HASIL DAN PEMBAHASAN
5.1. Interaksi di Ruang Publik
Ciri khas masyarakat plural di Kecamatan Sumerta terlihat dengan jelas dari permukaan, karena baik penduduk lokal maupun para migran masih bisa mempertahankan batas-batas kebudayaannya secara tegas. Sangat jarang terjadi interaksi lintastruktur maupun lintasmasyarakat dan jika pun ada, arenanya berada di ruang publik, terutama pasar (dalam pengertian luas) yang berlangsung di atas suatu kepentingan.
Interaksi lintasmasyarakat di ruang publik ini menjadi tidak terhindarkan karena pada akhirnya para migran itu lebih banyak bergerak di sektor jasa. Pada
awalnya ketika baru tiba di Bali, mereka bekerja pada keluarganya atau orang lain sebagai bawahan. Akan tetapi seiring dengan berkembangnya waktu mulailah mereka membuka usaha sendiri untuk bertahan hidup. Bekerja dengan orang lain seringkali menimbulkan rasa jenuh yang hanya dapat diatasi dengan cara membuka usaha sendiri atau mandiri, dengan perhitungan bisa mendapatkan hasil semaksimal mungkin.83
Banyak pilihan usaha yang bisa dikelola sendiri oleh para migran mulai dari servis barang elektronik, bengkel kendaraan, warung makan, penjual jamu, laundry pakaian, dan catering makanan. Pilihan jenis usaha disesuiakan dengan minat dan kekuatan modal yang dimliki oleh masing-masing migran. Pada umumnya mereka memulai suatu usaha dengan menggunakan modal seadanya.
Akan tetapi dalam perjalanan waktu usaha kecil mereka berkembang menjadi usaha. Ada pula yang kemudian berkembang menjadi usaha yang lumayan besar.84
Demi dapat meningkatkan kinerja perusahaannya, mereka mulai menambah jumlah pekerja dengan lebih mengutamakan anggota keluarga dan orang-orang yang sekampung. Dengan cara ini mereka berharap ikut berperan dalam memajukan perekonomian orang-orang terdekatnya. Faktor inilah yang menyebabkan banyaknya migran asal Jawa Timur yang tinggal di Kelurahan Sumerta memiliki hubungan tali persaudaraan. Akan tetapi tidak semua migran
83 Sama dengan di atas.
84 Sama dengan di atas.
bersikap primordial seperti itu, karena ternyata cukup banyak pula yang mengambil kebijakan merekrut penduduk lokal.85
Di sisi lain, perkembangan usaha yang berlangsung secara bertahap tersebut menjadi sebab terdekat dari munculnya kekuatan para migran untuk bisa bertahan tinggal di Kelurahan Sumerta selama satu dekade. Sebagian besar dari mereka menyatakan tidak ingin pindah ke tempat lain, bahkan di antaranya ada yang memutuskan menjadi anggota banjar dinas, sehingga berhak mendapatkan KTP yang dikeluarkan oleh Kodya Denpasar Bali. Sekalipun tidak tinggal di rumah milik sendiri, namun menjadi anggota banjar dinas merupakan suatu pilihan rasional bagi migran yang sudah mempunyai usaha dan penghasilan tetap di Kelurahan Sumerta. 86
Hal itu memungkinkan karena sekalipun tinggal di rumah atau tanah kontrakan, para migran bisa saja menjadi anggota banjar dinas di kelurahan Sumerta, asalkan mereka membawa surat keterangan pindah bermukim dari daerah asal. Jadi tidak ada perbedaan antara miran yang sudah punya tanah sendiri dengan yang masih tinggal di tanah atau rumah kontrakan dalam hal menjadi anggota banjar dinas. Fenomena ini terjadi hampir di seluruh Bali, namun di Kelurahan Sumerta, para migran itu hanya berstatus sebagai pengontrak.
