BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
C. Evaluasi Interaksi Obat
1. Interaksi Obat Antihipertensi dengan Obat
Golongan Obat Antihipertensi Lainnya Di Instalasi Rawat Inap Rumah
Sakit Panti Rapih Tahun 2005
No Golongan Golongan Interaksi Jenis Interaksi Jumlah kasus
Persentasi (%) 1 Diuretik ACE inhibitor Meningkatkan
efek hipotensif Farmakodinamik 15 25,9 2 Diuretik Antihipertensi
bekerja sentral
Meningkatkan
efek hipotensif Farmakodinamik 5 8,6 3 Diuretik Beta-bloker Meningkatkan
efek hipotensif Farmakodinamik 1 1,7 4 Diuretik Antagonis Ca Meningkatkan
efek hipotensif Farmakodinamik 7 12,1 5 Diuretik
Antagonis reseptor angiotensin II
Meningkatkan
efek hipotensif Farmakodinamik 5 8,6 6 ACE inhibitor Antihipertensi
bekerja sentral
Meningkatkan
efek hipotensif Farmakodinamik 5 8,6 7 ACE inhibitor Antagonis Ca Meningkatkan
efek hipotensif Farmakodinamik 5 8,6 8 ACE inhibitor
Antagonis reseptor angiotensin II
Meningkatkan
efek hipotensif Farmakodinamik 2 3,5 9
Antihipertensi bekerja di
sentral
Beta-bloker Meningkatkan
resiko hipertensi Farmakodinamik 1 1,7 10
Antihipertensi bekerja di
sentral
Antagonis Ca Meningkatkan
efek hipotensif Farmakodinamik 3 5,2 11 Antihipertensi bekerja di sentral Antagonis reseptor angiotensin II Meningkatkan
efek hipotensif Farmakodinamik 2 3,5 12 Beta-bloker Antagonis Ca Meningkatkan
efek hipotensif Farmakodinamik 1 1,7 13 Beta-bloker
Antagonis reseptor angiotensin II
Meningkatkan
efek hipotensif Farmakodinamik 2 3,5
14 Antagonis Ca
Antagonis reseptor angiotensin II
Meningkatkan
efek hipotensif Farmakodinamik 4 6,9
Tabel XIV. Distribusi Interaksi Jenis Obat Antihipertensi dengan Jenis Obat Antihipertensi Lainnya Di Instalasi RSPR Tahun 2005
No Jenis Obat Antihipertensi
Jenis Obat
Antihipertensi Jenis Interaksi
Jumlah Kasus
Persentasi (%) 1 furosemid Kaptopril farmakodinamik 9 15,5 2 furosemid klonidin farmakodinamik 5 8,6 3 furosemid valsartan farmakodinamik 2 3,5 4 furosemid losartan farmakodinamik 3 5,2 5 furosemid perindopril farmakodinamik 1 1,7 6 furosemid ramipril farmakodinamik 3 5,2 7 furosemid amlodipin farmakodinamik 2 3,5 8 furosemid nifedipin farmakodinamik 3 5,2 9 furosemid karvediol farmakodinamik 1 1,7 10 indapamid imidapril farmakodinamik 2 3,5 11 indapamid amlodipin farmakodinamik 2 3,5 12 kaptopril nifedipin farmakodinamik 1 1,7 13 kaptopril valsartan farmakodinamik 2 3,5 14 kaptopril klonidin farmakodinamik 4 6,9 15 ramipril nifedipin farmakodinamik 2 3,5 16 ramipril klonidin farmakodinamik 1 1,7 17 imidapril amlodipin farmakodinamik 1 1,7 18 imidapril nifedipin farmakodinamik 1 1,7 19 amlodipin karvediol farmakodinamik 1 1,7 20 amlodipin klonidin farmakodinamik 1 1,7 21 amlodipin valsartan farmakodinamik 4 6,9 22 klonidin nifedipin farmakodinamik 2 3,5 23 klonidin valsartan farmakodinamik 1 1,7 24 klonidin losartan farmakodinamik 1 1,7 25 klonidin karvediol farmakodinamik 1 1,7 26 valsartan karvediol farmakodinamik 2 3,5
