• Tidak ada hasil yang ditemukan

SKRIPSI VERA SIRINGO-RINGO PROGRAM STUDI JURNALISTIK

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "SKRIPSI VERA SIRINGO-RINGO PROGRAM STUDI JURNALISTIK"

Copied!
98
0
0

Teks penuh

(1)

OPINI MAHASISWA TENTANG KEBIJAKAN SATU HARGA BBM (Studi Deskriptif Kuantitatif Opini Mahasiswa Universitas Sumatera Utara asal

Papua tentang Kebijakan Satu Harga BBM di Papua 2016)

SKRIPSI

VERA SIRINGO-RINGO 130904143

PROGRAM STUDI JURNALISTIK

DEPARTEMEN ILMU KOMUNIKASI FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN

2017

(2)

OPINI MAHASISWA TENTANG KEBIJAKAN SATU HARGA BBM (Studi Deskriptif Kuantitatif Opini Mahasiswa Universitas Sumatera Utara asal

Papua tentang Kebijakan Satu Harga BBM di Papua 2016)

SKRIPSI

Diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana Program Strata (S1) pada Departemen Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu

Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara

VERA SIRINGO-RINGO 130904143

PROGRAM STUDI JURNALISTIK

DEPARTEMEN ILMU KOMUNIKASI FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN

2017

(3)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK DEPARTEMEN ILMU KOMUNIKASI

LEMBAR PERSETUJUAN

Skripsi ini telah disetujui, yang diajukan oleh:

Nama : VERA SIRINGO-RINGO NIM : 130904143

Departemen : Ilmu Komunikasi

Judul : Opini Mahasiswa Tentang Kebijakan Satu Harga BBM (Studi Deskriptif Kuantitatif Opini Mahasiswa Universitas Sumatera Utara asal Papua tentang Kebijakan Satu Harga BBM di Papua 2016)

13 April 2017

Dosen Pembimbing Ketua Departemen Ilmu Komunikasi

𝐃𝐃𝐃𝐃𝐃𝐃. 𝐒𝐒𝐒𝐒𝐒𝐒𝐒𝐒𝐃𝐃𝐒𝐒𝐒𝐒𝐒𝐒𝐒𝐒𝐒𝐒 𝐏𝐏𝐏𝐏𝐏𝐏𝐒𝐒𝐒𝐒, 𝐌𝐌. 𝐒𝐒𝐒𝐒. , 𝐏𝐏𝐏𝐏. 𝐃𝐃 𝐍𝐍𝐍𝐍𝐏𝐏. 𝟏𝟏𝟏𝟏𝟏𝟏𝟏𝟏𝟏𝟏𝟏𝟏𝟏𝟏𝟏𝟏𝟏𝟏𝟏𝟏𝟏𝟏𝟏𝟏𝟏𝟏𝟏𝟏𝟏𝟏𝟏𝟏𝟏𝟏𝟏𝟏

𝐃𝐃𝐃𝐃𝐒𝐒. 𝐃𝐃𝐃𝐃𝐃𝐃𝐒𝐒 𝐊𝐊𝐒𝐒𝐃𝐃𝐒𝐒𝐒𝐒𝐒𝐒𝐃𝐃𝐒𝐒𝐊𝐊𝐒𝐒, 𝐌𝐌. 𝐒𝐒𝐒𝐒. , 𝐏𝐏𝐏𝐏. 𝐃𝐃 𝐍𝐍𝐍𝐍𝐏𝐏. 𝟏𝟏𝟏𝟏𝟏𝟏𝟏𝟏𝟏𝟏𝟏𝟏𝟏𝟏𝟏𝟏𝟏𝟏𝟏𝟏𝟏𝟏𝟏𝟏𝟏𝟏𝟏𝟏𝟏𝟏𝟏𝟏𝟏𝟏𝟏𝟏𝟏𝟏

Dekan FISIP USU

𝐃𝐃𝐃𝐃. 𝐌𝐌𝐒𝐒𝐃𝐃𝐒𝐒𝐒𝐒𝐒𝐒𝐊𝐊𝐏𝐏 𝐀𝐀𝐀𝐀𝐒𝐒𝐒𝐒, 𝐒𝐒. 𝐒𝐒𝐏𝐏𝐃𝐃, 𝐌𝐌. 𝐒𝐒𝐒𝐒 𝐍𝐍𝐍𝐍𝐏𝐏. 𝟏𝟏𝟏𝟏𝟏𝟏𝟏𝟏𝟏𝟏𝟏𝟏𝟏𝟏𝟏𝟏𝟏𝟏𝟏𝟏𝟏𝟏𝟏𝟏𝟏𝟏𝟏𝟏𝟏𝟏𝟏𝟏𝟏𝟏𝟏𝟏

(4)

KATA PENGANTAR

“Aku bersyukur kepada-Mu oleh karena kejadianku dahsyat dan ajaib; ajaib apa yang Kau buat, dan jiwaku benar-benar menyadarinya”

Mazmur 139:14

Terpujilah Allah atas segala kasih dan berkatNya yang melimpah sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Opini Mahasiswa tentang Kebijakan Satu Harga BBM” ini dengan baik. Allah yang setia dalam setiap suka dan duka, sehingga penulis bisa melewati proses pengerjaan skripsi ini.

Penulisan skripsi ini dilakukan dalam rangka memenuhi salah satu syarat memperoleh gelar Sarjana Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Sumatera Utara (USU).Penulis menyadari bahwa pengerjaan skripsi ini tidak dapat berjalan dengan baik tanpa adanya berbagai pihak yang terus mendukung dan membantu penulis sejak masa perkuliahan hingga masa penyusunan skripsi ini. Penulis bersyukur dan berterima kasih terkhususnya kepada orangtua penulis, ayahanda Lomoan Siringo-ringo dan ibunda Elisabet Sinta Lamtiur Situmeang, atas setiap kasih sayang, motivasi, nasihat, serta doa yang diberikan kepada penulis selama ini.

Penelitian ini juga tidak akan selesai tanpa adanya dukungan dan doa dari berbagai pihak. Oleh karena itu, penulis mengucapkan terima kasih kepada pihak- pihak yang telah membantu baik secara langsung maupun tidak langsung, diantaranya:

1. Bapak Dr. Muryanto Amin, selaku Dekan FISIP USU.

2. Ibu Dra. Dewi Kurniawati, M.Si., Ph.D, selaku Ketua Departemen Ilmu Komunikasi FISIP USU.

3. Ibu Emilia Ramadhani, S.Sos, M.A, selaku Sekretaris Departemen Ilmu Komunikasi FISIP USU.

4. Bapak Drs. Syafruddin Pohan, M.Si., Ph.D, selaku Dosen Pembimbing.

Penulis mengucapkan terima kasih atas bimbingan, nasihat, saran, dan ilmu yang Bapak berikan selama pengerjaan skripsi.

(5)

5. Kak Yovita Sabarina Sitepu, S.Sos, M.Si. Terimakasih atas waktu dan bantuan yang boleh diberikan sehingga penulis memperoleh ilmu yang bermanfaat.

6. Setiap dosen Ilmu Komunikasi yang telah memberikan ilmu selama proses perkuliahan.

7. Kakak dan adik penulis, Rien Erliza Siringo-ringo dan Febri Andre Siringo-ringo. Penulis bersyukur untuk kasih dan perhatian yang kalian berikan. Terima kasih untuk semangat dan doa selama ini.

8. Teman-teman penulis, Herlina Pakpahan, Noni Risky Perangin-angin, dan Elma Lisa Bancin, yang telah membantu dan juga memberikan hiburan, semangat, nasihat, serta doa dalam proses pengerjaan skripsi.

9. Seluruh teman-teman seperjuangan di Ilmu Komunikasi 2013, terkhususnya Devi Rayuli Handriyani Siahaan, Hanna Tiurma Tinambunan, Hileri Melinda Saragih, Ninditha Chrissantheum Purba, Novarina Lumban Gaol, Arta Elisabeth Purba, David Sinaga, Nico Guntara Sibarani, Erdian Lihardo Purba, Daud Mangatas Sihite, Bil Jef Pasaribu, Binsar Halomoan Situmorang dan Indrisno Van Daniel. Sungguh pengalaman yang sangat berkesan bisa mengenal kalian semua. Terima kasih untuk kebersamaan selama ini.

10. Mirnanda Hamid dan Yuni Sartika, teman seperjuangan di Riau. Terima kasih untuk kebersamaan yang masih terjalin sejak SMA dan juga dukungannya selama berkuliah.

11. Christine Jois Karubaba, terima kasih atas waktu dan bantuannya yang sangat berarti dalam proses pengerjaan skripsi ini. Penulis mendapatkan pengalaman baru yang tidak akan terlupakan.

12. Terima kasih kepada teman-teman, semua responden, serta pihak-pihak yang tidak dapat disebutkan namanya satu per satu yang telah memberikan kasih sayang, nasihat, semangat, serta doanya kepada penulis.

(6)

Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih memiliki banyak kekurangan dan masih jauh dari sempurna.Oleh sebab itu, penulis bersifat terbuka apabila terdapat saran dan kritik dari para pembaca agar skripsi ini dapat dikembangkan ke arah yang lebih baik lagi sehingga dapat berguna bagi kebaikan karya ilmiah lainnya.Pada akhirnya, penulis sangat berharap agar skripsi ini dapat memberikan manfaat bagi kepentingan banyak orang.

Medan, 13 April 2017 Penulis,

Vera Siringo-ringo

(7)

ABSTRAK

Penelitian ini berjudul Opini Mahasiswa tentang Kebijakan Satu Harga BBM.Tujuan penelitian untuk mengetahui opini mahasiswa Universitas Sumatera Utara asal Papua tentang kebijakan Satu Harga BBM di Papua 2016.

Penelitian ini adalah penelitian deskriptif kuantitatif. Adapun teori yang digunakan dalam penelitian ini yaitu teori komunikasi, teori komunikasi massa, dan teori opini publik. Populasi dalam penelitian ini adalah mahasiswa Universitas Sumatera Utara asal Papua angkatan 2014-2016 yang berjumlah 41 orang. Berdasarkan populasi dalam penelitian yang tidak terlalu besar, maka peneliti menggunakan total sampling. Teknik pengumpulan data yang dilakukan di dalam penelitian ini adalah studi kepustakaan dan penelitian lapangan.Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis tabel tunggal dengan menggunakan aplikasi Statistical Prodict and System Solution (SPSS) versi 17.0.