Mengontrak menjadi suatu pilihan karena mahalnya harga tanah di Bali khusunya pusat atau dekat pusat perkotaan, seperti halnya di Kelurahan Sumerta. Kondisi ini menjadikan para migran memilih mengontrak tanah atau rumah dalam jangka
85 Sama dengan di atas.
waktu panjang karena dianggap lebih murah. Selain lebih murah, mengontrak tanah atau rumah juga dianggap lebih efisien karena tidak saja bisa dijadikan sebagai tempat tinggal juga ruang usaha. 87
Dengan demikian, kemampuan para migran bertahan hidup di Kelurahan Sumerta lebih dari satu dekade tidak dapat dilepaskan dari peranan masyarakat lokal. Peranan mereka terutama terlihat dalam hal penyediaan lahan yang dijadikan para pendatang tersebut untuk menjadi tempat tinggal serta membuka usaha. Tanpa adanya kesesediaan menerima kehadiran para migran dari Jawa, maka tentunya tidak akan terjadi mobilitas sosial vertikal pada diri mereka. Akan tetapi keterbukaan tersebut bebas dari relasi kuasa, sebab yang sebenarnya terjadi adalah hubungan timbal balik. Para migran sangat diuntungkan oleh kondisi tersebut karena secara tidak langsung mereka mendapatkan pelanggan atau konsumen dari orang-orang lokal, bukan sesama pendatang. Demikian pula orang lokal, mendapat keuntungan dari para migran. Selain berubah hasil sewa tanah atau kontrak rumah, keuntungan yang paling nyata dari adanya hubungan timbal balik ini adalah pesatnya perputaran ekonomi di kelurahan ini. 88
Sekalipun demikian, kesuksesan yang berhasil diraih oleh para migran di kelurahan Sumerta terbebas dari hambatan. Salah satu hambatan itu adalah efek negatif ledakan bom di Legian tahun 2002. Efek negatif peristiwa ini diawali dengan turunnya jumlah wisatawan yang berkunjung ke Bali. Peristiwa ini
87 Sama dengan di atas.
88 Sama dengan di atas.
berdampak pada lemahnya sektor perekonomian, yang merembet pada usaha-usaha yang dimiliki oleh para migran. 89
Apalagi kemudian ada isu-isu mengenai boraks dan formalin, sehingga para migran yang bergerak dalam usaha kuliner jadi kehilangan pembeli.
Ditambah lagi dengan ditemukannya bukti bahwa kelompok Islam radikal menjadi dalang dari peristiwa tersebut. Hal ini mengakibatkan munculnya ketidakptercayaan oleh masyarakat lokal kepada para migran. Dibutuhkan waktu yang relaif lama bagi usaha-usaha tersebut mulai kembali diterima oleh masyarakat lokal serta mengalami peningkatan usaha. 90
Demi menjaga keamanannya, pemerintah kelurahan melakukan pendataan yang pengelolaannya diserahkan kepada pengurus banjar setempat, tempat para pendatang tinggal serta membuka usahanya. Selain alasan menjaga keamanan, pendataan itu juga dimaksudkan untuk menjadikan usaha-usaha milik para migran liar sudah mendapat pengakuan atau izin berusaha di wilayah banjar tersebut.
Demi mendapatkan kenyamanan berusaha seperti itu, para pemilik usaha itu diiwajibkan membayar retribusi sebesar lima puluh ribu rupiah setiap bulannya serta adanya uang keamanan pada setiap seminggu sekali sebesar sepuluh ribu rupiah. 91
Tidak ada satu orang pun pemilik usaha itu bisa mangkir dari kewajiban ini, karena pendataannya dilakukan secara langsung dengan mendatangi satu
89 Saam dengan di atas.
90 Sama dengan di atas.
persatu para migran yang membuka usaha di wilayah tempat tinggalnya. 92 Faktor inilah yang ikut menjadi penentu bahwa masyarakat Bali di wilayah Kelurahan Sumerta adalah sebuah masyarakat plural, karena hubungan yang terjadi di antara penduduk lokal dan migran, tidak selamanya menjunjung kesederajatan atau kesetaraan yang berkeadilan, melainkan bisa saja mengedepankan praktik dominasi yang dilakukan secara tersamar.93
Bukan secara tersamar, sebelum mendapat pengakuan dari masyarakat, pada awal berdirinya PUMA, praktik kuasa displin itu sempat dilakukan secara terang-terangan. Samali dan istrinya Radiah sudah menyetujui salah satu baguman di rumahnya dijadikan sebagai bilik pengajuan. Bilik tersebut pada awalnya adalah kamar milik anak-anaknya yang sudah tidak dipakai lagi. Akan tetapi ada penolakan dari warga sekitarnya. Pada 2008 saat pembangunan bilik itu sedang berlangsung, setiap harinya rumah mereka dilempari batu dan kayu dari luar.
