Nama : Christafora Jenis Kelamin : Perempuan
TTL/Usia : Medan, 17 Desember 1951 / 64 tahun Agama : Kristen Katolik
Etnis/Suku : India Tamil
Alamat : Jl. Cik Di Tiro Belakang No. 18.A Pekerjaan : Penjahit
P : Sudah berapa lama Anda tinggal di daerah Kampung Madras?
I : Kawasan kampung Madras, saya ya dari nikah sampai sekarang sudah 45 tahun tinggal disini kurang lebihlah
P : Etnis apa saja yang tinggal di daerah sini?
I : Orang Cina ada, orang Indonesia ada, orang kita Batak nggak ada. Pribuminya Padang, Jawa, India juga banyak.
P : Kalau bergaul biasanya dengan etnis tertentu atau bagaimana?
I : Asal lewat saya semua saya ngomongin, semua saya mau gitu pergaulan di kampung ini.
P : Apakah Anda menyempatkan atau memiliki waktu untuk berkomunikasi dengan anggota masyarakat dari Etnis Pribumi?
I : Saya senang, kalo begitu saya lewat ke pajak, saya jumpa, saya ngomong gitu, enggak pilih.
P : Seberapa sering dan dimana biasanya Anda berkomunikasi dengan anggota masyarakat dari Etnis Pribumi dalam kehidupan sehari-hari?
P : Dalam konteks apa biasanya Anda berkomunikasi dengan anggota masyarakat dari Etnis Pribumi?
I : Ya tentang jahit, tentang sakit-sakit kita gini, ya curhat gitu. Tetangga ada juga orang sini biasa ngomong tentang rumah sakit, tentang sakit, obatnya apa, makanannya apa, jangan makan ini, obatnya ini. Sehari-harinya gitu aja.
P : Apakah ada kesulitan atau kendala dalam berkomunikasi dengan anggota masyarakat dari Etnis Pribumi?
I : Enggak ada, enggak ada. Semua baik-baik gitu. Semua baik, nggak ada eceknya cemburu, iri gitu nggak ada.
P : Apakah Anda punya hubungan dekat dengan anggota masyarakat Etnis Pribumi?
I : Dekat, hubungannya senang gitu, “lagi ngapain?” gitu. Kayak teman gitu, suka.
Nggak mau diam-diam pergi gitu nggak mau, pasti ada becakap, umapamanya “masak apa gini hari?” gitu suka.
P : Sebelum Anda mulai berinteraksi atau berhubungan dengan masyarakat dari Etnis Pribumi, apakah ada stereotip tentang mereka yang berkembang dalam kelompok Anda?
I : Yang kayak gitu-gitu nggak ada disini dek. Sama aja semua.
P : Menurut Anda masyarakat Etnis Pribumi di lingkungan Anda saat ini seperti apa?
I : Yang sekarang ya masing-masing dirumah lah. Kalo nggak penting kali ya tertutup juga, kalo yang nggak penting kali kita pun nggak mau dekat sama yang tertutup gitu. Kita yang bergaul tiap hari ajalah yang kita deket, eceknya gitu. Cuma kalo ada pertengkaran dirumah kita orang itu mau juga dipanggil gitu. Sering ada rusuh dirumah kita masalah anak-anaklah. Orang itu perhatikan, Ibu kan sering kerja gitu orang itu perhatikan sama anak-anak kita. Cuma udah pada nggak ada orang-orang dulu. Pindah, orangtuanya meninggal anak-anaknya yang udah berhasil pindah nyari rumah yang lebih cantik gitu. Beda, orang dulu yang tinggal disini baik-baik, macam Kak Em, anaknya suaminya, semua baik-baik. Mau tau sama anak-anak, kalau anak-anak lagi main terus nangis mau dia perhatian gitu, nggak pilih bangsa lah gitu. Mereka itu baik-baik, ada yang jualan, ada yang jualan nasi kita sering beli. Baiklah, kalo ada apa-apa gitu dirumah kita entah ada kerusuhan gitu tentang anak orang itu dipanggil terus langsung datang gitu. Macam suami dia (menunjuk pada tetangganya) gitu, kalau dipanggil terus
P : Selama tinggal disini menurut Anda kondisi hubungan sosial antara Etnis Pribumi dan Etnis India Tamil itu bagaimana?