Hasil penelitian menunjukkan mahasiswa USU asal Papua beropini bahwa kebijakan Satu Harga BBM penting untuk diberlakukan. Mayoritas mahasiswa memberikan tanggapan bahwa selama ini mengharapkan adanya penetapan kebijakan Satu Harga BBM karena dengan kebijakan ini dapat membantu mengurangi beban ekonomi masyarakat Papua serta menunjukkan adanya upaya pemerintah untuk mewujudkan keadilan bagi seluruh masyarakat Indonesia.

Kata Kunci: Opini Mahasiswa, Kebijakan Satu Harga BBM, Papua.

(8)

ABSTRACT

The title of this research is Student Opinion about One Fuel Price Policy. The aim of this research is to find out the opinion of North Sumatera University students from Papua about One Fuel Price policy in Papua 2016.

This research is quantitative descriptive. The theories used in this research are the theory of communication, mass communication theory, and the theory of public opinion. The population in this research are students at North Sumatra University from Papua class of 2014-2016 which amounts to 41 peoples. Based on the population that is not too large, the researcher used total sampling. Data collection techniques in this research are library research and field research. The data analysis technique used is single table analysis using Statistical Prodict and System Solution (SPSS) version 17.0.

The result showed, students of USU from Papua opined that One Fuel Price policy is important to applied. Majority of the students responded that they had been hoping for the establishment of One Fuel Price policy because this policy can help to reduce the economic burden of Papuans and show government’s efforts to bring social justice to all Indonesians.

Keywords: Student Opinion, One Fuel Price Policy, Papua

(9)

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL i

LEMBAR PERSETUJUAN ii

HALAMAN PENGESAHAN iii

HALAMAN PERNYATAAN ORISINILITAS iv

KATA PENGANTAR v

HALAMAN PERSETUJUAN PUBLIKASI viii

ABSTRAK ix

ABSTRACT x

DAFTAR ISI xi

DAFTAR TABEL xiii

DAFTAR GAMBAR xiv

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah 1

1.2 Rumusan Masalah 5

1.3 Pembatasan Masalah 5

1.4 Tujuan Penelitian 5

1.5 Manfaat Penelitian 6

BAB II URAIAN TEORITIS

2.1 Komunikasi 7

2.1.1 Pengertian Komunikasi 7

2.2 Komunikasi Massa 9

2.2.1 Pengertian Komunikasi Massa 9

2.2.2 Ciri-ciri Komunikasi Massa 10

2.2.3 Media Massa 12

2.2.3.1 Jenis MediaMassa 13

2.2.3.2 Fungsi Media Massa 13

2.3 Opini Publik 15

2.3.1 Pengertian Opini 15

2.3.2 Pengertian Publik 16

2.3.3 Pengertian Opini Publik 16

2.3.4 Unsur-unsur Opini 17

2.3.5 Proses Pembentukan Opini Publik 18

2.3.6 Faktor Pendapat Umum 19

2.3.7 Faktor Komunikasi yang Mempengaruhi Opini Publik 20

2.3.8 Pengukuran Opini Publik 22

2.3.9 Kekuatan Opini Publik 23

2.4 Kerangka Konsep 24

2.5 Operasional Variabel 24

2.6 Definisi Operasional 25

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Deskripsi Lokasi Penelitian 26

3.1.1 Sejarah Universitas Sumatera Utara 26 3.1.2 Visi, Misi, dan Tujuan Universitas Sumatera Utara 29 3.1.3 Struktur Organisasi Universitas Sumatera Utara 30

(10)

3.3 Populasi dan Sampel 35

3.4 Teknik Pengumpulan Data 36

3.5 Teknik Analisis Data 37

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Tahap Persiapan 38

4.2 Tahap Pengumpulan Data 38

4.3 Teknik Pengolahan Data 39

4.4 Analisis Data Tunggal 40

4.5 Pembahasan 63

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan 68

5.2 Saran 70

DAFTAR REFERENSI 71

LAMPIRAN

(11)

DAFTAR TABEL

Tabel Judul Halaman

1.1 Harga BBM di Papua 4

2.1 Operasional Variabel 24

3.1 Sampel 36

4.1 Jenis Kelamin Responden 40

4.2 Jurusan. 41

4.3 Angkatan Responden 42

4.4 Mengetahui Informasi mengenai Kebijakan Satu Harga

BBM di Papua 43

4.5 Sumber dalam Mendapatkan Informasi dari Keluarga 44 4.6 Sumber dalam Mendapatkan Informasi dari Teman 45 4.7 Sumber dalam Mendapatkan Informasi dari Televisi 46 4.8 Sumber dalam Mendapatkan Informasi dari Radio 47 4.9 Sumber dalam Mendapatkan Informasi dari Koran 48 4.10 Sumber dalam Mendapatkan Informasi dari Internet 49 4.11 Intensitas dalam Mengikuti Informasi mengenai Kebijakan

Satu Harga BBM di Papua 50

4.12 Memahami Isi Pesan mengenai Kebijakan Satu Harga BBM

di Papua 51

4.13 Tertarik untuk Mengikuti Perkembangan Informasi 52 4.14 Mengetahui Kebijakan Satu Harga BBM di Papua yang

Pertama Kali Diberlakukan 53

4.15 Percaya terhadap Tujuan Penetapan Kebijakan Satu Harga

BBM di Papua 54

4.16 Kebijakan Satu Harga BBM merupakan Upaya untuk

Mewujudkan Sila Ke-5 55

4.17 Perasaan terhadap Penetapan Kebijakan Satu Harga BBM 56 4.18 Penilaian terhadap Penetapan Kebijakan Satu Harga BBM 57 4.19 Penetapan Kebijakan Satu Harga BBM Memuaskan 58 4.20 Kebijakan Satu Harga BBM Diharapkan untuk Diberlakukan 59 4.21 Kebijakan Satu Harga BBM dapat Mengurangi Beban

Ekonomi Masyarakat Papua 60

4.22 Sebelum Kebijakan Satu Harga BBM Ditetapkan Masih Ada Ketidakadilan di Indonesia Dilihat dari Perbedaan Harga Jual

BBM 61

4.23 Penetapan Kebijakan Satu Harga BBM Menggambarkan bahwa Pemerintah Mulai Memperhatikan Keadilan di

Indonesia 62

(12)

DAFTAR GAMBAR

Gambar Judul Halaman

2.1 Kerangka Konsep 24

3.1 Struktur Organisasi Universitas Sumatera Utara 34

(13)

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Opini atau biasa disebut dengan pendapat merupakan pernyataan atau sikap seseorang terhadap suatu masalah yang bersifat kontroversial. Publik yaitu kelompok yang bukan merupakan kesatuan, tetapi melakukan interaksi yang terjadi secara langsung yaitu melalui media komunikasi misalnya pembicaraan secara pribadi ataupun desas desus, selain itu juga melalui media komunikasi massa misalnya surat kabar, radio, televisi dan sebagainya. Opini publik selalu dan pasti akan terus terjadi selama ada hal kontroversial yang dapat dikomentari atau menjadi bahan perbincangan publik.

Media massa saat ini menjadi sebuah ruang bebas yang dapat digunakan oleh siapa saja, kapan saja, dan di mana saja untuk menjadi wadah dalam menyalurkan aspirasi dan turut berpartisipasi dalam hal komunikasi massa.

Jangkauannya yang luas membuat media massa menjadi sangat berpengaruh dalam kehidupan modern sekarang. Media massa digunakan sebagai alat penyebaran informasi dari seluruh dunia, sumber pengetahuan, tempat mengekspresikan ide-ide, bahkan juga digunakan untuk penyebaran ideologi oleh negara-negara kuat (Vivian, 2008:5).

Di negara-negara demokrasi, peranan media komunikasi massa terhadap pembentukan opini publik menunjukkan adanya hubungan timbal balik dan memperlihatkan keseimbangan yang selaras. Sebagian besar individu memiliki kebebasan mengeluarkan pendapat atau opininya masing-masing, sedangkan media massa memiliki kebebasan menyebarkan opini. Oleh karena itu, dalam hal ini terlihat bahwa opini publik dapat dipengaruhi oleh media komunikasi massa (Soehadi, 1978: 19).

Indonesia sebagai suatu negara yang sedang berkembang dan sedang melakukan kegiatan pembangunan disegala bidang, tentunya tidak luput dari penggunaan media komunikasi massa dalam kehidupan sehari-hari. Media massa menjadi sebuah alat yang efektif terkhususnya dalam memberitakan setiap

(14)

sering menggunakan media massa untuk memperoleh dukungan masyarakat atas program kerjanya melalui opini publik yang tercermin pada media tersebut.

Salah satu hal yang sering menjadi bahan perbincangan publik di media komunikasi massa yaitu mengenai Bahan Bakar Minyak atau yang biasa disingkat dengan BBM. Masyarakat Indonesia yang tentunya memperhatikan setiap keputusan pemerintah paling banyak menyoroti dan menyalurkan opininya di media massa mengenai setiap pemberitaan mengenai naik-turunnya harga BBM.

Ditengah sulitnya ekonomi, masyarakat sering dibuat tidak puas dengan harga BBM yang sering melonjak naik sehingga mayarakat merasa diberatkan.

Namun, ternyata selama ini tidak seluruh masyarakat Indonesia membayar harga yang sama ketika membeli BBM per liter. Jika selama ini masyarakat umumnya menikmati harga BBM yang berkisar Rp. 6.450,-, masyarakat di wilayah Timur Indonesia yaitu Papua mengeluhkan tingginya harga BBM yang mencapai Rp. 60.000 atau bahkan lebih. Keluhan yang disampaikan kepada Presiden Jokowi pada saat kunjungannya ke Papua, membuat Presiden menyayangkan hal tersebut sehingga beliau membuat sebuah kebijakan demi kesamaan harga BBM dan keadilan di Indonesia.

