• Tidak ada hasil yang ditemukan

Interaksi antara UNAIDS dan NGO HIV/AIDS di Afrika Selatan

Dalam dokumen UNAIDS DAN NON-GOVERNMENTAL ORGANIZATION (Halaman 53-60)

BAB III UPAYA MEMBANGUN JARINGAN BERSAMA ANTARA

3.1 Interaksi antara UNAIDS dan NGO HIV/AIDS di Afrika Selatan

Dalam melakukan fungsinya, UNAIDS tidak bekerja sendirian untuk dapat menanggulangi tingginya tingkat penderita HIV/AIDS di Afrika Selatan.

Melibatkan peran aktif dari NGO HIV/AIDS seperti mothers2mothers, SRHR

Africa Trust, dan Positive Young Women Voices di setiap kegiatan atau program

UNAIDS merupakan salah satu cara yang dilakukan untuk dapat mengurangi permasalahan di negara tersebut. NGO HIV/AIDS sendiri memiliki pengetahuan mengenai lingkungan sekitar yang lebih baik, selain itu mereka juga memahami kebutuhan dan prioritas lokal (Haque, 2004). Karena pada dasarnya, NGO merupakan lembaga yang memiliki tujuan khusus untuk melayani masyarakat yang terpinggirkan. Agar dapat merespons dan berinteraksi secara efektif dengan masyarakat, NGO harus terlibat dalam pertukaran berkelanjutan dengan lingkungan di sekitarnya (Dernberger, 2014).

Menurut Brinkerhoff (2002), suatu kemitraan harus mencakup dua komponen penting, yaitu mutuality atau kebersamaan dan organizational identity atau identitas organisasi. Mutuality mengacu pada saling ketergantungan dan komitmen di antara aktor, memiliki kesetaraan dalam pengambilan keputusan, dan memiliki hak dan tanggung jawab satu dengan yang lain. Sementara itu, organizational identity mengacu pada pemeliharaan identitas, keyakinan, dan nilai masing-masing aktor. Tetapi, dalam proses aktualnya sering kali kerjasama dipengaruhi oleh kekuatan sosial, ekonomi, dan politik dari para aktor yang terlibat. Oleh sebab itu, untuk dapat mencapai tujuan bersama, UNAIDS dan NGO HIV/AIDS harus menjalankan fungsinya dengan efektif dan efisien. Interaksi yang tercipta di antara kedua aktor ini kemudian menciptakan keadaan dimana mereka akan saling membutuhkan antara satu dengan lainnya (Brinkerhoff, 2002).

Untuk menciptakan hubungan yang selaras dengan nilai-nilai yang dimiliki oleh UNAIDS, terdapat upaya membangun jaringan bersama yang dilakukan oleh UNAIDS terhadap NGO HIV/AIDS. Sebelum mengetahui upaya tersebut, perlu diketahui terlebih dahulu bentuk kerjasama yang terjalin di antara mereka. Menurut Haque (2004), terdapat empat tipologi kerja sama yang dapat dilihat antara kerja sama organisasi internasional dengan NGO, yaitu forms, levels, institutions dan

domains yang akan dibahas sebagai berikut.

Forms. Bentuk hubungan organisasi internasional-NGO dibagi menjadi dua,

yaitu kompetisi dan kolaborasi (Haque, 2004). Bentuk hubungan kolaborasi merupakan bentuk yang paling dapat mendefinisikan interaksi yang ada di antara UNAIDS dengan ketiga NGO HIV/AIDS yang telah disebutkan sebelumnya. Hal ini disebabkan oleh adanya tujuan bersama yang kemudian memunculkan rasa memiliki identitas dan tanggung jawab yang sama dalam menanggulangi permasalahan penyebaran HIV/AIDS di Afrika Selatan. Bentuk utama kemitraan antara UNAIDS dan NGO HIV/AIDS berupa pelaksanaan program bersama oleh kedua aktor yang didalamnya terdapat sub-contract yang mana NGO HIV/AIDS dapat melakukan pelayanan dan advokasi langsung ke sektor publik di daerah yang kurang terjangkau oleh pemerintahan Afrika Serikat dan UNAIDS memberikan dukungan berupa finansial dan dukungan logistik secara langsung (Corcoran, 2008).

