BAB V HASIL
A. Analisis Univariat
7. Interaksi dengan Teman
Tingkat skor dari pertanyaan tentang
kegiatan yang
dilakukan dan makanan
yang dikonsumsi
karena ajakan dari teman
Mengisi pertanyaan
kuesioner Kuesioner
0. Kuat apabila skor ≥ median 1. Lemah apabila skor < median
(Saifah, 2011) Ordinal
8 Aktivitas fisik siswa
Tingkat skor dari pertanyaan tentang
kegiatan yang
dilakukan anak selama satu minggu terakhir
baik yang mengeluarkan banyak keringat seperti berolahraga, maupun kegiatan bersantai seperti duduk-duduk Mengisi kuesioner
aktivitas fisik Kuesioner
0. Kurang aktif, apabila skor aktivitas fisik < mean
1. Aktif apabila skor aktivitas fisik ≥ mean
(Kowalski dkk., 2004)
C. Hipotesis
1. Terdapat hubungan antara jenis kelamin dengan asupan energi siswa kelas 5 dan 6 SDIT Al Syukro Universal.
2. Terdapat hubungan antara praktek pemberian makan dengan asupan energi siswa kelas 5 dan 6 SDIT Al Syukro Universal.
3. Terdapat hubungan antara ketersediaan makan di rumah dengan asupan energi siswa kelas 5 dan 6 SDIT Al Syukro Universal.
4. Terdapat hubungan antara asupan energi ibu dengan asupan energi siswa kelas 5 dan 6 SDIT Al Syukro Universal.
5. Terdapat hubungan antara pengetahuan ibu dengan asupan energi siswa kelas 5 dan 6 SDIT Al Syukro Universal.
6. Terdapat hubungan antara interaksi dengan teman dengan asupan energi siswa kelas 5 dan 6 SDIT Al Syukro Universal.
7. Terdapat hubungan antara aktivitas fisik dengan asupan energi siswa kelas 5 dan 6 SDIT Al Syukro Universal.
BAB IV
METODE PENELITIAN
A. Design Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain studi cross sectional tentang faktor-faktor yang berhubungan dengan asupan energi siswa kelas 5 dan 6 SDIT Al Syukro Universal tahun 2015. Variabel independen dalam penelitian ini adalah praktek pemberian makan, ketersediaan makanan di rumah, pengetahuan ibu, asupan energi ibu, interaksi dengan teman serta aktivitas fisik anak. Sementara variabel dependen dalam penelitian ini adalah asupan energi siswa kelas 5 dan 6 yang bersekolah di SDIT Al Syukro Universal Kota Tangerang Selatan.
B. Waktu dan lokasi penelitian
Penelitian ini dilakukan di SDIT Al Syukro Universal Kota Tangerang Selatan mulai dari bulan Mei 2015 hingga Agustus 2015.
C. Populasi dan Sampel Penelitian
1. Populasi
Populasi pada penelitian ini adalah siswa beserta ibu dari masing-masing siswa kelas 5 yang berjumlah 57 siswa dan kelas 6 dengan jumlah siswa sebanyak 72. Sehingga total dari seluruh populasi penelitian ini berjumlah 129 pasang ibu dan siswa yang
bersekolah di SDIT Al Syukro Universal pada tahun ajaran 2015-2016.