Pintu gerbangnya sering ditendang oleh orang yang tidak bertanggungjawab.
Akan tetapi keduanya tetap bersabar.
Pada akhirnya mereka merasa kehabisan kesabaran atas perlakukan hal tersebut. Saat pengajian kembali berlangsung di rumahnya, Radiah dan Samali menyampaikan praktik pendiplinan tubuh itu kepada anggota PUMA yang ikut dalam pengajian itu dan mengatakan sudah tidak sanggup lagi menghadapinya.
Pembangunan bilik pengajian itu pun akhirnya dihentikan sejenak, sekalipun demikian mereka tetap menjalankan pengajian rutin setiap seminggu sekali.
92 Nengah Bawa Atmadja, loc. cit.
93 Ibid.
Seiring berjalannya waktu, masih di tahun 2008, para migran yang tinggal di Jalan Akasia semakin bertambah banyak. Semuanya ikut bergabung dalam pengajian. Mereka melakukan pengajian di bilik bangunan yang belum jadi itu dengan cara menggelar karpet di atas lantai yang masih berupa batu-batu kerikil.
Sebelumnya, mereka sempat menggunakan ruang tamu rumah milik suami istri itu, namun tidak mampu menampung semua peserta pengajian. Oleh karena itu mereka memutuskan untuk memakai bilik pengajian yang pembangunanya tertunda itu. Demi mempercepat proses pengerjaannya, mereka mengadakan diskusi-diskusi kecil, yang kemudian sampai pada simpulan pembangunan bilik pengajian itu akan dilanjutkan dengan menggunakan sistem kerja gotong royong.
Beberapa migran tampil ke depan menyumbang material bagunan seperti semen, pasir, dan ubin.
Bersamaan dengan proses pembangunan bilik pengajian itu, mereka mulai mengurus perijinan pembangunan bilik pengajian sekaligus kantor paguyuban, izin pembangunan berhasil diperoleh dan sejak itu tidak ada lagi penolakan dari warga sekitar. Setelah bangunan gedung resmi selesai pada awal tahun 2009, mereka mulai memikirkan nama yang pas untuk paguyuban tersebut. Puji yang merupakan salah seorang anggota pengajian tersebut mengusulkan nama yaitu Paguyuban Umat Muslin Akasia (PUMA) dan disepakati oleh semua anggota pengajian itu.
Seperti sudah disebutkan di bagian lain, secara rutin mereka melakukan pengajian di bilik tersebut. Akan tetapi pengajian tidak dilakukan di bilik milik Radiah dan Samali tersebut, melainkan juga gedung Margautama. Di gedung ini
mereka bisa melakukan pengajian akbar yang biasanya berlangsung dalam acara seperti Isro‟ Miroj dan maulud Nabi. Jumlah peserta untuk sebuah pengajian akbar sekitar 400 orang. Sebagai penceramahnya, mereka melibatkan ustad dan kyai dari luar Bali seperti Banyuwangi, Jember, dan kota-kota lainnya di Jawa.
Untuk konsumsinya, berupa makanan dan minuman, berasal dari para ibu anggota PUMA.
Dalam pengajian akbar dipentaskan kesenian hadrah, sholawatan, dan qiroah dipentaskan. Sehari sebelumnya, dilangsungkan kerja bakti di sekretariat PUMA untuk mempersiapkan segala keperluannya, sesuai dengan seksinya masing-masing, misalnya ada yang di bidang perlengkapan dan sound system.