I : Bagus, nggak ada yang saling : kamu nggak bagus, dia nggak bagus, nggak ada. Saling tidak pernah nyaci-nyaci gitu.
P : Pernah ada konflik pribadi dengan anggota masyarakat dari Etnis Pribumi?
I : Masalah apa itu ya masalah-masalah anak, ada kan anakku ulang tahun dia kita undang, terus dibilangnya nggak usahlah pergi kesana makanannya nanti nggak halal gitu. Padahal dari kecil sering mamaknya bikin kayak gitu. Saya dengar melalui dari orang. Terus saya ngomong ginilah ke dia, mana mungkin kita masak nggak halal, masa kita kasih nggak halal. Kamu memang makan tapi kan kita dosanya itu ada di kita. Terus dia bilang “oh nggak adalah Kak, aku nggak ada ngomong gitu”. Oh udahlah, terus aku nggak berdebat lagi.
P : Bagaimana penyelesaiannya?
I : Saya selesaikan dengan pelan-pelan udah. Saya sendiri mulai cakap sama dia, saya nggak bisa musuh sama orang dek. Padahal dia lebih muda, kita udah tua saya sendiri ngomong sama dia. Saya nggak bisa nggak ngomong sama orang gitu.
P : Apakah disini pernah terjadi konflik antara Etnis Pribumi dengan Etnis India Tamil?
I : Nggak ada kita nggak pernah dengar gitu membeda-bedakan nggak ada itu. Ada keributan pun orang nggak pernah bilang “Kamu itu keling, nggak ada itu” kita nggak dengerlah. Orang kita juga nggaak mau bilang kayak gitu ya kan.
P : Apakah ada kegiatan khusus yang secara langsung maupun tidak langsung melibatkan anggota masyarakat dari Etnis Pribumi dan Etnis India Tamil?
I : Berkumpul gitu ada, kalo diundang gitu semuanya ngumpul rame-rame seneng senenglah disni. Ibu kan sering bikin pesta, anakku banyak. Semua datang gitu kalo diundang. Sama paling 17 Agustus lah acara anak anak perlombaan ada, tari-tarian juga ada, juga nyanyi nyanyian, dimana-mana disini adalah keramain 17 Agustus, pasang panggunglah mereka.
P : Bagaimana cara Anda menjaga kerukunan dan keharmonisan dengan anggota dari masyarakat Etnis Pribumi?
I : Saya nggak pernah sombong sama mereka gitu. Nggak pernah saya itu tinggi diri, lagak gitu kalo lewat nggak mau ngomong. Lewat pun kalo kadang ada orang yang nggak seneng sama saya, saya panggil juga, saya senang gitu. Biar mereka nggak senang itu urusan dia, yang penting saya panggil. Ada juga kita punya suku yang nggak senang sama kita, kita lewat kita panggil “oop” ya udah. Terserah respon kamu kayak mana yang penting saya lewat kalo udah manusia itu nampak saya panggil, nggak pernah saya diem aja. Ya mereka nggak senang nggak suka sama saya, saya nggak perduli sama sekali. Yang penting saya lewat saya panggil. Nah diapun bilang “kemana kak?” , “ke gereja” saya bilang gitu.
P : Apa harapan Anda terhadap keberlangsungan hubungan antara masyarakat Etnis Pribumi dan Etnis India Tamil yang tinggal disini?
I : Maunya tiap hari aku berdoa maunya semua rukun, kalau saya berdoa saya tetap meminta begitu. Karena tetangga ini yang famili buat kita. Tetangga itu adalah segala-galanya sama kita. Karena kita juga ada apa-apa kan, saudara dari jauh belum tentu bisa cepat datang, ya tetanggalah.