Presiden Indonesia, Ir. H. Joko Widodo, atau yang lebih akrab disapa Jokowi adalah Presiden yang mulai menjabat sejak 20 Oktober 2014. Ia terpilih bersama Wakil Presiden Muhammad Jusuf Kalla dalam Pemilu Presiden 2014 yang lalu. Sosok Jokowi mulai semakin dikenal masyarakat Indonesia ketika sebelumnya Presiden ke-7 ini memimpin DKI Jakarta sebagai gubernur bersama Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok. Sosok Jokowi yang sederhana dan gaya kepemimpinannya yang ‘membumi’ yaitu dengan sering melakukan blusukan membuat Jokowi disukai oleh masyarakat. Kebijakan yang dikeluarkan selama menjabat sebagai Gubernur ibu kota Jakarta juga membuat Jokowi semakin populer dan menjadi sorotan media massa.

“Satu Harga BBM” merupakan sebuah kebijakan baru yang dicanangkan Jokowi pada 18 Oktober 2016 yang lalu.Untuk mendukung kebijakan ini Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Republik Indonesia menerbitkan Peraturan Menteri (Permen) ESDM Nomor 36 tahun 2016 tentang Percepatan Pemberlakuan Satu Harga Jenis Bahan Bakar Minyak Tetentu dan

(15)

Jenis Bahan Bakar Minyak Khusus Penugasan Secara Nasional. Tujuan Permen ESDM Nomor 36 Tahun 2016 ini adalah percepatan pemberlakuan Harga Jual Eceran BBM yang sama untuk seluruh wilayah Negara Kesatuan Republik indonesia. Jenis BBM yang diatur untuk menerapkan program tersebut adalah jenis BBM tertentu yaitu minyak solar 48 (Gas Oil) dan minyak tanah dan BBM Khusus Penugasan (JBKP) yaitu bensin (Gasoline) RON 88.

Oleh karena adanya Peraturan Menteri mengenai percepatan pemberlakuan harga tersebut, mulai 18 Oktober yang lalu upaya penyetaraan harga BBM di wilayah Papua langsung dilaksanakan. Walaupun masih belum seluruhnya merata, kebijakan satu harga Bahan Bakar Minyak (BBM) di Papua adalah kebijakan luar biasa yang pertama kalinya diberlakukan sejak Indonesia merdeka sehingga menjadi sebuah hal yang telah lama dinantikan, namun pelaksanaannya juga dianggap menantang karena sebagian besar wilayah Papua masih sulit dijangkau oleh layanan transportasi umum. Program ini merupakan bentuk usaha Presiden Jokowi yang menginginkan berkurangnya ketimpangan harga di wilayah timur Indonesia.

Dalam hitungan Pertamina, perusahaan minyak negara ini akan rugi sekitar Rp. 800 miliar per tahun jika di Papua diterapkan harga yang sama dengan di wilayah Indonesia lain. Namun, meski kebijakan penyetaraan harga BBM di Papua diperkirakan dapat menjadi beban keuangan, presiden Jokowi menanggapi hal ini dengan menyatakan bahwa kebijakan ini bukanlah masalah untung dan rugi, tetapi merupakan masalah keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

(http://www.bbc.com/indonesia/indonesia/2016/10/161018_indonesia_bbm_papu a).

Papua adalah sebuah provinsi terluas Indonesia yang terletak di bagian tengah Pulau Papua atau bagian paling timur Papua Bagian Barat (dulu Irian Jaya).Belahan timurnya merupakan negara Papua Nugini. Provinsi Papua dulu mencakup seluruh wilayah Papua Bagian barat, namun sejak tahun 2003 dibagi menjadi dua provinsi dengan bagian timur tetap memakai nama Papua sedangkan bagian baratnya memakai nama Papua Barat. Papua memiliki luas 808.105 km persegi dan merupakan pulau terbesar kedua di dunia dan terbesar pertama di

(16)

Wilayah geografis Papua yang berada di ujung Timur dari wilayah Indonesia membuat biaya distribusi tinggi dan berimbas pada harga beli yang mahal pula bagi masyarakat Papua. Selain itu, Papua yang didominasi dengan daerah pegunungan juga semakin menyulitkan proses pendistribusian BBM.

Selama ini, harga BBM dibeberapa wilayah Papua bisa dijual di atas ketentuan pemerintah. Harga BBM yang dijual di Papua selama ini mencapai Rp. 60.000,- per liter, kondisi ini jauh berbeda dari harga BBM di Jawa yaitu sekitar Rp.

6.450,-.

KABUPATEN HARGA SEBELUM

INTAN JAYA RP. 50.000 – RP. 60.000

YALIMO RP. 25.000 – RP. 30.000

ARFAK RP. 25.000 – RP. 30.000

PANIAI RP. 50.000

PUNCAK JAYA RP. 25.000

PEGUNUNGAN BINTANG RP. 40.000

YAHUKIMO RP. 50.000

JAYA WIJAYA RP. 20.000

LANI WIJAYA RP. 25.000

Tabel 1.1 Harga BBM di Papua Sumber: Kementrian ESDM

Mahasiswa yang memiliki tingkatan tertinggi dalam pendidikan tentunya sudah bisa menganalisis dan memberikan opininya terhadap setiap kejadian di Indonesia. Peneliti memilih mahasiswa Papua karena menganggap mahasiswa asal Papua pasti mempunyai kedekatan tersendiri dengan daerah tempat tinggalnya sebelum merantau ke daerah lain sehingga akan terus mengikuti perkembangan informasi di Papua. Permasalahan di Papua terkhusus mengenai harga BBM yang berpengaruh kepada berbagai hal akan menimbulkan opini yang berbeda di mata setiap individu.

(17)

Berdasarkan uraian tersebut di atas, maka peneliti merasa tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul opini mahasiswa Universitas Sumatera Utara asal Papua tentang kebijakan Satu Harga BBM di Papua 2016.

1.2 Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan di atas, maka yang akan diteliti dirumuskan sebagai berikut:

1. Apa sumber informasi yang digunakan mahasiswa Universitas Sumatera Utara asal Papua untuk mendapatkan informasi tentang kebijakan Satu Harga BBM di Papua 2016?

2. Apa mahasiswa Universitas Sumatera Utara asal Papua tertarik dengan kebijakan Satu Harga BBM di Papua 2016?

3. Bagaimana opini mahasiswa Universitas Sumatera Utara asal Papua tentang kebijakan Satu Harga BBM di Papua 2016?

1.3 Pembatasan Masalah

Untuk menghindari ruang lingkup penelitian yang terlalu luas, maka diperlukan adanya pembatasan masalah, yakni sebagai berikut:

1. Pemberitaan yang diteliti adalah mengenai kebijakan Satu Harga BBM di Papua 2016.

2. Mahasiswa Universitas Sumatera Utara asal Papua angkatan 2014-2016.

1.4 Tujuan Penelitian

Adapun tujuan dari penelitian ini, yaitu sebagai berikut:

1. Untuk mengetahui sumber informasi yang digunakan mahasiswa Universitas Sumatera Utara asal Papua untuk mendapatkan informasi tentang kebijakan Satu Harga BBM di Papua 2016.

2. Untuk mengetahui ketertarikan mahasiswa Universitas Sumatera Utara asal Papua dengan kebijakan Satu Harga BBM di Papua 2016.

3. Untuk mengetahui opini mahasiswa Universitas Sumatera Utara asal Papua tentang kebijakan Satu Harga BBM di Papua 2016.

(18)

1.5 Manfaat Penelitian

Adapun manfaat dari penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Secara teoritis, penelitian ini diharapkan dapat memperluas pengetahuan mengenai opini publik.

2. Secara akademis, penelitian ini diharapkan dapat berkontribusi positif dan menjadi referensi tambahan di Departemen Ilmu Komunikasi FISIP USU.

3. Secara praktis, penelitian ini diharapkan dapat memberi masukan bagi pihak-pihak yang membutuhkan pengetahuan berkenaan dengan penelitian ini.

(19)

BAB II

URAIAN TEORITIS

Dalam suatu penelitian, teori diperlukan sebagai landasan kerangka berpikir mendukung masalah secara sistematis. Untuk itu perlu disusun kerangka teori yang akan memuat pokok-pokok pikiran yang akan dapat menggambarkan dari sudut mana masalah peneliti akan dibahas. Teori dalam suatu penelitian berfungsi untuk membantu peneliti menjelaskan fenomena sosial atau fenomena alami yang menjadi pusat perhatiannya.

Menurut Emory-Cooper (1999), teori merupakan suatu kumpulan konsep (concept), definisi, proposisi, dan variabel yang berkaitan satu sama lain secara sistematis dan telah digeneralisasikan sehingga dapat menjelaskan dan memprediksi suatu fenomena (fakta-fakta) tertentu (Umar, 2002:55).

Kerangka teoritis adalah suatu kumpulan teori dan model dari literatur yang menjelaskan hubungan dalam masalah tertentu. Dalam kerangka teoritis, secara logis dikembangkan, digambarkan, dan dielaborasikan jaringan-jaringan dari asosiasi antara variabel-variabel yang diidentifikasi melalui survey dan telaah literatur (Silalahi, 2009:92)

2.1 Komunikasi

2.1.1 Pengertian Komunikasi

Manusia sebagai mahluk individu maupun sosial memiliki dorongan ingin tahu, ingin maju dan berkembang, maka salah satu sarananya adalah komunikasi.Komunikasi merupakan kebutuhan yang mutlak bagi manusia.Dengan komunikasi manusia dapat menyampaikan informasi, opini, ide, konsepsi, pengetahuan, perasaan, sikap, perbuatan dan sebagainya kepada seseorang secara timbal balik sebagai penyampaian maupun penerima komunikasi. Dalam kehidupan sehari-hari, manusia juga berinteraksi dengan cara berkomunikasi

(20)

Kata komunikasi atau communication dalam bahasa Inggris berasal dari kata Latin communis yang berarti “sama”, communico, communicatio, atau communicare yang berarti “membuat sama” (to make common). Istilah pertama (communis) adalah istilah yang paling sering disebut sebagai asal-usul kata komunikasi, yang merupakan akar dari kata-kata Latin lainnnya yang mirip (Mulyana, 2005: 42)

Carl I. Hovland mendefinisikan komunikasi sebagai proses yang memungkinkan seseorang (komunikator) menyampaikan rangsangan (biasanya lambang-lambang verbal) untuk mengubah perilaku orang lain (komunikate) (Mulyana, 2005: 62). Selain itu, menurut Harold Lasswell (dalam Mulyana, 2005:

62) cara yang baik untuk menggambarkan komuikasi adalah dengan menjawab pertanyaan ‘Who says what in which channel to whom with what effect?’ atau

‘Siapa mengatakan apa dengan saluran apa kepada siapa dengan pengaruh bagaimana?’