2. Sampel
Sampel pada penelitian ini adalah seluruh total populasi dari pasangan ibu dan siswa kelas 5 dan 6 SDIT Al Syukro Universal. Berdasarkan jumlah populasi yang ada, didapatkan jumlah responden pada penelitian ini sebanyak 129 pasang ibu dan siswa. Untuk mengetahui kekuatan dari jumlah sampel tersebut, dilakukan perhitungan tingkat uji (Z1- β) menggunakan rumus berikut ini:
1 − = √[ ( − )2− 1 − (1 − ) 2]
√[ (1 − ) + (1 − )]
Keterangan :
n = besar sample minimal Z1 – α/2 = derajat kemaknaan Z1 - β = tingkat kekuatan uji
P1 = Proporsi 1, menggunakan proporsi pengetahuan ibu yang baik dengan asupan energi anak yang rendah, dengan nilai P sebesar 0.78
P2 = Proporsi 2, menggunakan proporsi pengetahuan ibu yang kurang dengan asupan energi anak yang kurang, dengan nilai P sebesar 0.26
Berdasarkan rumus diatas, didapatkan tingkat kekuatan uji untuk sampel sebanyak 129 orang ibu dan anak sebesar 82.5% sehingga dapat dikatakan bahwa jumlah sampel tersebut cukup kuat untuk digunakan dalam menguji hipotesis penelitian ini. Namun pada proses pengumpulan data, hanya didapatkan sampel sebanyak 122 orang siswa dan ibu siswa. Berkurangnya jumlah sampel tersebut dikarenakan adanya 1 orang siswa tidak melanjutkan kembali studinya di SDIT Al Syukro Universal, sedangkan 6 orang siswa lainnya tidak menjadi sampel penelitian dikarenakan ketidaksediaan ibu siswa untuk mengikuti penelitian terkait faktor-faktor yang berhubungan dengan asupan energi siswa kelas 5 dan 6 SDIT Al Syukro Universal tahun 2015. Jumlah sampel sebanyak 122 orang ini juga memiliki tingkat kekuatan uji sebesar 82.5%, sehingga jumlah sampel tersebut masih cukup kuat untuk digunakan dalam menguji hipotesis penelitian ini.
D. Metode pengumpulan data
1. Jenis data
Pengumpulan data pada penelitian ini dilakukan dengan cara mengumpulkan data primer melalui pengisian formulir 3-days food recall dan kuesioner aktivitas fisik bagi siswa serta pengisian kuesioner praktek pemberian makan, ketersediaan makanan, pengetahuan gizi dan formulir 3-days food record oleh ibu dari siswa. Sementara data sekunder didapatkan dari sekolah berupa data jumlah dari siswa dan ibu siswa kelas 5 dan 6 yang bersekolah di sekolah
tersebut, serta data tinggi badan dan berat badan dari siswa yang digunakan dalam studi pendahuluan.
2. Mekanisme pengumpulan data
Pengumpulan data untuk kebutuhan analisis setiap variabel, dilakukan sesuai dengan mekanisme berikut ini:
a. Asupan energi siswa
Peneliti mengajukan pertanyaan kepada responden terkait makanan yang dikonsumsinya selama 3 hari yang terdiri dari 2 hari pada hari sekolah dan 1 hari pada akhir pekan. Instrumen
food recall yang digunakan ini didapat dari Kementrian Kesehatan Republik Indonesia tahun 2013.
Setelah dilakukan pencatatan makanan selama 3 hari, daftar makanan yang dikonsumsi oleh siswa selama 3 hari tersebut akan dihitung jumlah asupan energi per harinya menggunakan program nutrisurvey untuk kemudian dihitung rata-rata asupan energi dari masing-masing siswa. Setelah didapatkan hasil rata-rata konsumsi perharinya, data akan ditransformasi menjadi dua kelompok, yaitu (Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2014).
0. Asupan tidak sesuai, apabila rata-rata asupan energi >130% AKE 2013 sesuai golongan usia atau rata-rata asupan energi<70% AKE 2013 sesuai golongan usia
1. Asupan sesuai apabila rata-rata asupan energi 70% ≤ asupan energi ≤130% AKE 2013
b. Jenis kelamin
Jenis kelamin dari setiap anak diukur menggunakan instrumen kuesioner yang akan langsung dijawab oleh siswa berupa pertanyaan terkait jenis kelamin siswa dengan 2 buah pilihan jawaban, yaitu laki-laki dan perempuan. Setelah pertanyaan tersebut terisi, peneliti akan melakukan pengecekan agar tidak ada kuesioner yang tidak terisi. Setelah itu, kuesioner yang sudah terisi tersebut akan diberikan kode pada pilihan jawaban jenis kelamin siswa, kode tersebut antara lain:
0. Perempuan 1. Laki-laki
Setelah pengodean dilakukan, data jenis kelamin yang ada akan dimasukkan ke dalam perangkat lunak computer untuk kemudian dilakukan analisis lebih lanjut.