TRANSKRIP WAWANCARA PENGERJAAN SKRIPSI STEREOTIP ETNIS PRIBUMI DAN ETNIS INDIA TAMIL DALAM
INTERAKSI KOMUNIKASI ANTARBUDAYA Data diri informan :
Nama : Maysarah Jenis Kelamin : Perempuan
TTL/Usia : Galang, 04 Mei 1967 / 49 tahun Agama : Islam
Etnis/Suku : Jawa
Alamat : Jl. Cik Di Tiro Belakang No. 29 Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga
P : Sudah berapa lama Anda tinggal di daerah Kampung Madras?
I : Kalau ibu sudah sekitar 27 tahun, dari tahun berapa tuh ya sekitar 87/88 lah. Ibu sebelumnya di Galang sekolahnya, tamat ke Jakarta habis itu balik ke Medan kerja, berumah tangga. Bapaklah orang lama disini
P : Etnis apa saja yang tinggal di daerah sini?
I : Cina, India, Pribumi. Pribuminya ada Jawa, Padang, Mandailing ada juga.
P : Kalau bergaul biasanya dengan etnis tertentu atau bagaimana?
I : Ibu sih kalau misalkan bergaul itu nggak pernah bergaul dekat, ya sekedar kalau kita lewat tegur aja gitu. Ya kalo misalkan teguran semua etnis kalau kita lewat teguran. Yang sering ngobrol orang-orangnya tertentu. Kalaupun dia etns india tertentu orangnya, kalaupun dia etnis india tertentu aja kita mau ngobrol.
P : Apakah Anda menyempatkan atau memiliki waktu untuk berkomunikasi dengan anggota masyarakat dari Etnis India Tamil?
P : Seberapa sering dan dimana biasanya Anda berkomunikasi dengan anggota masyarakat dari Etnis India Tamil dalam kehidupan sehari-hari? I : Kalau pas ketemu aja di pajak. Tapi pas ke pajak dekat sini itu yang sering ketemu. Kalau pajak petisah kan jarang ketemu. Kalau pajak yang disini ibu sekali-sekali.
P : Dalam konteks apa biasanya Anda berkomunikasi dengan anggota masyarakat dari Etnis India Tamil?
I : paling kalau ketemu dipajak ya nanya belanja apa hari ini, masak apa hari ini, yang gitu-gitu aja.
P : Apakah ada kesulitan atau kendala dalam berkomunikasi dengan anggota masyarakat dari Etnis India Tamil?
I : Kalau sekedar berkomunikasi nggak ada, kadang kesulitannya kalau kita lagi ngomong gitu kan ada etnis India, mereka ngobrolnya bukan bahasa Indonesia, dia terus ngobrolnya bahasa India. Kalau dia udah ngomong bahasa India ya ibu tinggalin. Karena kan nggak pakai bahasa Indonesia, karena kan kita nggak tahu apa yang dibicarakannya, entah dia membicarakan kita kan kita nggak tau. Jadi ya ibu tinggalin aja.
P : Apakah Anda punya hubungan dekat dengan anggota masyarakat Etnis India Tamil?
I : Kalo dekat ya tetangga, sekedar kita ngobrol gitu aja tetanggalah, tapi kalo sedekat kita istilahnya makan-makanannya dia, ibu enggak. Ya karena kan ibu nggak mau, selain muslim ibu nggak makan. India muslim ada tapi nggak banyak, lebih banyak yang non muslim.
P : Sebelum Anda mulai berinteraksi atau berhubungan dengan anggota masyarakat dari Etnis India Tamil, apakah ada stereotip tentang mereka yang berkembang dalam kelompok Anda?
I : Ya kalau ibu sih dimanapun bertempat ibu orangnya kurang perduli sama orang cuek. Walaupun dia mau suku apa yang penting kita kan nggak tibut-ribut, Ibu ya nggak gitu open dengan suku-suku yang lain gitu.