Berdasarkan definisi Laswell, dapat diturunkan lima unsur komunikasi yang saling bergantung satu sama lain, yaitu:

1. Sumber (source)

Sumber adalah pihak yang berinisiatif atau mempunyai kebutuhan untuk berkomunikasi.Sumber boleh jadi seorang individu, kelompok, organisasi, perusahaan, atau bahkan suatu negara. Untuk menyampaikan apa yang ada dalam hatinya (perasaan) atau dalam kepalanya (pikiran), sumber harus mengubah perasaan atau pikiran tersebut ke dalam seperangkat simbol verbal dan/atau nonverbal yang idealnya dipahami oleh penerima pesan yang disebut dengan penyandian atau encoding.

2. Pesan

Pesan yaitu apa yang dikomunikasikan oleh sumber kepada penerima yang merupakan seperangkat simbol verbal dan/atau nonverbal yang mewakili perasaan, nilai, gagasan, atau maksud sumber tadi. Pesan mempunyai tiga

(21)

komponen, diantaranya makna, simbol yang digunakan untuk menyampaikan makna, dan bentuk atau organisasi pesan.

3. Saluran atau media

Saluran atau media yakni alat atau wahana yang digunakan sumber untuk menyampaikan pesannya kepada penerima.

4. Penerima (receiver)

Penerima yaitu orang yang menerima pesan dari sumber. Berdasarkan pengalaman masa lalu, rujukan nilai, pengetahuan, persepsi, pola pikir dan perasaan, penerima pesan ini menerjemahkan atau menafsirkan seperangkat simbol verbal dan/atau nonverbal yang ia terima menjadi gagasan yang dapat ia pahami. Proses ini disebu dengan penyandian balik atau decoding.

5. Efek

Efek merupakan apa yang terjadi pada penerima setelah menerima pesan tersebut, misalnya penambahan pengetahuan (dari tidak tahu menjadi tahu), terhibur, perubahan perilaku, dan sebagainya.

2.2 Komunikasi Massa

2.2.1 Pengertian Komunikasi Massa

Dari berbagai macam cara komunikasi dilaksanakan dalam masyarakat manusia, salah satunya adalah komunikasi massa. Komunikasi massa (mass communication) adalah komunikasi yang menggunakan media massa, baik cetak (surat kabar, majalah) atau elektronik (radio, televisi), yang dikelola oleh suatu lembaga atau orang yang dilembagakan, yang ditujukan kepada sejumlah besar orang yang tersebar di banyak tempat, anonim, dan heterogen. Pesan-pesannya bersifat umum, disampaikan secara cepat, serentak, dan selintas (khususnya media elektronik) (Mulyana, 2005: 75).

(22)

Definisi lain tentang komunikasi massa dirumuskan Bittner (1980), yaitu komunikasi massa adalah pesan yang dikomunikasikan melalui media massa pada sejumlah besar orang, dari definisi tersebut dapat diketahui bahwa komunikasi itu harus menggunakan media massa. Media komunikasi yang termasuk media massa adalah radio siaran dan televisi, keduanya dikenal sebagai media elektronik; surat kabar dan majalah, keduanya disebut sebagai media cetak; serta media film. Film dikenal sebagai media komunikasi massa adalah bioskop (Ardianto, 2004:3).

Kemampuan untuk menjangkau ribuan, bahkan jutaan orang merupakan ciri dari komunikasi massa (mass communication) yang dilakukan melalui medium massa. Komunikasi massa dapat didefinisikan sebagai proses penggunaan sebuah medium massa untuk mengirim pesan kepada audien yang luas untuk tujuan memberi informasi, menghibur, atau membujuk (Vivian, 2008:450).

2.2.2 Ciri-ciri Komunikasi Massa

Menurut Surip (2011:174), ciri-ciri komunikasi massa antara lain:

1. Komunikator bersifat melembaga

Komunikator dalam komunikasi massa itu bukan satu orang, tetapi kumpulan orang-orang. Artinya gabungan antara berbagai macam unsur dan bekerja satu sama lain dalam sebuah lembaga. Di dalam komuikasi massa, komunikator adalah lembaga media massa itu sendiri. Itu artinya, komunikatornya bukan orang per orang. Komunikator dalam komunikasi massa biasanya adalah media massa (surat kabar, televisi, stasiun radio, majalah, dan penerbit buku.

2. Komunikan bersifat anonim dan heterogen

Komunikan dalam komunikasi massa sifatnya heterogen, artinya pengguna media itu beragam pendidikan, umur, jenis kelamin, status sosial, tingkat ekonomi, latar belakang budaya, punya agama atau kepercayaan yang tidak sama pula.

(23)

3. Pesan bersifat umum

Pesan-pesan dalam komunikasi massa itu tidak ditujukan kepada satu orang atau satu kelompok masyarakat tertentu. Dengan kata lain, pesan-pesan itu ditujukan kepada khalayak yang plural. Oleh karena itu pesan-pesan yang dikemukakan tidak boleh bersifat khusus.

4. Komunikasi berlangsung satu arah

Karena komunikasi massa itu melalui media massa, maka komunikastor dan komunikannya tidak dapat melakukan kontak langsung. Komunikator aktif menyampaikan pesan dan komunikanpun aktif menerima pesan, namun diantara keduanya tidak dapat melakukan dialog sebagaimana halnyaterjadi dalam komikasi antarpribadi.Dengan demikian komunikasi masssa itu bersifat satu arah.

5. Menimbulkan keserempakan

Dalam komunikasi massa itu ada keserempakan dalam proses penyebaran pesan-pesannya. Serempak disini berarti khalayak bisa menikmai media massa tersebut hampir bersamaan.

6. Mengandalkan peralatan teknis

Media massa sebagai alat utama dalam menyampaikan pesan kepada khalayaknya sangat membutuhkan bantuan peralatan teknis. Peralatan teknis adalah sebuah keniscayaan yang sangat dibutuhkan media massa tak lain agar proses pemancaran atau penyebaran pesannya bisa lebih cepat dan serentak kepada khalayak yang tersebar.

7. Dikontrol oleh gatekeeper

Gatekeeper atau yang sering disebut dengan penjaga gawang adalah orang yang sangat berperan dalam penyebaran informasi melalui media massa.

Gatekeeper ini berfungsi sebagai orang yang ikut menambah atau mengurangi, menyederhanakan, mengemas agar semua informasi yang disebarkan lebih mudah dipahami.Gatekeeper juga berfungsi untuk menginterpretasikan pesan,

(24)

yang ikut menentukan pengemasan sebuah pesan dari media massa. Keberadaan gatekeeper sama pentingnya dengan peralatan mekanis yang harus dipunyai media dalam komunikasi massa. Oleh karena itu, gatekeeper menjadi keniscayaaan keberadannya dalam media massa dan menjadi salah satu cirinya:

a. Kebutuhannya. Produser media mungkin tak menyadari penggunaan oleh khalayak memanfaakan program yang sama utuk memuaskan kebutuhan yang berbeda.

b. Media bukan satu-satunya sumber pemuasan. Pergi berlibur, olahraga, menari, dan lain-lainnya digunakan sebagaimana media yang digunakan.

c. Orang bisa, tau dibuat bisa, menyadari kepentingan dan moifnya dalam kasus-kasus tertentu.

d. Pertimbangan niai tentang signifikansi kultural dari media massa harus dicegah.

2.2.3 Media Massa

Media massa merupakan media informasi yang terkait dengan masyarakat, digunakan untuk berhubungan dengan khalayak (masyarakat) secara umum, dikelola secara profesional dan bertujuan mencari keuntungan (Mondry, 2008:

12). Menurut Bungin (2008: 85), media massa merupakan institusi yang berperan sebagai agent of change, yaitu sebagai institusi pelopor perubahan. Secara umum, media massa diartikan sebagai alat-alat komunikasi yang bisa menyebarkan pesan secara serempak dan cepat kepada audiens dalam jumlah yang luas dan heterogen (Nurudin, 2004: 3).

(25)

2.2.3.1 Jenis MediaMassa

Adapun bentuk media massa antara lain media elektronik (radio, televisi), media cetak (surat kabar, majalah, tabloid), buku, film dan internet (Bungin, 2008:

85). Media massa dalam konteks jurnalistik pada dasarnya terbatas pada tiga jenis media (Yunus, 2010: 27), yaitu:

1. Media cetak, yang terdiri dari surat kabar, tabloid, majalah, buletin/jurnal dan sebagainya.

2. Media elektronik, yang terdiri dari radio dantelevisi.

3. Media online, yaitu media internet seperti website, blog dan lainsebagainya.

2.2.3.2 Fungsi MediaMassa

Fungsi komunikasi media massa sebagai bagian dari komunikasi massa terdiri atas:

1. Fungsi Pengawasan

Berupa peringatan dan kontrol sosial maupun kegiatan persuasif.

Pengawasan dan kontrol sosial dapat dilakukan untuk aktivitas preventif untuk mencegah terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan.

Fungsi persuasif sebagai upaya memberi reward dan punishment kepada masyarakat sesuai dengan apa yang dilakukannya.

2. Fungsi social learning

Melakukan guiding dan pendidikan sosial kepada seluruh masyarakat.

Media massa bertugas untuk memberikan pencerahan – pencerahan kepada masyarakat dimana komunikasi massa itu berlangsung.

3. Fungsi penyampaian informasi

Menjadi proses penyampaian informasi kepada masyarakat luas. Yang memungkinkan informasi dari sebuah institusi publik tersampaikan kepada masyarakat secara luas dalam waktu cepat.

(26)

4. Fungsi transformasi budaya

Komunikasi massa menjadi proses transformasi budaya yang dilakukan bersama-sama oleh semua komponen komunikasi massa, terutama yang didukung oleh media massa.

5. Hiburan

Komunikasi massa juga digunakan sebagai media hiburan, terutama karena komunikasi massa menggunakan media massa, jadi fungsi- fungsi hiburan yang ada pada media massa juga merupakan bagian dari fungsi komunikasi massa.

Adapun efek komunikasi oleh Lavidge dan Steiner, terdiri atas enam langkah yang dikelompokkan dalam tiga dimensi atau kategori-kategori berikut:

kognitif, afektif, dan konatif. Kognitif berhubungan dengan pengetahuan kita tentang segala sesuatu, afektif berhubungan dengan sikap kita terhadap sesuatu dan konatif berhubungan dengan tingkah laku kita terhadap sesuatu (Severin, 2007:16).