Dalam terapi hipertensi, dokter dengan pertimbangan tertentu akan memberikan satu atau lebih obat antihipertensi pada pasien lansia. Pemberian antihipertensi lebih dari satu dapat menimbulkan interaksi obat. Dalam penelitian ini potensial interaksi antara obat antihipertensi dengan obat antihipertensi lain terjadi pada 58 pasien atau sebesar 71,6% dari total 81 pasien hipertensi geriatri. a. diuretik dan ACE inhibitor
Data tabel XIII menunjukkan bahwa kombinasi diuretik dan ACE inhibitor paling banyak digunakan yaitu sebesar 25,9%. Interaksi jenis obat antihipertensi yang banyak terjadi dalam golongan ini adalah interaksi furosemid dan kaptopril sebanyak 9 kasus (15,5%). Menurut Stockley (1994) kombinasi ini efektif dalam menurunkan tekanan darah karena mempunyai efek sinergis tetapi dapat menyebabkan hipokalemia karena penggunaan furosemid dan menyebabkan meningkatnya efek hipotensif (bisa ekstrim).
Secara teoritis kombinasi ini mempunyai onset tertunda dimana efek klinis dari interaksi obat timbul dalam beberapa hari atau beberapa minggu setelah pemberian. Tingkat keparahan interaksi ini bersifat minor yaitu efek yang timbul biasanya ringan atau tidak timbul dan tidak dibutuhkan terapi tambahan. Tingkat kepercayaan dikategorikan suspected yaitu efek interaksi mungkin terjadi, tetapi butuh penelitian lebih lanjut (Tatro, 2001). Untuk mengurangi efek samping ini sebaiknya dilakukan penyesuaian dosis dengan pemberian dosis pertama harus diberikan dengan dosis rendah, kemudian dinaikkan atau dengan mengurangi dosis diuretik atau bahkan menghentikan pemberian diuretik (Stockley, 1994).
b. diuretik dan antihipertensi bekerja di sentral
Pada penelitian ini interaksi jenis obat antihipertensi yang banyak terjadi dalam golongan ini adalah interaksi furosemid dan klonidin sebanyak 5 kasus (8,6%). Kombinasi ini dapat meningkatkan efek hipotensif dan menguntungkan (Anonim, 2000). Kombinasi antihipertensi bekerja di sentral dengan tiazid dianjurkan untuk memperkuat efeknya tetapi sebaiknya dosis diturunkan untuk mengurangi efek samping (Tjay dan Rahardjo, 2002).
c. diuretik dan beta-bloker
Persentasi interaksi jenis obat antihipertensi dalam golongan ini terjadi pada furosemid dan karvedilol sebanyak 1,7%. Interaksi ini dapat meningkatkan efek hipotensif dan menguntungkan (Anonim, 2000).
d. diuretik dan antagonis Ca
Dalam penelitian ini, interaksi jenis obat antihipertensi dalam golongan ini banyak terjadi pada furosemid dan nifedipin sebesar 5,2%. Kombinasi ini memberikan efek yang merugikan karena antagonis kalsium hanya memberikan penambahan efek yang kecil bila digunakan bersama diuretik (Anonim, 2000). e. diuretik dan antagonis reseptor angiotensin II
Pada penelitian ini interaksi jenis obat antihipertensi yang banyak terjadi dalam golongan ini adalah interaksi furosemid dan losartan sebesar 5,2%. Kombinasi ini menguntungkan karena dapat meningkatkan efek hipotensif (Anonim, 2000).