c. Praktek pemberian makan
Praktek pemberian makan ini diukur menggunakan instrumen kuesioner pada pernyataan-pernyataan pada kolom A mulai dari nomor 1 sampai 18. Instrumen ini dibuat berdasarkan kuesioner praktek pemberian makan dari Birch yang kemudian diubah menggunakan Bahasa Indonesia dan digunakan pada
penelitian yang dilakukan di beberapa Sekolah Dasar di Jabodetabek (Kolopaking dkk., 2015).
Ibu dari siswa akan diberikan kuesioner yang di dalamnya terdiri dari 8 kolom yang salah satu kolomnya berisikan pertanyaan untuk mengukur praktek pemberian makan siswa SDIT Al Syukro Universal. Paket kuesioner tersebut diberikan kepada ibu melalui siswa untuk diisi oleh ibu di rumah. Paket kuesioner juga disertai oleh surat pengantar dari sekolah yang ditujukan kepada ibu, agar ibu berkenan mengisi paket kuesioner yang diberikan oleh peneliti untuk kepentingan penelitian yang dilakukan oleh peneliti.
Pada lembar pertama kuesioner, peneliti memberikan prosedur petunjuk cara pengisian kuesioner bersamaan dengan pernyataan ibu bersedia menjadi responden dalam penelitian ini. Setelah ibu mengisi kuesioner tersebut, kuesioner kembali diberikan kepada siswa untuk dikembalikan kepada peneliti. Setelah kuesioner dikembalikan, peneliti melakukan pengecekan terhadap kuesioner untuk memastikan kuesioner terisi dengan lengkap.
Setelah kuesioner terisi, jawaban yang diberikan oleh ibu siswa akan diberikan kode-kode mulai dari angka 1-5 sesuai dengan model pernyataan yang positif atau negatif. Apabila model pernyataan merupakan model positif, maka kode 1 akan
diberikan pada pernyataan dengan jawaban tidak pernah, kode 2 pada jawaban pernyataan jarang, hingga kode 5 akan diberikan pada jawaban pernyataan sangat sering. Sementara pada model pernyataan yang negatif, kode 1 diberikan pada pernyataan dengan jawaban sangat sering, hingga kode 5 dengan jawaban tidak pernah.
Setelah seluruh pernyataan selesai diberikan kode, kode-kode tersebut dimasukkan ke dalam perangkat lunak komputer untuk dihitung jumlah skor yang didapat dari seluruh sampel. Setelah jumlah skor dari seluruh sampel didapatkan, dilakukan uji normalitas data. Hasil normalitas data menunjukkan bahwa data yang didapat dari setiap sampel merupakan data yang tidak normal, sehingga dilakukan transformasi data menggunakan median dari jumlah skor setiap sampel. Kategori dari transformasi data tersebut adalah sebagai berikut:
0. Kurang apabila skor < median
1. Baik apabila skor ≥ median (Bertram, 2009)
d. Ketersediaan makanan
Ketersedian makanan ini diukur menggunakan instrumen kuesioner pada pertanyaan kolom B mulai dari nomor 1 sampai 4. Instrumen ini dibuat berdasarkan kuesioner ketersediaan makanan dalam keluarga yang berasal dari penelitian sebelumnya (Eisenberg dkk., 2012). Kuesioner serupa juga
pernah digunakan dalam penelitian yang dilakukan di Jabodetabek pada tahun 2014 (Kolopaking dkk., 2015).