Sedangkan menurut Denis McQuail (McQuail, 1987:1), media massa memiliki fungsi penting, antara lain:

1. Media merupakan industri yang berubah dan berkembang yang menciptakan lapangan kerja, barang dan jasa, serta menghidupkan industri lain yang terkait.

2. Media massa merupakan sumber kekuatan, alat kontrol, manajemen dan inovasi dalam masyarakat yang dapat digunakan sebagai pengganti kekuatan atau sumber dayalainnya.

3. Media merupakan lokasi (forum) yang semakin berperan untuk menampilkan peristiwa-peristiwa kehidupan masyarakat, baik yang bertaraf nasional maupuninternasional.

4. Media berperan sebagai wahana pengembangan kebudayaan, bukan saja dalam pengertian pengembangan bentuk seni dan simbol, tetapi juga dalam pengertian pengembangan tata cara, mode , gaya dannorma-norma.

5. Media telah menjadi sumber dominan bukan saja bagi individu untuk

(27)

memperoleh gambaran dan citra realitas sosial, tetapi juga bagi masyarakat dan kelompok secarakolektif.

2.3 Opini Publik 2.3.1 Pengertian Opini

Pengertian opini dikalangan ahli komunikasi sendiri belum didapati adanya suatu kesepakatan.Orang lebih mudah untuk mengamati efek dan bentuk yang ditimbulkan daripada mendefinisikannya.Menurut pendapat Albig (1956) dalam bukunya yang berjudul Public Relations, mengatakan bahwa “Opini is any expression on a controversial topic” atau opini adalah pertanyaan mengenai suatu hal yang bersifat kontroversial (Abdurrahman, 1993:14 dalam http://repository.usu.ac.id/handle/123456789/14815). Opini merupakan perwujudan sikap terhadap suatu isu yang bertentangan satu sama lain. Dengan demikian bisa dikatakan bahwa opini merupakan perwujudan sikap yang bisa dilakukan secara verbal maupun isyarat mengenai suatu persoalan yang sedikit banyak mengandung nilai kontroversial dari publik.Sedangkan opini menurut Webster’s New Collegiate Dictionary adalah suatu pandangan, keputusan, atau taksiran, yang terbentuk di dalam pikiran mengenai suatu persoalan tertentu.

Awalnya, opini yang terbentuk adalah personal opinion atau opini persona, yaitu penafsiran individual mengenai berbagai masalah di mana tidak terdapat pandangan yang sama (Soenarjo, 1984:33 dalam http://repository.usu.ac.id/handle/123456789/14815). Adapula pendapat lain yang menerangkan bahwa opini persona itu adalah suatu penafsiran mengenai segala fakta-fakta yang dihadapi, di mana dalam penafsiran tersebut terdapat kesulitan untuk memberi pembuktian atau bertentangan dengan segera. Opini yang dimiliki oleh seseorang adalah suatu bagian dari group opinion (opini kelompok) yang terdiri dari mayoritas opini dan minoritas opini.

(28)

2.3.2 Pengertian Publik

Pengertian publik menurut Soerjono Soekamto, yaitu publik berupa kelompok yang tidak merupakan kesatuan. Interaksi terjadi secara tidak langsung yaitu melalui media komunikasi secara umum misalnya pembicaraan secara pribadi ataupun desas desus, melalui media komunikasi massa misalnya pers, radio, televisi, film dan sebagainya. Mayor Polak menyampaikan bahwa publik adalah sekelompok orang yang mempunyai minat sama terhadap suatu kegemaran atau persoalan tertentu.

Publik menurut Herbert Blumer juga diartikan sebagai sekelompok orang yang:

1. Dihadapkan pada suatu permasalahan,

2. Berbeda pendapat mengenai persoalan dan berusaha mengatasi persoalan tersebut,

3. Terlibat dalam diskusi mengenai jalan keluar persoalan tersebut.

Selanjutnya Emery Bogardus menyatakan bahwa publik adalah sejumlah orang yang dengan suatu cara mempunyai pandangan yang sama terhadap suatu masalah atau setidak-tidaknya mempunyai kepentingan besama dalam suatu hal (Sunarjo, 1997:20-21 dalam http://repository.usu.ac.id/handle/123456789/14815).

2.3.3 Pengertian Opini Publik

Public opinion dalam bahasa Indonesia sering diterjemahkan dengan

“pendapat umum”, dengan demikian public diterjemahkan dengan “umum”.

Sedangkan opinion dialih bahasakan dengan “pendapat”. Opini yang berari tanggapan atau pendapat merupakan suatu jawaban terbuka terhadap suatu persoalan atau isu.Menurut Cutlip dan Center, opini adalah suatu ekspresi tentang sikap mengenai suatu masalah yang bersifat konroversial.Opini timbul sebagai hasil pembicaraan tentang masalah yang kontroversial, yang menimbulkan pendapat yang berbeda-beda (Sastropoetro, 1990:41).

(29)

Menurut Bernard Berelson dalam tulisannya berjudul “Communication and Public Opinion” (Komunikasi dan Pendapat/Opini Publik) mengemukakan bahwa dengan pendapat publik diartikan people’s response atau jawaban rakyat (persetujuan, ketidaksetujuan/penolakan atau sikap acuh tak acuh) terhadap issue- issue/hal-hal yang bersifat politis dan sosial yang memerlukan perhatian umum, seperti hubungan internasional, kebijaksanaan dalam negeri, pemilihan (umum) untuk calon-calon, dan hubungan antar kelompok etnik (Sastropoetro, 1990:55).

Santoso Sastropoetro (1990) menyebutkan bahwa istilah opini publik sering digunakan untuk menunjuk kepada pendapat-pendapat kolektif dari sejumlah besar orang. (Olii, 2007:20)

Sedangkan opini publik menurut Leonard W. Dood yang dituliskan dalam buku berjudul Public Opinion and Propaganda yaitu sebagai berikut: “public opinion refers to people’s attitude on an issue they are members or the same social group. Artinya, pendapat umum yang dimaksudkan adalah sikap orang- orang mengenai sesuatu soal, di mana mereka merupakan anggota dari sebuah masyarakat yang sama. (Mazdalifah & Emilia, 2006:3)

Pendapat atau opini mempunyai ciri-ciri:

1. Selalu diketahui dari pernyataan-pernyataan;

2. Merupakan sinthesa atau kesatuan dari banyak pendapat;

3. Mempunyai pendukung dalam jumlah yang besar.

2.3.4 Unsur-unsur Opini

R.P Abelson (1968), menyebutkan bahwa opini mempunyai unsur sebagai molekul opini, yakni:

1. Belief (kepercayaan tentang sesuatu)

2. Attitude (apa yang sebenarnya dirasakan seseorang) 3. Perception (persepsi), yang ditentukan oleh faktor seperti:

(30)

a. Latar belakang budaya, kebiasaan dan adat istiadat yang dianut seseorang atau masyarakat.

b. Pengalaman masa lalu seseorang atau kelompok tertentu menjadi landasan atas pendapat atau pandangannya.

c. Nilai-nilai (moral, etika, dan keagamaan) yang dianut atau nlai-nilai yang berlaku di masyarakat.

d. Berita-berita dan pendapat yang berkembang yang kemudian mempunyai pengaruh terhadap pandangan seseorang. Berita tersebut bisa diartikan sebagai pembentuk opini masyarakat. (dalam http://repository.usu.ac.id/handle/123456789/14836)

2.3.5 Proses Pembentukan Opini Publik

George Carslake Thompson dalam “The Nature of Public Opinion”

(Sastropoetro, 1990:106) mengemukakan bahwa dalam suatu publik yang menghadapi issue dapat timbul berbagai kondisi yang berbeda-beda, yaitu:

1. Mereka dapat setuju terhadap fakta-fakta yang ada atau mereka pun boleh tidak setuju.

2. Mereka dapat berbeda dalam perkiraan atau estimation, tetapi juga boleh tidak berbeda pandangan.

3. Perbedaan yang lain ialah bahwa mungkin mereka mempunyai sumber data yang berbeda-beda.

Hal-hal yang diutarakan itu merupakan sebab timbulnya kontroversi terhadap issue-issue tertentu. Selanjutnya dikemukakannya bahwa orang-orang yang mempunyai opini yang tegas, mendasarkannya kepada rational grounds atau alasan-alasan yang rasional yang berarti “dasar-dasar yang masuk akal dan dapat dimengerti oleh orang lain”.

Dasar-dasar rasional yang berhubungan dengan ketiga sebab tadi berarti disebabkan oleh perbedaan-perbedaan itu, maka timbul kehati-hatian dalam pandangan agar mencapai suatu keserasian bagi terbentuknya suatu ekstraksi

(31)

pendapat yang menguntungkan. Kemudian, dalam hubungannya dengan penelitian terhadap suatu opini publik, perlu diperhitungkan empat pokok, yaitu:

1. Difusi, yaitu apakah pendapat yang timbul merupakan suara terbanyak, akibat adanya kepentingan golongan.

2. Persistance, yaitu kepastian atau ketetapan tentang masa berlangsungnya issue karena disamping itu, pendapat pun perlu diperhitungkan.

3. Intensitas, yaitu ketajaman terhadap issue.

4. Reasonableness atau suatu pertimbangan-pertimbangan yang tepat dan beralasan.

Dari tahapan-tahapan pembentukan pendapat tersebut dapatlah dibayangkan bahwa dalam proses itu telah timbul pro dan kontra atau setuju dan tidak setuju. Semua itu disebabkan oleh kerangka pengetahuan dan pengalaman masing-masing orang yang berada di dalam publik itu berbeda-beda. Disamping itu, sifat orang-orang yang bersangkutan pun berbeda-beda juga, belum lagi kemampuan yang menyangkut pengutaraan pendapat atau isi hatinya.

2.3.6 Faktor Pendapat Umum

Bernard Hennessy (1990) mengemukakan 5 faktor pendapat umum, diantaranya:

1. Adanya isu. Harus terdapat konsensus yang seungguhnya, opini publik berkumpul di sekitar isu. Isu dapat didefinisikan sebagai situasi kontemporer yang mungkin tidak terdapat kesepakatan, paling tidak unsur kontroversi terkandung di dalamnya dan juga isu mengandung konflik kontemporer.