P : Menurut Anda masyarakat Etnis India Tamil saat ini seperti apa?
gitu mereka kurang sopan. Ya orang India ini sering berantem-berantem gitu sama tetangga. Nanti mereka kasar maki-maki gitu kan, nah ibu kurang cocok. Udah gitu mereka kurang apa namanya, suka-suka hati aja gitu merasa berkuasa disini. Udah gitu ada istilah nya orang india ini kalau punya duit tidurnya di paret kalau nggak punya duit tidurnya baru di rumah, itu istilah untuk orang India. Kalau misalnya mereka punya duit kan orang itu sering mabuk-mabukan, jadi kalau orang mabuk-mabukan itu kan sering jatuhnya ke paret gitu kan. Jadi kalau nggak punya duit gimana mau mabuk-mabukan tidurnya di rumah lah. Udah gitu ya orang India ini kalau ngomong gitu banyak bohongnya. Ya dibilang ngularnya gitulah, jadi kita pun nggak mau terlalu dekat, nggak mau terlalu berurusan.
P : Pernah punya pengalaman bersama dengan anggota masyarakat dari Etnis India Tamil yang berhubungan sama stereotip itu nggak?
I : Ngeliatnya gitu? Sering sering kali. Tiap hari Ibu lihatnya mabuk malah sampe ada yang udah mati lagi. Tapi mereka biasa kalau mabuk gitu yang diganggu keluarganya. Tapi kan kita terganggu sebagai tetangga, Cuma kalau ganggu kita sih enggak. Kalau yang suka bohong gitu nggak pernah kejadian sama Ibu. Karena kita nggak mau berurusan jadi nggak pernah kejadian langsung, cuma kalau orang sini gitu sering kejadian, misalkan dia ikut jula-jula dia bohong, dia bilang udah bayar padahal belum, ngularnya banyaklah nggak tepat janji, banyak cakap. Makanya ibu nggak mau terlalu berurusan dengan orang India.
P : Apakah stereotip tersebut mempengaruhi interaksi komunikasi Anda dengan anggota masyarakat dari Etnis India Tamil?
I : Kalau masalah tadi dia tetangga itu mabuk itu mengganggu tapi kalau yang lain-lain ya ibu nggak open, cuma dulu waktu anak-anak ibu kecil ibu nggak mau anak ibu bergaul sama India, Ibu nggak ngasih gitu.
P : Lantas bagaimana sikap Anda dalam menyesuaikan diri dengan masyarakat dari Etnis India Tamil karena stereotip tersebut?
I : Kalau sekedar berkomunikasi ya Ibu nggak apa-apa, misalnya ke pasar gitu kan ya ibu tegur lah seadanya sekedar aja gitu. tapi kalau berurusan yang lain ibu nggak mau gitu. Ada batasannya.
P : Selama tinggal disini menurut Anda kondisi hubungan sosial antara Etnis Pribumi dan Etnis India Tamil itu bagaimana?
I : Kalau menurut ibu sih biasa-biasa aja bagus sih, kadang kalau di kuil itu ada acara ya pribumi juga mau ikut makan disana. Ya baguslah bebas mereka toleransinya tinggi. Kalau di kuil itu ada acara kita nggak ada masalah. Kalau kita
ada acara juga mereka nggak apa-apa, kalau misalnya ada orang India yang meninggal yang pribumi jenguk. Kalau ada orang pribumi meninggal ya orang Indianya juga jenguk.
P : Pernah ada konflik pribadi dengan anggota masyarakat dari Etnis Etnis India Tamil?
I : Ibu sih pernah gitu gara-garanya anak, Cuma kan tadinya ibu nggak peduli karena anak sama anak tapi karena tiap hari anak ibu terus disakitin ya ibu juga emosi,
P : Bagaimana penyelesaian dari konflik tersebut?
I : Semenjak ibu ngomong sama dia itu kasar, dia nggak berani lagi. Hubungan ibu biasa-biasa aja sekarang. Karena kan ibu nggak mau terlalu dekat itu tadi, ya paling sama dia cuma tegur-teguran
P : Apakah disini pernah terjadi konflik antara Etnis Pribumi dengan Etnis India Tamil?
I : Kalau konflik kayak gitu setahu Ibu disini nggak pernah ya, aman-aman aja.
P : Apakah ada kegiatan khusus yang secara langsung maupun tidak langsung melibatkan anggota masyarakat dari Etnis Pribumi dan Etnis India Tamil?