Pilihan yang disediakan oleh peneliti untuk menilai ketersediaan makanan adalah ketersediaan sayur, buah, makan ringan seperti chiki dll dan makanan tambahan seperti kue, donat dll. Makanan tinggi energi lainnya seperti mie instan, termasuk ke dalam kategori makanan tambahan, namun tidak dijabarkan oleh peneliti. Makanan tambahan dimasukkan ke dalam pilihan makanan untuk menilai ketersediaan makanan karena anak yang disediakan makanan tambahan di rumah, akan menurunkan motivasinya untuk mengonsumsi makanan yang kaya nutrisi sehingga anak akan cenderung untuk mengonsumsi makanan tambahan yang padat energi (Hill dkk., 1998).
Sayur dan buah dipilih sebagai bahan makanan yang dijadikan pilihan dalam penyediaan makanan di rumah lantaran anak dengan ketersediaan sayur dan buah yang baik di rumah cenderung memiliki preferensi untuk memilih sayur dan buah sebagai makanan selingan mereka dibandingkan makanan tinggi energi dan lemak seperti keripik kentang dan goreng-gorengan. Anak yang lebih memilih sayur dan buah sebagai makanan tambahan dan selingannya ini menunjukkan bahwa anak tidak banyak mengonsumsi makanan tinggi energi (Hill dkk., 1998).
Setelah kuesioner terisi, jawaban dari kuesioner diberikan kode seperti yang diberikan pada variabel praktek pemberian makan. Setelah diberikan kode, kode-kode tersebut dimasukkan ke dalam perangkat lunak komputer untuk kemudian diuji kenormalan datanya. Berdasarkan hasil uji normalitas data, diketahui bahwa data yang diperoleh merupakan data yang normal sehingga dilakukan transformasi untuk menghasilkan dua buah kategori menggunakan mean, dengan kategori sebagai berikut:
0. Kurang apabila skor < mean
1. Baik apabila skor ≥ mean (Bertram, 2009)
e. Pengetahuan gizi ibu
Pengetahuan gizi ibu ini diukur menggunakan instrumen kuesioner yang didapat dari penelitian yang dilakukan di Semarang yang diwakili oleh pertanyaan-pertanyaan pada kolom C pertanyaan nomor 1 sampai 5 (Anjani, 2013). Setelah ibu mengisi pertanyaan dan dilihat kelengkapannya, peneliti memasukan hasil dari jawaban ibu ke dalam perangkat lunak komputer. Setelah data dimasukkan, dilakukan transformasi data untuk kemudian dibuat menjadi 2 kategori, yaitu:
0. Kurang apabila jawaban benar ≤ 80%
f. Asupan energi ibu
Ibu siswa yang dijadikan responden akan diminta untuk mengisi formulir 3x24 hours food record untuk melihat makanan yang dikonsumsi oleh ibu selama 3 hari yang terdiri dari 2 hari kerja dan 1 hari akhir pekan. Setelah melakukan pengisian terhadap formulir yang diberikan, hasil pencatatan makanan selama 3 hari dimasukkan ke dalam software perhitungan zat gizi untuk dihitung rata-rata asupan energinya perhari. Setelah di masukkan ke dalam software komputer untuk dihitung rata-rata asupan energinya, hasil rata-rata dari setiap ibu kemudian ditransformasi menjadi dua kelompok, yaitu (Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2014):
0. Asupan tidak sesuai, apabila rata-rata asupan energi >130% AKE 2013 sesuai golongan usia atau rata-rata asupan energi<70% AKE 2013 sesuai golongan usia
1. Asupan sesuai apabila rata-rata asupan energi 70% ≤ asupan energi ≤ 130% AKE 2013
g. Interaksi dengan teman
Interaksi dengan teman diukur menggunakan intrumen kuesioner berupa pernyataan-pernyataan terkait peran teman dalam praktek makan siswa yang diisi langgung oleh siswa dibawah pengawasan langsung dari peneliti. Kuesioner ini didapat dari penelitian yang pernah dilakukan di Kota Palu