2. Nature of publics. Harus ada kelompok yang dikenal dan berkepentingan dengan persoalan itu.

3. Pilihan yang sulit, mengacu pada totalitas opini para anggota masyarakat tentang suatu isu.

4. Suatu pernyataan/opini. Berbagai pernyataan bertumpuk disekitar isu.

(32)

sewaktu-waktu gerak-gerik, kepalan tinju, lambaian tangan, dan tarikan napas panjang, merupakan suatu pernyataan/opini.doop berbicara mengenai opini publik

“internal” dan “tersembunyi”. Apabila sikap publik tidak berkenan dengan isu tertentu “tidak diungkapkan”, menurutnya itulah opini publik yang internal.

Namun, pendapat internal tidak berifat publik. Mengenai opini publik yang tersembunyi, Doop mengemukakan pendapat ini mengaju kepada sikap rakyat mengenai seuatu isu, tidak menggugah atau memengaruhi perilakunya.

5. Jumlah orang terlibat. Opini publik adalah besarnya masyarakat yang menaruh perhatian terhadap isu. Definisi itu mengemukakan pertanyaan mengenai jumlah secara baik sekali dan dirangkum dalam ungkaopan “sejumlah orang penting”, dengan maksud mengesampingkan isu-isu kecil dengan pernyataan- pernyataan yang tidak begitu penting dari individu yang sifatnya sangat pribadi.

(Olii, 2007:20-21).

2.3.7 Faktor Komunikasi yang Mempengaruhi Opini Publik

Menurut Redi Panuju (2002), faktor-faktor komunikasi yang mempengaruhi terbentuknya opini publik meliputi:

1. Faktor psikologis.

Tidak ada kesamaan antara individu yang satu dengan lainnya, yang ada hanya kemiripan yang memiliki banyak perbedaan. Perbedaan-perbedaan atas individu bisa meliputi hobi, kepentingan, pengalaman, selera, dan juga kerangka berpikir, sehingga setiap individu berbeda dalam bentuk dan cara merespon stimulus atau rangsangan yang diterimanya. Perbedaan berdasarkan faktor psikologis yang menyebabkan pemaknaan terhadap kenyataan yang sama bisa menghasilkan penyandian yang berbeda-beda atau bisa saja output tidak sama dengan input karena beberapa unsur yang bekerja dalam seleksi internal bisa meliputi dimensi pemikiran (kognitif), bisa juga dimensi emosi (afeksi).

Hasil dari proses perubahan psikologi, bisa menghasilkan pergeseran makna. Itulah sebabnya, dalam opini publik seringkali simbol verbal tidak

(33)

berhubungan sama sekali dengan kenyataan, sebab dalam kenyataannya opini publik itu semata-mata merupakan hasil penyandian individu-individu.

2. Faktor sosiologis politik

Ada anggapan bahwa opini publik terlibat dalam interaksi sosial, misalnya pada:

a. Opini publik mewakili citra superioritas, artinya jika dapat menguasai opini publik, maka akan dapat mengendalikan orang lain. Apa yang disebut

“menguasai” tidaklah tepat karena opini publik bersifat dinamis, maka keberpihakannya pun bersifat relatif, dan cenderung berpihak pada kelompok atau individu yang memiliki keterdekatan hubungan.

b. Opini publik mewakili suatu kejadian, sehingga individu merasa keberadaanya dalam opini publik serta keterlibatan sebagai bagian anggota masyarakat.

c. Opini publik berhubungan dengan citra, rencana, dan operasi (action).

Kenneth R. Boulding (1969) menyatakan citra, rencana, dan operasi merupakan matriks dari tahap-tahap kegiatan dalam situasi yang selalu berubah. Matriks perilaku sangat tergantung pada citra, untuk itu opini publik memberi inspirasi bagaimana individu dalam kelompok bertindak agar terhindar dari pencitraan yang buruk.

d. Opini publik disesuaikan dengan kemauan banyak orang. Untuk itu, banyak orang berlomba memanfaatkan opini publik sebagai argumentasi atas alasan memutuskan sesuatu. Di dalam demokrasi, kebenaran normatif dapat digeser oleh kebenaran menurut “orang banyak”. Keputusan yang didasarkan pada dominasi opini publik belum tentu selaras dengan norma dan etika sosial yang berlaku.

e. Opini publik identik dengan dengan hegemoni ideologi. Jika kelompok atau pemerintahan ingin tetap terus berkuasa, maka mereka harus mampu menjadikan ideologi kekuasaan menjadi dominan dalam opini publik.

(34)

3. Faktor budaya

Budaya mempunyai pengertian yang beragam.Budaya diartikan sebagai seperangkat nilai yang digunakan untuk mengelola kehidupan manusia, memelihara hidupnya, menjaga dari gangguan internal maupun eksternal, dan mengembangkan kehidupan manusia.Nilai-nilai yang terhimpun dalam sistem budaya tersebut, oleh individu dijadikan identitas sosialnya atau dijadikan ciri-ciri dari anggota komunitas budaya tertentu.

4. Faktor media massa

Menurut Redi Panuju, mengutip Meyer, interaksi anara media dengan institusi masyarakat menghasilkan produk isi media (media content). Oleh audiens, isi media diubah menjadi gugusan-gugusan makna, apakah yang dihasilkan dari poses penyandian pesan itu, menurut Meyer, sangat ditentukan oleh norma-norma yang berlaku dalam masyarakatnya, pengalaman yang lalu, kepribadian, dan selektivitas dalam penafsiran.

Pendapat umum bekerja atau melaksanakan tugasnya dalam konteks, sebagai berikut:

a. Membentuk citra baru,

b. Mempertahankan citra yang sudah terbangun, c. Memperbaiki citra yang terpuruk,

d. Menguatkan citra karena kekuatan pesaing, serta

e. Menguatkan atau mempertahankan citra ketika berada di puncak.

2.3.8 Pengukuran Opini Publik

Menurut Cutlip, ada beberapa pengukuran mengenai opini. Pengukuran yang paling sering digunakan adalah pengukuran arah opini.Pengukuran opini digunakan untuk mengukur ke mana arah opini melangkah.Arah opini biasa dilihat dari positive, negative, dan netral atau dengan suka-benci-netral. Opini tidak memiliki tingkatan, namun memiliki arah, yaitu:

(35)

1. Opini positif, jika responden memberikan jawaban setuju pada item pertanyaan.

2. Opini netral atau pasif, jika responden memberikan jawaban ragu-ragu pada item pertanyaan.

3. Opini negatif, jika responden memberikan jawaban tidak setuju pada item pertanyaan. (Effendy (1990) dalam http://repository.usu.ac.id/handle/123456789/1 4815)

2.3.9 Kekuatan Opini Publik

Telah dikemukakan bahwa opini publik atau pendapat publik sebagai suatu kesatuan pernyataan tentang suatu hal yang bersifat kontroversial, merupakan suatu penilaian sosial atau social judgement. Oleh karena itu, maka pada pendapat publik melekat beberapa kekuatan yang sangat diperhatikan:

1. Opini publik dapat menjadi suatu hukuman sosial terhadap orang atau sekelompok orang yang terkena hukuman tersebut. Hukuman sosial menimpa seseorang atau kelompok orang dalam bentuk rasa malu, rasa dikucilkan, rasa dijauhi, rasa rendah diri, rasa tak berarti lagi di dalam masyarakat, menimbulkan frustasi sehingga putus asa, dan bahkan ada yang karena itu lalu bunuh diri atau mengundurkan diri dari jabatannya.

2. Opini publik sebagai pendukung bagi keberlangsungan berlakunya norma sopan santun dan susila, baik antara yang muda dengan yang lebih tua maupun antara yang muda dengan sesamanya.

3. Opini publik dapat mempertahankan eksistensi suatu lembaga dan bahkan juga bisa menghancurkan suatu lembaga.

4. Opini publik dapat mempertahankan atau menghancurkan suatu kebudayaan.

5. Opini publik dapat pula melestarikan norma sosial.

(36)

2.4 Kerangka Konsep

Teori-teori yang dijadikan landasan pada kerangka teori harus dapat menghasilkan beberapa konsep yang disebut dengan kerangka konsep.Suwardi Lubis mengemukakan bahwa kerangka konsep merupakan kemampuan peneliti menyusun konsep operasional peneliti yang bertitik tolak pada kerangka teori dan tujuan penelitian.Dalam kerangka konsep harus bisa menunjukkan sistematis variabel-variabel penelitian yang menunjukkan kerangka operasional (Lubis, 1998:110-111).

Berdasarkan kerangka teoritis yang mendasari penelitian ini, selanjutnya disusun suatu kerangka konsep yang didalamnya terdapat variabel-variabel dan indikator yang tujuannya menjelaskan masalah penelitian.

Berdasarkan kerangka teori dan kerangka konsep diatas, maka dapat dibuat operasional variabel yang berfungsi untuk kesamaan dan kesesuaian dalam penelitian, yaitu sebagai berikut:

Gambar 2.1 Kerangka Konsep

2.5 Operasional Variabel

Berdasarkan kerangka konsep yang telah diuraikan di atas, maka dapat dibentuk operasional variabel yang berfungsi untuk kesamaan dan kesesuaian dalam penelitian sebagai berikut:

Variabel Teoritis Variabel Operasional

Kebijakan Satu Harga BBM Informasi tentang Kebijakan Satu Harga BBM Sumber Informasi

Pemahaman tentang Informasi Ketertarikan terhadap Informasi Kebijakan "Satu Harga

BBM" Opini mahasiswa

(37)

Opini Mahasiswa Believe Attitude Perception Karakteristik Responden Jenis Kelamin

Jurusan Angkatan

Tabel 2.1 Operasional Variabel

2.6 Definisi Operasional

Definisi operasional merupakan pembelajaran lebih lanjut tentang konsep yang telah dikelompokkan dalam kerangka konsep. Adapun yang menjadi definisi operasional pada penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Kebijakan Satu Harga BBM:

a. Informasi tentang kebijakan Satu Harga BBM yang diketahui oleh responden.

b. Sumber informasi, yaitu asal data-data baik lisan maupun tulisan yang didapatkan oleh responden mengenai kebijakan Satu Harga BBM.

c. Pemahaman tentang informasi, yaitu pengertian dan pemahaman responden terhadap isi informasi mengenai kebijakan Satu Harga BBM.

d. Ketertarikan terhadap informasi, yaitu ketertarikan responden dalam mengikuti perkembangan informasi mengenai kebijakan Satu Harga BBM.

