• Tidak ada hasil yang ditemukan

Interaksi diantara Sesama Etnis

BAB IV TEMUAN DATA DAN INTERPRESTASI DATA PENELITIAN

4.6 Interaksi Berdasarkan Etnis

4.6.1 Interaksi diantara Sesama Etnis

Terbentuknya suatu kelompok sosial karena adanya naluri manusia yang selalu ingin hidup bersama. Manusia sejak dilahirkan sudah mempunyai dorongan naluri untuk hidup berkelompok. Namun dalam perkembangan

selanjutnya manusia hidup dengan mempunyai kehendak dan kepentingan yang tidak terbatas. Manusia dalam memenuhi kehendak dan kepentingannya tersebut tidak dapat melakukannya sendiri, melainkan harus dilakukan bersama.

Ada dua hasrat pokok yang dimiliki manusia sehingga ia terdorong untuk hidup berkelompok, yaitu:

1. Hasrat untuk bersatu dengan manusia-manusia lain di sekitarnya.

2. Hasrat untuk bersatu dengan situasi alam sekitarnya. Keseharian yang di jalani untuk berinteraksi dalam kehidupan sangat dibutuhkan juga oleh mahasiswi asrama puteri baru USU yang dimana lewat interaksi tersebut mereka dapat menemukan teman untuk membuat kelompok dalam kehidupan sosial mereka dan mendapatkan teman sosial dalam kehidupan sehari-hari di asrama puteri baru USU. Seperti yang dikatakan oleh Siti Sahara yaitu:

“…interaksi di sini biasa aja sih kak, tapi gimana ya kan kita lebih berinteraksi dengan yang kita kenal, sebenarnya kita kenal semua cuman gag dekat gitu, tapi tetap usaha untuk berinteraksi la biar lebih kenal dan dapat teman juga, masalah etnis gag diutamakan dalam interaksi menurut aku kak, walaupun beda kan kita bisa jadi teman…”(Hasil Wawancara Tanggal 24 Februari 2016)

Hal ini sama dengan yang dikatakan oleh Yuni Tambunan :

“… pertama merantau nyari teman enggak lihat dari suku, jadi kalau beinteraksi pun di asrama ini biasa- biasa aja. Sebagaimana berinteraksi baik dalam

keseharian la…”(Hasil wawancara Tanggal 24 Februari 2016)

Seperti juga yang dikatakan oleh Nurun Hawa: “…kalau interkasi paling sering dengan kawan sekamar, kalau dengan yang lain interaksi saling menyapa aja enggak sampai jadi kawan dekat, paling-paling say “hai” soalnya sibuk kuliah juga, tapi untuk berinteraksi ada dilakukan walaupun beda etnis, beda etnis aja kita sering berinteraksi apalagi sesama etnis…”(Hasil Wawancara Tanggal 24 Februari 2016)

Dari hasil wawancara di lapangan bahwasanya mahasiswi yang ada di Asrama Puteri Baru USU berinteraksi dengan baik walaupun ada perbedaan etnis dalam interaksi sosial dalam kehidupan sehari-hari mereka di Asrama Puteri Baru USU. Seperti yang dikatakan oleh Ayu Nurzannah:

“…Interaksi di asrama menurut aku baik ya, karena disini semuanya ramah.Disini juga enggak berfokus pada etnis juga kalau berinteraksi. Kalau aku berinteraksi dengan siapa aja walaupun beda etnis, kalau interaksi dengan etnis aku jarang ya, karena di asrama etnis aku tu jarang, etnis aku kan banjar jadi jarang ada etnis banjar di asrama ini, tapi karena aku juga di kampung berinteraksi dengan beda etnis yaitu etnis jawa, jadi aku terkadang bisa juga berinteraksi dengan etnis jawa, tapi dengan etnis lain juga aku sering kok dan enggak membedakan intinya…”(Hasil Wawancara Tanggal 12 Maret 2016).

Hal ini sama halnya yang dikatakan oleh Cut Hilda:

“…kalau masalah berinteraksi dengan mahasiswi lain di asrama tentu aku berinteraksi karena kalau ada di asrama aku saling menyapa juga dengan etnis lain, kalau interaksi dengan sesama etnis sering juga kan lumayan juga etnis Aceh yang tinggal di asrama ini, jadi kalau masalah interaksi keseharian baik- baik aja…”(Hasil Wawancara Tanggal 2 Maret 2016)

Dalam interaksi sosial yang mahasiswi Asrama Puteri Baru USU jalani di kehidupan seharian mereka terdapat bagaimana mahasiswi tersebut agar dapat menyesuaikan diri mereka dengan lingkungan tempat mereka tinggal yaitu Asrama Puteri Baru USU yang dimana asrama tersebut ditempati oleh mahasiswi yang berbeda etnis. Seperti yang dikatakan oleh Mutia Boru Tarigan:

“…Saya di asrama ini berinteraksi dengan berbagai etnis karena menurut saya kalau ingin mendapat teman tidak harus mencari teman yang sesama etnis, berbeda etnis juga bagus supaya kita belajar juga bagaimana etnis-etnis lainnya, tentunya kalau ingin berinteraksi harus bisa mengetahui bagaimana lawan bicara kita dan bagaimana dia tinggal ditempat sekarang, saya sering berbicara dengan etnis lainnya…”(Hasil Wawancara Tanggal 13 Maret 2016)

Sama halnya dengan yang dikatan oleh Rosina:

“…ya kalo menurut saya sih kalo itu memang kita apa kebanyakn biasa dekat dengan kakak disini dari Papua juga sama Batak disini juga kita dekat, saling menyapa juga. Mereka senyum kita senyum juga…”(Hasil Wawancara Tanggal 12 Maret 2016)

Dalam interaksi keseharian mahasiswi asrama puteri baru USU juga ada beberapa mahasiswi yang berinteraksi hanya dengan sesama etnis saja, namun yang paling banyak adalah berinteraksi dengan berbeda etnis. Seperti yang dikatan oleh raini Tanjung:

“…ada sebagian disini orangnya berinteraksi dengan yang sama tapi ada juga dengan etnis yang beda-beda. Tapi paling banyak yang berinteraksi dengan beda-beda etnis kak agar kehidupan di asramanya baik dapat banyak teman…”(Hasil Wawancara Tanggal 12 Maret 2016)

Hal tersebut sama dengan yang dikatakan oleh Gisela Ratnasari:

“…kalau sepengetahuan saya disini mahasiswinya kurang bersosialisasi walaupun tidak semua mahasiswi seperti itu, saya sama sebelah kamar saja saya enggak tahu gimana, paling sama kawan dekat di asrama la yang dekat, terus juga kalau interaksi sehari-hari kalau ada kenal saya sapa kalau tidak kenal lalu mereka menyapa saya, saya sapa kembali sepeti balik senyum gitu…”(Hasil Wawancara Tanggal 12 Maret 2016)

Dari hasil data yang didapat di lapangan, bahwasanya mahasiswi berinteraksi dengan baik di asrama puteri baru USU. Mereka menjalani kehidupan sosial mereka dengan baik walaupun ada beberapa mahasiswi yang kurang baik dalam bersosialisasi.Namun, mahasiswi tetap menjalankan tugas mereka dalam kehidupan sosialnya yaitu berinteraksi dengan mahasisiwi lainnya baik mahasiswi yang sesama etnis atau berbeda etnis dan lebih mengedepankan kerjasama dari pada persaingan dalam kehidupan sosial mahasiswi asrama puteri baru USU.

Dokumen terkait