I : 17 agustus itu sering ada perlombaan, disitu gabung aja india sama pribumi yang jarang itu orang cina. Disini ada namanya LKM yang PNPM itu perkotaan, ya itu kalau yang formal. Karena anggotanya ada yang India ada yang pribumi.
P : Bagaimana cara Anda menjaga kerukunan dan keharmonisan dengan anggota dari masyarakat Etnis India Tamil?
I : Ya saling tegur-menegur gitu, jadi kalau kita nggak terlalu dekat jadi kan nggak ada masalah gitu ya sekedar aja, menghindarilah gitu.
P : Apa harapan Anda terhadap keberlangsungan hubungan antara masyarakat Etnis Pribumi dan Etnis India Tamil yang tinggal disini?
I : Kalau ibu sih ya jangan ada ribut-ribut, kalau ada ribut ya kita sih maunya pindah dari sini nggak mau dekat dnegan orang india, ya karena itu tadi sifat-sifatnya itu tadi.
TRANSKRIP WAWANCARA PENGERJAAN SKRIPSI STEREOTIP ETNIS PRIBUMI DAN ETNIS INDIA TAMIL DALAM
INTERAKSI KOMUNIKASI ANTARBUDAYA Data diri informan :
Nama : Suci Al Falah Jenis Kelamin : Perempuan
TTL/Usia : Medan, 05 September 1990 / 25 tahun Agama : Islam
Etnis/Suku : Minang
Alamat : Jl. Cik Di Tiro Belakang No. 26 Pekerjaan : Freelancer Survei Publik
P : Sudah berapa lama Anda tinggal di daerah Kampung Madras? I : Udah .... dari lahir udah 25 tahun lah.
P : Etnis apa saja yang tinggal di daerah sini?
I : Etnisnya...India, India itu ada dua Tamil sama Punjabi, Punjabi itu Bengali. Terus kalau pribumi ada Minang ada Jawa tapi mayoritasnya Minang. Kalau Cina ada juga, Cina pun banyak.
P : Kalau bergaul biasanya dengan etnis tertentu atau bagaimana?
I : Pilih-pilih juga kalau jujur. Ya pilih-pilihnya mungkin lebih banyak ke Pribumi ya. Kalau Chinese nya lebih banyak sih tutup pintu semua. Jadi nggak bergaul sama Chinese. Tapi dulu waktu kecil-kecil banyak masih mau bergaul sama Chinese tapi udah pada pindah. Kalau Tamil ada juga sih tapi Tamilnya Tamil Islam sih. Cuma lebih banyak Pribumi sih, kadang yang main ke rumah juga Pribumi. Kalau sama Tamil tergantung kebutuhan juga paling kalau ada perlu baru bergaul. Lebih banyak di rumah sih.
P : Seberapa sering Anda berkomunikasi dengan anggota masyarakat dari Etnis India Tamil dalam kehidupan sehari-hari?
I : Nggak terlalu sering sih. Paling kalau lewat tegur-teguran gitu aja sih. Kalau pas keluar nampak di jalan paling.
P : Dalam konteks apa biasanya Anda berkomunikasi dengan anggota masyarakat dari Etnis India Tamil?
I : Kalau yang di tengah ini kan ada kak Wijes namanya, yang sebelumnya juga diwawancarain kan. Udah gitu kan dia ada MLM, nah dia itu sering datang ke rumah nawarin MLM-nya suruh gabung. Nanti dia sering itu bbm, chat, nanya gimana perkembangan. Ya sebatas itu sih karena ada kebutuhan itu aja sih. Kalau dulu sih sempat ada hubungan. Karena kan kakak dulu ngajar les udah gitu banyak anak-anaknya India, karena faktor itu aja diluar itu nggak ada.
P : Apakah ada kesulitan atau kendala dalam berkomunikasi dengan anggota masyarakat dari Etnis India Tamil?
I : Secara komunikasi nggak ada kesulitan kayaknya ya karena bahasanya kan sama-sama pakai Bahasa Indonesia.
P : Apakah Anda punya hubungan dekat dengan anggota masyarakat Etnis India Tamil?