2. Opini Mahasiswa Universitas Sumatera Utara asal Papua:

a. Believe, yaitu penerimaan dan kepercayaan responden sebagai kebenaran mengenai informasi kebijakan Satu Harga BBM.

b. Attitude, yaitu apa yang sebenarnya dirasakan atau menjadi sikap responden terhadap kebijakan Satu Harga BBM.

c. Perception, yaitu suatu proses memberikan makna terhadap kebijakan Satu Harga BBM oleh responden.

(38)

3. Karakteristik responden:

a. Jenis kelamin, adalah jenis kelamin responden; pria atau wanita.

b. Jurusan, adalah nama program studi responden saat berkuliah.

c. Angkatan, adalah tahun masuk berkuliah responden.

(39)

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Deskripsi Lokasi Penelitian

3.1.1 Sejarah Universitas Sumatera Utara

Sejarah Universitas Sumatera Utara (USU) dimulai dengan berdirinya Yayasan Universitas Sumatera Utara pada tanggal 4 Juni 1952.Pendirian yayasan ini dipelopori oleh Gubernur Sumatera Utara untuk memenuhi keinginan masyarakat Sumatera Utara khususnya dan masyarakat Indonesia umumnya.

Pada zaman pendudukan Jepang, beberapa orang terkemuka di Medan termasuk Dr. Pirngadi dan Dr. T. Mansoer membuat rancangan perguruan tinggi Kedokteran.Setelah kemerdekaan Indonesia, pemerintah mengangkat Dr.

Mohd.Djamil di Bukit Tinggi sebagai ketua panitia. Setelah pemulihan kedaulatan akibat clash pada tahun 1947, Gubernur Abdul Hakim mengambil inisiatif menganjurkan kepada rakyat di seluruh Sumatera Utara mengumpulkan uang untuk pendirian sebuah universitas di daerah ini.

Pada tanggal 31 Desember 1951 dibentuk panitia persiapan pendirian perguruan tinggi yang diketuai oleh Dr. Soemarsono yang anggotanya terdiri dari Dr. Ahmad Sofian, Ir. Danunagoro dan sekretaris Mr. Djaidin Purba.

Sebagai hasil kerjasama dan bantuan moril dan material dari seluruh masyarakat Sumatera Utara yang pada waktu itu meliputi juga Daerah Istimewa Aceh, pada tanggal 20 Agustus 1952 berhasil didirikan Fakultas Kedokteran di Jalan Seram dengan dua puluh tujuh orang mahasiswa diantaranya dua orang wanita.Kemudian disusul dengan berdirinya Fakultas Hukum dan Pengetahuan Masyarakat (1954), Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (1956),dan Fakultas Pertanian (1956).

Pada tanggal 20 November 1957, USU diresmikan oleh Presiden Republik Indonesia Dr. Ir. Soekarno menjadi universitas negeri yang ketujuh di Indonesia.

(40)

Pada tahun 1959, dibuka Fakultas Teknik di Medan dan Fakultas Ekonomi di Kutaradja (Banda Aceh) yang diresmikan secara meriah oleh Presiden R.I.

kemudian disusul berdirinya Fakultas Kedokteran Hewan dan Peternakan (1960) di Banda Aceh. Sehingga pada waktu itu, USU terdiri dari lima fakultas di Medan dan dua fakultas di Banda Aceh.

Selanjutnya menyusul berdirinya Fakultas Kedokteran Gigi (1961), Fakultas Sastra (1965), Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (1965), Fakultas Ilmu-Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (1982), Sekolah Pascasarjana (1992), Fakultas Kesehatan Masyarakat (1993), Fakultas Farmasi (2006), Fakultas Psikologi (2007), Fakultas Keperawatan (2009), Fakultas Kehutanan (2014).

Pada tahun 2003, USU berubah status dari suatu Perguruan Tinggi Negeri (PTN) menjadi suatu perguruan tinggi Badan Hukum Milik Negara (BHMN).Perubahan status USU dari PTN menjadi BHMN merupakan yang kelima di Indonesia.Sebelumnya telah berubah status UI, UGM, ITB dan IPB pada tahun 2000. Setelah USU disusul perubahan status UPI (2004) dan UNAIR (2006).

Dalam perkembangannya, beberapa fakultas di lingkungan USU telah menjadi embrio berdirinya tiga perguruan tinggi negeri baru, yaitu Universitas Syiah Kuala di Banda Aceh, yang embrionya adalah Fakultas Ekonomi dan Fakultas Kedokteran Hewan dan Peternakan USU di Banda Aceh. Kemudian disusul berdirinya Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) Negeri Medan (1964), yang sekarang berubah menjadi Universitas Negeri Medan (UNIMED) yang embrionya adalah Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan USU. Setelah itu, berdiri Politeknik Negeri Medan (1999) yang semula adalah Politeknik USU.

Kampus USU berlokasi di Padang Bulan, sebuah area yang hijau dan rindang seluas 120 ha yang terletak di tengah Kota Medan.Zona akademik seluas 90 ha.menampung hampir seluruh kegiatan perkuliahan dan praktikum mahasiswa. Sistem pembelajaran didukung oleh fasilitas perpustakaan dan lebih dari 200 laboratorium.Perpustakaan menyediakan berbagai jenis sumber belajar baik dalam bentuk cetak maupun elektronik.Perpustakaan USU merupakan salah

(41)

satu yang terbaik di Indonesia saat ini. Kampus USU Padang Bulan juga didukung oleh infrastruktur teknologi informasi untuk memfasilitasi akses terhadap berbagai sumber daya informasi dan pengetahuan untuk mendukung proses pembelajaran dan penelitian mahasiswa dan tenaga pendidik.

3.1.2 Visi, Misi, dan Tujuan Universitas Sumatera Utara a. Visi

Menjadi perguruan tinggi yang memiliki keunggulan akademik sebagai barometer kemajuan ilmu pengetahuan yang mampu bersaing dalam tataran dunia global.

b. Misi

1. Menyelenggarakan pendidikan tinggi berbasis otonomi yang menjadi wadah bagi pengembangan karakter dan profesionalisme sumber daya manusia yang didasarkan pada pemberdayaan yang mengandung semangat demokratisasi pendidikan yang mengakui kemajemukan dengan orientasi pendidikan yang menekankan pada aspek pencarian alternatif penyelesaian masalah aktual berlandaskan kajian ilmiah, moral, dan hati nurani;

2. Menghasilkan lulusan yang menjadi pelaku perubahan sebagai kekuatan modernisasi dalam kehidupan masyarakat luas, yang memiliki kompetensi keilmuan, relevansi dan daya saing yang kuat, serta berperilaku kecendikiawanan yang beretika; dan

3. Melaksanakan, mengembangkan, dan meningkatkan pendidikan, budaya penelitian dan program pengabdian masyarakat dalam rangka peningkatan kualitas akademik dengan mengembangkan ilmu yang unggul, yang bermanfaat bagi perubahan kehidupan masyarakat luas yang lebih baik.

c. Tujuan

1. Menghasilkan lulusan yang berkualitas yang mampu mengembangkan ilmu pengetahuan, teknologi, humaniora, dan seni, berdasarkan moral agama, serta mampu bersaing di tingkat nasional dan internasional;

(42)

2. Menghasilkan penelitian inovatif yang mendorong pengembangan ilmu pengetahuan, teknologi, humaniora, dan seni dalam lingkup nasional dan internasional;

3. Menghasilkan pengabdian kepada masyarakat berbasis penalaran dan karya penelitian yang bermanfaat dalam memajukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa dan pemberdayaan masyarakat secara inovatif agar masyarakat mampu menyelesaikan masalah secara mandiri dan berkelanjutan; dan

4. Mewujudkan kemandirian yang adaptif, kreatif, dan proaktif terhadap tuntutan masyarakat dan tantangan pembangunan, baik secara nasional maupun secara internasional.

3.1.3 Struktur Organisasi Universitas Sumatera Utara a. Majelis Wali Amanat

Majelis Wali Amanat (MWA) beranggotakan 21 orang yang mewakili unsur Menteri, Rektor, Senat Akademik (SA), dan masyarakat.Anggota MWA diangkat dan diberhentikan oleh Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi setelah menerima usulan dari SA.Anggota MWA yang mewakili SA berjumlah 8 orang yang dipilih dari dan oleh SA.Anggota MWA yang mewakili masyarakat berjumlah 11 orang yang diusulkan oleh SA.Anggota MWA diangkat untuk masa jabatan 5 tahun dan dapat dipilih kembali untuk 1 kali masa jabatan.

MWA memiliki tugas dan wewenang antara lain:

1. Menetapkan kebijakan umum USU;

2. Mengangkat dan memberhentikan Rektor;

3. Mengesahkan rencana jangka panjang, rencana strategis, serta rencana kerja dan anggaran USU;

4. Melaksanakan pengawasan dan pengendalian umum atas pengelolaan USU;

(43)

5. Melakukan penilaian atas kinerja pimpinan USU;

6. Menangani penyelesaian tertinggi atas masalah yang ada di USU;

7. Membina jejaring dengan institusi atau individu di luar USU;

8. Bersama Rektor melakukan penggalangan dana;

9. Bersama Rektor menyusun dan menyampaiakan laporan tahunan kepada Menteri;

10. Mengesahkan peraturan MWA yang diusulkan oleh Senat Akademik;

11. Menetapkan peraturan yang memuat prinsip-prinsip tata kelola USU;

12. Memberikan pertimbangan, usulan, dan evaluasi terhadap pelaksanaan rencana jangka panjang, rencana strategis universitas, rencana kerja, dan anggaran tahunan, pengelolaan USU, dan pelaksanaan Peraturan MWA;

13. Memberikan pendapat dan/atau rekomendasi kepada Rektor dalam rangka pengelolaan USU; dan

14. Menunjuk dan mengangkat Komite Audit (KA), serta auditor eksternal yang independen dan profesional.

b. Dewan Guru Besar

Dewan Guru Besar (DGB) merupakan wadah para Guru Besar Universitas untuk memberikan penilaian etika dan integritas moral.DGB terdiri atas seluruh Guru Besar Universitas.