Semuanya berkumpul di sekretariat PUMA. Anggota dari kalangan perempuan mengurusi konsumsinya, memastikan makanan dan minuman yang akan dihidangkan, dan bagaimana cara menyajikannya.94
Akan tetapi dalam suatu kegiatan kerja bakti, tidak semua anggota PUMA bisa bersikap kooperatif. Orang-orang dengan karakter seperti itu pastilah selalu ada dalam setiap organisasi atau paguyuban. Di dalam lingkungan PUMA, orang-orang dengan karakter seperti itu sukanya menggembosi gagasaan yang sudah bagus, supaya tidak dapat dilaksanakan. Dalam setiap kegiatan kerja bakti, mereka suka datang terlambat dari jadwal yang sudah ditentukan. Jika pun ada yang dapat tepat waktu, mereka lebih senang mengobrol daripada mengerjakan sesuatu yang
94 Hasil wawancara Akhmad Khorul Munir dengan Asquri selaku ketua seksi kesenian dan rohani PUMA pada 18 Maret 2017, pukul 17. 40
lebih bermanfaat untuk kesuksesan kegiatan yang akan dilaksanakan oleh PUMA.95
Jumlah orang-orang yang tidak suka kooperatif seperti itu tidaklah banyak.
Selebihnya, dalam lingkungan PUMA cukup banyak orang yang punya integritas, yang bersedia bekerja sesuai dengan kesepakatan bersama yang sudah ditentukan sebelumnya. Mereka yang mendapatkan tugas di bagian keamanaan, harus sudah memberikan kepastian apakah pecalang sudah diundang dan sudah pasti pula datang menjaga keamanan. Sekalipun berlangsung di luar kantor pusat mereka tetap patuh dan disiplin terhadap peraturan keamanaan dan ketertiban dengan cara melibatkan para pecalang, satuan keamanan tardisional di tingkat desa, sekalipun tidak gratis. Para pecalang hanya berjaga-jaga di luar areal pementasan.96
Pada saat kerja bakti berlangsung juga harus ada kepastian mengenai kedatangan para undangan seperti lurah dan kelian banjar atau kepala lingkungan, kaling. Berbeda dengan pecalang, lurah dan kaling duduk bersama dengan anggota PUMA menyaksikan acara pementasan. Secara tidak langsung melalui lurah dan kaling, PUMA dapat memperkenalkan tradisi berkesenian orang-orang Islam, sebab pada menyaksikan acara tersebut. Biasanya selalu ada pertanyaan dari para undangan mengenai nama dari kesenian yang mereka sedang saksikan.
Pertanyaan-pertanyaan itu lalu dijadikan sebagai pintu masuk untuk menjelaskan bentuk-bentuk dan jenis kesenian yang bersifat Islami. Tidak ada lagi cara lain yang bisa dilakukan. Lagi pula orang-orang Bali pada umumnya tidak begitu
95 Sama dengan di atas.
antusias menyaksikan kesenian yang bukan miliknya, sehingga antusiasme pementasan kesenian yang sifatnya islami seperti ini hanya dirasakan oleh para anggota PUMA. Sekalipun tidak antusias, namun mereka tidak mengganggu, sehingga boleh dikatakan tidak ada sesuatu yang sifatnya negatif selama pementasan berlangsung. Sutau hal yang mereka persoalkan biasanya hanya suara sound sytem yang volumenya terlalu tinggi. 97
Kerjasama dengan penduduk lokal, terutama dalam pementasan kesenian yang bersifat ritual seperti pengajian, memang hanya bisanya secara fisikal seperti telah disebutkan di atas. Kesenian yang sifatnya Islami seperti itu, tentunya tidak bisa dicampur dengan kesenian luar. Jika hanya sebatas instrumen musiknya mungkin saja masih bisa dilakukan kolaborasi, tetapi kalau sampai melibatkan para pemainnya, tentu tidak mungkin dilakukan, sebab msialnya tidaklah mungkin orang Bali Hindu disuruh ikut sholawatan. Akan tetapi kalau hanya sekedarnya menikmatinya, tentu boleh saja, sebab pada kenyataannya ada juga orang lokal yang menyaksikan pementasan ini. 98
Uraian tersebut di atas, semakin menegaskan bahwa masyarakat Bali di Kelurahan Sumerta, khusunya yang tinggal di Jalan Akasia adalah sebuah masyarakat plural. Untuk bisa disebut sebagai masyarakat multikultural, seharusnya kedua belah pihak, tidak bisa lagi mempertahankan batas-batas kebudayaannya secara tegas. Demikian pula dengan interaksi bercorak lintaskultur maupun lintasmasyarakat harusnya berlangsung sangat intensif, sedangkan arena
97Sama dengan di atas.
98 Sama dengan di atas.
interaksi bukan hanya di atas kepentingan pasar, tetapi dengan berbagai kepentingan. 99