I : Nggak ada, Nggak ada. Sekedar tegur sapa aja kalau lewat. Kalau komunikasinya intens berteman dekat itu nggak ada. Malah dekatnya dengan tetangga pribumi sih.
P : Sebelum Anda mulai berinteraksi atau berhubungan dengan anggota masyarakat dari Etnis India Tamil, apakah ada stereotip tentang mereka yang berkembang menurut Anda?
I : Ya mungkin pada umumnya ya sama aja sih, suka gimana ya, suka ngajak berantam gitu tetangga. Memang sih kakak nggak pernah terlibat cuma kan kakak sering lihat kan. Nanti kalau ada apa-apa dikit ribut-ribut terus ngeluarin orang satu kampung gitu. Ya apalagi ya....banyak omongnya, banyak bohongnya ya gitu. Pokoknya kita sih jarang cocok aja ke mereka, kalau kakak pribadi sih lebih banyak jarang berhubungan jadi secara kurang tau juga secara pasti gimana merekanya itu. Tahunya dari dari luar aja, misalnya ada yang berantam si anu sama si anu, ditengah-tengah itu udah diramein. Yang berantam itu kan orang India, nanti sama-sama saudara bisa berantem. Ibaratnya kan ngundang tetangga yang lain buat nontonin kayak gitu sih. Orang itu kayaknya lebih senang kalau ngajak berantam kayaknya ada kepuasan tersendiri gitu buat mereka. Makanya kalau ada berantem kan pasti itu orang India jarang ada orang Pribumi. Kalau kita kan pasti ada rasa malu kalau berantam-berantam gitu. Kakak rasa mereka lebih terbuka sih, terbuka dalam mengekspresikan diri mereka, ya kayak gitu. Udah gini kan India itu suka ngular, sampai ada istilahnya kalau jumpa orang India sama ular, kita tembak orang Indianya dulu baru ularnya karena kan orang Indianya bisa pura-pura mati. Karena kan ibaratnya gimana ya banyak bualnya banyak
bohongnya. Kalau bisa sih jangan terlalu banyak berhubungan sih lebih dalam sama mereka.
P : Menurut Anda apakah ada stereotip positif yang berkembang terkait dengan Etnis India Tamil?
I : Kalau yang positif itu mereka toleransinya ada, kita kan juga sering buat acara agama, mereka juga sering ibadah di kuil jadi kita nggak saling ganggu. Sangat toleran lah saya rasa mereka. Jadi kalau satu sampai sepuluh itu sembilan lah.
P : Pernah punya pengalaman bersama dengan anggota masyarakat dari Etnis India Tamil yang berhubungan sama stereotip itu nggak?
I : Kalau kakak sih nggak pernah punya masalah sama Etnis Tamil soalnya kan kakak nggak pernah berhubungan itu aja sih. Kalau langsung bermasalah sih nggak pernah cuma kan melihat apa yang ada. Kita juga memang nggak pernah kejadian secara langsung sih, cuma kan dengar orang kan, ini si anu habis nipuin si anu terus si anu nggak bayar-bayar hutangnya sama si anu kan kedengaran sama kita. Karena kita kan nggak pernah mau berurusan sama mereka gitu aja sih. Nggak pernah percaya juga sih nggak pernah percaya. Tapi orang India disini kan ada Tamil ada Punjabi, Bengali, itu mereka karakternya beda, yang Punjabi itu agak lebih tertutup sih daripada yang Etnis Tamil.
P : Apakah stereotip tersebut mempengaruhi interaksi komunikasi Anda dengan anggota masyarakat dari Etnis India Tamil?
I : Ya berpengaruh dong, ibaratnya kan gini kita udah tau pengalaman orang ini itu kayak gini, ini itu kayak gini yang buruklah. Karena udah tau buruk ya kita pasti lebih antisipasi untuk bisa lebih berhubungan sama mereka.
P : Lantas bagaimana sikap Anda dalam menyesuaikan diri dengan masyarakat dari Etnis India Tamil karena stereotip tersebut?
I : Karena kita udah tau pengalaman orang lain kan itu mengurangi kepercayaan kita sama mereka. Ya nggak semua seperti itu, saya yakin sih tidak juga. Cuma