DGB bertugas untuk:

1. Memberikan masukan kepada Rektor dalam hal pengembangan keilmuan dan kualitas pendidikan,

2. Memberikan masukan kepada Rektor dalam hal pembinaan suasana akademik, dan

(44)

3. Memberikan pertimbangan kepada Rektor dan Senat Akademik atas usul pengangkatan Guru Besar dan doktor kehormatan (doctor honoris causa).

c. Senat Akademik

Senat Akademik (S.A.) adalah badan normatif tertinggi Universitas yang mempunyai fungsi dalam kebijakan dan pengawasan Universitas dalam bidang akademik. Keanggotaan S.A. terdiri dari (1) Wakil Guru Besar (WGB), (2) Wakil Dosen bukan Guru Besar (WDBGB), (3) Rektor dan Wakil Rektor, (4) Dekan dan Direktur Sekolah Pascasarjana.

Anggota yang berasal dari WGB berjumlah paling banyak 25% dari jumlah anggota Dewan Guru Besar (DGB) dan anggota yang berasal dari WDBGB berjumlah paling banyak 3 (tiga) orang yang dipilih melalui pemilihan oleh masing-masing Fakultas.

Anggota S.A. diangkat untuk masa jabatan 5 (lima) tahun dan dapat dipilih kembali untuk 1 (satu) kali masa jabatan kecuali anggota ex-officio dan WGB.

Anggota SA yang berasal dari anggota ex-officio meliputi Rektor, para Wakil Rektor, para Dekan, dan Direktur Sekolah Pascasarjana.

Dalam pelaksanaan tugas, S.A. dibagi ke dalam 4 (empat komisi yaitu: (1) Komisi Kelembagaan Akademik, Perencanaan dan Anggaran (KKPAP&A); (2) Komisi Penelitian, Pengembangan dan Pengabdian kepada Masyarakat dan Inovasi (KP3M&I); (3) Komisi Pendidikan (KP); dan (4) Komisi Penjaminan dan Pengawasan Mutu Akademik (KP&PMA).

d. Pimpinan Universitas

Pimpinan universitas berfungsi untuk menyelenggarakan pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat di universitas yang dipimpinnya.

Adapun susunan pimpinan Universitas Sumatera Utara periode 2016-2021 adalah:

Rektor : Prof. Dr. Runtung, S.H., M.Hum.

Wakil Rektor I Bidang Akademik, : Prof. Dr. Ir. Rosmayati, M.S.

(45)

Kemahasiswaan, dan Kealumnian Wakil Rektor II Bidang Keuangan dan Sumber Daya Manusia

: Dr. dr. Muhammad Fidel Ganis Siregar, M.Ked.(O.G.), Sp.O.G.(K.) Wakil Rektor III Bidang Penelitian,

Pengabdian kepada Masyarakat, dan Kerjasama

: Drs. Mahyuddin K. M. Nasution, M.I.T., Ph.D.

Wakil Rektor IV Bidang Informasi, Perencanaan, dan Pengembangan

: Prof. Dr. Ir. Bustami Syam, M.S.M.E.

Wakil Rektor V Bidang Pengelolaan Aset dan Usaha

: Ir. Luhut Sihombing, M.P.

Sekretaris Universitas Bidang

Administrasi Kesekretariatan, Hukum, dan Kearsipan

: Dr. dr. Farhat, M.Ked.(O.R.L-H.N.S), Sp.T.H.T-K.L.(K.)

e. Pimpinan Fakultas

Dekan Fakultas Kedokteran : Dr. dr. Aldy Safruddin Rambe, Sp.S.

(K.)

Dekan Fakultas Hukum : Prof. Dr. Budiman Ginting, S.H., M.Hum.

Dekan Fakultas Pertanian : Dr. Ir. Hasanuddin, M.S.

Dekan Fakultas Teknik : Ir. Seri Maulina, M.Si., Ph.D.

Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis

: Prof. Dr. Ramli, S.E., M.S.

Dekan Fakultas Kedokteran Gigi : Dr. Trelia Boel, drg., M.Kes., Sp.R.KG.(K.)

Dekan Fakultas Ilmu Budaya : Dr. Drs. Budi Agustono, M.S.

Dekan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam

: Dr. Kerista Sebayang, M.S.

Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik

: Dr. Muriyanto Amin, S.Sos., M.Si.

(46)

Masyarakat

Dekan Fakultas Farmasi : Dr. Dra. Masfria, M.S., Apt.

Dekan Fakultas Psikologi : Zulkarnain, Ph.D., Psikolog Dekan Fakultas Keperawatan : Setiawan, S.Kp, M.N.S., Ph.D.

Dekan Fakultas Ilmu Komputer dan Teknologi Informasi

: Prof. Dr. Opim Salim Sitompul, M.Sc.

Dekan Fakultas Kehutanan : Siti Latifah, S.Hut., M.Si., Ph.D.

3.1.4 Struktur Organisasi Universitas Sumatera Utara

Berikut adalah gambar struktur organisasi di Universitas Sumatera Utara:

Gambar 3.1 Struktur Organisasi Universitas Sumatera Utara Sumber: www.usu.ac.id

3.2 Metode Penelitian

(47)

Metode penelitian adalah analisis teori atau ilmu yang membahas mengenai metode dalam melakukan penelitian.Metode penelitian komunikasi adalah prosedur atau secara ilmiah dalam melakukan penelitian bidang komunikasi untuk menemukan hal-hal baru, membuktikan atau menguji temuan penelitian sebelumnya atau untuk pengembangan ilmu komunikasi (Pujileksono, 2015: 4).

Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian deskriptif di mana metode ini hanyalah memaparkan situasi atau peristiwa, tidak mencari atau menjelaskan hubungan, tidak menguji hipotesis atau membuat prediksi.Selain itu, metode ini menitikberatkan pada observasi dan suasana alamiah.Peneliti hanya bertindak sebagai pengamat, hanya membuat kategori perilaku, mengamati gejala, dan mencatat dalam buku observasinya (Rakhmat, 2004:4).

3.3 Populasi dan Sampel

Populasi adalah keseluruhan objek penelitian yang terdiri dari manusia, benda-benda, hewan, tumbuh-tumbuhan, gejala-gejala, nilai test atau peristiwa- peristiwa sebagai sumber data yang memiliki karakteristik tertentu di dalam suatu penelitian (Nawawi, 2001:141).Populasi dalam penelitian ini adalah mahasiswa program Strata 1 (S1) Universitas Sumatera Utara asal Papua angkatan 2014-2016 yang berjumlah 42 orang.

Sampel adalah sekelompok yang terseleksi dari populasi besar dan sampel hendaknya mewakili populasi (Bulaeng, 2004:131). Namun berdasarkan jumlah populasi dalam penelitian ini yang tidak terlalu besar, maka peneliti menggunakan total sampling atau menggunakan populasi sebagai sampel sekaligus. Menurut Sugiyono (2001: 61), total sampling atau sampling jenuh adalah teknik penentuan sampel bila semua anggota populasi digunakan sebagai sampel. Hal ini sering dilakukan bila jumlah populasi relatif kecil.Maka, jumlah sampel dalam penelitian ini adalah sebanyak 41 mahasiswa.

(48)

No. Fakultas Jumlah Mahasiswa

1 Fakultas Teknik 2

2 Fakultas Kedokteran Gigi 3

3 Fakultas Ekonomi dan Bisnis 15

4 Fakultas Keperawatan 6

5 Fakultas Kesehatan Masyarakat 5 6 Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik 4

7 Fakultas Pertanian 3

8 Fakultas Ilmu Komputer dan Teknologi

Informasi 2

9 Fakultas Kedokteran 1

Jumlah 41

Tabel 3.1 Sampel

Sumber: dirmahasiswa.usu.ac.id

3.4 Teknik Pengumpulan Data

Dalam penelitian ini, pengumpulan data dilakukan melalui cara sebagai berikut:

1. Penelitian lapangan atau field research

Penelitian lapangan dilakukan dengan cara terjun langsung ke lapangan terhadap objek yang telah dipilih yaitu dengan cara mengedarkan kuesioner.

Kuesioner tersebut merupakan teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara memberi seperangkat pertanyaan atau pertanyaan tertulis kepada responde untuk dijawabnya (Sugiyono, 2008:142).

2. Penelitian kepustakaan atau library research

Penelitian kepustakaan adalah suatu teknik pengumpulan data yang dilakukan oleh peneliti dengan menelaah teori-teori, pendapat-pendapat, serta

Gambar

Tabel 1.1 Harga BBM di Papua  Sumber: Kementrian ESDM
Tabel 2.1 Operasional Variabel
Gambar 3.1 Struktur Organisasi Universitas Sumatera Utara  Sumber: www.usu.ac.id
Tabel 3.1 Sampel
+3

Referensi

Dokumen terkait

Untuk memperoleh laba yang lebih besar, maka perusahaan haruslah membuat rencana yang baik dalam menentukan pemilihan metode apa yang tepat dalam melakukan penilaian persediaan.

Analisis pemberian kredit oleh pihak bank, dilakukan dengan seoptimal mungkin untuk menghindari kemungkinan kredit yang diberikan tersebut mengalami kemacetan Tujuan dari penulisan

Setelah mengisi form ini dengan lengkap dan melampirkan dokumen-dokumen yang dibutuhkan, mohon segera dikirim kembali ke alamat :. Kasubdit Pemberdayaan Masyarakat Direktorat

Sehubungan dengan hal tersebut kami mohon kehadiran Ketua LP/LPPM/LPM/UPPM Perguruan Tinggi Negeri dan Koordinator Kopertis Wilayah I-XIV pada acara penandatanganan

Aortic SMC were grown in the presence of 10% fetal bovine serum (FBS) containing medium alone (control) or with either eicosapentaenoic acid (EPA) or docosahexaenoic acid (DHA) for 72

Sesi Nomor Absen 1011 BAYU MAULANA.. Nama No Ujian NIK Tanggal Jam

(2) Bagaimana peningkatan hasil belajar pada mata pelajaran SKI materi Keperwiraan Nabi Muhammad dalam perang Uhud melalui penerapan model pembelajaran kooperatif

Untuk menghilangkan benturan tersebut maka digunakan algoritma fuzzy evolusi dengan menggunakan jumlah populasi 100 dan jumlah generasi 200, sehingga diperoleh jadwal