dengan sasaran yang sama, yaitu siswa SD (Saifah, 2011). Kuesioner ini terdiri dari 9 buah pernyataan yang masing-masing pernyataan dijawab oleh siswa dengan pilihan ‘ya’ atau ‘tidak’. Setelah seluruh pernyataan terisi, peneliti melakukan pengecekan terhadap kuesioner yang terkumpul. Setelah itu, pilihan-pilihan dari siswa dimasukkan ke dalam perangkat lunak komputer sesuai dengan jenis pertanyaannya (jenis pertanyaan positif atau negatif) untuk kemudian di uji normalitas datanya. Hasil uji normalitas menunjukkan bahwa data yang didapat bukan merupakan data yang normal, sehingga dilakukan transformasi menggunakan median dan dikelompokkan menjadi 2 buah kelompok, yaitu:
0. Kuat, apabila skor ≥ median 1. Lemah, apabila skor < median
h. Aktivitas Fisik
Instrumen untuk mengukur aktivitas fisik adalah kuesioner aktivitas fisik untuk anak (Kowalski dkk., 2004). Kuesioner tersebut kemudian dialihbahasakan ke dalam Bahasa Indonesia dan diuji validitas dan reliabilitasnya. Pada proses pengujian validitas kuesioner, ditemukan dua buah pertanyaan yang tidak valid, sehingga dilakukan perubahan kalimat yang dijelaskan pada sub bab uji validitas. Setelah dilakukan uji validitas ulang terhadap kuesioner yang telah diubah redaksi kalimatnya,
perubahan kalimat tersebut diketahui tidak lantas membuat pertanyaan tersebut menjadi valid. Oleh karena itu, peneliti kemudian mengeluarkan dua buah pertanyaan tersebut. Setelah seluruh pertanyaan valid, dilakukan uji reliabilitas yang menunjukkan bahwa seluruh pertanyaan pada kuesioner reliabel untuk dijadikan instrumen dalam pengukuran aktivitas fisik.
Setelah pengurangan dua buah pertanyaan tersebut, pertanyaan yang dijadikan alat ukur dalam kuesioner aktivitas fisik pada penelitian ini diwakili oleh 30 pertanyaan yang akan dijawab langsung oleh siswa dibawah pengawasan peneliti untuk menjaga independensi kuesioner yang diisi oleh siswa. Setelah kuesioner terisi, jawaban dari kuesioner dimasukkan ke dalam perangkat lunak komputer untuk dilakukan uji normalitas data. Hasil uji normalitas menunjukkan bahwa data yang didapat merupakan data yang normal, sehingga dilakukan transformasi data menggunakan mean untuk menghasilkan dua buah kategori, yaitu:
1. Kurang aktif apabila skor aktivitas fisik < mean 2. Aktif apabila skor aktivitas fisik ≥ mean
E. Manejemen data
Pengolahan data dilakukan menggunakan software komputer melalui beberapa tahapan sebagai berikut:
1. Editing
Pengecekan data terhadap lembar kuesioner dilakukan selama proses pengumpulan data yang bertujuan untuk memastikan semua variabel terisi. Selama proses tersebut dilakukan penyuntingan oleh peneliti agar data yang salah atau meragukan dapat ditelusuri kembali kepada responden yang bersangkutan.
2. Coding
Proses pengkodean dilakukan terhadap beberapa jawaban dari pertanyaan terkait variabel-variabel yang ada dalam penelitian ini, yaitu praktek pemberian makan, ketersediaan makanan di rumah, pengetahuan ibu, interaksi dengan teman serta aktivitas fisik siswa. Kode yang diberikan pada pilihan-pilihan jawaban tersebut berupa angka 1 hingga 5, sesuai dengan pilihan jawaban dari setiap pertanyaan. Khusus untuk variabel jenis kelamin, kode yang diberikan adalah angka 0 dan angka 1 untuk pilihan jawabannya. Pengkodean ini diberikan untuk memudahkan peneliti saat memasukkan data ke dalam perangkat lunak saat akan melakukan analisis data.
3. Entry data
Setelah seluruh pertanyaan dari masing-masing variabel dari kuesioner sudah dipastikan terjawab seluruhnya, jawaban-jawaban dari kuesioner tersebut dimasukkan ke dalam perangkat lunak yang akan digunakan untuk menganalisis data-data yang ada dari setiap siswa dan ibu siswa.