UNAIDS bekerja sama dengan NGO sebagai pelaksana. Pada tahun 2012, hamper 60% dari total anggaran UNAIDS yang dikeluarkan oleh mitra, termasuk PBB dan lembaga pemerintah, dialokasikan untuk mitra masyarakat sipil atau

NGO. Lebih dari 70% mitra NGO tersebut adalah organisasi lokal, yang memiliki pengetahuan tentang konteks dan budaya lokal, serta kapasitas mereka untuk beroperasi dengan cepat dalam berbagai situasi. Dukungan teknis dan upaya peningkatan kapasitas UNAIDS memungkinkan organisasi lokal untuk memprioritaskan tindakan selama keadaan darurat, termasuk manajemen logistik dan keuangan (UNAIDS, 2014). Kegiatan ini juga melibatkan program pelatihan dan penyebaran informasi yang dilakukan oleh NGO dengan menggunakan

guidelines yang telah diberikan oleh UNAIDS sebagai alat untuk advokasi,

interpretasi, dan pemantauan (UNAIDS, 2014).

Levels. Dalam tingkat kerja sama dapat dibagi menjadi dua, yaitu tingkat international dan national local. Dalam hal ini, NGO HIV/AIDS di Afrika Selatan

seperti mothers2mothers, SRHR Africa Trust, dan Positive Young Women Voices memiliki afiliasi dengan berbagai stakeholder, salah satunya dengan organisasi internasional yaitu UNAIDS (UNAIDS, 2020). Sehingga, dapat dikatakan bahwa tingkat kerjasama antara UNAIDS dengan NGO HIV/AIDS di Afrika Selatan berada di tingkat internasional. Hubungan kerja sama ini berdasarkan pada dukungan keuangan dan bantuan teknis, serta upaya dan kolaborasi yang dilakukan bersama. Untuk mengadvokasi guidelines dari UNAIDS, NGO harus memperoleh konsensus tentang penerimaan mereka dan menetapkan strategi bersama dengan mitra pemerintah dan non-pemerintah sebagai dasar untuk memantau guidelines (UNAIDS, 2014). Selain itu, mothers2mothers juga memiliki afiliasi dengan

United States Agency for International Development (USAID), Liechtenstein Global Trust (LGT), dan Bickerstaff Family Foundation (mothers2mothers, 2020). SRHR Africa Trust memiliki afiliasi dengan UNAIDS dan WHO (UNAIDS, 2020).

Serta, Positive Young Women Voices memiliki afiliasi dengan Environmental

Public Health Association of Kenya (EPHAK), The Elizabeth Glaser Pediatric AIDS Foundation (EGPAF), The International Community of Women Living with HIV/AIDS (ICW), Sauti Skika, dan Ambassador for Youth and Adolescent Rep Health Programme (AYARHEP) (PYWV, 2020).

Institutions. Dalam hal institusi atau kelembagaan, terdapat mekanisme dan

pengaturan yang telah terstruktur. Guna dari mekanisme dan pengaturan ini adalah untuk meningkatkan interaksi antara satu aktor dengan aktor lainnya seperti dengan melakukan forum dialog (Haque, 2004). Dalam hal ini, UNAIDS memiliki

Programme Coordinating Board (PCB) yang mana NGO HIV/AIDS turut

tergabung di dalamnya. Program ini dapat menjadi sebuah forum dialog untuk melakukan kegiatan yang berhubungan dengan penyelesaian permasalah HIV/AIDS dengan menetapkan kebijakan dan prioritas yang luas untuk program bersama (Corcoran, 2008). Pada dasarnya, NGO HIV/AIDS sudah berada di garis depan sejak epidemi dimulai. Melalui PCB ini, UNAIDS membangun jembatan kerja sama dengan NGO yang mana mereka dapat terlibat langsung dalam aksi AIDS berupa bekerja di bidang yang relevan seperti kemajuan perempuan, hak asasi manusia, kesejahteraan anak, dan pengentasan kemiskinan (UNAIDS, 2013). Hal ini dapat memperkuat hubungan dan jaringan yang kemudian menciptakan suasana yang kondusif untuk kemitraan antara UNAIDS dengan NGO HIV/AIDS Afrika Selatan.

