Informasi tentang Kebijakan Satu Harga BBM Sumber Informasi

Pemahaman tentang Informasi Ketertarikan terhadap Informasi Kebijakan "Satu Harga

BBM" Opini mahasiswa

Opini Mahasiswa Believe Attitude Perception Karakteristik Responden Jenis Kelamin

Jurusan Angkatan

Tabel 2.1 Operasional Variabel

2.6 Definisi Operasional

Definisi operasional merupakan pembelajaran lebih lanjut tentang konsep yang telah dikelompokkan dalam kerangka konsep. Adapun yang menjadi definisi operasional pada penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Kebijakan Satu Harga BBM:

a. Informasi tentang kebijakan Satu Harga BBM yang diketahui oleh responden.

b. Sumber informasi, yaitu asal data-data baik lisan maupun tulisan yang didapatkan oleh responden mengenai kebijakan Satu Harga BBM.

c. Pemahaman tentang informasi, yaitu pengertian dan pemahaman responden terhadap isi informasi mengenai kebijakan Satu Harga BBM.

d. Ketertarikan terhadap informasi, yaitu ketertarikan responden dalam mengikuti perkembangan informasi mengenai kebijakan Satu Harga BBM.

2. Opini Mahasiswa Universitas Sumatera Utara asal Papua:

a. Believe, yaitu penerimaan dan kepercayaan responden sebagai kebenaran mengenai informasi kebijakan Satu Harga BBM.

b. Attitude, yaitu apa yang sebenarnya dirasakan atau menjadi sikap responden terhadap kebijakan Satu Harga BBM.

c. Perception, yaitu suatu proses memberikan makna terhadap kebijakan Satu Harga BBM oleh responden.

3. Karakteristik responden:

a. Jenis kelamin, adalah jenis kelamin responden; pria atau wanita.

b. Jurusan, adalah nama program studi responden saat berkuliah.

c. Angkatan, adalah tahun masuk berkuliah responden.

BAB III

Dokumen terkait