4. Transformasi data
Setelah seluruh data dari seluruh kuesioner selesai dimasukkan ke dalam perangkat lunak, data-data tersebut kemudian dijumlahkan menurut variabelnya masing-masing untuk diberikan skor. Setelah skor dari setiap variabel didapatkan, skor-skor tersebut di transformasi ke dalam beberapa kelompok berdasarkan nilai skor dari masing-masing variabel.
5. Cleaning
Selanjutnya dilakukan pembersihan data atau pengecekan kembali untuk memastikan tidak ada kesalahan dalam melakukan entry.
Pembersihan data perlu dilakukan untuk membersihkan data dari kesalahan yang mungkin terjadi. Dalam pembersihan data dilakukan pula pengecekan ulang dengan melihat distribusi frekuensi variabel dan menilai kelogisan serta konsistensinya.
F. Uji Instrumen Penelitian
Instrumen penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah formulir
food recall dan food record dari Kementrian Kesehatan serta beberapa jenis kuesioner yang telah digunakan pada penelitian sebelumnya. Kuesioner-kuesioner tersebut digunakan untuk mengukur praktek pemberian makan, ketersediaan makanan, pengetahuan ibu, interaksi dengan teman serta aktivitas fisik siswa. Untuk mengetahui ketepatan kuesioner yang akan digunakan dalam pengukuran variabel penelitian, dilakukan uji validitas dan reliabilitas kepada siswa kelas 5 dan 6 serta ibu dari siswa kelas 5 dan 6 dari Sekolah Dasar lainnya yang memiliki
karakteristik yang mirip dengan SDIT Al Syukro Universal. Sekolah yang dimaksud adalah Madrasah Ibtidaiyah Negeri 2 Ciputat Timur. Berikut merupakan uji validitas dan reliabilitas yang dilakukan oleh peneliti:
1. Uji Validitas
Uji validitas dilakukan untuk mengetahui sejauh mana ketepatan suatu alat ukur dalam mengukur suatu data (Hastono, 2007). Untuk mengetahui validitas dari instrumen yang digunakan, dilakukan dengan cara mengukur korelasi setiap pertanyaan pada instrumen penelitian yang dalam penelitian ini berupa kuesioner untuk mengetahui praktek pemberian makan anak dan aktivitas fisik anak dengan skor total variabel dari nilai corrected item correlation pada hasil reability. Nilai r tabel yang digunakan dalam uji validitas kuesioner praktek pemberian makan untuk 21 orang responden dengan nilai α= 5% adalah 0.433. Sementara untuk kuesioner aktivitas fisik dan interaksi dengan teman, nilai r tabel yang digunakan untuk 65 orang responden dengan nilai α= 5% adalah 0.224. Pertanyaan pada kuesioner dikatakan valid apabila nilai r hitung > nilai r tabel.
Pada uji validitas yang dilakukan untuk kuesioner praktek pemberian makan anak, dari delapan belas pertanyaan yang terdapat pada kuesioner, seluruh pertanyaan memiliki nilai r lebih besar dari nilai tabel r. Sehingga dapat dikatakan bahwa seluruh pertanyaan valid untuk mengukur praktek pemberian makan anak. Pada kuesioner aktivitas fisik, uji validitas menunjukkan sebanyak dua buah pertanyaan dari tiga puluh dua
pertanyaan memiliki nilai r yang lebih kecil dari nilai r tabel, sehingga dapat dikatakan bahwa kedua pertanyaan tersebut tidak valid.