f. angiotensin converting enzyme inhibitor dan antihipertensi bekerja di sentral Pada penelitian ini interaksi jenis obat antihipertensi yang banyak terjadi adalah interaksi kaptopril dan klonidin sebanyak 4 kasus (8,6%). Kombinasi ini menyebabkan efektivitas kaptopril akan tertunda dan efek hipotensif timbul secara berlebihan. Penatalaksanaan interaksi ini dengan cara menurunkan dosis kaptopril (Stockley, 1994). Keadaan ini sesuai Setiawati dan Bustami (1995) yang menyatakan bahwa Pemberian ACE inhibitor bersama klonidin sebaiknya dihindari karena dapat menimbulkan efek hipotensif yang berat dan berkepanjangan.
g. angiotensin converting enzyme inhibitor dan antagonis Ca
Interaksi jenis obat antihipertensi dalam golongan ini terjadi pada ramipril dan nifedipin sebanyak 2 kasus (3,5%). Kombinasi ini memberikan efek yang baik karena dapat meningkatkan efek hipotensif (Anonim, 2000).
h. angiotensin converting enzyme inhibitor dan antagonis reseptor angiotensin II
Interaksi jenis obat antihipertensi dalam golongan ini terjadi pada kaptopril dan valsartan sebesar 3,5 %. Kombinasi ini menyebabkan meningkatnya efek hipotensif dan menguntungkan (Anonim, 2000).
i. antihipertensi bekerja di sentral dan beta-bloker
Pada penelitian ini interaksi antar jenis obat antihipertensi terjadi pada klonidin dan karvedilol sebesar 1,7%. Interaksi ini juga menyebabkan meningkatnya tekanan darah secara drastis saat penggunaan klonidin dihentikan. Oleh karena itu, terapi dengan beta-bloker perlu dihentikan sebelum menggunakan klonidin (Stockley, 1994).
j. antihipertensi bekerja di sentral dan antagonis reseptor angiotensin II
Interaksi yang terjadi adalah meningkatkan efek hipotensif dan menguntungkan (Anonim, 2000). Prosentase interaksi antihipertensi bekerja di sentral dan antagonis reseptor angiotensin II dalam penelitian ini sebesar 3,5%. k. antihipertensi bekerja di sentral dan antagonis Ca
Interaksi jenis obat antihipertensi dalam golongan ini terjadi pada klonidin dan nifedipin sebesar 3,5%. Menurut Stockley (1994), bila digunakan secara bersamaan menyebabkan efek hipotensif. Pada penggunaan klonidin yang perlu diperhatikan adalah penghentian secara tiba-tiba yang dapat mengakibatkan krisis hipertensi yaitu peningkatan tekanan darah secara drastis. Penatalaksanaan interaksi ini dapat dilakukan dengan cara monitoring efek hipotensif yang mungkin terjadi.
l. beta-bloker dan antagonis Ca
Kombinasi beta-bloker dengan antagonis Ca aman dan bermanfaat untuk terapi hipertensi. Bila dikombinasi dengan nifedipin, diltiazem aman tetapi perlu diperhatikan untuk pasien dengan gagal jantung kemungkinan menjadi lebih parah. Untuk itu perlu dilakukan monitoring efek hipotensif yang mungkin terjadi (Stockley, 1994). Persentasi interaksi jenis obat antihipertensi dalam golongan ini terjadi pada amlodipin dan karvedilol sebesar 1,7%.
m. beta-bloker dan antagonis reseptor angiotensin II
Interaksi yang terjadi adalah meningkatkan efek hipotensif. Tujuan pemberian obat antihipertensi adalah untuk menurunkan tekanan darah kembali ke
normal, maka kombinasi obat ini menghasilkan interaksi yang menguntungkan (Anonim, 2000). Persentasi interaksi jenis obat antihipertensi dalam golongan ini terjadi valsartan dan karvedilol sebanyak 2 kasus (3,5%).
n. antagonis kalsium dan antagonis reseptor angiotensin II
Persentasi interaksi jenis obat antihipertensi dalam golongan ini banyak terjadi pada amlodipin dan valsartan sebanyak 4 kasus (6,9%). Interaksi yang terjadi adalah meningkatkan efek hipotensif dan menguntungkan (Anonim, 2000).