Domains. Domains merupakan cakupan masalah yang kemudian dijadikan

UNAIDS dengan NGO HIV/AIDS terlihat dengan jelas, yaitu berusaha untuk dapat mengentaskan permasalah HIV/AIDS, dalam topik ini terutama HIV/AIDS yang berada di Afrika Selatan. Namun, dalam NGO HIV/AIDS yang digunakan dalam tulisan ini memiliki fokus yang berbeda-beda antara satu NGO dengan NGO lainnya. Sehingga, NGO HIV/AIDS tersebut memiliki prioritas yang berbeda-beda juga mengikuti tujuan dari pembentukan NGO HIV/AIDS itu sendiri. Dalam hal ini, setiap NGO HIV/AIDS ini memiliki rangkaian prioritas yang berbeda dalam menangani permasalah HIV/AIDS di Afrika Selatan. Fungsi dari UNAIDS sendiri dalam domain ini adalah sebagai sponsor dalam bentuk finansial dan teknis (Corcoran, 2008). Selain itu, sembari mengadvokasi pelayanan kesehatan, UNAIDS juga memanfaatkan setiap kesempatan untuk memperluas respons medis. Hal ini memerlukan penempaan kemitraan dengan NGO dan industri farmasi untuk mendapatkan akses terhadap obat-obatan yang diperlukan dalam menangani HIV/AIDS (UNAIDS, 2013).

Keempat tipologi ini yang kemudian menjadi landasan pemikiran yang menjelaskan bentuk kerja sama yang dilakukan antara UNAIDS dan NGO HIV/AIDS guna mengetahui tujuan dari kedua aktor tersebut yang kemudian mengetahui bagaimana mereka berinteraksi antara satu dengan yang lain untuk mengaplikasikan tujuan bersama. Interaksi yang terjalin di antara UNAIDS dan NGO HIV/AIDS kemudian meyakinkan UNAIDS untuk melakukan kerja sama antara satu dengan yang lain. Namun, interaksi ini bukanlah satu-satunya faktor yang membuat terbentuknya kerja sama. Terdapat faktor pendorong dan faktor penarik yang kemudian membuat situasi saling membutuhkan terhadap peran masing-masing aktor, dalam hal ini UNAIDS sebagai sponsor dan NGO HIV/AIDS

sebagai pelaksana program. Keseriusan dalam melakukan kerja sama ini kemudian menuntun kedua aktor untuk menerapkan implementasi kebijakan bersama.

Ruang lingkup kerjasama yang terjalin antar UNAIDS dan NGO HIV/AIDS semakin berkembang dengan latar belakang yang beragam. Prioritas dalam kerjasama seringkali bergantung pada jenis tugas dan sektor yang terlibat serta konteks di mana kemitraan tersebut dijalankan (Haque, 2004). Sebagai negara yang memiliki tingkat HIV/AIDS tertinggi di dunia dan kurangnya sumber daya untuk dapat menanggulanginya dengan cepat dan tanggap, wajar bagi Afrika Selatan untuk menerima bantuan dari badan yang dibuat khusus untuk menangani permasalahan HIV/AIDS seperti UNAIDS. Namun dalam implementasinya, UNAIDS tidak sepenuhnya dapat membantu dengan program-program mereka secara langsung ke masyarakat dan sektor publik di Afrika Selatan. Karenanya, dibutuhkan peran NGO HIV/AIDS yang dapat berhubungan secara langsung dengan masyarakat untuk dapat menjalankan agenda yang telah dirancang oleh UNAIDS. Disamping itu, NGO HIV/AIDS ini merupakan organisasi non-profit yang mana mereka membutuhkan sponsor untuk dapat menjalankan fungsi mereka dengan efektif dan efisien. Oleh sebab itu, UNAIDS dalam hal ini dapat bertindak sebagai sponsor bagi NGO HIV/AIDS Afrika Selatan dan sebagai gantinya NGO tersebut membantu UNAIDS mewujudkan program-program mereka. Kerja sama antara UNAIDS dan NGO HIV/AIDS di Afrika Selatan ini dapat membangun pembangunan manusia dan pemberdayaan sosial di negara tersebut.

3.2 Upaya Membangun Jaringan Bersama antara UNAIDS dengan NGO

Dalam dokumen UNAIDS DAN NON-GOVERNMENTAL ORGANIZATION (Halaman 53-60)

Dokumen terkait