Dua buah pertanyaan yang dimaksud adalah pertanyaan terkait status sakit yang dialami oleh siswa selama satu minggu terakhir yang menyebabkan siswa tidak dapat melakukan aktivitas fisik dan aktivitas fisik apa yang dilarang untuk dilakukan oleh siswa. Peneliti kemudian mengganti kalimat pada dua buah pertanyaan tersebut yang sebelumnya berbunyi “Apakah kamu sakit dalam satu minggu terakhir?” menjadi “Apakah kamu pernah sakit sampai tidak boleh berkativitas dalam satu minggu terakhir?”. Sedangkan pertanyaan lainnya yang diubah adalah “Jika ya, apakah ada kegiatan yang kamu hindari dari kegiatan yang biasanya kamu lakukan setiap harinya?”, diubah menjadi “Jika ya, aktivitas apa yang tidak boleh kamu lakukan selama kamu sakit?”. Diubahnya kedua pertanyaan tersebut dikarenakan adanya kebingungan dari siswa yang menjawab pertanyaan tersebut. Kalimat yang digunakan sebagai pengganti dari pertanyaan sebelumnya diharapkan akan lebih mudah dimengerti oleh siswa saat menjawab.
Setelah dilakukan perubahan kalimat pada dua buah pertanyan tersebut, dilakukan kembali uji validitas dan reliabilitas. Namun, berdasarkan uji validitas dan reliabilitas ulang yang dilakukan, kedua pertnyaan tersebut masih memiliki nilai r yang lebih kecil dari nilai tabel r. Peneliti kemudian mengeluarkan dua buah pertanyaan tersebut dari kuesioner karena pertanyaan tersebut masih menyebabkan siswa
kebingungan dalam proses pengisian kuesioner. Selain itu alasan dikeluarkannya kedua pertanyaan tersebut adalah jawaban yang homogen dari seluruh siswa yang dijadikan sampel dalam uji validitas kuesioner ini.
Pada kuesioner pengetahuan ibu, ketersediaan makan dan interaksi siswa dengan teman, peneliti melakukan uji validitas dengan menanyakan setiap pertanyaan kepada 20 orang siswa dan 21 orang ibu siswa kelas 5 dan 6. Apabila siswa dan ibu siswa dapat menjawab pertanyaan tersebut tanpa adanya pertanyaan untuk menanyakan kejelasan dari pertanyaan yang dimaksud oleh peneliti, maka dapat dikatakan bahwa pertanyaan tersebut valid karena dapat dengan mudah dipahami oleh ibu siswa.
Sejumlah empat buah pertanyaan pada kuesioner ketersediaan makanan dapat dijawab oleh ibu siswa tanpa adanya pertanyaan tambahan dari ibu siswa untuk meminta kejelasan, sehingga dapat dikatakan bahwa keempat pertanyaan tersebut valid. Sejumlah lima buah pertanyaan untuk mengukur pengetahuan ibu, ditanyakan oleh peneliti kepada 21 orang ibu siswa yang juga dijawab dengan cepat oleh ibu siswa tanpa adanya kebingungan dari maksud pertanyaan dalam kuesioner tersebut. Sehingga dapat dikatakan pula kelima pertanyaan valid untuk mengukur pengetahuan ibu. Kuesioner untuk menghitung interaksi siswa dengan teman juga dilakukan terhadap 20 orang siswa yang ditanya secara langsung oleh peneliti. Selama proses uji validitas berlangsung, seluruh siswa yang ditanyai dapat menjawab enam buah pertanyaan yang diajukan oleh peneliti dengan cepat tanpa adanya kebingungan. Sehingga keenam
pertanyaan tersebut juga dapat dikatakan valid untuk mengukur interaksi dengan teman.
2. Uji Reliabilitas
Reliabilitas adalah suatu ukuran yang menunjukkan suatu alat ukur dapat menghasilkan hasil yang konsisten meskipun dilakukan di waktu yang berbeda dengan kuesioner yang sama (Hastono, 2007). Pengukuran reliabilitas instrumen dapat dilakukan dengan dua buah cara, yaitu
reapeted measure dan one shot (Hastono, 2007). Reapeted measure
merupakan cara pengukuran reliabilitas yang dilakukan lebih dari satu kali pada waktu yang berbeda untuk dilihat konsistensi dari jawaban yang